Menyusur Rasa Menggugah Selera Lewat Buku Kelana Rasa nusantara

Photo of author

By Annie Nugraha

Menyusur Rasa Menggugah Selera Lewat Buku Kelana Rasa nusantara

Menyusur Rasa Menggugah Selera Lewat Buku Kelana Rasa Nusantara | Book Review | Mei 2026

Siapa sih di sini yang gak suka jajan?

Gak ngiler dengan kudapan abang-abang gorengan yang melegenda itu, soto di dalam mangkok yang asap nya tak henti mengepul, atau asupan pedas yang membuat lidah kita mengecap tanpa henti? Jika kamu masuk dalam golongan ini, maka kamu belum berkelana sepanjang penjuru nusantara atau nongkrong asyik di pinggiran jalan

Terdorong oleh rangkaian rasa yang tertinggal dan memori yang tahunan merasuk ke dalam ingatan dan kecapan lidah, para penulis perempuan yang bernaung di komunitas Pondok Antologi Penulis Indonesia (PAPI) melahirkan buku antologiย Kelana Rasa Nusantara. Buku yang mengajak kita untuk ikut berkelana menyusur banyak sisi nusantara yang kaya akan aneka ragam kuliner dan kudapan khas daerah yang selalu mendapatkan tempat istimewa bagi para penjelajah rasa

Menyusur Rasa Menggugah Selera Lewat Buku Kelana Rasa nusantara

Saat mendiskusikan rencana kelahiran buku ini dengan seorang teman pembaca, satu pertanyaan muncul dari mulutnya?

“Apa bedanya buku Kelana Rasa Nusantara ini dengan buku-buku ulasan tentang kuliner lainnya yang sudah beredar lebih dahulu?”

Siapa dia ini? Kok berani langsung nancep gitu omongannya?

Yang pasti pertemanan kami sudah menginjak puluhan tahun. Jauh sebelum kami menikah dan memiliki anak. Seseorang yang rajin saya tanyakan pendapatnya tentang apa saja termasuk buku, tulisan, dan dunia literasi. Dan begitu pun sebaliknya. Karena lahir dan besar di lingkungan “angkatan,” teman yang satu ini, memulai diskusi hangat kami dengan kalimat yang menohok. Tanpa basa-basi. Dia juga orang yang kritis karena rutin melahap banyak buku dengan banyak genre, topik, obyek, dan tema.

Kami berdua, masing-masing, sudah menjadi teman diskusi hangat di banyak kesempatan. Saling bertanya khususnya di beberapa hal yang cukup menggelitik untuk diputuskan. Seringkali kami terlibat diskusi berjam-jam dengan bahasan yang semakin tajam dari menit ke menit hingga berjam-jam kemudian, hingga salah seorang di antara kami telah menemukan titik penting untuk mengambil keputusan.

Saya kembali tertegun. Otak kram dalam beberapa menit. Selama ini saya selalu mengedepankan foto sebagai pendamping tulisan. Tentu saja dengan maksud agar pembaca bisa melihat seperti apa makanan atau minuman yang dibahas di dalam tulisan. Pun penulis perempuan di komunitas Pondok Antologi Penulis Indonesia (PAPI) memang yang paling rajin berkontribusi. Kemampuan menulis mereka juga sudah cukup karena sebagian besar juga berprofesi sebagai blogger dengan jam terbang yang tidak sedikit. Atau sering menjadi kontributor untuk beberapa komunitas lainnya dan sudah melahirkan beberapa buku.

Saya mendadak terdiam beberapa saat.

Menampilkan foto selain narasi sudah. Melibatkan penulis perempuan – woman to woman empowermen – sudah ada juga. Menghadirkan food blogger juga sudah. Terus apa yang istimewa?

Saya bergeming dalam pikiran yang terus berusaha mencari jawaban. Hingga akhirnya menyerah.

“Entahlah” Tapi yang pasti program PAPI melahirkan buku-buku “bergizi” di ranah non-fiksi akan terus berjalan. Tentu saja dengan semangat untuk (tetap) memberikan sumbangsih nyata bagi dunia literasi tanah air. Tidak ada yang istimewa kecuali semangat untuk berkarya. Dan saya yakin semangat yang sama tetap terukir di hati semua anggota komunitas.

“Meskipun peminatnya (akan) sedikit? Tak sesuai harapan misalnya?” Sebuah tatapan tajam mampir menghujan.

Lagi-lagi saya terdiam.

“Kenapa enggak? Saya yakin berapa pun yang (akan) menjadi kontributor tentunya tidak akan menurunkan isi dari buku tersebut. Angka hanyalah hitungan jumlah,” jawab saya diplomatis, sembari bergelut di antara keraguan dengan omongan sendiri dan kekuatan kalimat untuk menyemangati diri sendiri.

And here we come. Setelah melewati masa “undangan” untuk bergabung, kontributor buku Kelana Rasa Nusantara hanya tujuh orang saja. Angka terkecil yang pernah terjadi selama PAPI melahirkan buku. Hanya ada saya, Wiwi Yuningsih, Tea Terina, Raihana Mahmud, Heni Hikmayani Fauzia, dan Ifah Arthur. Padahal anggota PAPI berhamburan food blogger yang sudah mumpuni dalam mengulas kuliner. Kemampuan menulis mereka bahkan jauh jauh lebih baik dari saya.

Ya sudahlah. Sedikit bukan berarti proyek nya harus berhenti. Kami pun kemudian bergulat dengan merangkai kata, melukiskan sekian banyak panganan yang pernah mampir ke lidah kami masing-masing, hingga akhirnya buku ini bisa menuntaskan lima belas tulisan tentang kuliner dari Aceh hingga utara Maluku.

Menyusur Rasa Menggugah Selera Lewat Buku Kelana Rasa nusantara

Proses Kreatif yang Menantang

Masa dua bulan menulis selesai di akhir April 2026 kemudian diikuti dengan proses penyuntingan dan pengaturan tata letak buku dalam delapan hari berikutnya. Kedua proses ini bisa selesai cepat karena naskah yang masuk tidaklah banyak. Semua tampak baik-baik saja hingga saya tersadar bahwa jumlah halaman buku hanya mencapai 90-an lembar. Itu juga sudah termasuk halaman judul, halaman balik judul, kata pengantar, daftar isi, artikel, profil penulis, profil PAPI, profil Annie Nugraha Mediatama (ANM), dan promosi paket penulisan yang disediakan oleh PAPI.

Omakjang. Ngeri kali kutengok.

Baiklah. Markitdur. Mari kita tidur dulu. Resep yang selalu saya gunakan saat menghadapi sesuatu yang butuh pemikiran tenang dan pertimbangan matang. Barangkali pulak nanti pas bangun kepala langsung plong dan ada ide moncer yang hinggap dan menginspirasi.

Dan eh ternyata manjur. Memang selalu manjur.

Alokasi menulis setiap orang maksimum tiga artikel, saya tawarkan kepada teman-teman untuk bisa melebihi dari itu. Yang hanya sempat melahirkan satu artikel, saya dukung untuk membuat artikel yang lain. Tentu saja konsekuensi nya adalah jadwal finalisasi buku terpaksa harus mundur. Tawaran ini kemudian ditanggapi dengan baik oleh Raihana Mahmud yang menambah satu artikel dan Tea Terina dengan juga satu tambahan artikel.

Terpecahkan kasusnya? Ternyata belum. Jumlah halaman masih berada di taraf mengkhawatirkan. Solusinya? Mari cari akal lainnya. Tidur lagi? Enggak. Karena keputusan harus segera diambil dalam maksimum satu jam kemudian.

Ya sudah. Saya akhirnya sampai pada keputusan bahwa tambahan lembar yang masih kurang, harus saya isi sendiri. Harus bisa. Tidak boleh mengandalkan orang lain. Jadilah saya yang tadinya mempersembahkan tiga artikel karena batas maksimum, sekarang harus menambah dua artikel lagi agar buku bisa hadir secara proporsional. Itu pun harus dengan kecepatan menulis bagai petir agar date line tidak mundur lagi.

Akhirnya dengan mengorbankan waktu tidur, buku Kelana Rasa Nusantara berakhir dengan halaman sejumlah 148 sudah termasuk beberapa halaman kelengkapan yang sudah saya sebutkan di atas. Setidaknya, meski jumlah halamannya lebih sedikit dari buku-buku PAPI sebelumnya, Kelana Rasa Nusantara masih nyaman untuk dipegang dan menghadirkan keragaman yang menambah insight bagi pembacanya.

Menyusur Rasa Menggugah Selera Lewat Buku Kelana Rasa nusantara
Kiri: Cungkring Bogor – Tea Terina | Kanan: Gipang – Wiwi Yuningsih

Menyusur Rasa Menggugah Selera Lewat Buku Kelana Rasa nusantara
Kiri: Asinan Betawi (Ifah Arthur) | Kanan: Soto Kudus (O’ik Moehadie)

Menyusur Rasa Menggugah Selera

Apa saja topik makanan, masakan, dan panganan yang dihadirkan oleh tujuh penulis perempuan yang bergabung di komunitas penulis Pondok Antologi Penulis Indonesia (PAPI) ini? Yok mari kita bedah satu persatu.

Raihana Mahmud. Penulis senior kudan editor bu asal Aceh yang sekarang tinggal di Kuala Lumpur ini tentu saja membahas tentang aneka rupa kuliner dari tanah kelahirannya. Tanah Rencong yang banyak dikenal dengan julukan Serambi Mekah. Di buku Kelana Rasa Nusantara, Irai, biasa dia dipanggil, menghadirkan Sambai On Peugaga, Lincah Gue U, U Groeh, buah Salak yang bergabung dengan Pliek U, dan dadar telur bebek yang sering dijuluki sebagai omelette ala kita.

Empat tulisan yang diramu oleh Irai, mengajak kita mengingat bahwa Aceh yang pernah mendapat gelar sebagai salah satu daerah istimewa di NKRI ini menyimpan banyak asupan dengan campuran rempah yang begitu beragam. Rempah yang membuat semua masakan menjadi kaya rasa dengan wangi yang khas. Untuk Anda penyuka masakan ala Timur Tengah atau India dengan sentuhan yang sepadan, pasti akan bangkit seleranya saat bertemu beragam kuliner Aceh.

Wiwi Yuningsih. Guru Taman Kanak-kanak yang sekarang tinggal di Cilegon ini, menghadirkan tiga jajanan yang laris dan kaya rasa di tempat tinggalnya. Diantaranya adalah Gipang, Getas, dan Bolu Kuwuk.

Saya sendiri baru mengenal tiga jajanan ini dari tulisan Mbak Wiwi ini. Ah, jadi ngiler. Apalagi saya penggemar camilan serba asin dan kriuk-kriuk. Betah rasanya membaca sambil “mengasah gigi” dengan aneka kriukan yang bikin nagih itu. Bisa habis setoples kalau gak ingat-ingat berat badan.

Tea Terina. Guru SMK di Kepanjen, Malang ini menghadirkan dua tulisan yang sangat menggoda. Cungkring asal Bogor dan Pecal Sambal Tumpang.

Terus terang, saat membaca kata “cungkring” otak saya langsung berpikir tentang kata “kurus” yang jadi salah satu makna dari kata cungkring (dalam bahasa Betawi). Eh ternyata cungkring yang dimaksud di sini adalah mulut/congor sapi seperti halnya salah satu bahan untuk membuat Rujak Cingur. Keduanya memunculkan efek kenyal saat dikunyah dan dilimpahi dengan kuah kacang yang membuat makanan ini gurih dan mengenyangkan.

Pecal Sambal Tumpang yang jadi artikel ke-2 juga sesuatu banget. Setidaknya buat saya yang tidak pernah makan tempek (nyaris) busuk, yang dalam asumsi saya pasti memunculkan bau yang menyengat. Kuliner khas Jawa (terutama Kediri, Solom dan Ngawi) memadukan nasi dengan sayuran rebus (kulupan), disiram bumbu kacang pecel, dan kuah sambal tumpang yang dibuat dari Tempe Semangit (tempe hampir busuk). Di atasnya kemudian ditaburi oleh rempeyek udang, rebon, tahu atau tempe goreng. Ada yang sudah coba?

Menyusur Rasa Menggugah Selera Lewat Buku Kelana Rasa nusantara
Kiri: Dadar Telur Bebek (Raihana Mahmud) | Kanan: Lincah Gue U, U Groeh (Raihana Mahmud)

Sekarang kita membahas tulisan Heni Hikmayani Fauzia ya. Librarian yang tinggal di Sukabumi ini menghadirkan tulisan yang membahas tentang Surabi Majalengka. Kudapan gurih dari negeri Parahyangan yang menyentuh rasa.

Kudapan ini mungkin sudah banyak yang tahu bahkan menggemarinya. Terbuat dari bahan utama yaitu tepung beras dan santan kelapa, adonannya ditambahi ragi, gula, garam, dan daun pandan. Tekstur adonannya lembut di lidah apalagi jika dimakan saat masih panas/hangat. Cara memasaknya adalah dipanggang dalam cetakan tanah lihat di atas bakaran arang atau kayu. Sajiannya bisa polos saja atau dengan beragam topping, seperti oncom, keju, coklat/meses, diberi warna pandan, dan masih banyak lagi.

Nulis ini sambil ngiler saya. Secara ya. Di lingkungan kompleks rumah di Cimahi, Bandung, ada penjual serabi/surabi yang larisnya luar biasa. Antriannya panjang betul. Sungguh cobaan kesabaran yang gak kaleng-kaleng.

Sekarang beralih ke Ifah Arthur (Ipeh). Sahabat saya yang sekarang berprofesi sebagai dosen komunikasi di sebuah PTS. Dia juga dikenal sebagai MC yang handal, renyah dengan tawa yang menyegarkan. Untuk Kelana Rasa Nusantara, Ipeh menghadirkan dua sajian khas Betawi yaitu Gado-gado dan Asinan Betawi.

Asupan yang disukai sejuta umat dengan banyak penjual. Mulai dari resto mewah dengan plating yang cantik hingga gerobak dorongan yang mangkal atau rajin berkeliling kemana-mana. Ada juga penjual yang mengandalkan kotak boncengan kecil yang dibawa oleh motor atau sepeda. Keduanya menghadirkan keunikan masing-masing. Yang pasti “rumus” kedua sajian ini sudah banyak yang menyusuri. Tapi Ipeh menghadirkan jenama Gado-Gado Benteng Karya yang telah tahunan melestarikan dan menyajikan kedua masakan ini kepada publik. Dari obrolan inilah lahir sekian banyak cerita yang membelakangi lahirnya Gado-gado dan Asinan Betawi.

Sekarang kita beralih ke naskah milik O’ik Moehadie tentang Soto Kudus. Lewat uraiannya kita diajak untuk lebih memahami apa dan bagaimana Soto Kudu itu. Serta apa perbedaannya dengan Soto Semarang, kota kelahiran O’ik.

Saya awalnya tidak begitu paham tapi jadi tertarik saat perbedaan itu diulas secara rinci oleh O’ik. Sebagai keturunan Jawa asli, perempuan dari beberapa orang cucu ini, pasti lebih paham tentang hidangan Soto di berbagai sisi pulau Jawa. Termasuk penjual Soto Kudus dengan daging kerbau yang berada di Grand Galaxy, tempat di mana O’ik tinggal. Adalah kedai bernama Soto Kudus Matahari yang selalu jadi incaran karena menyajikan Soto Kudus dengan sajian otentik dengan banyak penggemar hingga kini.

Menyusur Rasa Menggugah Selera Lewat Buku Kelana Rasa nusantara
Kiri: Salak + Pliek U (Raihana Mahmud) | Kanan: Sambai On Peugaga (Raihana Mahmud)
Menyusur Rasa Menggugah Selera Lewat Buku Kelana Rasa nusantara
Kiri: Sate Maranggi Sari Asih Cipanas (Annie Nugraha) | RM 999 Ayong Pontianak (Annie Nugraha)

Last but not least adalah lima artikel yang saya siapkan. Saya menghadirkan tulisan yang mengajak pembaca menyusur rasa menggugah selera lewat buku Kelana Rasa Nusantara. Di antaranya adalah Sate Maranggi Sari Asih Cipanas Jawa Barat, Camilan jadoel di Pasar Cihapit Bandung, jajanan merakyat yang disajikan di acara Car Free Day Garut, nasi telur ceplok yang ditawarkan oleh RM 999 Ayong Pontianak, dan beberapa kudapan (Lalampa dan Kue Lapis khas Tidore), dan Kopi Dabe saat saya bertamu ke Kadato Kie (Istana Sultan) Tidore.

Kelima topik yang saya angkat ini sungguh meninggalkan memori yang seru dari sekian banyak perjalanan panjang saya menyusur beberapa daerah di tanah air. Setiap langkah selalu disertai oleh sepaket pengalaman dengan kuliner. Tak lengkap rasanya berada di satu daerah atau di satu tempat tanpa mencoba tawaran jajanan di tempat yang bersangkutan. Dan itulah yang akhirnya mengajak saya berkenalan dengan sate maranggi Sari Asih, jajanan bermacam-macam di CFD Garut, telur ceplok ala RM 999 Ayong Pontianak, Lalampa, Kue Lapis Khas Tidore dan Kopi Dabe yang saya nikmati saat bertamu ke Kesultanan Tidore.

Tulisan yang tertuang dari perjalanan saya ke Cipanas, Garut, Bandung, Pontianak hingga Tidore. Semua meninggalkan jejak indah di hati, meski beberapa dari materi tulisan ini adalah kuliner baru yang hanya saya cicipi saat berada di daerah tersebut. Tak saya temukan di tempat saya tinggal karena pengolahannya yang eksklusif di lokasi tertentu. Untuk itulah dengan niat tulus dan hati riang gembira, saya membagikan semua pengalaman tersebut lewat buku Kelana Rasa Nusantara. Buku tentang kekayaan kuliner tanah air yang juga adalah antologi ke-3 PAPI di 2026.

Menyusur Rasa Menggugah Selera

Tag line ini, menurut saya, begitu pas untuk buku Kelana Rasa Nusantara. Setiap kontributor termasuk saya, merangkai diksi dari jejak berkelana ke beberapa daerah di Indonesia hingga menemukan dan merangkai kalimat penuh makna yang bertujuan untuk menggugah selera para pembacanya.

Selain sebagai sarana untuk (lebih) mengenalkan beberapa asupan yang (mungkin) belum banyak dikenal oleh masyarakat luas, Kelana Rasa Nusantara pun berharap untuk bisa menjadi salah satu buku rujukan saat kita berada di tempat yang dibahas di dalam buku ini. Rangkaian harapan dan doa baik yang juga diukir oleh Pondok Antologi Penulis Indonesia (PAPI) sebagai komunitas/wadah untuk menyusun buku ini dan Annie Nugraha Mediatama (ANM) yang selalu mendampingi PAPI dalam mencetak dan menyebarkan buku yang diterbitkan oleh PAPI.

Ingin menjadi bagian dari Kelana Rasa Nusantara dan ikut mendukung lahirnya buku cetak serta tetap berkembangnya dunia literasi tanah air? Yuk, hubungi saya di 0811-108-582 untuk mengadopsi Kelana Rasa Nusantara.

Menyusur Rasa Menggugah Selera Lewat Buku Kelana Rasa nusantara
Kiri: Camilan Jadul (Annie Nugraha) | Kanan: Kopi Dabe, Lalampa, dan Lapis Tidore (Annie Nugraha)
Menyusur Rasa Menggugah Selera Lewat Buku Kelana Rasa nusantara
Kiri: Jajajan CFD Garut (Annie Nugraha) | Kanan: Surabi (Tea Terina)

Menyusur Rasa Menggugah Selera Lewat Buku Kelana Rasa nusantara
Menyusur Rasa Menggugah Selera Lewat Buku Kelana Rasa nusantara
Menyusur Rasa Menggugah Selera Lewat Buku Kelana Rasa nusantara
Menyusur Rasa Menggugah Selera Lewat Buku Kelana Rasa nusantara

IG @annie_nugraha | Email: annie.nugraha@gmail.com

Leave a Comment