Siapa yang gak tau dengan destinasi wisata yang satu ini? Kalau kita menghubungi semua Tour & Travel di Bali, Garuda Wisnu Kencana Cultural Park (GWK) pasti masuk di daftar tempat yang wajib kunjung selama berlibur di pulau Dewata.  Begitupun ketika saya diminta oleh teman-teman WNA yang pertama kali menginjakkan kaki di Bali.  Nama GWK pasti masuk di dalam 5 besar tempat yang saya referensikan selain Tana Lot, Tampak Siring, Bedugul dan Pura Ulundanu, serta Campuhan.  Kelima venue yang menurut saya telah melewati sekian banyak cerita panjang, terus berubah menjadi semakin baik dari waktu ke waktu, terjaga keindahan dan kebersihannya, serta sarat akan sejarah ataupun prestasi.

Baca juga : Mandi Awet Muda di Tampak Siring | Bali

Setelah sekian tahun tidak mengunjungi GWK, ada 3 alasan khusus saya ingin segera mampir lagi kemari.  Pertama, karena sekarang GWK sudah punya patung megah yang baru diresmikan.  Kedua, Dewi, travel mate saya kali itu, belum sama sekali menginjakkan kaki di sini.  Ketiga, saya belum pernah menuliskannya di blog ini.  Semua hal yang memberikan dorongan kuat dan begitu memberikan semangat walaupun udara panas nauzubillah menghantam kami tanpa ampun pagi itu.

Jadilah, setelah hampir 1 jam mampir ke Bubba Gump yang berjarak hanya beberapa langkah dari Yan’s House Hotel tempat kami menginap, langkah-langkah lebar mengantarkan kami bersegera berkendara menuju daerah Uluwatu, Ungasan, Kuta Selatan, dimana GWK berada.

Baca juga : Yan’s House | Hotel di Kuta Bali Berkonsep Boutique | Strategis, Nyaman, dan Berkualitas

Menyentuh jalanan yang mulai menanjak 15 menit kemudian, patung baru GWK semakin terlihat.  Memasuki area parkir yang tampaknya bisa menampung puluhan bis dan mobil-mobil kecil, patahan-patahan bukit kapur yang menjadi ciri khas GWK, begitu indah terlihat.  Di tempat ini juga kita bisa membeli tiket masuk seharga Rp 80.000,-/orang yang digantikan dengan gelang kertas berwarna merah dan bertuliskan GWK.

Yuk mari kita kemon!!

Melewati rangkaian anak tangga, sebelum meraih pintu utama, pengunjung diajak untuk melewati shopping arcade yang kaya ragam.  Mulai dari toko fashion, tempelan kulkas, materi dekorasi, aneka kerajinan tangan, warung jajan dan tentu saja topi-topi cantik dengan berbagai warna.  Saya dan Dewi awalnya hanya iseng bertanya harga topi.  Secara ya biasanya kalau di tempat-tempat wisata yang megah harga produk lebih mahal dari biasanya.  Tapi ternyata, harganya yah sama aja dengan tempat-tempat lain.  Tinggal pinternya kita nawar aja sih.  Kami memutuskan untuk membeli topi lebar seharga Rp 50.000,-/buah karena kebayang gimana menantangnya matahari di banyak ruang terbuka GWK.  Dewi malah sempat membeli tas etnik Ate yang lagi happening di Bali.  Harganya? Jauh lebih reasonable dibandingkan dengan jenis yang sama kami lihat di daerah Ubud.

 

Oia, selain toko-toko kecil sepanjang jalan, ada 2 outlet besar yang berada di pintu masuk dan keluar.  Kencana Souvenirs and Photo Studio dan Sarinah.  2 brand ternama di Bali dan Indonesia yang menyajikan produk-produk kerajinan berkualitas dan yang pasti adem dan nyaman buat berlama-lama.

Tak jauh setelah melewati beberapa toko-toko yang menggoda iman, di satu tempat terbuka ada patung replika GWK yang baru.  Berfoto di sini kita mendapatkan 2 pemandangan patung baru sekaligus replikanya dalam 1 frame.  Lompatan-lompatan air mancur dan langit cerah berwarna biru semakin menyempurnakan hasil potret kami siang itu.

 

Melanjutkan perjalanan, suara nyaring gamelan Bali menyapa telinga.  Waaah keknya ada pertunjukan tari nih.  Bener aja.  Diarahkan memasuki sebuah gerbang kecil, kami memasuki Amphiteather megah yang sudah dipenuhi oleh ratusan pengunjung.  Walaupun sempat ketinggalan sekitar 1/2 pertunjukkan, saya dan Dewi memutuskan untuk tetap menonton penampilan energik gamelan dan tari Bali plus berfoto bersama beberapa penari.

 

Sekitar 15 menit menikmati suguhan budaya yang tetap dilestarikan ini, kami memutuskan untuk rehat sebentar di sebuah foodcourt yang berada persis di gerbang kecil menuju komplek Wisnu Plaza.  Usai menunjukkan gelang merah yang kami pakai, penjaga meminta kami memakai kain kuning panjang sebagai persyaratan untuk masuk.  Sementara untuk tamu yang mengenakan celana pendek, diwajibkan memakai sarung Bali yang cantik penuh warna.

Melangkah masuk, kami menemukan taman dan kolam hijau yang menampung air suci dan diberi nama Parahyangan Somaka Giri .  Taman ini tampak hijau dan asri dilengkapi dengan berbagai patung, guci, pohon-pohon, dan ukiran batu kura-kura kesukaan Dewi.   Tangga berkelok yang lumayan tinggi mengantarkan kami dari taman di bagian bawah menuju Patung Wisnu yang sampai saat ini belum bertangan.  Patung ini tampak bersih, terawat, dengan tinggi sekitar 20m.  Dari ketinggian Wisnu Plaza tampak hijaunya daerah Uluwatu dan menjamurnya hotel serta rumah-rumah yang berada di sekitar GWK.  Di salah satu sisi, kita juga bisa melihat Garuda Plaza dan patung GWK baru serta Lotus Pond, sebuah lapangan terbuka yang sangat luas dan sering digunakan untuk perlehatan-perlehatan bergengsi berskala internasional.

 

Selesai menghamburkan kekaguman megahnya GWK lewat Wisnu Plaza, kami menuruni tangga menuju Garuda Plaza.  Patung burung Garuda yang didominasi oleh bagian kepala yang tergeletak ini, kini dilengkapi dengan spot foto berupa sarang burung kayu dengan 3 buah telur besar berwarna putih.  Diletakkan di satu posisi yang pas banget seolah-olah menggambarkan telurnya burung (patung) Garuda.  Pengunjungpun antri bergiliran untuk megabadikan diri di salah satu spot foto terbaik GWK. Saya juga doooonggg.

Menuruni tangga tinggi dan lebar yang berada persis di depan Garuda Plaza, sekarang terlihat 2 lapangan besar yang dipisahkan oleh potongan bukit-bukit kapur.  Di sisi kiri tampak patung baru GWK karya pemahat terkenal Nyoman Nuarta.  Patung setinggi 120m dengan 24 ruas/lapisan/potongan dan 754 modules berlapis tembaga ini kabarnya dikerjakan di Bandung untuk kemudian diangkut dengan 300 unit truk ke Bali melalui jalan darat.

Patung Dewa Wisnu yang tampak gagah menunggangi burung Garuda ini diclaim sebagai bangunan ke-3 tertinggi di dunia, setelah Menara Eiffel dengan tinggi 301m dan Piramida Mesir yang tercatat setinggi 139m.  Luar biasa!!

Diresmikan beberapa hari sebelum kedatangan kami, euforia keberadaan patung GWK yang baru ini begitu terasa di setiap jengkal foto.  Para pengunjung tampak tak henti-henti mencoba mengabadikan patung yang menjadi kebanggaan masyarakat Bali khususnya dan tentu saja rakyat Indonesia pada umumnya.  Menjadi bagian dari total luas keseluruhan 60 hektar, patung GWK yang baru ini meninggalkan kesan yang tak terlupakan bagi siapapun yang mengaguminya.

Ada sebuah lapangan besar persis di bawah kaki patung baru ini, tapi angin kencang dan panas terik justru malah mengganggu pengamibilan gambar.  Jadilah siang terik itu kami hanya berpose dari kejauhan tertentu, diantara potongan batu kapur, dengan tentu saja tetap menampilkan gagahnya Dewa Wisnu bersama Garuda.

 

 

Kehausan, kelaparan, kepanasan dan rencana mengejar sunset akhirnya menghentikan kunjungan kami ke GWK.  Ada satu niatan saya yang belum kesampaian adalah menonton konser musik di tempat ini.  Dengan tata ruang yang apik dan megahnya GWK secara keseluruhan, saya yakin mahakarya apapun yang dihadirkan di sini akan sarat pujian dan decak kagum bagi siapapun yang hadir.

Baca juga : Bubba Gump Shrimp & Co. | Tempat Nongkrong Asyik di Kuta | Bali

 

Garuda Wisnu Kencana Cultural Park | Jl. Raya Uluwatu, Ungasan, Kuta Selatan, Badung 80364, BALI | www.gwkbali.com | FB Garuda Wisnu Kencana Cultural Park | IG @gwkbali | Email: info@gwkbali.com | Opening Hours 08:00 – 22:00 WITA

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here