Perlu perjuangan menembus macet ketika ingin sampe ke sini.  Kebetulan saat itu jam-jam pulang kantor dan kami datang dari arah yang seperti tidak punya pilihan lain kecuali menerjang kemacetan yang semakin menggila di seputaran Seminyak.  Supir sudah mencoba berputar melewati area yang “diduga” less-traffic, tapi ternyata sami mawon.  Kepungan motor yang merajai jalan pun membuat kami terkantuk-kantuk pasrah menikmati sajian bumper to bumper traffic jam di depan mata.

Tapi akhirnya kelelahan ngejongkrok di dalam mobil terbayar dengan indahnya interior di restoran.  Yang pertama kali tertangkap mata ketika memasuki lantai bawah adalah suasana syahdu, cozy dan adem. Warna dinding yang kalem dilengkapi dengan kain-kain batik berwarna lembut di berbagai sisi dan ornamen. Lampu-lampu pun dibuat dari kain-kain polos broken white sehingga lampu yang terperangkap di dalamnya muncul menjadi warna yang tidak menyilaukan mata.

Menyadari di lantai bawah mulai banyak pengunjung, kami memutuskan untuk menikmati suasana di lantai 2.  Matapun dimanjakan dengan tapak tangga berhiaskan motif batik dan nama daerah asal di Indonesia yang memproduksinya.  Saya terus terang tidak begitu hafal dan atau menguasai ilmu tentang perbatikan, tapi kalau dilihat dari beberapa daerah yang sempat saya miliki batiknya, sepertinya apa yang ditulis cukup informatif.  Sungguh ide yang bernas dan out of the box.

Dari rentetan tangga terakhir menuju lantai 2, di sisi kanan mata akan disapu dengan pemandangan seperti foto di bawah ini.  Sepertinya tempat ini dikhususkan untuk reservasi grup atau tamu dalam jumlah banyak.  Dinding dihiasi dengan bingkai-bingkai yang memajang ke atas berhiaskan batik dan lukisan manusia.  Meja dengan kualitas kayu terbaik dipadankan dengan kursi panjang berdudukan kain batik.  Lampu temaram yang mengintip dari balik lukisan, menjadikan spot ini terkesan private walaupun berada tetap di sudut terbuka.

Sementara, jika kita menengok ke sebelah kiri, mata akan dihibur dengan sekian banyak lampu gantung bertumpuk-tumpuk, dibuat dalam susunan ketinggian yang berbeda-beda, dan ukuran yang tidak sama satu dengan lainnya.  Di bawah gantungan lampu inilah, kita bisa melihat bar yang panjang, rapih dan tertata.

Berada di lantai 2, pemandangan yang tak kalah stunning pun menyambut kami.  Dining area yang memberikan kesan hommy begitu kental terasa.  Dan sesuai dengan tajuk BATIK yang digunakan dalam penamaan tempat ini, lagi-lagi ornamen batik menyebar di sana sini.  Kain indah yang sudah tercatat sebagai heritage dunia dari Indonesia ini pun, begitu mendominasi setiap sudut mata memandang.  Mulai dari seat cushion, cover lampu meja, sampai outfit yang dikenakan oleh 2 patung manusia yang tergantung di dinding.  Pilihan warna batiknya pun hadir dengan tone yang tidak mencolok, sehingga menyatu dengan furniture kayu dan meja marmer yang bertebaran di sana sini.  Di salah satu dinding terdapat tulisan LOVE BATIK.  Sayang, tulisan ini tidak terlalu menonjol karena lampu sorot yang menyinari tulisan terlalu terang.

suasana resto di lantai 2
suasana resto di lantai 2

Dengan suasana seperti ini, tentunya teman-teman sudah bisa menebak bahwa restoran ini pastinya bebas dari asap rokok.  Tapi jangan khawatir.  Buat para ahli hisap, di lantai 2 ini disediakan teras terbuka dengan beberapa tempat duduk tinggi dengan meja kayu yang cukup representatif untuk sekedar ngobrol-ngobrol.  Teras ini terhubung dengan bagian dalam lantai 2 melalui pintu-pintu kaca.  Walau hanya berukuran kecil, jangan remehkan teras ini loh.  Karena di sinilah kita bisa menebarkan pandangan ke semua tetangga-tetangga resto dari sisi yang lebih tinggi tentunya.  Persis di depan resto, ada beberapa cafe dengan live music, yang ternyata jadi bonus hiburan nongkrong-nongkrong dari atas sini.  Lampu-lampu jalan dan orang lalu lalang juga nyatanya bisa jadi hiburan tersendiri.

teras tempat nongkrong dan smoking area di lantai 2
beberapa tempat nongkrong di seberang resto

Kembali ke bagian dalam lantai 2, di salah satu sisi paling kiri dari arah tangga, disediakan bar untuk para pengunjung.  Setting yang minimalis menyatu dengan konsep dekor lantai ini secara keseluruhan.

mini bar yang berada di lantai 2

Gak afdolf jika membahas resto tapi tidak ngomongin soal menunya.  Resto yang berlokasi di Jl. Kayu Aya – Oberoi ini menghidangkan berbagai menu dari 3 negara yaitu: Thailand, Vietnam, dan tentu saja Indonesia.  Kami bertiga mencoba sup yang berbeda-beda. Saya mencicipi soup ikan khas Vietnam. Sementara 2 teman saya mencoba Tom Yam ala Thailand dan sup ayam milik Indonesia.  Dari ke-3 sup yang kami pesan, ternyata pesanan saya lah yang terbaik rasanya.

Yang harus diperhatikan oleh teman-teman jika ingin memesan sup di sini adalah harus memesan nasi karena ternyata nasi, yang biasanya melengkapi hidangan sup, tidak langsung masuk dalam 1 paket.  Buat yang pengen makan kenyang, sepertinya nasi dengan daging rendang, lebih pas untuk diorder.  Ini setelah ngintip pesanan bule sebelah meja hahahaha.

Kembali ngomongin soal sup kami tadi, sepertinya koki dan tim dapur harus belajar lagi soal tata hidang makanan.  Untuk semangkuk sup tanpa nasi dengan harga di atas 50K, alangkah baiknya jika isi lebih banyak dari kuahnya dan terhidang cantik dalam piring besar dengan bagian tengah yang cekung dan dalam, ketimbang mangkok tinggi tapi sempit.  Jadi ketika sampai di meja kami, terus terang, out look alias penampakan makanannya kurang mencuri perhatian layaknya restoran-restoran bergengsi dan memiliki rating tinggi di Trip Advisor.

 

 

Satu sudut yang terlewatkan ketika melewati lantai 1 adalah pojokan sebelah kiri pintu masuk utama.  Ketika melangkah keluar, saya mendapatkan meja dengan tumpukan buku berisi informasi mengenai Bali dan beberapa kain khas Bali (bukan bertemakan kotak-kotak hitam putih seperti biasa) dengan sebuah kursi yang sepertinya memang dipersiapkan untuk menunggu jika resto masih penuh pengunjung.

pojokan untuk menunggu dan display buku serta kain khas Bali

Sambil menunggu mobil kami menjemput (karena tidak ada tempat parkir mobil di depan resto), saya sempat mengabadikan resto dari seberang jalan.  Teras di lantai bawah terlihat penuh pengunjung.  Walaupun berada berhadapan langsung dengan jalanan, privacy mereka tetap terjaga dengan adanya beberapa pohon palem mini yang ditempatkan di antara teras dan trotoar untuk lalu lalang pelancong.

resto tampak luar

BATIK restaurant and Bar, yang baru buka pada April 2016, menurut saya, layak untuk dijadikan tempat makan bersama dengan seluruh keluarga, terutama yang masih memiliki anak-anak balita.  Suasana yang tenang dan bebas asap rokok di bagian dalam, tentunya memberikan kenyamanan tersendiri bagi keluarga.  Lokasinya pun tidak susah untuk diraih.  Apalagi di seputaran resto banyak hotel yang bisa dijangkau dengan hanya berjalan kaki.

BATIK RESTAURANT AND BAR | Jl. Kayu Aya, Oberoi, Seminyak, BALI | Telp.: +62-361-735-171 | IG @BATIKRestaurantBar | Open 11:00 a.m – 12:00 a.m

11 COMMENTS

    • Hahahahaha. Betul. Apalagi foto bareng patung2 yang capek gantung badan di dinding.

      Rata2 memang over-rated. Termasuk sup yang aku dan kawan2 pesan. Untuk skala banding dengan resto setara, mungkin gak terlalu berbeda. Cuma cara penyajian mereka yang masih harus direview ulang

  1. Penny’s husband isn’t willing to talk about their sexless marriage
    or go to counseling. Penny has sought therapy on her own, which has allowed her to realize that the problem isn’t about her or how attractive she
    is.
    sex Toys for couples

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here