Menyambangi Dua Pasar Rakyat Legendaris di Kota Malang, Pasar Rakyat Oro Oro Dowo dan Pasar Rakyat Klojen

Menyambangi Dua Pasar Rakyat Legendaris di Kota Malang, Pasar Rakyat Oro Oro Dowo dan Pasar Rakyat Klojen

Menyambangi Dua Pasar Rakyat Legendaris di Kota Malang, Pasar Rakyat Oro Oro Dowo dan Pasar Rakyat Klojen | Travel and Featured | September 2026

Di hari terakhir liburan di Malang, saya mengajak suami menyambangi dua pasar rakyat legendaris di Kota Malang. Pasar Rakyat Oro Oro Dowo dan Pasar Rakyat Klojen. Suami tampak cerah ceria karena kegiatan yang satu ini adalah salah satu acara favoritnya, kapanpun dan dimanapun kami menjelajah.

Menyambangi Dua Pasar Rakyat Legendaris di Kota Malang, Pasar Rakyat Oro Oro Dowo dan Pasar Rakyat Klojen

Hari itu adalah saat terakhir saya dan suami liburan di Malang. Sesuai kesepakatan, sebelum berangkat ke bandara setelah makan siang, pagi setelah sarapan di hotel, kami akan menjelajah dua pasar rakyat legendaris di kota Malang. Pasar Rakyat Oro Oro Dowo dan Pasar Rakyat Klojen.

Awalnya pengen jalan kaki aja sekalian olga karena keduanya ada di kawasan yang sama. Tapi setelah menimbang waktu yang cukup terbatas, lalu bertemu dengan tukang becak mesin di depan teras hotel, akhirnya kami memutuskan untuk menyewa becak ini aja.

Nyatanya keputusan ini jitu. Bukan hanya membuat kami bisa menikmati suasana pasar tanpa terburu-buru, kelelahan fisik menjelajah dua pasar rakyat bisa tereliminasi. Apalagi setelah beberapa waktu setelah berangkat dan masih di dalam becak, saya menyadari bahwa jarak antara Pasar Rakyat Oro Oro Dowo dan Pasar Rakyat Klojen tuh lumayan loh jauhnya.

Yoklah simak pengalaman saya saat menyambangi dua pasar rakyat yang legendaris di kota Malang ini.

Pasar Rakyat Oro Oro Dowo

Pasar yang satu ini sesungguhnya tidak begitu jauh dari Whiz Prime Hotel tempat kami menginap. Tapi karena ada kebijakan jalan satu arah, becak pun harus memutar lumayan jauh. Saya begitu menikmati acara naik becak ini. Selain karena gak pernah naik becak bertahun-tahun lamanya, juga karena kendaraan roda dua yang gerakannya ligat ini sempat banyak membantu saya untuk pulang dan pergi dari rumah kontrakan (di kawasan Blimbing) ke sekolah (di seputaran Ijen) di era 80-an. Tapi di kala itu hanya ada becak kayuh saja.

Memahami bahwa kami adalah pewisata, kang becak begitu antusias memberikan masukan (baca: ngajak ngobrol). Dia menerangkan banyak hal yang menarik tentang dua pasar rakyat yang ingin saya kunjungi. Saya menyambut ajakan ngobrol dengan senyum hangat, menyahut dengan kalimat pendek “ngeh Pak” yang cukup kencang karena berisik nya mesin. Pagi itu jadi satu cerita yang memorable karena sembari menikmati jalannya becak, saya menyengat ribuan ingatan manis dan penuh sukacita saat sekolah di Malang puluhan tahun yang lalu.

“Ndak usah buru-buru ngelencernya. Biar puas ngider-ngider di dalam. Saya tunggu di depan ya,” ucapnya ramah, sopan, dengan senyum yang tampak tulus menyenangkan hati.

Saya melangkah turun dengan senyum semanis mungkin sembari menyimpan gambaran wajah si bapak dalam ingatan. Biar gak keliru nanti pas nyari karena di sisi depan pasar ini berderet tukang becak yang tampaknya juga sedang menunggu penumpang.

Hanya dalam beberapa langkah, beragam pujian langsung mampir di rangkaian kalimat saya. Yang pasti, lingkungan sisi luar bersih, tampak begitu teratur, tanpa sedikit pun sampah yang berserakan. Jalan yang mengelilinginya pun apik dan lebar meski kenangan lama itu masih tertinggal. Parkiran becak, sepeda motor, dan mobil disiplin berjejer rapi. Kesan awal yang sangat menyenangkan.

Menyambangi Dua Pasar Rakyat Legendaris di Kota Malang, Pasar Rakyat Oro Oro Dowo dan Pasar Rakyat Klojen

Sisi depan pasar tampak penuh dengan para pemburu sarapan. Ada deretan kios dengan cat mencolok yang berjejer apik dari kanan ke kiri pintu masuk utama. Saya mendadak terpekur dalam rangkaian ingatan berkunjung ke Pasar Rakyat Oro Oro Dowo saat masih berseragam putih abu-abu. Era menjelang akhir 80-an. Saya beberapa kali nongkrong di salah satu kedai di pasar ini untuk menikmati bermangkuk-mangkuk bakwan Malang, yang kelezatannya telah melegenda. Jaraknya Pasar Rakyat Oro Oro Dowo ini juga gak begitu jauh dari SMA saya dulu. Jadi saya dan beberapa teman termasuk sering nongkrong makan bakwan seusai sekolah. Rombongan naik sepeda motor sambil menunggu jadwal ekskul di sore hari.

Tapi saat di kunjungan terakhir saya di awal Agustus 2026, Pasar Rakyat Oro Oro Dowo sudah banyak sekali berubah. Setelah sempat direvitalisasi pada September 2015, pasar ini menghadirkan konsep pasar modern dan pasar bersih yang membuat saya betah.

Saat melangkah masuk lewat pintu utama yang menghadap ke Jl. Guntur, saya bertemu dengan lorong depan yang indah mengesankan. Ada sebuah prasasti yang ditandatangani oleh Tom Lembong pada September 2015. Ketika itu beliau masih bekerja sebagai Menteri Perdagangan RI. Sementara di dinding lainnya ada sebuah mural sederhana dengan sebuah tulisan “Mbois Tanpa Narkoba” yang artinya keren tanpa narkoba.

Dari pintu depan ini, tak terdeteksi dan tercium sedikitpun bau menyengat layaknya pasar tradisional. Sebuah kondisi yang jauh dari momok (baca: ciri khas) yang tak terbantahkan saat kita berada di pasar rakyat. Satu hal yang telah membuat saya kapok lombok untuk tidak datang ke pasar. Apalagi seringkali bau khasnya itu bisa menempel di baju bahkan di rambut kita.

Saya langsung tersenyum lebar dengan mata berbinar-binar. Nah, gini dong!!

Menyambangi Dua Pasar Rakyat Legendaris di Kota Malang, Pasar Rakyat Oro Oro Dowo dan Pasar Rakyat Klojen

Di bagian depan ini saya langsung menemukan berderet-deret penjaja jajan pasar yang beberapa di antaranya โ€”kabarnya, menjadi incaran para penggila camilan dan turis domestik. Seperti lumpur kentang, onde-onde yang wijennya ganjil (sempat saya hitung soalnya), ote-ote, bakso goreng, sego liwet bakar, cenil, kelepon, kue zoes, tempe mendoan, dan masih banyak lagi jajanan jadoel yang sudah jarang saya temukan penjualnya. Saya membeli sedikit-sedikit dengan tujuan menuntaskan penasaran dan supaya bisa mencoba banyak.

Kembali menjelajah, saya malah akhirnya bertemu dengan sebuah kedai yang menawarkan K-Pop Merchandise. Beberapa profil solois dan grup asal Negeri Ginseng ini hadir lengkap berjejer termasuk beberapa produk kreatif yang bisa kita kreasikan sendiri.

Tapi fokus saya langsung terpaku pada BTS (Bangtan Sonyeondan) yang kok ndilalah menghadirkan foto Park Jimin (anak sulung saya, eits gak boleh ada yang protes). Di tempat ini juga tersedia beberapa produk seperti kipas tangan, gantungan kunci, photo cards BTS. Semua langsung meluncur ke kantong belanjaan. Pokoknya beli aja dulu. Prinsip “lebih baik nyesel beli daripada nyesel gak beli” sungguh berlaku di sini.

Persis di ruang yang sama ada spot khusus untuk berbagai jenis oleh-oleh Malang. Ada mug, botol minum, kaos, payung, mainan, pin, dan lain-lain. Kedainya jadi terlihat penuh barang tapi tetap menyenangkan. Sayang sehari sebelumnya saya sudah beli oleh-oleh. Jika belum, bisa dipastikan mborong juga di sini karena memang dagangannya apik-apik betul.

Tak jauh dari kedai ruang kreatif ini, saya melihat beberapa kios yang menawarkan kerajinan tangan lainnya. Kali ini berupa tas anyaman berbahan eceng gondok, pandan, plastik, dan pipihan rotan. Ada sling bag/tas selempang, tas ransel, totte bag, goodie bag, clutch, bahkan tas super besar buat belanjaan seabrek-abrek. Tas ukuran grande yang bisa dipakai sekaligus bisa ngangkut bayi usia dua bulan dengan BB 4kg. Bayangin dah tuh. Saking besarnya.

Saya memutuskan untuk tidak mendekat karena jika menghampiri berarti saya akan terjebak pada keputusan membeli yang tiada akhirnya (ngekek sekencang-kencang).

Baiklah. Mari menjangkau sisi lain saja kalau begitu.

Menyambangi Dua Pasar Rakyat Legendaris di Kota Malang, Pasar Rakyat Oro Oro Dowo dan Pasar Rakyat Klojen

Saat berjalan menyusur di atas tegel batu hitam saya menemukan petunjuk berupa gambar kursi roda. Dari tanda ini saya menyadari alasan mengapa Pasar Rakyat Oro Oro Dowo membuat lorongnya rapi, lebar, dengan kebersihan lantai yang terjaga. Tetap kering dan tidak becek. Tentunya dalam rangka mengakomodir para pengunjung disabilitas yang menggantungkan langkah dan pergerakannya pada kursi roda.

Mengatur langkah menyusur setiap kios, saya malah bertemu beberapa orang ibu yang asyik belanja sambil membawa trolley besi dorong yang biasa kita pakai saat belanja di supermarket. Ini loh membantu banget saat kita harus berbelanja dalam kuantitas yang besar. Tangan tak letih, mobilitas tinggi, dan mempercepat ruang gerak. Trolley juga diizinkan untuk dibawa sampai ke kendaraan di parkiran. Sama persis seperti belanja di supermarket.

Saya mengamati di bagian tengah ruang, gedung pasar dengan langit-langit menjulang ini, didominasi oleh para pedagang kelontong/perancangan, sembako, perbumbuan, dan kebutuhan dapur lainnya. Semua rapi, berjejer apik, memanjakan indera penglihatan, dan bersih tentu saja. Lorong di antara kedai pun lega luar biasa. Satu mobil mini listrik kayaknya bakal muat.

Di bagian tengah dan belakang saya juga bertemu para penjaja sarapan, warung makan lengkap dengan pilihan lauk-pauk. Duh. Seandainya tadi gak sarapan di hotel, pengen deh nongkrong di warung nasi itu. Tawaran nasi rames nya menggoda betul. Belum lagi indera penciuman saya tergoda oleh wanginya kopi yang baru diseduh.

Beberapa langkah dari warung nasi ini, saya menemui beberapa kios penjual ikan, daging, seafood, dan bahan mentah lainnya. Banyak ibu-ibu mengerubungi. Saya menyegerakan langkah saat melewati barisan penjual ini dan akhirnya rezeki ketemu dengan kedai Mas Didik yang menawarkan juice jeruk murni (jeruk segar).

Saya, sang penggila minuman jeruk murni (tanpa sedikitpun gula), langsung memesan segelas besar. Saya memutuskan untuk numpang duduk sebentar lalu menandaskan minum kesukaan ini. Hanya dalam beberapa detik kemudian lidah saya langsung terperosok dalam kekaguman. Enaknya tak terlukiskan. Jarang-jarang nemu jeruk murni yang manisnya original. Biasanya manis dengan efek sepet dan atau asam. Dan itu tanpa es batu. Yahud kan?

Akhirnya saya membeli dua botol ukuran sedang untuk dibawa pulang. Manis jeruk tersebut sudah membuat saya kesengsem. Pengennya bawa berbotol-botol ke rumah tapi menimbang dan mengingat di kamar hotel sudah bertumpuk oleh-oleh, niatan ini langsung saya batalkan.

Sambil menggenggam sekantong bakso goreng kesukaan, kami bergegas kembali ke becak dan menuju Pasar Rakyat Klojen.

Menyambangi Dua Pasar Rakyat Legendaris di Kota Malang, Pasar Rakyat Oro Oro Dowo dan Pasar Rakyat Klojen

Menyambangi Dua Pasar Rakyat Legendaris di Kota Malang, Pasar Rakyat Oro Oro Dowo dan Pasar Rakyat Klojen

Pasar Rakyat Klojen

Melihat kami terseok-seok menggotong belanjaan, kang becak langsung mendatangi dan membantu mengatur kantong belanjaan yang akhirnya disangkutkan di besi-besi penutup/atap tempat duduk penumpang.

“Mengko tak golekno kardus ya Buk. Biar kekumpul kabeh. Ibuk Bapak munggah sek,” katanya sopan. Saya mengangguk, menggamit lengan suami, dan cepat mengambil posisi duduk.

Masih ada satu setengah jam untuk menyambangi Pasar Rakyat Klojen, kembali ke hotel, merapikan koper serta bawaan, lalu mampir ke agen JNE untuk mengirimkan beberapa kardus besar berisi oleh-oleh. Rangkaian kesibukan sebelum akhirnya mencapai bandara Abdul Rachman Saleh untuk terbang balik ke Halim.

Menyambangi Dua Pasar Rakyat Legendaris di Kota Malang, Pasar Rakyat Oro Oro Dowo dan Pasar Rakyat Klojen

Menuju ke Pasar Rakyat Klojen, saya merasakan bagaimana ngepotnya kang becak. Wajah dan jilbab saya terasa terpapar angin kencang dengan jilbab yang berkibar-kibar kecil. Pagi itu lalu lintas terlihat agak lengang. Melintasi Alun Alun Tugu Kota Malang yang ikonik yang dikepung oleh beberapa bangunan bersejarah, termasuk di antaranya adalah Hotel Tugu, entah mengapa ingatan saya kembali berjalan mundur.

Beberapa wajah teman-teman SMA melintas di mata tua saya. Teman-teman yang sebagian besar adalah perantauan dari berbagai kota. Ada yang dari Gersik, Jember, Jombang, Madiun, dan beberapa kota kecil lain yang ada di Jawa Timur. Saya satu-satunya anak dari Jakarta.

Kawasan ini dulunya juga tempat saya dan teman-teman ngumpul di sore hari atau selama di akhir pekan. Kadang hanya duduk-duduk sambil jajan bakwan. Menyesuaikan kantong anak SMA. Suasananya sungguh menyenangkan karena banyak pohon-pohon besar dengan akar-akar menyembul yang memayungi siapa pun yang berada di bawahnya. Bangunan di sekitarnya pun menghadirkan rangkaian keindahan bangunan zaman penjajahan, era kolonial Belanda. Spot photography favorit bagi mereka yang senang memotret. Tapi di kala itu saya belum sama sekali menyentuh kamera. Jadi rangkaian jengkal perjalanan saya selama tinggal di Malang tak sempat berjejak.

Saya tiba di Pasar Rakyat Klojen hanya dalam hitungan lima belas menit kemudian. Dari kejauhan saya sudah mendengar suara riuh rendah, kesibukan tukang parkir karena harus mengatur berlimpahnya kendaraan yang tak henti datang dan pergi. Saya bahkan melihat beberapa bis 45 seats yang berusaha melipir di pinggiran jalan. Bis ini menurunkan sekian banyak rombongan pewisata yang mendadak memenuhi pinggir jalan.

Macet pun tak terhindarkan. Ya salam.

Tak ingin terjebak pada kepadatan, saya meminta kang becak untuk berhenti persis di depan sebuah warung kopi “Klojen Djaja.” Tempat yang berada di sudut ini terlihat sangat menarik perhatian. Dia memasang tiga banner yang cukup besar di langit-langit fasad. Isinya tentang film yang sepertinya ngetop pada masanya. Bangunannya juga dibiarkan tampil apa adanya dari luar. Gak ada polesan kekinian. Hanya barisan bangku kayu untuk tamu mereka yang ingin menghabiskan waktu dengan menikmati kopi.

Dibandingkan dengan Pasar Rakyat Oro Oro Dowo yang baru saja saya kunjungi, Pasar Rakyat Klojen suasananya lebih gegap gempita. Turun dari becak yang saya minta untuk menunggu di depan kedai kopi tadi, saya menemukan barisan pedagang berbagai jenis kuliner yang tumpah ruah di sepanjang jalan menuju pintu masuk pasar. Kondisinya semakin ruwet bin padat karena di pinggir jalan semua bercampur aduk. Ada parkiran motor, parkiran sepeda, mobil yang juga ikut parkir, pedagang gerobakan, parkiran becak, dan penjaja panggulan. Penuh memadati hampir setiap sudut dan cukup membuat saya sibuk mencari celah untuk berjalan.

Berisikan sebagian besar pedagang yang sudah berdagang di sini selama beberapa dekade, saya melihat kepadatan yang sungguh berlimpah di bagian dalam. Kios juga rapat berdampingan dengan lorong yang lebih sempit ketimbang di Pasar Rakyat Oro Oro Dowo. Pilihan sarapan lebih heboh lagi di dalam ini. Antrian mengular dengan tempat duduk yang bersinggungan satu sama lainnya.

Kepadatan ini membuat saya sulit untuk memotret dan membuat video tanpa “bocor.” Akhirnya saya dituntut untuk sabar menunggu dan hanya mampu menebarkan pandangan di balik bahu orang-orang yang aktif bergerak kesana-sini. Saya berhasil merekam beberapa jajanan saja seperti onde-onde dengan jumlah wijen genap (beda loh sama yang di Pasar Rakyat Oro Oro Dowo), risol dan saudara-saudaranya, dan tempe mendoan yang pagi itu masih dalam kondisi setengah matang. Plus tentu saja bakso goreng.

Pasar Rakyat Klojen ini ternyata belum berstatus sebagai pasar bersih karena lorong di antara kios itu lumayan sempit, para pedagang berjejer rapat dengan aroma rempah serta gorengan yang menguar di udara. Masih bertahan sebagai pasar tradisional yang kabarnya banyak penjual sudah berada di sini selama setidaknya dua dekade. Eksistensi mereka dan dagangannya sudah melegenda. Apalagi buat para pejajan yang ingin bernostalgia.

Saya sendiri baru kali ini menginjakkan kaki di Pasar Rakyat Klojen ini. Salah satu pasar legendaris yang ada di Kota Malang dan gerak kehidupannya sungguh menggeliat.

Tak lama โ€”setelah membeli tempe mendoan itu, saya mengajak suami untuk bersegera kembali ke hotel. Ternyata suami pun punya pemikiran yang sama. Kondisi penuh sesak membuat kami yang berusia banyak ini, terasa seakan-akan akan disambut oleh malaikat Izrail.

Menyambangi Dua Pasar Rakyat Legendaris di Kota Malang, Pasar Rakyat Oro Oro Dowo dan Pasar Rakyat Klojen

Perjalanan saya menyambangi dua pasar rakyat legendaris di kota Malang, berakhir saat kang becak mengantarkan saya dan suami kembali ke Whiz Premier Hotel yang berada di Jl. Jend. Basuki Rahmad.

Sebelum pulang tadi suami sudah membeli dua karton besar box untuk mengirimkan paket oleh-oleh ke rumah. Terlalu berat untuk dihitung sebagai bagasi pesawat. Dah kebayang over weight nya. Jadi ya mending santai bawa dua koper cabin aja. Simpel.

Yang mau berlibur ke Malang, jangan lupa mampir ke dua pasar legendaris ini ya. Khususnya buat mereka yang senang menambah pengalaman berkuliner khas daerah dan menemukan banyak hal menarik saat berada di pasar rakyat.

Menyambangi Dua Pasar Rakyat Legendaris di Kota Malang, Pasar Rakyat Oro Oro Dowo dan Pasar Rakyat Klojen

Menyambangi Dua Pasar Rakyat Legendaris di Kota Malang, Pasar Rakyat Oro Oro Dowo dan Pasar Rakyat Klojen

IG @annie_nugraha | Email: annie.nugraha@gmail.com

Leave a Comment