

The King’s Warden. Sejarah Kelam Mengharukan Danjong. Raja Keenam Korea | Film Review | Mei 2026
Sehari setelah film The King’s Warden meluncur di tanah air, seorang teman langsung mereferensikan film saeguk yang satu ini. Pujiannya selangit dan meminta saya segera menonton dan membuatkan ulasannya. Sebuah produk sinema sejarah yang menghadirkan kehidupan kelam mengharukan Danjong, Raja keenam Korea.
Usai meraup penjelasan sang teman yang seluas samudra itu, saya langsung menyusur beberapa tautan tentang film The King’s Warden, menggali para aktor yang terlibat, dan membaca beberapa ulasan dari beberapa tautan online yang dominan lebih pada kesimpulan. Hingga akhirnya di satu waktu saya menikmati film ini berulang kali karena tersentuh dengan bagaimana Danjong, raja keenam Korea ini ditumbangkan, dibuang/diasingkan di usia 12 tahun kemudian mengakhiri hidupnya di usia 16 tahun di satu desa terpencil.
Selain karena sangat menyukai drama Saeguk, dorongan kuat untuk nonton film ini kemudian lahir karena per pertengahan April 2026, The King’s Warden mencetak enam belas juta penonton dengan prestasi sebagai film kedua terlaris, serta tercatat sebagai salah satu film box office di Korea Selatan dengan pendapatan sekitar USD 103 juta atau setara dengan IDR 1,68 Trilyun per 6 April 2026.
Sungguh mengesankan!!
Tokoh Utama yang Tampil
The King’s Warden menghadirkan lima tokoh utama. Siapa saja mereka?
Yoo Hae-jin (Hae-jin)
Aktor chungmuro Yoo Hae-jin (Hae-jin) yang berperan sebagai kepala desa Eom Heung-do (Heung-do) saya letakkan di level teratas dari ulasan ini.
Yang senang nonton drakor dan tahu makna chungmuro tentu sudah paham Hae-jin itu aktor di level apa. Lakonnya? Beh, jangan ditanya. Keren maksimal. Patut banget dapat pujian. Tampil dengan ekspresi yang natural, kelihatan betul bagaimana Hae-jin sangat pas untuk mengambil posisi sebagai salah seorang tokoh utama dari keseluruhan cerita.
Perannya sebagai kepala desa, meletakkan Heung-do menjadi perpanjangan tangan dari penguasa saat itu. Dia diwajibkan lapor ke pemerintah pusat tentang bagaimana keberadaan Danjong setiap bulannya. Sementara di lain pihak dia juga menjadi andalan warga desa untuk mendapatkan hidup yang lebih baik sejak mereka memutuskan menjadi desa yang menampung orang-orang terbuang.
Park Ji-hoon (Ji-hoon)
Pangeran Nosan/Nosangun atau Raja Yi Hong-wi (Raja Danjong) diperankan oleh Park Ji-hoon seorang mantan anggota sebuah boyband. Menilik wajahnya yang terlihat masih sangat muda (baca: imut-imut), pemilihan Ji-hoon terasa begitu pas. Sempat bermain di banyak drakor, acting Ji-hoon untuk The King’s Warden benar-benar maksimal. Mulai dari sorot mata dan aura wajah depresi saat dia berada di dalam tandu, diantar ke desa Cheongnyeongpo, di mana dia diasingkan hingga berubah menjadi remaja yang ceria dan begitu menghargai makna hidup. Representasi peran raja yang tertekan secara mental yang dibebankan kepadanya, dapat dia jalankan dengan ekspresi, paras, sorot mata, dan gerak tubuh dengan sebaik-baiknya.
Good job Ji-hoon. Saya yakin setelah The King’s Warden ini tawaran kerja sama untuk main layar lebar bakal berhamburan.
Yoo Ji-tae (Ji-tae)
Yoo Ji-tae selain berprofesi sebagai aktor senior, dia juga adalah seorang sutradara. Untuk The King’s Warden Ji-tae berperan sebagai Han Myong-hoe (Myong-hoe). Dipanggil juga sebagai Pangeran Suyang.
Myong-hoe adalah paman dari Danjong. Tokoh ini adalah orang yang menggulingkan tahta Danjong dari singgasana sebagai raja ke-6 dari Korea. Myong-hoe saat itu memiliki pengaruh kuat pada sistem pemerintahan kerajaan dan dia jugalah yang mengkhianati Danjong dengan melancarkan fitnah keji hingga orang-orang yang setia padanya dihukum mati. Karena peristiwa ini jugalah Myong-hoe jadi punya alasan kuat untuk mengusir Danjong dari istana dan dibuang ke desa Cheongnyeongpo.
Di tahap awal melihat Ji-tae muncul dalam salah satu scene, saya tidak sempat mengenali beliau. Karena di The King’s Warden ini Ji-tae terlihat (jauh) lebih gemuk, tambun, dengan proporsi tubuh yang jauh berbeda saat saya melihat Ji-tae di banyak drama sebelumnya. Tapi yang pasti gerak tubuh dan sorot kekejaman dari matanya yang sipit, sangat berbicara sepanjang film berlangsung.
Jeong Mi-do (Mi-do)
Mi-do satu-satunya aktor perempuan yang mendapatkan slot akting yang besar untuk The King’s Warden. Mi-do memerankan tokoh Mae-hwa. Pengasuh, pendamping, dan pelayan utama Danjong. Perempuan ini juga lah yang menemani sang raja dalam setiap titik penting kehidupannya.
Mengurus apapun yang dibutuhkan oleh Danjong, Mae-hwa jugalah yang menyaksikan bagaimana sang raja jatuh pada tekanan jiwa serta pikiran berat, tidak mau makan, hingga fisiknya melemah. Mae-hwa juga menemani Danjong tinggal di desa Cheongnyeongpo. Mengurus semua keperluan sang raja muda dan bekerja sama erat dengan Heung-do, sang kepala desa.
Mi-do, aktris yang populer lewat drama Hospital Play List ini, diakui setara dengan aktris-aktris lain yang berada di papan atas serta layak dan memiliki kualitas chungmuro. Meski gelar itu belum tersemat di namanya.
Lee Jun-hyuk (Jun-hyuk)
Lelaki berwajah dan bermata lancip ini berperan sebagai Pangeran Agung (Daegun) Geumseong. Gelar Pangeran Agung biasanya diberikan anak lelaki seorang raja yang lahir dari permaisuri (istri sah/utama) tapi dia bukanlah pewaris tahta.
Geumsong sesungguhnya sangat membenci Myeong-hoe, sang paman yang telah mengkhianati dan membuang Danjong. Dengan kekuatan terbatas yang dia miliki, Geumseong mengumpulkan banyak pihak yang tetap setia pada Danjong. Mereka merencanakan sebuah rangkaian penyelamatan dan mengembalikan tahta sang raja sembari menjatuhkan sang paman, Myeong-hoe.
Jun-hyuk sendiri tercatat sebagai aktor dengan masa depan yang menjanjikan. Selain fisiknya sangat menarik, Jun-hyuk sering mengambil bagian penting dalam banyak film dan drama yang (sangat) populer di Korea seperti Stranger, Love Scout, City Hunter, dan masih banyak lagi. Kemampuan aktingnya solid dan sering mengambil peran berbeda-beda untuk mematangkan statusnya sebagai the next chungmuro.


Sejarah Kelam Mengharukan
Film dibuka dengan rangkaian kejadian penghukuman kepada pengikut Danjong. Teriakan, jeritan menyayat hati, dan pertumpahan darah terjadi dimana-mana. Mereka ini akhirnya dipancung/dibunuh setelah disiksa sekejam mungkin kemudian kepalanya digantung di jalan keluar istana.
Sementara di sebuah sisi utama kerajaan, duduklah Danjong, raja muda berusia 12 tahun yang depresi dengan tampilan carut-marut serta tak mau makan sama sekali. Dia berteriak-teriak, mengamuk, hingga akhirnya disidang oleh Myong-hoe. Paman yang keji dan menginginkan Danjong dibuang di sebuah tempat terpencil. Tujuannya pamannya cuma satu. Jadi penguasa tunggal dan orang paling berpengaruh di sepanjang masa. Plus tentu saja merebut tahta yang dipegang oleh Danjong.
Hingga akhirnya, dengan pengawalan sederhana dan ditemani oleh Mae-hwa sang pengasuh, Danjong berangkat ke desa Cheongnyeongpo. Di desa ini dia tinggal di sebuah rumah kecil dengan pengawalan seadanya yang dikontrol oleh Heung-do, sang kepala desa.
Awalnya Heung-do tidak menyadari bahwa orang yang dipanggil dan dikenalkan sebagai Nosan ini adalah Raja Danjong yang baru saja dijatuhkan tahtanya. Tapi karena sudah berjanji akan menjaga orang buangan bangsawan yang dititipkan oleh pemerintah pusat, dia pun selalu berusaha menjaga amanah dan mendekatkan diri kepada “tawanan” yang dititipkan di desa yang dia pimpin.
Heung-do sendiri sesungguhnya hanya berharap agar isu bahwa jika ada desa yang mau menjaga seorang buangan, niscaya desanya akan berubah makmur. Heung-do sangat tertarik mengingat bahwa desanya kering, rakyatnya miskin, dan jauh dari kata sejahtera. Merasa bahwa ini adalah kewajiban dan tanggung jawabnya sebagai seorang kepala desa, Heung-do pun memberanikan diri mengusulkan desanya sebagai salah satu tempat pembuangan bangsawan.
Saat Danjong tiba, Heung-do selalu berusaha membangun komunikasi dan hubungan baik dengan sang raja terbuang. Dia memanjakan sang tamu dengan aneka makanan lezat dan sering kali mengajak Donjong bergurau agar perangai dan detak hidupnya berubah.
Dan itu ternyata tidaklah mudah.
Hingga di satu waktu berkat kesabaran, ketelatenan, selalu menyemangati Danjong, sang raja akhirnya berubah tahap demi tahap. Dari yang dulu tak mau makan dan selalu menyendiri berubah menjadi periang dan mau berbaur dengan masyarakat. Danjong yang semula tak yakin pada dirinya sendiri, akhirnya malah disemangati oleh Heung-do saat berhasil menyelamatkan warga yang terjebak pada serangan harimau yang datang tiba-tiba. Dia berhasil membunuh si harimau dengan panahnya. Kejadian inilah yang membuat Danjong semakin kuat, lepas dari depresi, dan merasakan dirinya berarti.

Saya sangat menikmati masa transisi yang terjadi pada Danjong.
Dari seseorang yang bergulat dengan serangkaian tekanan emosional, perlahan berubah menjadi membuka diri, sering bertukar pikiran dengan Heung-do, sering tersenyum dan ikut tertawa, hingga bisa menemukan dan membangkitkan kembali kepercayaan dirinya yang sempat terkubur dalam-dalam.
Kehadiran Danjong di desa itu pun memberikan manfaat banyak bagi warga desa Cheongnyeongpo. Warga bisa merasakan banyak hadiah yang diberikan oleh rakyat Korea yang masih mendukung Danjong. Mulai dari hasil kebun, bahan makanan mentah, lauk-pauk yang bergizi, dan bertumpuk-tumpuk kue serta hadiah lainnya. Lelaki mantan raja ini pun tak segan mengajari anak Heung-do agar mendapatkan banyak ilmu pengetahuan yang sempat dia dapatkan saat masih tinggal di istana. Termasuk belajar huruf Hangeul yang diciptakan oleh Raja Sejong, kakek dari Danjong. Rangkaian ilmu inilah yang kemudian diteruskan kepada anak-anak desa sehingga suasana desa pun jadi semakin semarak dengan kehidupan yang lebih baik.
Seperti kata Heung-do, Danjong seharusnya gembira karena dengan di pembuangan inilah dirinya bisa menjadi manfaat bagi warga desa dan dia bisa meninggalkan/menghilangkan rasa depresinya dan hidup sebagai masyarakat biasa. Merasakan betapa bersahajanya warga desa Cheongnyeongpo yang tanahnya kering dan tak memiliki kekayaan apa-apa.
Tapi ternyata kondisi aman dan damai serta sukacita yang dirasakan Danjong beserta masyarakat desa ini tidak berlangsung lama.

Menyadari bahwa Danjong sudah bangkit kembali mental dan fisiknya, Myong-hoe langsung merasa terancam. Dia takut “kekuatan” keponakannya ini menggugah rakyat untuk bertentangan dengan dirinya.
Apalagi saat Danjong melihat sang paman mencambuk, memukuli, anak Heong-do yang selama ini hidup berdampingan dan menjadi sahabat sepermainan Danjong di desa. Sang paman juga tak mengindahkan permintaan Danjong untuk menghentikan kekejamannya. Sang paman bahkan menambahkan kualitas dan kuantitas hukuman saat Danjong berteriak sekuat mungkin dan berusaha mempengaruhinya.
Emosi Danjong pun terpancing. Dia muntab sejadi-jadinya.
Setelah sekian lama menolak usulan Pangeran Agung Geumseong untuk memberontak dan meraih kembali tahtanya, kali ini Danjong nekat menyetujui usulan ini. Rencana pun disusun diam-diam. Tapi ternyata kekuatan dan kaki tangan Myong-hoe sudah terlampau kuat untuk dilawan. Rencana makar itu pun sampai ke telinga Myung-hoe lewat seorang pembisik rahasia.
Lewat caranya, Myong-hoe juga berhasil menekan Heung-do untuk menjebak Danjong agar bisa ditangkap dalam perjalanannya bergabung dengan Pangeran Agung Geumseong. Janjinya adalah jika Heung-do menuruti perintahnya, maka di anak akan bebas dari siksaan dan kembali ke desa dengan selamat.
Dari rangkaian kejadian inilah, penonton jadi semakin paham bahwa kekuasaan politik dan fisik Myong-hoe, sang paman perebut tahta, cengkraman nya sudah begitu kuat dan tak tertandingi. Tak terlawankan dan tak terbantahkan.
Bagaimana nasib Nosan atau Danjong dan Pangeran Agung Geumseong di akhir cerita?
Yang pasti siapkan tisu dan hati seluas samudra untuk menerima ending yang begitu mengharukan dan menggetarkan. Kita diajarkan tentang bagaimana seorang anak belasan tahun berjuang mempertahankan hidupnya dengan pertolongan dari banyak orang sekitar yang mencintainya, hingga berani mempertahankan harga dirinya.
Kehadiran Heung-do dan anaknya sesungguhnya sudah memberikan banyak cerita manis dan lucu dalam hidup Danjong. Hanya sayang, saat melihat dirinya mulai membaik dan mental yang juga membaik, Myong-hoe kembali menghancurkan semuanya.
Danjong terbuang dan tinggal di desa Cheongnyeongpo yang menjadi akhir dari hidup raja ke-6 Korea ini. Tragis dan penuh nestapa.

Saeguk Berkelas dan Istimewa
Film The King’s Warden yang menceritakan tentang sejarah kelam mengharukan Danjong, Raja keenam Korea ini, menurut saya, sudah berhasil menghadirkan secuil sejarah lewat sebuah rangkaian story telling yang menarik dan membumi. Saya terbawa kondisi di mana rakyat desa Cheongnyeongpo begitu bersahaja dan menerima Danjong dengan tangan terbuka. Termasuk melihat rangkaian personal touch, hubungan antar pribadi, yang begitu menyentuh antara Heung-do dan Danjong, yang seusia anak lelakinya.
Niat awal yang dulunya hanya mengambil banyak keuntungan sebagai desa yang menerima orang buangan, Heung-do akhirnya malah jatuh cinta pada Danjong, sosok mantan raja atau raja yang digulingkan.
Kisah tentang Danjong ini sempat dihapus oleh sejarah selama kurang lebih 200 tahun sebelum akhirnya dipulihkan kembali. Seorang raja yang diangkat di usia remaja yang juga adalah cucu Raja Sejong (pencipta huruf Hangeul). dan juga adalah anak dari Raja Munjong yang dalam catatan terkenal sebagai raja berilmu. Hanya sayang, masa pemerintahan Raja Munjong hanya bertahan selama dua tahun saja. Kematiannya menyebabkan stabilitas politik di Korea melemah kemudian berujung pada perebutan kekuasaan yang dilakukan oleh Raja Suyang atau Myeong-hoe.
Selama pemutaran film berlangsung saya mencatat beberapa adegan yang sangat menyentuh. Diantaranya adalah:
Pertama
Saat Heung-do menyelamatkan Danjong yang ingin bunuh diri dengan melompat di atas tebing. Heung-do dengan semaksimal mungkin menyelamatkan Danjong, sementara yang diselamatkan meminta agar tangannya dilepaskan. Debat penuh emosi yang terjadi di antara mereka berakhir dengan kemauan Danjong untuk tetap hidup;
Kedua
Ketika Heung-do melihat Danjong sedang bermain air di pinggir sungai. Tatapan bapak kepala desa ini begitu syahdu, tersentuh melihat seorang anak belasan tahun harus menderita dan tersiksa secara mental karena pertikaian politik dan kerakusan orang dewasa dalam merebut tahtanya. Dari sinilah perasaan kesal Heung-do karena “kemanjaan” bocah belasan tahun berubah menjadi perasaan sayang penuh haru dan rasa;
Ketiga
Keseruan dan tawa renyah Danjong saat mengundang satu persatu warga desa untuk makan semaja dengannya. Lewat kesempatan inilah Danjong jadi banyak tahu tentang kehidupan masyarakat desa dan bagaimana setiap personal menghargai, menghormati, dan menyayangi Danjong sebagai pribadi;
Keempat
Danjong tak ingin mati di tangan pesuruh Myong-hoe, pamannya. Dia ingin agar hanya Heung-do lah yang mengakhiri hidupnya di dalam sebuah kamar berdinding kayu dan rotan. Tertutup dan tidak disaksikan secara langsung oleh siapa pun. Termasuk Mae-hwa yang telah belasan tahun mengasuh dan menjaganya;
Kelima
Saat Mae-hwa membaca surat yang ditulis tangan oleh Danjong untuk dirinya setelah mantan raja asuhannya itu wafat. Isinya sungguh menyesakkan dada. Danjong menyatakan kebahagiaannya saat didampingi oleh Mae-hwa dalam suka dan duka. Bagaimana Mei-hwa begitu sabar menghadapi dirinya dan bagaimana Danjong telah menganggap Mei-hwa lebih dari sekedar pengasuh sekaligus pelayan.
Ketujuh
Karena tak ingin meninggalkan jejak apa pun, Myong-hoe memerintahkan prajuritnya untuk membuang jasad Danjong ke sungai. Tapi karena rasa cinta dan belas kasihan yang mendalam, Heung-do mengejar jasad ini, memeluk, dan mengambilnya.
Di titik terakhir itu saya tak dapat menahan derai air mata yang turun deras tanpa bisa ditahan. Film yang berlatar belakang tahun 1457 dan berlangsung hampir dua jam ini, membuat saya tak mengalihkan mata barang sedetik pun. Setiap jejak rasanya begitu berharga untuk dilewatkan.
Barisan adegan natural, lucu, sedih, dan menyayat hati, bercampur aduk dengan begitu sempurna. Kematangan emosi dan chemistry yang terbangun di antara mereka yang hidup di sekitar Danjong, menjadi salah satu pilihan mengapa film ini begitu tepat untuk dicintai. Konflik pun terbangun dengan tidak tergesa-gesa tapi cukup membuat hati kita bagai tersayat sembilu.
The King’s Warden, film yang menceritakan sejarah kelam mengharukan tentang Danjong, raja ke-enam Korea ini lebih dari layak untuk berkibar dan mendapatkan banyak penghargaan di dunia sinematika. Film yang digarap oleh sutradara Jang Hang-jun ini juga menghadirkan sentuhan pendekatan emosional yang penuh warna serta emosional dari sebuah saeguk yang berkelas dan istimewa.
Skor saya untuk The King’s Warden adalah 9.5/10




