KLAYAR di sore hari
KLAYAR di sore hari

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Menyambung perjalanan singkat ke BANYU TIBO dengan air terjun ke pasir pinggir pantainya, kami tergesa melajukan mobil ke  KLAYAR yang jaraknya tidak terlalu jauh dari Banyu Tibo.  Karena waktu nongolnya matahari sudah semakin sempit, jalan terjal menurun dikebut tanpa rasa takut hehehehe.  Padahal turunannya menukik banget itu…iihhh….

KLAYAR terletak di Desa Kalak Kecamatan Donorojo. Jika datang bukan dari arah Banyu Tibo, jalur termudah menuju pantai ini adalah melalui jalur ke Goa Gong. Dari jalan utama Pacitan – Solo, tepatnya di pertigaan dekat Masjid Besar Punung (jika dari arah Kota Pacitan berarti setelah SPBU Punung), kita akan ketemu pertigaan besar. Dari pertigaan ini jika dari arah Pacitan kota, selanjutnya adalah belok kiri, sampai ketemu pertigaan lagi ambil kanan, ikuti terus jalan aspal jalur Goa Gong. Setelah sampai kompleks Goa Gong, terus ambil jalan jurusan Kalak (ada papan penunjuk arah). Sampai di perempatan Balai Desa Kalak, belok kiri setelah melewati Pasar Kalak sampai kembali bertemu dengan pertigaan, kemudian lanjut ambil jalan yang kiri. Ikuti jalan beraspal dan sampailah di pantai Klayar.

Jalan menuju beberapa pantai yang berdekatan di area ini tidak begitu besar tapi cukup untuk menampung lalu lintas 2 arah.  Tapi kalau ketemu bis atau truk besar, yaaahh terpaksa salah satu harus lebih minggir sedikit.  Aspal yang dilintasi juga lumayan.  Ketika terakhir saya berkunjung ke Pacitan di akhir September 20114 yang lalu, beberapa jalur utama menuju wisata Goa (terutama Goa Gong), sedang diperluas dan diaspal kembali oleh Pemda setempat.  Truk-truk besar pengangkut bongkahan batu kapur, mesin press timbunan dan kerukan yang kokoh dan nampak mampu nggaruk mobil kami, terlihat aktif bekerja sepanjang jalan.  Karena pembangunan jalan ini, waktu yang kami tempuh untuk ke area wisata dalam beberapa titik jadi lebih panjang dan lama.

Ada beberapa signage yang mengarahkan kita ke beberapa pantai, tapi sebagian besar hanya terbuat dari tripleks, dengan tulisan sederhana dan berukuran kecil. Kalau buat saya sih, dengan mata yang sudah komplit dengan minus, plus dan silinder, signage model begini bakalan tidak terlihat kalo sedang nyetir.  Jadi kalau boleh usul, supaya gak nyasar muter-muter ketemu pertigaan yang banyak, mending berwisata dengan mengajak orang lokal atau menyewa mobil dengan supir lokal.

Ada juga beberapa tempat yang menyewakan motor walaupun tidak banyak.  Sehari antara Rp 50.000,- – Rp 75.000,-  untuk kendaraan roda dua atau Rp 350.000,- – Rp 450.000,- untuk roda empat, belum termasuk bensin.  Jika ingin mencari tempat-tempat penyewaan seperti ini, kita harus ke kota Pacitan atau di jalur utama jalur lintas provinsi.  Biasanya akan terlihat beberapa plang penyewaan kendaraan dari pinggir jalan.  Atau bisa juga minta bantuan hotel untuk membantu menghubungi penyewaan, tapi kudu ditawar yak karena biasanya kalo yang mesen tamu hotel harga suka dinaikin sesukanya.  Apalagi kalo tau tamunya dari Jakarta…jiiiaaahh….rental di Bali aja kalah jauh….

Lanjut soal perjalanan ke Klayar.

Berkendara sekitar 15 menit dari arah Banyu Tibo, sampailah kami di jalur utama menuju Klayar.  Sebelum melewati jalan yang menurun, di sisi kanan kiri jalan kita akan melihat beberapa guest-house sederhana. Kalau tidak salah hitung sih ada sekitar 3 guest-house yang nampak berpenghuni.  Biaya sewa sekitar Rp 75.000,- – Rp 150.000,-/malam.  Harga tergantung pada fasilitas kamar mandi.  Tentunya dengan kamar mandi yang keroyokan, harganya jadi lebih murah.  Tapi yang pasti tidak ada kamar yang berAC.  Posisi penginapan yang berada di atas bukit dan tidak jauh dari pantai, tentunya kondisi udara masih comfortable lah.

Karena hari sudah terlalu sore menuju maghrib, beberapa toko craft, asesoris, busana dan lain-lain yang berada di pinggir area parkir, sebagian besar sudah tutup. Hanya ada 2 warung yang berada di bibir pantai yang masih terus buka (katanya sih 24 jam).  Tanpa buang waktu, memanfaatkan cahaya matahari yang tinggal beberapa menit bersinar, kami segera berfoto ria baik cover sampul kaset jaman dulu.  Pengennya sih sok candid gitu …hahahaha.  Sekedar info tambahan, di foto ini, saya belum menggunakan hijab, jadi jangan kaget yak heheheehehe

KLAYAR 1   KLAYAR 2  KLAYAR 6

Selain warung-warung yang menjajakan makanan dan minuman, di sini juga tersedia penyewaan motor ATV.  Untuk 15menit berkendara, kita perlu merogoh kocek Rp 50.000,-.  Biasanya sih pengunjung menggunakan ATV tersebut untuk meraih ujung pantai yang memiliki karang batu yang menjorok ke arah laut.  Kalau dari titik kedatangan atau penyewaan ATV, karang batu tersebut berdiri sekitar 500meter dengan jarak tempuh pas 15menit bolak balik, kalau …ini yaah…kalau yang bersangkutan pinter nyetir ATV nya …hehehehe.  Maklum lintasan berpasir dengan bebatuan besar kecil di sepanjang pantai, kita harus punya trik jitu berkelok-kelok cari jalur yang tidak berat untuk mengendarai ATV.

KLAYAR 5

Seperti jargon yang saya tulis di atas, KLAYAR ini adalah pantai yang sarat dengan batu.  Dari beberapa meter kita menginjakkan kaki di bibir pantai, langkah kaki kita masih akan dipenuhi oleh bebatuan, bahkan hingga genangan air laut dengan kedalaman selutut. Sebagian besar batu sudah berlumut, jadi hati-hati kalau melangkah, kalo sedikit berlarian aja pasti deh kepleset.  Jadi jangan coba-coba bikin pelem ala Bollywood di sini ya.  Dijamin bakalan take-sceen berkali-kali karena tergelincir atau bisa jadi batal total karena pemainnya benjol akibat jatuh.  Catet!! Tadinya saya berharap bisa menikmati sunset di sini, tapi ternyata gak bisa.  Karena memang memang pantainya tidak menghadap Barat, jadi mo ditunggu sampe jenggotan dan ganti Presiden 30x juga gak bakalan bisa nongkrong menanti sunset.  Jadi waktu bener-bener kami habiskan untuk jalan-jalan di pantai, nikmati deburan ombak, foto-foto narsis ala artis gak laku…mantab.

KLAYAR 7  KLAYAR 8  KLAYAR 9  KLAYAR 10

Kunjungan kami ke KLAYAR kami tutup dengan menikmati semangkuk mie goreng atau mie rebus, ngupi, ngeteh plus ngepul buat saya, sambil ngobrol ngarol ngidul, ngakak-ngakak di warung dengan pencahayaan yang minim banget.  OK lah!!

KLAYAR 11  KLAYAR 12  KLAYAR 13

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here