
Menyusur Arsip Hidup Kota Malang di Kampoeng Heritage Kajoetangan | Travel & Featured | Oktober 2026
Saat memutuskan untuk liburan di kota Malang selama tiga hari dua malam, Kampoeng Heritage Kajoetangan tercantum sebagai daftar wajib kunjung dari itinerary yang sudah saya susun. Seperti apa ya penampilan aslinya?

Kembali Dulu ke Era 80-an
Sebelum membahas tentang Kajoetangan dengan kondisi kekinian, saya ingin mengajak pembaca kembali ke era 80-an. Masa di mana saya masih jadi siswi SMAK St. Albertus (SMAK Dempo) yang berada di Jl. Talang, Oro Oro Dowo, Klojen, Malang. Salah satu sekolah menengah atas yang populer di kota ini.
Eits boleh dong bangga sudah menjadi alumnus dari SMA memorable ini.
Di era itu, Malang cenderung lebih sepi, lebih tenang, udaranya lebih segar dan lebih dingin dengan air tanah yang super duper bikin menggigil di pagi hari. Jadi setiap mau berangkat sekolah, saya selalu berjuang untuk mandi karena dinginnya seperti air es di dalam botol kaca yang baru dikeluarkan dari kulkas. Suasana kotanya juga tidak sesak seperti di awal Agustus 2026 saat saya datang dan mengukir kembali memori setelah 30-an tahun tak benar-benar bertandang lagi.
Ya iya lah ya. Rentang wakutnya sudah 30-an tahun.
Di zaman itu, Jl. Jend. Basuki Rahmad yang menjadi jalur utama area Kayutangan, sudah cukup ramai karena jalan besar ini terhitung sebagai jalan protokol kota. Di sepanjang jalan, sisi kiri dan kanan, banyak bangunan zaman kolonial Belanda masih berdiri dengan gagahnya. Seperti Gereja Katolik Paroki Hati Kudus yang sudah terbangun sejak 1897, Toko Oen (toko kue dan restoran) dengan hidangan/menu jadoel yang eksis sejak 1930, dan beberapa gedung lain yang masih dalam satu lingkungan dan tetap beroperasi dengan baik.
Jalan besar ini posisinya juga tak jauh dari kawasan Alun Alun Tugu kota Malang yang meliputi Balai Kota Malang, Hotel Tugu Malang, sekolah negeri, kolam teratai, pohon-pohon berusia lanjut yang akarnya sudah menyembul keluar, dan masih banyak lagi lainnya yang ikonis sebagai wajah kota Malang.
Pengaturan jalannya juga sudah berubah. Dibuat searah sehingga melahirkan rasa lega dan mampu mengurai kemacetan. Lingkungannya juga bersih, tertata, dengan beragam hiburan, business outlet seperti restaurant, toko oleh-oleh, hotel, dan deretan kantor. Saya dan suami bersengaja tinggal di Whiz Prime Hotel yang juga berada di sini. Tujuannya cuma satu, agar walking distance dengan beberapa tempat di sekitaran yang ingin saya tuju kapanpun, tanpa harus berkendara.
Di saat SMA, saya dan teman-teman sering motoran melewati kawasan Kajoetangan, berputar sedikit sebelum nongkrong dan jajan di Pasar Oro Oro Dowo. Biasanya sih kami makan siang di pasar ini dengan semangkuk bakwan Malang, rawon yang kebanyakan tauge dan kuahnya plus sepiring besar nasi serta setengah potong telur asin, atau sepiring pecel lengkap dengan peyek nya.
Rumah penduduk yang ada di area Kajoetangan pernah saya sambangi di masa itu. Tapi tak sering. Tempat tinggal di sana begitu berhimpitan dengan penataan yang cukup berantakan serta skala kebersihan yang sangat butuh perhatian. Suasananya seperti mengunjungi rusun (rumah susun) hanya bentuknya horisontal. Kondisi ini, terus terang, tidak membuat saya betah untuk tinggal berlama-lama.

Menjejak Memori di Kampoeng Heritage Kajoetangan
Di malam terakhir kunjungan saya di Malang, sesuai itinerary yang sudah disusun sebelumnya, saya melangkahkan kaki ke kawasan ini. Kayutangan yang kemudian dihadirkan dengan tulisan baru sebagai Kajoetangan bahkan lengkap menjadi Kampoeng Heritage Kajoetangan. Kampung destinasi wisata tematik yang relaunching image sejak April 2018.
Selama berjalan kaki dari hotel menuju Kajoetangan di malam hari itu, saya sempat berhenti beberapa kali. Di antaranya adalah memperhatikan barisan warga yang berjualan di bahu jalan. Ada yang menyediakan jasa foto sembari membuat studio kecil, berdagang jajanan di gerobakan atau sebuah mobil bak, di atas mobil VW, bahkan ada juga yang hanya menggelar meja atau melantai dengan alas plastik. Semuanya menarik hati dan begitu terlihat bersahaja.
Saya hampiri satu persatu, memperhatikan, hingga menyaksikan keriuhan dan kehebohan antara penjual dan pembeli. Beberapa di antaranya membawa sebuah sound system kecil untuk mengusir sepi. Ada juga yang begitu agresif berdagang. Tapi ada juga yang anteng menunggu sembari mengutak-atik gawai.
Langkah saya kemudian berhenti pada sebuah toko yang tampak meriah dengan lampion putih yang tertempel di dinding.
Toko ini menempati salah satu bangunan lama dan menghadirkan nama Sesuatu dari Kota Malang (IG @sesuatudarikotamalang). Saya tertarik untuk masuk karena kebetulan memiliki minat luar biasa atas aneka printilan buku, stationeries, dan produk kreatif. Ternyata di dalam tempat yang sama juga ada optik dan sebuah cafe dengan pengaturan interior design yang sungguh estetik oleh kehadiran lampion putih yang tadi saya lihat dari kejauhan. Tempatnya terlihat nyaman betul buat duduk-duduk bareng, ngobrol, berkelakar sembari menyesap harum dan enaknya kopi hitam. Plus tentu saja merekam beberapa sudut cantik lewat lensa kamera. Sebagai kenang-kenangan saya membeli sebuah buku jurnal dengan cover ilustrasi Kali Sukun yang ada di dalam Kampoeng Heritage Kajoetangan.
Melihat saya tampak terjerembab pada wangi kopi yang sedang diseduh, suami pun langsung mengingatkan bahwa malam sudah semakin larut jadi harus bergegas. Apalagi di saat yang sama, kami belum makan malam. Saya mendadak tergugu dan mengurungkan niat untuk ngopi di sini. Tersadar bahwa niat awal untuk menyusur arsip hidup kota Malang adalah niatan awal yang tentunya butuh waktu.

Saat tiba di gerbang depan yang meriah dengan tulisan berwarna-warni dan berbagai spanduk promosi yang sangat eye-catchy, saya dan suami kemudian mengikuti sebuah jalan masuk besar yang menghadap ke Jl. Jend. Basuki Rahmad. Saat kami tiba lingkungan ini sudah ramai oleh langkah-langkah wisatawan lainnya. Ada bule, ada pengunjung dari Malaysia (terdengar dari cara mereka berbicara), dan berkelompok anak muda yang sedang menikmati malam bersama.
Belakangan saya ketahui bahwa Kampoeng Heritage Kajoetangan ini memilik tiga akses masuk yaitu lewat Jl. Jend. Basuki Rahmad (yang saya masuki saat itu dan kalau tidak salah terhitung sebagai RW9), lewat Jl. Semeru, atau lewat Talun. Kedua yang terakhir tidak saya pahami.
Seorang ibu paruh baya kemudian mengingatkan kami untuk membayar tiket masuk. Sebuah pondokan/loket tiket yang unik dan dijaga oleh seorang ibu lainnya, ramah menyapa dalam bahasa Jawa. Tiket Rp10.000,00/orang dewasa kami lunasi kemudian ditukar dengan dua buah postcard sebagai kenang-kenangan. Salah satu media komunikasi tertulis lawas ini menampilkan foto berbagai spot apik yang ada di Kampoeng Heritage Kajoetangan. Duh ini sih sama dengan membeli postcard aja ya.
Saya tadinya ingin beli beberapa postcard lagi. Tapi sang ibu menolak karena postcard yang tersedia hanya untuk penukaran tiket. Waduh sayang bangets. Padahal jika ada penjualan, hakul yakin saya pasti mborong banyak.
Mengetahui saya datang dari Jakarta (baca: Bekasi), beliau menganjurkan saya untuk memilik beberapa peta yang sudah dipasang di beberapa sudut jalan. Usulan ini saya turuti tapi sayangnya kurang bisa saya pahami. Setelah sekian menit terpaku pada lembaran besar yang dipasang di balik kotak kaca itu dan tak pun mengerti, akhirnya saya memutuskan untuk jalan aja mengikuti apa yang hadir di depan mata. Saat bertemu dengan apapun yang berkesan, saya akan langsung mengamati dan memotret.
Saya dan suami berjalan pelan. Saya seperti sedang melintasi berbagai kapsul waktu sembari berusaha mengembalikan ingatan saat dulu pernah kemari. Tapi ternyata hampir sebagian besar jalan kecil masuk kampung dan pemukiman warganya sudah banyak berubah. Suasana yang dulu terasa sesak dan minim aturan sekarang telah berubah menjadi nuansa yang lebih menarik. Ada sentuhan vintage โkenangan saat lingkungan ini eksis sejak abad ke-13โ hadirnya elemen historis, tapi tetap menghadirkan efek modernitas atau kekinian.

Kampung yang berada di Kelurahan Kauman, Kecamatan Klojen ini, mengubah diri menjadi obyek wisata visual sekaligus menjadi jantung perekonomian penduduk setempat. Banyak hunian yang ada berubah menjadi kafe, kedai, warung, atau sekedar sudut toko yang mengajak kita craving, menikmati camilan jadul atau kekinian hanya sekedar untuk merasakan sensasi kepopulerannya. Saya juga bertemu sebuah pasar basah, pondok kreatif yang menjual kerajinan tangan, rumah yang menjual produk rempah-rempah, Balai Warga, dan sekian banyak mural yang sungguh cantik untuk dipandang, dilamati, dan menjadi spot foto yang memorable.
Satu yang saya incar di malam itu adalah Kali Sukun. Kali berair pendek dan sering sekali menjadi obyek ulasan para content creator, youtuber, penggila dunia photography. Saat membeli buku jurnal di outlet Sesuatu dari Kota Malang tadi, ilustrasi Kali Sukun inilah yang menjadi pilihan saya. Teringat saat saya pernah bertamu ke rumah salah seorang teman di tahun 80-an dulu di sini, saya pernah melewati kali ini, duduk di bantarannya sembari jajan gado-gado. Kami naik motor beriring-iringan karena untuk masuk ke kampung ini hanya bisa dengan jalan kaki atau menggunakan sepeda motor.
Kali Sukun sendiri sudah banyak berubah. Meski aliran airnya minim, tapi terlihat bersih dengan susunan keindahan kanal yang tertata rapi. Bahu sungai juga dibatasi pagar besi. Di beberapa dinding rumah yang berada di bantaran sungai juga sudah dihiasi mural apik. Ada yang membuka warung kopi, juga ada gerobak dorongan yang menjual bakso.
Saya kemudian menyadari bahwa kunjungan di malam itu sejatinya mengajak saya menyusur arsip hidup di mana puluhan tahun lalu saya diberikan waktu dan kesempatan untuk merasakan riuhnya kehidupan bersahaja banyak keluarga yang tinggal di sini. Kawasan yang sarat dengan denyut perubahan dan saat ini menjadi kampung tematik, destinasi wisata, yang banyak dibicarakan orang saat berada di kota Malang.
Suami sempat bertanya apa yang masih tertinggal dalam ingatan saya. Tapi saya tak bisa menjawab. Tak pun mengenali, bahkan nyaris tersesat karena banyaknya jalan-jalan sempit yang saling terhubung. Yang masih terpatri di ingatan saya adalah Kali Sukun dan Makam Mbah Honggo.
Makam Mbah Honggo atau Pangeran Haji Koesoemo ini malah saya lewati belakangan. Makam salah seorang keturunan langsung dari Brawijaya V dan laskar Pangeran Diponegoro yang berhasil menyelamatkan diri hingga ke Malang dari sebuah peperangan besar di 1830. Saya tidak berhasil menziarahi makam ini karena sudah ditutup. Hanya sebuah nama dan rangkaian tulisan sejarah singkat tentang beliau, yang saya baca di pinggir jalan atau di bawah makam beliau.
Ada beberapa tempat yang saya cari seperti Rumah STMJ Ranuatmodjo, Kedai Keluarga, Rumah Rindu, Rawon Irange, Toko Barokah, Coklat Mojopahit, dan Rumah Rempah, yang di malam itu tidak saya temukan. Padahal semua masuk dalam daftar pencarian dan tertulis di information board yang saya temukan di dekat loket tiket tadi.
“Harusnya datang siang-siang kali ya. Biar bisa ketemu semuanya,” ujar suami sembari mengajak saya menyudahi kunjungan. Perut yang minta diisi dan suasana yang mulai memadat, menjadi salah dua alasan untuk beralih ke kegiatan lainnya. Mencari resto untuk menuntaskan rasa lapar lalu kembali ke hotel untuk segera beristirahat.


Tapi apapun alasan yang mengajak saya melangkah keluar Kampoeng Heritage Kajoetangan, serangkaian ingatan akan era 80-an dan nuansa kekinian di 2026, menjadi sebuah album foto yang menyadarkan saya tentang rangkaian perubahan. Kampung yang kabarnya sudah eksis sejak abad ke-13 ini, tampak dipertahankan serta diwariskan dari generasi ke generasi, hingga akhirnya hadir dengan sudut pandangan keindahan yang menyesuaikan zaman.
Saya bahkan mengukir harapan agar Kampoeng Heritage Kajoetangan selain bisa memegang makna sejati sebagai sebuah serta serangkaian arsip hidup bagi warga dan kota Malang, tapi juga menjadi bagian penting dari catatan sejarah itu sendiri. Setidaknya, dalam beberapa belas bahkan puluhan tahun ke depan, kampung ini senantiasa berdiri kemudian diceritakan dari generasi ke generasi. Banyak yang mencatatkan eksistensinya lewat berbagai media visual maupun tulisan, agar keunikan serta keistimewaannya tetap terjaga sepanjang masa. Serta hadir dengan pengelolaan yang lebih mumpuni dan profesional.
Sebagai jejak kenang-kenangan, silakan menikmati deretan hasil jepretan saya di awal Agustus 2026 berikut ini.











