Juni 2016

Disambut dengan rintik-rintik, siang itu kami tiba di Tampak Siring.  Turun tergesa-gesa dari mobil dan setelah membayar tiket masuk IDR 20.000/orang, kami segera berlarian mencari tempat berteduh.  Siang itu obyek wisata yang berlokasi di Gianyar ini terlihat agak padat oleh berbagai macam ras dari belahan dunia.

Karena berubah menjadi hujan kecil yang mulai mengganggu, saya jadi tidak bisa mengabadikan bagian depan/pintu masuk, halaman depan, dan sebuah pura ukuran sedang yang berlindung di bawah pohon beringin yang kokoh dan besar.  Sambil mencari tempat berteduh, kami segera melipir melewati gapura kecil yang menggiring kami ke sebuah kolam ikan besar dan restoran yang persis bersebelahan dengan kolam ini.  Sempat melirik sekian banyak ikan koi besar-besar yang dipelihara dengan baik.  Tapi rintik hujan mengaburkan kualitas foto.

Menunggu sekitar 10menit, hujan pun berhenti, seakan mengerti bahwa kami sudah tidak sabar untuk mengelilingi tempat ini dan kabur mencari makan siang.  Secara ya, dengan cuaca adem dan angin semilir, perut mana coba yang bisa tahan berlama-lama tanpa diisi. Haaallaaahh.  Yok cus ah ngomongin soal Tampak Siring lagi.

pemandian yang dipercaya bisa menjadikan kita tetap awet muda

Menggali informasi dari berbagai literature, Istana Tampak Siring yang terletak di Kabupaten Gianyar, Propinsi Bali, merupakan satu-satunya Istana Kepresidenan yang dibangun setelah Indonesia Merdeka. Kelima istana lainnya merupakan bangunan yang telah berdiri sejak jaman kolonialisme Belanda, antara lain Istana Negara dan Istana Merdeka (Jakarta), Istana Bogor (Bogor), Istana Cipanas (Cipanas), serta Gedung Agung (Yogyakarta). Istana Tampak Siring biasanya digunakan oleh presiden untuk beristirahat, melakukan rapat kerja, serta melakukan perundingan luar negeri. Pada tanggal 27 April 2007, misalnya, Istana Tampak Siring menjadi saksi perjanjian ekstradisi antara Indonesia dan Singapura.

Sepertinya sangat beralasan jika Kepala Negara menggunakan tempat ini sebagai venue untuk menjamu tamu negara.  Karena selain tempatnya nyaman, tamu pun dapat menikmati salah salah spot keindahan Bali.  Bahkan beberapa kali saya membaca kabar berita bahwa pada jaman pemerintahan Ibu Megawati, beliau sering kali menginap di sini untuk refreshing.  Gak bisa disangkal, tentunya selain pertimbangan tempat kenang-kenangan di jaman Ayahnya, Presiden ke-1 RI, Ir. Soekarno. Nenek dari Ibu Megawati, Ibu kandung dari Ir. Soekarno, kebetulan memang memiliki darah Bali, jadi tentunya provinsi yang terkenal sebagai salah satu surga wisata ini, menjadi rumah ke-2 bagi keluarga besar Bung Karno.

Nama Tampak Siring berasal dari dua buah kata dalam bahasa Bali, yaitu tampak dan siring yang berarti “telapak” dan “miring”. Penamaan tersebut berkaitan erat dengan legenda masyarakat setempat tentang Raja Mayadenawa. Raja ini dikenal pandai dan sakti mandraguna. Namun, karena kelancangannya mengangkat diri sebagai dewa yang harus disembah oleh rakyatnya, maka Betara Indra mengutus bala tentara untuk menyerang Raja Mayadenawa. Serangan ini membuat Mayadenawa melarikan diri ke dalam hutan. Untuk menyamarkan jejaknya, Mayadenawa sengaja berjalan dengan cara memiringkan telapak kakinya.

Namun sayang, usaha Mayadenawa untuk mengelabui bala tentara Betara Indra gagal, jejaknya akhirnya diketahui. Dengan sisa-sisa kesaktiannya, Raja Mayadenawa mencoba melawan dengan menciptakan mata air beracun yang dapat membunuh para pengejarnya. Untuk menanggulangi akibat buruk dari mata air beracun itu, Betara Indra menciptakan sumber mata air penawarnya, yaitu Tirta Empul (air suci). Wilayah pelarian Raja Mayadenawa itulah yang kini dikenal sebagai Tampak Siring.

Sumber: Wikipedia dan www.wisatabali2010.wordpress.com

Istana Tampak Siring dibangun oleh seorang arsitek bernama R.M. Soedarsono atas prakarsa Presiden Soekarno. Pembangunan istana kepresidenan ini terbagi ke dalam dua masa, yaitu tahun 1957 dan 1963. Pada tahun 1957, di kompleks ini dibangun Wisma Merdeka dan Wisma Yudhistira. Sementara pada tahun 1963, pembangunan tahap kedua merampungkan dua gedung utama lainnya, yaitu Wisma Negara dan Wisma Bima, serta satu Gedung Serba Guna (gedung konferensi).

Kesemua bangunan ini terletak di sebelah kiri tempat pemandian dan setelah kita keluar dari kolam ikan besar.  Tidak jauh dari ke-2 tempat ini, kita bisa melihat sebuah tangga curam menuju beberapa bangunan yang disebutkan di atas.  Sayang, pada saat kami berkunjung (dan mungkin sudah berlaku lama), wisatawan (sudah) tidak diperkenankan untuk melihat bangunan di atas bukit secara lebih dekat.  Pintu gerbang besar menuju istana digembok dan tidak ada tanda-tanda orang lalu lalang di seputaran dalam istana.

istana di atas bukit yang hanya bisa dilihat dari kejauhan

Mencari informasi tentang Istana ini sendiri, saya menemukan beberapa rincian sebagai berikut:

Istana Tampak Siring dibangun di areal berbukit dengan ketinggian sekitar 700 meter di atas permukaan laut.  Dari pengamatan saya dari teras gedung serbaguna yang persis berseberangan dengan Istana, tampak perbukitan berumput gajah yang sangat hijau, bersih dan tentu saja terawat.

Pada Wisma Merdeka yang memiliki luas 1.200 m2, misalnya, pengunjung dapat melihat Ruang Tidur I dan Ruang Tidur II Presiden, Ruang Tidur Keluarga, Ruang Tamu, serta Ruang Kerja dengan penataan yang demikian indah. Di gedung ini terdapat hiasan-hiasan berupa patung serta lukisan-lukisan pilihan.

Sementara di Wisma Negara dengan luas sekitar 1.476 m2, adalah bangunan untuk menjamu para tamu negara.

Antara Wisma Merdeka dan Wisma Negara terdapat celah sedalam + 15 meter yang memisahkan dua wisma tersebut. Oleh sebab itu, dibangunlah sebuah jembatan sepanjang 40 meter dengan lebar 1,5 meter untuk menghubungkan dua wisma itu. Para tamu negara biasanya akan diantar melalui jembatan ini untuk menuju Wisma Negara, sehingga jembatan ini juga dikenal dengan nama Jembatan Persahabatan. Para tamu kehormatan yang pernah melewati jembatan ini antara lain, Kaisar Hirihito dari Jepang, Presiden Tito dari Yugoslavia, Ho Chi Minh dari Vietnam, serta Ratu Juliana dari Netherland.

Wisma Yudhistira merupakan tempat menginap rombongan kepresidenan maupun rombongan tamu negara. Wisma yang terletak di tengah kompleks Istana Tampak Siring ini memiliki luas sekitar 1.825 m2. Sedangkan Wisma Bima dengan luas bangunan sekitar 2.000 m2 biasanya digunakan sebagai tempat istirahat para pengawal presiden maupun pengawal tamu negara. Gedung lain yang tak kalah penting adalah Gedung Konferensi. Gedung ini sengaja dibangun untuk keperluan rapat kabinet, jamuan makan malam tamu kenegaraan, serta konferensi-konferensi penting, seperti Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) ASEAN XIV yang diselenggarakan pada tanggal 7—8 Oktober 2003 silam.

halaman depan Pura Tirta Empul

Keluar dari tempat pemandian yang berbentuk memanjang dan masih dalam kawasan istana ini, ada sebuah Pura yang cukup terkenal di Bali yang bernama Pura Tirta Empul.  Foto di atas adalah bagian halaman luar Pura.  Dari halaman ini, kita masih dapat melihat Istana yang berada di atas bukit.  Terdapat jajaran patung batu, taman kecil dan gazebo beratap rumbia yang pas banget untuk duduk-duduk.

Karena sedang berlangsung sembahyangan, saya tidak bisa masuk ke dalam area Pura.  Tapi sejauh yang saya ketahui, di dalam Pura ini terdapat sumber mata air suci yang airnya mengalir ke kolam pemandian yang disebutkan di atas.  Mata air yang disakralkan oleh masyarakat Bali ini dipercaya dapat mensucikan mereka yang mandi di sana, menyembukan penyakit, termasuk bisa membuat kita awet muda.

Saya melihat serombongan anak muda bule (laki-laki dan perempuan), mengenakan kain, dibimbing oleh pria lokal, yang sepertinya sedang mengikuti ritual mandi.  Satu persatu tertib membawa sesajen dalam sebuah tempat kecil yang biasa digunakan untuk sembahyangan.  Muka mereka tampak serius.  Pemandangan ini menjadi perhatian turis-turis Jepang.  Mereka terlihat heboh memotret sana sini sambil berkicau tanpa saya mengerti.  Dua bangsa dengan minat dan kepentingan berbeda, dipertemukan di sini.  Sementara semua warga tuan rumah (termasuk kami), cuma melihat dari kejauhan, sambil duduk-duduk santai dan menikmati rintik-rintik yang kembali turun tanpa malu-malu.  Tapi sungguh, saat itu tidak ada yang berani tertawa.  Jangankan tertawa, berkomentar aja keknya tertahan di tenggorokan.  Ngapain sebenarnya mereka itu ya?

Selesai menjadi saksi mata prosesi mandi para bule, kami menyelesaikan kunjungan ke Tampak Siring dengan melewati lorong panjang yang penuh dengan para penjual handicraft/kerajinan tangan, baju-baju khas Bali, tas, aksesoris, dan tentu saja yang tak ketinggalan adalah makanan dan minuman ringan.  Semua yang dijual hampir sama satu sama lain. Bahkan mungkin produsennya bener-benar sama karena tidak ada satu tokopun yang terlihat berbeda dari yang lainnya.

Kunci utama untuk berbelanja di tempat wisata seperti ini adalah mampu menawar dengan baik dengan kemampuan negosiasi ala emak-emak nekad.  Dan jelas itu bukan saya banget.  Untuk membeli segambreng kalung kayu dan gantungan kunci ukiran kayu yang kami rencanakan akan menjadi bahan wire jewelry, saya harus nempel terus dengan Mbak Yayuk agar proses tukar guling duit dan barang berjalan lancar hahahaha.

 

 

Facebook Comment