
Hujan tak henti menghujan kawasan Amed, Karangasem, Bali, saat saya dan Mega akan mengunjungi pusat produksi garam tradisonal di pagi itu. Tetapi meskipun hujan seperti enggan berhenti, niat dan rencana ini tetap kami aturkan meski tidak bisa melihat langsung proses pembuatan garam di sini karena faktor cuaca.
Hujan deras tak pun mau berhenti saat saya dan Mega akhirnya memutuskan untuk tetap melanjutkan perjalanan. Kami sudah kenyang sarapan di Mejore Hotel Amed Bali dan sempat terpapar rasa malas luar biasa. Hujan dan cuaca adem sepertinya berusaha keras agar kami berdua kembali ke kamar, melanjutkan obrolan di teras sembari bersantai atau kembali ngukur kasur.
Tapi semua efek kenyamanan hujan tersebut berusaha keras kami lawan. Karena jika nekad berleha-leha, santai serasa di pantai, beberapa tempat yang akan kami hampiri dalam rangka perjalanan pulang ke Denpasar pasti gagal total. Buyar karena dikalahkan oleh hujan dan kemalasan.
Jadi dengan langkah gontai terkenyang-kenyang (apa ini?) saya dan Mega meninggalkan kamar yang super duper asyik, menggeret koper, mengangkat buntelan konsumsi, untuk melanjutkan perjalanan.
Sesuai rencana yang sudah tersusun rapi jauh-jauh hari sebelum saya tiba di Bali, destinasi selanjutnya adalah Amed Salt Centre, yang ternyata, setelah tanya sana-sini tempatnya berjarak hanya sekitar 1km dari hotel tempat kami menginap.

Disambut dengan Keramahan dan Hujan Deras
Mega melajukan mobil dengan sangat lambat karena tak ingin nyasar. Meski sudah meyakinkan titik lokasinya yang hanya tinggal lurus aja, titik hujan yang gemuk-gemuk begitu kejam menghantam jendela mobil. Kondisi yang mengakibatkan jarak pandang menjadi sangat terbatas.
Jika Mega concern dengan lokasi presisi Amed Salt Centre, saya malah mengkhawatirkan soal tempat parkir. Biasalah. Jalanan di Bali itu ukurannya beneran pas-pasan, Jarang ada yang lebar dan lega seperti di dalam kota Denpasar.
Tapi ternyata rezeki berpihak kepada kami.
Hujan sempat mereda persis setelah mobil kami parkir di tanah lapang terbuka di depan Amed Salt Centre. Sebuah rumah persegi panjang berdinding kaca langsung tampak dari kejauhan. Di beberapa dinding kaca tersebut, tulisan/stiker Amed Salt Centre berhasil meyakinkan kami bahwa kami sudah tiba di tempat yang dituju.
Saya sempat khawatir tempat ini tutup karena terlihat gelap. Apalagi hujan yang menderas kembali menghadirkan situasi pekat yang begitu terasa. Tapi kami tetap menyeberang dengan harapan semoga dugaan kami keliru.
Dan ternyata benar.
Demi menghemat listrik dan karena sepagian itu masih sepi, sang petugas memutuskan untuk mematikan listrik, mengunci pintu, dan nongkrong bareng teman-temannya di sebuah bengkel motor yang letaknya beberapa langkah dari tempat parkir kami tadi.
Entah siapa yang berteriak kencang memanggil nama seseorang hingga akhirnya saya melihat seorang pria muda nyebrang jalan dan memegang kunci. Dia tersenyum ramah dari kejauhan dan mengucapkan “selamat pagi” dengan nada riang, membuka pintu yang sempat macet, lalu mempersilahkan kami masuk.
Saya sempat menunggu sebentar di teras depan sembari membiarkan udara di dalam ruangan itu berganti.

Ruangan yang Informatif
Saat lampu menyala dan pendingin ruangan dinyalakan penuh, saya melangkah masuk dan langsung terjebak kekaguman. Rumah seluas, mungkin 75m2 ini, dipenuhi oleh berbagai sumber informasi yang sangat mendidik.
Didominasi dengan warna hijau dan kuning, di semua sisi dinding rumah dilengkapi dengan apa dan bagaimana serta seperti apa Amed Salt Centre.
Saya sempat terpaku pada sebuah tulisan yang tertempel dan isinya sangat mengesankan serta membuat saya tercenung beberapa saat. Saya mendadak ingat akan kunjungan ke produksi garam tradisional yang ada di desa Kusamba, Klungkung, Bali.
“It’s A Community Effort! Salt farming tradition has been around in Amed for may generations. Until today, the same traditional method and tools are used by the 27 salt farmers in our village to produce Amed Salt. As the process relies heavily on the weather, salt farming can only be carried out during the summer months (from July to October) each year. It takes 9 days from preparation to each harvest and every members in the family is involved in the process.”
Memori saya kembali akan pertemuan dengan Pak Pantat beserta istri, sepasang suami istri yang juga memproduksi garam secara tradisional dan tinggal di daerah pesisir desa Kusamba, Klungkung. Datang bersama Dwi Setijowidodo, seorang sahabat penulis, saat itu beliau menyambut saya dengan ramah dan menunjukkan tempat dia memproduksi garam, menjelaskan prosesnya, sekaligus memperlihatkan garam jadi yang sudah dia olah dan dalam kondisi siap dijual.
Tentang Garam Kusamba : Mengunjungi Produksi Garam Tradisional di Desa Kusamba, Klungkung, Bali
Di Amed Salt Centre ini kondisinya tentu berbeda.
Karena sedang musim hujan, para petani garam sedang tidak berproduksi. Jadi saya dan Mega harus cukup puas dengan semua materi promosi dan informasi yang ada di dalam ruangan ini. Tapi ini pun sangat lebih dari cukup.

Beberapa yang sangat menarik perhatian dan sarat dengan edukasi adalah
- Tentang apa itu Garam Amed (Amed Salt) : diproduksi dalam jumlah terbatas setiap tahunnya dari wilayah pesisir Amed Bali, dengan menggunakan cara tradisional yang diwariskan dan dipertahankan secara turun-temurun sejak abad ke-15;
- Warisan Leluhur : dikenal sejak ratusan tahun lalu sebagai persembahan kepada raja-raja di Karangasem, hingga kini Garam Amed dibuat oleh para ahli dan pemerintah sebagai garam berkualitas tinggi dan produk Indikasi Geografis;
- Dalam sebuah bidang yang panjang, mirip seperti spanduk, kita juga dapat membaca 7 proses penting dalam pembuatan Garam Amed. Mulai dari persiapan lahan, penyulingan air laut, hingga tahap akhir berupa penyortiran kualitas, pengemasan, pencatatan, dan penyimpanan garam
Selain dihadirkan berikut dengan ilustrasi pekerjaan yang dilakukan oleh petani dalam setiap tahap, Amed Salt Centre menghadirkan beberapa foto yang indah yang dipigura dan diletakkan di sebuah rangka kayu yang biasa digunakan untuk menyanggah lukisan.
Sebagai penyuka dan pembelajar photography saya tak henti berdecak kagum melihat beberapa jepretan human interest tersebut. Khususnya saat para petani sedang bekerja di bawah terik matahari dengan kulit menghitam berkilat. Saya sangat yakin foto-foto ini pastilah hasil jepretan photographer professional karena sudut pengambilan gambar serta hasil akhirnya sungguh estetik dan berkualitas dari sudut sinematiknya.
Tentang Bali : Bestah Coliving Denpasar Bali. Menginap Serasa di Rumah Sendiri



Belanja Mendukung Para Petani Garam
Sebuah bangku panjang ditaruh di area persis di depan beberapa rak tinggi. Duduk di sini mengajak mata saya memperhatikan beberapa produk garam yang dijual oleh Amed Salt Centre.
Pengemasannya pun beragam. Ada yang dibungkus sederhana dengan plastik, ada yang dimasukkan ke dalam sebuah wadah terbuat dari anyaman bambu, dalam botol plastik, pouch, botol kaca, bahkan ada yang sangat cantik terbungkus hard box yang sudah dipasangi dengan gambar dan logo Amed Salt Centre. Saya sempat melihat di salah satu sudut juga ada bungkusan besar dalam kuantitas sekitar 1/2 dan 1kg.
Saya berasumsi bahwa keindahan wadah yang dihadirkan tentunya memiliki aspek dan sudut pandang yang berbeda dari segi sales and promotion serta untuk tujuan apa seseorang itu membeli. Packaging yang fancy tentunya lebih condong dan pas dijadikan hadiah, buah tangan, atau kenang-kenangan. Sementara yang lain lebih kepada tujuan penggunaan sehari-hari.
Harganya berkisar antara Rp 25.000,00 hingga Rp 40.000,00 tergantung pada berat dan jenis kemasannya.
Saya dan Mega tentu saja melakukan pembelian dan transaksi sebagai wujud dukungan kami kepada para petani garam Amed, Bali.
Tentang Bali : Nasi Ayam Kedewatan Ibu Mangku. Sajian Halal yang Sarat dengan Selera
Lebih Jauh Tentang Garam Amed
Dalam sebuah dokumentasi berjudul Indikasi Geografis Garam Amed Bali yang dipersiapkan oleh I Nengah Suanda, Ketua Masyarakat Perlindungan Indikasi Geografis (MPIG) Garam Amed Bali, saya menemukan beberapa hal penting tentang keberadaan dan sejarah Garam Amed yang berhubungan dengan Indikasi Geografis (IG)
Catatan : Indikasi Geografis (IG) adalah suatu tanda yang menunjukkan daerah asal suatu barang dan/atau produk yang karena faktor lingkungan geografis termasuk faktor alam, faktor manusia, atau kombinasi dari kedua faktor tersebut memberikan reputasi, kualitas, dan karakteristik tertentu pada barang dan/atau produk yang dihasilkan.
Dalam lembaran presentasi yang ringkas dan jelas, I Nengah Suanda juga mencantumkan banyak informasi penting yang perlu kita ketahui tentang Garam Amed.
Diantaranya adalah bahwa Garam Amed Bali sudah terdaftar sebagai IG dengan nomor ID G 000000038 pada 23 Desember 2015 yang diajukan dan disahkan oleh DJKI (Direktorat Jenderal Kekayaan Intelektual) Kemenhukham (Kementrian Hukum dan Hak Azazi Manusia) Republik Indonesia.
Garam Amed dibuat secara unik dan khas secara turun temurun sejak abad ke-15. Garam ini memiliki kandungan NaCl 95-96% dengan tidak ada deteksi cemaran logam. Garam Amed punya karakter seperti bersih, sedikit benda asing, aroma enak, lunak, kering, mudah larut, asin kuat, dan tidak ada rasa lain. Garam Amed juga termasuk jenis garam premium atau yang lebih dikenal sebagai gourmet salt.
Sebagai instrumen dan wadah penguat bagi para petani garam, dibentuklah satu lembaga bernama Masyarakat Perlindungan Indikasi Geografis (MPIG) Garam Amed Bali. MPIG dibentuk sebagai salah satu persyaratan untuk mengajukan permohonan IG kepada DJKI Kemenhukham. Organisasi ini dibentuk berdasarkan musyawarah pelaku usaha Garam Amed Bali dan pemerintah Kabupaten Karangasem di mana Garam Amed berada. Kesepakatan ini kemudian dikukuhkan oleh Bupati Karangasem pada Maret 2015.
Pencapaian mendapatkan sertifikat IG ini ternyata banyak memberikan efek yang sangat baik untuk Garam Amed Bali. Dengan jaminan mutu, keaslian, kekhasan, dan keunikan yang didapat sebagai persyaratan mendapatkan sertifikasi IG, Garam Amed Bali pun mendapatkan kepercayaan publik dan dan luar negeri. Angka penjualan dan harga jual garam ikut terdongkrak naik dari tahun ke tahun. Hal ini tentu saja memberikan efek kebaikan yang sama pada kesejahteraan hidup para petaninya.
Menyadari pentingnya dan peran dunia digital, Garam Amed Bali menyediakan penjualan secara daring lewat beberapa e-commerce ternama seperti Shopee dan Tokopedia. Mereka juga bisa dihubungi lewati nomor telepon khusus yang disematkan pada akun Instagram resmi mereka @garam.amedbali Di akun resmi ini kita dapat membaca serangkaian statement akan keberadaan Garam Amed Bali sebagai artisan pure sea salt, hand harvested in Amed Bali and Geographical Identification Certified.
Ingin terlibat langsung pada kelestarian Garam Amed Bali dan kesejahteraan para petani garam di sana, Anda dapat berkunjung langsung ke Amed Salt Centre yang baru saja saya dan Mega datangi. Lokasinya ada di Jl. I Ketut Natih, Purwa Kerthi, Abang, Karangasem, Bali. Bisa juga berkomunikasi lewat email : mpig.garamamed@gmail.com atau telepon 0819-3645-1718.
Tentang Bali : Keindahan Bunga Abadi di Taman Edelweis Karangasem Bali




Waaah sayang pas ke Bali aku ga ke tempat ini. Penasaran banget ttg cara pembuatan garam sebenernya.
Dan tadi pagi ya mba, aku tuh lagi cari info bedanya garam yodium biasa dan garam Himalaya. Bagusan mana. Tp ternyata kebanyakan informasi yg aku baca, LBH disarankan garam yodium biasa yg mungkin termasuk amed salt ini kali yaa.
Krn garam Himalaya sendiri walo dibilang lebih sehat, tp benefit yg diklaim blm pernah ada penelitian nya.
Garam amed ini juga menarik. Semoga nanti bisa ngerasain langsung rasanya kayak apa, seasin apa. Dulu pernah pake garam Himalaya utk bumbuin steak. Dan ternyata asin dia kuat banget, seharusnya ga usah banyak ๐คฃ๐คฃ. Sejak itu tiap pakai garam baru, aku cobain dulu seasin apa
Aku juga dapat pelajaran banyak saat tiba di Amed Salt Centre ini. Semuanya informatif banget. Seneng deh mampir di sini.
Garam yang diolah secara tradisional rata2 asinnya top Fan. Ambil sedikit aja asinnya nendang betul. Sama kek garam tradisional yang diproduksi di desa Kusamba, Klungkung, Bali.
Masya Allah, sejak abad 15?? P
Ga heran ya kalau proses tradisionalnya bikin garam Amed Bali makin istimewa.
Betul banget Mbak. Saya juga sampai termangu-mangu. Di abad yang lama itu, garam tradisional bahkan dijadikan persembahan atau hadiah saat menghadap kepada raja-raja Bali. Saking istimewanya kali ya.
auto nyari produknya Amed Salt di Shopee,
dan Alhamdulilah nemu di house of organic
saya lagi rajin bikin banchan sepertil kimchi, dan menurut petunjuk sebaiknya jangan pakai garam meja (garam beryodium)
Setelah baca tulisan Mbak Annie jadi pingin beli sea salt ini (daripada garam himalaya yang cuma ngetop doang)
Alhamdulillah artikel ini jadi membawa manfaat. Yang pasti garam tradisional Bali tuh tingkat ke-asin-nan nya tinggi Mbak. Sedikit aja sudah maknyos. Mantab nian.
Aku rasanya sudah tidak asing sama pembuatan garam secara tradisional. Soalnya, di Madura tuh pembuatan garamnya masih secara tradisional juga.
Aku jadi pingin berkunjung ke pusat pembuatan garam yang ada di Bali juga dah, Kak. Semacam studi banding kali ya.
Nah bener banget Mbak Yuni. Madura juga banyak ya petani garam tradisionalnya. Ayok Mbak kapan-kapan sempatkan ke sana dan tuliskan di blog
Mantab abis, Bali emang beda. Bahkan dalam hal panen garam dan penjualannya khas banget. Saya sih jadi penasaran rasa asinnya kayak apa ya….
Wah, mantap petani garam di Bali
Punya inovasi bisnis yang ciamik
Khas Bali yang merupakan destinasi wisata ya mbak
Aku penasaran sama referensi wisata ka Anniee..
Selalu gak biasa karena ada muatan lokal yang kentaall sekalii..
Aku penasaran dengan manfaat garam Amed Bali ini apa sehingga unik.
Ternyata memang garam ini terkenal sampai ke Eropa, warisan tradisi dan kebaikan alami untuk bumbu.
Keren banget ya, ka Annie.
Betul banget Len. Garam Amed rentang pemasarannya sudah sangat luas. Dengan IG certified, kepercayaan publik akan proses dan kualitas Garam Amed sudah terjamin dan dalam kontrol Kemenkumham.