
Menyesap Satu Suapan Seribu Kebahagiaan di Resto Wisata Liwet Asep Stroberi di Passna Puncak | Restaurant and Culinary Review & Featured | Januari 2026
Rindu akan Ibu almarhumah membawa langkah saya menuju Cipanas, Cianjur. Tempat di mana beliau dimakamkan pada 20 April 2024. Seperti biasa, menghindari keruwetan lalu lintas menuju Cipanas, saya berangkat dari rumah sebelum subuh supaya bisa tiba di rumah selambatnya pkl. 08.00 WIB. Sebuah rute perjalanan yang selalu saya isi dengan mampir sarapan di tempat yang kami temui di sepanjang jalan
Usai membasuh diri lalu sembari berpakaian, saya mendadak dapat ide. Berangkat bermodalkan sebotol kopi hitam dan camilan potongan buah atau sayur, saya biasanya sarapan bubur ayam khas Sukabumi yang berjualan di pinggir jalan menuju Cipanas.
Salah satunya adalah Ibu Neng yang jualan bubur gerobakan di halaman ruko yang letaknya hanya sekitar 200-an meter dari rumah. Perempuan usia awal 40-an ini sangat mengenal keluarga kami karena adik saya buka praktek di salah satu klinik yang ada di ruko itu.
Tapi di perjalanan kali ini saya ingin sesuatu yang berbeda. Bukan karena bosan dengan buburnya Ibu Neng tapi lebih karena ingin mencoba masakan baru.
“Kita makan di Asep Stroberi yang di Puncak Pass itu yok,” ujar saya ke suami. Seperti biasa, ajakan saya selalu dijawab dengan anggukan.
“Yang baru itu ya? Emang gak kena gusuran?” tanya suami penasaran.
Sedetik kemudian saya terdiam dan tersadar. Ah bener juga ya. Saat itu atau setidaknya berbulan-bulan belakangan, memang lagi heboh kasus penggusuran (baca: perobohan kios) para pedagang yang berada di sepanjang jalur Jl. Raya Puncak Gadog, Cisarua, Bogor. Dari banyak berita, saya membaca pembersihan itu dilakukan secara masif tanpa tedeng aling-aling. Terutama untuk para pedagang emper, kios kayu dengan atap terpal biru yang dibangun seadanya menghadap ke kebun teh.
Terus terang saya setuju dengan langkah yang diambil oleh Pemprov Jawa Barat ini. Bukannya tidak berhati nurani atau tidak manusiawi. Tapi keberadaan mereka yang menjamur membuat keindahan perbukitan teh yang adalah hak publik menjadi tertutup karena keberadaan mereka. Apalagi setelah saya dengar bahwa sebagian besar (bahkan hampir semua) pedagang tersebut tidak memiliki izin. Keberadaan mereka yang persis di pinggir jalan seringkali mengakibatkan kemacetan karena banyak kendaraan, khususnya motor, parkir sembarangan.
Menjawab pertanyaan suami, saya memutuskan untuk membuka GMaps dan menilik status Resto Wisata Liwet Asep Stroberi di Passna Puncak ini. Ada tanda atau tulisan yang menyatakan bahwa resto ini masih dalam keadaan tutup dan akan dibuka sekitar tiga jam kemudian.
Ah OK. Berarti mereka beroperasi.

Menjejak Perjalanan Menuju Resto Wisata Asep Stroberi
Selisih waktu yang lumayan banyak tersebut, kami gunakan untuk berkendara pelan sembari mencoba jalur tol Cibitung – Cimanggis (Tol Cimaci/bagian dari JORR 2) yang kemudian tersambung dengan jalan tol Jagorawi (di titik Cimanggis Junction). Kehadiran jalan bebas hambatan ini meskipun cukup mahal biayanya, sungguh bisa memotong waktu yang kami butuhkan untuk menggapai jalan tol menuju Puncak.
Jika dulu harus melalui tol Lingkar Luar via Jati Asih, TMII, kemudian masuk di Jagorawi di titik yang mendekat ke Cibubur, sekarang sudah bisa potong kompas setidaknya 1/3 jalan Jagorawi. Menghemat jarak tapi tidak biayanya. Waktu tempuhnya juga bisa dipangkas apalagi tol Cimaci ini sepi peminat. Alasannya, menurut dugaan saya, lebih kepada biaya.
Keluar dari Tol Jagorawi, kemacetan kecil beberapa kali terjadi. Di antaranya adalah saat keluar tol dan berbelok kiri menuju jalur Gadog karena jalan menyempit, dua jalur menjadi satu jalur. Kemudian pasar yang mendekat ke Taman Safari dan sedikit terhambat saat bertemu angkot yang motong jalan dari kiri atau ngetem tidak pada tempatnya. Kondisi yang selalu berulang saat kami berkendara ke arah Puncak.
Karena masih punya waktu yang lebih dari cukup untuk menggapai Puncak Pass, saya dan suami bahkan menyempatkan shalat subuh berlama-lama di salah satu masjid yang berada di Gadog. Banyak juga yang berhenti di sini meski parkirnya (sangat) terbatas karena berada di bahu jalan dan masjidnya juga (mulai) terlihat usang. Kemungkinan besar yang membuat orang suka berkunjung kemari karena ada satu warung nasi uduk dan bubur yang tampak sibuk melayani konsumen. Enak barangkali.
Jadi yang terniat pengen sarapan di Resto Wisata Liwet Asep Stroberi Passna Puncak, sebaiknya memang jangan lebih dari waktu Subuh. Selain menghindar dari kemacetan rutin ke dan dari Puncak, dinginnya udara pegunungan juga lebih terasa. Plus kebisingan kendaraan pun masih begitu minim.
Begitu yang saya rasakan saat melanjutkan perjalanan tanpa mengaktifkan AC mobil. Saya bahkan bersengaja mendekat wajah ke jendela mobil dan membiarkan wajah tersapu-sapu angin yang terasa gencar menyentuh kulit. Suami pun melambatkan laju mobil agar kami bisa menikmati sentuhan kenyamanan alam semaksimal mungkin. Sesuatu yang sungguh jarang terjadi di lingkungan rumah kami di Cikarang.
Saya menghamburkan pandangan ke arah kebun teh selama menyusur jalan menanjak menuju Puncak Pas.
Langit memang terlihat sedikit mendung tapi warna birunya mulai tampak perlahan. Awalnya saya kira akan sampai terlalu awal tapi ternyata ketika tiba di parkiran, melihat jejeran mobil terparkir mulai banyak, serta mendengar sibuknya bunyi peluit yang dihembuskan oleh kang parkir, wajah saya langsung cerah ceria.
“Sudah buka Kang?” teriak saya dari jendela.
“Baru aja Bu.” jawab kang parkir yang melangkah mendekat.
Ih seneng banget lah. Secara ya saya sudah lama banget tidak berhenti di titik Puncak Pass ini. Selain karena sering penuh, saya biasanya ingin bergegas sampai Cipanas.
Memori saya kemudian kembali terangkat. Inget banget saat saya masih SD dan beberapa waktu kedepannya, saya dan keluarga lumayan sering main ke Puncak Pass ini. Selain lahan parkir terbuka khusus untuk mereka yang ingin berdiri menatap ke lahan kebun teh di bawahnya kemudian merasakan berbagai jajanan hangat yang ditawarkan beberapa warung di sekitarnya, udara bersih dan segar sungguh bisa merabuk jiwa.
Dalam banyak waktu, saat saya sering main ke Puncak Pass bersama teman-teman kantor, kami selalu meluangkan waktu makan di resto Rindu Alam yang berada persis di samping parkiran itu. Resto dengan menu nusantara yang begitu populer di kalangan para pejalan dan perindu udara segar di antara sumpek nya kesibukan Jakarta. Di beberapa kesempatan, saat capek banget dengan kesibukan kantor di minggu itu, bersama teman-teman dekat, saya bersengaja berkendara ke Rindu Alam selepas jam kerja di Jumat sore. Kami makan malam di sana, mengobrol panjang lebar, lalu turun kembali ke Jakarta menjelang subuh. Dan itu hampir selalu rame loh.
Nyambung membahas Rindu Alam dan Resto Wisata Liwet Asep Stroberi nih.
Lahan bekas Rindu Alam inilah yang kemudian ditempati oleh Resto Wisata Liwet Asep Stroberi Passna Puncak. Dalam beberapa waktu saat sering mengunjungi Ibu (yang saat itu masih hidup), saya sempat melihat proses resto Rindu Alam tutup kemudian dilanjutkan dengan penghancuran bangunannya. Terasa euy sedihnya saat bangunan lama itu terlihat rata dengan tanah. Apalagi mengingat bahwa Rindu Alam tuh sudah menemani hiburan kuliner saya sejak SD. Jadi saat cerita mereka ditutup dalam puluhan tahun kemudian dan itu terjadi di depan mata, saya cukup merasakan kesedihannya.
Tak berapa lama saat melintas kembali di Jl. Raya Puncak Gadog ini, saya kemudian melihat rangka bangunan megah tiga lantai yang tinggi menjulang. Saat selesai digarap dan resmi dibuka pada April 2024, di situlah saya baru tahu bahwa bangunan itu adalah milik Liwet Asep Stroberi Group atau yang lebih dikenal sebagai Asstro (Asep Stroberi).


Estetik, Cantik, dan Megah
Kepala saya harus mendangak saat mencoba melihat bangunan megah milik resto ini. Bentuknya sedikit bergelombang dan tampak memiliki atap yang jangkung di setiap lantainya. Dari arah parkiran terlihat tempat nongkrong/makan yang diatur di teras dan menghadap ke jalan raya. Sekeliling teras dibatasi oleh pagar besi setinggi kurang lebih satu meter.
Saat melangkah masuk dan disambut oleh beberapa petugas, saya melihat satu sisi lantai terbawah ini sedang menampung beberapa tamu. Di antara kesibukan petugas yang mondar-mandir saya melihat ruangan di bawah ini dipenuhi oleh ornamen berbahan bambu di bagian ceiling yang terpasang di antara dedaunan hijau artificial. Lantainya menggunakan keramik mengilat, banyak sofa empuk, dan pot serta bunga yang juga artificial di sana-sini. Bentuk bangunannya memanjang dengan teras dengan kondisi yang sama.
Awalnya suami mengajak saya untuk duduk di dalam saja. Tapi begitu melihat ada meja dan kursi kosong untuk berdua di teras luar, saya tentu saja lebih memilih spot ini. Apalagi ternyata teras ini menghadap ke perkebunan teh.
Takut kedinginan juga katanya. Ah, ternyata cukup sejuk aja sih menurut saya. Meski berada di ketinggian 1.300 mdpl, bagi saya yang terbiasa dengan pendingin ruangan di suhu 19-20′ udara bersih di Puncak Pass ini cukup berada di skala nyaman. Jadi sembari menunggu pesanan datang, saya justru berlama-lama berdiri di pinggir pagar sembari menyesap indahnya perkebunan teh yang sering saya lewati.
Sekarang kita bahas tentang makanannya dulu ya.

Sarapan dengan Kuantitas Aduhai
Sebuah buku menu yang tebal dan berat langsung diberikan saat saya dan suami mantab menentukan tempat duduk pilihan di teras lantai bawah. Beberapa meja dan kursi ada di tempat itu. Petugas sempat menerangkan menu apa saja yang tersedia untuk sarapan. Cukup banyak tapi mungkin hanya 1/3 dari keseluruhan menu yang ada di dalam buku.
Saya mengangguk paham. Iya kali ya sepagian ini ada tamu yang memesan menu berat dan butuh waktu ekstra untuk menyiapkannya. Kan ngerepotin betul itu.
Tapi biar sedikit pilihannya, nyatanya saya sempat galau juga. Ya ampun. Pengen sesuatu yang nampol tapi tak ingin menyiksa lambung. Apalagi di jam-jam segitu saya biasanya tak terburu-buru sarapan. Paling hanya ngopi sembari duduk di sofa yang memang rutin saya gunakan untuk membaca.
“Jangan dihafal nanti kita gak pulang-pulang.” Canda suami yang melihat saya masih aja bolak-balik lembar menu. Saya mencucu.
Suami – karena sedang dalam program diet ketat – memilih gado-gado dengan lontong sedikit dan kuah yang terpisah. Setelah sekian menit kemudian akhirnya saya memesan mie goreng lengkap dengan telur ceplok dan kerupuk udang. Yah sudahlah. Pengen aja dah mie goreng setelah sekian masehi dah lama betul gak makan sajian ini.
Saya memutuskan untuk stay di area ini untuk menikmati nyamannya udara yang menyentuh tubuh. Bukan keluyuran memotret sembari menghabiskan waktu menunggu. Kepikiran juga jika saya menjelajah untuk merekam setiap sudut lewat kamera di tiga lantai, bukan gak mungkin saat saya kembali mie goreng pesanan saya sudah dingin membeku.
Suami mengangguk sambil mengacungkan jempol saat dia bertanya tentang hal ini.
Dan bener banget. Nyatanya pesanan kami tak lama sudah diantarkan. Berikut dengan sepiring besar Poffertjes yang saya pesan saat saat di awal waktu tadi. Kudapan atau camilan khas Belanda berupa pancake mini dan empuk berbentuk bulatan atau terkadang pipih. Saat melihat wadah penggorengannya yang hadir dengan deretan lobang-lobang, di dekat pintu masuk, saya mendadak teringat dengan Takoyaki. Bedanya hanya di penyajian akhirnya aja. Poffertjes hanya butuh taburan gula, sementara Takoyaki ditaburi oleh potongan nori, bonito flakes dengan berbagai pilihan isian. Ah tentu saja beda negara asal ya. Poffertjes dari Belanda sementara Takoyaki dari Jepang.
Gado-gadonya suami cukup menarik. Isiannya banyak. Telur rebus, kentang goreng, sayuran, tahu goreng kemudian dilengkapi dengan emping. Bumbunya ditaruh di sebuah wadah kecil. Rasanya pas. Tidak istimewa tapi juga tidak mengecewakan. Sementara mie goreng saya yah biasa aja. Kalau menilik rasa sih sepertinya ini mie keriting yang digoreng lengkap dengan sayuran dan bakso plus kerupuk udang. Kemudian ada telur ceplok, potongan timun, tomat, serta selada. Bumbunya, terus terang, kurang pas di lidah saya. Ada sentuhan lada bercampur manis yang terlalu berlebihan. Masih (jauh) lebih enakan Indomie goreng instan buat si Mbak di rumah (ngekek). Suami berpendapat sama saat mencoba membantu saya menghabiskan mie goreng ini. Tapi tetap saja akhirnya tidak bisa kami tuntaskan.
Yang menyelamatkan selera saya adalah si Poffertjes. Olahan bahan utamanya gurih menggoda. Kehadiran bubuk gula yang bisa kita atur sendiri, membuat saya nyaman menentukan tingkat kemanisan yang saya inginkan. Bola-bola Poffertjes nya besar-besar banget. Jadi saya hanya mampu menghabiskan tiga di antaranya saja. Dua lagi akhirnya dibungkus dan saya habiskan di rumah.
Kuantitasnya yang sesuatu banget deh. Banyak banget. Setidaknya porsinya lebih banyak ketimbang yang biasa saya nikmati di rumah atau tempat-tempat makan sejenis.
Ah satu lagi yang menyenangkan adalah teh tawar hangat nya. Teh nya sedap betul. Saya dan suami mewajibkan diri menandaskan dua gelas tinggi teh tawar ini pelan-pelan. Menghirup lalu menyeruput kecil. Begitu seterusnya hingga isi gelas kami kosong.
Akhirnya saya menemukan pembuktian jargon Asstro yaitu “Satu Suapan Seribu Kebahagiaan” saat menuntaskan teh tawar tadi.
Somehow, di satu waktu saya akan mencoba menu Nasi Liwet yang menjadi andalan Resto Asep Stroberi ini di salah satu outlet mereka yang berjumlah 22 buah dan tersebar di beberapa kabupaten milik provinsi Jawa Barat. Mungkin di Tasikmalaya, Garut, Bandung atau di Bogor.
Yok. Sekarang menyusur lantai atas yang terlihat megah saat saya melongok dari area parkiran tadi.



Menyusur dan Memotret
Suami memutuskan untuk membayar asupan kami terlebih dahulu sebelum akhirnya menemani saya menyusur lantai atas. Area kasir ini membuat saya takjub. Sebagian besar meja penerimaan pembayaran dipenuhi oleh bunga-bunga artificial yang dikelilingi oleh pot-pot tinggi yang juga ranum dengan bebungaan.
Ada tulisan Resto Wisata Liwet Asep Stroberi Passna Puncak di dinding belakang meja kerja kasir. Atapnya hadir dengan nuansa yang sama dengan sisi mana pun yang ada di lantai bawah ini. Anyaman rotan berbentuk bulat dengan jalinan daun-daun yang dibiarkan menjuntai. Selain kartu nama, area depan kasir ini tampak hadir dengan beberapa ornamen ruangan yang membuat suasana tempat ini terasa penuh dan padat.
Persis di samping meja kasir inilah ada jalur jalan menuju lantai dua. Bukan tangga tapi sebuah jalan melingkar yang di bagian bawahnya ada kolam ikan dengan pancuran bambu yang airnya terus mengalir. Sebuah harmoni tirta yang sangat menghibur indera pendengaran kita.
Sebuah pemandangan cantik dan estetik pun hadir di depan mata saat saya tiba di lantai dua. Terlihat area dine-in yang lega betul. Tersedia (mungkin) puluhan meja bulat dengan empat kursi bersandaran rotan. Senada dengan hiasan langit-langit yang sama persis dengan di bawah tadi. Tersedia teras dengan dudukan yang menghadap ke jalan raya dan ke arah kebun teh.
Saya kembali menyempatkan diri duduk-duduk sebentar di teras yang menghadap ke kebun teh tersebut. Hembusan angin lebih terasa di sini. Tapi terus terang saya sangat menikmatinya.
Perhaps, di masa yang akan datang, jika saya diberikan kesempatan mampir ke sini lagi, saya akan memilih duduk di teras lantai dua ini sembari membawa buku. Hakul yakin tempat ini tuh pas betul untuk nongkrong santai sambil membaca, menikmati beberapa cangkir minuman hangat, yang kemudian dilengkapi oleh beberapa kudapan daerah atau jajan pasar. Oh atau masakan berkuah seperti soto atau mie kuah.
Ah sebuah angan yang tentulah gak sulit untuk diwujudkan. Karena sejatinya resto milik Asstro ini bakal saya lewati setiap akan main ke rumah di Cipanas. Hanya saja mungkin saya akan memilih waktu makan siang. Apa sebab? Karena di jam-jam itulah menu-menu andalan Asstro akan siap dipesan dan disajikan. Penamaan awal menggunakan dua kata “Nasi Liwet” tentunya bermakna sesuatu kan?






IG @annie_nugraha | Email: annie.nugraha@gmail.com



Saya juga sebenarnya ikut sedih waktu Rindu Alam hilang. Banyak kenangan nongkrong di sana. Hehehe. Walaupun tidak selalu makan tapi main mah sering ke sana tuh
Sekarang setelah berganti Astro belum pernah coba. Tapi kalau kualitas liwetnya saya percaya emang juara. Saya tahu waktu makan di Astro yang di Jalan Bandung Garut. Pasti lah ga jauh beda. Satu pabrik soalnya kan hehehe
Sama Teh. Ingat dari saya SD, Rindu Alam tuh sudah jadi. favorit publik. Selalu penuh pengunjung. Selain posisinya yang apik, sajiannya juga enak-enak. Semoga Asstro bisa melegenda seperti Rindu Alam ya.
Wow keren banget mbak tempatnya. Kayaknya cocok banget emang buat healing ya. Makanannya keren tempatnya seru, liburan jadi lengkap. Unik banget lo Stroberi bisa bikin nuansa jadi beda dan chill banget.
Setidaknya berganti pemandangan dan menghirup udara yang lebih segar Mas Adi. Apalagi kalau datangnya pas awal-awal mereka buka. Kendaraan lebih sepi jadi udara juga terasa lebih fresh.
Penyajiannya mewah banget, kak. Padahal cuma gado-gado dan mie goreng. Kayak menggugah seleraku banget.
Bikin aku pengen menikmati sarapan sambil menghirup udara dingin di sana.
Saya pengen balik Mbak Yuni. Seharusnya di udara sejuk seperti itu pasnya makan yang berkuah-kuah ya. Sekaligus menghangatkan diri.
wah ternyata dekorasi di dalamnya meriah banget
beberapa kali ngelihat resto ini kalo gak salah di Jogja juga ada
tapi anak saya menggeleng, mungkin dipikirnya terlalu kekinian
jadi baca tulisan Mbak Annie lumayan terpuaskan rasa penasaran saya
mungkin lain kali ke sini ngajak temen aja ah :D
Iya Mbak. Dekorasinya rame dan meriah. Menang posisi dan lokasi si Asstro ini. Berada di jalur wisata antara Jakarta dan Jawa Barat. Saya pengen balik untuk nyobain Nasi Liwet nya. Menu unggulan dari Asstro.
Saya pun merasakan, adanya jalan tol ataupun bypass itu memang memangkas jarak dan waktu, tapi memang tidak untuk biayanya, malah bisa jadi nambah biaya.
Ayik ya duduk di teras menikmati pemandangan kebun teh, sambil juga menikmati makanan yang disajikan.
Eh, jangan-jangan beneran mbak Annie ngapalin menunya nih, buktinya di akhir tulisan udah “ngancam” lain kali ke situ mau pesan nasi liwet hehe
Hahahahaha. Untuk lokasi memang mereka juaranya Mbak Nanik. Berada di puncak pass dengan pemandangan yang sudah jauh lebih menarik setelah diadakan penertiban warung tenda yang berdiri di pinggir-pinggir jalan tanpa izin resmi.
Datang di jam-jam awal buka dengan sedikit kendaraan yang lalu lalang, bikin kunjungan sepagian itu sungguh mengesankan. Sayangnya sajian unggulan Nasi Liwet belum ready buat sarapan. Padahal penasaran banget pengen nyobain.
Kalau bubuk gulanya dihidangkan terpisah memang lebih ciamik pas santap Bola-bola Poffertjes. Karena bisa saja ada yang kurang suka dengan rasa terlalu manis, atau bisa luka yang merasa malah kurang manis.
Mantap deh menikmati si Bola-bola Poffertjes ini dengan suasana dan tempat yang bikin betah
Dan memang seenak itu ya Fen. Buat saya Poffertjes adalah camilan yang pas dinikmati dengan minuman hangat. Terus ngobrol berlama-lama. Lengkap sudah asyiknya.
Saya termasuk yang ikut sedih keti Rindu Alam ditutup. Selain punya kenangan pernah makan di sana, itu resto memang ikonik banget kalau lagi lewat Puncak.
Seneng juga penggantinya Asstro. Saya sekeluarga pernah makan di Asstro tapi bukan yang di puncak. Memang enak-enak makanannya. Gak bosen sih kalau makan di sana.
Poffertjes tuh camilan kesukaan Mama saya, yang sempat merasakan zaman Hindia Belanda…hehe…
Tapi baru tahu loh ada di Asep Stroberi. Taunya Asep Stroberi tuh nasi liwet dan lauk-pauknya yang enak semua. Di Bandung bertebaran di pinggiran kota (arah Lembang, arah Garut). Tapi baru buka loh di pusat kota, di jl Sukabumi. Malah belum coba nih…
Ini sich klop banget ya Kak. Makanan nikmat dan pemandangan hebat. Kayak berasa di puncak dunia deh. Jadi pengen ke sana.
Tempat dan suasana bisa membantu rasa menu. Jadi enggak apa-apa rasa makanannya B saja yang penting lokasinya. Tapi enggak tahu untuk menu makan siangnya ya, siapa tahu istimewa.
Saya bayangin dulu saja, duduk di teras lantai dua, berteman teh tawar hangat yang nikmat sambil menikmati sejuk dan hijaunya area terhampar di depan mata. Syukur-syukur Nasi Liwetnya sudah tersedia. Wah, mantapnyaaa!
Dan itu terasa banget saat datang di jam baru buka seperti yang saya alami Mbak Dian. Ademnya dapat dan kita tak perlu berdesakan. Enaknya memang saat udara pegunungan masih segar minim knalpot kendaraan. Saya ngebayangin bisa ngopi di lantai 2 itu sambil makan poffertjies.
dilematis emang penggusuran ini
di satu pihak, para PKL ini udah merampas hak publik, bikin lingkungan kumuh dan dampak lanjutan seperti sampah
tapi di pihak lain, mereka butuh lokasi untuk mencari nafkah
Tentang bubur ayam sukabumi, saya jadi pingin pulang ke Sukabumi dan menyantap bubur ayam Odeon yang bikin addict :D
Betul banget Mbak. Parahnya PKL tenda biru itu semakin menjamur. Memenuhi hampir sepanjang jalan. Jadi secara etika dan keindahan juga mengganggu. Kesian memang lihat mereka tergusur. Tapi mudah-mudahan mereka sudah dapat tempat baru yang lebih layak.
Wah wah wah. Jadi penasaran dengan Buyam Odeon nya Sukabumi. Ada rencana sih pengen berkunjung ke Sukabumi. Semoga nanti sempat mencicipi.
Aku belum pernah mampir sini teh. Klo rindu alam yg dulu sering. Cakep dalemnya ya. Menyesap satu suapan di Resto Wisata Liwet Asep Stroberi Passna rasanya bukan cuma soal makan, tapi tentang merayakan momen sederhana yang hangat. Ditambah udara Puncak yang sejuk dan pemandangan hijau yang menenangkan
Bener banget Des. Rindu Alam yang fenomenal itu tergantikan dengan hadirnya Asstro (Asep Stroberi). Asyik banget datang ke sini tuh pas mereka baru buka. Pagi-pagi betul. Biar bisa merasakan sejuknya udara dan minim dari asap kendaraan.
Lihat foto-fotonya gini, kayak bukan lagi di Indonesia lho. Kirain itu tadi di luar negeri. Terus itu penyajian makanannya juara sih! Tampilan gado-gadonya semewah itu euy.
Kapan ada kesempatan ke Jakarta, jangan lupa main ke sini Mbak. Berangkat subuh-subuh biar bisa menikmati segarnya udara pegunungan dengan sedikit asap kendaraan. Makan yang anget-anget sepertinya bakal melengkapi suasana.
Saking lamanya milih mungkin ya. sampai suami kakak nyeletuk jangan menghapal menu. Hehehe…
Habis gimana dong. Banyak menu dan bikin bingung mau makan yang mana. Iya nggak kak?
Hahahaha iya. Secara ya biasanya juga sarapan dengan menu sederhana aja. Tapi pas di sana pengennya makan rada banyak. Mendadak lapar maksimal.