Hari ke-1 Episode 2

Penginapan SEROJA

Menikmati nguap berkali-kali sepanjang perjalanan dari Resto Safira, dengan mata yang mulai berair dan tubuh yang pliket karena keringet, tiba di Penginapan SEROJA, mendadak membawa pikiran segar soal mandi dan kasur.  Akhir 2016, saya gak kebagian kamar di penginapan ini.  Tapi kali ini saya bisa menikmati salah satu kamar yang luas dan menghadap ke laut dengan 3 orang dayang-dayang (sembunyi dulu, takut dijambak sama Rien, Zulfa, dan Tati).

Seroja adalah satu-satunya penginapan di Tidore yang sudah beroperasi puluhan tahun.  Rumah dengan luas sekitar 500an m2 ini, walaupun tampak sangat sederhana di bagian luar, tapi mampu memberikan kenyamanan bagi yang singgah.

Dengan kamar dalam jumlah terbatas, Seroja juga dilengkapi dengan ruang serba guna menghadap ke laut yang dapat disewa untuk acara-acara formal maupun informal.  Di samping ruangan yang juga berfungsi sebagai restoran ini, kita dapat menikmati kolam kecil dengan seluncuran warna warni untuk sekedar bermain-main air.  Di bagian depan ruangan juga ada dermaga kecil untuk sandaran kapal.  Semua bisa dinikmati jika kita duduk di sebuah teras terbuka yang berada persis di mezzanine lantai dasar penginapan.

 

Terletak di jalan utama Kelurahan Soasio, penginapan milik Ibu Ma ini berada tak jauh dari beberapa tempat wisata sejarah seperti Benteng Tahula, Masjid Kesultanan (Sigi Kolano), Makam Sultan Nuku, Dermaga Kesultanan (Doro Kolano), dan Kadato Kie (Istana Kesultanan Tidore). Jadi menginap di Seroja sudah seperti berada di titik strategis untuk melahap semua obyek-obyek penting selama di Tidore.

Mau sekedar jalan-jalan di seputaran kota yang kecil ini? Yup bisa banget.  Berdiri aja di depan penginapan dan tunggu angkot atau bentor yang bisa membawa kita berkeliling dengan hiburan musik jedar jedor sambil menikmati angin semilir yang menampar-nampar muka.

Harga sewanya pun tidak mencekik leher.  Mengeluarkan uang senilai Rp 300.000,- – Rp 350.000,-/kamar, kita sudah dapat menikmati sarapan kue yang mengenyangkan dengan secangkir teh atau kopi.  Terkadang jika kebosanan melanda (terutama saya yang bukan pemakan nasi), kita bisa memesan mie goreng plus telor ceplok seharga Rp 15.000,-/piring.

Tidak bawa baju banyak selama menginap dan membutuhkan bantuan cuci gosok seperti saya? Seroja juga melayani loh. Untuk orang seperti saya yang selalu enggan membawa baju banyak untuk kunjungan lebih dari 3hari, keputusan untuk menikmati jasa laundry adalah pilihan yang tepat.

Mengantisipasi terbatasnya kamar yang ada, tepat di seberang jalan, juga ada penginapan milik anggota keluarga Ibu Ma.  Rumah di seberang jalan inilah tempat saya menginap di akhir 2016.  Dan ketika tiba untuk kunjungan April 2017, kamarpun sudah bertambah 3 buah di teras luar.  Sehingga total kamar menjadi 6buah plus 5buah di rumah Seroja inti.

 

MAKAN MALAM di GURABUNGA

Melepas lelah selama hampir 3jam di penginapan, kamipun bersiap memenuhi undangan makam malam dan acara ramah tamah yang sudah dipersiapkan di Kelurahan Gurabunga.  Ini menjadi pengalaman pertama saya mengunjungi Gurabunga pada malam hari.  Terbayang di pelupuk mata udara dingin yang akan menyergap karena kelurahan ini berada di bahu Gunung Marijang.

Tiba 1jam sebelum matahari terbenam, setelah melewati jalan menanjak tajam dan berliku-liku, saya disambut dengan wajah baru yang sangat mengesankan.  Gurabunga sudah bersolek.  Ya.  Menyambut Hari Jadi Tidore ke-909 dan sebagai tuan rumah dari rangkaian peringatan ini, Gurabunga sudah lebih dari siap secara fisik.  Jalan sudah diaspal kembali, pagar-pagar rumah di sepanjang jalan sudah dicat dengan warna yang lebih cerah, dan lapangan (bola) yang luas sebagai sentral kegiatan masyarakat pun sudah berhias dengan beberapa tenda dan ratusan kursi.

Malam ini, selain akan dihadiri oleh Walikota Tidore, Bpk. Ali Ibrahim, juga akan dimeriahkan oleh musik khas Tidore yang dimainkan oleh anak-anak remaja (SMP dan SMA), serta parade fashion show mengenakan baju khas Tidore.

Tak hanya penuh oleh warga Gurabunga saja, acara malam ini dipenuhi oleh para undangan, beberapa pejabat daerah, panitia HJT 909, dan tentu saja para Travel Bloggers yang menjadi tamu kehormatan.  Acara pun berlangsung santai dan penuh keakraban.  Untuk saya pribadi, welcome dinner  dalam bentuk apapun dan untuk siapapun, menandakan rasa kepedulian dan bentuk penghormatan yang patut diacungi jempol.

Menumbuhkan rasa kebersamaan dan kekeluargaan, panita acara ternyata sudah menyiapkan atraksi BRAMASUWEN atau BAMBU GILA untuk dimainkan oleh para tetamu yang datang.  Sayapun melonjak girang dan maju duluan.  Selain belum puas dengan “irama lembut” goncangan bambu di kunjungan terdahulu, malam itu saya ingin merasakan permainan dengan irama yang lebih menantang hahahaha.  Suasana riuh rendah menggema malam itu.  Gelak tawa dan jeritan-jeritan akrab menggaung hingga menyentuh langit (saking berisiknya).

 

Capek terdorong kesana kemari mengikuti gerakan bambu, perut saya mendadak meronta minta diisi.  Meneguk kopi dabe bergelas-gelas dan celamitan makan camilan berkali-kali, ternyata gak bisa menahan air liur ketika satu persatu sajian makanan tradisional Tidore muncul di meja makan.

Tampak terlihat beberapa ibu-ibu dan gadis-gadis cantik mondar mandir membawa makanan ke meja panjang yang sudah dipersiapkan untuk semua yang hadir.  Sesekali mereka harus berteriak kencang ketika beberapa anak kecil mencoba membuka tutup plastik piring.  Bahkan ada bapak-bapak yang terpaksa juga diomelin karena asyik toal toel makanan dan tampak gigih berusaha merayu untuk makan duluan.  Tapi, di ujung dunia manapun, emak-emak tetap berkuasa.  Tara bisa mengalahkan emak-emak Tidore eeee.  1 Mamak Tidore sama dengan 7 Kopassus.  Catat!!

Keributan mengelilingi meja makan ini pun mulai membahana ketika sambutan non formal Pak Walikota selesai.  Masyarakat pun menyemut setelah beberapa waktu barusan memberikan kesempatan kepada para Travel Blogger untuk mengabadikan momen langka ini melalui bingkai kamera.

Saya sendiri sempat merinding dan kagum kiamat melihat berbagai menu yang rapih terusun di meja makan.  Gimana tidak? Ada beberapa dari makanan ini yang bahannya harus diambil di hutan.  Beberapa juga sudah tidak dimasak lagi karena perubahan selera dari masa ke masa.  Penyajiannya juga sangat komunikatif.  Selain diwrapping dengan plastik transparan khusus makanan agar tidak kotor, para ibu juga menempelkan tulisan di setiap makanan.  Tulisan ini berisi nama/jenis makanan dan bahan-bahan untuk membuatnya. MasyaAllah.  Pengaturan yang sangat ciamik dan sangat membantu kami-kami yang sama sekali buta pengetahuan kuliner Tidore.

Terimakasih ibu-ibu Gurabunga.  Kalian sungguh hebat!!

 

 

Menutup malam penuh keakraban ini, anak-anak muda Tidore mengundang para bloggers untuk naik ke pentas.  Atas nama Tim, saya pun memperkenalkan penulis-penulis hebat ini ke semua hadirin yang datang.  Deddy dan Rifki pun diajak untuk menyampaikan pesan dan kesan mereka selama mengikuti lomba mewakili rekan-rekannya.

Tak puas sebatas ini, kami pun akhirnya didapuk untuk mengadakan temu wicara dan diskusi selepas acara welcome dinner berakhir.  Hadir sebagai pembicara adalah Bpk. Abdullah Husain (Lurah Gurabunga dan salah seorang Sowohi), Bpk. Yakub Husain (Kepala Dinas Pariwisata Tidore Kepulauan), dan Ibu Woro Mastuti (Dosen dan Peneliti Seni Budaya dari Universitas Indonesia).  Sementara saya diminta untuk menjadi moderator, membantu untuk membangun komunikasi antara pembicara dan hadirin yang datang.

Berbagai unek-unek pun tumpah.  Mulai dari protes lambannya perkembangan wisata di Tidore, strategi dan trik menggiatkan media sosial, semangat untuk lebih melek internet dan menulis, hingga 1 topik yang belum tuntas dibahas yaitu rencana menjadikan Gurabunga sebagai Desa Wisata Spiritual.  Terus terang topik terakhir ini sampai sekarang masih menggelitik hati saya.

Pertama, sangat setuju dengan konsep mengganti nama Kelurahan menjadi Desa.  Karena sejauh pengetahuan saya, Bapak Abdullah, lurah yang sekarang, adalah bukan pejabat negara pun politisi.  Sementara gelar Lurah adalah untuk kondisi tadi.  Kepala Desa, tentunya lebih tepat, mengingat gelar Kades adalah untuk seorang yang mewakili warga desa, dipilih oleh masyarakat setempat, dan bebas dari unsur-unsur politis.

Kedua, sudah saatnya Tidore memiliki jargon wisata unggulan selain tempat-tempat bersejarah.  Secara fisik Gurabunga sudah lebih dari siap menerima tamu yang ingin tinggal dan menikmati nuansa pedesaan. Pemuda-pemuda desanya pun tampak solid.  Terbukti dengan adanya sanggar kesenian yang terlihat hidup dan berkegiatan positif.

Saya membayangkan, ketika suatu saat saya bisa menginap di sini, dalam balutan udara yang sejuk, berbagai kata dan kalimat pun akan meluncur dengan deras untuk tulisan-tulisan saya.  Bosan dengan kegiatan mandiri, saya bisa ikut para pemuda yang rajin bercocok tanam dan mengerjakan berbagai kerajinan tangan seperti membuat tikar.  Berkeliling untuk photography pun sangat bisa.  Banyak obyek-obyek foto yang bisa digarap.  Menggali sejarah? Bisa kiamat.  Karena di desa ini, ada 5 rumah Adat yang dihuni para Sowohi.  Lewat mereka, para Sowohi, orang yang terpilih, kita tentunya bisa menggali ilmu kerendahan hati, menebalkan iman, dan mendalami adat, sejarah, dan filosofi hidup orang Tidore.

Tengah malam, di tengah kesunyian Gurabunga, dan puluhan kalimat yang belum teruraikan, saya dan teman-teman meninggalkan tempat bertuah ini.

 

RITUAL TAGI KIE MARI’JANG

Di dalam perjalanan kami menuju penginapan, sebagian masyarakat Tidore melaksanakan ritual TAGI KIE MAR’IJANG (perjalanan ke puncak gunung).

Prosesi ini dilaksanakan oleh Pemuka Adat Sow Romtoha Tomayou untuk mengambil air di puncak gunung Kie Matubu.  Air tersebut kemudian disemayamkan di rumah adat para SOWOHI Soa Romtoha Tomayou selama 1 malam untuk didoakan sehingga disebut AKEDANGO.

 

BERSAMBUNG

 

 

 

 

Facebook Comment