
Gawai saya tak henti berdering siang itu. Sementara saya sedang dalam diskusi berkelanjutan dengan sebuah lembaga yang membawahi bisnis perhiasan saya. Nama yang muncul di gawai membuat saya memohon izin untuk menjawab karena Anita, yang menelepon ini, biasanya, selalu datang dengan kabar mengejutkan.
“Mbaaaak…,” terdengar suara nyaringnya di ujung telepon. “Aku punya kabar mengejutkan nih.”
Tuh kaaann.
Maka mengalirlah sewadah besar cerita yang sepertinya sudah terlalu berhamburan menyesakkan dada untuk segera dibagikan. Yang pasti ini adalah berita bahagia karena nada suka cita begitu terdengar dari caranya bicara.
Dari mulut ibu tiga orang putri ini saya kemudian mendapatkan informasi bahwa dia mengantongi berita penting tentang Sultan Saifuddin, Sultan ke-11 Tidore yang sempat memerintah Bumi Kie Limau Duko selama 30 tahun lamanya (1657 – 1687).
Lewat seorang aktivis penggali sejarah Indonesia yang tinggal di Belanda, Donald Tick dan seorang peneliti serta penggiat budaya, Alesia Chong, Anita mengetahui bahwa di Museum of Czartoryski Krakow Polandia, menyimpan dan memamerkan sebuah lukisan salah seorang Sultan Tidore. Sultan ke-11 yang bergelar Jou Kota dan itu adalah lukisan asli bukan remake.
Saya seketika termangu, setelah bertahun-tahun berkutat dengan VOC (Vereenigde Oostindische Compagnie) yang adalah perserikatan atau persekutuan asal Belanda, Spanyol, dan Portugis, kok tiba-tiba Tidore terhubung dengan Polandia.
Bagaimana bisa?
Sejarah Tidore : TIDORE Dalam Balutan Sejarah

Beranjak dari Sebuah Langkah Kecil
Rasa penasaran saya dijawab oleh Anita dengan berbagai foto yang dibagikan lewat WA. Dia pun mengkonfirmasi bahwa dalam waktu dekat, seiring dengan rencananya berangkat ke Eropa, Anita dan Gathmir (sang suami) akan menyempatkan diri mampir ke Museum of Czartoryski yang berada di Krakow Polandia.
Kunjungan ini akan dilengkapi dengan sebuah zoom meeting, presentasi on line dari pihak museum dengan mengundang beberapa pemangku jabatan yang banyak terlibat pada sejarah Tidore, seperti Dinas Pariwisata Maluku Utara, pemerintah kota Tidore, para sejarawan, pendidik/akademisi, lingkungan Kesultanan Tidore, wartawan, penulis, blogger, dan anak keturunan Tidore yang concern dengan sejarah .
Dan saya (sangat) bangga bisa diajak berada di dalam komunitas ini meski di dalam tubuh saya tak setitik darah pun mengalir darah keturunan Tidore.
Tapi saya yakin meski pertemuan daring ini diadakan hanya dalam satu waktu setidaknya ada sebuah langkah kecil yang nyata dilaksanakan demi keterbelangsungan sebuah catatan sejarah yang kelak dapat menjadi materi ajar dan legacy bagi generasi penerus.

Pertemuan Daring yang Sarat Sejarah
Pertemuan daring pun dijadwalkan pada 3 Juli 2025 pada pkl. 15:00 wib dengan mengusung tema “Menelusuri Jejak Lukisan Sultan Saifuddin di Musium Krakaw, Polandia”
Tak banyak persiapan yang saya aturkan kecuali membaca kembali banyak referensi tentang Sultan Saifuddin yang diberi gelar Kaicil Golofino. Saya pun membuka tulisan lama tentang Sejarah Tidore yang sempatkan saya hadirkan di blog ini. Ada satu bagian kecil yang saya cantumkan tentang beliau. Dan itu sangat menarik.
Setidaknya yang saya ingat bahwa Sultan Saifuddin lah yang memindahkan pusat pemerintahan Tidore dari Kadato Biji Negara di Toloa ke Limau Timore Soasio (area yang ditempati sekarang yang kemudian dikenal sebagai Kelurahan Soasio). Tindakan beliau memindahkan ibu kota inilah yang kemudian beliau dijuluki sebagai Jou Kota yang berarti Sultan yang Diantar. Kadato yang dicat berwarna hijau ini diberi nama Kadato Ijo (Fola Ijo). Kehadirannya tetap seperti sekarang. Alhamdulillah saya sudah berkali-kali bertamu atas dan memenuhi undangan dari Kesultanan Tidore yang sekarang dipimpin oleh Sultan Husain Sjah.
Meeting secara on-line ini dibuka oleh Alesia Chong yang tampak terbata-bata dalam bahasa Inggris. Tapi karena punya teman yang berbahasa Polish dan Rusia, saya bisa menangkap apa yang dia sampaikan, kalimat demi kalimat. Meski dalam beberapa vocabularies saya tetap harus mengernyitkan kening. But no problem. She’s done everything so very well.
Dengan nada ramah dan wajah semringah, Alesia memperkenalkan diri lalu mengulas sekilas tentang Museum of Czartoryski kemudian menunjukkan lukisan Sultan Saifuddin yang berukuran sekitar 32 x 25cm yang berada/digantung di sebuah dinding. Karena warna background lukisan cenderung gelap saya tidak bisa begitu melihat lukisan tersebut. Tapi Alesia segera menampilkan hasil foto clear dari lukisan lewat fasilitas share screen yang sudah disiapkan.
Saya mendadak terkisap meski sesungguhnya foto ini sudah saya lihat lewat WA yang dikirimkan oleh Anita beberapa hari sebelumnya. Kenapa? Karena detik itulah netra saya menyaksikan sendiri bahwa benar lukisan Jou Kota memang berada di the Museum of Czartoryski, Krakow, Polandia. Sebuah kota dan negara yang jaraknya ribuan kilometer dari tanah air.

Alesia Chong kemudian mengenalkan Prof. Andrzej Szczerski. Direktur dari Museum of Czartoryski. Dalam sambutannya Prof. Andrzej mengungkapkan kebanggaan dan kebahagiaan bahwa lewat kehadiran lukisan Jou Kota di museum yang dipimpinnya telah membangkitkan hubungan yang erat antara Polandia dan Indonesia. Museum pun membuka pintu selebar-lebarnya bagi masyarakat/publik tanah air jika hendak berkunjung dan menyaksikan langsung lukisan yang menghadirkan salah seorang sultan yang sempat memimpin Tidore di abad ke-17, negeri kaya rempah-rempah yang berada di timur Indonesia.
Pihak museum kemudian menghadirkan Dr. Adam Spodaryk (Adam), seorang museum expert on historical collection. Adam lah yang akhirnya meneruskan penjelasan lebih rinci dari lukisan ini.
Lewat penuturan Adam semua peserta meeting mengetahui bahwa Museum of Czartoryski adalah museum tertua dan paling prestisius di Eropa Timur. Di awal pendiriannya (1801) museum ini bertujuan untuk mengumpulkan artefak sejarah. Kemudian menjadi pusat seni dan sejarah penting di Polandia (1809-1831). Hingga kini museum yang didirikan oleh Princess Izabela Czartoryski ini tetap dirawat dengan baik dengan banyak koleksi yang mengukir sejarah dari segala penjuru dunia.
Selain lukisan Sultan Saifuddin, museum ini juga menyimpan lukisan para gubernur Hindia Belanda. Semua lukisan ini dibeli (baca: diboyong) oleh sang putri pada sebuah acara lelang barang antik di Belanda pada 1769.

Terjemahan bebasnya kira-kira begini:
Lukisan ini diduga dikerjakan oleh seorang seniman asal Belanda dan diduga sebelumnya berada di Rijksmuseum. Sayangnya dugaan ini tidak terbukti. Saya tidak menemukannya di sana hingga akhirnya saya justru mendapatkannya di Museum Czartoryski di Krakow. Saya tidak memiliki ide sama sekali tentang bagaimana sang pelukis atau lukisan ini bisa berada di Krakow tetapi menyadari betapa beruntungnya lukisan ini selamat dari gerakan revolusi dan invasi yang terjadi di Polandia.
Setelah peristiwa November 1830 bangkit dan terjadi penyitaan atas koleksi Museum Czartoryski, akhirnya banyak koleksi dari museum ini dipindahkan ke sebuah tempat yang aman di Paris dan kemudian dikembalikan ke Krakow pada 1876. Di 1914 dan selama Perang Dunia I, koleksi museum dipindahkan Dresden, Jerman, sebelum kemudian dikembalikan ke museum keluarga di 1920. Pada 1939 setelah Jerman menginvasi Polandia, koleksi lukisan ini dan berbagai obyek lainnya dijarah dibawa ke Jerman. Di 1945 perwakilan dari negara Polandia atas nama Museum Czartoryski melaporkan peristiwa pencurian dan perampasan ini kepada the Allies Commissions for the Retrieval of Works of Art. Meskipun begitu, dari hasil penelusuran ini dilaporkan bahwa ada 843 koleksi yang hilang dan tidak diketahui keberadaannya hingga saat ini.
Di tahap awal, saat diadopsi oleh sang Putri, lukisan Sultan Saifuddin ini sempat ditandai sebagai Raja Ternate. Tapi saya masih berusaha menjejak informasi mengapa akhirnya dinyatakan sebagai Sultan Tidore. Asumsi saya adalah karena tahun pembuatan dan kondisi tangan sang sultan yang tampak tersanggah kain dan diikatkan ke dada, pundak dan badan bagian belakang. Sebuah visual yang menandakan bahwa yang bersangkutan sedang sakit. Dan ini memang menjadi tanda khusus Jou Kota.
Seperti yang disampaikan Adam, dari hasil penelitian dan pengamatan secara ilmu pengetahuan, saat dilukis Sultan Saifuddin memang sedang menderita sakit lepra. Saat itu kondisi tangan kanannya memang sudah harus disanggah.
Mengamati lukisan ini lebih jauh, Adam menginformasikan bahwa saat dilukis Sultan Saifuddin mengenakan baju terbaik dengan mengenakan ikat kepala dan sling atau kalung dada yang terbuat dari emas. Perangkat lengkap yang menunjukkan kelas dan status beliau sebagai orang penting serta aura seorang pemimpin. Dan ini sekaligus membuktikan bahwa di era itu Tidore memiliki outstanding jewelry products yang bisa merepresentasikan kedudukan sang pemimpin.
Ada beberapa ciri khas yang menurut saya pribadi adalah visualisasi khas lelaki Timur. Rambut ikal, kulit tanned, wajah tegas dengan kumis dan janggut tipis. Tatapan matanya kuat meski tidak terlihat garang.
Sekilas Tentang Jou Kota
Dalam catatan sejarahnya, Jou Kota adalah seorang yang sederhana dan begitu merakyat serta sangat memikirkan nasib warganya. Dia berkonsentrasi pada pembangunan kesejahteraan rakyat ketimbang urusan militer atau membuka konfrontasi dengan VOC yang mulai memperluas kekuasaan perdagangannya di Maluku.
Keputusannya untuk bekerja sama dengan VOC dalam perdagangan cengkih dan memberikan hak monopoli, sempat ditentang oleh banyak pihak. Termasuk para Bobato Adat. Apalagi di masa itu pergolakan politik melawan para penjajah begitu terasa kencang di timur Indonesia, khususnya Maluku.
Sultan Saifuddin menganggap kehadiran VOC justru harus disikapi berbeda. Beliau malah menandatangi kesepakatan lewat sebuah perundingan pada 28 Maret 1667. Traktat tersebut dibuat dalam dua bahasa. Bahasa Tidore dan Bahasa Belanda. Ada dua poin kesepakatan yang menjadi fokus dari perjanjian tersebut. Pertama, VOC mengakui hak dan kedaulatan Kesultanan Tidore atas Kepulauan Raja Ampat dan Papua Daratan. Kedua, Kesultanan Tidore memberikan hak monopoli perdagangan rempah-rempah dalam wilayahnya kepada VOC. Sumber : ANRI yang dikutip oleh Adnan Amal dalam bukunya “Kepulauan Rempah-Rempah (Perjalanan Sejarah Maluku Utara 1250-1950).“ Status Tidore selama traktat berjalan, diberlakukan setara, sebagai sekutu, hingga VOC sangat menghormati Jou Kota dengan tidak terlibat dalam urusan kebijakan domestik apa pun yang diambil beliau.
Kelimpahan kesejahteraan selama kepemimpinan Sultan Saifuddin berlangsung selama beliau berkuasa selama 30 tahun. Jou Kota, sultan ke-11 Tidore ini menghembuskan nafas terakhirnya pada 2 Oktober 1687.


Asa yang Lahir
Di akhir masa temu daring tersebut, banyak sekali pertanyaan yang muncul dari para peserta dan semua terkoodinir dengan baik oleh Ko Kris mewakili Dinas Pariwisata Provinsi Maluku Utara. Keluwesan Ko Kris mengatur alur komunikasi begitu mumpuni hingga satu demi satu tanggapan, pendapat, serta ide ke depannya bisa tertampung dengan baik.
Dari sekian banyak komunikasi yang terbangun, banyak sekali harapan yang muncul, khususnya mengakomodir dibuatnya replika dari lukisan ini. Sebuah mimpi yang saya rasa cukup reasonable dan applicable. Saya (sangat) yakin anak keturunan Tidore tentunya ingin agar memori mereka akan Sultan Saifuddin bisa terwakilkan lewat sebuah lukisan yang terpajang indah di Kadato Kie (Istana Sultan) yang berada di Soasio.
Saya kemudian menelusur akun media sosial milik seorang politikus sekaligus peneliti yang sedari awal memberikan perhatian istimewa atas sisi sejarah Tidore. Beliau saya kenal pernah menjadi sebagai Anggota Maluku Utara dan DPRI RI periode 2014-2019. Berikut adalah kutipan saya atas apa yang ditulis beliau setelah ikut berpartisipasi pada pertemuan daring tersebut di atas.
“Few years ago, in Poland museum, sebuah negeri yang nyaris tak ada relasi budaya dan sejarahnya dengan nusantara, wa bil khusus dengan Maluku Utara. Namun sedemikian setianya mereka merawat peninggalan sekian abad lalu, tentang potret diri “Koning van Tidore”. Bahkan di tengah hiruk pikuk revolusi dalam negeri, hingga melintas dua kali perang dunia, mereka tetap saja setia merawat lukis tersebut. Bahkan motif pakaian sang Jou Kota turut tercatat pada dokumen dan arsip Yale University, USA. Betapa smart nya mereka merawat memory and heritage kita, nun jauh di pelosok timur Eropa hingga AS.”
Saya juga membaca dan mencatat sebuah uraian penting yang dituliskan Alesia Chong lewat aku Facebook nya. Ada satu paragraf yang begitu menarik perhatian saya. Berikut adalah kutipannya:
“We are try grateful to the Museum for their openness and for hosting a special teleconference dedicated to one of its most intriguing artworks: The Portrait of Sultan Saifuddin of Tidore. This painting is not only a valuable historical object, the only known realistic portrait of an Indonesian ruler from that era, but also a powerful symbol connecting South East Asia and Europe.”
Lewat rangkaian komunikasi tanya jawab, uraian berbagai pendapat, dan diskusi singkat di bagian akhir sesi teleconference ini, saya menyimak, memperhatikan, serta mencatat bahwa semua yang ikut serta dalam kegiatan ini mempunyai harapan besar agar ke depannya dapat terbangun kerja sama yang lebih erat antara Indonesia dan Polandia.
Terbangun pula suatu asa agar lukisan Jou Kota dapat dibuatkan replikanya dan ditampilkan di salah satu museum di Jakarta atau dipajang di Kadato Kie (Istana Kesultanan Tidore) yang berada di Soasio. Dengan harapan bahwa kehadiran lukisan ini bisa semakin menumbuhkan cinta rakyat Tidore pada beliau sebagai salah seorang Sultan yang dibanggakan. Sultan yang dalam masa pemerintahannya menjadi tonggak penting akan “kekuatan” Tidore sebagai salah satu negeri penghasil rempah-rempah (baca: Cengkih) yang kualitasnya diakui oleh dunia.
Masa boleh berlalu tapi catatan sejarah adalah jejak yang membangun sejarah itu sendiri. Sebuah pertinggal yang nantinya akan menjadi bagian penting dari ilmu pengetahuan serta jejak kehidupan sejauh apa pun kita melangkah.
Tentang Tidore : Puta Dino Kayangan, Membidani Lahirnya Kembali Kain Tenun Tidore yang Sempat Punah
Tentang Tidore : Revitalisasi Puta Dino, Tenun Tidore yang Sempat Punah


IG @annie_nugraha | Email: annie.nugraha@gmail.com



Aku yang ngga ikut zoom nya aja ikut bangga loh, ada gitu spesial event yang khusus membahas soal sultan ini dari tanah air ini.
Masyaallaah…
Semakin bangga mengetahui bahwa lukisannya justru tidak dipajang di Indonesia.
Jadi setuuuuju banget kalo lukisan Jou Kota dapat dibuatkan replikanya dan dipampang di museum Indonesia khususnya di Kadato Kie.
Dan aku ngga ngeh kalo ngga baca kalimat beliau lagi sakit pas difoto. Sekilas itu kirain selendang kuning aksesoris pakaian. Ternyata kain penyanggah tangan
Betul Ci. Sebagai bukan anak keturunan Tidore, diundang di event ini tuh rasanya bangga betul. Alhamdulillah diizinkan untuk menuliskannya juga.
Iya Ci. Jou Kota, di beberapa tahun sebelum wafat memang menderita lepra. Yang terlihat secara fisik ya tangan kanan beliau itu.
Ah setuju, semoga lukisan ini dibuat replikanya dan dapat dipajang di Indonesia, apalagi kl bisa diperluhatkan di Tidore biar generasi penerus bisa lihat sosok sultan langsung walau dalam bentuk lukisan.
Lalu, walau lukisannya gak terbukti pernah tersimpan di Rijksmuseum, tapi mengingat Indonesia dijajah Belanda lumayan lama, kemungkinannya masih saja ada walau tak dapat dibuktikan secara data. Hebat lukisan ini bisa bertahan, walau sempat berpindah beberapa negara dari Perancis, Jerman hingga sekarang ke Polandia.
Semoga bisa balik ke Eropa lagi yuk, syukur-syukur bisa ke Polandia dan mampir ke museum ini. Akan beda pasti hasil jepretan Yuk Annie dan pengamatan langsung kalau bisa berkunjung ke Polandia ini. Btw, makasih banyak Ci Anita yang udah menjadi “mata” buat kita semua.
Iyo. Aku jugo setuju nian mun dibuatke replikanyo. Kalo pacak dengan ukuran yang lebih besar. Kalo kecik cak itu kurang kejingok’an. Semoga ado yang menjembatani dan mendanai.
Aamiin Yaa Rabbalalaamiin. Aku jugo pengen nian balik ke Eropa. Kali ini dalam rangka total traveling. Kalo dulu kan dagang dan pameran. Jadi dak sempat nak keliling2. Semoga diijabah Allah.
Wah enggak ngira ya..lukisan Jou Kota, Saifuddin, Sultan ke-11 Tidore ada di museum Krakow, Polandia. Temuan ini membuka pintu baru dalam menelusuri jejak diplomasi dan pengaruh Kesultanan Tidore di luar peta sejarah resmi. Semoga ini bisa memperdalam narasi sejarah Sultan Saifuddin. Kelak kita bisa menulis cerita bersama-sama dan anak cucu kita tahu siapa beliau, serta kenapa jejaknya begitu jauh menembus Eropa,.
Waktu aku dikabari juga suprise banget. Tak terdeteksi juga pelukisnya siapa. Cuma sedikit pertanda bahwa tangan pertamanya adalah Belanda karena di zaman itu, saat VOC berkuasa dan bekerjasama dengan Tidore, mereka “merekam” jejak sejarah dengan melukis Sultan Saifuddin yang berkuasa saat itu.
Semoga ini menjadi catatan penting dalam kehidupan Kesultanan Tidore di abad ke-17.
Keren banget menjaga Koning van Tidore. Semisal ada di sini semoga juga bisa terawat dengan baik lukisannya. Karena ini menjadi jejak sejarah yang tak akan hilang oleh waktu, serta agar generasi selanjutnya juga bisa tahu kan
Berharap akan segera dibuat replikanya dan ditampilkan di Museum Nasional atau di Kesultanan Tidore.
Jadi ingat pertemuan para sultan/raja se Indonesia
Andai misi mereka juga menemukan banyaknya harta kerajaan yang tersebar di seluruh dunia, pastinya bakal lebih bermanfaat ya?
Paling tidak, jika lukisan ya dibuat replikanya seperti ukisan Jou Kota ini
Semoga ada banyak pihak yang menjembatani maksud baik ini ya Mbak.
Selalu suka sama kisah-kisah berbalut sejarah seperti ini.
Dan seketika membayangkan adegan visualnya: sebuah lukisan klasik dalam bingkai emas; wajah Jou Kota memancarkan ketenangan dan determinasiโbukan hanya seorang penguasa, tapi simbol kekuatan diplomatik dan intelektual. Ia berbalik lembar sejarah Tidore, seakan bertutur,
โSultan ini adalah penengah antara masa lalu dan segi modern kekuasaan.โ Yup, apalagi se-spesial itu hingga dirasa perlu diangkat dan diadakan tele conference. So proud. lukisan itu lebih dari sekadar artefak estetis. Ia adalah dialog visual lintas zamanโyang mempertemukan pengamat modern dengan jiwa masa lalu, lewat wibawa Jou Kota, Sultan Tidore.
Dikau berhasil membangkitkan kesadaran ini lewat tulisan. Aku sungguh terinspirasi dan merasa diundang untuk menyelam lebih dalam ke sejarah Tidore yang begitu kaya.
Betul banget Tan. Jadi membayangkan bagaimana “kedudukan” Kesultanan Tidore begitu bersejarah di abad ke-17 lampau. Lukisan khusus Sultan Saifuddin ini menjadi pertanda bahwa pihak Belanda begitu menghormati beliau.
Baru tahu ternyata Sultan Saifudin lukisannya ada di Polandia ya. Dulu pernah belajar sejarah tentang kerajaan Tidore, jadi mengingat kembali tentang zaman dahulu. Jadi tahu tentang kepemimpinan beliau sebagai raja yang bijaksana, sederhana dan merakyat. Saya juga berharap ada replika tentang lukisan Jou Kota di negara kita. Sebagai warisan buat anak cucu kita
Setuju Li. Semoga akan ada yang menjembatani agar lukisan Jou Kota bisa dibuat replikanya untuk dipamerkan di Museum Nasional atau di Kesultanan Tidore.
Banyak sekali sebenarnya dokumen sejarah/lukisan dan artefak Indonesia yang berada diluar. Saya sangat mendukung jika ada program menasionalisaskan setidaknya seperti harapan kita adanya replika.
Setuju sekali. Semoga dengan cara seperti ini, jejak sejarah kita semakin lengkap dan berarti.
Boleh bangga ga sih kalau kaya gini. Rasanya kalau digali lagi ada banyak hal yang seperti ini ya. Btw pingin banget bisa ke Tidore, sebuah tempat yang sarat sejarah.
Ini juga masih secuil Mas Adi. Banyak sekali tapak-tapak sejarah yang tidak diketahui keberadaannya saat ini. Tapi itu bisa dipahami ya Mas. Karena selama 3.5 abad kita dijajah, dan tumbuh dalam kekurangan ilmu, tentu banyak yang terlewat dari pengawasan kita.
Saya setuju jika lukisan asli Sultan Saifuddin yang kini ada di Museum of Czartoryski, Krakow, Polandia, direplikasi dan dipamerkan di Indonesia, baik di ibu kota maupun di Tidore. Untuk memperkenalkan kembali lukisan ini kepada masyarakat Indonesia secara luas dan meningkatkan kesadaran akan sejarah dan warisan budaya Tidore
Betul Mbak Dian. Semoga bisa terlaksana. Jika tidak bisa di Istana Sultan di Tidore, mungkin bisa dipamerkan di Museum Nasional Jakarta. Tentu saja harapannya si replika bisa dibuat lebih besar.
terimakasih dengan tulisannya
sebagai orang Indonesia baru tau tentang sejarah ini
Jangankan Tidore, banyak sejarah di pulau Jawa (tempat saya tinggal) yang saya belum tahu
semoga lukisan ini dibuat replikanya, kemudian dipajang di salah satu museum Indonesia
lengkap dengan penjelasan sejarahnya
Betul banget Mbak Maria. Di zaman penjajahan dan kita banyak jauh tertinggal secara teknologi dan tingkat kecerdasan, banyak hal yang tidak bisa kita koordinir sendiri. Dari zoom yang diadakan kuat banget keinginan agar lukisan ini bisa dihadirkan di tanah air. Semoga bisa terwujud.
Semakin membaca tulisan yang sangat bagus ini, harapan saya jadi meningkat, suatu saat lukisan yang punya nilai historis ini benar-benar bisa pulang ke Indonesia.
Bahkan sekedar di pinjamkan untuk dipamerkan baik di Tanah Tidore atau pun Jakarta agar lebih banyak penggemar sejarah bangsa yang bisa turut mengapresiasi.
Setuju Mbak. Setidaknya kehadiran replikanya bisa menjadi catatan sejarah yang begitu berarti bagi tanah air. Semoga bisa terwujud.
Semoga ada ya salinan lukisannya, karena bagian dari putra terbaik bangsa ini.
Btw, inspirasi dari lukisan Sultan Saifuddin ini yang daku pikirkan adalah, perlunya kita menempatkan waktu yang tepat dalam hal berpakaian. Beliau pas dari sisi waktu mengenakannya, sehingga tatkala dilukis dan jadi hasilnya, Orang-orang yang melihat lukisan itu jadi tahu tentang strata sosialnya, terlebih kan karena memang ningrat ya sebagai Sultan.
Good poin Fen. Ini juga menunjukkan bahwa di masa beliau menjadi Sultan, kualitas produk seni sudah punya levelnya sendiri. Beliau bisa mengenakan emas dan pakaian yang indah tak terkira. Saya sendiri terharu banget saat mendapatkan berita ini. Bangga bisa menjadi bagian dari catatan sejarah itu sendiri.
Sumpah tadinya gw pikir dirimu langsung berangkat ke Polandia loh An!
Btw tulisan tulisanmu yang relate sama sejarah kan uapiik uaapiiik tenan yo, ga kepikiran dibuat buku tersendiri kah?
Dan untuk apresiasi Polandia terhadap lukisan Jou Kota, ulaaalalalala makin bangga deh jadi bagian dari bangsa yang kaya warisan seperti ini!
Aaahh kamu. Selalu bisa menebak hahahaha. InshaAllah Tan. Aku memang ada rencana membuat beberapa buku solo tentang beberapa daerah yang punya cerita khusus sama diriku. Jadi satu daerah akan aku buatkan satu buku. Isinya adalah beberapa hal yang sangat meninggalkan kesan dan perlu untuk diberitakan pada dunia.
Iya ya. Kenapa lukisan itu ada di Polandia? Semisal lukisannya ada di Belanda, mungkin kita bisa berpikir mungkin dibawa pelukisnya yang pernah tinggal di Indonesia pas masa penjajahan. Yah, meski skenario ini nggak bisa kita singkirkan juga. Karena bisa jadi, pelukisnya memang pernah tinggal di Indonesia meski dia adalah orang yang berasal dari Polandia.