Menjajal Kereta Api Panoramic Papandayan, Benarkah Seasyik yang Direferensikan Publik?

Photo of author

By Annie Nugraha

Menjajal Kereta Api Panoramic Papandayan, Benarkah Seasyik yang Direferensikan Publik?

Menjajal Kereta Api Panoramic Panpandayan, Benarkah Seasyik yang Direferensikan Publik? | Travel & Featured | April 2026

Awal Februari 2026, saya dan keluarga disibukkan dengan rencana wisata keluarga ke Garut. Nawaitu utamanya adalah menjajal kereta api Panoramic Papandayan dengan rute Bandung – Garut. Benarkah seasyik yang direferensikan oleh publik?

Semalam sebelum keberangkatan saya kembali memastikan penyewaan kendaraan Hiace yang sudah jadi langganan keluarga. Kendaraan ini akan mengantarkan kami ke Stasiun Kereta Api Bandung (Stasiun Bandung) di seputaran Kebon Kawung lalu melanjutkan perjalanan ke Stasiun Kereta Api di Garut (Stasiun Garut). Mobil ini akan berpenumpang sekian banyak koper dan beberapa bawaan, sementara kami akan menaiki kereta api Panoramic Papandayan lalu dijemput di Stasiun Garut.

Saat adik ipar menyampaikan wacana ini di WAG keluarga, saya langsung menyatakan diri untuk ikut bersama si bungsu karena sudah lama (banget) penasaran ingin merasakan mewahnya kereta Panoramic.

Rencana kali ini adalah serangkaian perjalanan dua hari semalam ke kota kecil yang tahunan terkenal sebagai produsen dodol. Sementara saya, demi efisiensi, harus berangkat dari Cikarang di Jumat dan baru kembali lagi ke Cikarang di Selasa minggu depannya. Tidak ikut rombongan kembali ke Bandung di Minggu karena berencana menambah sehari semalam lagi untuk menikmati waktu libur tambahan bersama si bungsu.

Rencana ini jadi tambah seru karena kami akan menaiki satu jenis kereta wisata, di bawah koordinasi dan manajemen KAI Wisata, anak perusahaan dari PT KAI. yang sering jadi pembicaraan para pejalan. Liputannya lewat YT pun sering saya saksikan. Diulas lengkap dengan rangkaian kalimat pujian yang tak henti dihaturkan.

Asyik betul tampaknya.

Menjajal Kereta Api Panoramic Papandayan, Benarkah Seasyik yang Direferensikan Publik?

Info Ticketing

Kami berangkat bersepuluh jadi butuh waktu jauh-jauh hari agar dapat tempat duduk berdampingan. Jadi tiga minggu sebelum keberangkatan, adik ipar sudah menyusur tautan booking.kai.id agar perjalanan aman dan damai karena jumlah tempat duduk di Kereta Panoramic hanya ada tiga puluh delapan (38).

Takut rebutan dan gak kebagian meskipun bukan di musim liburan. Karena kabarnya kereta Panoramic masih banyak peminatnya.

Seperti biasa, untuk pembelian tiket, semua data pribadi yang ada di KTP harus disiapkan dan didaftarkan. Saya sempat worried karena si adik sempat tak berkabar di WAG. Karena jika pembelian lewat link KAI menimbulkan keruwetan, saya ingin mengusulkan lewat OTA saja. Tapi akhirnya sepuluh tiket seharga Rp275.000,00/orang itu pun kami dapatkan tanpa hambatan berarti. Tempat duduknya pun dengan formasi berdampingan.

Menjajal Kereta Api Panoramic Papandayan, Benarkah Seasyik yang Direferensikan Publik?

Stasiun Kereta Bandung yang Bersahaja

Mengejar jadwal pukul 09.50 WIB, rombongan kami berangkat dari Cimahi menuju Bandung kota sekitar pukul 08.00 WIB dengan menyediakan waktu ekstra untuk menghadapi kemacetan sekitar dua puluh menit. Tak terduga ternyata ketakutan akan macet ini tidak terjadi. Kami malah sudah mencapai kawasan Kebon Kawung hanya dalam dua puluh menit saja.

Dengan sisa waktu selega itu saya malah punya kesempatan banyak untuk menyusur setiap sudut stasiun yang sudah dipadati oleh para pelancong. Seperti layaknya sebuah stasiun, sisi depan diisi oleh banyak outlet yang menjual berbagai jenis pilihan oleh-oleh, mini market, berbagai tempat bersantap, sembari menunggu berangkat atau dijemput. Ada juga tempat menunggu dan beberapa loket pembelian tiket secara langsung. Tapi saya lihat antrian nya sepi karena sebagian besar orang tentunya memilih bertransaksi via digital.

Kedai dan beberapa toko yang berada di tengah bangunan tampaknya punya akses yang lebih baik. Karena setiap pengunjung stasiun bisa bertransaksi dari dua arah. Teras depan atau bagian dalam yang hanya diperuntukkan bagi penumpang kereta.

Saya sendiri tidak mengalami hambatan untuk masuk karena sudah mendaftarkan face recognition. Jadi saat di depan pintu masuk ke ruang tunggu, saya tinggal berdiri tegak di hadapan sebuah alat pengenal wajah, tunggu proses scanning sekitar beberapa detik, maka pintu atau alat pembatas pun akan terbuka secara otomatis.

Yang sering bertransportasi menggunakan kereta, ada baiknya mendaftar untuk face recognition ini ya. Beneran sangat membantu. Gak perlu ngantri berlama-lama dan gak perlu nyetak tiket. Di setiap stasiun ada kok petugas yang melayani proses pendaftaran ini.

Makasih buat Pak Jonan (mantan Menteri Perhubungan) yang sudah merombak manajemen dan kinerja KAI menjadi jauh lebih baik dan bisa tetap diaplikasikan tanpa kendala hingga saat ini.

Melewati pemeriksaan dan pintu masuk tadi, terhidang area menunggu yang bersih dan tertata dengan baik. Ada kedai buat jajan, deretan tempat duduk yang nyaman dan banyak, meja khusus untuk mereka yang mau menunggu sambil bekerja, colokan listrik yang berlimpah, mini market, bahkan meja pijit koin yang dapat digunakan dengan baik. Ruang basuhnya pun bersih dan terjaga dengan baik oleh beberapa petugas kebersihan.

Persis di area menunggu ini, kita dapat melihat beberapa jalur rel tempat kereta api melintas. Untuk kereta api Panoramic Papandayan, saya harus naik ke jembatan penghubung terlebih dahulu sebelum menunggu di peron/platform 4. Beberapa petugas berseragam sporty terlihat sigap dan ramah mengarahkan agar tak ada satu pun penumpang kebingungan.

Menjajal Kereta Api Panoramic Papandayan, Benarkah Seasyik yang Direferensikan Publik?

Kereta Wisata yang Menyenangkan

Sekitar lima menit menunggu di platform, kereta Panoramic Papandayan pun datang dengan bunyi peluit yang menembus gendang telinga. Waktu untuk boarding sesungguhnya tidak banyak, tapi kami harus menunggu para penumpang yang turun terlebih dahulu karena hanya mengambil rute Jakarta – Bandung.

Beruntungnya kami tidak membawa koper atau pun gembolan berat. Jadi kaki pun lincah melangkah tanpa repot urusan bagasi.

Di dalam ternyata masih ada penumpang yang naik di Jakarta. Mereka terlihat pergi dalam rombongan karena percakapan, tawa riang, dan saling memotret tampak masih riuh berlangsung. Terlihat juga petugas kebersihan dan beberapa room attendant berseragam yang juga sibuk beberes. Khususnya di area mini bar.

Saya memutuskan untuk mencari tempat duduk terlebih dahulu sebelum berkelana singkat untuk memotret dan menjelajah.

Gerbong khusus untuk Panoramic ini cuma ada satu dari serangkaian gerbong lainnya. Dari sisi luar tadi gerbong ini langsung terlihat berbeda. Kacanya besar-besar dengan pewarnaan yang lebih eye-catchy dan mewah. Tulisan “Panoramic” pun disematkan sebagai penanda.

Selain kursi kulit yang sangat nyaman berjumlah tiga puluh delapan, di ruang ini ada rak bagasi, mini bar, televisi ukuran besar yang saya lihat dilengkapi juga oleh peralatan karaoke. Kaca besar tebal memanjang telihat terpasang dengan baik dan aman. Kaca film UV filter nya pun berfungsi dengan maksimal. Jadi meski duduk di bagian pinggir kaca, saya tidak merasakan efek panas yang berarti. Padahal terlihat jelas betapa ganasnya sinar matahari menerjang, menemani sepanjang perjalanan.

Tempat duduknya nyaman tentu saja. Dibandingkan dengan kursi di gerbong luxury yang pernah saya coba sepanjang perjalanan dari Gambir ke Stasiun Tugu Jogjakarta, menurut saya, bangku di gerbong Panoramic ini (jauh) lebih nyaman dan lebih luas. Bedanya hanya di posisi reclining nya saja. Kemampuan rebahan di Panoramic ini masih terbatas. Tapi untuk bangku nya sendiri saya tetap acungkan jempol.

Meja makan lipat nya pun mudah untuk dikeluarkan dan dimasukkan. Colokan listrinya juga berfungsi dengan baik. Jadi jangan takut kehabisan daya untuk peralatan elektronik kita. Khususnya handphone. Sambungan wifi juga tersedia dengan daya jangkauan yang lumayan stabil. Tapi kita perlu menanyakan password nya kepada petugas.

Bagaimana dengan urusan lambung?

Selama dalam perjalanan, saya mendapatkan berbagai sajian. Dua potong roti dan sekotak pop-corn manis dan asin. Saya juga disajikan air putih botolan dan minuman sari kelapa. Semua untuk saya sih cukup ya karena disediakan hanya untuk sekitar dua jam perjalanan saja. Air putihnya juga bisa kok minta lagi. Pokoknya gak bakalan kehausan selama dalam perjalanan.

Para petugas juga menawarkan kopi atau teh untuk dinikmati. Dan ini free of charge.

Jika masih belum cukup, ada juga penawaran jajanan dari petugas yang bisa kita beli di tempat. Jadi food and drink trolley yang melayani gerbong lainnya, juga diijinkan masuk ke gerbong Panoramic. Saya sempat tergoda dengan tawaran cuanki nya. Tapi mengingat bahwa kami akan langsung makan siang di sebuah restoran besar di kota Garut, godaan ini berhasil saya tepiskan.

Keistimewaan lain yang saya lihat dari gerbong Panoramic ini adalah bagian atapnya.

Sembari duduk, saya bisa menatapi plafon gerbong yang adalah kombinasi antara kaca tebal, rangkaian kayu, kaca bermotif warna warni, dan sentuhan estetik lainnya. Semua terkombinasi, tertata, dan terpasang sempurna. Kabarnya sih plafon ini bisa dibuka tutup. Tapi saat saya berada di dalam, kondisinya dalam posisi setengah terbuka. Mungkin untuk menghindari over lighting alami yang menyerbu kepala kita.

Di salah satu ujung gerbong saya bisa melihat sebuah TV besar dengan perlengkapan sound system mini di bawahnya. Sepertinya ini bisa digunakan untuk kegiatan karaoke. Cocok nih untuk perjalan eksklusif keluarga. Menyewa satu gerbong khusus untuk rombongan sendiri. Asyik banget pastinya. Bisa menikmati hiburan dengan nyanyi bersama.

Tapi selama dalam perjalanan saya, TV ini tidak dinyalakan sama sekali. Tapi ya buat apa juga. Secara ya semua penumpang sepertinya lebih menikmati waktu memandang keluar. Apalagi kan pasti jarang-jarang bisa “menonton” sajian alam lewat jendela besar.

Sekarang tak cari dulu toilet nya. Kebelet pipis euy.

Pintu menuju toilet ini berada persis di samping TV terpasang. Pintunya sudah menggunakan sensor jari. Sama persis dengan gerbong-gerbong KAI lainnya. Yang membuat saya terkagum bukan soal betapa responsif nya tombol sensor itu, tapi pada toiletnya itu sendiri.

Toiletnya luas banget. Mungkin karena tidak ada pemisahan antara lelaki dan perempuan. Sentuhan interior design nya mewah. Wastafel nya dihadirkan dengan warna keemasan. Peralatannya lengkap dan berfungsi dengan baik. Tempat buang airnya juga bersih tanpa cela. Disediakan dua. Khusus lelaki dan perempuan.

Yang saya terlewat adalah ruang untuk salatnya. Saya yang memang gak jeli menemukan atau memang ada di bagian lain.

Menjajal Kereta Api Panoramic Papandayan, Benarkah Seasyik yang Direferensikan Publik?

Pengalaman Menjelajah

Sekitar empat puluh lima menit sebelum tiba di Stasiun Garut, room attendant menawarkan semua penumpang untuk menggeserkan bangku menghadap ke kaca. Tentu saja gak ada yang menolak.

Jadilah semua menghabiskan sisa waktu perjalanan berhadap-hadapan dengan kaca besar panoramic untuk menikmati aneka pemandangan. Hutan, gunung, sawah, jalanan darat yang terlihat dari dari jarak jauh, beberapa stasiun kecil, rumah penduduk, terowongan, bahkan beberapa tempat yang mulai terbengkalai. Seorang petugas terdengar menyampaikan beberapa rincian untuk tempat-tempat atau titik tertentu yang memiliki sejarah khusus. Salah satunya adalah sebuah jalur membelok, hampir membentuk huruf U. Lintasan ini memungkinkan kita, khususnya yang duduk di kaca bagian kiri, untuk melihat gerbong paling belakang.

Seru juga ternyata.

Di antara waktu menyaksikan ini, sembari menghirup kopi hitam, saya mendadak membayangkan berada di dalam sebuah kereta yang mengantarkan saya ke Switzerland. Khususnya ke Zermatt, Interlaken, atau Montreux. Tiga kota dengan masing-masing karakter yang luar biasa cantik dan indah dengan sentuhan kedamaiannya. Duduk tenang menaiki kereta vintage untuk mencapai salah satu kota tersebut di tengah hujan salju. Sementara saya asyik menggenggam secangkir kopi hangat dengan telapak tangan menggunakan sarung tangan khusus winter, mantel tebal, penutup kepala tebal dengan sorot mata bahagia yang tak henti menatap keluar jendela.

MasyaAllah. Semoga impian ini suatu saat akan jadi nyata ya. Salah satu perjalanan menaiki kereta yang tak henti mampir dalam setiap detik mimpi saya.

Saya tersadar dari rangkaian harapan tersebut saat room attendant menyapa karena akan mengembalikan posisi kursi seperti semula. Kereta pun akan segera menyentuh Stasiun Garut dalam lima belas menit ke depan. Jadi semua penumpang harus bersiap-siap dengan barang bawaan.

Saya tersenyum semanis mungkin. Semanis gula isi kue kelepon dan segurih taburan kelapa di atasnya. Satu lagi traveling wishlist saya terwujudkan. Dan satu lagi pengalaman naik kereta api yang menyenangkan. Plus sudah membuktikan sendiri asyiknya menjajal kereta api Panoramic Papandayan seperti yang disampaikan oleh publik kebanyakan.

Menjajal Kereta Api Panoramic Papandayan, Benarkah Seasyik yang Direferensikan Publik?

Menjajal Kereta Api Panoramic Papandayan, Benarkah Seasyik yang Direferensikan Publik?

Menjajal Kereta Api Panoramic Papandayan, Benarkah Seasyik yang Direferensikan Publik?

Menjajal Kereta Api Panoramic Papandayan, Benarkah Seasyik yang Direferensikan Publik?

IG @annie_nugraha | Email: annie.nugraha@gmail.com

18 thoughts on “Menjajal Kereta Api Panoramic Papandayan, Benarkah Seasyik yang Direferensikan Publik?”

  1. Highlight utamanya jelas di jendela kaca besar dan atap transparan yang bikin pemandangan sepanjang perjalanan jadi lebih maksimal. Buat yang suka healing tipis-tipis tanpa harus capek, ini menyenangkan banget. Apalagi kalau dapat cuaca cerah, view-nya benar-benar memanjakan mata.

    Reply
    • Betul banget. Duduk melamun memandangi dunia luas sembari ngopi rasanya pas banget di kereta Panoramic ini. Nyenengin deh.

  2. Tahun lalu suami saya mengajak divisinya untuk gathering karyawan sekalian naik gunung Papandayan. Mereka menyewa gerbong kereta panoramic ini…Hadeh saya ngiri sekali, lalu berharap nanti bisa naik ini. Baca review Mba Annie makin julid jadinya…hahaha
    Saya merasa bangga kereta api Indonesia kini sedemikian kerennya. Kebayang naik KA panoramic dengan view yang cantik… Seruuu!

    Reply
    • Kalo berangkat dari Jakarta, pelayanannya lebih komplit lagi Mbak. Ada sekali makan siang dan dua kali kudapan. Free flow minuman pulak. Beneran gak bosan selama dalam perjalanan. Cus kudu cobain Mbak Dian. Seru banget.

  3. Sudah sering baca testimoni positif untuk kereta panoramic ini. Jadi pingin nyobain juga aku, Kak.

    Sahabatku sudah pernah daftar face recognition ini. Pas jalan-jalan ke Jember dan kami naik kereta api, dia santai saja masuknya pake deteksi wajah.

    Sedangkan aku masih pake manual. Hehehe

    Reply
    • Teknologi yang benar-benar mengubah pelayanan KAI itu adalah face recognition itu. Benar-benar memudahkan. Paperless pulak. Gak perlu ngeprint tiket. Tinggal setor muka.

  4. Ada beberapa kali melihat kereta Panoramic berseliweran di stasiun Jatinegara, penasaran juga sih seperti apa menikmati perjalanan dengan kaca besar yang tidak menghalangi pemandangan. Habis baca review mbak Annie ini makin menggelora deh keinginan untuk nyoba naik. Nti aahh kongkow sama adik bungsuku, kayaknya dia juga diam² pengen naik KA Panoramic ini😍đŸĨ°

    Reply
    • Nyaman dan seru banget Mbak Emma. Kalau berangkat dari Jakarta, layanannya lebih banyak. Dapat makan siang dan dua kali snack. Air putih bebas. Gak bakalan bosan. Kuy kudu dicoba Mbak.

  5. wah baru tau Panoramic ada jurusan Bandung-Garut , kirain cuma Jakarta-Surabaya

    entar mau coba ah, sampai Garut kan banyak penginapan, solo traveling (ups jadi ingat ada teman yang rumahnya di Garut)

    Mbak Annie dari Cimahi jam 8.00an , kayanya saya bisa juga.

    wah auto searching penginapan di kota Garut :D

    Reply
    • Saya juga baru tahu Mbak. Dari adik ipar yang pernah naik Panoramic ini bareng teman-teman kantornya. Saya juga baru kali itu benar-benar keliling Garut karena sebelumnya cuma datang ke kawasan yang menjual produk kulit aja. Belum pernah stay seperti ini.

  6. Bu, tak pikir harga tiketnya jutaan, ternyata malah di bawah 500rb yaa, termasuk terjangkau ya (aamiin)…
    Aku yang cuma baca bagian kursi yang diputar itu aja senengnya bukan main, gimana yang jadi penumpangnya ya pasti excited bangeet deh.
    Huhuu jadi pingin banding2in sama kota sendiri yang ngga punya moda transportasi KA sebagus ini…

    Reply
    • Lebih murah karena kami naik sudah di setengah perjalanan. Kalau naik dari Jakarta, sepertinya harganya bisa double. Tapi sesuai lah dengan kenyamanan, pengalaman, dan fasilitas yang kita nikmati.

      Di Sumatera memang belum ada kereta api yang setara dengan di Jawa ya Ci? Belum pernah pun aku dengar liputan dari para Youtuber. Apa aku yang gak update ya?

  7. Kalau melihat dan membaca ulasan soal kereta panoramic jadi bikin penasaran sangking belum pernahnya haha.
    Soalnya jadi membayangkan naik kereta bisa melihat ke arah langit nuansanya tuh berbeda dengan berada di kereta pada umumnya. Mirip-mirip kayak sedang berada di pesawat gitu kalau sambil lihat langit. Ada rasa takjub sambil tafakur alamnya yang menggema

    Reply
    • Aku malah membayangkan bisa naik kereta panoramic di sebuah negara yang sedang di musim dingin (winter). Memandang keluar melihat salju turun sembari menyesap kopi pelan-pelan. Syahdu banget pastinya ya Fen.

  8. Wah.. benar-benar dimanjakan ya mbak naik kereta panoramic ini. Dari servis sampai desain yang bikin mata kita jadi segar dengan melihat pemandangan di sepanjang perjalanan. Ah jadi mupeng deh, sayang di jatim rutenya masih sangat terbatas. Kalo ada yang dekat kan bisa cobain juga :(

    Reply
    • Kapan main ke Jakarta atau Bandung, bolehlah nyobain kereta Panoramic ini Mbak. Ambil tujuan Garut biar bisa sekalian menjelajah Kota Dodol ini.

  9. Aku bacanya sambil ngemil sambil nyeduh kopi dulu loooh… berharap kalo baca artikel di blog ini lamaaa sambil bayang-bayangin rasanya ada di kereta Panoramic… ckckckxk ke tiga negara Eropa? OMG itu impian gue juga loh! ngayal babu dulu ya buuu…

    anyway aku suka banget part kamar mandi, dipersilakan memutar kursi pluuussss makan yang disediakan beberapa kali! Penting banget itu!

    Reply
  10. Pengen banget nyobain sebetulnya, meskipun masih agak takut. Pernah melihat sendiri yang duduk dekat saya kepalanya berdarah karena kaca kereta pecah dilempar batu. Saya pun pernah mengalami meskipun gak sampai pecah. Kejadian yang udah lama banget, tapi masih keinget. Makanya setiap kali mau melewati area pemukiman padat penduduk, saya selalu menutup kaca dengan tirai.

    Kabarnya, kalau kaca panoramic itu khusus, ya. Gak mudah pecah. Makanya, saya tertarik juga. Apalagi baru tau ternyata bisa sampai Garut. Kirain Jakarta-Bandung aja rutenya.

    Reply

Leave a Comment