
Haka Dimsum, Satu Lagi Jajanan ala Tionghoa yang Super Umami di Negara Blok M Jakarta | Culinary Review & Travel | Maret 2026
Hari ini, sesuai rencana, saya dan si bungsu akan main (lagi) ke Blok M. Salah satu tempat favorit saya karena mudah untuk digapai dari rumah dan penuh dengan beragam tujuan yang klop di hati. Dari rumah di Cikarang saya hanya perlu naik bis yang memang disediakan oleh Lippo Cikarang. Tujuannya cuma satu. Ya Blok M itu. Jadi saya gak perlu ganti kendaraan. Tinggal duduk di stasiun awal (depan Citywalk yang ada di dalam kompleks), tidur nyenyak, bersabar dengan macet selama kurang lebih satu setengah jam, lalu bangun saat bis berhenti di titik terakhir, yaitu lapangan milik kepolisian yang berada persis di depan Gedung Peruri. Ringkas dan mudah banget pokoknya.
Jadi jangan kaget ya kalau saya kerap kali mengatur tempat pertemuan di kawasan Negara Blok M ini. Semata-mata karena transportasinya mudah buat saya plus berderet sekian banyak destinasi yang memang saya sukai. Mulai dari Gramedia Jalma, Blok M Square, Pasaraya, MBloc Space, ratusan sumber jajanan yang gak pernah habis buat dikunjungi.
Tapi di hari itu, saya punya beberapa tujuan khusus yaitu menyambangi Patjar Merah yang ada di MBloc Space, makan siang di Blok M Square (yang belum ditentukan dari awal berangkat), lalu menyambung langkah ke Library Lounge di Hotel the Orient Jakarta yang berada di Bendungan Hilir (Benhil).

Hujan Deras yang Tiada Henti
Tujuan saya ke Blok M sebenarnya lebih dari itu, namun hujan deras tiada henti sejak naik bis di Citywalk dan kemacetan yang terjadi di hampir sepanjang jalan tol, membuat rencana awal harus dikaji ulang. Bahkan saat turun bis pun saya harus lari lintang pukang karena hujan angin yang mendadak menggila. Saking derasnya, payung yang saya bawa pun ikut melayang-layang, menari-nari gak jelas. Dan karena di tempat pemberhentian bis tidak ada terminal kecil, akhirnya saya harus numpang berteduh di salah satu kedai makan yang ada di sana.
Sembari menyeruput secangkir kopi hitam di kedai tersebut, saya duduk dan memandangi bagaimana lingkungan sekitar kantor PERURI ini sudah banyak berubah.
Inginnya sih jalan terus karena tujuan pertama saya hanya sekitar 200-an meter dari tempat saya menunggu. Tapi menimbang angin yang menghantam, saya putuskan untuk bertahan di titik itu. Berteduh di tengah hujan deras yang tiada henti. Di tempat itu saya malah bertemu seorang bapak, karyawan PLN, yang juga sedang menunggu hujan berhenti. Saya melihat beliau saat itu tampak terpekur dengan sebuah buku. Duduk tertib sembari tak sedetik pun mengalihkan perhatian dari buku yang sedang dia pegang.
Long story short, kami akhirnya berbincang panjang kali lebar, dari Sabang hingga Merauke, hingga hujan mulai mereda. Kami terlibat diskusi seru soal dunia buku dan literasi. Percakapan menjadi semakin seru karena ternyata meski latar belakang pendidikan beliau adalah teknik dari kampus idola jutaan umat (baca: UGM), ternyata si bapak lebih menyukai dunia sastra dan literasi. Jadi sembari bekerja sebagai seorang tenaga ahli, beliau tak pernah lupa untuk membaca. Khususnya buku-buku sejarah dan filosofi, yang menurut saya, cukup berat untuk rutin diikuti. Dan ujung-ujungnya beliau bersemangat melahirkan buku solo sembari menggandeng indie publisher yang saya miliki.
Tak menyangka dari hujan yang tak henti mengguyur bumi itu, saya dapat teman ngobrol yang super asyik di dunia perbukuan dan literasi. Plus seorang konsumen dengan wawasan baca yang gak kaleng-kaleng. Rezeki gak akan kemana ya.

Rezeki Mampir ke Haka Dimsum
Saat hujan meninggalkan rintik, saya bergegas menuntaskan rencana bertamu ke Patjar Merah. Sebuah toko buku yang berada di MBloc Space dan bergabung/berbagi area dengan jenama Matalokal. Gak banyak koleksi buku yang ditampilkan di outlet mereka karena memang luas ruangannya sangat terbatas. Dari petugas yang berjaga, saya mendapatkan info bahwa koleksi buku lebih banyak tersedia di outlet mereka yang berada di Pos Bloc di seputaran Pasar Baru.
Wah jadi ada rencana jalan-jalan baru lagi nih.
Saya tidak sempat memperpanjang obrolan dengan petugas karena si bungsu mulai mengeluh kelaparan. Kami pun bersegera meninggalkan MBloc Space menuju Blok M Square sembari melewati Taman Literasi Martha Tiahahu. Taman yang dipadati oleh beberapa cafe, sebuah perpustakaan, dan public space untuk mengadakan beberapa aktivitas atau event. Taman ini, menurut saya, cukup menyenangkan karena selain menjadi tempat nongkrong yang asyik, dia juga bisa menjadi meeting point bagi mereka yang akan berkegiatan di daerah Jakarta Selatan.
Hujan kembali menderas, saat saya berdiri di sisi terujung taman. Tidak ada kesibukan yang berarti, hanya beberapa orang yang datang dan pergi dari salah satu stasiun MRT yang pintunya bersebelahan dengan taman. Dari mengamati sekitar inilah, saya kemudian melihat resto Haka Dimsum dari kejauhan. Pintu depannya saat itu sedang dijaga oleh seorang satpam yang duduk mepet berusaha menghindari hujan. Anehnya tak ada sedikit pun antrian mengular seperti yang biasa saya lihat berbulan-bulan belakangan. Takut halusinasi, saya menggamit lengan si bungsu dan menunjuk ke fasad Haka Dimsum dengan papan nama berwarna putih dan tulisan merah.
Wajah cerah si bungsu langsung mengembang.
“Wah tumben banget ga ada yang ngantri. Yuk lah makan di sana aja.” Ujar si bungsu setengah berteriak dan mengajak saya bersegera menyeberang.
Beneran dong ga ada yang ngantri. Tanpa banyak preambule, sang petugas pun meminta saya langsung ke lantai dua di mana Haka Dimsum berada. Meski harus mencabar diri melewati curam nya tangga dan berpegangan erat dengan si bungsu, lambung saya pun tampaknya girang menari-nari. Dengkul yang bergetar karena jumlah anak tangga yang banyak pun tak saya rasakan.
Rezeki banget bisa bertamu ke restoran yang sudah saya incar berbulan-bulan bahkan sempat beberapa kali gagal masuk karena masa tunggu yang terlalu panjang.
Asupan super umami apa saja ya yang bisa saya pesan di sini?
Sajian Otentik Tionghoa yang Patut Dapat Pujian
Suara wajan mendesis dan teriakan-teriakan kecil untuk makanan yang dipesan pun terdengar lamat merasuk telinga. Saat masih mengedarkan pandangan, seorang waitress bercelemek menyambut saya dan si bungsu dengan keramahan dan senyum yang manis. Cewek berbodi irit ini kemudian menanyakan jumlah tamu dan preferensi tempat duduk. Karena sisi depan yang menghadap jalan dikhususkan kepada ahli hisab, saya memutuskan untuk melangkah ke sisi berbeda yang menempel ke dinding kaca di bagian paling belakang. Setidaknya, meski berada di ruangan semi AC, saya masih bisa merasakan hangatnya sinar matahari yang malu-malu hadir di tengah rintik hujan.
Setelah menyusur menu yang tersedia di barcode yang terpasang di meja, saya akhirnya memesan siomay udang ayam, hakau, stim dumpling udang, cheung fan, paha ayam goreng, dan bubur ayam telur asin.
Hanya sekitar sepuluh menit kemudian, pesanan saya datang satu persatu. Wangi khas dimsum dengan asap yang masih mengepul pun merasuk ke indra penciuman. Cita rasa otentik khas jajanan Tionghoa yang telah terjamin ke-halal-an nya pun mampir di lidah. Menghadirkan bahan baku yang masih segar, berkualitas tinggi, tanpa MSG berlebihan, menjadikan acara makan siang di tengah rintik hujan itu pun jadi cerita yang tak terlupakan.
Sebegitu enaknya kah?
Yup. Dari sekian banyak pengalaman merasakan sajian fresh ala Tionghoa, jajanan yang saya nikmati di Haka Dimsum adalah salah satu yang terbaik di Jakarta. Gak heran jika berlimpah publik rela berbaris, mengantri panjang demi bisa menikmati barisan makanan yang dikukus, digoreng, ataupun dipanggang di resto ini. Saking larisnya Haka Dimsum di Blok M ini buka 24 jam. Ini beneran kondisi yang istimewa dan patut dapat pujian.
Menilik informasi lewat IG @hakadimsum dan official website mereka saya mengetahui bahwa sejak pertama buka di 2018 dengan resto pertama yang berlokasi di BSD (Bumi Serpong Damai, Tangerang), kedai makan ini beneran layak untuk disambangi. Pergerakan mereka juga gesit karena tak henti buka cabang dimana-mana. Seperti di Kemang, Bogor, Kelapa Gading, Citra Garden, Tebet, Gading Serpong, Alam Sutera, Depok, dan beberapa tempat lain yang memang menjadi referensi makan enak.
Harga pilihan asupan nya juga masih termasuk ramah di kantong. Rentang harganya berada di angka dua puluh hingga tiga puluh ribuan per porsi. Dari jumlah isi klakat (bamboo steamer) sebanyak tiga buah untuk setiap jenis dimsum, bersantap bertiga sepertinya bisa jadi pilihan tepat agar pembagian setiap menu bisa pas. Ukuran per pieces nya juga lumayan besar loh. Jadi siapkan lambung selentur dan seluas samudra biar bisa makan sepuas mungkin.
Terniat banget yak.


Pengen Banget Bisa Balik Lagi
Saat saya ceritakan pengalaman menikmati jajanan ala Tionghoa super umami di salah satu sudut negara Blok M Jakarta ini, suami tak dapat menahan niatnya untuk bersegera ke Haka Dimsum di lokasi ini. Gak heran karena suami sangat menyukai hidangan serba kukus dengan bahan-bahan segar dan yang terjamin halal.
Apalagi setelah saya tambahi info bahwa di ruang makan mereka yang klasik itu, kita dapat menikmati dekorasi unik dengan menghadirkan elemen retro, vintage, dan suasana nostalgia yang terbangun di sana. Untuk saya yang sudah beberapa kali ke Hong Kong dan merasakan dim sum halal dan masakan asli Tionghoa di beberapa restoran halal di sana, Haka Dimsum berhasil membangkitkan jelajah kuliner yang pernah saya lakukan di negeri bekas jajahan Inggris tersebut.
Pengen banget deh bisa balik lagi ke Haka Dimsum Blok M dengan keberuntungan tidak mengantri seperti yang saya alami di atas. Yuk kapan kita janjian di negara Blok M dan bersantap bersama di Haka Dimsum.


IG @annie_nugraha | Email: annie.nugraha@gmail.com



Blok M sekarang bersolek banget ya. Mengembalikan trahnya sebagai tempat nongkrong. Jadi mupeng Haka Dimsum, nih. Mau coba ah kalau ke Jakarta
Wajib mampir ke sini Mbak. Mudah-mudahan pas antriannya gak panjang. Pilih weekdays dan bukan pas di jam-jam makan. Rentang waktunya luas karena mereka buka 24 jam.
Emang keren Republik Blok M, masih bertahan dengan aneka bisnisnya yg unik. Jadi penasaran nich sama patjar merah, kayak nama samaran Tan Malaka.
Wajib mampir kalo gitu Mas Adi.
Mbak Annie nih kalo bikin tulisan tentang makanan selalu bikin ngeces deh
selain karena foto-fotonya, cara menyampaikannya itu lho serasa pembaca ikut makan :D
termasuk menu China peranakan seperti di atas,
hihihi sayangnya gak ikut ngerasa kenyang
Semoga fotonya jadi penyemangat untuk ikut nyobain ya Mbak. Gampang banget dicarinya. Buka 24 jam lagi. Jadi bebas bisa datang kapan aja.
Baruuu aja Lebaran kemarin aku nginep di sebelah Haka di Hotel Dharmein. Sayangnya mau sarapan di sini, belum semua ready, padahal pengen nyicipin Bubur Ayamnya. Mungkin Lebaran yah. Akhirnya cuma beli Hakau dan dimsum ayam.
Wooaaahh sayang banget. Padahal buburnya juara banget Mbak Hani. Aku aja sampai ketagihan. Pengen betul makan buburnya lagi. Top enak enaknya.
Dimsum yang menarik buat dikunjungi, kalau nanti ke sekitaran sana.
Daku belum eksplor lebih jauh nih Blok M beberapa bulan ini.
Sekalinya lihat di medsos ruaammeee banget Bu. Udah makin viral deh negara Blok M, sehingga pas momen weekend apalagi tanggal merah seperti kemarin ramai dengan orang.
Blok M keknya gak berhenti berkembang ya Fen. Sekarang kawasan toko yang di basement menuju terminal tuh lagi hit betul. Dari yang kosong melompong sekarang kabarnya penuh dengan kedai-kedai kopi dan makanan. Keknya gak bakalan khatam deh hahahaha.
Wah beruntung banget bisa kuliner di Haka Dimsum tanpa ngantri,..kapan ya sy ke Haka Dimsum Blok M ini ampe pegel euy antrinya puanjang bangettt nget..ampe balik bakul saking luamanya.. atau jng2 kalau hujan ga pake antri kalik ya,,..boleh juga nih di coba tipsnya kalau hujan baru ke Haka Dimsum,..secara pengen banget cobain menu2 nya bikin ngiler euy,…
Saya juga gak nyangka bisa makan di HAKA Dimsum tanpa mengantri sama sekali. Pas pulak lagi hujan. Setiap asupan jadi semakin nikmat apalagi dihidangkan dalam kondisi hangat. Astaga. Ngetik ini jadi pengen segera balik lagi ke HAKA/