Rumah Tenun Puta Dino Kayangan Ngofa Tidore, Rumah Kreatif di Soa Sio yang Mencatat Sejarah Pelestarian Wastra Asli Tidore

Photo of author

By Annie Nugraha

Rumah Tenun Puta Dino Kayangan Ngofa Tidore, Rumah Kreatif di Soa Sio yang Mencatat Sejarah Pelestarian Wastra Asli Tidore

Rumah Tenun Puta Dino Kayangan Ngofa Tidore, Rumah Kreatif di Soasio yang Mencatat Sejarah Pelestarian Wastra Asli Tidore | Featured & Travel | Juli 2026

Dia dan semesta sedang tidak bercanda saat Anita Gathmir (Anita) menghubungi saya dan menginformasikan bahwa tiket PP Jakarta – Ternate via Garuda sedang diskon besar-besaran. Tidak ada alasan apa pun bagi saya untuk tidak menyambut tawaran ini. Apalagi saya punya harapan yang terus tertunda yaitu bertamu ke Rumah Tenun Puta Dino Kayangan Ngofa Tidore yang digagas oleh ibu tiga orang anak perempuan ini

Saya yakin Sang Maha Penentu dan semesta pasti punya rahasia untuk saya dan Tidore. Rahasia penuh kejutan yang bahkan tak pernah sekali pun terlintas tentang apa yang akan saya alami di tri semester terakhir 2025 yang lalu.

Setelah tujuh kali menjadi tamu warga Negeri Seribu Masjid ini, saya tak pernah membayangkan akan menginjakkan kaki kembali di Bumi Limau Duko untuk yang kedelapan kalinya. Angka yang tentunya tidak main-main untuk diperhitungkan bagi seorang non-akamsi (bukan anak kampung sini) pun yang tidak lahir di tanah ini.

Saya sering menggumam di dalam hati. “Anak berdarah Sumatera mana yang bisa seberuntung saya.” Apalagi untuk sampai di Tidore itu butuh dana yang tidak sedikit. Khusus nya untuk urusan tiket pesawat pulang pergi Jakarta – Ternate. Inti nya kudu diniatkan menabung secermat mungkin supaya bisa menyaksikan bagaimana negeri plus dua jam WIB ini bisa meninggalkan kesan luar biasa dalam sejarah dan menambah pengalaman kisah perjalanan itu sendiri.

Jadi saat Anita menelepon dan mengatakan bahwa Garuda Indonesia menawarkan paket diskon yang cukup signifikan, saya hanya butuh waktu sekian menit untuk menyatakan ikut. Sekian menit itu pun adalah untuk mendapatkan ijin suami dulu tentunya.

Kok bisa pas ya? Gara-gara telepon ini, saya langsung melamun sembari mengingat bahwa beberapa hari sebelumnya saya sempat memendam keinginan untuk “bertamu kembali sekalian pulang kampung” ke Tidore. Kepikiran aja mau bernostalgia. Bertemu kembali dengan mereka yang sudah seperti saudara dan anak-anak muda yang selalu dan kerap membantu saya saat ingin mengeksplorasi setiap sudut Bumi Marijang.

Siapa sangka niat serta kerinduan tersebut langsung diganjar oleh sebuah realita yang diatur sedemikian rupa oleh semesta. Khususnya keinginan kuat untuk menyambangi Rumah Tenun Puta Dino Kayangan Ngofa Tidore yang belakangan tahun bahkan hingga artikel ini saya hadirkan, telah menorehkan tumpukan prestasi di dalam maupun di luar negeri.

Rumah Tenun Puta Dino Kayangan Ngofa Tidore, Rumah Kreatif di Soa Sio yang Mencatat Sejarah Pelestarian Wastra Asli Tidore
Megah nya bangunan Rumah Tenun (kiri) | Salah satu ATBM yang digunakan untuk berproduksi (kanan)

Perjalanan Sarat Cerita

Waktu menunjukkan pukul 21.00 WIB saat taxi Blue Bird yang saya pesan tiba di depan rumah. Saya sudah siap. Koper sudah terkunci dengan baik. Ransel sudah padat dengan kebutuhan selama perjalanan. Pakaian hingga sepatu sneakers pun sudah saya kenakan dengan baik.

Just right on time.

Mengingat saat itu adalah hari kerja dan saya harus melewati tiga provinsi untuk menggapai bandara Soekarno Hatta (Jawa Barat tempat saya tinggal, masuk ke DKI Jakarta, lalu tiba di bandara yang berada di Tangerang Banten), saya memutuskan untuk berangkat di jam tersebut di atas sebagai antisipasi kemacetan yang biasa terjadi. Apalagi di hari itu saya sempat membaca berita bahwa hampir seharian ada beberapa demo yang harus saya lewati.

Kecemasan ini ternyata tidak terbukti. Rute yang saya tempuh ternyata lapang dan cenderung sangat sepi. Waktu hampir tiga jam yang biasanya saya hadapi saat ke bandara Soetta, malah terpangkas hampir setengah nya.

“Ibu pesawatnya jam berapa dan di terminal mana?” tanya bapak supir begitu saya menghempaskan bokong di kursi belakang.

“Terminal 3 Garuda ya Pak. Jadwal penerbangan saya sekitar jam satu dini hari.”

“Waduh. Kok cepat sekali berangkat ke bandara nya Bu?”

Pertanyaan balik ini membuat saya menceritakan semua yang harus saya hadapi saat menuju bandara. Supir taxi tentunya paham dan mahfum.

“Saya lebih baik menunggu di bandara Pak. Ketimbang harus sport jantung.”

Pak supir mengangguk dan mengiyakan. Tak apa. Bagi saya yang rumah nya memang “rada jauh dari peradaban” menyediakan ekstra waktu untuk perjalanan tentu nya jadi hal biasa. Tol Cikampek, tol lingkar dalam (kota) kondisinya selalu tak terduga. Apalagi di hari kerja. Lebih baik kecepatan datang daripada terlambat.

Pesawat kan gak menunggu saya bukan?

Terminal 3 sudah dipadati oleh para pejalan saat saya tiba di teras depan bandara. Pemandangan didominasi oleh wisatawan manca negara yang terlihat super sibuk mengangkat koper-koper berukuran raksasa. Itu pun belum termasuk beberapa ransel besar yang tampak bertengger di tubuh bagian belakang mereka. Ya ampun. Pasti berat banget itu yah.

Karena waktu serah terima bagasi masih lama, saya memutuskan untuk makan di salah satu resto di area check-in dan memutuskan untuk bekerja, melanjutkan artikel buku solo ke-3 yang sudah cukup lama terbengkalai. Saya beruntung karena bisa mendapatkan meja terakhir dengan empat tempat duduk untuk bertamu. Lega dan lapang. Seorang bule tampak mondar-mandir di hadapan saya. Dari lirikan mata yang sempat saya intip, sepertinya dia (mungkin) segan meminta ijin saya untuk berbagi tempat. Sampai akhirnya saya menyapa dan mempersilahkan dia duduk di hadapan saya, di meja yang sama. Senyum semringah nya langsung muncul. Usai meletakkan ransel yang tebal dan berat, dia pun duduk memesan makanan dan minuman.

Urusan kerja pun jadi terlupakan karena dalam hampir dua jam ke depan kami ngobrol bagai tak ada hari esok. Kadang serius dan kadang terbahak-bahak. Berasal dari kota Budapest, ibukota Hungaria, pembicaraan pun semakin seru karena saya bisa kembali menyusun cerita dan membangkitkan kenangan saat berada di kota ini tahunan yang lalu. Seru luar biasa.

Obrolan kami lalu tersambung dengan berbagai hal tentang Tidore yang belum pernah sekalipun dia kunjungi. Sebagai seorang photographer professional, insting motret Dave (lelaki ini) langsung menggeliat. Apalagi dia pernah memotret di beberapa pulau dan pantai di Indonesia bagian timur. Maka semakin panjanglah obrolan kami.

Mumpung ketemu tukang jepret, saya pun berguru tipis-tipis. Utamanya tentang menentukan sudut foto yang pas dan apik jika memotret menggunakan gawai. Dave ternyata tak pelit ilmu. Kemampuan nya untuk menjelaskan masalah teknis juga gampang saya pahami. Beberapa tombol di gawai saya pun dibuatkan pengaturan nya. Jadi saya tak perlu kotak-katik lagi.

Perbincangan pun kembali ke Tidore.

Saat saya melukiskan tentang kondisi fisik dan alam Tidore, dia semakin ingin tahu. Apalagi banyak tempat yang saya ceritakan memang estetik dan sangat indah untuk direkam dalam foto dan video. Tantangan yang pas untuk seorang photographer professional seperti Dave ini.

Cerita seluas jagat raya pun mengalir dari mulut saya bak burung cucak rowo yang baru selesai makan kroto semangkuk penuh. Tak ketinggalan juga saya ceritakan tentang Puta Dino, tenun asal Tidore, salah satu wastra kebanggaan tanah air, yang sempat hilang ratusan tahun lama nya. Tenun yang kemudian direvitalisasi lewat serangkaian penelitian kemudian dimunculkan kembali dalam bentuk fisik yang bisa disentuh oleh Anitawati (Anita Gathmir) bersama Puta Dino Kayangan Ngofa Tidore. Rumah kreatif di kelurahan Soa Sio yang mencatat sejarah pelestarian wastra asli Tidore.

Jabat tangan erat pun mengakhiri percakapan kami menjelang tengah malam itu. Dengan ramah Dave mengundang saya kembali ke Budapest serta berjanji akan menjadi photographer selama berada di sana. Pun saya berjanji akan menjadi host and guide Dave jika berkenan mengunjungi Tidore dan Rumah Tenun Puta Dino Kayangan Ngofa Tidore.

Usai berkicau di hadapan Dave, saya menemui Anita dan Ellen yang sedang mengantri di area check-in. Sementara saya hanya cukup menyerahkan bagasi karena sebelumnya sudah melakukan on-line check in. Perbedaan proses ini akhirnya membuat kami duduk terpisah.

Perjalanan empat jam selama di udara bersama Anita dan Ellen (tutor bahasa Inggris Anita) pun melanglang mulus hingga mendarat dengan selamat di Bandara Sultan Babullah Ternate sekitar pukul 07.00 WIT (05.00 WIB). Saya menikmati perjalanan udara ini dalam lelap kemudian melebarkan mata menyaksikan keindahan laut dan pegunungan yang menaungi beberapa pulau yang ada di Maluku Utara beberapa menit sebelum roda pesawat menyentuh landasan pacu. Keindahan dan kebahagiaan yang bakal jarang saya nikmati kecuali melakukan perjalanan udara seperti saat itu.

Oia, buat informasi tambahan. Karena Tidore tidak memiliki bandar udara, kita harus mendarat lebih dulu di Ternate. Disambung dengan jalan darat menuju pelabuhan Bastiong Ternate dan dilanjutkan dengan berlayar sekitar lima belas menit ke pelabuhan Rum Tidore.

Rumah Tenun Puta Dino Kayangan Ngofa Tidore, Rumah Kreatif di Soa Sio yang Mencatat Sejarah Pelestarian Wastra Asli Tidore
Defy dengan tenun hasil karyanya

To Ado Re Tidore

Deru perahu kayu bermesin tunggal mendadak membuat hati saya mengharu biru. Duduk di bagian lambung beratap rendah, saya menikmati masa dalam diam seraya mendengarkan hantaman air laut yang menampar dinding kapal. Kencangnya perahu yang berlari di atas air laut, membuat badan ikut terbanting-banting cukup heboh dan menutup pendengaran. Kami bertiga, saya, Anita, dan Ellen beserta dua lelaki yang menjemput dari Tidore menikmati seru nya waktu berlayar dalam guncangan serta tanpa suara obrolan.

Sekali lagi saya tak menyangka bahwa semesta sudah dengan begitu baiknya berkenan membawa raga ini menjadi tamu negeri yang berada di Titik Nol Jalur Rempah Dunia.

To Ado Re Tidore!!

Saya datang lagi ke pangkuan mu.

Hanya dalam hitungan menit, saya bisa melihat dermaga Rum yang sudah bersolek dengan warna biru kuning yang terang benderang. Pelabuhan kapal angkut manusia dan kendaraan roda dua ini terlihat begitu cantik dan mentereng dari kejauhan. Setelah dermaga kayu nya rubuh karena terhantam gelombang besar dan mungkin saja karena faktor usia, apa yang saya lihat sekarang sungguh membuat kagum. Bahan kayu tergantikan dengan bata dan semen yang membentuk sebuah dermaga yang lebih permanen.

Pelabuhan Rum tampil lebih kokoh dan gagah dengan aturan yang lebih tertata. Tidak sembarang orang bisa masuk dan keluar. Yang berada di seputaran dalam dermaga adalah mereka yang sudah membeli tiket, akan berlayar atau datang dari berbagai pelabuhan lainnya. Tak ada lagi barisan pedagang emperan yang memenuhi dan terkadang mendominasi pijakan kayu dermaga seperti yang saya lihat tahunan yang lalu.

Tapi saya terus terang kangen banget sama penjual bakulan itu. Mereka tampak bersahaja dan memberikan “warna tersendiri” untuk pelabuhan Rum. Hadir dengan barisan bungkusan kecil plastik yang isinya adalah berbagai camilan asin dan manis, para pedagang ini selalu membuat suasana pelabuhan kecil itu terlihat hidup. Yang dijual juga beragam dan tidak menghadirkan kemewahan. Mulai dari kacang-kacangan, kue khas Tidore yang dipotong kecil-kecil, hingga aneka asinan yang bisa bikin mata kita mengerjap-ngerjap. Lumayanlah untuk menghibur lidah selama dalam pelayaran. Asinan itu kabarnya bahkan bisa mengurangi rasa mual saat berlayar.

Rumah Tenun Puta Dino Kayangan Ngofa Tidore, Rumah Kreatif di Soa Sio yang Mencatat Sejarah Pelestarian Wastra Asli Tidore
Anitawati dan para penenun muda (kiri) | Salah satu hasil karya tenun yang lahir di Rumah Tenun Puta Dino Kayangan Ngofa Tidore (kanan)

Perjalanan kami kemudian dilanjutkan dengan melewati jalur darat selama kurang lebih empat puluh lima menit hingga satu jam. Setelah sempat sekian tahun tidak bertamu, khususnya saat pandemi menyerbu tanah air tanpa ampun, saya melihat beberapa perubahan sepanjang jalur menuju kelurahan Soa Sio di mana Rumah Tenun Puta Dino Kayangan Ngofa Tidore berada. Di antara perubahan yang cukup signifikan itu adalah tentang eksistensi mini market seperti Alfa dan Indomaret. Yang dulu dilarang dengan maksud mempertahankan roda bisnis warung-warung kecil milik masyarakat, sekarang (saat saya berkunjung di 2025) sudah lima unit menyebar di beberapa kelurahan.

Dalam perjalanan darat menyusur kawasan pesisir pulau Tidore ini juga, saya mendengarkan banyak kisah tentang perjuangan Anita membawa Puta Dino bersosialisasi baik di dalam dan di luar negeri. Mengikuti berbagai pameran industri kreatif dan wastra yang dikoordinasi oleh Bank Indonesia plus beberapa perjalanan ke luar negeri demi mengenalkan Puta Dino sebagai salah satu wastra kebanggaan dan patut mendapatkan tempat istimewa di tanah air.

Di waktu ini juga Anita menceritakan tentang perjalanannya ke Krakow Polandia. Lewat jaringan penggiat budaya, Anita menemukan lukisan Sultan Saifuddin, sultan ke-11 Tidore, yang sekarang terjaga dengan baik di Museum of Czartoryski  Krakow Polandia. Meskipun saya mengikuti presentasi secara daring dengan beberapa nara sumber dan ahli sejarah dari museum tersebut plus beberapa penggiat budaya Tidore, saya merasakan gairah dan keseruan yang berbeda saat mendengarkan langsung cerita Anita saat berada di sana.

Ulasan lengkap tentang hal ini saya bagikan di tautan di bawah ini ya.

Rumah Tenun Puta Dino Kayangan Ngofa Tidore, Rumah Kreatif di Soa Sio yang Mencatat Sejarah Pelestarian Wastra Asli Tidore
Acara potong kain yang diadakan setiap tanggal 15 setiap bulannya (kiri) | Diskusi, ngobrol, dan bertukar cerita menjadi bagian penting dari kegiatan para penenun (kanan)

Rumah Tenun nan Menawan

Meskipun sudah berulang kali berada di Tidore, saya sangat terkesan dengan area Topo Tiga di mana rumah tenun ini berada. Letaknya hanya sekitar dua ratusan meter dari Kadato Kie (Istana Kesultanan Tidore) yang berada di kelurahan Soa Sio.

Saat pertama tiba, saya menyempatkan diri menatap rumah tenun dari sebuah kejauhan dan mengambil beberapa foto sebelum terlibat dengan banyak kegiatan dalam empat hari mendatang. Berdiri gagah dan menjulang, rumah ini menampilkan nama mereka di halaman depan. Untuk memfasilitasi kedatangan tamu, rumah tenun menyediakan lahan parkir mobil dan motor. Di salah satu taman kecil terlihat sebuah tugu yang terbuat dari keramik yang mengabadikan rangkaian nama donatur untuk kepemilikan tanah wakaf yang menyanggah kemegahan bangunan ini. Sementara di bagian tengah depan bangunan terlihat tangga megah yang menghubungkan tamu langsung ke arah galeri penjualan yang ada di lantai dua.

Deretan donatur yang berjasa tersebut adalah: Sultan Husain Sjah, Dwi Tugas Waluyanto, Anita Gathmir, Marlison Hakim, Syamsul Umar, Risdan Harly, Dr. Nurul Afriyani, Nina Sigit, Dwi, Yuli S., Lazuardi S, Armand, Faujia, Tilaar, Martin Sumbaga, Dano Diafar Muhamad, H. Muhiddin, M. Salesn, Budiyono, BPRS Bahari Berkesan, dan BPR Bobato Lestari.

Saya angkat topi dengan arsitek yang membangun rumah tenun ini, khususnya di bagian tangga itu. Setelah beberapa kali menilik posisi tangga, saya jadi paham mengapa di depan tangga ini sengaja dibuat nama dan logo dari rumah tenun. Tentu saja dengan maksud agar tamu yang datang bisa berdiri di tangga lalu menorehkan kenangan semanis mungkin.

Rumah dua lantai yang dibangun di atas tanah wakaf produktif seluas hampir 300m2 ini berada di sebuah jalan menanjak, bertetangga dengan banyak penduduk, dan berseberangan dengan sebuah kompleks kecil makam warga setempat. Meski sudah melihat rumah ini lewat sosial media, kehadiran dan eksistensinya membuat saya tak henti berdecak kagum.

Bangunan nya sendiri berdiri tegak berkat bantuan Bank Indonesia. Institusi milik negara yang menjadi pendukung utama dari beberapa kegiatan sosialisasi yang dilakukan oleh Puta Dino Kayangan. Jadi tak heran jika prasasti peresmian Rumah Tenun Puta Dino Kayang Ngofa Tidore tertanggal 14 September 2019 ini ditandatangani oleh Ibu Destry Damayanti, Deputi Gubernur Senior Bank Indonesia.

Rumah Tenun Puta Dino Kayangan Ngofa Tidore, Rumah Kreatif di Soa Sio yang Mencatat Sejarah Pelestarian Wastra Asli Tidore
Anitawati (kiri) | Gantungan benang yang siap digunakan (kanan)

Tak ingin menyia-nyiakan waktu sementara hari masih belum terlalu siang, saya memutuskan untuk berkeliling, memotret, dan menikmati semua sajian istimewa di lantai bawah rumah tenun ini.

Memiliki dua lantai yang dibagi sama rata, lantai dasar rumah tenun digunakan untuk kegiatan produksi, penyimpanan bahan baku, dan tentu saja berbagai peralatan untuk menenun seperti ATBM (Alat Tenun Bukan Mesin) yang digerakkan dengan tuas di bagian bawah, alat tenun ukuran kecil (mini weaving knit) yang diputar dengan tangan, jarum tenun besar berbahan dasar kayu yang sering disebut sekoci karena bentuk nya mirip dengan kapal berukuran kecil, alat produksi benang dan barisan rol penggulung benang yang dipisahkan berdasarkan jenis dan warna, serta banyak alat pembantu untuk menenun lainnya, seperti alat pintal, alat nyucuk (berfungsi untuk memasukkan helai benang ke gun dan sisir), paletan (alas datar yang mampu menopang barang dalam jumlah besar), dan masih banyak lainnya.

Saat saya tiba di sini, kegiatan menenun tampak begitu menyentuh hati. Anak-anak muda berbakat, putera puteri kelahiran Tidore tampak aktif bergerak, menenun dengan konsentrasi tinggi, di tengah suara hentakan yang tercipta karena menggerakkan alat berbahan dasar kayu yang cukup besar.

Merekalah Sri Wahdania Abukasim S. (Wani), Iswanto Djafar (Is), Amaliyah Ayu Apriyani (Ayu), Meianisa Ode Sela (Mei), Risnawati Hi. Ishak (Risna), Defy Ansar (Defy), Nurraima A. Kadir (Ima). Para penenun muda yang memiliki keahlian, kesabaran, dan ketekunan menjaga lestarinya Puta Dino, wastra asli Tidore, yang sempat hilang ratusan tahun yang lalu. Belakangan saya mendapatkan informasi bahwa sejak 2026 telah bergabung Kalsum Khumaira di dalam tim penenun ini.

Saya ingin memastikan bahwa nama-nama mereka akan senantiasa tercatat dalam sejarah sebagai penenun Puta Dino lewat tulisan ini.

Rumah Tenun Puta Dino Kayangan Ngofa Tidore, Rumah Kreatif di Soa Sio yang Mencatat Sejarah Pelestarian Wastra Asli Tidore
Dua penenun muda, Mei dan Ima. Semoga Puta Dino akan tetap lestari di tangan terampil mereka

Yok sekarang saya ajak pembaca menelusur lantai dua.

Di lantai teratas rumah tenun ini tersedia galeri yang menampilkan banyak produk fashion yang diproduksi oleh para penenun. Mulai dari kain tenun meteran dengan berbagai motif, produk hasil jadi berupa pakaian, vest, topi, dompet, tas berbahan kulit yang sudah dikombinasikan dengan kain tenun, accessories, dan masih banyak lainnya. Termasuk beberapa produk makanan dan minuman dari beberapa UKM yang ada di Tidore dan Ternate.

Semua tersusun rapi, tertata dengan baik, dan siap diadopsi.

Kesibukan di lantai dua ini pun selalu terjaga dengan baik. Bukan sekali dua kali rumah tenun ini menerima tamu dalam dan luar negeri. Pejabat maupun rakyat biasa. Orang dewasa maupun anak-anak. Hingga para pejalan dan penulis seperti saya. Dan sepanjang yang saya ketahui hanya Rumah Tenun Puta Dino Kayangan Ngofa Tidore adalah satu-satunya galeri yang menyajikan banyak produk yang pantas dijadikan oleh-oleh selama wisatawan berkunjung ke Bumi Limau Duko. Inilah rumah kreatif di Soa Sio yang mencatat sejarah pelestarian wastra asli Tidore.

Yang sudah paham akan tenun maupun yang baru kali itu berkenalan dengan wastra yang hanya bisa lahir dari tangan-tangan yang sudah terlatih dan terampil, tentu nya akan terkesima akan keindahan serta keistimewaan beragam motif yang telah dikembangkan oleh Anita dan Puta Dino Kayangan sejak 2019. Bahkan hakul yakin akan bertambah terkesima jika mendengar cerita serta perjuangan yang dibutuhkan untuk Puta Dino hingga di titik sekarang.

Duduk di teras lantai dua ini, saya menyempatkan diri untuk kembali mengingat masa lalu.

Hati saya bahkan begitu tersentuh saat mengingat bagaimana Anita menjejak niat yang kuat untuk menghadirkan kembali Puta Dino. Mengetuk banyak pintu. Menyusun langkah-langkah kecil kesana-kemari tanpa rasa lelah. Dimulai dari niat kuat mencari jejak peninggalan yang tercecer di banyak tempat, bekerja sama dengan pihak Universitas Indonesia melakukan penelitian lalu membukukannya, bergerak ke sana-sini tanpa lelah untuk meraih dukungan, hingga akhirnya karpet merah pun menyambut Anita untuk bergerak menggali informasi, merangkum sejarah, semua agar Puta Dino berjaya kembali sebagai salah satu wastra nusantara yang layak ditengok, diolah kembali, dan dikenalkan pada dunia.

Dan itu bukanlah langkah yang mudah. Bukanlah seringan membalik telapak tangan.

Sekali lagi saya tergugu dalam diam di teras lantai dua. Meja dan bangku yang terbuat dari bambu totol ini menjadi saksi bahwa meski tak setetes darah di dalam tubuh saya tak menitis dari Tidore, kecintaan saya akan tanah ini, sudah merembes ke dalam nadi saya sejak kunjungan pertama di 2017.

[bersambung]

Rumah Tenun Puta Dino Kayangan Ngofa Tidore, Rumah Kreatif di Soa Sio yang Mencatat Sejarah Pelestarian Wastra Asli Tidore
Iswanti Djafar, satu-satunya penenun lelaki di Rumah Tenun (kiri) | Sekoci yang terbuat dari kayu. Salah satu alat yang digunakan untuk menenun
Rumah Tenun Puta Dino Kayangan Ngofa Tidore, Rumah Kreatif di Soa Sio yang Mencatat Sejarah Pelestarian Wastra Asli Tidore
Rumah Tenun Puta Dino Kayangan Ngofa Tidore, Rumah Kreatif di Soa Sio yang Mencatat Sejarah Pelestarian Wastra Asli Tidore
Keindahan gulungan benang yang menjadi bagian penting dari lahirnya Puta Dino
Rumah Tenun Puta Dino Kayangan Ngofa Tidore, Rumah Kreatif di Soa Sio yang Mencatat Sejarah Pelestarian Wastra Asli Tidore
Gulungan benang dan deretan ATBM yang berada di lantai satu Rumah Tenun
Rumah Tenun Puta Dino Kayangan Ngofa Tidore, Rumah Kreatif di Soa Sio yang Mencatat Sejarah Pelestarian Wastra Asli Tidore
Bangunan megah Rumah Tenun Puta Dino Kayangan Ngofa Tidore dan tugu kecil yang mencatat semua nama mereka yang terlibat dalam penyediaan tanah wakaf
Rumah Tenun Puta Dino Kayangan Ngofa Tidore, Rumah Kreatif di Soa Sio yang Mencatat Sejarah Pelestarian Wastra Asli Tidore
Anitawati (Anita Gathmir) sang pelopor lahir nya kembali Puta Dino di bumi Tidore

Rumah Tenun Puta Dino Kayangan Ngofa Tidore, Rumah Kreatif di Soa Sio yang Mencatat Sejarah Pelestarian Wastra Asli Tidore

IG @annie_nugraha | Email: annie.nugraha@gmail.com

Leave a Comment