Menghabiskan satu hari perjalanan dan keliling Ternate, kemudian satu hari terbang ke Daruba dari Ternate plus berkeliling Daruba, malam ketibaan kami di ibukota Morotai disambut dengan hujan deras hingga sehabis subuh.  Saat itu saya sempat khawatir jadwal berlayar yang telah diatur untuk keesokan hari (13 Agustus 2017) akan tertunda jika hujan tidak berhenti.  Tapi alhamdulillah, berbarengan dengan munculnya matahari, langit cerahpun akhirnya menyambut kami dengan sukacita, bahkan saking hangatnya, mata harus micing-micing ngeliat air laut.  Silau dan terik luar biasa.

Baca juga: Trip to Morotai | Pengalaman Penuh Kesan Antara Jakarta ke Ternate

THIS IS THE DAY!! Saat yang sudah saya tunggu-tunggu.  Menjelajah beberapa pulau indah milik Kabupaten Pulau Morotai dan mengabadikan kecantikannya dalam bingkai kamera saya plus 1 unit drone yang sudah kami siapkan dari Jakarta.

Pagi itu, setelah menikmati sarapan nasi kuning khas Maluku, kami berjalan kaki dari hotel menuju dermaga ferry, yang jaraknya hanya sekitar 300meter.  Panas terik pagi itu bener-bener bonus setelah semalaman hujan deras.  Saking sangarnya matahari, baru jalan 100meter, keringet sudah bercucuran, rambut lepek, dan bedak mulai luntur.

Dalam hitungan menit saya berharap bahwa butir-butir air yang merajang di muka dan sekujur tubuh inilah yang melunturkan seluruh makanan yang sudah menggila tergiling dalam lambung saya.  Siapa tau justru di saat seperti ini, doa-doa saya untuk meringankan tubuh dijawab dan dikabulkan oleh Allah.  Setidaknya adalah 2-4kg lemak dengan ikhlas menghancurkan diri, terbawa menjadi peluh besar-besar sebiji jagung.

Sambil menunggu Ko Sofyan yang masih harus terpanggang upacara di lapangan kantor Kementrian Pekerjaan Umum, saya menjelajah seputar pelabuhan dan menyaksikan kegiatan-kegiatan perekonomian di sini.  Dari seorang bapak yang ramah, saya mendapatkan informasi bahwa jika ingin menyewa speed boat menuju beberapa pulau (sekitar 4-5 pulau), wisatawan akan dikenakan biaya sebesar Rp 800.000,-/hari.  Sementara untuk keliling banyak pulau (atau sewa sekitar 8jam), kita harus merogoh kocek sebesar Rp 1.200.000,-/hari.  Ini sudah termasuk bensin/solar selama perjalanan.

Di ujung dermaga, terlihat hampir 10-12 buah speed boat terparkir rapih, dan terayun-ayun ringan terbawa sentuhan akhir ombak.  Sementara di sisi yang lain tampak sebuah kapal ferry besar yang sedang menurunkan angkutan.  Segala jenis kendaraan turun satu persatu.  Mulai dari kendaraan roda dua, roda empat, sampai truk besar yang mengangkut berbagai kebutuhan pokok, bahan bangunan, dan sebagainya.  Beberapa kapal besar seperti ini secara berkala berlabuh di sini berasal dari Ternate, Jailolo, dan Tobelo.

Geliat kehidupan sangat terasa dari tempat kami mengobrol.  Seperti beberapa paham ekonomi yang saya baca di beberapa buku, jika ingin melihat wajah sebuah daerah, datanglah ke pasar tradisional dan titik-titik kedatangan sumber kebutuhan hidup seperti pelabuhan.

Baca juga : DARUBA | Kota Kecil | Kaya Wisata di Morotai

Tepat pkl. 10:00wit, sesuai janji, sebuah speed boat dengan daya tampung kurang lebih 15orang dan memiliki 3 mesin, melaju kencang membawa kami menuju Pulau Dodola, Pulau Kokoya, Pulai Maita, Pulau Pasir Timbul, dan Pulau Zum Zum Douglas Mac Arthur.  Rangkaian pulau-pulau inilah yang menjadi andalan tujuan wisata Morotai dan masuk dalam 1 dari 10 tujuan wisata andalan 2017.

 

PULAU DODOLA

Pulau ini terdiri dari 2 bagian.  Yaitu Pulau Dodola Besar dan Pulau Dodola Kecil.  Antar pulau terhubung dengan pasir timbul yang baru akan sempurna terlihat ketika waktu sudah melewati tengah hari.  Jika tampil menyambung dan difoto dengan menggunakan drone, kedua pulau ini melengkung seperti pisang.

Kami menepi di Pulau Dodola Besar karena bagian inilah terdapat kehidupan.  Selain tersedia beberapa rumah panggung yang bisa disewa, fasilitas mck, restoran atau lebih tepatnya warung penjaja makanan dan minuman, pihak pengelola Dodola juga menyediakan berbagai water sport seperti banana boat dan jet ski.  Buat kami yang merasakan kerongkongan kering karena melaut selama 30menit, kelapa muda ternyata bisa melepaskan dahaga.

Dari tempat saya berdiri, di sisi kiri, tampak dermaga kayu yang cukup besar dan panjang. Jika jumlah pengunjung membludak, biasanya semua perahu harus ditambat di sana, sehingga tidak menggangu pengunjung yang ingin berenang di pantai atau snorkling ringan.  Ketika mengambil beberapa foto di titik ini, saya merasakan haru yang luar biasa.  Alam sepertinya sangat bersahabat.  Biru langit dan gumpalan awan tampak begitu sempurna.  Setiap jepretan menjadi begitu istimewa.  Tak ada kata yang bisa mewakilkan apa yang bergumul di hati saya saat itu.  Kecuali puji syukur karena akhirnya saya berada di satu tempat yang menjadi mimpi saya.

Bagian daratan dari Pulau Dodola Besar. Banyak tempat duduk tersedia untuk wisatawan. Di bagian kiri (sedikit terfoto) ada rumah-rumah panggung dan warung yang menyediakan minuman dan makanan ringan

 

 

Pohon kelapa, pohon pinus, dan beberapa tanaman berdaun tebal, tampak tumbuh subur di pulau ini. Bangunan-bangunan yang tersedia di dalam pulau 90% terbuat dari kayu-kayu yang terlihat kokoh menahan terpaan angin dan udara panas khas wisata bahari.  Karena sudah tumbuh besar dan tinggi, pohon-pohon ini benar-benar menjadi atap alam selama kita beristirahat di bangku dan kursi-kursi yang bertebaran di sana sini.

Saya berdiri di ujung Pulau Dodola Besar dengan latar belakang pasir timbul dan Pulau Dodola Kecil

 

PULAU MATITA

Lepas dari rasa kagum yang belum habis setelah meninggalkan Pulau Dodola, sekitar 10menit kemudian kami tiba di Pulau Matita.  Pulau tidak berpenghuni ini, walaupun kecil dan hanya ditumbuhi tanaman liar, tetap tidak bisa menyembunyikan kecantikannya.  Berpantai kecil dengan dermaga kayu yang sangat sederhana, pulau ini sungguh photogenic.  Di foto dari sisi manapun, nyatanya tak ada satupun foto yang gagal.  Saya dimanjakan dengan gradasi warna air laut yang indah tak terbantahkan yang kemudian berpadu sempurna dengan awan tipis dan biru langit bak lukisan.

 

 

 

PULAU PASIR TIMBUL

Besar pulau ini tidak lebih dari 800m2.  Karena berada di tengah lautan dan menjadi titik akhir air laut yang mengepung, pasir yang ada banyak bercampur dengan remah-remah atau potongan-potongan kayu, serta kerang-kerang dan hewan-hewan laut lainnya.  Jadi sangat dianjurkan agar tidak bertelanjang kaki ketika menginjak tempat ini.  Menurut info pendamping kami, walaupun hanya berupa tumpukan pasir tinggi, pulau ini tidak pernah terbenam ketika laut pasang.

 

 

PULAU KOKOYA

Mendengar namanya, saya langsung teringat dengan perbendaharaan kata Jepang.  Dan memang benar, Morotai mempunyai sejarah khusus dengan negara berbendera dot merah tersebut.  Dari cerita beberapa sumber yang dapat dipercaya dan beberapa tulisan, seorang tentara Jepang, Teuro Nakamura, sempat bersembunyi sekian lama di dalam hutan karena menghindar dari serangan pasukan Sekutu yang merebut Morotai dalam Perang Dunia II.

Nakamura sempat hidup di dalam hutan selama 30tahun hingga akhirnya ditemukan oleh penduduk setempat, mereka bersahabat, dan Nakamura bisa menyambung hidup berkat bantuan sahabat ini. Waktupun berlalu, hingga akhirnya Nakamura dijemput oleh TNI AU di desa Pilowo, desa dimana Nakamura hidup selama ini.

Baca juga : Kisah Nakamura | Prajurit Jepang Yang Bersembunyi di Morotai

Mengapa saya tetiba teringat kisah itu? Karena dari serangkaian pulau yang kami kunjungi, Pulau Kokoya adalah salah satu yang memiliki air tanah dan dapat dihuni penduduk.  Pulau kecil ini sudah menjadi milik pribadi (sebuah keluarga) dan ketika saya tiba ada banner besar yang menandakan bahwa pulau ini dalam proses persidangan hak milik.

 

PULAU ZUM ZUM – Mac ARTHUR

Zum Zum (sering ditulis Sum Sum) adalah pulau terakhir yang kami kunjungi, karena  letaknya yang hanya 10menit berlayar dari Daruba.  Pulau yang sebagian pinggir pantainya adalah hutan mangrove ini adalah pulau favorit Douglas Mac Arthur yang memimpin pasukan Sekutu untuk mengambil alih penguasaan Indonesia Timur selama Perang Dunia II.

Meninggalkan jejak beliau, akhirnya dibangunlah patung Douglas Mac Arthur dan nama beliau pun diabadikan sebagai nama pulau mengiringi nama asli Zum Zum.  Jadi, jika kita merapat ke salah satu sudut pulau, kita dapat melihat tulisan ZUM ZUM Mc ARTHUR ISLAND yang dipasang berdekatan dengan patung beliau.

 

Patung setinggi 20meter yang dibangun pada 2012 ini, juga menuliskan profil dari Jendral angkatan darat Amerika ini dalam sebuah prasasti.  Diceritakan singkat bagaimana beliau menguasai Morotai yang dulu dianggap sebagai tempat yang sangat strategis untuk menghadapi pasukan musuh, terutama Filipina yang berada tidak jauh dari Morotai.  Peninggalan sejarah mengenai Mac Arthur dan pasukannya juga disimpan di Museum Perang Dunia II yang ada di Daruba.  Hanya sayang karena keterbatasan waktu, kami tidak sempat mampir ke museum ini.

Mengelilingi salah satu sudut pulau, saya melihat beberapa rumah kayu dan pondokan-pondokan yang sudah ditinggalkan.  Jika menurut cerita yang saya dengar bahwa Zum Zum menjadi pulau favorit Mac Arthur dan tinggal di sini adalah benar, berarti pulau ini memiliki sumber air untuk kebutuhan sehari-hari.

Salah satu rumah kayu yang terdapat di pulau Zum Zum

 

Menjorok di bibir pantai, kita dapat melihat 2 dermaga yang berdiri saling berdampingan.  Dermaga lama memiliki 2 tiang di bagian ujung daratan dan terlihat kayu-kayu ijakannya mulai rontok.  Meskipun begitu, tempat ini sungguh indah untuk difoto.  Sementara untuk dermaga baru, pulau ini menyediakan sebuah pondokan besar yang sangat teduh dengan tumbuh beberapa pohon besar di sekitarnya.

Dermaga Lama
Dermaga Baru

Tim kami berbincang agak lama di pulau ini.  Banyak cerita sejarah yang saya dengarkan dari para pendamping kami dan apa harapan-harapan terbaik mereka untuk Morotai esok hari dan di tahun-tahun yang akan datang.  Tak hanya di sini, selama mengikuti perjalanan penuh makna selama 4hari 3malam, Morotai sangat layak untuk diberi gelar Surganya Indonesia Timur.  Semoga rangkaian investasi yang akan mampir ke Kabupaten ini, yang terus bergeliat dari hari ke hari, membawa banyak manfaat bagi negara dan bangsa, dan tentu saja bagi masyarakat setempat.

 

 

 

 

 

Facebook Comment