Meretas Batas Menembus Benua. Antologi Perjalanan Luar Negeri yang Merabuk Jiwa dari Pondok Antologi Penulis Indonesia | Book Review | Oktober 2026
Buku ini lahir dari pengalaman pribadi, dilengkapi dengan foto tentang tempat yang dibahas. Menghadirkan diksi yang ringan dan sentuhan travel writing yang begitu kental, Meretas Batas Menembus Benua mengajak pembaca untuk ikut menjelajah dan menelusur pengalaman seru para penulisnya

Semester ke-2 2026 sudah di depan mata, komunitas Pondok Antologi Penulis Indonesia (PAPI) bersiap menyambut dua buah antologi yang akan dirampungkan di tahun ini. Meretas Batas Menembus Benua yang membahas tentang perjalanan luar negeri yang merabuk jiwa lalu disusul oleh Kenangan Putih Abu Abu yang menghadirkan pengalaman tak terlupakan saat berada di bangku SMA. Dan seperti biasa, genre non-fiksi menjadi acuan penulisan dan ciri khas dari semua karya tulis yang lahir dari komunitas ini. Rangkaian pengalaman yang dirasakan langsung oleh penulis dengan menghadirkan foto yang dipotret sendiri sebagai koleksi pribadi.
Anggota komunitas, yang telah beberapa kali mengikuti antologi perjalanan, menyambut penawaran ini dengan kegembiraan luar biasa. Karena sebagian di antaranya berpendapat bahwa kisah saat menyusur berbagai tempat menarik di tanah atau negeri orang lain di berbagai benua, telah memberikan serangkaian cerita yang sangat mengesankan.
Premis perjalanan luar negeri ternyata lebih menggoda untuk dikulik. Ini terbukti. Karena hanya dalam beberapa menit setelah pengumuman dibagikan, 15 orang anggota langsung menyatakan ikut berpartisipasi. Termasuk Ibu Amanda Katili Niode, seorang penulis senior dan penggiat harmoni bumi, yang baru bergabung sebagai anggota Pondok Antologi Penulis Indonesia (PAPI). Kehadiran beliau menjadi penyemangat luar biasa bagi anggota PAPI karena beberapa dari kami pernah bekerjasama erat dengan beliau lewat Food Blogger ID Community atau Komunitas Food Blogger Indonesia dan melahirkan beberapa buku antologi yang berkaitan erat dengan kuliner nusantara.
Siapa Sajakah ke-15 Kontributor Tersebut dan Apa yang Ditulis Mereka?

Saat naskah datang satu persatu, saya cukup bersyukur karena 1/3 anggota mengirimkan naskah dan kelengkapannya jauh-jauh hari sebelum date line datang. Tindakan ini tentu saja memberikan saya keleluasaan yang begitu menyenangkan untuk mencicil proses editing, mengatur tata letak buku, dan tentu saja sekaligus menyelami rangkaian pengalaman yang diuraikan oleh penulis. Jika pun nantinya akan ada revisi, saya jadi punya waktu yang lega untuk melakukan itu.
Siapa, apa, di mana, dan bagaimana kah cerita itu dihadirkan untuk Meretas Batas Menembus Benua? Saya mulai sesuai urutan Daftar Isi ya.
Amanda Katili Niode. Obyek yang dibahas adalah Danau Como yang begitu populer di kalangan pejalan dunia dan berada di kaki Pegunungan Alpen, Lombardia, Italia Utara. Melengkapi kunjungan dalam rangka sebuah undangan residensi, Ibu Amanda menghadirkan cerita tentang keistimewaan Danau Como dan bagaimana visual danau ini sudah meninggalkan memori eksklusif bagi dirinya pribadi. Tulisan ini kemudian dilengkapi oleh berbagai sudut pandang dari sisi kehidupan lokal, budaya, dan cita rasa kuliner yang sempat dicicipi bersama para sahabat.
Saya sendiri sempat tergugu saat melihat beberapa bird-eye-view pictures yang dikirimkan oleh Ibu Amanda. Terlalu sulit untuk memilih dan menentukan foto mana yang akhirnya harus dipinang sebagai cover dari artikel yang dihadirkan.
Naskah yang dihadirkan pun terasa “begitu senior” untuk hanya sebuah pujian. Tulisan beliau tersusun rapi, runut, sangat mudah dipahami, serta menghadirkan diksi yang sangat mewakili keindahan dan cerita tentang Danau Como itu sendiri. Naskah Ibu Amanda sampai saya baca berulangkali. Menghayati dan bertekad hati agar saya bisa menulis seindah apa yang dilakukan Ibu Amanda.
Sebuah travel writing story yang valuable yet worth reading.
Hani Widiatmoko. Saya mengenal Ibu Hani lewat aktivitas blogging/blog walking. Kami sering mampir ke blog masing-masing. Pertemanan itu menjadi semakin dekat saat kami bertemu di perpustakaan Bunga di Tembok Bandung, di mana waktu itu PAPI dan ANM mengadakan temu bincang untuk buku Jelajah Pasar Nusantara, dan kami berdua menjadi kontributornya.
Lulusan sekolah arsitektur ini membahas dua tempat yaitu Bukhara dan Registan Square di Samarkand. Keduanya adalah tempat yang menyimpan ribuan artefak warisan dunia yang menyimpan jejak peradaban. Khusus untuk Registan Square kita diajak untuk mengenal jejak madrasah yang setiap sudut bangunannya begitu estetik, mengagumkan, dan dikerjakan dengan sentuhan seni tingkat tinggi. Di artikel ke-2 ini kita diajak untuk menyusur kelindan keindahan dan kemegahan ratusan tahun dari Ulugh Beg, Sher-Dor, dan Tilya-Kori.
Satu hal penting yang saya dapatkan dari kedua tulisan Ibu Hani adalah tentang setiap kata yang mewakili dua mahakarya megah dan sejarah kekayaan arsitektur di Asia Tengah. Dengan latar belakang pendidikan di dunia rancang bangun, tentunya mudah bagi Ibu Hani untuk menghadirkan diksi dan ulasan yang pas untuk kedua destinasi wisata ini.
Saya mendadak teringat bahwa di kedua perjalanan ini Ibu Hani bergabung di dalam rombongan wisata yang dikoordinir dan dibimbing oleh Agustinus Wibowo. Salah seorang guru menulis saya yang telah memberikan pengaruh yang begitu besar pada setiap sentuhan warna tulisan yang saya hadirkan. Waktu itu saya sendiri sempat kepikiran untuk ikut bergabung, tapi karena sesuatu dan lain hal rencana itu terpaksa batal. Gak kebayang seandainya jadi ya. Saya pasti mengekor Ibu Hani kemana-mana untuk mendapatkan informasi rinci tentang banyak bagunan memorial selama dalam perjalanan.
Di lembar berikutnya kita akan bertemu dengan Tanti Amelia. Seorang doodler dan ilustrator yang mengerjakan book cover untuk Meretas Batas Menembus Benua. Hadirnya Tanti di buku ini adalah mengenang perjalanannya yang sarat keseruan dengan sang Ibunda ke Hong Kong dan Cina. Mulai dari Jinlong Cave, makan bebek peking di Beijing, dan ditutup dengan menikmati cakwe raksasa di Hong Kong. Ketiganya adalah kisah perjalanan yang didapat sebagai sebuah hadiah bagi sang Ibu yang berhasil mencapai target penjualan. Tanti pun kebagian rezeki ikut dalam rombongan sebagai pendamping sang ibu. Wah beruntung banget ya.
Yang akhirnya mengembalikan memori saya tentang Cina adalah kisaha tentang Tiananmen Square yang bersejarah dan dikenal luas oleh masyarakat dunia. Sebuah lapangan luas yang menjadi tempat berkumpulnya ratusan bahkan ribuan manusia dari abad ke abad. Rangkaian kehadiran untuk sekedar mengagumi bagaimana Cina telah memiliki dan menguasai banyak keahlian seni rupa yang sangat bernilai dari masa ke masa.
Di lembar selanjutnya kita akan bertemu dengan dua tulisan dari Ibu Indah Wibowo. Artikel pertama adalah tentang kota Wina sebuah kota klasik yang saat Ibu Indah berkunjung di Maret 2020, wabah/pandemi Covid-19 mulai merambah menguasai setiap sudut dunia. Serangkaian cerita mendebarkan karena membayangkan bahwa setiap sudut kota dan atau negara “akan terkunci” karena pembatasan ruang gerak, Ibu Indah dan keluarga akhirnya harus “menyelamatkan diri” ke Jerman. Perayaan hangat anniversary ke-30 pun diadakan dalam suasana yang lebih intimate.
Tulisan ke-2 yang dipersembahkan oleh Ibu Indah Wibowo adalah tentang Berlin, Jerman. Sebagai seorang pejalan yang bertahun-tahun hanya numpang lewat di bandara internasional di Frankfurt saat akan menjelajah Eropa, saya pelan membaca artikel yang sudah disusun Ibu Indah. Cerita tentang keistimewaan Berlin terurai dengan apik dan bikin kita penasaran. Seperti tentang Berlin Hauptbahnhof (central station), Brandenburger Tor (stasiun bawah tanah), Monumen Holocaust yang dalam sejarahnya meninggalkan serangkaian kengerian, Gerbang Brandenburg (simbol persatuan dan perdamaian Jerman), Gedung Parlemen, dan masih banyak lainnya.
Yang berencana menjelajah Berlin, sepertinya pas banget membaca artikel ini sebelum berangkat. Setidaknya bisa menyusun itinerary yang pas selama berada di salah satu kota kebanggaan Jerman.

Sekarang kita beralih ke artikel yang ditata oleh E3Trip, nama pena dari Siendy Apridiani. Perempuan super duper gesit ini bercerita tentang perjalanannya di Sapa atau Sa Pa. Sebuah kota di pegunungan yang sejuk di provinsi Lao Cai, Vietnam Utara/Vietnam Barat Laut. Saya mengagumi bagaimana Siendy melakukan perjalanan solo yang jauhnya ribuan kilometer dari rumah. Apalagi dengan keterbatasan komunikasi. Seru banget membaca setiap langkah mandiri yang sudah diukir oleh Siendy selama di Sapa, seperti ke Sapa Station, Gereja Batu, dan Alun Alun Kota Sapa. Lalu mencoba Munghoa Furnicular Train, Museum Embroidery Sapa, Pasar Malam Sapa, Bac Ha Sunday Market, menyapa penduduk asli, dan ragam kegiatan lain yang membuat saya ngiler banget pengen ke Vietnam.
Artikel berikutnya adalah persembahan dari Marita S. Sudarmo. Seorang advokat yang doyan keluyuran dan memetakan perjalanan traveling nya sebagai karya seni tanpa batas untuk menuangkan imajinasi dalam pikiran. Kisahnya saat berada di Pagoda dan Angkor yang adalah simbol spiritualitas Kamboja, mengajak kita untuk mengagumi bagaimana ribuan jejak sejarah dari waktu ke waktu menjadi rangkaian penghasil devisa bagi negara.
Dari sebuah foto kuil yang “tergenggam” oleh akar pohon yang dihadirkan sebagai cover artikel, hakul yakin akan mengajak kita terperosok dalam sengatan ingatan akan betapa digdaya nya alam menjadi bagian dari sisi spiritualitas rakyat Kamboja. Kita juga diajak untuk terpekur pada setiap langkah yang diurai oleh Marita saat menyusur setiap sisi kuil. Kunjungan yang sekaligus menjadi serangkaian kekaguman yang begitu berarti. Khususnya bagi para pejalan yang mencintai kisah tentang keindahan alam dan kejayaan sebuah kepercayaan, dalam satu kunjungan.
Masih belum menggetarkan? Mari kita berpindah ke naskah penulis lainnya.
Di lembar buku berikutnya kita akan bertamu ke tulisan tentang Al-Aqsa yang dihadirkan dengan begitu menggetarkan oleh Maya Surono. Salah satu wisata religi dalam rangka mewujudkan janji sang ayah almarhum yang ingin (sekali) mengajak sang istri (ibunda dari Maya Surono) untuk berziarah ke jejak mi’raj Rasulullah saw.
Menghadirkan rangkaian diksi indah lewat artikel yang berjudul Merekam Aqsa Palestina ke dalam Ingatan, kemapanan Maya Surono dalam menghadirkan kesaksian iman sudah tidak diragukan lagi. Karena perjalanan Maya bersama ibunda tercinta terasa begitu istimewa karena mereka tidak hanya membawa koper tapi juga membawa mimpi masa kecil, doa, kenangan, dan sebuah pesan dari almarhum Bapak, meski harus melewatkan proses pemeriksaan fisik dan perijinan yang (begitu) menguji mental. Melewati barisan tentara Israel yang hingga kini menyatakan diri sebagai penguasa tunggal Al-Aqsa, berhasi melangkah memasuki tanah suci ini tentunya menjadi peristiwa yang begitu istimewa.
Apa saja yang disaksikan langsung oleh Maya Surono selama berada di Al-Aqsa? Membacanya langsung akan lebih merabuk jiwa.
Kita lanjut ke rangkaian pengalaman selama di Thaif, Saudi Arabia yang disajikan oleh Latipah Rahman (Lala). Tempat yang terletak sekitar 70-80km dari Makkah ini, punya cuaca yang berbeda dibandingkan dengan tanah suci. Udara terasa sejuk, meski saat itu Lala sedang berada di musim panas.
Meski eksplorasi Thaif begitu singkat (setengah hari), nyatanya kunjungan ke Thaif meninggalkan kenang-kenangan yang begitu berkesan di hati, khususnya tentang kehadiran masjid bersejarah, seperti Masjid Addas, Masjid Abdullah bin Abbas, dan lainnya. Thaif pun memiliki tanah yang subur, jadi tak heran jika bisa bertemu kebun mawar yang indah dan terawat. Bunga indah yang kemudian disuling untuk dijadikan parfum. Kemudian mengunjungi peternakan unta dan mencicipi sendiri rasa dari susu unta.
Sejatinya perjalanan religi dan mampir ke satu tempat โatau bahkan lebihโ yang begitu berkesan di hati, tentunya jadi satu riwayat yang begitu merabuk jiwa.


Kita sekarang beralih ke sajian diksi yang dihadirkan oleh Ire Rosana Ullail yang menghadirkan pengalaman berpuasa di Malaysia. Artikel ini menjadi begitu menarik buat saya pribadi karena rangkaian tantangan melakukan perjalanan selama menjalankan ibadah puasa.
Mengunjungi Masjid Negara Malaysia, masjid terbesar di Malaysia, demi bisa merasakan buka puasa (iftar) bersama masyarakat setempat, menghadirkan banyak keseruan bagi Ire dan suami. Ikut mengantri dalam sebuah antrian yang mengular, keduanya merasakan sajian prasmanan yang disediakan oleh masjid. Perjalanan mereka pun bersambung dengan ngabuburit di Dataran Merdeka dan Sultan Abdul Samad Building, kemudian bertandang ke beberapa tempat sebelum akhirnya menamatkan puasa hari ke-3 di Masjid Jamek. Selain tempat untuk membatalkan puasa, Ire juga menghadirkan keseruan saat sahur dan aneka masakan yang disajikan baik saat sahur maupun saat berbuka.
Jika kalian punya kesempatan berwisata selama ramadan, kira-kira negara mana yang akan kamu kunjungi?
Sekarang kita mampir dan mengunjungi tulisan yang dibuat oleh Rurisa Hartomo. Perempuan energik ini mengajak kita untuk ikut merasakan euforia saat Rurisa diundang ke Belanda untuk memproses possibilities, menyusur kemungkinan untuk mendapatkan beasiswa, untuk menjadi mahasiswa hukum S2 di negara kincir angin ini. Perjalanan ke Belanda ini membuatnya bertemu kangen dengan kedua paman yang memang tinggal di sana.
Berbekal visa schengen, kisah perjalanan itu pun dimulai dari menapakkan kaki di bandara Schiphol di Amsterdam menuju Diepenstraat dimana sang paman, Om Tono, tinggal. Selama tinggal di sana, Ruri mengalami banyak sekali cerita, pengetahuan budaya, dan perubahan baru. Seperti setiap hari wajib berpakaian rapi dan memakai sepatu, meski di dalam rumah. Sarapan dengan menu sederhana seperti dengan setangkup roti atau biskuit plus minuman hangat atau jus. Dan tidak mengenakan baju atau tanda pengenal lainnya yang menampilkan nama atau lambang Indonesia. Karena di masa itu, 1997, pergerakan RMS (Republik Maluku Selatan), gerakan separatis, yang menyatakan terang-terangan tidak menyukai/kecew dengan pemerintah RI. Merekapun membentuk pemerintahan pengasingan di Belanda.
Sembari menjajaki kemungkinan mendapatkan beasiswa tersebut, Ruri menjelajah negeri Paman Sam ini lalu menemukan Drakenfontein (air mancur naga) di depan Stationplein. Lalu De Moriaan (departemen pemasaran), Katedral St. John, katedral terbesar di Den Bosch. pasar De Helftheuvel di Kruiskamp dan masih banyak lainnya. Tapi gong dari sekian banyak kesempatan menyusur adalah saat bisa dengan langsung bertamu ke Universitas Leiden. Universitas tertua yang berdiri sejak 1575. Termasyhur di dunia yang sudah berdiri bahkan sebelum sebuah kapal Belanda yang membawa Cornelis de Houtman masuk Pelabuhan Banten di 1596. Salah satu tempat sumber ilmu dan berbagai peninggalan serta artefak yang menyimpan sekian banyak jejak sejarah nusantara. Maklumlah. Dengan penjajajan selama tiga setengah abad, Belanda tentunya begitu “menguasai” banyak hal yang eksis di Indonesia.
Kita lanjut ya.
Saya ingin mengulas, tulisan seru dari seorang sahabat saat sekolah dulu. Ifah Arthur yang sering saya panggil dengan Ipeh. Perempuan sarat kegembiraan ini menceritakan pengalaman serunya saat mengunjungi Jepang, khususnya Tokyo dan Kyoto, bersama teman-temannya di April 2026.
Acara liburan ini membawa mereka berpetualang keliling kota lalu melanjutkan barisan kisah seru ke the Making of Harry Potter di Tokyo (Warner Bros. Studio Tour Tokyo). Buat fans berat Harry Potter, melangkah ke setiap sudut tempatnya, tentunya melahirkan keseruan yang tiada tanding. Pastinya.
Kunjungan ke Jepang ini kemudian dilengkapi dengan bertamu ke Toji Temple dan Bamboo Forest yang berada di Kyoto. Membaca bagaimana Ipeh melukiskan keindahan luar biasa dari kedua tempat ini, khususnya ke Bamboo Forest yang sudah mendunia, saya kembali dibuat tergugu karena sejatinya menginjakkan kaki di sini sudah terpatri di wishlist travel saya bertahun-tahun lamanya. Saya ingin duduk melamun sembari khusyuk mendengarkan suara gemerisik yang lahir dari gerakan bambu ini. Membayangkan melahirkan foto-foto ciamik sembari mengagumi efek magis yang menyelimuti hati dan jiwa.
Ah, Ipeh berhasil nih membuat saya iri.
Sekarang mari membuka lembar tulisan yang digurat oleh O’ik Moehadie yang diberi judul Jejak Cerita Jalinan Cinta di Kota Ipoh.
Menikmati masa bisa liburan berdua bersama pasangan tuh bakal jadi sesuatu yang langka saat masing-masing terjebak dalam kesibukan. Tapi kejadian ini berbeda untuk O’ik. Teman lawas saya ini justru tak pernah menapaki hari tanpa suami di sisi. Bisa mendampingi suami saat berdinas juga bisa jadi satu privilege mempertahankan cinta.
Tiga tahun yang lalu, O’ik dan suami memutuskan untuk menginjakkan kaki di Ipoh sebelum menjamah Penang bersama keluarga besar. Keberadaan di Ipoh ini melahirkan banyak cerita. Seperti berkunjung ke Ipoh Central Market, Concubine Lane, Birch Memorial Clock Tower, Masjid Negeri Perak, Lembah Kinta, Taman Rekreasi Gunung Lang, Gua Kek Look Tong, dan masih banyak lagi. Acara berwisata ini menjadi menyenangkan karena bisa mendapatkan kendaraan yang mewah bersama tour guide yang ramah dan sarat pengetahuan.

Lembaran buku Meretas Batas Menembus Benua ini kemudian tiba di halaman kisah yang ditulis oleh Heni Hikmayani Fauzi. Seorang pustakawan dari dari SMA pesantren unggulan Al Bayan.
Mengurai tentang pengalamannya menjelajah Bangkok bersama teman-teman, saya bisa merasakan bagaimana keseruan menjelajah beberapa pusat pertokoan dan gerilya membeli barang selama berada di sana. Seperti yang Heni katakan, vibes Bangkok ini persis sama dengan Jakarta. Termasuk tentang keriuhan warga dan transportasi umum yang disediakan.
Bersama empat sahabat lama, Heni dan kawan-kawan menjelajah Pratunam hingga ke Chao Praya. Menikmati surga belanja aneka rupa, jajan street food yang serba seru, serta menandai pusat perbelanjaan yang menguras dompet hingga yang murah meriah, seperti mall December, Platinum Mall, Pratunam Market, Jodd Fair, Big C, Asiatique, Central World, Siam Square, dan Chatucak serta masih banyak lagi.
Berniat liburan di kota yang bergelar surga belanja? Bangkok sepertinya pilihan yang jitu. Yok baca tulisan Heni di buku ini ya.
Penulis berikutnya adalah Lina Martina. Setelah cukup lama absen bergabung di buku antologi, perempuan dengan banyak hasil karya tulis ini, akhirnya berkenan menghadirkan cerita tentang Museum Tintin yang berlokasi di Belgia.
Yang hidup di masa-masa saya remaja dan senang membaca komik, hasil karya Herge ini nyatanya begitu mendunia. Selain akrab dengan tokoh Tini dan Snowy, pembaca juga pasti familiar dengan Kapten Haddock, si kembar investigator Thomson and Thompson. Lalu ada Bianca Castafiore, dan masih banyak lagi.
Perjalanan investigasi Tintin yang terhidang manis dalam komik bergambar yang ukurannya setara dengan kertas A4 ini, sempat menghiasi masa-masa remaja saya dengan 23 buah hasil karya. Sementara karya terakhir, yang ke-24 berjudul Tintin dan Alpha-Art, tidak sempat rampung hingga Herge wafat di 1983.
Liputan saat berkunjung ke Museum Tintin ini, sejatinya mengajak kita bernostalgia. Karena setiap diksi yang dihadirkan, secara rinci melukiskan bagaimana istimewanya tempat ini. Serta bagaimana populernya sang penulis yang karyanya bisa dibaca oleh segala kalangan dari semua tingkatan umur. Mulai dari kanak-kanak hingga dewasa. Apalagi setiap tokoh yang dibentuk oleh Herge, masih begitu membekas untuk angkatan saya dan Lina yang memang sedari kecil gemar membaca, dan mengoleksi buku.
Last but not least.
Jika biasanya saya tampil di halaman depan sebagai pembuka gerbang buku, kali ini di antologi Meretas Batas Menembus Benua, saya memutuskan untuk jadi pintu dan pemegang kunci terakhir. Tak ada alasan super duper penting dari keputusan ini. Hanya iseng saja sebenarnya.
Baiklah. Kembali ke laptop.
Untuk antologi ini, saya menghadirkan tiga artikel tentang tiga tempat yang mengisi jadwal keluyuran saya bersama rombongan tour di beberapa daerah tujuan wisata di Turki. Tempat itu adalah Masjid Eyup Sultan dan Taksim Square yang berada di Istanbul, serta pegunungan es Erciyes yang berlokasi di Kayseri.
Sebenarnya banyak sekali tempat yang berkesan saat saya menjelajah Turki selama sembilan hari. Tapi ketiga destinasi inilah yang sudah membayar rasa penasaran saya setelah bertahun-tahun menyaksikan sajian digital yang dihadirkan oleh banyak pejalan lewat berbagai media sosial tentang negara dua benua ini. Semoga dengan menghadirkan ketiganya sebagai bagian dari buku Meretas Batas Menembus Benua, bisa menjadi sebuah legacy kisah perjalanan yang akan terus saya ingat. Sekaligus mengajak para pembaca untuk menilik ketiga tempat ini meski hanya lewat tulisan.

Para Pelukis Kenangan
Saat proses penyuntingan dan penataan buku berakhir, saya sempat menyimpan buku ini selama dua hari. Tak disentuh. Tak dibaca. Tujuan utamanya adalah memberi jeda kepada diri sendiri agar otak bisa refreshing dari ratusan halaman kisah seru yang sudah hampir sebulan saya akrabi. Dan ini biasa saya lakukan supaya “saat kembali” saya murni hadir sebagai pembaca bukan kembali menjadi seorang editor, layouter, dan penggagas buku.
Ide ini biasanya ampun banget ketika merasa ada sesuatu yang mengganjal di hati, satu atau beberapa selipan kekeliruan, yang tak atau belum mampu saya temukan. Serangkaian sentuhan akhir sebelum memberikan sentuhan terakhir secara visual dan mempersiapkan dokumentasi serta administrasi yang dibutuhkan untuk mendapatkan nomor ISBN.
Di bacaan terakhir, sebelum melangkah ke proses cetak, saya ingin menghaturkan banyak terima kasih kepada semua rekan penulis yang berpartisipasi melahirkan buku Meretas Batas Menembus Benua ini. Lewat tangan teman-teman lah, buku ini bisa lahir sebagai bagian dari belasan buku yang sudah dibidani oleh komunitas Pondok Antologi Indonesia (PAPI) dan menjadi salah satu buku antologi terbaik yang dikenalkan oleh Annie Nugraha Mediatama. Kalianlah sesungguhnya para pelukis kenangan yang membuat semua kisah perjalanan luar negeri menjadi satu yang pantas untuk selalu diingat.
Salam literasi!!



