Menelusur Sejarah dan Peristiwa di Museum Tsunami Aceh

Menelusur Sejarah dan Peristiwa di Museum Tsunami Aceh
The Light of God. Semua terjadi atas kehendak dan rencana Allah Subhannahu Wata’ala

Menelusur Sejarah dan Peristiwa di Museum Tsunami Aceh
Kolam ikan di lantai dasar. Unsur air yang selalu hadir di rancang bangun karya Ridwan Kamil

Saat pertama kali tiba di Aceh dan berbincang dengan driver yang menjemput saya dan suami di bandara Sultan Iskandar Muda, hal pertama yang saya tanyakan adalah tentang peristiwa tsunami 2004 dan Museum Tsunami Aceh. Menelusuri sejarah dan peristiwa pun muncul dari percakapan mengiris hati. Rangkaian cerita berloncatan dari mulut bapak driver ini. Kalimat-kalimat yang disampaikan begitu dramatik dan mengesankan. Dia kebetulan – di saat itu – sedang berada di pinggir kota dan menyaksikan sendiri bagaimana air bah setinggi sekitar pohon kelapa dan dengan arus yang cukup deras menggiring tubuhnya hanyut sedemikian jauh hingga bajunya sobek-sobek. Setelah sekian menit terbawa arus, dia tersangkut di salah satu pohon besar. Tempat dimana sudah ada beberapa orang yang mengalami hal yang sama. Isak tangis mewarnai situasi di atas pohon saat itu. Si bapak bahkan tak percaya bahwa dia masih hidup karena ikut tersapu arus maha deras – tsunami – yang terjadi pada 26 Desember 2004.

Saya ingat betul tanggal ini karena hari itu adalah hari ulang tahun kakak saya dan sedang berada di Cimahi dalam rangka mengunjungi almarhumah mertua yang sedang dalam kondisi kurang sehat. Suami sempat berteriak – istighfar dan menyerukan asma Allah Subhanallahu Wata’ala – menonton peristiwa yang terjadi pagi hari tersebut. Semua channel TV memberitakan hal ini terus menerus pada hari itu dan selama berbulan-bulan lamanya.

Dalam perjalanan menuju Kyriad Muraya hotel yang berada di tengah kota Banda Aceh (yang sering disebut dengan Banda), dia juga mengajak kami melewati kuburan massal tanpa nisan yang terlihat dikelilingi oleh pepohonan besar dan dilindungi oleh pagar tinggi. Saya membayangkan sedih, duka, dan harunya suasana saat itu karena para korban harus dimakamkan tanpa kafan, tanpa tanda pengenal, lalu diiringi isak tangis dari keluarga yang bahkan tak tahu apakah anggota keluarganya ada diantara para jenazah itu.

Baca Juga : Rehat Berkelas di Kyriad Muraya Hotel Banda Aceh

“Ibu kapan mau ke Museum Tsunami Aceh?” tanyanya dengan nada antusias sembari tetap konsentrasi nyetir.

“Besok inshaAllah. Hari ini mau istirahat dulu,” Jawab saya sembari memegangi perut yang mulai bernyanyi riang. Melihat saya yang nyengir kelaparan, kami tetap memutuskan untuk check-in di hotel, salat, dan ke toilet dulu sebelum mencari makan siang yang sudah kesorean. Atas usul beliau, kami mendapatkan dua nama Mie Aceh Rajali dan Nasi Goreng khas Aceh Daus yang berada di Peunayong. Keduanya begitu populer, melegenda, dan mewakili “wajah atau ikon kuliner” Aceh. Lokasinya pun hanya walking distance dari hotel Kyriad Muraya.

Untuk kedua kuliner dan hotel ini akan saya uraikan dalam artikel terpisah ya.

Tentang Museum Tsunami Aceh

Rintik hujan deras menghujan kota Banda keesokan paginya. Badan rasanya enggan untuk beranjak dari kasur hotel yang empuk dan pendingin ruangan yang sangat menggoda untuk terus bersedekap dengan selimut. Luar biasanya nyamannya. Tapi menimbang bahwa saya sudah berjanji dengan Akmal – tour guide saya hari itu – untuk mulai menjelajah sekitar pkl. 08:00wib, saya pun beranjak malas untuk mandi dan bersiap-siap lalu menikmati sarapan sebelum menempuh jadwal kunjungan yang cukup padat di hari pertama saya berada di provinsi Aceh ini.

Saat Akmal tiba tepat waktu, sudah menunggu di lobby hotel Kyriad Muara dan hujan mulai sedikit mereda, dia mengajak saya untuk menikmati kopi Aceh di salah satu warung kopi yang cukup populer di Banda. Sebagai penggemar kopi hitam, saya langsung mengangguk setuju. Apalagi kan kopi khas Aceh sudah sangat dikenal baik oleh publik, khususnya para penggemar minuman hitam pekat ini. Memulai hari dengan menikmati kopi adalah salah satu kegiatan yang hampir tiap hari saya lakukan. Baik di rumah maupun sedang dalam perjalanan atau berada jauh dari rumah. Toh saya juga butuh beberapa waktu untuk berdiskusi dengan Akmal tentang rencana berkelana dalam dua hari kedepan.

Dari sekian jadwal yang diajukan Akmal, satu yang tetap berada di urutan teratas adalah Museum Tsunami Aceh yang berada di Jl. Sultan Iskandar Muda No. 3, Sukaramai, Baiturrahman, kota Banda Aceh. Lokasinya persis di depan lapangan dan taman kota Blang Padang serta bersebelahan dengan pemakaman Belanda (Pemakaman Kerkhof Peutjoet) yang di dalamnya terdapat makam Meurah Pupok (putra Sultan Iskandar Muda) serta sekitar 650m dari Masjid Raya Baiturrahman yang menjadi icon dari Provinsi Aceh, khususnya kota Banda Aceh.

Museum ini berada di atas tanah seluas 2.500m2 dengan warna dominan abu-abu dan gradasi sentuhan turunan warna yang terlihat sangat elegan. Rancang bangun Museum Tsunami Aceh ini didapatkan lewat sebuah sayembara tingkat nasional pada 2007 yang kemudian dimenangkan oleh Ridwan Kamil (Kang Emil), seorang arsitek yang mengusung jenama Urbane. Organisasi – PT Urbane Indonesia – yang dia dirikan bersama teman-temannya ini bergerak di bidang konsultasi perencanaan, design (rancang bangun), dan arsitektur. Urbane sering memenangkan berbagai lomba rancang bangun secara nasional. Saat itu – 2004 – beliau belum merambah dunia politik. Jadi saat mengikuti sayembara pembangunan Museum Tsunami Aceh, Kang Emil murni membawa jenama Urbane.

Setelah beberapa kali mengunjungi bangunan hasil karya beliau, saya memahami bahwa Kang Emil selalu menghadirkan unsur air sebagai bagian yang sangat penting dan selalu bisa menghadirkan kedamaian dan ketenangan hati. Seperti Masjid 99 Kubah di Makassar dan Masjid Al Jabbar di Bandung (yang saat saya menulis ini baru saja saya kunjungi).

Baca Juga : Beberapa Masjid Indah Bersejarah yang Bisa Kita Kunjungi di Makassar

Menelusur Sejarah dan Peristiwa di Museum Tsunami Aceh

Menelusur Sejarah dan Peristiwa di Museum Tsunami Aceh
Fasad terdepan menuju pintu masuk utama Museum Tsunami Aceh

Menelusur Sejarah dan Peristiwa di Museum Tsunami Aceh
Kartu elektronik. Tiket masuk ke Museum Tsunami Aceh

Proses pembangunan museum ini berlangsung selama kurang lebih satu tahun karena pada 23 Februari 2008 Museum Tsunami Aceh dinyatakan resmi berdiri oleh Susilo Bambang Yudhoyono (Presiden RI ke-6) dan dibuka untuk umum pada 26 Desember 2009, tepat lima tahun setelah bencana tsunami terjadi.

Selain berfungsi menyimpan tumpukan sejarah dan peristiwa di masa tsunami menerjang Aceh pada 2004, Museum Tsunami Aceh dibuat untuk mengenang para korban, para pejuang, dan para penyintas bencana nasional tsunami. Menghadirkan banyak kesaksian sejarah dalam berbagai media (foto, video, audio, barang-barang fisik) menjadikan Museum Tsunami Aceh sebagai tempat edukasi serta wisata sejarah yang patut kita kunjungi saat berada di Aceh. Di museum inilah kita bisa melihat “ganasnya” air bah dengan gelombang tinggi yang menerjang dan meluluh lantakkan hampir sebagian besar provinsi Aceh.

Museum Tsunami Aceh ini memiliki sekitar 6.038 buah koleksi yang terdiri dari berbagai jenis peninggalan sejarah dengan media sebagai berikut:

  1. Etnografika (benda koleksi yang menjadi obyek penelitian antropologi);
  2. Arkelogika (kajian sistematis atas benda yang ditinggalkan);
  3. Biologika (benda koleksi dengan obyek penelitian lewat disiplin ilmu biologi);
  4. Teknologika (benda hasil teknologi yang menggambarkan tingkat pencapaian teknologi suatu zaman);
  5. Keramonologika (menyusur sejarah dari produk keramik);
  6. Seni Rupa (seni yang bisa ditangkap mata dan dirasakan dengan rabaan);
  7. Numismatika (studi dengan mengumpulkan mata uang koin, token, uang kertas, yang pernah digunakan oleh masyarakat);
  8. Heraldika/Kebentaraan (menciptakan/menghias lambang, makna, asal-usul sejarah & perkembangannya);
  9. Geologika (kajian ilmu bumi);
  10. Filologika (penelitian pada naskah kuno yang ditulis tangan yang menguraikan tentang sebuah/banyak peristiwa);
  11. Historika (berdasarkan sejarah atau kajian berdasarkan sejarah pada masanya)
  12. Ruang Audio Visual

Area pamerannya tersebut terbagi atas tiga area besar yaitu ruang pameran tetap, ruang pameran kotemporer dan rumah Aceh. Saya juga melihat pihak museum memamerkan banyak foto di lantai dasar yang berada persis di samping sebuah kolam berbentuk oval. Kolam ini berisikan banyak ikan-ikan koi dengan pinggiran batu-batu coral bulat dengan ukuran yang cukup besar (yang pastinya susah untuk digeser apalagi dipindahkan).

Di beberapa titik di tengah kolam berbentuk oval ini terdapat beberapa lampu lantai bulat yang sangat menarik dan begitu indah saat kita lihat dari lantai atas atau jembatan yang ada di atasnya. Batu-batu bulat ini bertuliskan kata DAMAI yang diekspresikan dalam berbagai bahasa dari beberapa negara. Sebuah ekspresi yang mencerminkan bahwa salah satu hikmah dari terjadinya tsunami adalah jejak perdamaian antara pemerintah RI dengan GAM (Gerakan Aceh Merdeka) yang sudah berlangsung puluhan tahun lamanya. Jika saya tidak salah presepsi, berbagai bahasa ini berasal dari banyak negara yang menjadi donatur saat tsunami selesai dan ikut membangun kembali Aceh.

Museum yang juga adalah monumen simbolis dari rangkaian peristiwa mulai dari rangkaian foto-foto dramatik, rangkaian artefak peninggalan korban dalam berbagai bentuk, tampil dalam konsep yang begitu matang dimana dinding lengkungannya adalah sebuah relief geometris. Atapnya sendiri membentuk sebuah gelombang laut yang nantinya bisa difungsikan sebagai escape hill, bukit pengungsian jika tsunami kembali terjadi di masa yang akan datang.

Menilik sebuah jurnal arstitek vol II – Juli 2013 – dengan judul “Penerapan Arsitektur Metafora Pada Museum Tsunami Aceh di Banda Aceh” yang ditulis oleh Armelia Dafrina – Dosen tetap pada prodi arsitektur Universitas Malikussaleh – saya menemukan sebuah uraian lengkap konsep metafora tangible (tangile metafor) pada rancangan gedung yang dibangun dengan biaya 240 Milyar ini. Jurnal ini menjelaskan bagaimana seorang arsitek dapat bermain dengan imajinasi melalui pengejawantahan desain dan menghasilkan kualitas arsitektur yang unik. Sesuatu yang dapat diraba (dirasakan) nyata dari suatu karakter visual atau material penggunaannya dalam desain arsitektur. Salah satu wujud nyata dari konsep ini adalah sebuah pemikiran bagaimana museum yang megah ini terbangun dengan sebuah escape hill tersebut di atas.

Tata letak ruangan di dalam museum dirancang secara khusus dan begitu berurutan (sequence) sehingga membentuk tiga zona yaitu spaces of memory, spaces of hope dan spaces of relief. Tiga zona dengan empat lantai yang disajikan oleh Museum Tsunami Aceh ini menghasilkan banyak efek psikologis yang lengkap tentang presepsi manusia akan bencana tsunami. Semua pengunjung diajak melihat satu persatu bukti sejarah saat tsunami itu terjadi. Semua ini diperlihatkan lewat foto-foto, video (kompilasi dari berbagai rekamanan pada masa itu), serta proses rekonstruksi dan rehabilitasi yang dilakukan di setiap sudut provinsi.

Yang pasti dari keempat lantai (tiga yang dapat dikunjungi saat saya datang) dan tiga zona tersebut di atas, saya mendapatkan ruang terbuka di lantai bawah yang menurut beberapa catatan adalah mewakili kolong rumoh (rumah) Aceh yang berfungsi sebagai lalu lintas air, kemudian di atasnya terhidang ruang pamer foto, ruang pamer kontemporer yang menampilkan banyak jejak tentang kebangkitan masyarakat Aceh yang dilengkapi dengan beragam artefak dan diorama. Semua kemudian disempurnakan dengan kehadiran perpustakaan, bioskop mini dengan 40 dudukan yang menampilkan film dokumenter serta ruang geologi yang menampilkan simulasi saat tsunami menerjang, saat-saat gempa bumi mulai dirasakan dan terjangan tsunami yang tiada ampun.

Baca Juga : Nyak Mu. Legenda Songket Aceh

Menelusur Sejarah dan Peristiwa di Museum Tsunami Aceh
Fasad terdepan menuju pintu masuk utama dan ruang khusus pembelian tiket masuk

Menelusur Sejarah dan Peristiwa di Museum Tsunami Aceh
Kemegahan fasad Museum Tsunami Aceh yang menurut beberapa arsitek berbentuk seperti kapal yang sedang bersandar

Menelusur Jejak Sejarah di Museum Tsunami Aceh

Selesai membayar HTM Rp5.000,00/orang dan mendapatkan tiket elektronik, saya melangkah masuk museum nan megah ini. Karena datang sendirian, saya sempat clingak-clinguk mencari rombongan. Rezekinya lagi ada satu rombongan, berjumlah sekitar 15an orang, didampingi oleh salah seorang petugas museum berpakaian putih dan berkalungkan tanda petugas. Seperti tour guide yang memang sudah dipesan terlebih dahulu atau yang memang ditawarkan di tempat. Saya pun mengekor, nyelip dalam rombongan. Tak seorangpun memprotes tindakan saya ini. Jadi saya langsung lenggang kangkung ikut menjadi partisipan tanpa mendaftar.

Rombongan ini berbaris teratur dan pertama memasuki sebuah jalan berbentuk silinder yang belakangan bisa saya lihat dari lantai dua bangunan museum. Lewat jalan setapak berbentuk silinder ini saya menemukan dinding yang mulus memutar. Di sisi sebelahnya terpampang banyak tulisan Asmaul Husna – nama-nama baik yang dimiliki oleh Allah Subhanallahu Wata’ala – yang berjumlah 99 buah dan ditata, tertempel di dinding, berjejer sepanjang jalan. Baru setahap ini saja dada saya sudah bergetar. Ada ruang emosi yang tak mampu terwakilkan oleh diksi apapun. Yang pasti, sebelum melangkah lebih jauh, Museum Tsunami Aceh terlebih dahulu mengajak kita untuk mengingat kebesaran Sang Maha Kuasa.

Jalan berpola silinder ini kemudian mengajak para pengunjung menyusur Lorong Renungan. Sebuah lorong gelap pekat yang lumayan sempit dengan dinding yang tersiram oleh air – gemercik air – yang terdengar sangat konsisten dan merasuk ke dalam jiwa. Melewati kepekatan tersebut lamat-lamat terdengar deru ombak yang mengajak kita – yang melewati lorong ini – untuk membayangkan bagaimana rasanya kita dikepung oleh air bah. Meski suara deru air itu tidak disertai dengan jeritan atau hembusan angin, banyak diantara anggota rombongan yang saya ikuti ini, berjalan cepat bahkan ada yang berlari. Apalagi kemudian setelah sajian suara air laut tersebut diikuti oleh alunan lembut bacaan Qur’an yang sangat merdu. Saya yang berjalan pelan dan justru menikmati “sajian khusus” ini sibuk mengontrol senyum karena sesungguhnya ingin tertawa melihat mereka. Tapi ya sutralah, saya dengar memang banyak pengunjung yang tak bisa menahan hati saat berada di Lorong Renungan ini.

Begitupun saat masuk ke space of fear berikutnya, yaitu sebuah ruangan sempit, simpul dari jalanan yang berbentuk silinder tadi. Di sini, di ruang yang atapnya lancip dengan dinding yang tinggi, terdapat ratusan ribu nama korban tsunami dan sebuah aksara/simbol Allah Subhanallahu Wata’ala terpasang dengan indahnya di bagian teratas/tertinggi. Lampu dibuat sedemikian remang di bagian tengah hingga bawah sehingga tulisan Allah tersebut terlihat terang dan menguasai keindahan ruangan ini. MashaAllah. Saya sangat kagum akan konsep yang dihidangkan sedemikian rupa. Sekali lagi, pengunjung diajak untuk mengagungkan Yang Maha Pengatur karena Dialah satu-satunya yang memiliki kuasa untuk mengatur apapun yang terjadi di dunia ini. Bahkan untuk sehelai daun yang jatuh dari pohonnya. Tempat ini kemudian dikenal sebagai The Light of God.

Menelusur Sejarah dan Peristiwa di Museum Tsunami Aceh
Asmaul Husna yang berjejer rapi di dinding ruangan silinder Museum Tsunami Ace

Menelusur Sejarah dan Peristiwa di Museum Tsunami Aceh
Memasuki Lorong Renungan

Menelusur Sejarah dan Peristiwa di Museum Tsunami Aceh
Dinding silinder dengan nama-nama para korban tsunami

Selesai melewati fase mendebarkan di awal, saya kembali bergabung dengan rombongan yang tadi di sebuah memorial hall yang sangat luas dengan lantai berbentuk bertingkat-tingkat. Di ruangan ini terdapat sebuah layar lebar yang terus memutar video saat tsunami menerjang kota Banda Aceh. Rekaman pribadi dari banyak warga dan beberapa media televisi ini sungguh bikin saya merinding meskipun sebagian besar diantaranya sudah saya tonton secara langsung di saat kejadian berlangsung dan berhari-hari berikutnya.

Terlihat bagaimana air deras menerjang pusat kota, mengalir sangat bertenaga membawa apapun yang dia lewati. Jangankan kayu atau barang-barang ringan, kendaraan (mobil) yang terhitung berat terseret tanpa ampun. Saya juga melihat bagaimana sekian banyak manusia berlari dan terus berlari ke banyak arah untuk menyelamatkan diri, berkejar-kejaran dengan air yang sudah berwarna coklat dan membawa banyak sampah yang terseret mulai dari ujung pantai. Di depan layar lebar ini, terdapat standing tube yang di bagian atasnya terdapat foto-foto tentang beberapa tempat yang terdampak tsunami. Saya hanya sempat melihat beberapa. Tapi dari semua foto yang dihadirkan saya terpaku pada beberapa foto masjid yang tetap tegak berdiri meski lingkungan yang berada di sekitarnya telah luluh lantak tanpa ampun. Rumah Allah memang sungguh luar biasa.

Keluar dari ruangan ini kaki saya melangkah ke hadapan sebuah tangga kayu dengan pinggiran besi dan kaca yang menghubungkan antara lantai satu dan lantai dua. Jembatan Perdamaian namanya. Jembatan super kokoh sepanjang 15 meter ini sering saya lihat di banyak akun Instagram karena memang tampilannya sangat istagenic dari banyak sisi. Tangga dengan kemiringan sekitar 30derajat ini, berada persis di atas kolam ikan yang ada di lantai dasar. Sembari melangkah kita disambut dengan terangnya atap yang tersanggah kokoh oleh banyak rangka besi.

Mengapa disebut sebagai Jembatan Perdamaian? Pasca tsunami, masyarakat Aceh mendapat harapan baru dan hikmah yang luar biasa yaitu perdamaian. Pada tanggal 15 Agustus 2005 ditanda tanganinya nota kesepakatan damai di Helsinki (MoU Helsinki). Senjata ilegal yang ditemukan dihancurkan kemudian dikubur sebagai bukti penyelesaian konflik Aceh.

Di atap yang berada persis di atas jembatan ini kita juga melihat bendera-bendera kecil dari banyak negara yang menjadi donatur kegiatan rekonstruksi dan rehabilitasi Aceh setelah peristiwa tsunami. Setiap negara dibuatkan prasasti kecil dan keterangan tentang rincian partisipasi aktif dan jenis sumbangan yang sudah mereka berikan.

Saya tulis beberapa diantaranya ya.

TURKI. Pasca tsunami Aceh. Bulan Sabit Merah Turki membangun rumah bantuan untuk para korban tsunami, salah satunya di Desa Bitai, kota Banda Aceh. Jumlahnya 350 unit rumah. Pada tahun 2006, pemerintah Turkii juga membangun masjid Rahmatullah di Desa Lampuuk, kecamatan Aceh Besar. Tidak hanya itu, pemerintah Turki juga membangun 700 unit rumah di sekeliling masjid tersebut, sehingga di kecamatan Lhoknga ini dijuluki sebagai Kampung Turki.

REPUBLIK CEKO pada tahun 2005 memberikan bantuan total EUR 6.5 juta untuk darurat kemanusiaan, rehabilitasi dan rekonstruksi Aceh.

MALAYSIA. Pada Januari 2005, Wakil PM Malaysia Mohd Najib bin Tun Haji Abdul Razak, menyerahkan 100 unit rumah bantuan kepada para korban gempa tsunami di desa Lamsuejen, kecamatan Lhoong, kabupaten Aceh Besar. Rumah berukuran 65m2 di tanah seluas 2 hektare, dilengkapi dengan musala dan TPU (Tempat Pemakaman Umum) yang dibangun oleh Muslim Aid Foundation (MAF) senilai 9 juta Ringgit Malaysia.

JEPANG. Pemerintah Jepang memberikan bantuan hibah darurat berjumlah USD 1.5juta (sekitar Rp 13.5 miliar) berupa makanan dan peralatan media kepada korban gempa bumi dan tsunami di Provinsi Aceh dan Sumatera Utara.

Baca Juga : Menengok Rumah Pengasingan Bung Karno di Bumi Rafflesia

Menelusur Sejarah dan Peristiwa di Museum Tsunami Aceh
Di atas Jembatan Perdamaian. Saya sedang melihat ke arah atap sebuah bangunan silinder yang barusan saya masuki

Menelusur Sejarah dan Peristiwa di Museum Tsunami Aceh
Jembatan Persahabatan yang saya potret dari lantai dua. Tampak bangunan silinder yang tadi sempat saya masuki

Menelusur Sejarah dan Peristiwa di Museum Tsunami Aceh
Rangkaian foto yang menampilkan jejak langkah Aceh dalam rangka rekonstruksi & rehabilitasi fisik dan mental

Menginjak lantai dua, saya banyak dikejutkan oleh beberapa hal tentang rangkaian jejak masa lampau yang sungguh menyayat hati. Bersama rombongan tadi, saya memasuki sebuah bioskop mini (ruang audio visual) dengan dudukan berjumlah sekitar 40 buah. Di bioskop mini ini saya menyaksikan sebuah film dokumenter, detik-detik terjadinya gempa yang kemudian diiringi oleh tsunami yang sempat terekam mulai dari pinggir pantai hingga memasuki kota Banda Aceh. Narasi yang mengiringi sajian video ini sangat menyentuh hati. Seorang ibu, yang duduk persis di samping saya, tampak berulang kali mengusap air mata yang tak tertahankan. Beberapa kali malah diiringi dengan suara sesenggukan yang sangat tertahan. Mungkin dengan maksud agar tidak mengganggu orang lain.

Saya menoleh dan ibu tersebut langsung meminta maaf. Saya tersenyum, memegang tangannya, dan berbisik kata “tak apa-apa” dengan pelan karena pemutaran video masih berlangsung. Tak lama setelah video berakhir, si ibu menjelaskan bahwa dia berada di sana saat arus deras air bah memasuki kota. Rumah ibu ini berada dan tinggal di kota Banda Aceh. Saat kejadian, hari Minggu, suami dan beberapa anaknya sedang menikmati acara olah raga pagi yang entah pergi ke arah mana, sementara dia dan anak perempuannya – yang menemaninya saat itu – tetap tinggal di rumah. Hingga saat kami berbincang, suami dan beberapa anaknya hilang tak tahu rimbanya.

Saya kembali memeluk sang ibu dengan rasa haru dan simpati terdalam.

Dia bercerita bahwa saat – saat bersama saya ini – adalah kunjungan pertamanya ke Museum Tsunami Aceh. Itupun setelah beberapa kali didesak oleh anak perempuannya. Jadi meskipun rumahnya hanya beberapa langkah dari lokasi museum, hari itu adalah saat bersejarah bagi dirinya pribadi setelah 19 tahun tak berani mencabar diri untuk merentang kembali ingatan akan bencana tsunami yang sudah merenggut suami dan anak-anaknya yang lain.

Setelah perbincangan singkat kami, dia akhirnya memutuskan untuk pulang saja. Berjanji akan kembali lagi untuk melihat banyak fasilitas lain yang disediakan oleh Museum Tsunami Aceh. Saya mengangguk tapi entah untuk apa. Yang pasti saya sempat mendengar tawaran beliau untuk mampir ke rumahnya dan ngobrol-ngobrol banyak tentang pengalaman beliau. Saya langsung mengulas senyum sembari mengucapkan inshaAllah.

Menuntaskan obrolan, saya pun kemudian mengikuti arah dan memasuki sebuah ruang geologi. Di ruangan ini pengunjung diajak untuk memahami proses terjadinya tsunami. Mulai dari pertanda bergeraknya sebagian besar hewan menuju tempat yang lebih tinggi dan air laut yang mendadak menarik diri dari pantai sehingga pantai terlihat surut tapi berlawanan arah. Tak lama terdengar suara gemuruh disertai dengan gelombang besar yang terlihat dari kejauhan. Saya kembali terpekur di tempat ini. Merinding berulang kali. Di sesi atau bagian inilah kita diajarkan banyak hal tentang tsunami itu sendiri. Sungguh suatu ilmu pengetahuan yang selayaknya kita pahami karena bisa jadi, atas pengaturan Allah, kita berada di satu tempat yang memungkinkan kita mengalami dahsyatnya tsunami secara langsung.

Saya kemudian mengalihkan pandangan ke sebuah layar yang menampilkan beberapa informasi penting tentang tsunami 2004. Di salah satu layar TV yang berukuran besar, ada beberapa informasi yang layak untuk kita ketahui. Saya berdiri persis di depan layar tersebut dan konsentrasi membaca setiap informasi yang dihadirkan.

Tsunami terjadi pada Minggu, 26 Desember 2004, pkl. 07:58 wib setelah gempa berkekuatan 9.3 SR (Skala Reichter). Korban yang meninggal berjumlah 283.100 orang, hilang 14.100 orang dan 1.126.900 orang mengungsi. Korban terbanyak ada di kota Banda Aceh (78.417 orang) atau 29.1% dari total jumlah penduduk dan yang terendah adalah di Kabupaten Simeuleu yang hanya 7 orang korban. Mengapa di kabupaten ini jumlah korbannya kecil sementara mereka berada di sebuah pulau kecil yang mengarah ke laut dan sedikit jauh dari kota Banda Aceh? Itu karena penduduk di kabupaten ini sering mengalami gempa dan serangan arus laut yang tinggi. Jadi semua warga sudah paham tanda-tanda akan datangnya air bah dan siap dengan segala langkah-langkah untuk menyelamatkan diri.

Lewat layar TV tersebut juga saya membaca beberapa capaian konstruksi yang dilakukan oleh pemerintah setempat di masa rehabilitasi. Layar tersebut memperlihatkan perbedaan antara 2004 (saat bencana terjadi) dan 2008 (saat rekonstruksi mencapai titik tertentu). Di 2004 sarana kesehatan berjumlah 517 di 2008 menjadi 1.115 buah. Di 2004 gedung sekolah tersisa 3.415 buah, di 2008 menjadi 1.759 buah. Pembangunan jalan, di 2004 tersisa 2.618km, di 2008 menjadi 3.696km. Lalu rumah yang tersisa sebanyak 139.195 buah di 2004, menjadi 140.304 buah di 2008. Catatan pencapaian ini tentunya menunjukkan bagaimana pemerintah provinsi Aceh, meski dalam banyak keterbatasan, berhasil melakukan banyak perubahan yang signifikan.

Saya meluangkan waktu yang cukup lama saat berada di ruang geologi ini. Sebagai seorang pembelajar, mendapatkan ilmu khusus tentang tsunami, bahaya, dan cara penanganannya, adalah rangkaian ilmu yang khusus saya dapatkan di Museum Tsunami Aceh. Saya tak hanya menelusur sejarah dan peristiwa, tapi juga “mengisi diri” dengan pengetahuan yang belum pernah saya dapatkan dari tempat atau museum yang lain.

Saya mendadak teringat bahwa selama proses rehabilitasi berlangsung, Susilo Bambang Yudhoyono, presiden RI pada masa itu, memutuskan untuk lebih banyak meluangkan waktu bekerja di Aceh. Tak hanya ingin mengontrol langsung penanganan bencana tapi juga mendekatkan diri dengan rakyat Aceh yang masih berduka dan dalam proses pemulihan diri dari trauma.

Keluar dari ruangan ini, saya melangkah pelan menyusur koridor indah yang menampilkan banyak foto tentang masa pemulihan setelah tsunami berakhir. Jejak UNICEF (United Nations International Children’s Emergency Fund) terpampang jelas di wall of truth yang terpasang di sini. Organisasi internasional ini tercatat telah melakukan sekian banyak hal untuk masyarakat Aceh khususnya dalam bidang penanganan anak-anak korban tsunami. Salah satunya adalah membuat data base tentang anak-anak yang hilang, mempertemukan kembali mereka dengan keluarganya – atau setidaknya keluarga yang tersisa – dan melakukan kegiatan-kegiatan yang mencerahkan hati anak-anak agar bisa melupakan trauma akibat tsunami.

Menelusur Sejarah dan Peristiwa di Museum Tsunami Aceh

Menelusur Sejarah dan Peristiwa di Museum Tsunami Aceh

Fase space of memory kemudian berlanjut. Sesaat setelah melewati gerbang masuk ruangan memorabilia, saya menemukan replika Rumoh (Rumah) Aceh yang menampilkan rincian lengkap tentang bangunan ini dan hubungannya dengan bencana serta konsep fisik bangunan tersebut.

Rumah Aceh adalah tempat tinggal tradisional masyarakat Aceh yang terbuat dari konstruksi kayu dan berbentuk panggung yang dirancang oleh masyarakat Aceh dengan nilai-nilai yang kuat dalam upaya bertahan terhadap bencana-bencana dan juga sarat dengan nilai-nilai Islam. Termasuk diantaranya arah angin, posisi bangunan, teknik konstruksi, bahkan motif pada rumah juga dirancang untuk tanggap pada bencana. Seperti : tiang yang tinggi, atap menghadap ke arah laut sebagai penahan bencana air bah. Konstruksi tiang dan lantai diikat dengan pasak tanpa paku untuk fleksibilitas agar tahan guncangan akibat gempa dan atap dari daun rumbia diikat dan disimpul untuk tanggap bencana kebakaran.

Saya kemudian turut memahami bahwa dulu sekali, rumah panggung sudah menjadi ciri khas hunian masyarakat Indonesia yang tinggal di daerah-daerah terpencil dan atau masih terkepung oleh hutan. Bangunan tipe ini dibuat dengan tujuan utama sebagai perlindungan maksimal dari binatang-binatang buas yang berkeliaran di tengah hutan. Rumah panggung ini saya lihat di kampung almarhum Ayah saya di Pagar Alam dan juga di kompleks lama perumahan pegawai BADAL NGL yang ada di Bontang. Banyak juga saya lihat di sepanjang jalur Sumatera seperti di Lampung dan desa-desa kecil sepanjang perjalanan. Perlindungan adalah kunci utamanya. Di beberapa desa, sepanjang perjalanan saya menuju rumah Nyak Mu di desa Siem, saya juga masih menemukan banyak rumah panggung. Lalu sewaktu di Minahasa Utara, on the way Likupang, rumah panggung juga banyak saya lewati. Sebagian besar menggunakan kayu-kayu kualitas tinggi yang dirangkai oleh simpul-simpul yang kuat (tanpa paku). Ada juga yang sudah termodifikasi dengan semen. Terutama di bagian tiang atau bawah rumah. Tapi yang ini konsepnya sudah semi modern.

Saya melanjutkan penelusuran.

Dalam beberapa saat, langkah saya melambat di sebuah ruangan dengan dinding tinggi – mungkin sekitar lima meter – bergelombang yang mewakili tampilan tsunami. Di sini saya malah merasakan suasana yang lebih mencabar dibandingkan dengan Lorong Renungan yang berada di bawah tadi. Diiringi dengan video gelombang di sepanjang dinding tinggi tersebut, terdengar juga suara-suara burung dan hempasan ombak yang jujur cukup bikin saya kaget. Nuansanya jadi “lebih menggigit” merasuk jiwa. Woaahh saya langsung merinding kembali.

Menelusur Sejarah dan Peristiwa di Museum Tsunami Aceh
Replika Kapal PLTD APUNG 1 yang terseret gelombang tsunami memasuki kota Banda

Selepas saat-saat yang mendebarkan tersebut, saya kemudian bertemu serangkaian diorama beberapa bangunan yang menyerupai kekacauan yang tertinggal saat air bah mulai surut. Nuansa porak poranda ditampilkan. Mobil terbalik, rumah yang hancur, dinding bangunan yang terbelah, menjadi pemandangan yang menggetarkan. Terutama untuk kita yang tidak berada langsung di Banda saat kejadian berlangsung. Satu yang pusat perhatian di ruangan ini adalah replika Kapal PLTD (Pembangkit Listrik Tenaga Diesel) Apung. Kapal berbobot 2,6 ribu ton yang ikut terseret oleh gelombang tsunami.

Lewat penyampaian tour guide, saya mencatat bahwa kapal PLTD Apung ini tadinya berada di pelabuhan penyeberangan Ulee Lheue. Kapal ini kemudian terseret sekitar 3km masuk ke dalam kota Banda oleh dahsyatnya gelombang tsunami. Sekarang, kapal sepanjang 63m dengan mesin pembangkit listrik yang kuat mencapai 10.5 megawatt tersebut menjadi museum edukasi mengenai mitigasi (segala upaya untuk mengurangi resiko bencana) di desa Punge Blang Cut, kecamatan Jaya Baru, kota Banda.

Disamping replika kapal yang cukup besar ini dihadirkan juga banyak foto yang diambil saat air sudah surut. Terlihat kapal super jumbo ini tergeletak agak miring dan dikerubungi oleh banyak potongan-potongan kayu, semen (potongan bangunan), dan materi-materi lain yang ikut terseret air bah. Tak terbayangkan betapa kuatnya arus yang mampu menggiring kapal ribuan ton untuk berpindah tempat. Luar biasa.

Baca Juga : Mendulang Keindahan Seni Pahat Kelas Dunia di Vihara Ksitigarbha Bodhisattva Tanjung Pinang Kepulauan Riau

Menelusur Sejarah dan Peristiwa di Museum Tsunami Aceh
Replika kapal PLTD APUNG ini dilengkapi dengan foto-foto saat kapal tersebut terdampar

Menelusur Sejarah dan Peristiwa di Museum Tsunami Aceh
Replikasi dan ilustrasi kerusakan bangunan yang terjadi setelah gempa dan tsunami berakhir

Menelusur Sejarah dan Peristiwa di Museum Tsunami Aceh
Diorama situasi kota Banda yang porak poranda. Di belakangnya terdapat foto yang mewakili situasi ini

Berpindah dari beberapa replika yang cukup membuat saya terkesan, saya kemudian memasuki sebuah ruangan dengan warna serba merah dan rancang ruang yang dipenuhi oleh beberapa bukti autentik tentang kesepakatan perdamaian antara pemerintah Republik Indonesia dengan Gerakan Aceh Merdeka (GAM) yang diadakan di Helsinki, Finlandia pada 15 Agustus 2005. Kesepakatan ini dikenal sebagai MoU (Memory of Understanding) Helsinki. Sebuah perundingan yang dilakukan estafet sejak 27 Januari 2005 dan berakhir/ditutup pada 15 Agustus 2005. Pemerintah Indonesia diwakili oleh Farid Husain, Hamid Awaluddin, Sofyan A. Djalil, Usman Basyah dan I Gusti Wesaka Pudja. Sementara pemerintah Aceh dan GAM diwakili oleh Malik Mahmud, Zaini Abdullah, M. Nur Djuli, Nurdin Abdul Rahman dan Bachtiar Abdullah.

Inti dari kesepakatan ini adalah kesamaan perspektif tentang sistem dan metode hubungan baru antara kedua belah pihak yang sepenuhnya didukung oleh masyarakat internasional. Satu event yang diliput oleh banyak media tulis dan layar televisi ini menjadi satu hikmah yang begitu berharga setelah terjadinya tsunami. Akhirnya setelah puluhan tahun, sejak Desember 1976 konflik dan kontak senjata yang terjadi antara pemerintah Republik Indonesia dengan GAM yang terpusat di kabupaten Pidie, dapat dihentikan total.

Sebagai masyarakat yang puluhan tahun memperhatikan operasi militer yang dimulai pada akhir 1980-an ini, saya turut bersuka cita. Masih lekat di dalam ingatan saya saat menyaksikan rangkaian peristiwa penahan seorang wartawan RCTI Ersa Siregar dan kamerawan Ferry Santoro (plus, kalau tidak salah, dua orang istri perwira TNI) oleh sekelompok GAM yang dipimpin oleh Ishak Daud (salah seorang panglima GAM yang sangat disegani oleh masyarakat Aceh). Berita ini setiap hari disiarkan oleh berbagai media televisi dan media cetak. Hingga akhirnya pemerintah membentuk operasi militer khusus untuk membebaskan para sandera dan berujung kematian Ishak Daud beserta istri. Penahan selama enam bulan dan penyergapan yang dilakukan oleh TNI juga berakhir dengan tewasnya Ersa Siregar. Peristiwa ini terjadi pada 8 September 2004. Berarti hanya sekitar empat bulan sebelum tsunami meluluhlantakkan Aceh.

Di ruangan ini saya melihat Galeri Photo Perdamaian yang menampilkan banyak jejak digital yang fenomenal seperti pengumpulan senjata api oleh pihak GAM untuk kemudian dirusak dan atau dikubur. Tampak juga beberapa foto pertemuan formal antara kedua belah pihak yang diikuti dengan sebuah upacara adat sebagai sebuah simbolis akan tercapainya kesepakatan tersebut.

Di salah satu sudut saya juga melihat rangkaian foto yang bertemakan Rekonstruksi Dalam Damai. Di dinding ini saya melihat kerjasama yang begitu erat antara semua elemen masyarakat dalam membangun kembali banyak lokasi yang terkena dampak Tsunami. Saya melihat foto Bill Clinton, presiden Amerika Serikat, berpakaian casual (kaos dan celana jeans) sedang menyusur banyak tempat. Ada sebuah catatan yang disematkan di bawah foto ini.

Pasca tsunami dan kesepakatan damai Aceh menjadi terbuka bagi negara luar, berbagai lembaga internasional dan NGO masuk membawa bantuan dalam misi kemanusiaan. Pemerintah Republik Indonesia juga membentuk Badan Rehabilitasi dan Rekonstruksi (BRR) NAD (Nangroe Aceh Darussalam) – Nias yang mengkoordinir pembangunan kembali Aceh hingga Aceh yang damai kemudian bisa kembali berdiri di atas kaki sendiri.

Saya cukup lama menghabiskan waktu di ruangan ini. Terpekur dan mengambil hikmah bahwa di balik bencana yang telah meluluhlantakkan Aceh, ada banyak hikmah yang bisa diambil. Bukan hanya bagi masyarakat Aceh khususnya tapi juga bagi negara Republik Indonesia. Duri dalam daging yang sempat membelenggu selama puluhan tahun akhirnya bisa dicabut. Meskipun hingga saat ini masih ada beberapa hal dari perjanjian yang disepakati masih belum terlaksana, saya yakin Kesepakatan Helsinki akan membawa banyak perubahan bagi ikatan erat antara masyarakat Aceh dan NKRI. Perdamaian setidaknya membawa banyak hal baik yang sudah diciptakan dan dihadirkan untuk tanah air tercinta. Semoga dengan status otonomi khusus yang diberikan kepada provinsi Aceh, akan menjadi salah satu sarana dan alat kekuatan Aceh untuk semakin kokoh dan berkembang, menjadi bagian tak terpisahkan dari Negara Kesatuan Republik Indonesia.

Menelusur Sejarah dan Peristiwa di Museum Tsunami Aceh

Menelusur Sejarah dan Peristiwa di Museum Tsunami Aceh

Melangkah keluar dari ruangan ini, saya menikmati rangkaian artefak, peninggalan fisik bersejarah yang disimpan rapi dengan penanganan yang profesional. Setiap artefak dimasukkan ke dalam box kaca dalam kondisi bersih dan sangat menarik untuk dilihat. Semua berjejer dengan pencahayaan yang sangat akomodatif dengan tulisan atau keterangan yang dicetak dan diselipkan dalam standing acrilic. Buat saya, tulisan-tulisan terlalu kecil untuk dibaca apalagi dilihat dari jarak tertentu. Dan karena dimasukkan ke dalam box dengan sinar yang cukup mentereng, saya agak kesulitan mengabadikan barang-barang tersebut lewat lensa kamera.

Saya mencoba mendekat pada dua artefak yaitu tiga buah Qur’an dalam beberapa ukuran yang terlihat lusuh dengan pinggiran yang keriting akibat terendam air dan berkubang lumpur. Qur’an ini adalah sumbangan atau hibah dari salah seorang warga di desa Lamjame, Banda Aceh. Satu bukti kebesaran Allah Subhanallahu Wata’ala atas penjagaanNya terhadap Qur’an. Tak jauh dari box ini, saya kemudian melihat sebuah mesin ketik tradisional yang ukurannya cukup besar. Tutupnya sudah hilang tapi tombol-tombol huruf dan mesinnya terlihat masih utuh meskipun porak poranda. Masih banyak artefak lain yang berjejer rapi tapi sebuah alunan biola mengajak saya untuk melangkah ke lantai terbawah, tempat kolam ikan berada, dimana sumber suara ini berasal.

Menelusur Sejarah dan Peristiwa di Museum Tsunami Aceh
Barisan artefak yang berjejer rapi dan sangat informatif.

Menelusur Sejarah dan Peristiwa di Museum Tsunami Aceh
Tiga buah Qur’an yang masih bertahan setelah sempat terendam air dan lumpur

Menelusur Sejarah dan Peristiwa di Museum Tsunami Aceh
Sebuah mesin ketik manual yang sudah kehilangan tutupnya. Salah satu artefak yang dirawat oleh Museum Tsunami Aceh

Saya melangkah mendekat ke arah kolam ikan. Saya melihat seorang lelaki duduk di depan sebuah meja kecil yang menawarkan pakan kering bagi ikan-ikan yang dipelihara di kolam tersebut. Harga per bungkusnya hanya Rp5.000,00. Saya meminta Akmal untuk memberikan uang dengan nilai sepuluh kali lipat dan mengambil satu bungkus pakan untuk disebarkan. Keseruan melihat ikan-ikan tersebut bergerombol dan lincah melahap makanan tersebut, bisa jadi hiburan yang menenangkan.

Sang violist berada di titik yang berbeda arah dengan penjual pakan ikan ini. Dia duduk dengan sebuah speaker mini yang berada tak jauh dari posisi di saat itu. Dia memainkan banyak lagu yang mendayu-dayu. Banyak diantaranya saya kenal sebagai lagu rohani yang biasa dinyanyikan saat pengajian atau pertemuan-pertemuan ke-Islam-an. Lagu-lagu yang mengagungkan kebesaran Allah Subhanallahu Wata’ala dengan beberapa lirik yang mengingatkan kita agar selalu ingat padaNya dan berbuatnya banyak kebaikan serta menjauhkan diri pada kemaksiatan.

Saya duduk di atas salah satu batu koral yang berjejer rapi di pinggir kolam. Batu yang bertuliskan kata damai dalam beberapa bahasa di dunia. Perasaan saya pun diliputi oleh kedamaian. Bahkan walaupun di saat yang sama banyak anak-anak kecil dari beberapa sekolah tampak jejeritan, berkejaran, dan duduk-duduk melantai di samping kolam ini, saya tetap bisa berkonsentrasi menikmati indahnya alunan biola di siang hari itu.

KEAGUNGAN TUHAN. Insaflah wahai manusia. Jika dirimu bernoda. Dunia hanya naungan. Tuk makhluk ciptaan Tuhan. Dengan tiada terduga. Dunia ini kan binasa. Kita kembali ke asalnya. Menghadap Tuhan yang Esa. Dialah pengasih dan penyayang. Kepada semua insan. Janganlah ragu atau bimbang. Pada keagungan Tuhan. Betapa maha besarnya. Kuasa segala semesta. Siapa selalu mengabdi. Berbakti pada Ilahi. Sentosa selama-lamanya. Di dunia dan akhir masa.

Lagu ini terakhir saya dengar lewat suara indah Armand Maulana. Vokalis band GIGI yang punya suara begitu mendalam menyentuh asa.

Menelusur Sejarah dan Peristiwa di Museum Tsunami Aceh
Di tepi kolam oval sembari mendengarkan alunan biola yang mendayu menyentak hati

Menelusur Sejarah dan Peristiwa di Museum Tsunami Aceh
Rangka bagian dalam museum yang saya rekam dari kolam oval.

Tentang Sebuah Sejarah yang Tak Terlupakan

Langit masih terlihat mendung saat saya menuju sebuah teras besar di atas pintu masuk utama museum. Dari teras ini terlihat dinding luar Museum Tsunami Aceh yang setengah melengkung dengan roster bertumpuk dengan gradasi warna yang begitu indah. Saya tidak paham istilahnya dalam dunia arsitektur tapi yang pasti saya tak henti terjerembab dalam rangkaian kekaguman yang tak terwakilkan oleh kata-kata. Kang Emil tentunya bangga saat melihat hasil rancangannya terwujud menjadi satu bangunan nyata, yang bisa tersentuh dan dinikmati orang banyak orang. Beliapun – menurut saya – pasti terharu dengan jejak legacy yang sudah dia titipkan di kota Banda. Bangunan indah dengan ribuan cerita bersejarah tentang bencana maha dahsyat yang terjadi pada akhir Desember 2004. Satu peristiwa menggetarkan yang selayaknya dikenang hingga akhir masa.

Saya menyempatkan diri untuk menghabiskan waktu dengan berdiri di pinggir dinding teras dengan motif bergaris ini. Sebagai pecinta sejarah, Museum Tsunami Aceh adalah bagian dari kecintaan yang tak terputus itu. Saya merasa sangat bersyukur atas nikmat semesta yang sudah mengijinkan saya menjadi salah seorang penyaksi betapa kepintaran manusia bisa menghadirkan makna bagi orang lain. Kita juga dilimpahkan akal budi untuk menyadari bahwa nyawa kita hanyalah setitik debu yang akan melayang dan berhamburan saat Yang Maha Penentu menghembuskan takdir kematian. Yang kita bawa adalah amal soleh tanpa satupun harta yang kita miliki selama di dunia.

Saat peristiwa ini terjadi, saya sedang berada di ruang tamu rumah kami di Cimahi, Bandung Barat. Pagi itu saya sedang memangku anak bungsu saya yang masih berusia sekitar 10 bulan sementara si sulung yang berusia empat tahun sedang dimandikan oleh pengasuhnya. Saya menjerit pilu melihat breaking news Metro TV sepagian itu. Kegiatan kami serumah mendadak terhenti lalu semua duduk di depan TV berjam-jam lamanya. Semua aktivitas hari iitu hanya terkonsentrasi di depan layar kecil tersebut. Kami tak henti mengucapkan asma Allah Subhanallahu Wata’ala dan beristighfar, setiap menyaksikan rekaman-rekaman amatir para korban yang berada di kota Banda dan beberapa kontributor yang sempat merekam kejadian masuknya air ke dalam kota lewat atap rumah penduduk. TV bahkan terus menyala hingga tiga hari kedepan. Apalagi di masa itu sudah banyak awak media yang berangkat ke Aceh dengan pesawat TNI AU berbadan besar bersama dengan – mungkin ratusan – volunteer, pekerja sosial, serta tenaga medis yang membawa banyak bantuan.

Salah seorang ipar saya, suami dari kakak pertama suami, kebetulan adalah orang Aceh yang ibunya berada di salah satu desa di Aceh Besar. Ipar saya sibuk dengan berbagai usaha untuk menghubungi sang ibu. Alhamdulillah beliau selamat meski rumah luluh lantak oleh gempa. Ipar saya yang kebetulan bekerja di harian Media Indonesia yang pemiliknya juga adalah orang Aceh, beberapa hari kemudian berangkat untuk menemui ibunya.

Diantara semua bukti otentik yang ditampilkan oleh Museum Tsunami Aceh, saya berulang kali tertegun saat menonton video rekaman dan foto-foto yang menampilkan Masjid Baiturrahman di pusat kota Banda dan beberapa masjid di berbagai titik kota dan di beberapa desa, kecamatan atau kabupaten Aceh Besar. MashaAllah. Banyak diantaranya masih tegak berdiri. Gagah dan kokoh, tidak tumbang meski diterjang air bah. Saya tak berkedip saat dan berdiri begitu lama di Memorial Hall, saat layar di ruangan ini menampilkan masyarakat yang berbondong-bondong berlari menuju Masjid Baiturrahman, sementara di belakangnya banyak tumpukan sampah – yang didominasi kayu-kayu – yang seperti mengejar mereka. Terdengar banyak teriakan, jeritan, dan tangisan yang menyayat hati.

Satu keajaiban terjadi. Meski air coklat berupa gelombang berisikan banyak sampah tersebut masih terlihat ganas saat menuju ke Masjid Baiturrahman, air ini tampak tenang saat berada di sekeliling dan di teras masjid. Air terlihat hanya mengambang tanpa gelombang sedikitpun. Air seakan “tak berani” memporakporandakan rumah Allah Subhanallahu Wata’ala yang tetap terlihat megah dan siap menjadi tempat perlindungan para penyintas. Dari mulut Akmal saya mendapatkan cerita yang tak mudah untuk diterima oleh akal sehat kita. Sewaktu air bah mulai mendatangi Masjid Baiturrahman, seorang lelaki keturunan yang dengan berada di lantai dua rumahnya – lokasinya persis di depan masjid – melihat ada tiga orang berjubah putih, berjenggot putih panjang, sedang mengangkat bangunan masjid. Wallahualam bin sawab. Tapi yang pasti beliau, setelah kejadian itu, beberapa hari kemudian membaca dua kalimat syahadat, menjadi mualaf.

Semua kenangan itu berkelebatan di mata dan pikiran saya saat itu. Foto-foto, diorama, artefak, video, film dokumenter, Lorong Perenungan, Light of God, dan semua yang baru saja saya lewati terukir rapi, bersusun di dalam ingatan saya. Apa saja yang telah saya saksikan adalah untaian tentang sejarah yang tak terlupakan bagi para penyintas dan seluruh masyarakat Aceh.

Menelusur Sejarah dan Peristiwa di Museum Tsunami Aceh

Menelusur Sejarah dan Peristiwa di Museum Tsunami Aceh
Foto Masjid Baiturrahman yang tetap berdiri kokoh setelah diterjang tsunami (foto diambil pada 29 Desember 2004)

Menelusur Sejarah dan Peristiwa di Museum Tsunami Aceh
Kita semua terlahir dengan cara yang sama. Akan tetapi ajal atau kematian akan menjemput dengan caranya masing-masing

Menelusur Sejarah dan Peristiwa di Museum Tsunami Aceh
Berkunjung ke museum memang lebih baik mendapatkan pendampingan dari petugas (tour guide).
Tujuannya supaya kita mendapatkan pemahaman yang tepat akan museum tersebut.
Ini adalah rombongan yang sempat saya “susupi”

Menelusur Sejarah dan Peristiwa di Museum Tsunami Aceh

Blogger, Author, Crafter and Photography Enthusiast

annie.nugraha@gmail.com | +62-811-108-582

26 thoughts on “Menelusur Sejarah dan Peristiwa di Museum Tsunami Aceh”

  1. masha allah ya mbak annie, museum kok sebagus dan sebesar itu ya. Seumur-umur, saya belum pernah berkunjung ke museum yang bagiku sangat wow. meski aceh pernah terhantam tsunami, Allah tetap memberikan tanah yang luas bagi mereka untuk bisa dan museum tsunami aceh justru lahir

    Reply
    • Iya Mbak Windi. Saya menghabiskan waktu hampir tiga jam di museum ini. Tak mau ada yang terlewat. Apalagi pada dasarnya saya menyukai sejarah. Semoga suatu saat Mbak Windi bisa berkunjung ke Aceh dan mampir ke Museum Tsunami Aceh ya Mbak.

  2. Saya ingat sekali peristiwa Tsunami Aceh ini, Mbak, karena bertepatan dengan ulang tahun saya 26 Desember. Dan kehadiran museum Tsunami Aceh ini menjadi pengingat kita semua. Saya belum pernah ke sana, dan baru melihat dari youtube, Mbak. Termasuk melihat foto-foto dan membaca ceritanya di sini.

    Reply
    • Wah berarti ulang tahun Mas Bambang sama dengan kakak saya.

      Bener banget Mas. Semua jejak yang tersimpan dan dipamerkan di Museum Tsunami Aceh ini mengingatkan kepada kita akan betapa absolutnya kuasa Allah Subhannallahu Wata’ala dan betapa kecilnya kita. Nyawa seperti sebutir debu yang bisa tertiup dan terbang dalam sekali tindakan. Tak ada harta yang bisa kita bawa. Hanya amal baik yang akan jadi pertimbangan. Kita dilahirkan dengan cara yang sama tapi akan mati dengan cara yang sudah ditakdirkan Sang Maha Kuasa.

  3. cantiknyaaa…., ternyata karya Kang Emil
    Selama ini cuma baca Urbane merancang museum tsunami Aceh
    Ternyata indah banget
    Setiap sudut, setiap ornamen memiliki arti ya?
    Bikin kita merenung betapa kecilnya kita di depan kekuasaan Illahi

    Reply
    • Yang saya suka dari rancangan Kang Emil itu adalah kehadiran unsur air Mbak. Waktu di Masjid Al-Jabbar juga mashaAllah indahnya dengan banyak air. Rasanya tenang dan damai. Apalagi untuk saya yang memang penyuka unsur air.

    • mengetahui keberadaan museum aceh dari tulisan mbak Annie, cukup memberikan pelajaran yang berharga bagi saya. Kemegahan dunia yang bisa dinikmati dari jauh, museum aceh

  4. Rasanya hati ini ikutan nelangsa mengingat kejadian tsunami Aceh, ka Annie.
    Kemarin.. saat acara blogger gathering, kami bertemu salah satu penyintas tsunami Aceh. Dan beliau sudah bisa menceritakan dengan tegar. Sedangkan yang mendengar langsung seperti saya ini, langsung bergemuruh hati dan menangis sesenggukan. Rasanya sungguh menorehkan duka yang teramat sangat mendalam bagi rakyat INdonesia, khususnya trauma bagi warga Aceh.

    Semoga kita semua bisa sembuh dari trauma tersebut dan mengambil hikmahnya.
    Barakallahu fiik, ka Annie… seneng banget bisa jalan-jalan bareng ka Annie ke Museum Tsunami Aceh.

    Reply
    • Aamiin Yaa Rabbalalaamiin. Semoga dengan menuliskan ini, saya juga meninggalkan legacy untuk siapapun yang mencari tahu tentang Museum Tsunami Aceh di 2023 dan 2024. Bisa jadi pertinggal yang bermanfaat bagi pengetahuan juga. Bencana tsunami memang banyak meninggalkan luka ya Len. Waktu saya di ruang audio visual, menonton film dokumenternya, seorang ibu yang adalah penyintas terus bercucuran air mata. Meski sudah belasan tahun berlalu, ternyata luka kehilangan suami dan anak-anaknya tetap membekas di hati sanubari dan pikiran beliau.

    • Merindiing, ka Anniee.
      Aku pas menemukan kata “kehilangan” ini otak-otakku langsung memerintahkan kelenjar air mata buat meneteskan air mata.
      Karena seberapa lamanya pun, gak ada yang bisa menggantikan dan gak mau digantikan dengan apapun.
      Apalagi keluarga yang begitu dikasihi. Kenangannya pasti sepanjang masa. Begitupun luka dan traumanya.

  5. MasyaAllah, sekarang udah makin cakep ya mbak. Kami dulu tahun 2019 berkesempatan kesana. Gak ada tiket masuk dan parkir, smuanya masih gratis.

    Reply
    • Semoga akan semakin baik lagi di tahun-tahun mendatang. Kebersihannya juga terjaga dengan baik berikut dengan semua jejak sejarah yang ada di dalamnya. Sebagai pusat wisata edukasi dan sejarah, wajar kiranya pemerintah daerah setempat menetapkan HTM senilai 5K/org dewasa. Ini pun angka yg kecil menurut saya. Tapi setidaknya pihak pengelola terbantukan pada biaya kebersihan museum.

  6. Penasaran banget pingin ke museum tsunami Aceh

    Inget seremnya suasana waktu itu, para korban cerita mengira hanya gempa

    dan kaget ternyata gelombang air masuk menyapu apa pun yang dilewati

    tapi sedihnya alat pendeteksi tsunami baru akan dibangun di Aceh

    Reply
    • Semoga suatu saat Mbak Maria bisa menginjakkan kaki di Aceh. Menyaksikan sendiri betapa museum ini sudah menjadi sejarah yang penting bagi negara kita.

  7. Akhir tahun ini sudah 20 tahun tsunami Aceh berlalu, semoga tidak ada lagi bencana besar seperti tsunami Aceh. Saya penasaran pengen ke museumnya, biasanya cuma lihat dari video aja

    Reply
  8. Banyak memori yang akan menyeruak ya ketika berada di sana. Apalagi masuk ke dalam museumnya.
    Semoga terus terjaga dengan baik.
    Al-fatihah untuk para korban tsunami Aceh.

    Reply
  9. Masya Allah, bagus banget museumnya Mba, jadi pengen ke sini deh. Harus jadi wishlist banget ini.
    dengan museum ini kita bisa mengenang kembali masa-masa mencekam ketika itu.
    Alhamdulillah Aceh bisa bangkit lagi setelah luluh lantak oleh tsunami.
    Dulu atasan saya ada yang kerja di sana, tapi ikut palang merah Australia kalau ga salah, mereka bangun rumah buat masyarakat di sana.
    Bersyukur banyak negara lain yang bahu membahu membantu Aceh kembali hidup

    Reply
    • Kalo lihat foto-foto yang dihadirkan di museum ini, banyak banget jejak sejarah dalam rangka restrukturisasi Aceh. Banyak sekali NGO dan organisasi sosial yang terlibat. MashaAllah. Catatan penting dalam kehidupan bangsa Indonesia.

  10. Masih ingat betul, ketika memasuki lorong renungan terdengar suara gemericik air dan melihat nama-nama korban tsunami di sumur doa membuatku bener-bener terharu. Apalagi setelah dari sini kami juga mampir untuk napak tilas ke tempat lainnya, seperti kapal PLTD, masjid Rahmatulla di Lampuuk, masjid baiturahman, dan lainnya.

    Reply
    • Iya ya Mbak. Terharu dan merinding sekaligus. Apalagi kemudian berada di sebuah ruang silinder dengan asma Allah ditulis di atas nya. MashaAllah, pengalaman yang luar biasa. Karena hujan deras, saya gak sempat ke PLTD, saya malah meneruskan perjalanan ke Lampulo. Ada perahu yang tersangkut di atap rumah warga.

  11. Panjang sekali tulisannya, kak 😅

    Rumah panggung biasanya saya temukan di Sumatera, Kalimantan, Malaysia, Thailand, bahkan Kamboja. Selain faktor keamanan, juga faktor geologis di mana kontur tanahnya berawa-rawa. Saya nggak tahu gimana di Sulawesi, Maluku, dsb, tapi di pelosok Jogja dan Jawa Tengah/Timur rumahnya tidak model panggung.
    Saat tsunami Aceh terjadi, saya masih duduk di kelas 2 SMP. Saya menonton berita di Metro TV dengan keponakan saya yang masih kecil, mencoba memahami apa itu tsunami karena baru pertama kali tahu.

    Reply
    • Saking banyaknya hal yang ingin diungkapkan akhirnya jadi panjang tulisan ini. Apalagi dengan sedemikian luasnya museum yang menampilkan banyak jejak sejarah yang wajib terpatri dan disampaikan kepada publik, baik untuk sekarang dan nanti.

      Iya. Sependek pengalaman saya traveling selama ini, rumah panggung memang banyak saya lihat di Sumatera, Kalimantan, dan Sulawesi. Maluku belum saya lihat meski sepertinya mereka dikerumuni oleh banyak hutan dan kontur serta efek geologis yang ada di banyak daerah di ujung timur nusantara tersebut. Dan memang ya, rumah-rumah panggung ini dibangun demi keamanan di mana hutan-hutan masih merajai bumi Indonesia. Jadi misi utamanya adalah demi keamanan dan keselamatan penduduk.

  12. Masyaallah museumnya sangat besar dan megah ya mba. Tapi memang menyimpan banyak kenangan sedih, ya.
    Aku pernah beberapa tahun lalu nonton tour museum ini. Memang megah namun sarat sejarah kejadian Aceh waktu itu.

    Reply
    • Selayaknya fungsi museum sebagai pusat informasi, terutama tentang kejadian lampau, Museum Tsunami Aceh tentunya didirikan sembari mengusung visi dan misi ini. Semoga dengan apa yang ditampilkan di dalam museum, kita bisa melihat jejak sejarah yang terbangun saat tsunami di Aceh terjadi, kemudian diikuti oleh proses pembangunan kembali berbagai tempat dan korban yang terdampak tsunami. Sejarah sudah terukir di situ.

Leave a Comment