APSARA Cafe and Villa Bromo. Rekomendasi Tempat dan Spot Nongkrong Terbaik di Kawasan Taman Nasional Bromo Tengger Semeru

APSARA Cafe and Villa Bromo. Rekomendasi Tempat dan Spot Nongkrong Terbaik di Kawasan Taman Nasional Bromo Tengger Semeru

APSARA Cafe and Villa Bromo. Rekomendasi Tempat dan Spot Nongkrong Terbaik di Kawasan Taman Nasional Bromo Tengger Semeru | Travel and Featured | September 2026

Perjalanan keluarga dalam rangka menghadiri pernikahan seorang keponakan di Pasuruan, membuat saya memutuskan. untuk liburan singkat di Malang selama tiga hari dua malam. Salah satu agenda yang selalu saya idamkan adalah menginjakkan kaki di Kawasan Taman Nasional Bromo Tengger Semeru yang sudah lama tidak saya sambangi selama lebih dari belasan tahun

APSARA Cafe and Villa Bromo. Rekomendasi Tempat dan Spot Nongkrong Terbaik di Kawasan Taman Nasional Bromo Tengger Semeru

Sebuah rangkaian pesan penting tiba di gawai saya sekitar pukul 22.00 WIB.

“Malam Bu. Ada penutupan sebagian kawasan Taman Nasional Bromo Tengger Semeru karena kebakaran sejak sore hari ini. Besok setiap pengunjung diperintahkan untuk mengambil jalur arah memutar via Probolinggo. Menimbang jalur ini bakal lebih jauh dari biasanya, jadi sebisa mungkin bapak/ibu berangkat tepat waktu agar terkejar best time menikmati sunrise di Bromo.”

Pesan via whatsapp dari operator transportasi ini dilengkapi dengan informasi bahwa kebakaran di Bromo terindikasi mulai menyebar sejak pukul 17.00 WIB dan tampaknya mulai meluas serta mulai menjalar ke banyak sisi kawasan.

Saya mendadak terduduk. Bromo kebakaran lagi? Bukankah karhutla di kawasan konservasi ini belum lama terjadi ya?

Saya langsung membuka gawai dan mencari info terbarukan. Bener. Ada beberapa berita singkat (breaking news) tentang kebakaran di kawasan Bromo tapi belum jelas sebab akibatnya. Hujan berita dengan topik yang sama tampak disebarkan juga oleh beberapa media online ternama lainnya.

Saya membalas pesan tersebut dengan sebuah pertanyaan “apakah lebih baik jam keberangkatan dimajukan?” Mas Eko, yang mengkoordinir transportasi selama liburan di Malang, menjawab tidak. Saya kembali mengecek ulang waktu yang sudah disepakati sebelumnya. Pukul 01.00 WIB โ€”dini hariโ€” harus sudah siap berangkat dari Whiz Prime Hotel di mana saya menginap.

Well, that would be fine.

Saya pun segera menarik bantal dan selimut, melepaskan pikiran dari WA yang baru saya terima, berusaha tidur, supaya bisa terbangun dua jam kemudian untuk bersiap-siap.

Kisah perjalanan menyusur Taman Nasional Bromo Tengger Semeru akan saya tuliskan di artikel terpisah ya.

APSARA Cafe and Villa Bromo. Rekomendasi Tempat dan Spot Nongkrong Terbaik di Kawasan Taman Nasional Bromo Tengger Semeru

Perjalanan yang Melelahkan dan Menyenangkan

Mengikuti informasi yang sudah disebarkan beberapa jam yang lalu, saya dan suami berangkat ke Bromo sesuai jadwal dengan rute memutar yang sudah diberitahukan sebelumnya. Mas Rifqi yang menjemput sempat memberitahukan bahwa jangkauan kebakaran sudah dalam tahap serius untuk ditangani.

Saya hanya mengangguk dalam diam dan memutuskan untuk “merajut mata kembali” hingga mobil Inova yang disupiri oleh Mas Rifqi ini akan berganti dengan sebuah jeep off-road di satu titik pertemuan. Kemudi mobil jangkung andalan di perbukitan dan pegunungan itu nantinya akan dipegang oleh Mas Johan. Bapak dua anak yang akan mengajak kami menyusur jalan berkelok-kelok hingga benar-benar sampai di tujuan.

Getaran, hantaman roda, dan jalan yang berliku seperti masalah kehidupan, membuat mata saya enggan (baca: tak mampu) menutup lagi. Pekatnya dini hari dan sempitnya luas jalur yang dilalui begitu mencabar mental. Takut mobilnya ndelongsor dan atau nyungsep menyerbu rumah penduduk di samping jalur aspal, saya memegang besi apapun yang ada di bagian dalam mobil.

“Gapapa toh Buk. Saya kan dah ahli. Bendino nyetir jeep ke Bromo,” ucap Mas Johan sembari menahan senyum melihat saya kuat berpegangan.

“Gak ngono Mas. Awakku iki loh umek wae. Nek mencelat ke luar piye coba. Kan dadi urusan.”

Mas Johan ngakak riang gembira. Suami yang tadinya berniat nyambung tidur mendadak melek mendengar kami tertawa-tawa. As a pure blood Sundanese, dia dipastikan gak ngerti sama sekali.

Mari kita lanjut.

Saya kemudian menandai bahwa sebagian besar jalur yang dilewati hanya diterangi oleh bohlam kuning seadanya dan yang berasal dari rumah sederhana milik penduduk di sepanjang jalur yang berkelok-kelok dan terus menanjak. Jadi jika tidak terbiasa dan bukan supir yang handal nyetir jeep off-road, hakul yakin bakal ketar-ketir sepanjang jalan.

Buat saya dan suami yang sudah menjelang lansia ini, rencana ke Bromo tuh sebenarnya punya tantangan sendiri. Setidaknya menguji kekuatan serta ketahanan tubuh yang sudah banyak menurun. Gampang laperan, sering hausan, tapi jadi sering pipis juga. Untungnya di kawasan Bromo โ€“terutama di titik atas pendakianโ€” banyak warung kopi yang menyediakan toilet yang cukup bersih.

Tapi yang pasti meski perjalanan berjam-jam itu sangat melelahkan, saya tetap merasakan kesenangan yang teramat sangat. Mengulang kenangan seru yang dulu pernah jadi bagian dari kisah keceriaan hidup di masa remaja.

Kawasan konservasi alam ini terakhir saya datangi mungkin sudah puluhan tahun yang lalu. Beberapa minggu sebelum saya meninggalkan Malang untuk kuliah di Jakarta. Jadi saat rezeki bisa kembali ke Malang dan Bromo, kebahagiaan itu sungguh meluap-luap dan terpatri jelas di dalam benak.

What a memorable trip yet pleasant traveling experiences.

Usai menikmati keindahan sunrise di puncak Bromo, saya dan suami bergegas turun melewati kerumunan orang yang berjejal di jalur parkir jeep. Saya sempat mampir ngopi di warung dan mencoba segelas kecil jasuke yang dibanjiri dengan potongan-potongan keju.

Lambung sepertinya sudah menjerit. Padahal terbitnya matahari baru saja berlalu. Bukan jam biasa saya makan pagi. Ah, mungkin karena tadi harus ndaki gunung kali ya. Menyusur satu demi satu puluhan anak tangga yang sempat membuat saya ngos-ngosan sepanjang jalan

Melihat saya mulai kelaparan saat usai berfoto di area lahan pasir yang luas, Mas Johan bergegas mengajak kami turun, melewati sebuah savana luas yang saya lihat dari atas tadi. Jeep yang kami tumpangi kemudian menuju satu area yang dipadati oleh beragam tempat nongkrong dan penginapan.

Tempat yang dipilihkan Mas Johan adalah APSARA Cafe and Villa. Sudah jadi langganan dia dan tetamu yang biasa dia antarkan. Rekomendasi tempat dan spot nongkrong terbaik di kawasan Taman Nasional Bromo Tengger Semeru yang layanannya tak pernah mengecewakan.

“Nanti nongkrong di teras belakang aja Buk. Pemandangannya jempolan.” Mas Johan berpromosi dengan semangat dan itu saya yakini kebenarannya bahkan sebelum turun dari jeep.

APSARA Cafe and Villa Bromo. Rekomendasi Tempat dan Spot Nongkrong Terbaik di Kawasan Taman Nasional Bromo Tengger Semeru

Spot Nongkrong Terbaik

Dikelilingi oleh dinding serba kaca dengan kayu sebagai penyanggah, APSARA Cafe and Villa langsung menyita perhatian dari kejauhan. Ada sebarisan pohon yang tinggi menjulang dan sebuah prasasti yang terbuat dari batu besar dengan tulisan tempat menggunakan cat berwarna keemasan. Semua โ€”menurut penglihatan sayaโ€” tampak masih baru. Dari prasasti ini saya menandai bahwa APSARA Cafe and Villa berada di TITIK NOL kawasan Bromo.

Selangkah turun dari jeep yang terparkir persis di depan cafe, saya menyempatkan diri berfoto di sini untuk mengukir puluhan memori perjalanan selama di Bromo.

Cafe nya sendiri masih terlihat lowong sepagian itu. Hanya dipenuhi oleh beberapa orang petugas yang sedang sibuk mondar-mandir dan repot bersiap-siap. Suara gemericing sendok dan garpu serta peralatan makan lainnya yang baru dibersihkan dan diletakkan di dalam wadah khusus terdengar memenuhi keheningan. Ada beberapa staff yang masih ngepel dan ngelap furniture yang ada.

Saya sempat mematung di lantai bawah dan menebarkan pandangan ke setiap sudut cafe. Meyakinkan diri sendiri akan referensi dan julukan yang sudah disematkan oleh Mas Johan dalam perjalanan tadi.

Di lantai bawah ini, selain meja tamu yang penuh dengan ornamen, ada beberapa sudut estetik yang penuh dengan produk kreatif. Ada beberapa lukisan, hiasan rumah yang antik, gantungan cetakan foto polaroid, beberapa produk fashion dengan konsep ecoprint, dan masih banyak produk lainnya yang begitu tertata di bawah tangga. Sebuah keputusan tepat dalam memanfaatkan area kosong.

Penataan meja dan bangku untuk para tamu juga apik sekali. Semua terbuat dari kayu dengan komposisi yang melegakan dan tidak berdesak-desakan. Kesan lapangnya menjadi begitu terasa dengan hadirnya langit-langit yang menjulang.

Di area tengah di lantai bawah ini ada sebuah tangga yang cakep banget buat berfoto. Saya bahkan bersengaja merekam sebuah video singkat saat melangkah naik ke lantai dua lewat tangga ini. Karena pas direkam di beberapa langkah mendekat ke lantai dua, akan terlihat logo APSARA Cafe and Villa yang terpampang di dinding tertinggi sisi depan bangunan.

Ide apik Mas Johan benar-benar jitu. Apik betul videonya.

Mumpung masih sepi. Saya mengajak Mas Johan untuk menemani saya berkeliling dan memotret. Tapi tak lama kemudian โ€”saat saya mulai berjibaku dengan urusan memotret dan dipotretโ€” pengunjung pun mulai memenuhi segala sisi cafe. Sebagian besar adalah tamu-tamu asing yang terlihat berebut untuk duduk di teras belakang di lantai bawah, mencari sudut nongkrong terbaik sembari menikmati pemandangan yang ada.

Memang estetik sih terasnya. Tampak luas dikelilingi taman dan pepohonan yang cantik. Setiap sudut terlihat jelita dengan tersedianya beberapa spot foto yang sayang untuk dilewatkan. Mulai dari dudukan serupa sangkar burung menggunakan lilitan bambu, sebuah kayu pohon tinggi bertuliskan APSARA, kebun bunga di sisi kanan dan kiri teras, serta bangunan utama dari tempat ini.

Di teras bawah ini, seluas mata memandang kita bisa menyaksikan indahnya savana termasuk kawasan konservasi Taman Nasional Bromo Tengger Semeru yang terbentang dari kanan ke kiri dan sebaliknya. Saya juga bisa menyaksikan banyak kegiatan seru termasuk puluhan bahkan mungkin ratusan jeep berwarna-warni yang bergerak cekatan di sana-sini di atas savana.

Langit sepagian untuk tampak cerah dan menyempurnakan setiap foto atau video yang saya ambil.

Sungguh tidak menyangka bahwa dalam beberapa hari kemudian, setelah saya kembali ke rumah, jangkauan kebakaran itu dengan cepat menjalar ke hampir seluruh lahan taman nasional ini. Meluluh lantakkan keindahan tempat wisata konservasi yang saat itu saya kagumi, hingga menutup akses wisatawan untuk mengunjunginya.

APSARA Cafe and Villa Bromo. Rekomendasi Tempat dan Spot Nongkrong Terbaik di Kawasan Taman Nasional Bromo Tengger Semeru
APSARA Cafe and Villa Bromo. Rekomendasi Tempat dan Spot Nongkrong Terbaik di Kawasan Taman Nasional Bromo Tengger Semeru

Menikmati Sarapan yang Memanjakan Rasa dan Lidah

Setelah berkeliling kesana kemari dan pesanan makanan sudah diantarkan, saya menyusul suami yang sudah terlebih dahulu memilih teras lantai atas untuk sarapan bersama.

Pesanan kami gak banyak. Saya memilih Tengger Sop Iga Balungan (89K), suami memesan Mie Godok Gunung Kidul (42K), sementara Mas Johan โ€”karena lagi dalam program diet ketatโ€” menikmati Apsara Bromo Salad (52K). Untuk barisan minuman ada Hot Coffee Latte (35K), Hot Ginger (26K), dan Wedang Uwuh (32K).

Semuanya menghadirkan rasa sesuai harapan.

Meski daging iga nya minim โ€”sembunyi di balik genangan kuah sup, rasa kuah nya sendiri tuh pas betul. Segar tanpa sentuhan bumbu yang terlalu nyegrak. Kolaborasi asin dan gurihnya menghibur lidah. Daging iga nya juga matang sempurna, mudah dikunyah, lembut bercampur dengan beberapa potong sayuran yang masih krenyes-krenyes.

Suami juga ngasih dua jempol untuk mie godok yang dia pesan. Apalagi saat dihidangkan hangatnya masih terasa betul. Kematangan mienya juga pas. Dihidangkan nyemek dilengkapi dengan beberapa potong sayuran, membuat lidah betah merasakan sendok demi sendok mie godok ini. Gak butuh waktu lama buat suami untuk menghabiskan sepiring besar mie yang dia pesan.

Kedua menu ini nyaman meluncur ke lambung di tengah dinginnya udara sepagian itu. Kami pun makan dengan lahap tanpa jeda. Udara dingin, makanan hangat. Sempurna!!

Eh iya, wedang uwuhnya mantab betul. Kehadiran potongan jahe, secang, kayu manis, serai, gula batu, dan beberapa rempah-rempah menghadirkan wangi dan rasa yang menghangatkan mulut, leher, dan lambung sekaligus. Di tengah udara seperti sepagian itu, keputusan untuk menyeruput wedang uwuh terasa pas betul. Setiap tegukan membuat saya semakin menyukai minuman rempah-rempah ini.

APSARA Cafe and Villa Bromo. Rekomendasi Tempat dan Spot Nongkrong Terbaik di Kawasan Taman Nasional Bromo Tengger Semeru

Usai menuntaskan pesanan, saya menyempatkan diri kembali ke beberapa sudut cafe dan villa yang tadi belum sempat saya foto. Di lantai atas misalnya. Selain teras yang lega menghadap ke Taman Nasional Bromo Tengger Semeru, APSARA Cafe and Villa juga menyediakan secuil area bagi tamu untuk membaca. Ada beberapa koleksi buku yang diletakkan dalam sebuah rak kayu sederhana, berdekatan dengan meja dan dudukan model jadoel yang biasa dulu saya temukan di banyak teras rumah peninggalan zaman Belanda. Empat kursi dengan jok tebal ini begitu nyaman untuk diduduki berlama-lama sambil menyusur setiap lembar buku. Cocok untuk pengunjung solo yang ingin menghabiskan waktu sendirian dengan membaca.

Saat hendak beranjak pulang, di lantai dasar sisi luar tersedia banyak sekali area untuk bercengkrama selain teras belakang. Kebayang asyiknya duduk di sini berlama-lama sembari membiarkan tubuh merasakan sejuknya udara di kawasan konservasi ini. Tentu saja akan semakin sempurna saat bisa merasakan semua kenyamanan ini bersama keluarga atau mereka yang membuat hidup kita jadi lebih berwarna dan berharga.

Saya menghaturkan barisan harapan dan doa agar APSARA Cafe and Villa, salah satu rekomendasi tempat dan spot nongkrong terbaik di kawasan Taman Nasional Bromo Tengger Semeru ini bisa tetap eksis sepanjang masa. Bertahan sebagai pilihan kunjungan banyak wisatawan yang merindukan suasana berbeda yang bisa merabuk jiwa. Tentu saja sembari menikmati keindahan alam yang terawat dan terjaga kelestariannya.

Semoga Bromo kembali menawan seperti sebelumnya setelah melewati episode menyakitkan (baca: kebakaran luas) yang terjadi sepanjang Agustus hingga September 2026.

APSARA Cafe and Villa Bromo. Rekomendasi Tempat dan Spot Nongkrong Terbaik di Kawasan Taman Nasional Bromo Tengger Semeru
APSARA Cafe and Villa Bromo. Rekomendasi Tempat dan Spot Nongkrong Terbaik di Kawasan Taman Nasional Bromo Tengger Semeru

APSARA Cafe and Villa Bromo. Rekomendasi Tempat dan Spot Nongkrong Terbaik di Kawasan Taman Nasional Bromo Tengger Semeru
APSARA Cafe and Villa Bromo. Rekomendasi Tempat dan Spot Nongkrong Terbaik di Kawasan Taman Nasional Bromo Tengger Semeru

APSARA Cafe and Villa Bromo. Rekomendasi Tempat dan Spot Nongkrong Terbaik di Kawasan Taman Nasional Bromo Tengger Semeru
APSARA Cafe and Villa Bromo. Rekomendasi Tempat dan Spot Nongkrong Terbaik di Kawasan Taman Nasional Bromo Tengger Semeru

APSARA Cafe and Villa Bromo. Rekomendasi Tempat dan Spot Nongkrong Terbaik di Kawasan Taman Nasional Bromo Tengger Semeru

IG @annie_nugraha | Email: annie.nugraha@gmail.com

17 thoughts on “APSARA Cafe and Villa Bromo. Rekomendasi Tempat dan Spot Nongkrong Terbaik di Kawasan Taman Nasional Bromo Tengger Semeru”

  1. Sebelum komen yuk kita tundukkan kepala mengheningkan cipta, semoga kawasan cantik Kawasan Taman Nasional Bromo Tengger Semeru pulih kembali :(((

    Menyenangkan yaaa.. jadi inget waktu gw ke Dieng, dan ke Merapi, se-menakutkan ituh jalanan, yet se-cantik ituuuh spot-spot pemandangan, view aneka rupa yang sungguh bikin gw takjub, berulang kali takbir!

    Salut sih sama para driver jeep yang bolak balik tak kenal lelah yaaa… mana keliatan kayak di iklan rokok Marlboro kan jadinya *eeh gimanaaaa *gatel

    Reply
    • Sore saat gue kembali ke hotel buat istirahat sebentar, pikiran masih nyantol sama peristiwa karhutla itu. Apalagi setelah membaca berita kebakarannya semakin meluas. Duh merinding banget. Siapa sih yang begitu lalai sampai di tengah musim kemarau begini, ceroboh dengan api.

  2. Mbak Annieeeee… cerita perjalanannya bikin sirik melulu, hu hu hu. apalagi Bromo. aku loh wong Jawa Timur yang belum kenal Bromo.

    btw, waktu ke lokasi sedingin apa, Mbak? kok aku ngebayanginnya dingin banget. tapi jadi pas kayaknya minum wedang uwuh. kelak aku akan ke sini. naik juga ke Bromo. semoga.

    semoga nggak ada kebakaran lagi, upaya preventifnya lebih bagus lagi.

    Reply
    • Yo Mbak segera wujudkan keinginannya untuk sampai Bromo. Tentunya setelah urusan karhutla rampung dan efek hijaunya kembali seperti semula. Sekalian nanti pas pulang kampung ya.

      Pas ke sana lumayan dinginnya. Apalagi dah lama gak merasakan udara dingin asli dari alam semenjak pergi ke Turki di awal 2025. Meski di kamar sering nyetel suhu AC 23’C, tetap aja gak ngalahin nyamannya AC alam ciptaan Allah SWT.

  3. duh Bromo, beberapa kali pengen ke sini tapi gagal

    karena itu sedih banget waktu beberapa tahun lalu kebakaran gara-gara ada calon pengantin pake flare (suar) asap saat untuk foto prewedding di Bukit Teletubbies

    kulinernya sungguh menggoda Mbak, apalagi mie godogny, mungkin karena penampilannya estetik dengan jumlah yang pas, gak berlebihan seperti beli di PKL

    pulang dari sana beli oleh-oleh khas Bromo gak Mbak?

    Reply
    • Nah bener Mbak. Gegara acara photo pre-wedding pake flare kebakaran dah. Duh itu diamuk warga se-Indonesia raya. Dan kalau gak salah WO/EO nya ada yang dipenjara dan didenda ya Mbak.

      Gak sempat beli oleh-oleh selama di Bromo. Cuma bawa Edelweis yang didagangkan oleh rakyat setempat pas di puncak bukit.

  4. karhutla oh karhutla. Bener-bener ya. Sayang banget, kawasan konservasi harus hancur karena karhutla.

    Ngomongin soal Apsara Cafe and Villa-nya tuh emang keren banget itu terasnya.

    Yang paling aku pingin cobain kalau lagi ke sana pasti hot ginger dan wedang uwunya.

    Reply
  5. Aku ke Bromo tuh lebih dari 15 thn yg lalu. Seru juga kalau mengulang ke sana dan mampir ke Apsara Cafe & Villa ini, mana viewnya juga cakep dan cuaca mendukung. Best banget yah…
    Tapi kalau lihat outfit mba Annie, kayaknya dingiiin yah…Memang cocok, makan dan minum yg hangat-hangat saja.
    Semoga engga ada lagi kebakaran di hutan mana pun di Indonesia.

    Reply
    • Karena sudah lama tinggal di kawasan panas centang merentang, begitu berada di pegunungan badan langsung dikepung udara dingin. Lumayan kagetnya. Karena beda ya Mbak, dinginnya AC sama dinginnya gunung di pagi hari.

      Aamiin Yaa Rabbalalaamiin. Semoga karhutla tak akan terjadi lagi di sisi mana pun di tanah air. Sedih lihat kekayaan hutan dan hayati Indonesia terhancurkan oleh kepentingan beberapa orang yang culas dan jahat hati.

  6. Memang kalau tempatnya punya konsep unik, urusan fasilitas pendukungnya juga harus sepadan ya. Jangan sampai bangunannya sudah estetik tapi begitu dicoba langsung berasa ada yang kurang nyaman. Paling tidak ulasan seperti ini bisa jadi patokan sebelum benar-benar datang ke sana agar ekspektasinya pas.

    Reply
    • Bener Mas Andi. Rasanya beruntung banget bisa menginjakkan kaki di sini. Fasilitas bagus dengan pemandangan yang ciamik.

  7. Duuuuh Inj kebakaran bromo yang baru2 ini ya mba? Temenku dari Malaysia padahal niat mau kesana November besok. Ga tahulah jadi atau ga.

    Nah aku sendiri tuh belum beruntung bisa ke bromo ๐Ÿ˜…. Jadi sebenernya 2013 pas aku road trip keliling Jawa , kami tuh udh masukin bromo harus kami visit. Tapi apa dayaaaa, 1 hari sebelum bromo kami trekking Bukit Sikunir di Dieng. Jadi pas sampe malang, niat mau bangun jam 2 supaya bisa sunrise di bromo, gagal sudah, karena ga ada 1 pun yang terbangun, saking capeknya ๐Ÿคฃ๐Ÿคฃ๐Ÿคฃ.

    Mau lanjut hari lain udh ga bisa karena udh mepet waktu untuk balik jakarta. Ntah kapan lah ini aku bakal injakin kaki ke bromo

    So, rutenya jadi lebih panjang pas mbak ke sana yaaa. Tp yang penting tetep bisa melihat.

    Naik jeep ke bromo itu memang ngeri2 sedap yaaa, sampe ngeri kebalik ๐Ÿคฃ. Walaupun belum nyobain yang bromo, tapi udh kebayang kayak di merapi Jogja ๐Ÿ˜….

    Cafe Apsara nya kliatan cantiiiiiiik. Aku sukaaa mba cafe yang banyak tanaman hijau begini, apalagi view-nya masih kawasan bromo ๐Ÿ˜๐Ÿ˜๐Ÿ˜๐Ÿ˜. Terkadang kalau Nemu tempat se estetik ini, makanan biasa aja pun jadi berasa enak ๐Ÿ˜„. Tp untungnya makanan di Apsara sama enaknya dengan tempat yang cantik yaaa

    Kebayang mie godok yang dipesen, hangat gurih.

    Trus salad pun kliatan fresh. Sebagai pecinta sayuran aku ga nolak kalau makan salad begini

    Reply
    • Ya ampuuunnn. Emang kalau terniat ke Bromo emang kudu siap fisik setidaknya sehari sebelum berangkat dini hari. Karena di sana tuh kita ndaki bukit lagi buat dapat spot yang ciamik. Buat motret maupun foto-foto bareng.

      Nah bener banget. APSARA ini cantiknya gak kaleng-kaleng. Makanya begitu direferensikan oleh Mas Johan, tour guide sekaligus driver jeep yang aku sewa. Kapan deh pengen nginap di sana karena mereka juga punya villanya. Pengen menyaksikan keindahan Taman Nasional Bromo Tengger Semeru di kala sunrise, sunset, dan di malam hari dengan penerangan yang cantik.

Leave a Comment