Merabuk Jiwa di ARTJOG 2025

Photo of author

By Annie Nugraha

Merabuk Jiwa di ARTJOG 2025
Karya Veronica Liana, pemenang Young Artist Award

Merabuk Jiwa di ARTJOG 2025 | Featured & Travel | Februari 2026

Pagi itu usai sarapan dan memotret di salah satu hotel bintang 4 di kawasan Malioboro, saya dan si sulung bergegas berangkat ke ARTJOG 2025. Acara seni tahunan yang diselenggarakan di Jogja National Museum (JNM) yang berada di kawasan Wirobrajan dan yang berlangsung pada 20 Juni hingga 30 Agustus 2025.

Sembari menunggu pesanan mobil sewaan datang, saya melanjutkan misi mengulik informasi singkat tentang ARTJOG 2025 ini. Berkunjung di minggu terakhir Agustus 2025, masa di mana event ini agar segera tutup, lewat akun IG @artjog.id saya membaca antusiasme publik akan acara ini terus bergulir. Khususnya mereka para pecinta seni dalam berbagai media dan aliran, photography, dan tentu saja social media darling yang bertebaran di seluruh penjuru negeri. Mereka menghadirkan liputan beserta video dan footage yang sangat informatif serta menarik.

Jadi saat dalam perjalanan dari Malioboro menuju Wirobrajan, semangat untuk menyusur ARTJOG 2025 rasanya sudah tak tertahankan. Plus penasaran maksimal akan beberapa karya yang sudah menarik perhatian saya.

Karena di hari itu saya hanya punya waktu satu setengah jam untuk berkeliling, saya memutuskan untuk datang tak lama setelah pintu masuk dibuka.

Hal ini tentu saja dengan pertimbangan bahwa pengunjung masih minim hingga mudah untuk mengambil foto dan atau menyusur setiap sudut tanpa kesulitan yang berarti. Suasana minim kehadiran manusia inti tentu juga memberikan sisi kenyamanan lainnya. Kita bisa berdiri lama, mengamati, dan menikmati indahnya rasa kekaguman yang bangkit perlahan dalam jiwa.

Merabuk Jiwa di ARTJOG 2025
Instalasi Kincir Air karya Tisna Sanjaya (kiri) | Salah satu welcoming wall yang ada di area parkir Jogja National Museum (kanan)

Datang dengan semangat meski harus berjuang melawan udara yang sudah menghangat, saya cukup lama berdiri di sisi luar gedung yang dulunya dipakai sebagai kampus dari Akademi Seni Rupa Indonesia seluas 1.4 hektar ini. Tempat yang juga sering digunakan sebagai tempat diskusi, pameran seni, museum, dan galeri seni kontemporer di bawah naungan Yayasan Yogyakarta Seni Nusantara (YYSN).

Saat datang dari satu sudut jalan dan mengelilingi 1/2 dari keseluruhan bangunan, saya melihat Jogja National Museum ini dikelilingi oleh tembok semen yang cukup tinggi. Di halamannya juga terdapat beberapa pohon besar yang terlihat sudah (sangat) tua dengan banyak akar yang menonjol. Satu hal yang menunjukkan sebuah kekuatan dan usia dari pohon itu sendiri. Bangunannya sendiri terlihat masih kokoh berdiri meski tetap memperlihatkan keusangan khas era 70-an.

Sampai di titik paling depan, saya menemukan sebuah dinding semen yang menampilkan logo ARTJOG. Logo kecil di tengah dinding yang panjang membentang berwarna coklat tua. Saya harus mengantri memotret meski tak lama. Berfoto di sini jadi lebih mengesankan karena persis di belakang dinding ada ranting-ranting pohon yang meranggas dan membuat sentuhan artsy nya begitu terasa. Apalagi kemudian dilengkapi oleh langit yang biru bersih dan cerah serta awan putih yang hadir sebagai penyempurna.

Si sulung kemudian bergegas ke counter pembelian tiket lalu membayar Rp80.000,00/orang kemudian mendapatkan dua buah wristband ticket atau gelang tiket yang berlogokan ARTJOG. Beberapa langkah dari tempat pembelian tiket ini, saya menemukan deretan tulisan/nama dari para seniman yang terlibat di dalam event ini.

Yok. Mari kita masuk.

Merabuk Jiwa di ARTJOG 2025

Melewati commissions list yang ada di dinding menuju jalur masuk yang saya sebutkan tadi dan sempat menjelajah setengah dari presentasi yang ada di dalam, yang saya tuliskan berikut ini adalah beberapa spot yang menjadi ketertarikan terbanyak saya. Dan tentu saja adalah berbagai titik yang bisa saya potret semaksimal dan sebaik mungkin.

Melangkah ke sebuah lorong pintu masuk, netra langsung disambut oleh sebuah ruang minim cahaya karya Anusapati yang berjudul Secret of Eden. Menempati area yang cukup luas, presentasi seni ini menampilkan sebuah rel kereta yang dibangun lurus memecah ruangan dengan sebuah mine cart atau kereta tambang di atas nya. Di sekitarnya dihadirkan banyak akar-akar pohon yang menggantung dan deretan tiang kokoh yang membuat ruangan ini begitu artistik untuk menjadi spot foto. Butuh kejelian menentukan titik foto yang ciamik agar bisa menghasilkan gradasi apik yang menyentuh fokus foto.

Saya sendiri berusaha mencari dan berdiri di salah satu titik di mana sebuah lampu sorot berada agar sebagian tubuh bisa tertangkap kamera. Hasilnya seperti foto di bawah ini.

Sempat melihat seorang content creator mengarahkan photographer nya (tampaknya adalah seorang yang bekerja professional). Dia berdiri di salah satu akar terbanyak dengan background mine cart yang saya lihat dari kejauhan di awal tadi. Hasilnya cakep banget. Saya tadinya ingin mencoba berfoto di titik yang sama – tentu saja dengan gaya yang berbeda – tapi ternyata kalah cepat dengan segerombolan pengunjung perempuan yang mengenakan kostum ala mekanik.

Waw, ini sih terniat banget sepertinya. Dan harus saya akui, outfit mereka benar-benar match dengan Secret of Eden ini.

Merabuk Jiwa di ARTJOG 2025
Secret of Eden karya Anusapati
Merabuk Jiwa di ARTJOG 2025
Secret Eden karya Anusapati

Presentasi yang kemudian (sangat) menarik perhatian saya adalah Murakabi Movement yang menghadirkan Tanah Air Beta dengan sebuah immersive video yang memperlihatkan perubahan energi bumi. Kita bisa melangkah memutar – jalur naik turun – sembari menyentuh lantai bawah ruang yang dirancang dalam bentuk ruang bulat berlantai batu yang tersusun rapi. Ada beberapa tali temali yang dipasang kokoh menyanggah beberapa bidang dan ornamen sebagai presentasi penunjang. Kemudian ada setumpuk batu besar-besar yang tampak menghadirkan aura lingkungan yang sedang berkembang.

Dalam satu titik ada sebuah warung yang menyajikan kopi. Saat itu saya melihat dua orang tamu yang sedang dilayani oleh seorang petugas. Wangi kopi mendadak menyeruak dan membuat hidung saya sungguh tergoda. Saya menyempatkan diri menunggu tapi ternyata obrolan mereka berlangsung (sangat) panjang.

Duh sayang banget. Padahal pengen punya kesempatan ngobrol dengan petugas yang berjaga di sana agar mendapatkan penjelasan yang lebih jauh dan lebih lengkap tentang karya dari Murakabi Movement ini.

Melangkah keluar saya menyempatkan diri untuk berbalik dan menyebar pandangan sekali lagi. Imajinasi saya langsung bergerak liar. Ruang yang menjulang dan dilengkapi dengan nuansa sebuah area tertutup ini, sungguh meninggalkan kesan yang luar biasa buat saya pribadi. Pencahayaannya juga proporsional dengan menghadirkan fokus pada cahaya sorot yang menghadirkan immersive presentation.

Saya mendadak terpikirkan membuat sebuah video tentang perjalanan hidup, potongan-potongan kejadian penting yang bisa dan kerap disaksikan. Duduk atau berdiri di sekitar situ sembari merabuk jiwa serta mengevaluasi diri. Sebuah legacy non-tulisan yang layak untuk ditinggalkan kepada orang-orang yang mengasihi kita.

Merabuk Jiwa di ARTJOG 2025
Tanah Air Beta karya Murakabi Movement
Merabuk Jiwa di ARTJOG 2025

Merabuk Jiwa di ARTJOG 2025

Karya seni yang kemudian membuat saya terpaku adalah instalasi kincir air berbahan dasar kayu yang dihiasi sembilan figur tubuh manusia yang berbahan dasar logam. Karya dari Tisna Sanjaya ini mengesankan buat saya karena menyoroti perihal pencemaran lingkungan yang terjadi akibat sampah rumah tangga.

Perkara penting yang sesungguhnya menjadi perhatian masyarakat banyak dan harus terus dilambungkan dalam setiap kesempatan saat kita mengangkat isu lingkungan dalam setiap kesempatan. Karena nyatanya di beberapa bagian tanah air tercinta ini masih saja ada beberapa kelompok orang yang seenak udelnya membuang sampah tidak pada tempatnya.

Merabuk Jiwa di ARTJOG 2025
Instalasi Kincir Air dari Tisna Sanjaya
Merabuk Jiwa di ARTJOG 2025
Perguruan Taman Ruru karya dari Ruangrupa (Ruru)
Merabuk Jiwa di ARTJOG 2025
Perguruan Taman Ruru karya dari Ruangrupa (Ruru)

Saya menemukan Perguruan Taman Ruru saat dengan tanpa sengaja melihat tangga menuju lantai dua yang tampil dengan sebuah karya seni bernuansa alam yang dipasang pada dinding pengantar perpindahan ke tangga penyambung/berikutnya. Saat berada di bawah tangga inilah, saya sekilas melihat ada ruang – seperti ruang penerimaan tamu – dengan beberapa bangku kecil warna-warni yang berangka drum kecil kemudian dilapisi dengan stiker-stiker tematik. Di sebelahnya kemudian ada meja dan sofa model lama.

Karena masih sepi, saya memutuskan untuk mengintip sebentar. Ternyata di ruang ini terbentang sebuah pemandangan yang mempresentasikan “satu dunia” yang sedang saya geluti sekarang. Dunia literasi. Yap. Dunia yang mendekatkan saya dengan buku dan kegiatan membaca.

Di Perguruan Taman Ruru ini ada sebuah meja panjang dan bangku-bangku kayu layaknya sebuah ruang belajar dan mengajar. Mejanya penuh dengan buku-buku dan lembar-lembaran tulisan kreatif. Sementara dinding dan meja yang merapat ke dinding dipadati oleh banyak poster yang menghadirkan tokoh atau sekelumit wajah termasuk sekian banyak goresan ide.

Entah mengapa saat mengamati sudut demi sudut Perguruan Taman Ruru ini, ingatan saya melayang pada beberapa video tentang ruang belajar yang ada di beberapa daerah terpencil di timur Indonesia atau kalau gak salah tentang sekolah-sekolah yang berada di pelosok negeri. Bagaimana mereka belajar dengan suasana dan perlengkapan terbatas.

Saya juga sempat menyaksikan – secara digital – bagaimana anak-anak belajar dengan buku-buku yang pilihannya tak banyak dan dinding ruang belajar yang terbuat dari bahan-bahan seadanya dan yang tak kokoh atau permanen. Contohnya seperti seng yang terpasang di studio buatan yang dirancang oleh Ruangrupa (Ruru) ini.

Merabuk Jiwa di ARTJOG 2025

Dalam beberapa langkah lanjutan saya menemukan sebuah ruangan dengan nuansa jaman lampau di mana kita bisa melihat bagaimana profesi pandai besi melahirkan benda-benda tajam yang bisa digunakan sehari-hari. Penataan ruang kerjanya tersusun layaknya sebuah studio pandai besi di masa lampau. Perajin terampil yang menempa bahan besi dengan cara dibakar dan ditempa hingga mendapatkan bentuk dan ketajaman yang diinginkan. Satu profesi yang tentunya tidaklah mudah. Ada keahlian khusus yang dibutuhkan di sana termasuk unsur keberanian menghadapi efek api dan pemanasan selama proses pembuatan berlangsung.

Merabuk Jiwa di ARTJOG 2025

Merabuk Jiwa di ARTJOG 2025
The Labyrinth karya Syagini Ratna Wulan (kiri foto)

Saya kemudian bertemu dengan berbagai lukisan kontemporer yang mengajak para pengunjung untuk betah melamati dan memahami banyak makna yang tersimpan di setiap goresan. Salah satunya adalah karya Syagini Ratna Wulan yang menghadirkan lukisan bertemakan the Labyrinth. Rangkaian lukisan yang ditunjang oleh latar belakang cahaya dan membuat presentasinya eye-catchy bahkan dari kejauhan.

Jujurly saya bukanlah orang yang begitu paham dengan aliran kontemporer tapi kehadiran berbagai garis real membuat rasa saya terhibur. Lukisan ini menjadi salah satu titik yang turut menyumbang tujuan saya untuk merabuk jiwa di antara sekian banyak presentasi di ARTJOG 2025

Melangkah lebih dalam ke area pameran, saya kemudian bertemu dengan dinding hitam yang sangat membuat rasa penasaran melonjak. Dinding yang berisikan video berganti-ganti ini menghadirkan seorang tokoh layar lebar yang namanya sudah bertahun-tahun berkibar dan begitu dikenal oleh publik. Gak heran sih. Karena menjadi pemeran utama produk sinema dan layar lebar adalah ladang terbesarnya.

Yup. Orang itu adalah Reza Rahadian Matulessy. Lelaki kelahiran 1987 yang – pada saat saya membuat artikel ini – telah meraih enam Piala Citra dan menjadi Ketua Festival Film Indonesia dari 2021 hingga 2023. Saya – terus terang – bukanlah penggemar Reza karena menurut saya Reza “terlalu melambai” tapi saya sempat terkesan dengan keberaniannya mengambil peran serius sebagai BJ Habibie di beberapa film yang menceritakan tentang sejarah mantan Presiden RI ke-3 tersebut.

Saya kemudian menotifikasi kehadiran Reza saat dia berkenan menjadi orator pada sebuah demo publik menentang pemerintah di depan gedung DPR/MPR yang disambut dengan tepukan gemuruh para demonstran. Betapa dia telihat garang, berdiri di atas sebuah mobil, memegang toa dan semangat berorasi, yang menurut saya cukup menggetarkan.

Saat masuk ke ruang gelap dan tidak boleh direkam ini, saya melihat sebuah rangkaian video yang menampilkan Reza sedang menari, meliuk-liukan badannya yang lentur, dengan visual wajah yang penuh jambang seperti biasa. Sesuai dengan tema Motif: Amalan (sebuah trilogi untuk 2023, 2024, dan 2025) yang dihadirkan oleh ARTJOG 2025, Reza juga menandai amalannya dengan memerankan beragam emosi sebagai seorang aktor kenamaan selama dua dekade berkecimpung dalam dunia cinematography.

Merabuk Jiwa di ARTJOG 2025

ARTJOG 2025 ini sebenarnya menempati beberapa lantai dari gedung Jogja National Museum ini. Tapi karena harus mengejar kegiatan di tempat lain yang sudah diagendakan jauh-jauh hari, saya memutuskan untuk berjalan langsung menuju titik terakhir.

Saya mengakhiri kunjungan di festival seni kontemporer tahunan terbesar di Indonesia ini mengunjungi merchandising area yang langsung mengarahkan saya ke pintu keluar. Di ruangan ini selain dihadirkan berbagai produk kreatif berlogokan ARTJOG, kita juga akan melihat presentasi ATSIRI. Satu spot yang menghadirkan berbagai minyak atsiri atau yang lebih populer disebut sebagai essence fragrance yang dijadikan beberapa finished products. Seperti wewangian tubuh, body lotion, bahkan minyak urut dalam berbagai pilihan efek wangi dan manfaatnya.

Ada sebuah catatan di dinding yang membuat saya terkesan. Mengingatkan saya akan sebuah cerita lama saat puluhan tahun yang lalu saya bekerja untuk sebuah produsen essence yang mengajarkan saya akan banyak hal dalam dunia bisnis di area ini.

“Dalam tradisi Jawa, wewangian kerap hadir dan digunakan sebagai bentuk penghormatan, persembahan, keindahan, dan medium untuk terkoneksi secara mendalam dengan diri, sesama, dan semesta. Latar ini menjadi benang merah dalam memaknai akhir perjalanan ARTJOG dengan tema Motif: Amalan di 2025, di mana amalan kami hayati sebagai laku harian yang hening namun berdaya pengingat akan arah, asal, dan tujuan.

Melalui semangat Mamayu Hayuning Bawana falsafah Jawa tentang upaya menciptakan dunia yang lebih baik dan selaras kolaborasi ini menghadirkan aroma sebagai jalan untuk mengenali jejak, serta mengingat sangkan panaring dumadi: asal usul dan tujuan akhir manusia dalam pandangan hidup Jawa.

Aroma di sini tidak hanya dihirup, tetapi diresapi sebagai medium yang memperkaya laku keseharian.”

Keluar dari merchandising area, saya kemudian bertemu dengan sebuah cafe kecil – The Grade Coffee & Gold by Pegadaian – yang menawarkan berbagai jenis kopi berkualitas. Dengan banyak meja dan tempat duduk di bawah pohon yang rindang, pengunjung bisa menikmati waktu rehat sembari duduk-duduk sebelum melangkah pulang. Saya menyediakan waktu sekitar 15 menit di cafe ini sebelum akhirnya melongok sebentar ke aula khusus ARTJOG KIDS.

Berjalan menyusur saya akhirnya bertemu dengan sebuah lingkungan open air dengan berbagai sarana untuk live performance. Ada beberapa panggung dan area tempat duduk plus kedai-kedai kecil dan juga cafe lainnya untuk menyore sembari jajan. Atau bisa juga bekerja di atas laptop sembari menikmati udara alami.

Halaman belakang ini jugalah yang kemudian menghantarkan saya ke kawasan parkir, di mana kendaraan sewaan kami berada.

Merabuk Jiwa di ARTJOG 2025
Merchandising Area di ARTJOG 2025

Sebagai ajang sebuah presentasi seni kontemporer, ARTJOG 2025 begitu menghibur hati dan merabuk jiwa. Mengisi diri dengan banyak percikan air segar agar selasar hati senantiasa tenang dan nyaman. Bergembira menikmati hidup lewat kunjungan idealistik yang mengajak kita menambah pengetahuan di dunia seni yang sarat akan rasa.

ARTJOG juga mengajak saya untuk mencabar diri menulis ulasan tentang seni kontemporer. Setidaknya memberi saya kesempatan untuk menikmati berbagai sentuhan seni yang dihadirkan oleh banyak perupa, pelukis, dan bahkan penata letak, yang telah bekerja dengan ligat agar festival seni kontemporer yang sudah berlangsung sejak 2010 ini bisa terus lestari dan terselenggarakan dengan baik di masa mendatang.

Merabuk Jiwa di ARTJOG 2025
ARTJOG KIDS yang ada di satu aula khusus ke arah pintu keluar

Merabuk Jiwa di ARTJOG 2025
Halaman belakang gedung Jogja National Museum (JNM)

Merabuk Jiwa di ARTJOG 2025

IG @annie_nugraha | Email: annie.nugraha@gmail.com

10 thoughts on “Merabuk Jiwa di ARTJOG 2025”

  1. Keren juga ARTJOG 2025 ini.
    Ada ARTJOG KIDS pula, yang pastinya kalau yang sudah berkeluarga apalagi yang punya anak kecil bakalan menyenangkan ya ke sana.
    Tiap spotnya juga terang, walau ada beberapa yang gelap, tapi tetap nyaman gak terasa seram.
    Tempat-tempat yang seperti ini memang perlu banyak tersedia di berbagai tempat, karena biar gak hanya hiburannya aja alias sekadar wisata aja dapatnya, tapi juga dapat pengetahuannya

    Reply
    • Keren luar biasa. Ini juga sepertinya baru 1/2 perjalanan dari keseluruhan presentasi yang ARTJOG 2025 sediakan. Semoga tahun depan saya bisa kembali ke event ini sembari membawa kemampuan mengadaptasi dan memahami seni kontemporer dengan lebih baik lagi.

  2. Saya menikmati sekali cerita perjalanan Mba Annie, foto-foto cantiknya dan pastinya karya para seniman di ARTJOG 2025 yang menekankan pada praktik seni yang etis, sosial, dan berdampak bagi kebaikan bersama ini. Meski saya pun termasuk yang kurang paham akan karya seni kotemporer seperti ini, tapi dari suksesnya acara membuktikan seni bisa merangkul siapa saja, menjadi ruang inklusif yang hangat dan berani.

    Reply
    • Makasih untuk complimentnya Mbak Dian. Begitu pun saya, sejatinya saya bukanlah seorang yang ahli di bidang seni. Baik itu seni murni maupun kontemporer. Dan ini adalah kali pertama saya menyusur sebuah ruangan maha besar yang menghadirkan begitu banyak karya dengan limpahan keistimewaan. Gak mudah tentunya melahirkan rangkaian karya dengan konsep yang mengagumkan seperti di ARTJOG 2025 ini. Konsisten diselenggarakan sejak 2010, ARTJOG tentunya sudah menempati dan memiliki keistimewaan di hati publik.

      Semoga saya bisa rutin berkunjung ke ARTJOG. Tempat yang merabuk jiwa, menenangkan hati, dengan value yang tak kaleng-kaleng.

  3. wah ada karya Tisna Sanjaya, salah satu seniman yang karya2nya saya suka

    Agustus 2025 kemarin saya di Jogja gak ya? Lupa :D

    eniwei emang Jogja punya banyak gelaran, dari yang berbayar sampai yang gratisan, sampai bingung

    Reply
    • Gak heran kalau dijuluki kota seni ya Mbak. Pengen ah rutin mengunjungi ARTJOG ini yang diadakan rutin setiap tahunnya. Kalau tinggal di Jogja pasti seneng banget deh.

  4. Sering denger Artjog karena beberapa kali PKBM tempat anakku belajar yang cabang Yogya beberapa kali keknya berkolaborasi dan berkegiatan di sana :D
    Ternyata sangat menarik yaaa tempatnya. Semoga nanti kalau ke Yogya bisa mampir ke sana :D
    Jadi setiap tahun selalu ada pameran dengan tema2 berbeda atau memang yang disebutkan di postingan ini tu pameran yang permanen ya mbak?
    Waahh Reza ternyata aktif dengan kegiatan seni selain main film ya. Aku juga bukan penggemarnya yang gimana2 cuma salut di era sekarang dia lumayan vokal juga mengkritik pemerintah hehe.
    Selain ruang pamer karya ternyata ada juga kafe dan juga toko buat beli merchandise ya mbak, noted. Semoga nanti ada kesemoatan lihat2 Artjog juga :D

    Reply
  5. Kalau yang aku baca sih, penyelenggaraannya setiap pertengahan tahun (Juni) hingga Agustus. Temanya sendiri berganti-ganti. Dan untuk 2025 ARTJOG mengangkat tema Motif: Amalan.

    Kalau ke sini sepertinya jangan ngajak anak-anak karena pasti mereka gak betah. Apalagi ini tempatnya luas banget dan butuh dilamati satu-persatu. Apalagi di beberapa booth yang presentasinya begitu istimewa.

    Reply

Leave a Comment