
Realita Tragis Percintaan Terlarang di Mini Seri Love and Death | Film Review | Maret 2026
Sudah lama banget rasanya tidak mengulas film di blog ini. Padahal sudah puluhan produk sinema yang saya tonton dan banyak di antaranya begitu berkesan di hati. Keinginan untuk kembali mengulas terasa mulai menggugah saat satu mini seri – Love and Death serta dua film – Sinners dan Frankenstein saya tonton berurutan.
Well it’s about the perfect time then.
Yang kedua terakhir itu – Sinners dan Frankenstein – baru saja diganjar piala Oscar 2026. Lead actor – Michael B. Jordan – untuk Sinners dan hat-trick untuk Frankenstein yang memenangkan kategori tata rias dan tata rambut terbaik (makeup and hairstyling), desain produksi terbaik, serta desain kostum terbaik. Semuanya sesuai dengan apa yang saya duga dan harapkan. Dan mereka sepantas itu.
Tapi sebelum jump-in ke kedua film peraih Golden Globe Award 2026 itu, ijinkan saya mengulas dulu tentang mini seri Love and Death yang diproduksi pada 2023 dan kemudian diadopsi oleh Netflix pada tri-semester pertama 2026. Film yang dihadirkan ke hadapan publik tiga tahun yang lalu dengan setting masa akhir 70-an hingga awal 80-an ini dilahirkan dari sebuah kisah nyata yang terjadi di Wylie, Texas. Dibungkus dalam tujuh episode dengan rentang waktu enam puluh menit di setiap bagiannya, mini seri Love and Death membuat saya tak berhenti menonton dan mengikuti semua episode nya dalam dua hari berturut-turut.
Apa dan bagaimana Love and Death telah menarik minat dan perhatian saya untuk diulas? Yuklah simak ulasan di bawah ini ya.

Empat Tokoh Penting yang Dihadirkan
Sentral perhatian tentu saja diberikan kepada Elizabeth Olsen sebagai Candy Montgomery (Candy).
Ada yang familiar dengan family name Olsen yang disandang oleh Elizabeth? Dan masih ingat kah dengan film seri Full House yang tayang pada 1987 – 1995? Nah si Elizabeth ini adalah adik dari Mary-Kate Olsen dan Ashley Olsen yang berperan sebagai si bungsu kembar nan imut menggemaskan di serial tersebut.
Jika menyusur garis wajahnya, kemiripan di antara ketiganya begitu terlihat. Meskipun menurut saya, artis kelahiran 1989 ini jauh lebih menawan dibandingkan kedua kakak kembarnya tersebut. Saya jujurly iri dengan visual si Elizabeth ini. Tampil dengan bentuk tubuh yang proporsional dan ukuran wajah yang kecil, gesture layaknya wanita tegas pendirian, rahang kokoh serta mata bulat menawan, Elizabeth seharusnya sih lebih cocok memerankan seorang business woman sukses dibandingkan sebagai perusak rumah tangga orang. Tapi nyatanya Elizabeth, yang sudah malang melintang di bisnis entertainment sejak usia empat tahun, mampu dan sangat mumpuni memerankan Candy dengan begitu sempurna, gesture yang matang, tapi tetap minta dijambak, minta digebuk, layaknya ibu-ibu emosi jiwa sama perempuan pelakor.
Pokoknya dia sukses banget membawa setiap gerak seorang Candy. Ibu rumah tangga yang komplit kualitasnya. Berhasil mengasuh ketiga anaknya dengan baik, mengurus rumahnya dengan apik, rajin beribadah (baca: ke gereja) sekaligus menjadi pengurus (dewan eksekutif gereja) plus bergabung di paduan suara gereja dengan suara indahnya. Jadi kalau dipandang-pandang, seharusnya sih gak ada alasan kuat untuk Candy melakukan hal nyeleneh, melanggar norma dan agama, seperti apa yang dia lakukan bersama suami orang.
Candy juga kelihatan smart dan punya rumah yang cukup mewah. Punya kendaraan sendiri untuk bepergian kemana-mana dan selalu tampak chic dengan busana-busana indahnya. Meski hadir dengan fashion edisi lama – menyesuaikan dengan masa cerita – penata busana drama seri ini tampaknya begitu cermat mendandani Candy. Fashion nya dihadirkan berkelas. Begitu pun dengan tata rambutnya. Tjakep dan rapi banget pokoknya. Baik saat dia berambut panjang hingga dipotong pendek setelahnya. Bahkan saat berada di dapur pun, Candy terlihat anggun dan tetap secantik putri kerajaan. Tak terlihat dia pake daster seperti emak-emak di negeri kita tercinta ini.
These are very perfect and envy me though.
Cuma satu yang sepertinya terlihat (agak) kurang adalah soal hubungannya dengan sang suami. Sekilas tampaknya biasa saja. Suaminya bukan lelaki yang suka ngeluyur. Seperti halnya bapak-bapak dengan pekerjaan tetap dan hidup yang mapan. Sang suami gak neko-neko, gak banyak tingkah, dan menikmati hidup layaknya bapak tiga anak dengan istri yang cantik, serta pekerjaan yang sukses. Kegiatannya pun begitu-begitu aja. Sarapan, kerja, dan makan malam di rumah. Selalu bersama keluarga. Kerjaannya sepulang kantor ya mandi, nonton tv (sering banget adegan yang satu ini), dan sedikit bertanya-tanya pada anak-anak tentang sekolah dan kegiatan mereka.
Suami yang beruntung ini bernama Pat Montgomery (Pat). Diperankan oleh Patrick Fugit.
Secara visual Pat biasa saja. Badannya yang tinggi besar tampak gagah mengimbangi rambutnya yang tebal. Dengan kacamata tebal yang dia gunakan, lelaki ini terlihat jadul betul. Tapi Pat sangat menjaga kebahagiaan dan keinginan Candy. Tak pernah membantah dan menerima semua aturan dan apapun yang dihidangkan istrinya. Tapi sayangnya Pat merasa dia sudah mengatur segalanya dengan sempurna. Sudah menunaikan semua tugas dan kewajibannya sebagai seorang suami dan ayah. Namun dia lupa bahwa tugas memberikan nafkah lahir kepada istri harus diimbangi dengan nafkah batin. Pat lalai di sini dan dia tidak menyadarinya.
Tokoh Pat – menurut saya – tidak begitu tergali lebih dalam. Acting Patrick Fugit pun standar aja. Apa karena dia dihadirkan tanpa unsur emosi yang kuat barangkali ya? Saat Candy menghadapi masalah pun, Pat tak terguncang sangat emosinya. Tak pun berniat meninggalkan Candy.
Aneh banget gak sih?
Hingga di satu perlombaan volley lah Candy mendadak setrom. Dia merasakan dirinya punya koneksi yang kuat dengan Allan Gore (Allan). Tokoh yang diperankan begitu apiknya oleh Jesse Plemans.
Siapa sih tokoh Allan ini?
Allan bukan orang baru bagi Candy dan suaminya Pat. Mereka tinggal di kawasan yang sama dan saling mengenal begitu dekat satu sama lain. Anak-anak mereka satu sekolah dan teman sepermainan. Seringkali berkegiatan bersama dan saling menginap. Anak-anak ini pun dijemput dan diantar bergantian oleh orang tua masing-masing.
Candy, Pat, Allan dan Betty Gore (Betty), istrinya juga melakukan pelayanan di gereja yang sama. Aktif beribadah dan saling berkomunikasi erat satu sama lain. Tapi satu kejadian gak penting malah merubah dan menghancurkan hubungan baik tersebut.
Bagaimana karakter Betty yang diperankan oleh Lily Rabe?
Pertama kali melihat Betty tampil di layar mini seri ini, saya sudah bisa menebak seperti apa karakternya. Tindakannya yang canggung dan sorot matanya yang tak konsisten, sangat menyiratkan bagaimana rapuhnya jiwa Betty. Istri Allan Gore ini terlihat sekali tak yakin pada diri sendiri. Berulang kali bertanya tentang perasaan Allan terhadapnya. Apakah masih cinta, masih sayang, dan mau terus menjaganya? Duh repot betol dah. Allan bahkan sering kelabakan menghadapi swing mood istrinya ini. Begini salah begitu salah. Allan bahkan secara pribadi mengatakan bahwa Betty mengalami depresi oleh pola pikir keliru yang diciptakannya sendiri.
Hingga akhirnya Allan dan Betty memutuskan bahwa itulah saat yang tepat untuk memiliki anak ke-2. Tujuannya agar Betty punya kesibukan dan tak terus menerus terjebak dengan pemikiran liar yang tak bisa dia kendalikan.
And here we are. Betty adalah tokoh ke-4 yang memegang fungsi dan peran penting nan strategis dari keseluruhan cerita.

dan Realita Tragis Perselingkuhan Itu Dimulai
Di satu masa, saat ada pertandingan volley, Candy tanpa sengaja jatuh terdorong oleh Allan. Kejadian ini membuat Candy “melihat” teman lelakinya ini dari sisi yang berbeda. Khususnya saat Allan menyorongkan tangannya membantu Candy berdiri.
“Ada sentuhan sex yang aku rasakan saat dia memegang tanganku,” begitu kata Candy saat menceritakan gejala aneh yang dia rasakan kepada Sherry, teman baiknya.
“Aku sepertinya ingin mengajak Allan selingkuh,” sambung Candy enteng.
Sherry tentu saja melonjak kaget. Tak percaya dengan apa yang diucapkan sahabatnya itu. Dia pun tak menyangka bahwa candaan itu akhirnya benar-benar diwujudkan oleh Candy. Merasa gagal melarang Candy berbuat demikian, Sherry merasa ikut bersalah dan kerap meminta Candy untuk mengakhiri kelakuannya.
Candy pun di hari-hari berikutnya intens mendekati Allan. Sengaja mencari celah waktu dan tempat agar bisa berkomunikasi langsung dengan Allan dan menghabiskan waktu bersamanya. Saking nekadnya, Candy bahkan terang-terangan mengajak Allan untuk selingkuh dalam semusim dengan berbagai trik dan rencana yang sudah dia susun. Pokoknya nyosor duluan. Awal-awalnya Allan tak mau menanggapi apa yang dibicarakan Candy.
“I really love Betty and there is no way I can cheat on her. I can’t hurt her,” jawab Allan gugup berulangkali saat Candy tetap gigih membujuk Allan.
Tapi by the time, seiring dengan kebersamaan mereka yang intens, pertemuan terus menerus untuk saling bercerita, dan kegigihan Candy yang tak terelakkan, hati Allan pun akhirnya luluh.
Mana ada coba kucing garong gak akan tergoda saat ditawari ikan asin? Gratis pulak. Allan pun sukses masuk dalam jebakan Candy. If I may say so.
Dalam tahapan itu saya mencatat bahwa setan akan hadir saat dua orang makhluk berbeda jenis mulai merasa nyaman satu sama lain dan tercebur dalam kondisi yang menghanyutkan. Sudah lupa akan siapa mereka. Apalagi masing-masing mendapatkan ruang dan tempat untuk berbagi beban hidup dan menghindar dari kejenuhan yang asal usul nya bisa dari siapa pun atau apa pun.
Witing tresno jalaran soko kulino.

Strategi jitu apa yang dijalankan oleh Candy agar Allan semakin kepincut padanya?
Candy tuh orangnya konseptual banget dah. Banyak kali lah akalnya. Demi menghindari kecurigaan pasangan masing-masing, dia mengajak Allan untuk bertemu secara berkala di saat makan siang di hari-hari lelaki itu bekerja. Mereka bertemu di sebuah motel, membuka “acara” dengan santap siang yang sudah disiapkan/dimasak sendiri oleh Candy, ngobrol dan saling bercerita, bergumul di atas kasur, lalu ditutup dengan mandi bersama. Begitu terus sampai berbulan-bulan di motel yang sama.
Kebersamaan selama satu jam ini ternyata begitu membekas dalam hati Allan dan Candy. Mereka ketagihan dan mengatur waktu pertemuan yang lebih sering dari biasanya. Perselingkuhan ini sadar mereka lakukan saat Betty sedang mengandung anak ke-2 nya.
Hingga akhirnya Allan pun insaf. Menyadari bahwa mereka sudah berdosa dan melakukan hal yang tak pantas. Dan Allan pun terjebak pada rasa ini saat anak keduanya lahir apalagi dia menyaksikan sendiri bagaimana Betty berjuang melahirkan. Hatinya trenyuh melihat kondisi Betty ketika itu dan bagaimana istrinya ini tak henti mencintainya setelahnya. Betty bahkan mengajak Allan untuk mengikuti konseling rumah tangga ke psikolog lalu mengadakan private yet second wedding ceremony dan kembali mengucapkan sumpah setia sebagai suami istri. Mereka pun kemudian terlahir seakan-akan sebagai pasangan baru.
Kisah Sedih di Ujung Drama
Seperti kata pepatah, “Sepandai-pandainya tupai melompat akhirnya akan jatuh juga” dan “Sepandai-pandainya seseorang menyembunyikan bangkai, bau nya suatu saat akan tercium juga.”
Saat pengakuan dan kejujuran itu pun datang.
Setelah sekian lama dan akhirnya berhenti selingkuh, ternyata apa yang mereka rahasiakan itu pun terbongkar juga. Pat mengetahui perselingkuhan istrinya. Memarahinya habis-habisan tapi tidak mengancam akan bercerai. Candy membela diri mati-matian dan mengatakan bahwa “perselingkuhan dian dan Allan hanyalah sebuah kekeliruan belaka”
Ketegangan pun mulai menanjak saat Betty mengundang Candy ke rumahnya dengan alasan ingin memperlihatkan anak anjing yang baru diadopsinya. Ibu beranak tiga itu sepertinya sudah punya feeling jelek. Wajahnya tampak memucat dengan sikap kikuk yang tak terelakkan sejak berada di depan rumah Betty. Apalagi dalam beberapa menit obrolan yang terbangun, Betty mendadak berubah serius. Dia dengan tegas mendesak Candy untuk mengakui perselingkuhannya dengan Allan, suaminya.
Di tengah kegugupan itu, meski berusaha berbohong, Candy akhirnya mengaku. Suasana ganjil dan asing mendadak menyeruak. Meski Candy sudah meminta maaf berulangkali dan mengatakan bahwa hubungan itu sudah selesai dan tak perlu diungkit kembali, Betty malah semakin muntab. Marah tertahan dengan muka merah dan ekspresi sadis.
Di titik adegan itu saya semakin mendekatkan wajah ke layar. Ingin ikut menghayati acting super marah yang dimainkan oleh Betty yang cantik bak pualam.
Betty pun segera berdiri dan mengambil kapak kayu besar di gudang kecil miliknya. Bahkan saking beratnya, Betty hanya mampu menggeser kapaknya dan menghadirkan suara gesekan yang begitu menggetarkan. Alamak saya sungguh merinding.
Apa yang terjadi kemudian?
Mudah banget untuk ditebak. Kedua perempuan yang sempat bersahabat itu terlibat pergumulan seru. Dimulai dengan Betty yang mendorong badan Candy hingga terhempas ke dinding. Melihat Candy mulai limbung, penyerangan Betty pun semakin heboh. Tapi ternyata kekuatan tubuh ada di pihak Candy. Sudah terdesak dengan luka-luka, Candy akhirnya memutuskan untuk bergerak melawan. Sembari mengambil alih kapak besar yang ada di tangan lawannya, Candy balik menyerang Betty secara membabi buta. Meninggalkan luka menganga di tengkorak Betty lalu melayangkan empat puluhan hantaman kapak ke tubuh Betty. hingga akhirnya Betty jatuh terlentang penuh dengann serangkaian luka serius. Nyawanya pun melayang sia-sia.
Lalu di mana Allan saat itu?
Dia sedang dalam business trip. Tapi entah kenapa hatinya mulai gusar saat meninggalkan kantor menuju bandara. Berusaha menelepon rumah tapi tak sekali pun diangkat Betty. Begitu pun saat telah tiba di tempat tujuan. Karena tak pun mendapatkan jawaban hingga malam hari, Allan menghubungi para tetangga untuk mengecek keadaan Betty dan rumahnya.
Jawabannya mudah saja. Jazad Betty terlentang dan bersimbah darah dengan kepala dan sebagian tubuh yang sudah remuk redam. Muncratan darah pun tersebar di berbagai sisi rumah. Menunjukkan bagaimana perkelahian mereka sudah berlangsung di beberapa titik rumah. Tangisan anak ke-2 Betty dan Allan yang masih bayi pun menambah rasa nyeri di hati.

Proses Pengadilan yang Menguras Emosi
Meski sempat menghindar dari kenyataan, Candy akhirnya terpojok juga. Sayangnya di jaman itu investigasi lewat DNA yang tercecer (sepertinya) belum ada. Teknologi forensik nya pun belum secanggih sekarang. Ini asumsi yang saya lihat dari proses kerja polisi di tiga episode terakhir yang berfokus pada penyusuran kasus pembunuhan Betty. Mereka hanya mendesak dan mencecar Candy lewat interogasi, mengumpulkan bukti-bukti forensik, dan menekan mental perempuan itu agar mengaku saja.
Candy menyerah juga pada akhirnya. Mengakui bahwa itulah realita tragis percintaan terlarang yang telah dia lakukan dengan Allan. Dia pun berbesar hati mengikuti setiap persidangan yang berlangsung selama delapan kali di tengah hujatan publik dan tentu saja liputan media yang gencar menekan dirinya pribadi.
Tapi ada satu yang menggelitik di hati saya nih. Sudah dinyatakan sebagai terdakwa kok Candy gak ditahan polisi ya? Ada yang bisa menjelaskan?
Oke simpan dulu pertanyaan ini. Kita lanjut ulasannya.
Layaknya seorang yang sedang membela, meski tahu client nya sudah mengaku salah, Don Crowder, sang pengacara, mencoba menggali perihal apa yang bisa membela Candy. Setidaknya bisa mengurangi masa hukuman mati atau seumur hidup bagi pembunuh. Mengurangi masa hukuman barangkali.
Atas akal dan ide beberapa anggota tim di kantor pengacaranya, Don akhirnya mengangkat isu bahwa Candy terpaksa melakukan itu karena (sedang) membela diri. Betty duluan lah yang menyerang dan berniat membunuh Candy. Lewat sebuah laporan seorang psikiater didapatkan catatan atau ulasan bahwa Candy sesungguhnya adalah seorang ibu dengan beberapa tekanan hidup. Contohnya adalah menghadapi ibunya yang keras dan kejam.
Sidang pun semakin gempar saat pihak Jaksa menghadirkan seorang dokter forensik yang memberikan rincian lengkap tentang apa dan bagaimana kondisi mayat Betty saat ditemukan. Dokter ini bahan dengan teliti mengurai kekejaman Candy serta bagaimana kapak seberat itu bisa melayang berulangkali kecuali jika diayunkan oleh orang yang kesetanan, gelap mata, dan memiliki keinginan kuat untuk mengambil nyawa orang lain.
Saya merinding luar biasa saat mengikuti paparannya.
Saat Candy kemudian dihadirkan sebagai saksi pelaku, rangkaian pergolakan batin seorang pembunuh tanpa rencana pun dikuatkan. Dengan nada suara bergetar dan cucuran air mata di tengah desakan jaksa, Candy kembali tak menampik bahwa dia memang telah membunuh Betty. Tapi sekali lagi semua itu semata-mata dia lakukan karena dalam kondisi terdesak, membela diri, karena Betty tampak beringas menyerangnya sembari membawa kapak besar itu.
Semua yang hadir di sidang tampak membeku. Termasuk ayah Betty yang setia menghadiri sidang setiap harinya. Kesaksian Allan pun menurut sang Ayah justru bernada membela Candy dan memberikan kesan bahwa yang bermasalah serius adalah Betty. Dan setelah mendengar uraian Candy secara pribadi, sang Ayah tertunduk dalam keheningan. Hati kecilnya memahami mengapa dan alasan apa sehingga Candy harus membela diri.
Allan sendiri tak sedikit pun terlihat antusias dalam proses pengadilan. Dia malah sudah move-on dan memiliki kekasih lagi.
Tak butuh waktu lama – hanya sekitar tiga jam saja – 12 juri yang beranggotakan sembilan juri perempuan dan tiga juri lelaki, telah mengambil keputusan. Salah satu proses keputusan yang saat itu cukup cepat bagi sebuah kasus berat seperti pembunuhan. Candy dibebaskan dari semua tuduhan tanpa ada beban apa pun yang harus ditanggung oleh nya setelah sidang berakhir.
Keputusan yang tetapkan pada 30 Oktober 1980, sungguh mengagetkan saya. Beneran nih? Jika pun dengan alasan membela diri tapi kan sebagai manusia dewasa dan tahu benar apa tindakannya, seharusnya Candy dihukum dengan skala pembunuhan biasa (baca: pembunuhan tanpa rencana). Hukuman bisa kan diambil celahnya dari sini? Tapi yah, hukum itu terkadang bahkan sering un-predictable. Yang benar bisa menjadi salah. Yang salah bisa dianggap benar ataupun dibenarkan.
Don Crowder, sang pengacara yang cerdik itu, mendadak populer dan berada di atas angin. Dia sendiri sempat kemudian dipenjara karena menghina hakim, tetap bisa bergirang dan berbesar hati. Namanya menjadi begitu terkenal setelah keputusan itu.
Efek keputusan ini berikut dengan keadaan orang-orang yang terlibat di dalam kasus dan cerita kehidupan para tokoh setelah itu dihadirkan lewat berderet-deret footage black and white. Serangkaian informasi yang menguatkan bahwa kasus Candy Montgomery adalah benar berangkat dari sebuah kisah nyata.
Saat saya menyusur info tambahan di Google, kasus ini ternyata sempat dibuatkan menjadi buku dengan judul Evidence of Love: A True Story of Passion and Death in the Suburbs yang ditulis oleh John Bloom dan Jim Atkinson dan diterbitkan pada Januari 1984. Kemudian juga sempat dibuatkan filmnya oleh CBS TV di 1990 yang berjudul A Killing in A Small Town. Tapi nama pelakunya diganti (Candy Montgomery diganti menjadi Barbara Hershey). Film ini mendapatkan penghargaan di Emmy Award dan Golden Globe Award di tahun yang sama.

Kesan Pribadi untuk Mini Seri Love and Death
Terlepas dari keputusan persidangan yang mencengangkan dan mengagetkan banyak pihak, ada beberapa hal yang menjadi perhatian saya. Di antaranya adalah bagaimana sebuah firma hukum membela Candy sedemikian rupa dengan kekuatan narasi sebagai pembunuhan tanpa sengaja karena membela diri dari serangan Betty yang membabi buta. Don sesungguhnya sudah tahu status Candy di tahap awal karena dia meminta client nya itu untuk “tidak berbohong” di hadapannya dengan alasan apa pun.
Lewat beberapa kejadian juga kita bisa melihat kepintaran seorang pengacara ternyata bisa menggiring opini dan cara berpikir kita agar bisa menempatkan diri “seandainya kita berada di posisi Candy.” Publik pun diajak melupakan latar belakang kemarahan Betty dan tak menjadikan hal itu sebagai pembenaran akan tindakan penyerangan awal yang dilakukan oleh istri Allan Gore itu. Candy harus benar karena membela diri tapi Betty (tetap) salah karena tak bisa mengontrol emosi dan amarahnya. Begitulah kira-kira.
Astaga.
Terlepas dari ending tersebut, saya mendapati bahwa dari mini seri ini saya mengagumi kemampuan Elizabeth Olsen dalam memerankan tokoh seorang Candy Montgomery. Perempuan yang berhasil merebut suami orang sesuai dengan nafsunya dan eh terhindar pulak dari tuduhan pembunuhan. Ini tentunya gak mudah bagi Elizabeth. Yakin pasti Elizabeth butuh waktu ekstra untuk menyelami “kekuatan” Candy.
Tapi secara keseluruhan mini seri ini seru banget untuk ditonton oleh usia dewasa. Seperti yang banyak dianalogikan publik, perselingkuhan tidak ada dan tidak akan membawa manfaat secuil pun. Pasti ada kehancuran yang akan mengikuti. Realita tragis percintaan terlarang terangkat dengan sempurna di setiap episode yang disajikan. Mulai dari sebuah ide nakal nya Candy hingga efek tragis seperti matinya seorang perempuan yang terperangkap dalam kemarahan yang sudah mencapai ubun-ubun. Perempuan biasa yang tak menyangka bahwa suami tercinta selingkuh dengan teman baiknya sendiri. Teman yang secara manusiawi adalah orang yang menjaga agama dan tampak manis layaknya saudara perempuan.
Pengambilan dan arahan gambarnya juga cantik estetik. Rumah, kendaraan, baju, bangunan, dan benda-benda sekelilingnya dibuat layaknya di tahun-tahun saat peristiwa itu terjadi. Sorot lensa dan sentuhannya pun nyaris sempurna. Ada “selera tinggi” cinematography yang dilahirkan oleh sutradara dan tim kreatif yang terlibat.
Naskahnya juga rapi dan runut. Setiap jenjang kejadian tersusun apik dan tidak membuat penonton bingung. Pemotongan setiap episode juga pas dan membangkitkan rasa penasaran. Tapi kalau bisa sih nontonnya lebih baik estafet aja karena setiap bagian punya greget yang bisa membuat penonton tak mampu menunggu sesi berikutnya.
Elizabeth Olsen sendiri mendapatkan nominasi di Gold Derby TV Awards pada 2023 atas kekuatan acting nya. Perempuan cantik ini masuk dalam kategori Limited/Movie Actress dan Limited/Movie Supporting Actress untuk Lily Rabe yang memerankan Betty Gore.
Skor saya untuk mini seri Love and Death adalah 9/10.
Angka tertinggi saya berikan kepada Elizabeth Olsen yang mampu bermain sangat baik. Sementara angka tambahannya saya peruntukkan bagi kerunutan naskahnya. Satu apresiasi bagi David E. Kelley. Seorang penulis naskah dan juga film producer yang sudah memiliki reputasi sangat baik dan berhasil membawa berbagai produk sinema ke kancah pujian seperti serial Ally Mc Beal di 1997-2002, Big Little Lies di 2017-2019, Presumed Innocent di 2024, The Lincoln Lawyer 2022 hingga sekarang, dan masih banyak lagi. Banyak serial yang sungguh mengesankan publik dan beberapa di antaranya sempat saya tonton.
Suami aktris Michelle Pfeiffer ini juga pendidikannya tinggi loh. Dia meraih gelar sebagai Juris Doctor (gelar profesional di bidang hukum setingkat pasca sarjana) dari Boston University School of Law. Gak kaget lah ya jika dia mampu menggali sekian banyak aspek hukum untuk dihadirkan di beberapa episode saat persidangan atas Candy berlangsung. Ilmu pengetahuan yang tentu saja menjadikan naskah yang disusunnya menjadi lebih “berisi” dengan landasan hukum yang jadi bagian dari ilmu pengetahuan yang dikuasainya.
Anyway, mini seri ini menurut saya hanya cocok ditonton oleh orang dewasa ya. Setidaknya atau seminimnya sudah berusia di atas 20 tahun. Banyak adegan dewasa, flirting, caci maki, kebohongan, kekerasan, dan logika hukum yang hanya bisa dipahami oleh manusia yang matang emosinya.

IG @annie_nugraha | Email: annie.nugraha@gmail.com



Kayanya bagus tapi suka serem kalau film dewasa gini. Harus mengumpulkan kekuatan dulu buat nonton
So sad sih, selengki berakhir dengan kriminalitas dan cerita tragis yang berujung sidang. Ini bisa jadi pelajaran penting ya supaya tetap setia.
baca detail review-nya Mbak Annie serasa ngelihat drama Korea
tapi emang sih sineas Korea kan berkiblat ke AS
termasuk kisah nyata seperti Love & Death, mereka kerap menampilkan adegan yang bikin merinding, tapi ini emang ada penelitiannya, penonton menyukai sensasi yang tidak ditemukan di kehidupan nyata
Kisah nyata tuh memang menarik buat diulas dan ditampilkan dan sebuah karya sinematografi. Apalagi kejadian itu menjadi fenomena yang menggugah banyak orang. Selain masalah perselingkuhannya, lepasnya Candy jadi jeratan hukum tentunya jadi peristiwa yang tak terduga di masa itu.
Ternyata emang semenarik itu. Pantas aja mama mertuaku nonton ini. Hahahahahaha. Jadinya nanti bisa ikut menggosip bareng mama. Nuhun review-nya Mbak Annie.
Aku suka Elizabeth Olsen. Cuma emang belum mood aja beberapa waktu terakhir ini nonton series luar, akibat digempur series china yang bagus-bagus juga.
dan premis ceritanya memang semenarik itu Ti. Peristiwa perselingkuhan seperti sudah jadi topik seru di berbagai produk sinema. Tapi bebasnya Candy dari jerat hukum itu yang membuat drama seri ini berbeda. Apalagi diangkat dari serangkaian kisah nyata.
Wah baru tahu kalau si kembar Olsen punya adik dan jadi artis juga. Sekarang kabar mereka gimana ya?
udah mulai jarang nonton serial dan film Hollywood sih hehe.
Wah karakternya menarik juga nih ya, pelakor yang keliatan kalem tapi sekaligus punya peran membunuh orang.
Sayang banget emang ya, kehidupan rumah tangga yang masing2 ada pasangan kudu hancur cuma krn selengki heuheu.
Si kembar Olsen kalo gak salah – salah seorang di antaranya – jadi fashion designer sementara yang satu lagi jadi pengusaha. Tapi sedih lihat visual mereka. Too skinny dan tampak seperti pecandu. Padahal waktu kecilnya, khususnya saat main di Full House, mereka tuh lucu dan imut betul.
Cerita tentang perselingkuhan memang sering jadi premis drama atau film ya. Bonusnya lagi di Love & Death adalah tentang proses hukum yang dijalani Candy. Keputusan dia bebas tuh benar-benar fenomenal sih menurutku.
Skor yang mbak berikan besar. Artinya memang Mini Seri Love and Death sangat rekomen serta menarik untuk ditonton dengan catatan harus diatas 20 tahun atau sudah matang secara pemikiran ya karena cukup brutal juga nih adegan kampak-kampakannya. Aku ngeri sekali membayangkan Candy menghabisi Betty tanpa ampun begitu dan Yap pengacara nya jago sekali lho. Bisa membebaskan klien yang jelas-jelas bersalah, meski bukan pembunuhan berencana.
Rasanya, kalau baca keseluruhan cerita aku agak maju mundur buat nonton karena bukan gendre ku banget. Tetapi aku happy melihat visual dua wanita dewasa yang sama-sama keren nan jelita. Selebihnya, agak menyayangkan sikap lelaki dari kedua belah pihak aja sih kayak terlalu pasif.