
Masjid Moekhlas Sidik, Wisata dan Ikon Religi Unik di Pasuruan | Travel and Featured | October 2026
Masih dalam rangka acara keluarga di Pasuruan, saya berkesempatan mengunjungi salah satu wisata dan ikon religi unik di kota kecil ini. Masjid Moekhlas Sidik namanya. Apa saja keunikannya dan bagaimana masjid ini sudah meninggalkan kesan tak terlupakan bagi saya pribadi?
Selama acara berlangsung di Pasuruan, kami sekeluarga tinggal di salah satu villa yang ada di kawasan Taman Dayu. Kompleks hunian premium ini ternyata menyimpan banyak spot wisata dan kuliner yang menarik minat publik. Selain wisata jajan dan belanja, kawasan Taman Dayu memberikan akses khusus untuk masjid Moekhlas Sidik.
Posisinya yang berada di salah satu bukit yang begitu asri, setiap datang dan pergi masjid Moekhlas Sidik selalu terlihat dari kejauhan. Bangunannya yang tinggi dan warnanya yang merah menyala begitu menarik hati serta membuat saya selalu menoleh.
Penasaran melihat lalu lintas yang hampir selalu penuh di sebuah jalan akses saat saya pergi dan pulang ke villa, serta foto-foto apik dengan jarak dekat yang diambil suami saat olga di kawasan Taman Dayu ini, saya akhirnya memutuskan untuk mampir dan bersengaja menunaikan shalat ashar di masjid ini.

Satu ungkapan yang langsung mampir ke benak saya saat itu adalah soal keunikan masjid dan bagaimana pikiran saya setuju akan kalimat ikonik —Masjid Merah Moekhlas Sidik— yang disematkan oleh banyak artikel dari berbagai media untuk masjid ini.
Melewati sebuah jalan dan akses yang dibuat khusus oleh kompleks Taman Dayu, masjid ini saya temukan berada di lingkungan perumahan penduduk yang beberapa di antaranya tampak begitu bersahaja. Jalan sepanjang 500-an meter dari titik masuk tadi membawa saya melihat warna merah menyala yang selalu saya lihat dari kejauhan itu.
Disambut oleh petugas parkir berseragam, indera penglihatan dan hati saya langsung tersentuh.
Dengan kubah lancip yang ditunjang oleh banyak bentuk persegi, masjid Moekhlas Sidik, ternyata tidak hanya menghadirkan warna merah menyala, tapi juga kelir putih di setiap banyak garis pembentuk bidang persegi yang dihadirkan.
Letak masjid yang lebih tinggi dari lahan parkir, membuat kita, para tamu yang dimuliakan-Nya, harus mendangak dan terjebak dalam kekagum mulai dari pertama kali tiba. Saya memutuskan untuk berkeliling masjid sembari memotret dalam beberapa belas menit kemudian, sebelum akhirnya menuju bagian bawah masjid di mana tersedia tempat wudhu yang luas dan sangat lapang. Saya kemudian bersiap menunaikan shalat Tahiyatul Masjid dua rakaat dan menyambung empat rakaat shalat wajib Ashar.
Beberapa waktu setelahnya, saya terduduk sembari mengenakan mukena merah bersih yang disediakan oleh masjid ini. Mukena yang tergantung rapi di dalam sebuah lemari yang —seingat saya— juga berwarna merah.
Dari tempat saya duduk yang berada persis di shaf depan untuk kaum perempuan, saya melihat barisan kayu tinggi berkelir merah yang membatasi area ibadah antara lelaki dan perempuan. Jadi untuk bagian dalam ini saya hanya bisa memotret dari sisi ini.
Kubah yang saya lihat dari parkiran tadi ternyata menyimpan sebuah lukisan langit biru lengkap dengan barisan awan putih yang berarak. Selainnya dipenuhi oleh ukiran merah menyala, huruf hijayah putih, dinding marmer putih, karpet merah garis-garis, mihrab berbentuk susunan atap masjid yang berderet lapis tiga dan menjorok ke dalam, serta area mimbar dengan warna kombinasi. Rangkaian keunikan yang belum pernah saya temukan di berbagai masjid yang sempat saya kunjungi sebelumnya.
Melihat warna merah menyala merajai sisi dalam dan luar bangunan, gak heran jika julukan masjid merah layak diberikan.
Pikiran saya kemudian langsung merangkak ke beberapa masjid Cheng Hoo yang beberapa di antaranya pernah saya hampiri. Merah yang menjadi warna penanda keberanian, keberuntungan, kebahagiaan, kemakmuran, kebanggaan, dan ciri khas etnis Tionghoa ini, mengajak saya pada dugaan bahwa mungkin saja pemilihan warna merah terinspirasi dari sana.
Usai menuntaskan rangkaian kekaguman tersebut, saya menuju sebuah kerumunan dan sudut foto yang ada di teras luar. Ternyata di sini ada prasasti pendirian masjid yang ditandatangani oleh bapak H. Moekhlas Sidik tertanggal 19 September 2019. Seorang purnawirawan Laksamana Madya (Laksdya)/Jenderal bintang tiga dalam kepangkatan TNI AL dan politikus dari Parpol Gerindra (anggota Dewan Pembina). Prasasti nya sederhana saja. Tidak ada kalimat pengantar yang dicantumkan hanya rangkaian kalimat basmalah sebagai pelengkap prasasti.
Semoga keberadaan masjid ini menjadi pahala tak terhitung bagi beliau di dunia maupun di akhirat.


Suami sudah menunggu di teras luar sembari memperhatikan saya yang terjebak di antara ibu-ibu berseragam yang riuh rendah bercanda. Tanpa diminta ternyata dia sudah memegang sepatu balet hitam yang hari itu saya kenakan. Saya sempat berdebar-debar saat memperhatikan dia mengangkat sepatu itu agar terlihat meski dari kejauhan. Wajah saya langsung semringah. Mendadak terpikir bagaimana dia teliti mengenali sepatu saya dan memastikan agar saya tak riweh mencari di tengah ratusan sandal serta sepatu ibu-ibu lainnya yang tergeletak di teras masjid.
“Ternyata luas banget loh masjid ini. Ada tempat jajan dan lahan bermain. Bagus banget buat difoto. Yok ke sana dulu,” ujarnya sembari memegangi tangan saya yang tampak oleng karena kerepotan mengenakan sepatu sambil berdiri.
Saya hanya mengangguk lalu mengikutinya menuju teras depan luar masjid. Satu titik foto yang mengajak saya menghamburkan pandangan ke sebuah area luas dengan bangunan merah.
Astaga. Ternyata di area entertainment ini kelir merah masih eksis senantiasa ya.

Melihat dua plang besi yang dipasang tinggi, saya membaca dua tulisan. Warung Sumringah dan Merdeka Bermain.
Alih-alih mengikuti saran suami untuk jajan, perhatian saya justru bergembira ria melihat sebuah becak dengan patung wanita putih tinggi langsing berpakaian kimono yang berdiri tegap di depan dudukan becak. Saya mendekat lalu menyadari bahwa becak ini bermesin dan bisa disetir sendiri. Dudukannya tinggi banget, beratap kokoh, dan hanya bisa mengangkut dua penumpang.
Saya menoleh ke salah seorang keponakan lalu semangat mengajak dia untuk menemani saya naik becak. Dia pun menyambut dengan riang gembira. Jadilah dengan membayar Rp30.000,00 untuk sekali putaran, saya dan sang keponakan mengendarai becak lucu ini dengan tawa ria.
Pengendaliannya ternyata sama aja dengan naik motor matic tapi dengan setir yang biasa dipasang di sepeda. Saya sempat mencoba sebentar untuk meyakinkan bahwa saya mampu mengendalikan becak unik yang tinggi besar ini sebelum memutuskan untuk menyewa. Dan yaahh uhuy akhirnya berhasil juga.
Setelah sekian meter berjalan, ternyata asyik dan seru banget loh. Mengikuti jalur yang disediakan, mengelilingi masjid, melewati persawahan, area parkir belakang, dan beberapa fasilitas lainnya, naik becak lucu ini ternyata menyenangkan dan jadi opsi hiburan yang pas untuk keluarga. Sayangnya, rute/jalur tempuhnya terlalu pendek. Ah seandainya bisa lebih lama dan lebih jauh. Pasti lebih seru.

Usai berhaha-hihi sekian menit bersama keponakan, saya bersegera melangkah ke Warung Sumringah. Rombongan beberapa bis tadi terlihat sudah menguasai setiap sudut tempat. Dan suasana menjadi semakin riuh rendah saat para penghibur mulai beraksi. Rangkaian lagu dangdut pantura pun menggema memekakkan telinga. Dan menjadi semakin heboh saat ada sekelompok pengunjung kompak bernyanyi sambil joget-jogetan kompak membawakan lagu-lagu Jawanya Denny Caknan, Farel Prayoga, dan masih banyak lagi. Suasana pun jadi tumpah ruah dengan keriangan masal.
Selain tempat makan yang super duper luas, di area ini juga disediakan toilet, kolam ikan, mini market, kedai oleh-oleh, dan tentu saja beragam spot foto cantik yang sayang buat dilewatkan. Ada juga satu bangunan yang lumayan tinggi (bangunan tiga lantai) yang posisi serta sudut fotonya apik betul. Tempatnya berada di sisi terbaik untuk memotret masjid Moekhlas Sidik dari satu jarak yang proporsional. Sayangnya saya lagi tak bersemangat untuk naik tangga setinggi itu.
Langit mulai menggelap saat saya dan keluarga memutuskan untuk kembali ke villa. Saat beranjak keluar parkiran, tamu masjid ini datang dan pergi, bahkan dalam jumlah yang lebih banyak saat saya tiba siang tadi. Tampaknya mereka berencana untuk merasakan suasana magrib, turunnya matahari ke peraduan, sembari makan malam di sini.






