Bertamu ke Bumi Upi, Resto dengan Nuansa Nostalgia di Garut

Photo of author

By Annie Nugraha

Bertamu ke Bumi Upi, Resto dengan Nuansa Nostalgia di Garut

Bertamu ke Bumi Upi, Resto dengan Nuansa Nostalgia di Garut | Restaurant & Culinary Review and Featured | Maret 2026

Melengkapi nawaitu awal mencoba kereta api Panoramic dari stasiun Bandung menuju Garut, saya dan keluarga menggenapi liburan bersama ini dengan menginap semalam di Garut, bersama para ipar dan keponakan. Acara yang sudah tersusun berminggu-minggu sebelumnya ini juga dilengkapi oleh niat untuk berwisata kuliner di berbagai tempat yang mendapatkan rating tinggi di Google Review dan tentu saja melongok ke beberapa akun Instagram milik akamsi Garut yang menghadirkan banyak info up-date tentang wisata Garut untuk referensi terbarukan. Salah satunya adalah IG @infogarut. Tampaknya akun ini memang dibuat sebagai support system bagi publik di luar Kabupaten Garut yang memang concern dengan banyak isu dan informasi tentang daerah yang terkenal dengan produksi dodolnya ini.

Dari semua info yang dibagikan di tautan dan medsos yang kami telusuri itu, ada nama Bumi UpiIG @bumiupi – disebutkan atau direferensikan banyak publik. Unggahan di kedua akun IG ini juga menggoda luar biasa. Terkelola dengan baik dengan banyak informasi yang bikin saya tambah penasaran.

Dari semua sumber informasi yang terbaca, sebagian besar publik menyukai Bumi Upi karena menghadirkan suasana yang berbeda. Ada nuansa nostalgia dengan sentuhan interior klasik serta estetik yang mengingatkan dan menghubungkan kita dengan kenangan masa lalu. Bahkan ada yang bilang bahwa Bumi Upi mengingatkan mereka akan kunjungan istimewa penuh memori ke rumah nenek.

Ah beneran bikin penasaran. Apa benar begitu? Yoklah dibuktikan sendiri.

Bertamu ke Bumi Upi, Resto dengan Nuansa Nostalgia di Garut

Sekilas Tentang Bumi Upi

Saya dan rombongan keluarga tiba di Stasiun Kereta Api Garut persis di tengah hari, setelah menempuh waktu perjalanan sekitar dua jam dari Bandung. Meski mendapatkan konsumsi yang berlimpah saat berada di dalam kereta Panoramic, perut pun dengan tidak sopannya berteriak dan menggeliat minta diisi. Ya ampun, padahal baru aja menginjakkan kaki di sini.

Oiya, pengalaman dan cerita seru saat menaiki kereta wisata Panoramic ini akan saya tuliskan di artikel terpisah ya.

Karena memang sudah berniat langsung menuju Bumi Upi dari stasiun kereta, selama berada di dalam kereta Panoramic kami menyusur menu yang panjang bererot setelah sebelumnya melakukan reservasi tempat. Sederetan nama yang dicantumkan untuk setiap olahan masakan tuh sungguh unik. Pokoknya ada aja idenya.

Diantaranya adalah Cemilan Cepuluh untuk serangkaian camilan. Special Performance untuk sajian dengan nama yang unik juga. Emih Emihan untuk segala masakan yang diolah atau bersumber dari mie. Tuntutan Masyarakat yang berdasarkan asumsi saya adalah segala sajian yang laku keras dan jadi favorit banyak orang. Kemudian ada juga Pemadam Kelaparan yang sebagian besar adalah sajian nasi goreng dalam beberapa versi. Sumber Protein yang menyatukan nasi dengan banyak protein. Sementara buat minuman ada perkopian, seger adem, teh dan susu, jejamuan, es-esan, dan jus-jusan. Semuanya bisa diakses lewat IG @bumiupi lengkap dengan gambar dan harganya.

Yuklah kemon menuju Jl. Cimanuk No. 312, Pataruman, Tarogong Kidul, di mana Bumi Upi berada.

Selama dalam perjalanan menuju Bumi Upi dan terjebak dalam beberapa titik kemacetan, saya menyempatkan diri mengintip kembali dua akun Instagram yang saya sebutkan di atas tadi. Ada satu info yang begitu menyedot perhatian saya. Ternyata Bumi Upi tuh pernah meraih penghargaan sebagai Restoran yang Memiliki Tanaman Gantung Terbesar yang diberikan oleh Museum Rekor Indonesia – Dunia (MURI). Tanaman yang menghiasi lobby entrance ini merupakan hasil kolaborasi antara Bumi Upi dan H2O Farm. Jadi penanganan dan presentasinya memang dipegang oleh profesional ya. Mengakomodir 6 spesies tanaman yang digabungkan sedemikian rupa seperti kumpai, pakis, boksus, anggrek, hoya, dan moss (lumut) sebagai media tanamannya, tanaman gantung tersebut memiliki ukuran diameter 90cm, tinggi atas 2 meter, bawah 1.5 meter dengan berat mencapai 80kg.

Keren betul yak.

Tapi sayangnya karena riweh dengan urusan parkir, terjebak dengan banyaknya tamu, dan bersabar mengantri, menunggu tempat yang kami pesan siap sempurna setelah digunakan oleh tamu yang lain, saya malah lupa memotret tanaman gantung ini. Astaga.

Bertamu ke Bumi Upi, Resto dengan Nuansa Nostalgia di Garut
Saya dan keluarga di salah satu spot terapik di Bumi Upi. Cocok untuk satu keluarga besar

Tadi saat turun dari kendaraan Hiace sewaan, saya mendapati Bumi Upi sudah padat pengunjung. Pas jam makan siang soalnya. Dan karena space parkirannya terbatas, sebagian besar kendaraan pengunjung terpaksa berjejer di jalanan depan resto. Sederetan petugas pun tampak sibuk mengatur di sana-sini. Beruntungnya mobil yang kami tumpangi dapat slot yang pas di dalam karena di saat yang sama mobil yang parkir di slot itu baru saja keluar. Salah seorang petugas parkir inilah yang kemudian mengarahkan kami untuk melangkah kemana.

Beberapa langkah masuk ke salah satu sisi ruang terbukanya, saya menemukan lahan luas yang padat berisi. Di sisi kanan kedatangan ada sebuah rumah lama dengan sentuhan vintage yang lumayan besar. Di pintu utamanya terpasang nama dan logo Bumi Upi (rumahnya Upi) dengan rangkaian huruf yang lucu banget. Mengamati lis dan teralis jendela, teras yang menyebar di beberapa sisi rumah, keramik yang digunakan, dan sentuhan kayu yang dominan, saya langsung paham mengapa sebagian besar publik mentasbihkan tempat ini sebagai rumah nenek yang telah terbangun puluhan bahkan ratusan tahun yang lalu dengan lahan/tanah/taman luas yang mengelilinginya.

Jika di kanan pintu masuk ada rumah lama itu, di bagian kiri tampak rumah kecil yang berfungsi sebagai pusat pelayanan tamu yang menempati dua bangunan dua lantai yang dibangun (saat) konseptual dan yang menempati banyak tempat duduk di taman (area open space). Rumah dua lantai berbentuk U ini juga digunakan untuk dining area sementara di salah sudut lantai dasarnya ada mushola. Saya menyempatkan diri memotret di kedua tempat ini dan menikmati bagaimana rangkaian kesibukan terjadi di setiap sisi. Tak ada satu pun meja yang kosong. Semua penuh dengan pengunjung. Bahkan banyak anak-anak berlarian kesana-kemari karena memang tamannya cukup luas dan kondusif untuk dijadikan lahan bermain.

Dan karena lahan yang ditempati oleh Bumi Upi, resto dengan nuansa nostalgia di Garut ini berada lebih rendah dari jalanan umum di depannya, suara kendaraan yang sibuk lalu lalang di jalan atas tidak begitu terdengar. Jadi ketika kita sudah berada “di dalam” area Bumi Upi, yang ramai terdengar dan terlihat adalah suasana private seperti pulang ke rumah sendiri.

Bertamu ke Bumi Upi, Resto dengan Nuansa Nostalgia di Garut
Suasana di dalam rumah dan sebuah pintu samping dengan tulisan “Rumah Tamah”
Bertamu ke Bumi Upi, Resto dengan Nuansa Nostalgia di Garut
Salah satu sudut taman dan dua bangunan dua lantai yang berbentuk U

Area Makan yang Artistik

Mengikuti arahan seorang petugas penerima tamu di depan tadi, saya dan keluarga diarahkan untuk masuk ke rumah inti. Meja yang sudah disiapkan untuk kami bersepuluh ada di sisi terujung dekat dengan sentral pelayanan, counter kasir, dan sebuah dapur yang sibuk luar biasa.

Di belakang meja kami terdapat sebuah rak menjulang yang diisi oleh banyak sekali hiasan-hiasan dan perlengkapan jadul yang dulu sempat dimiliki oleh orang tua saya di era 70-an. Di sekitar tempat kami duduk juga ada beragam jajanan lengkap dengan packaging yang juga (sudah) beredar saat saya masih SD. Kemudian ada banyak kaleng biskuit yang dulu sering saya lihat di warung-warung, rantang kaleng susun, berbagai wadah dari kayu dan rotan, berbagai jenis botol minuman, senter, bahkan ada beragam lampu teplok dalam berbagai ukuran.

Sungguh sebuah ruang makan yang artistik yang membangkitkan ingatan saya saat masih kecil.

Tertata dengan rapi dan terlihat bersih, semua ornamen ini sangat menyenangkan untuk dilihat dan dilamati satu demi satu.

Saya mendadak teringat dengan rumah orang tua saya di Palembang. Rumah seluas 400-an m2 dengan tanah yang luas dan berbagai pohon yang tumbuh subur serta rumah teras/rumah samping yang ada di sisi samping. Nah, di rumah teras inilah almh. ibu menyimpan sekian banyak koleksi peralatan makan yang sebagian besar terbuat dari melamin. Persis seperti apa yang ada di Bumi Upi. Sayangnya semua stok ini disimpan di rumah samping ini dan hilang 90% tanpa jejak. Saya menyaksikan bagaimana ibu begitu (sangat) kecewa dengan peristiwa itu karena beliau bersengaja memiliki barang-barang tersebut agar bisa digunakan saat kami mengadakan kenduri. Maklum di jaman itu kan belum ada bisnis catering.

Bertamu ke Bumi Upi, Resto dengan Nuansa Nostalgia di Garut

Saya kembali mengajak kaki untuk melangkah ke berbagai sisi rumah makan yang hadir dengan atmosphere yang cocok untuk bernostalgia ini. Suasana hangat begitu tercipta mengiringi setiap langkah saya. Furniture retro, lampu temaram, tempat ini begitu memikat saat bersama keluarga dan ingin berbagi dan mengukir banyak momen berharga. Saya bahkan menemukan dan menyadari bahwa – jika tidak dalam kondisi hectic – Bumi Upi seharusnya sangat cocok untuk dijadikan spot berfoto karena tempat ini memang photogenic habis.

Bertamu ke Bumi Upi, Resto dengan Nuansa Nostalgia di Garut

Sajian dengan Sensasi Rasa Istimewa

Kami semua memilih berbagai masakan rumahan yang hingga kini sering disajikan oleh tempat-tempat jajan pada umumnya. Serangkaian menu yang hangat ditawarkan oleh berbagai tempat makan yang berlokasi di banyak destinasi wisata. Seperti di Bumi Upi ini. Saya dengan mudah menemukan berbagai pilihan hidangan rumahan dengan sentuhan serta sajian modern dan penamaan yang menarik perhatian.

Saking uniknya nama yang disematkan, saat saya mengulang ingatan akan nama-nama tersebut tak seorang pun di antara kami bersepuluh yang hafal. Sementara bon/kwitansi pembayaran terselip entah kemana. Ampun dah.

Tapi yang pasti setiap menu yang dihidangkan di atas piring berbahan seng dan pecah belah bergambar bunga itu, sungguh menghadirkan sensasi rasa yang begitu menyenangkan di indra pengecap. Kami memesan iga bakar, bakwan goreng, gepuk serundeng, semur jengkol, dan sekian banyak bagian dari hidangan yang biasa dipilih saat makan bersama keluarga di rumah.

Dari sekian banyak yang dipesan hanya ada sedikit yang saya ingat. Saya dan si bungsu yang bergabung dalam rombongan, memesan Nasi Dangdutan yang berisi nasi lengkap dengan lauk semeriah dangdutan mulai dari kulit goreng, paru goreng, telur dadar crispy, serundeng, lalapan, dan sambal. Kemudian Nasi Buntut Kebakaran yang berisi nasi dengan buntut bakar dan sop sayuran. Duh pesanan saya ini umaminya gak kaleng-kaleng deh. Lalu salah seorang keponakan saya memesan Nasi Ayam Sambal Bali yang isinya nasi ayam tepung yang dibumbui dengan sambal matah.

Semua pilihan ludes tanpa sisa.

Yang pasti saat berada di Bumi Upi, saya yang biasanya hanya mengambil sejumput nasi, kali ini mengajak mulut dan lambung untuk menghabiskan seporsi besar nasi yang dimasak sesuai dengan selera saya. Kematangannya pas. Tidak terlalu lembut dan juga tidak pera. Ah nikmat betul.

Bertamu ke Bumi Upi, Resto dengan Nuansa Nostalgia di Garut
Serangkaian menu pesanan saya dan keluarga

Sebuah Memori yang Tak Terlupakan

Makan siang bersama keluarga dan bertamu ke Bumi Upi, resto dengan nuansa nostalgia di Garut ini menjadi titik awal yang memulai serangkaian liburan singkat keluarga kami di kota yang terkenal dengan kesejukan udaranya ini. Sebuah memori yang tak terlupakan karena semua dimulai dengan entertainment rasa yang membangkitkan banyak kesukaan akan masakan rumahan.

Bumi Upi, menurut saya, bisa jadi agenda wajib untuk teman-teman yang mencari destinasi wisata kuliner yang highly recommended saat mengunjungi atau berada di Garut. Jika datang berbanyak seperti saya dan keluarga, ada baiknya melakukan reservasi terlebih dahulu. Apalagi jika rencana kunjungan itu jatuh pada musim liburan atau sepanjang akhir pekan. Tentu saja jika sudah melakukan reservasi, kita wajib datang tepat waktu sebagai komitmen dan perhatian serius kita pada makna “reservasi” itu sendiri.

Untuk value hidangannya sendiri menurut saya sih lebih dari cukup meski tak tergolong istimewa. Positioning mereka sama dengan rumah makan lainnya yang menghidangkan banyak pilihan menu yang mengajak kita menikmati acara makan bersama keluarga sembari berbagi banyak momen berharga. Hidangan umami yang kemudian merekatkan rasa kebersamaan.

Satu masukan yang cukup menggelitik dan sering terjadi di restoran yang super sibuk adalah soal keramahan para petugas. Sering terjadi dan terlihat betapa mahalnya senyum dan sapaan ramah mereka di tengah-tengah keriuhan yang terjadi. Bahkan saat atau di momen saya meminta tolong salah seorang petugas untuk memotret kami sekeluarga dalam satu frame, kemudian mengucapkan terima kasih, orang ini tak tersenyum atau mengangguk sama sekali.

Semoga kedepannya keramahan dan senyum petugas akan semakin membaik ya.

Tapi above all, dari seluruh pengalaman saya dan keluarga saat berada di Bumi Upi menjadi sebuah memori yang tak (akan) pernah terlupakan. Atmosphere nya, sentuhan vintage nya, dan suasana hangat yang tercipta, jadi beberapa bagian penting dari memori tersebut. Tentu saja termasuk semua hidangan lezat yang mampir ke indra perasa kami.

Bertamu ke Bumi Upi, Resto dengan Nuansa Nostalgia di Garut
Serangkaian menu pesanan saya dan keluarga

Bertamu ke Bumi Upi, Resto dengan Nuansa Nostalgia di Garut

IG @annie_nugraha | Email: annie.nugraha@gmail.com

Bertamu ke Bumi Upi, Resto dengan Nuansa Nostalgia di Garut

13 thoughts on “Bertamu ke Bumi Upi, Resto dengan Nuansa Nostalgia di Garut”

  1. Bumi Upi ini pinter banget ya ngemas konsep nostalgia tapi tetep dapet sentuhan modern yang nyaman. Foto-foto dikau selalu juara, bikin sudut restonya kelihatan ‘hidup’ banget. Garut emang nggak pernah gagal kalau soal kulineran yang punya soul kayak gini, kayak Bandung gitu yah.. sayang waktu ke Garut aku gak tau ada resto lucu ini.

    Btw, ikutan sedih baca kalau peralatan melamine Ibunda hilang.. hiks… disangka mainan plastik biasa kali yak :((

    Highlight tentang senyum penting banget An, di google reviewnya perlu juga dicantumin kali yah

    Reply
    • Yup bener banget. Di Google Review ada gue singgung soal senyum dan keramahan itu. Karena – menurut aku – feel of convenient bagi para customers tuh adalah bagian penting bahkan paling penting untuk semua bisnis jasa dan pelayanan.

  2. Konsep tempat makan Bumi Upi oke banget, menikmati hidangan sembari menjemput kenangan puluhan tahun dalam ingatan dalam sentuhan kekinian yang sangat nyaman.
    Doh, Garut kapan terealisasi lagi untuk mengunjunginya nih, kulinerannya oke, kerajinannya jg banyak pilihan, wisata alamnya jg.

    Reply
    • Semoga bisa balik lagi ya Mbak. Saya juga masih banyak yang belum terkejar nih karena waktu yang memang terbatas dan waktu itu sering hujan. Jadi gak mobile buat kemana-mana.

  3. Kreatif dan unik banget nama menu di Bumi Upi Garut ini ya. Beneran salut sih aku sama owner-nya. Kekinian secara opsi menu, dengan rasa makanan yang nggak main-main.

    Pantes, laris manis dan penuh sama pengunjung soalnya nuansa vintage nya berasa. Beneran kayak lagi mudik ke rumah Nenek. Setiap sudut estetik dan cocok untuk ngajakin keluarga besar buat makan bareng.

    Salfok sekali aku sama pilihan menu makanannya. Terus penasaran sama tanaman gantung sampe dapat penghargaan MURI.

    Save dulu akh, mana tau nanti aku ke Garut sekalian hiking, bisalah mampir ke Bumi Upi ๐Ÿ˜‡

    Reply
    • Tawaran sajiannya seperti saat makan bersama keluarga di sebuah acara arisan. Tapi Bum Upi mengemasnya menjadi sesuatu yang istimewa dengan bumbu yang begitu memanjakan lidah. Kalau perut dan lambung karet eh enak banget deh makan banyak di sini hahahaha.

      Wajib disambangi saat ke Garut La. Makanan enak, tempatnya photogenic. Paket langkap sudha.

  4. hehehe semula saya bingung dengan emih-emihan, sesudah dibaca teliti baru paham dan ketawa, karena beda logat beda pula pengertiannya.

    Jadi pingin ke Bumi Upi Garut bareng anak-anak, dan nyicipin nasi dangdutan serta nasi buntut kebakaran, penasaran dengan rasanya
    Eniwei, salah satu kekurangan industri kuliner kita emang belum menerapkan hospitality pada karyawannya, sehingga seenak apapun rasa masakannya, jadi males untuk balik lagi

    Reply
    • Semoga tulisan ini dibaca oleh pihak Bumi Upi ya Mbak. Hospitalities and convenient feeling dalam bisnis jasa dan pelayanan tuh penting banget menurut saya sih.

Leave a Comment