Journey to the Greatest Ottoman. Jelajah Turki Negeri Daulah Utsmani

Journey to the Greatest Ottoman. Jelajah Turki Negeri Daulah Utsmani

Turki. Salah satu negeri yang masuk dalam impian kunjungan saya bertahun-tahun lamanya dan belum terwujudkan hingga saya menuliskan artikel ini.

Entah mengapa, salah satu negeri dari Tiga Daulah ini begitu berkesan di hati saya. Sama seperti halnya saat saya merindukan kembali menjadi tamu istimewa Baitullah (Makkah dan Madinah) setelah kunjungan terakhir di 1993. Puluhan tahun yang lalu.

Ada satu ruang kosong di dalam sanubari yang khusus saya sediakan untuk Turki. Negeri Daulah Utsmani yang berjaya dibawah kepemimpinan Sultan Muhammad Al Fatih. Tanah gemilang yang meninggalkan banyak jejak-jejak sejarah kemegahan Islam untuk semesta. Dan yang suatu saat akan terinjak oleh kaki-kaki saya.

Kapanpun itu. InshaAllah. Qobul ya Allah.

Rindu dan mimpi yang kuat itu lantas menemukan salah satu muara dan pintunya saat buku Journey to the Greatest Ottoman karya Marfuah Panji Astuti (Utiiek Herlambang) saya temukan ketika berkunjung ke toko buku Gramedia yang ada di Bandung.

Mengulas Isi Buku Journey to the Greatest Ottoman

Buku setebal 176 halaman ini menampilkan cover yang langsung mengarahkan pikiran kita kepada Blue Mosque yang ada di Istanbul. Sebuah masjid megah di kota besar yang menjadi jantung Daulah Utsmani atau Ottoman, sekaligus bukti nubuat Rasulullah SAW yaitu “Konstantinopel akan ditaklukkan di tangan seorang laki-laki. Yang memerintah adalah sebaik-baik pemimpin dan pasukannya adalah sebaik-baik pasukan.” (HR Ahmad)

Buku ini adalah bagian atau salah satu dari tiga Daulah besar yang terdiri dari tiga seri yaitu : Journey to Andalusia, Journey to the Greatest Ottoman dan Journey to Abbasiyah. Semuanya ditulis oleh Uttiek Herlambang sebagai satu serial jelajah yang pastinya sangat mengagumkan.

Saya sendiri baru membeli dan membaca Journey to the Greatest Ottoman karena memang sudah jatuh cinta pada Turki. But for sure, setelah ini saya akan mengejar dua buku yang lain.

Sesuai dengan judulnya, Journey to the Greatest Ottoman berkisah tentang perjalanan sang penulis ke Turki yang terjadi pada 2015. Kita diajak untuk ikut melangkah ke berbagai tempat sarat sejarah, keunikan, kemegahan dan kaya keindahan Islami seperti Edirne (kota kelahiran Sultan Muhammad Al Fatih), Topkapi Sarayi, Blue Mosque, Agiya “Aya” Sofya, Grand Bazaar, Cappadocia, Selat Bosphorus, Taksim Square dan masih banyak lagi.

Uttiek Herlambang tak hanya mengulas secara rinci tentang tempat-tempat yang disebutkan di atas, tetapi juga memberikan sentuhan personal serta sudut pandang yang berangkat dari pengalaman pribadi dan rahmat keimanan Islam yang luar biasa. Rangkaian kalimat yang kemudian menyadarkan diri saya pribadi bahwa dulunya, Turki di bawah kepemimpinan Sultan Muhammad Al Fatih pernah menguasai 2/3 wilayah dunia. Turki diakui sebagai negara Islam dengan prajurit terbaik. Sempat mengalami degradasi keimanan dibawah kepemimpinan Mustafa Kamal Attartuk, hingga pelan-pelan bangkit lagi seperti saat ini.

Semua peninggalan jejak kejayaan yang tak ternilai ini tersimpan dengan rapi di Istana Topkapi. Istana yang kini difungsikan sebagai museum.

Journey to the Greatest Ottoman. Jelajah Turki Negeri Daulah Utsmani
Salah satu quote menyentuh yang ada di buku Journey to the Greatest Ottoman

Melengkapi uraian tentang tempat-tempat yang wajib kita kunjungi, buku Journey to the Greatest Ottoman juga menghadirkan sebuah peta wisata Turki yang apik untuk kita simak. Dilengkapi dengan gambar-gambar mini dan ilustrasi tempat, kita juga bisa mengamati letak dan posisi dari masing-masing destinasi wisata. Menyenangkan sekali. Kita jadi punya gambaran sekilas tentang setiap destinasi indah lalu meraih rinciannya lewat pencarian di dunia maya.

Semua pun semakin terlengkapi saat kita sampai pada bagian Sepuluh Warisan Ottoman Untuk Dunia. Setiap informasi yang tertulis mulai dari halaman 150 hingga 160 ini sungguh memikat hati. Disampaikan lewat poin-poin dan uraian singkat seperti rangkuman materi pelajaran yang besok akan jadi materi soal ujian.

Tapi saya suka tulisan seperti ini karena akan sangat membantu seorang book reviewer seperti saya dalam merangkum materi tulisan. Disamping itu, dengan cara membuat tulisan ringkasan, konsentrasi kita akan materi yang disampaikan akan jauh lebih baik. Satu kebiasaan yang seringkali saya lakukan saat akan menghadapi ulangan harian maupun semesteran.

Kesepuluh warisan Ottoman untuk dunia yang terangkai apik di buku Journey to the Greatest Ottoman ini adalah:

  1. Militer. Daulah Utsmani terkenal dengan pasukan Inkisyariah atau Jeniseri. Pasukan tempur yang paling modern dan terorganisir dengan baik. Pasukan elit ini tidak tertandingi kekuatannya pada masa itu. Para anggotanya melewati sekolah militer, digembleng agamanya dengan fungsi yang tersusun dan tertata rapi. Mereka juga memiliki jenjang karir yang jelas. Diuraikan juga bahwa Muhammad Al Fatih merekrut anak lelaki yatim atau yang terlantar untuk direkrut sebagai anggota militer. Mereka dididik dan dipersiapkan untuk memperkuat Jeniseri;
  2. Teknologi Persenjataan. Sejajar dengan nama besarnya, militer Daulah Utsmani tentunya memiliki rangkaian persenjataan yang menunjang kegiatan mereka. Tercatat bahwa mereka sempat menciptakan meriam yang sangat besar. Beratnya mencapai 18 ton, panjang 5.23 meter, diameter 0.635 meter, panjang laras 3.15 meter dan tempat mesiunya 0.248 meter. Jangkauannya mencapai 1 mil. Disampaikan juga bahwa bahwa teknologi militer Daulah Utsmani tentang dasar pembuatan roket diakui oleh NASA;
  3. Tetabuhan Perang. Dalam sejarahnya kehadiran tetabuhan perang ini dapat menyemangati pasukan sekaligus menakut-nakuti musuh. Dan teknik ini pertama kali digunakan oleh pasukan Daulah Utsmani. Pasukan ini diberi nama Mehterhane atau Mehter Tahkimi dan baru terkenal bersamaan dengan datangnya pasukan Muhammad Al Fatih saat membebaskan Konstantinopel pada 1453;
  4. Alat Musik Simbal. Lewat alat inilah saya mengenal seorang ahli pembuat simbal (perkusi) dan ahli kimia terkenal bernama Avedis. Dia mampu membuat tembaga dengan kualitas lebih kuat walaupun ukurannya lebih tipis. Keturunan Avedis kemudian membuat bisnis produksi simbal dengan jenama Zildjian. Satu perusahaan tertua warisan Utsmani untuk dunia;
  5. Kapal. Tidak hanya kuat di daratan, pasukan militer Daulah Utsmani juga memiliki kapal-kapal perang yang tangguh. Ciri khas kapalnya terletak pada layar yang terbuat dari bahan lateen yang dipasang pada tiang berat dan digantung membentuk sudut;
  6. Undang-Undang Pemerintahan. Di masa pemerintahan Sultan Sulaiman, Daulah Utsmani pernah membuat sebuah aturan yang dikenal sebagai sistem federasi, yaitu setiap daerah mempunyai peraturan sendiri untuk mengatur warganya, namun tetap ada aturan bersama yang berlaku secara nasional. Di Indonesia sendiri dikenal sebagai otonomi daerah;
  7. Pencatatan Wakaf. Wakaf sangat penting dalam daulah Islam sebagai salah satu sumber kemajuan. Wakaf sendiri memiliki makna sebagai harta yang diserahkan untuk dimanfaatkan oleh publik guna keperluan ibadah atau kesejahteraan umum yang syariah. Contohnya seperti wakaf tanah untuk masjid, untuk rumah sakit, untuk pesantren, dan lain-lain. Dijamin Daulah Utsmani, pencatatan seperti ini sudah dimulai dan dirapihkan;
  8. Kedai Kopi. Kedai kopi mulai dikenalkan pada masa Daulah Utsmani. Sebelum ada kedai kopi, minuman ini hanya bisa dinikmati oleh bangsawan di rumah masing-masing. Tercatat di masa itu, seorang saudagar bernama Pasqua Rosee membuka kedai kopi bernama Sultaness Head di Lombard Street dan Cornhill;
  9. Arsitektur. Untuk perkara yang satu ini, Turki sangatlah diakui. Berada pada dua benua (Eropa dan Asia), dengan catatan sejarah yang mengesankan, negara ini tentunya memiliki bangunan-bangunan dengan arsitektur yang mengesankan. Masjid Sultan Ahmed atau Blue Mosque adalah salah satu bangunan indah yang sampai saat ini bisa dinikmati dan diakui UNESCO sebagai warisan dunia. Selain masjid ada pula istana, jembatan dan taman di berbagai belahan dunia yang bercirikan arsitektur Daulah Utsmani;
  10. Sirop. Saya sempat takjub saat sampai di bagian ini. Ternyata sirop adalah warisan kuliner Daulah Utsmani. Di masa itu, masyarakat sudah membuat ekstrak buah atau bunga, lalu ditambahkan rempah-rempah, gula serta air. Mungkin ini ya salah satu alasan mengapa di Turki banyak sekali minuman dan makanan ringan yang manisnya tak terkira.

Menjejak ke beberapa halaman terakhir, buku Journey to the Greatest Ottoman juga menghadirkan ulasan terperinci tentang apa dan bagaimana juga apa saja yang bisa kita persiapkan sebelum melakukan perjalanan ke Turki. Di dalamnya terdapat referensi transportasi, akomodasi, jenis makanan yang wajib dicoba, nilai tukar uang dan tentu saja proses aplikasi visa. Lengkap banget.

Journey to the Greatest Ottoman. Jelajah Turki Negeri Daulah Utsmani
Dua dari sepuluh warisan Daulah Utsmani untuk dunia

Journey to the Greatest Ottoman. Jelajah Turki Negeri Daulah Utsmani
Lembaran informasi tentang akomodasi dan transportasi di Turki. Data dan harga mungkin saja berubah sesuai dengan perkembangan masa. Tapi setidaknya ada referensi yang bisa dijadikan acuan saat kita hendak mencari informasi lebih lanjut

Dan bagian ter-asik berikutnya adalah Tips Traveling ke Turki. Ini nih yang penting banget. Terutama untuk first time visitor. Yang pasti, dengan memahami berbagai hal sebelum berkunjung ke Turki, kita tidak merasa “tersesat”, bukan hanya dalam arti harafiah tapi juga untuk kesiapan fisik, kesehatan dan termasuk untuk urusan keuangan.

Di dalam buku Journey to the Greatest Ottoman ini, Uttiek Herlambang membahas tentang musim, busana dan hijab, makanan halal, masjid dan oleh-oleh. Beberapa poin yang menurut saya memang pas banget untuk dibahas sebelum berangkat. Tapi yang pasti, karena mayoritas penduduknya beragama Islam, tidaklah sulit bagi moslem traveler (seperti sebagian besar orang Indonesia) untuk melancong ke Turki. Sekalipun negara ini berada di dunia biru.

Tentang Sudut Pandang Pribadi untuk Journey to the Greatest Ottoman

Dari setiap buku yang saya baca, apapun genre atau jenisnya, baik solo atau antologi, selalu meninggalkan kesan dan catatan pribadi.

Di setiap masa dan kesempatan membaca, saya selalu berusaha membaca pelan, tanpa terburu-buru dan dalam kondisi yang kondusif dalam artian tidak sedang dikejar date line pekerjaan lain dan dalam kondisi santai. Saya juga selalu menyempatkan diri memberikan tanda (sticky notes) pada diksi yang menarik, catatan-catatan penting atau hal-hal baru yang belum saya ketahui sebelumnya. Jika di akhir proses membaca saya berminat untuk membuat review atas buku tersebut, maka saya akan membaca buku ini kembali, di kesempatan terpisah. Aktivitas re-read ini biasanya saya lakukan setidaknya dua kali lalu mulai membuat rangkaian rangkuman untuk ditulis di dalam blog.

Dan ini terjadi pada buku Journey to the Greatest Ottoman. Ada beberapa hal istimewa yang saya temukan dan mendorong saya untuk membagikannya kepada semua pembaca blog ini.

Saking banyaknya materi yang ingin dibagikan, saya “terperangkap” dalam rangkaian pesona dari awal hingga lembaran terakhir. Seketika itu juga saya membuat keputusan bahwa seperti inilah sebuah buku perjalanan yang ingin saya buat kedepannya. Satu paket lengkap yang meliputi sejarah, rincian tentang tempat, keunikan tentang berbagai obyek, termasuk kesan pribadi atas apa yang dilihat dan disentuh. Jadi tulisannya tidak hanya melulu melibatkan indera penglihatan, mengurai tentang visual, tapi juga menghadirkan rasa dan emosi yang terangkat dari pribadi sang penulis.

Dan plus foto-foto apik yang jernih, fokus dengan angle pengambilan gambar yang sophisticated. Bening, cerah dan details.

Sungguh satu buku perjalanan yang terbungkus dalam satu paket komplit dan layak untuk dimiliki oleh publik.

And you know what? Dalam proses membaca buku ini, terutama di kesempatan pertama, saya berulangkali termenung dan berhenti membaca di banyak bagian tertentu. Terutama tentang bagaimana Uttiek Herlambang mengulas tentang kuliner, kisah tentang perjuangan Sultan Muhammad Al Fatih, kejayaan Daulah Utsmani dengan berbagai tokoh yang menjadi pioneer dalam banyak sisi kehidupan dan bagaimana dia merasakan bahagia melaksanakan salat di berbagai masjid yang sempat dia kunjungi.

Uraian lengkap tentang keindahan, kemegahan dan rancang bangunan untuk Blue Mosque juga membuat saya menelan ludah. MashaAllah. Kapan ya saya dapat melihat dan merasakannya langsung? Kapan ya saya bisa menyentuh keramik bersusun yang indah itu? Kapan ya saya bisa salat sepuas mungkin di salah satu masjid terindah di dunia itu?

Journey to the Greatest Ottoman. Jelajah Turki Negeri Daulah Utsmani
Salah satu quote yang juga memorable di buku Journey to the Greatest Ottoman

Journey to the Greatest Ottoman. Jelajah Turki Negeri Daulah Utsmani
Semoga suatu saat masjid berwarna hijau biru itu dapat saya sentuh secara langsung

    Satu yang patut saya banggakan saat ini adalah banyaknya bermunculan penulis dan blogger perempuan yang berkiprah di dalam dunia literasi. Banyak diantara mereka menjadi penulis terkenal, best-selling author yang sangat disegani. Beberapa diantaranya bahkan membuat artikel bisnis dengan tulisan yang menginspirasi. Satu jejak yang ingin saya ikuti dan jejaki kedepannya.

    Blogger, Author, Crafter and Photography Enthusiast

    annie.nugraha@gmail.com | +62-811-108-582

    68 thoughts on “Journey to the Greatest Ottoman. Jelajah Turki Negeri Daulah Utsmani”

    1. Wah buku yang sangat bagus nih, Mbak. Setidaknya, walau diterbitkan tahun 2015, tetap bisa jadi referensi bagus saat kita akan menjelajah Turki. Dan karena ini ada 3 buku, wajib dibaca semuanya, Mbak.

      Reply
    2. baca judulnya kirain Mbak Annie ke Turki

      udah nyiapin kopi dan camilan untuk nikmatin cerita dan foto-fotonya

      ternyata tentang buku, semoga terwujud Mbak Annie segera ke Turki, amin

      karena saya juga pingin, hehehe…

      untuk saya Turki merupakan negara impian karena khas dan sophisticated

      Reply
    3. Sorry OOT, baru engeh tampilan kolom komentarnya berubah Bu.

      Oke lanjut, hehe.
      Baca reviewnya dan melihat cuplikan bagian dalam buku jadi terpikirkan bahwa membaca bukunya jadi seperti belajar sejarah kembali ya. Malah bisa dikatakan layaknya Napak tilas secara mendalam. Ciamik bukunya

      Reply
      • Iya Fen. Template saya ganti termasuk hosternya. Udah ngungsi ke tempat yang baru dengan interior rumah yang juga baru. Semoga menjadi lebih baik ya Fen.

        Bener banget Fen. Baca buku ini terasa berada di Turki. Lengkap banget. Baik uraian tempatnya dan rasa yang dilibatkan. Salah satu buku perjalanan yang bisa dicontoh dan dijadikan referensi.

      • Menurut daku ini lebih asik Bu tampilannya hehe. Singset dan elegan.

        Dan buat bukunya dengan tampilan gambar agak berwarna ya itu? Bagus sih, karena membuat mata yang membaca juga jadi lebih segar, dan gak monoton.

    4. Aku juga menikmati sekali buku Journey to the Greatest Ottoman.
      Penulisnya menuliskannya secara lengkap dan seolah pembaca ikut mengalami perjalanan yang dilakukan penulis.

      Hanya sayangnya, aku pas baca buku Journey to the Greatest Ottoman tuh bentuk digital, jadi gak bisa dipasangin sticky note.
      Padahal aku suka banget nulis sedikit rangkuman, biar pas nge-review tinggal nulis apa quote dan point menarik yang aku peroleh.

      Reply
      • Kalau aku memang lebih enjoy mbaca buku secara fisik. Seneng bisa corat-coret dan masangin sticky note. Seru

      • Setuju banget, kak Annie.
        Kalau ga salah buku Journey to the Greatest Ottoman ini trilogi ya.. ada Journet to the mana lagi..
        Heheh..belum baca versi lainnya. Tapi suka banget sama penyajian sang penulis yang menggambarkan keindahan Blue Mosque, Aya Sofya, Selat Bosphorus, hingga gunung salju di Cappadocia.

    5. Keren bukunya ya kak, bukan sekedar cerita perjalanannya tapi mengulas beberapa sejarah warisan yang khas seperti kedai kopi dan adanya sirop? Wow luar biasa ternyata dulu tuh ya modern juga seperti sekarang banyak bermunculan kedai kopi

      Reply
      • Bener Mbak Lia. Banyak hal-hal dan pengetahuan baru yang bisa kita dapat dari buku ini. Jadi tambah ilmu soal Turki yang meninggalkan jejak sejarah Islam untuk dunia.

    6. Aku seneng banget baca artikel ini tentang buku Journey to the Greatest Ottoman, mba. Artikel ini memberi review yang jelas tentang buku ini dan aku merasa terinspirasi untuk membacanya.

      Buku traveling dengan sentuhan personal ini terdengar benar-benar menarik dan aku jadi tertarik untuk cari tahu lebih banyak tentang sejarah dan kebudayaan Turki, mba.

      Aku juga menyukai fakta tentang budaya Turki dan bagaimana itu mempengaruhi dunia modern. Kayak sirop dan cafe kopi itu ternyata datang dari budaya Turki juga ya.

      Aku yakin buku ini akan menjadi pembicaraan hangat di antara para penggemar sejarah dan budaya Turki. Keren nih, buku ini bisa dibaca siapa pun yang tertarik untuk mempelajari lebih lanjut tentang sejarah Turki.

      Reply
      • Bener banget Mbak Ila. Buku yang layak untuk dibaca. Mengajak kita menelusuri sejarah kemegahan Islam di masa lampau.

    7. Turki juga menjadi salah satu tempat impian yang saya ingin kunjungi loh mba. Banyak kemajuan sejarah Islam di kota ini dibawah kepemimpinan Sultan M. Al-Fatih. Aku pengen banget sholat di Blue Mosque.

      Juga udah beli satu buku tentang tempat-tempat di Turki yang nanti mesti dikunjui. Dan penasaran juga pengen baca buku ini..Buat tahu sejarah Ottoman lebih jauh dan detail😊

      Reply
      • Semoga impian kita untuk sampai di Turki diijabah Allah SWT ya Mbak Nengsi. Saya juga ingin sekali bisa salat di Blue Mosque

    8. Kayaknya menarik dan nggak ngebosenin nih baca buku ini. Apalagi bagi yang pingin banget ke Turki tapi belum kesampaian ke sana.

      Reply
      • Setuju kak, biar sebelum ke sana bisa ceki² di buku ini ya. Sehingga bisa mengatur itinerary dan sekaligus bisa mampir juga ke sana sambil Napak tilas jejak sejarah

    9. Biasanya saya langsung tertarik dengan buku kisah perjalanan. Kalau belum pernah ke tempat tersebut, jadi berasa diajak ‘jalan-jalan’. Bila suatu saat bisa ke sana, buku seperti itu bisa jadi panduan. Tapi, memang kembali ke gaya ceritanya. Karena beberapa gak jadi menarik karena cara berceritanya ngebosenin. Kayaknya saya mau baca buku ini. Siapa tau bisa suka juga dengan ceritanya

      Reply
      • Begitulah tantangan untuk sebuah buku perjalanan. Membangkitkan imajinasi dan rasa ingin ke tempat yang dimaksud, jadi salah satu tujuan dituliskannya buku itu.

      • Setuju banget Mbak Maria. Buku cetak tentang perjalanan yang dibungkus dengan rincian yang apik dan gambar-gambar yang indah, memberikan kesenangan dan imajinasi tersendiri untuk pembaca. Saya suka banget.

    10. Ikut senang membaca ulasan buku seperti ini, karena bisa menjadi panduan nantinya bagi yang akan melakukan perjalanan ke Turki atau ke daerah lain. Semakin banyak yang mengabadikan momen detail, semakin dirasakan juga manfaatnya oleh banyak orang

      Reply
      • Setuju banget Kang Ugi. Detailsnya bikin kita gak bakalan tersesat. Infonya lengkap dan membantu sekali.

    11. Kirain tadinya mbak Annie lagi di Turki.
      AKu pun pengen ke sana krn peninggalan sejarah Islamnya banyak sekali. Bukti kejayaan Islam di masa lalu.
      Kok bagus kyknya bukunya. Gak hanya bahas tentang apa aja yang ada di turki tapi juga bahas sejarah2nya. Jd pengen punya juga deh.

      Reply
      • Nah itu dia Pril. Menariknya Turki ini adalah jejak-jejak sejarah Islamnya. Pengen banget deh menjadi salah seorang saksi hidupnya. Menyempatkan salat sesering mungkin di setiap masjid bersejarah yang ada di sana.

    12. Morning kak Annie,
      Membaca buku apalagi pelan alias tidak terburu-buru dan ditulis dengan gaya bahasa yang mudah dipahami alias tidak terlalu formil membuat kita betah berlama-lama dan merasa berada didalamnya ya. Membaca ulasan kak Annie akupun jadi tertarik ingin mengenal lebih jauh tentang Turki dan sejarahnya.

      Reply
      • Bener Kak Dennise. Saya suka banget dengan buku-buku traveling seperti ini. Isinya lengkap. Gak cuma bicara soal tempat dan sejarah tapi juga berbagai tip dan trik yang perlu kita siapkan sebelum berangkat dan saat berada di sana. Semoga suatu saat kita sampai dan berekreasi di Turki ya Kak.

      • Pas ya, kak Dennise.
        Sukanya travelling, bacanya buku-buku travelling dan bertemu dengan buku yang pas dan enak dibaca seperti Journey to the Greatest Ottoman.

    13. Turki memang selalu mempesona ya,Mba. Saya sebelum mengunjungi Turki dua tahun lalu pun sering baca buku-buku dan buka informasi di internet sambil menguatkan impian bisa sampai ke Turki. Banyak banget yang memang bisa dilihat dan dipelajari terutama budaya dan kearifan lokal. Duhhh jadi pengen baca buku ini juga deh karena buku yang berlatar atau tentang sebuah negara itu menjadi kesukaanku.

      Reply
      • Kebayang ya Kak Ririn saat impian kita terwujud. Semoga suatu saat semesta mengijinkan saya menginjakkan kaki di Turki. Menyaksikan jejak-jejak sejarah Islam yang indah dan memorial.

    14. Sejarah kekaisaran Turki Ustmani ini memang menarik untuk dibaca ya mbak
      Apalagi jika dikemas dalam kisah perjalanan seperti ini
      Buku yang sangat bagus dan inspiratif

      Reply
    15. Aristektur turki emang cantik2 ya, mba. Keliatan dari masjid dan bangunan kantor pemerintahannya juga. Banyak peninggalan peradaban Turki tempo dulu yang masih bisa dipake sampe sekarang ya.

      Reply
      • Dan itu memang memesona ya Mbak. Ada banyak sentuhan konsep bangunan Eropa untuk sebuah negara muslim.

    16. nambah wawasan bangett

      oh ternyataaa turki tuh lebih dari sekadar cappadocia yhaaaa😆🤣 jadi paham klo banyaaakkkk warisan keren dari Turkiiiii

      Reply
    17. Bukunya benar benar mengajak pembacanya untuk traveling ke Turki ya Mba
      Masyaallah semoga diizinkan untuk kembali mengunjungi tanah suci ya Mbak
      Berharap hal yang sama juga untukku
      Aku kalau menyebut kata Turki mengingatkan pada salahsatu film favorit 99 cahaya di negeri Eropa

      Reply
      • Setuju banget Mbak Emma. Dengan komposisi isi yang lengkap, kita seperti ikut dihadirkan di sana. Vibes travelingnya terasa banget

      • Aaaa menarik sekali… Rasanya lama sekali saya sudah nggak baca novel (fiksi ataupun non fiksi) terakhir baca non fiksi ttg traveling the journey 3 kumpulan kisah dari Ariev Rahman, Amrazing, dkk dan itu seru bangeeet.. Baca review Journey to the Greatest Ottoman ini kesannya saya bakal diajak keliling Turki lewat tulisannya, apalagi dokumentasi gambar yang bikin pengalaman seakan nyata. Duh jadi pengen beli TT

    18. bukunya bener-bener ngasih pembacaatmosfer turkinya kentara banget..
      dari undang-undang sampe kedai kopi pun tertuang

      dulu pas masih nulis novel entah kenapa aku juga suka banget nulis itu berlatar belakang turki.
      kaya sesuatu yang menarik aja gitu melibatkan turki di cerita kita..

      Reply
      • Betul banget. MashaAllah. Kepengen bener bisa menginjakkan kaki di Turki untuk waktu yang lama sembari menelusur setiap inchi dari sudut keindahan negara ini.

      • Dan saya pengen bisa menulis buku yang lahir dengan karakter kuat seperti ini. Semoga Allah Swt ijinkan.

    19. Penyampaian yang disertai sentuhan personal plus sudut pandang yang berdasarkan pengalaman pribadi bikin buku ini jadi unik ya. Memang kalau informasi dan penyajiannya biasa-biasa saja, kita juga bisa mendapatkan informasinya dari berita dan internet ya

      Reply
      • Cerita dari pengalaman pribadi tuh rasanya beda ya Teh. Ada sisi qolbu yang terurai di sana. Semoga suatu saat saya bisa menulis dan menerbitkan buku dari serangkaian perjalanan yang berkesan selama hidup.

    20. Pengen ke Turki juga mbak, semoga ada rezek8 dan kesempatannya ke sana aamiin. Menarik sih negara ini perpaduan Eropa Asia dan banyak peninggalan besar, selain org Eropa juga peninggalan dari kejayaan Islam berabad2 lalu.
      Bukunya bagus kyknya yaa isinya bisa melengkapi informasi mengenai Turki.
      Dari fotonya sampulnya aja sudah menarik hati buat membuka dan membacanya hehe. Thanks i fo bukunya mbak.

      Reply
      • Aamiin YRA. Saya juga kepengen banget ke Turki. Posisinya sebagai gabungan antara benua Eropa dan Asia memang bikin negara ini unik. Apalagi memang menyimpan sejarah Islam yang tidak sedikit.

    21. Aamiin semoga qobul impiannya mengunjungi Turki ya, Mba Annie. Saya pun sama, pengin ke sana, apalagi setelah anak sulung saya ada kegiatan folklore ke Turki di tahun 2019 yang sangat berkesan baik bagi dia maupun saya. Pasalnya, panitia, masyarakat dan tuan rumah (dia tinggal di rumah orang setempat) sangat baiik. Dua minggu anak saya diopeni, dijamu, dan pulang dibawakan sekoper oleh-oleh (sampai dibelikan tambahan koper baru). Masya Allah. Pengin ke Turki saya, bersilaturahmi dengan mereka juga berwisata. Aamiin.
      Karenanya, buku ini mesti dibaca nih sebelumnya. Buku paket komplit tentang Turki yang semua-semuanya ada yang berguna bagi pengunjung pertama. Tak heran Mba Annie pun terinspirasi untuk membuat buku traveling serupa yang lengkapnyaaaa…semoga qobul juga ya. :)

      Reply
      • MashaAllah Mbak Dian. Tripnya pasti berkesan sekali buat anaknya ya Mbak. Kebayang seperti menemukan ortu pengganti saat berada di negara orang. Dan kitapun sebagai ortu pasti ingin membalas semua kebaikan-kebaikan itu.

        Saya memang ada rencana bikin trip sendiri ke Turki bareng teman. Kebetulan dia juga pecinta sejarah Islam dan kenal dengan orang yang bisa menemani selama di sana. Anak yg kuliah di sana dan sering berkalana juga. Jadi cocoklah dengan misi saya.

        Saling mendoakan ya Mbak. Semoga nanti bisa menyaksikan keindahan peninggalan Islam di Turki.

        Aamiin YRA

    22. Wuih Turki. Salah satu negara impian yang kepengen dikunjungi. Biar bisa ke Cappadocia, naik balon udara dan menikmati pemandangannya yang sangat indah. Bisa ke Hagia Shopia juga. Aamiin, semoga bisa main ke Turki. Sementara mah, bisa baca buku ini dulu ya sebelum datang ke sana :D

      Reply
      • Saat baca buku ini, tambah tambah deh pengen bisa ke Turki dan menyaksikan keindahannya sendiri. Apalagi Turki ini kan percampuran budaya Eropa dan Asia. Cantik tak terkira.

    23. #tosss…..aku pun mendamba Turki

      sampai kalo bisa umroh plus ke Turki hehehe

      karena Turki ini terletak di dua benua (Eropa dan Asia) sehingga punya budaya dan “kecantikan” 2 benua

      walau kayanya gak cukup seminggu menjelajah Turki

      Reply
      • Kalo saya sama beberapa teman pengen backpackeran Mbak. Gak pake jasa travel tapi dengan bantuan anak-anak Indonesia yang sekolah di Turki. Tinggal di apartemen rame-rame biar hemat. Terus jalan-jalan sendiri.

      • Oya? Waaahh jadi tambah semangat. Semoga Allah Swt mengijinkan saya menginjakkan kaki di Turki.

    24. Saya juga jadi mupeng nih membaca bukunya, yang nggak cuma membahas berbagai tempat dan kuliner tapi juga membagikan tips bagi first journey ke sana.
      Semoga bisa segera terwujud ya mbak, Sholat berulang kali (puas nggak puas itu relatif) di Blue Mosque.

      Reply
      • Semoga suatu saat, saya dan Mbak Nanik bisa menginjakkan kaki di Turki. Menyaksikan sendiri kemegahan dan keindahan peninggalan sejarah Islam yang memorable itu.

    Leave a Comment