
Tampil Kece dengan Daster Bordir Malangan yang Stylish di Zama Homewear Malang | Featured and Travel | September 2026
Usai sederetan urusan pernikahan seorang keponakan di Pasuruan, saya dan suami bergegas menuju Malang. Berkendara sejak pagi-pagi sekali, saya memutuskan untuk menghampiri dua tempat sekaligus sebelum bertamu ke Tugu Hotel di jantung kota Malang. Salah satunya adalah ke Zama Homewear. Produsen daster bordir Malangan yang berada di kawasan Klojen

Meski datang dalam rombongan mobil yang terpisah, saya dan suami di satu mobil sementara anggota keluarga lainnya dengan mobil sewaan yang berbeda, kami semua sepakat untuk bertemu di Zama Homewear. Salah satu butik fashion yang menghadirkan daster bordir malangan di kawasan Klojen, kota Malang.
Saya sendiri berminat mampir ke Zama Homewear setelah ngubek-ngubek berbagai tautan di Instagram. Khususnya yang menampilkan “where to go” atau “what to do” selama kita berada di Malang. Meski sempat tinggal di kota apel ini selama beberapa tahun dan masih mengenali jalur lalu lintas di dalam kota, ternyata banyak sekali perubahan yang membuat saya terpana.
Ya iyalah ya. Secara sudah lebih dari dua dekade saya tak menyambangi dan atau kembali ke sini.
Jadi saat keluar dari Pasuruan lalu memasuki jalur tol Pandaan hingga Malang, melewati Singosari, dan keluar di jalur menuju kota Malang, saya sempat sama sekali tidak mengenali deretan tempat yang saya lewati. Kehadiran jalan bebas hambatan ini ternyata benar-benar memotong waktu perjalanan untuk mencapai kota Malang. Kota yang semakin populer dan tersematkan sebagai salah satu kota pendidikan di provinsi Jawa Timur.
Tapi yang pasti, perkembangan yang begitu signifikan yang saya saksikan di kota Malang, membuat saya cukup tercengang. Di sepanjang jalur utama โ Jl. Jaksa Agung Suprapto โ saya menemukan banyak sekali bangunan indah yang sekarang digunakan sebagai usaha. Khususnya di dunia perhotelan, entertainment, dan kuliner.
Saat saya meminta Mas Rifqy, yang mengantarkan kami, untuk nyetir perlahan, saya masih menandai bahwa di jalur utama masuk ke dalam kota Malang ini, bentuk jalur jalannya masih sama seperti yang dulu. Dua jalurnya terbagi atas dua lajur yang dipisahkan oleh pembatas jalan kemudian di samping dua lajur ini, ada bahu jalan beraspal dan cukup untuk lalu lalang satu mobil dan beberapa motor. Yang saya suka adalah deretan pepohonan besar tetap dibiarkan tumbuh selama bertahun-tahun. Tetap kokoh dan awet bertahan di sepanjang jalan ini.
Melewati RSUD Saiful Anwar, saya menandai bahwa jalan di dalam kota Malang โkhususnya di kawasan Klojenโ sudah banyak yang dibuat satu arah. Jadi saat menuju Jl. Kartini, saya sempat merasakan mendadak nyasar tanpa mengenali jalan ini sama sekali.

Setelah berada di sepanjang jalan Kartini, saya mendadak mengenali beberapa rumah yang dulu adalah milik keluarga teman-teman SMA saya. Bahkan ada salah satu rumah berukuran besar yang menampung beberapa anak kos yang sekolah di SMA yang sama dengan saya.
Tapi saat saya datang semua tampak sudah berubah. Yang bertahan adalah barisan pepohonan besar dengan akar menyembul sebagai tanda bahwa pohon ini sudah berusia lanjut. Dan beberapa rumah bergaya kolonial berukuran luas.
Lewat akun IG @zama_homewear saya mendapatkan informasi bahwa outlet di Jl. Kartini ini adalah lokasi terbaru mereka. Taman depan rumah bergaya kolonial ini dibuka total dan dijadikan tempat parkir yang lumayan luas. Rumahnya pun dicat ulang tanpa merubah struktur bangunan yang terlihat megah dengan susunan fisik melebar.
Parkir yang lega seperti ini memberikan kenyamanan tersendiri bagi tamu yang datang berombongan. Setidaknya tidak memenuhi bahu jalan dengan bangunan yang merapat satu sama lain. Apalagi banyak deretan rumah di area ini yang beralih fungsi menjadi tempat bisnis. Seperti hotel, fancy restaurant, dan bersambung dengan kawasan Pasar Rakyat Klojen.
Yang pasti di setiap titik jalan yang saya lewati tidaklah senyap seperti saat saya tinggal di Malang. Semua berubah menjadi lebih sibuk dan padat seiring dengan kebutuhan dan perubahan jaman.

Saya tiba di Zama Houseware tak lama setelah anggota keluarga yang lain masih sibuk memilih. Sejenak turun dari kendaraan, saya merasakan benar-benar kembali ke kota Malang. Meski udara sudah tidak lagi sedingin dan senyaman dulu, setidaknya saya masih bisa melihat sebuah bangunan kolonial warisan Belanda yang dipertahankan, dirawat, dan digunakan sebagai boutique outlet.
Melangkah ke teras depan dengan ubin tegel/tegel kunci yang terpasang apik hampir di setiap sudut ruangan, saya mengganti sepatu yang saya kenakan dengan sandal yang sudah disediakan tempat ini. Saya setuju dengan pengaturan seperti ini demi menjaga kebersihan toko. Gak banget kan jika petugas toko harus bolak-balik menyapu/membersihkan lantai, sementara kita tak tahu persis kotoran seperti apa yang menempel di alas kaki para tetamu.
Masuk ke ruang penerimaan tamu dan counter khusus transaksi pembelian, saya melihat ruangan ini begitu simpel penataannya. Ada beberapa manequin dengan model pakaian terbaru, pohon artificial, wadah-wadah besar, dan beberapa tumpukan produk selain pakaian. Seperti tote bag, home slipper, bermacam-macam souvenir, knit matt, dan masih banyak lagi.
Saya melangkah ke beberapa ruang display yang berada setelah area depan ini.
Di kedua ruangan inilah tergantung banyak pilihan pakaian yang sudah dikombinasikan dengan bordir berbagai rupa dan warna. Peletakannya juga sangat rapi. Semua gantungan diletakkan merapat ke dinding ruangan sehingga tidak menghalangi pergerakan para tetamu yang berpindah dari satu sisi ke sisi yang lain. Bagian tengah ruangan tidak diberikan pembatas. Benar-benar dibuat lowong. Ruang jadi terasa lega.
Selain dipilah berdasarkan kategori jenis โseperti daster lengan pendek, daster lengan panjang, piyama, gamis, tunik, dan abayaโ pilihan produk juga dipisahkan berdasarkan warna. Ukuran baju juga memengaruhi. Yang pendek digantung rendah sementara baju-baju yang panjang dicantelkan di deretan gantungan yang tinggi. Semua dibuat untuk tidak menyentuh lantai.
Pilihan bahan pakaian juga jempolan menurut saya sih. Bahannya adem, tidak mudah kusut, dan penyerap keringat yang baik. Kombinasi motif dasar pakaian juga berpadu sempurna dengan bordiran yang ditempel/dijahit kembali. Baik dari segi warna, bentuknya, dan peletakannya.
Saya terjebak dalam pilihan yang sulit.

Entah sudah berapa kali saya mondar-mandir di dalam sini. Terjebak dalam banyak keinginan yang memenuhi selera. Semua pengen dibeli dan dimiliki. Terbayangkan saya akan tampil kece dengan daster bordir malangan yang stylish yang sebagian besar ditawarkan di rentang harga Rp250.000,00-an hingga Rp350.000,00-an.
Tapi akhirnya dengan sisa-sisa semangat yang ada pilihan saya jatuh pada dua buah gamis, sebuah piyama buat si bungsu, dan sebuah daster lengan pendek. Semua berbeda warna dengan kombinasi produk bordir yang berbeda-beda.
Ukuran M yang saya ambil ternyata pas banget saat saya kenakan. Baik untuk ukuran dada, bahu, lengan, dan panjang bajunya. Saya seringkali mengalami kesulitan membeli baju karena keempat ukuran ini. Khususnya di bagian dada dan panjangnya baju. Maklum body bukan ukuran model catwalk.
Betapa gembiranya saya saat semua yang dibeli terasa pas di tubuh tanpa harus merombak disana-sini. Dengan kondisi begini, keputusan untuk memesan on-line ke depannya tidak akan jadi hambatan karena saya tahu persis standard ukuran yang (sangat) pas di tubuh.

Saat akan beranjak dari Zama Homewear, saya sempat memperhatikan beberapa fasilitas bisnis yang berada persis di depan outlet. Ada sebuah hotel yang cantik banget tampilan fasadnya. Di dekatnya ada restoran yang juga terlihat estetik meski hanya terlihat hanya dari luar saja. Sayang waktu saya sangat terbatas karena setelah dari Zama Homewear ini saya sudah punya janji lain yang harus dipenuhi.
Saya berharap Zama Homewear, daster bordir malangan yang stylish ini akan terus eksis, bahkan melahirkan banyak model dan motif baru ke depannya. Tetap mempertahankan kualitas jahitan yang rapi dengan motif bordir yang up-to-date. Menjadikan setiap produknya nyaman dan cantik untuk dikenakan.






Nah!
Beginilah memang seharusnya Blogger memposisikan dirinya.
Terima kasih sudah mampir di blog saya.
Cakep-cakep banget ya dasternya/ Kalau secakep ini kayaknya bisa di-mix n match juga buat ke luar rumah, deh. Ya minimal buat ke minimarket gitu. Saya mau cek IGnya, ah.
Setuju. Aku beli gamisnya. Cantik banget kombinasi antara warna dan bordir yang ditempel. Bahannya adem, gak mudah kusut, dan ukurannya pas banget di badan. Padahal biasanya kalau beli gamis harus ada yang dirombak biar pas.
Nemu aja tempat keren di Malang, Mbak Annie. Wuih keren dan stylish ya mbak.
Iya Mas. Kapan-kapan ajak istri belanja home wear di sini. Dasternya nyaman banget buat dipakai. Stylish. Jauh dari kesan kusut nya daster.
Aku banget nih suka pake daster tapi yang kece. Kalau pas ke malang, mampir ke sini ah. Terima kasih infonya ya
sepintas (fast reading) saya pikir Zara hehehe
Gak dong ya? Kalo mau besar jangan pakai brand orang lain
wah beruntung banget bisa beli baju yang pas ukurannya, karena saya beberapa kali beli akhirnya harus dirombak
Keren bordir malangan ini ya Mbak? Menawarkan sesuatu yang khas untuk pengunjung Kota Malang, dengan kualitas yang oke
Nah sama dengan saya tuh. Secara ya, ukuran bodi tuh nanggung. Tinggi enggak, pendek enggak. Gendut enggak, kurus juga enggak hahahaha. Jadi pas nyoba ukuran M di gamisnya, beneran saya gak perlu rombak lagi. Pas semuanya.
Keren bordirannya. Rapi banget. Kalau sudah tahu kualitasnya begini, berani deh pesen on-line aja.
Dari beberapa foto display itu, aku lihat bordirnya keren-keren ya, Kak. Warnanya juga warna-warna pastel kayaknya. Soft.
Aku nggak pernah tinggal lama di Malang. Sesekali cuma berkunjung karena teman-temanku banyak yang kuliah di Malang dulu.
Soal perubahan, aku nggak terlalu yakin sih. Tapi, pasti lah ada perubahan.
Pemilihan warna dasar dan motif bordirnya jadi salah dua kunci produk Zama ini layak banget buat dibeli. Jahitannya juga rapi Mbak Yuni. Saat dikenakan tuh begitu nyaman karena jahitannya halus dan tidak menggesek kulit. Puas banget lah belanja di sini.
Aku gak lama sih di Malang. Hanya saat SMA. Tapi itu aja sudah mengesankan banget. Banyak memori baik yang terukir di kota kecil ini.
Cantik-cantik banget ini, Mbak Annie! Kalau saya yang datang ke Zama Homewear, bisa-bisa malah bingung sendiri mau pilih tunik, blus, gamis, atau daster bordirnya. Semuanya kelihatan menarik dan modelnya juga enggak seperti homewear yang cuma untuk dipakai di rumah. Hahaha… ujung-ujungnya bukan pilih salah satu, malah bilang, โMbak, bungkus semua!โ Apalagi bordir khas Malangannya cantik dan bikin daster jadi terlihat lebih stylish. Jadi penasaran juga kalau datang langsung, apakah bisa tahan godaan untuk enggak kalap belanja.
Dijamin. Mbak Dian kalau ada di sini juga pasti pengen diadopsi semua deh hahahaha. Pas sudah aku cuci dan pake di rumah, nyesel rasanya “hanya” beli 4pcs. Astaga. Tapi paling enggak dengan beli langsung dan merasa cocok, selanjutnya bisa beli on-line.
Melihat foto-foto pakaiannya pun tampak begitu sangat bagus-bagus sekali. Cara mereka mendisplay bikin tambah menarik dan estetik. Beneran vibes butik level up nya terasa. Apalagi bagian bangunan depannya, tampak unik.
Rasanya nggak heran, kalau sempat bingung mau beli item yang mana aja di Zama Homewear. Secara bagus semua, jiwa ingin memborong pasti meronta-ronta yaaaa. Hingga akhirnya bisa memantapkan pilihan, dengan warna-warna berbeda.
Cara menatanya bikin kita bisa berlama-lama karena ruang luas di bagian tengah dengan hanger display merapat ke dinding. Pengelompokannya juga apik betul. Dibaris berdasarkan jenis dan warna. Langsung deh jatuh cinta saat pertama masuk.
Terlihat dari kain yang digunakan Zama Homewear ini nyaman banget.. dan jadi sangat memikat dengan aksen bordir yang cantik.
Selain daster juga ada aneka set gamis.. pastinya bisa digunakan di berbagai occasion.
Naksir banget sama warna-warna pastelnyaa..ka Annie colour tone nya warna earth tone yaa..?
Setuju Len. Warna-warna pastel apik banget. Duh, jadi pengen dibeli semua deh hahahaha. Setelah sortir sedemikian lama akhirnya mentok di 4pcs aja. Itu juga sudah bolak-balik milih. Astagaaaa.
Senyum2 baca Mbak Annie mondar-mandir pilih gamisnya di Zama Homewear. Aku banget itu Mbak Annie. Kayaknya kalo udah ketemu baju yang cocok, emang susah pulang ya, apalagi kalau semuanya bagus. Tapi yang paling menarik di tulisan Mbak Annie ini ya cerita tentang Malangnya. Setelah puluhan tahun nggak ke sana, ternyata banyak yang berubah, tapi pohon-pohon besar dan beberapa bangunan kolonial masih bertahan. Nostalgic banget pastinya ya mbak.
Betul banget Mutia. Kota Malang memang jadi memori terbaikku saat sekolah. SMA di sana melahirkan banyak cerita, banyak pengalaman, dan tentu saja berlimpah teman. Masa-masa sekolah di kota kecil yang di saat itu masih sedikit penduduknya. Terasa banget bedanya saat harus kembali lagi ke Jakarta dan berjuang dengan kesibukan kota besar. Bahagia banget bisa melewati masa remaja di sana.
Duuuuh baru tahu tempat daster bordir begini mbaaaa. Dan aku sukaaa model2nyaaa.
Langsung aku cari toko onlinenya, dan ketemu. Tp sayangnya apa yg aku suka ga ada semua ๐. Hiks…
Jadi pengen ih balik ke malang. Dan pas cek dari online shop, harganya juga lebih murah . Tapi kalau datang langsung ke tokonya mungkin koleksi lebih banyak kali yaaa.
Keknya memang laris banget ya Fan. Aku pun ada baju incaran dan masih harus nunggu ketersediaannya. Milih di outletnya memang lebih puas deh. Seneng aja gitu menyusur tiap gantungan baju satu semi satu hahahaha. Ah gawat.