Car Free Day Garut: Asyiknya Menemukan Ragam Jajanan yang Memanjakan Lidah

Photo of author

By Annie Nugraha

Car Free Day Garut: Asyiknya Menemukan Ragam Jajanan yang Memanjakan Lidah
Pedagang bunga-bunga segar, kerupuk, dan Batagor yang sudah berbumbu

Salah satu kegiatan akhir pekan yang saya sukai adalah menyusur pasar dadakan di berbagai tempat. Pasar di area terbuka yang melibatkan banyak pejaja jalanan dengan segala macam jenis penawaran. Seperti halnya acara regular Car Free Day yang diadakan di Jl. Letjend. Ibrahim Adjie, Garut

Saya, si bungsu (Fiona), tiga orang ipar perempuan, dan beberapa keponakan, memutuskan untuk menghabiskan akhir pekan di Garut sekaligus membayar penasaran serunya naik kereta Panoramic. Salah satu kereta wisata dengan jendela kaca lebar-lebar yang dimiliki oleh KAI. Kami pun berangkat dari stasiun KA Bandung menuju Garut di pagi hari untuk tiba di Garut pas tengah hari.

Dari seluruh rencana yang sudah disusun, kami akan mengunjungi pasar kaget (yang disebut sebagai CFD) yang diselenggarakan di Jl. Letjend. Ibrahim Adjie. Sebuah kawasan jalan yang lumayan lebar dan masih diliputi oleh tanah terbuka di kedua sisi jalan.

Berikut adalah cerita tentang keseruannya.

Car Free Day Garut: Asyiknya Menemukan Ragam Jajanan yang Memanjakan Lidah
Jajanan serba aci, kudapan ala Jepang, dan kacang Edamame

Menemukan Ragam Jajanan yang Memanjakan Lidah

Kompak bangun di saat subuh, kami bersepuluh sarapan dengan nasi uduk yang dibeli lewat pesanan on-line. Enak juga ternyata. Meskipun akhirnya saya hanya bisa menghabiskan setengah porsi karena kuota nya terlalu banyak dan saya memang tidak terbiasa sarapan terlalu pagi. Nasi uduk yang kami pesan mampu membuat mata membelalak dengan lambung yang mendadak terisi penuh.

Etapi, kalau buat saya sih, si pengangguran rumahan ini, makan terlalu ekstrem banyaknya tuh malah bikin ngantuk deh. Apalagi untuk sarapan. Jadi biasanya, hampir setiap hari, saya hanya makan dengan porsi sedikit kemudian ditutup dengan secangkir kopi hitam. Itu pun jika breakfast mood nya muncul atau ada yang menawarkan asupan yang membuat saya ngiler. Kalau enggak yah dengan ngopi aja sudah cukup.

Setelah semua membereskan acara “setoran” dengan kamar kecil, kami pun semua semangat berangkat.

Kami sempat nyasar di belokan yang salah saat mencapai sebuah jalan besar yang jaraknya hanya sekitar 10-15 menit dari villa yang kami sewa. Tadinya sempat kecewa. Wah, jangan-jangan CFD nya tidak ada hari ini. Kami datang di Minggu yang salah. Jalanannya benar-benar sepi tanpa ada tanda-tanda akan ada kegiatan atau keramaian tertentu.

Setelah sempat berhenti beberapa saat, Kang Rahman, yang mengantarkan kami pagi itu, tiba-tiba tersadar bahwa dia ternyata sudah salah mengambil belokan. Di dalam peta (GMaps) jelas terlihat bahwa CFD Garut yang kami incar berada di sisi jalan yang berbeda. Dari persimpangan di awal tadi seharusnya kami belok ke kiri bukan ke kanan.

Cuslah, mari kita putar balik. Saya yang tadi sempat kecewa, akhirnya berbinar-binar lagi. Bukan makan lagi nya yang saya incar, tapi kesempatan untuk memotret di antara kegiatan seru lah yang lebih mendorong saya untuk semangat menyusur CFD Garut.

Car Free Day Garut: Asyiknya Menemukan Ragam Jajanan yang Memanjakan Lidah
Puding keju karamel dan beberapa juice buah yang sudah dimasukkan dalam botol

Mobil Hiace empat belas seats yang kami sewa, harus parkir di pinggir jalan dengan posisi lumayan jauh dari pusat keramaian CFD Garut. Adalah kira-kira tiga ratus meteran dari titik awal tenda makanan yang paling ujung. Tapi saya tetap semangat. Yah sekalian olah raga pagi-pagi. Mencari keringat sembari menyusur banyak hal yang menarik hati.

Saat datang, barisan kedai sederhana dengan berbagai tampilan warna-warni yang seru sudah terlihat dari kejauhan. Meja yang digunakan berikut penutupnya tersedia seadanya saja. Tidak ada arahan atau aturan tertentu untuk kedainya. Yang penting berjajar rapi, tidak “makan jalan”

Saya berjalan dengan pelan tapi penuh semangat. Berharap bertemu dengan banyak makanan atau jajanan yang memanjakan lidah dan jarang saya temukan. Pengen gitu menemukan panganan khas Garut yang bisa saya potret dan kulik keunikannya.

Bakal ketemu apa aja ya kira-kira?

Yang saya temukan pertama kali adalah es jeruk peras murni dan beberapa minuman segar dalam botol-botol ukuran 300ml. Beneran pas dengan apa yang saya inginkan karena sedari tadi leher mulai terasa kering. Penjual minuman dingin ini menawarkan juice dan ada juga yang berupa sirup. Saya lebih memilih es jeruk peras itu karena diproses di depan saya langsung dan bisa minta tanpa gula. Sementara juice dan deretan minuman dingin lainnya itu sudah ditaruh di dalam wadah botol plastik. Syukurnya sang penjual mau dengan jujur menyampaikan informasi tentang kandungan gula itu. Jadi amanlah buat saya yang memang (sangat) menjaga kandungan gula dalam setiap asupan.

Berjalan pelan sembari menikmati minuman dingin di tengah udara panas yang mulai menyerang dan cabang matahari yang buka di sana-sini, saya bertemu dengan seorang penjual crepes berwarna-warni. Bahannya disebar-sebar ke seluruh wajan yang sudah panas hingga membentuk jaring laba-laba. Semuanya kemudian diangkat sisi demi sisi hingga berbentuk wadah kerucut yang tinggi. Melihat bentuknya yang unik serta warna yang riang gembira, si bungsu tampak langsung tergoda. Dia pun sabar mengantri di antara barisan anak-anak dan remaja yang sepertinya menjadi konsumen utama penjual ini.

Sembari menunggu si bungsu, saya berpindah ke kedai sebelahnya. Di sini jualannya begitu menarik perhatian dengan bentuknya yang lucu. Di kedai ini saya melihat sebuah meja panjang dengan banyak wadah plastik. Isinya nih yang sungguh menarik perhatian saya. Di wadah ini berjejer Lukchup kecil-kecil dan berwarna-warni yang begitu menggoda dan menggemaskan.

Tau kan apa itu Lukchup? Jajanan ini dikenal sebagai camilan penutup (dessert) asal Thailand. Sering juga disebut sebagai Buah Fantasi. Berbahan dasar kacang hijau yang diolah dengan gel tranparan sebagai cover atau lapisan terluar nya, Lukchup dibentuk menyerupai sayuran atau buah-buahan bak miniatur. Sebagai seorang handmade creator, saya yakin seseorang butuh keahlian khusus dan kesabaran luar biasa untuk membuat Lukchup ini. Apalagi jika sudah menyentuh details yang begitu menuntut deretan perincian yang gak mudah. Penentuan warnanya pun butuh sentuhan dan pengerjaan yang tidaklah mudah. Sungguh pekerjaan kreatif yang tak mudah pastinya.

Lama saya terpaku dan memotret di tempat penjual Lukchup ini. Membeli beberapa sembari terus memandangi setiap bentuk buah dan sayuran yang lucu-lucu ini. Gak tega buat makannya. Terlalu indah untuk digigit kemudian hanyut ke dalam lambung.

Car Free Day Garut: Asyiknya Menemukan Ragam Jajanan yang Memanjakan Lidah
Crepes jaring laba-laba yang dibuat berwarna-warni

Car Free Day Garut: Asyiknya Menemukan Ragam Jajanan yang Memanjakan Lidah
Aneka panggangan, Lukchup, dan beberapa minuman dingin

Langkah berikutnya adalah bertemu dengan para penjual serba aci. Dan ini memang jadi khas nya orang Jawa Barat. Namanya bisa macam-macam. Seperti cireng (aci digoreng), cimol (aci digemol), cilok (aci dicolok), cilung (aci digulung), cibay (aci ngambay), cilor (aci telur), cipuk (aci kerupuk), dan masih banyak lagi. Bentuknya rata-rata bulat tapi ada juga yang gepeng dan masih banyak lagi. Seiring dengan kegemaran publik, jajanan serba aci ini dibuat dengan banyak isian dan dihidangkan serba pedas. Kuahnya aja sampe terlihat merah membara. Pengen nyobain tapi saya gak kuat dengan rasa pedas. Lambung saya gak pernah kuat dengan apa pun yang pedas.

Tak jauh dari penjual Lukchup tadi, saya menemukan sewajan besar Tutut yang sudah dibumbui. Antriannya juga banyak meski tidak mengular seperti di kedai serba aci tadi. Saya mendadak teringat saat pernah mencoba makan Tutut ini. Perjuangannya juga tak mudah loh. Harus kuat menghisap supaya isian/daging Tututnya bisa lepas. Tapi kalau tak kuat melakukan ini, kita bisa mencoel si daging menggunakan tusuk gigi. Prosesnya memang butuh kesabaran dan duduk manis supaya bisa konsen menggali dagingnya.

Tutut juga dikenal sebagai Keong Sawah, Siput Sawah, Keong Air Tawar, dan Keong Gondang. Karena hidup di air tawar, Tutut masuk dalam golongan asupan halal. Yang penting sebelum dimasak, Tutut harus dibersihkan dengan hati-hati sampai banyak kotoran yang tersimpan di dalam cangkang dapat dikeluarkan semua.

Sejauh yang saya tahu, Tutut seringnya dimasak dengan kuah santan tapi encer saja. Kuah ini tentu sudah dibumbui oleh berbagai bumbu dapur dan biasanya dibuat pedas untuk membangkitkan selera dan rasa.

Dari beberapa referensi yang saya baca, Tutut ini kaya akan gizi, mengandung protein tinggi, kalsium, zat besi, Omega-3, dan berbagai vitamin yang baik untuk kesehatan tulang, mencegah anemia, menjaga fungsi otak, dan meningkatkan imunitas tubuh.

Car Free Day Garut: Asyiknya Menemukan Ragam Jajanan yang Memanjakan Lidah
Cireng, Lukchup, dan sewajan besar Tutut yang sudah dimasak berbumbu

Car Free Day Garut: Asyiknya Menemukan Ragam Jajanan yang Memanjakan Lidah
Beberapa bentuk cireng isi dan Lukchup dalam bentuk miniatur sayuran

Langkah selanjutnya mempertemukan saya dengan penjual buah-buahan. Khususnya strawberry yang jadi favorit seumur-umur. Per wadah plastiknya juga gak mahal sih. Berkisar antara Rp10.000,00 hingga Rp20.000,00 per plastik. Kondisinya masih segar-segar betul. Saya memutuskan untuk membeli agak banyak tapi menyantapnya di villa saja. Karena akan lebih baik jika dibersihkan dahulu dengan cara direndam air garam sebanyak dua kali proses.

Teknik ini diajarkan oleh guru olah raga saya semasa SMA. “Jangan lupa gunakan air minum untuk membersihkannya ya.” Demikian pesan sang guru pada waktu itu. Hingga akhirnya, sampai saat ini, setiap mengkonsumsi buat yang tidak dikupas, saya selalu melakukan apa yang dianjurkan.

Saya kemudian bertemu dengan penjual makanan serba kukus. Mulai dari bolu, pisang, kacang, dan gelaran lain yang dikukus untuk sarapan. Melihat makanan seperti ini mengingatkan saya akan undangan/pertemuan dengan pihak pemerintah. Kalau dulu sajiannya berupa kue atau jajanan pasar, sekarang-sekarang diganti dengan serba rebusan. Saya sih suka-suka aja. Makanan rebusan juga baik untuk orang seusia saya. Plus sekalian jaga berat badan biar entar pas dikubur gak ngerepotin dan ngeberatin orang-orang yang ngangkat.

Jalan lagi ah.

Selain pedagangan makanan atau masakan, di CFD Garut ini saya juga bertemu dengan penjual sprei dan perlengkapan tidur termasuk piyama, daster, dan pakaian tidur buat anak-anak. Saya cukup lama mengobrak-abrik kedai ini. Tambah lama karena ternyata motif baju tidurnya menarik dan terasa nyaman buat dipakai. Harganya juga ala Mangga Dua. Si bapak penjual pun ramah banget. Berani mengusulkan motif dan warna yang cocok untuk kulit saya. Terkadang ngomongnya hiperbola, rajin memuji. Tapi ya memang rumus itulah yang digunakan oleh penjual kan?

Selain jajanan ala daerah, CFD Garut juga tampil dengan kuliner kekinian atau yang berasal dari negara lain. Seperti dimsum dan mie ayam ala Tiongkok, Sushi – Mochi – Takoyaki – Dorayaki ala Jepang, Tteokbokki ala Korea, ayam goreng tepung dan sajian daging-dagingan ala Amerika.

Kemudian ada juga yang jual bunga-bunga segar yang per ikatnya dijual di harga Rp15.000,00 hingga Rp25.000,00. Pengen ih beli tapi sayang I’m far away from home. Padahal seneng deh naruh vas bunga tinggi dengan bunga-bunga segar berwarna-warni. Yang segar-segar juga ada sayur-sayuran tapi gak banyak. Kerupuk berbungkus-bungkus besar juga tersedia. Kalau di kompleks perumahan saya di Cimahi, selalu deh langganan beli banyak. Jadi seringnya tiap pulang ke Cikarang, area bagasi dipenuhi oleh berbagai jenis kerupuk, selain sayur dan buah.

Car Free Day Garut: Asyiknya Menemukan Ragam Jajanan yang Memanjakan Lidah
Strawberry segar dan bolu kukus

Pulang dengan Ceria

Saking asyiknya berkeliling, dering telepon dari kakak ipar tertua beberapa kali tidak terdengar. Untungnya HP saya kemudian tak titipkan ke si bungsu. Instruksi kembali ke mobil pun dilayangkan. Saya pun langsung bergegas. Sudah pukul 10.30 WIB ternyata. Pantes udara semakin panas dan keringat bercucuran dengan derasnya. Untung belum mandi hahaha.

Ketika melayangkan pandangan sejauh yang saya bisa, ternyata saya dan si bungsu sudah berjalan jauh banget. Ya ampun. Jadi saat melangkah balik ke arah parkiran mobil, saya harus mampir lagi ke penjual es jeruk untuk melegakan leher yang mulai tercekat kehausan. Dan tentu saja sembari menabung semangat agar bisa mencapai titik awal tadi.

Melangkah di sisi yang berbeda saat datang tadi, saya malah bertemu banyak penjual lainnya yang sayangnya tidak bisa saya hampiri. Sebagian besar adalah penjaja makanan atau jajanan yang disukai oleh anak-anak generasi sekarang dan serba gorengan itu. Malah ada beberapa warung dadakan dengan meja dan dudukan yang menghidangkan bubur ayam. Wanginya ya ampun. Menggoda banget deh. Beneran asyik untuk ngaso berlama-lama. Yang ngantri juga banyaknya gak kira-kira. Pertanda kuat bahwa bubur ayam ini enak dan laris manis.

Ah sutralah. Semoga di lain waktu saya bisa melancong kembali ke Garut dalam formasi lengkap (suami dan anak-anak). Punya waktu lebih lapang dan tenaga yang lebih mumpuni untuk menyusur dari ujung ke ujung. Sekarang-sekarang saya sudah lumayan sering olga jalan kaki seputaran kompleks atau di kawasan apartemen di mana anak-anak saya tinggal. Jadi bakal lebih siap menjelajah.

Car Free Day Garut: Asyiknya Menemukan Ragam Jajanan yang Memanjakan Lidah

IG @annie_nugraha | Email: annie.nugraha@gmail.com

Leave a Comment