Menjadi Penyaksi Keindahan Destinasi Pariwisata Super Prioritas di Likupang Minahasa Utara

Menjadi Penyaksi Keindahan Destinasi Pariwisata Super Prioritas di Likupang Minahasa Utara
Salah satu pondokan bambu di Pantai Paal di Desa Marinsow, Likupang

Saat Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif (Kemenparekraf) Republik Indonesia menentukan bahwa Likupang menjadi salah satu dari sederetan destinasi wisata super prioritas di tanah air, saya pun bergegas menginjakkan kaki di tempat yang indah ini.  Rasa penasaran yang membuncah itu membawa saya terbang ke Manado dan melakukan sekitar dua jam perjalanan darat untuk mencapai Likupang yang ada di kabupaten Minahasa Utara. Saya pun menjadi penyaksi keindahan destinasi wisata super prioritas di Likupang, Minahasa Utara

Terbang ke Manado

Saya pernah mendengar seseorang berkata dan menuliskan sesuatu tentang sebuah harapan.  Intinya adalah jangan pernah lelah berdoa dan tentu saja berusaha untuk sesuatu hal baik yang begitu kita inginkan.  Bahkan mungkin kita impikan sejak lama.

Itulah yang terjadi kepada saya saat Kemenparekraft RI mengumumkan secara resmi bahwa Likupang, Sulawesi Utara, menjadi satu dari lima Destinasi Pariwisata Super Prioritas (DPSP) di 2023 selain Candi Borobudur, Danau Toba, Mandalika, dan Labuan Bajo.  Dari semua yang disebutkan ini, saya baru mengunjungi dua diantaranya, yaitu Danau Toba dan Candi Borobudur.  Itu pun terjadi belasan bahkan mungkin puluhan tahun yang lalu.

Gelar ini digaungkan oleh pemerintah karena ingin melahirkan “10 Bali Baru.”  Dimana nanti kelima destinasi tersebut tak hanya dapat menjadi daya tarik wisatawan saja, tapi juga menumbuhkan ekosistem ekonomi kreatif yang melibatkan warga setempat.  Tentu saja hal ini berangkat dari asumsi bahwa merekalah yang sesungguhnya menjadi tuan rumah dan salah satu stakeholders  yang memiliki kuasa dan gawean atas program ini di dan untuk daerah mereka sendiri.

Menjadi Penyaksi Keindahan Destinasi Pariwisata Super Prioritas di Likupang Minahasa Utara
Keindahan pantai Paal di desa Marinsow, Likupang

Mewujudkan Mimpi

Yang Maha Pengasih mencatat doa saya.  Setelah melihat sekian banyak blogger, traveler, influencer, dan youtuber diundang Kemenparekraf untuk menjadi penyaksi dari keindahan Likupang yang bikin saya iri luar biasa, ternyata Dia mengizinkan saya melakukan hal yang sama dalam beberapa bulan kemudian di tahun yang sama.  Sebuah mimpi yang akhirnya terwujudkan dengan cara yang tidak pernah saya duga sebelumnya.

Saya pun terbang ke Manado dengan perasaan membuncah dan sibuk menata hati bahkan di jauh hari sebelum berangkat.  Setelah puluhan tahun yang lalu – saat masih sorangan wae – pernah menikmati keseruan snorkling di Bunaken bersama teman-teman kantor, akhirnya saya kembali menginjak Kota Tinutuan dan daerah Nyiur Melambai ini.

Kali ini lewat tangan suami yang mendapatkan tugas serta pekerjaan di Manado.  Dari suami pulalah saya diajak terbang untuk mendampinginya, lalu mengatur acara bepergian untuk diri sendiri.

Jadi ketika saya benar-benar menginjakkan kaki di Sam Ratulangi International Airport, perasaan gembira dan euphoria itu muncul dan berlari kencang dalam kepala saya.  Mimpi untuk kembali tersebut terwujud sudah.

Langkah-langkah penuh semangat itu pun berkejaran dalam setiap jejak karena dalam 5 (lima) hari 4 (empat) malam ke depan, saya memiliki waktu yang sangat leluasa untuk mengeksplorasi kota Manado dan sekitarnya.  Khususnya berkunjung ke Likupang yang berada di Kabupaten Minahasa Utara.

Strategi Solo Traveling di Sulawesi Utara

Untuk memudahkan urusan transportasi, beberapa hari sebelum keberangkatan, saya berselancar di dunia maya untuk mencari jasa penyewaan mobil sekaligus supirnya.  Ada beberapa yang saya hubungi lewat referensi teman-teman pejalan, hingga akhirnya menemukan Axel, seorang lelaki berumur awal 20-an yang kerap menjadi guide tamu-tamu penting yang datang ke Manado.

Banyak pertimbangan yang menjadi alasan saya untuk hal di atas.  Diantaranya adalah masalah keamanan, kenyamanan, efisiensi, efektifitas.  Apalagi untuk menggapai beberapa destinasi wisata yang saya inginkan di Sulawesi Utara, akan terlalu sulit untuk digapai jika hanya mengandalkan transportasi umum.  Jarak diantara destinasi pun cukup jauh dengan rute yang cukup berliku.

Sebelum memutuskan untuk mengajak Axel sebagai pendamping, saya memastikan bahwa dia adalah salah seorang crew dari sebuah tour & travel yang beroperasi secara resmi di Manado.  Kemudian saya meyakinkan kepada PIC dan agen perjalanan yang bersangkutan bahwa siapa pun yang bertugas menemani saya adalah orang yang paham akan peta pariwisata di Sulawesi Utara.  Hal ini bisa diuji saat kita berbincang lewat telepon, baik langsung maupun tertulis.  Lalu yang terakhir adalah meyakinkan diri bahwa tempat penyewaan ini memiliki armada yang bersih dan terbarukan.  Caranya ya dengan melihat dan mengecek banyak postingan dari media sosial atau official website mereka.

Ketika semua sudah sreg di hati, langkah selanjutnya adalah negosiasi harga dan kesepakatan waktu.  Serta meyakinkan bahwa si pengemudi datang dan bekerja tepat waktu karena saya pun akan melakukan hal yang sama.

Urusan harga memang harus mengusung logika.  Kita gak boleh egois dan semena-mena dalam menentukan harga.  Kita harus paham akan biaya bensin yang sedang berlaku serta minimal honor UMR yang berlaku untuk pengemudi di daerah tempat kita berkunjung.  Satu hal yang juga mempertimbangkan rangkaian jarak dari itinerary yang telah disepakati.

Syukur alhamdulilah rangkaian tips ini sangat membantu saya selama ini. 

Bahkan saat saya di Manado, seharusnya dilayani dengan mobil sekelas Mitsubishi XPander, saya malah dipinjamkan Toyota Fortuner.  Yang akhirnya memang terpaksa harus menggunakan XPander karena pijakan tinggi mobil gede yang menyusahkan saya untuk naik dan turun mobil.  Maklum. Beginilah nasib orang dengan tinggi badan yang pas-pasan.

Menjadi Penyaksi Keindahan Destinasi Pariwisata Super Prioritas di Likupang Minahasa Utara
Beberapa pengunjung yang menikmati kedamaian di pantai Paal, desa Marinsow, Likupang

Perjalanan Menuju Likupang yang Seru

Setelah sempat berbincang sembari ngopi dengan Axel sebelum berangkat, saya diinformasikan bahwa perjalanan menuju Likupang akan memakan waktu sekitar 2 (dua) hingga 2.5 (dua setengah) jam.  Kami akan melewati berderet perkampungan baru setelah itu mencapai area Likupang.  Jalannya pun tidak terlalu lebar dengan beberapa jalur yang masih dilewati oleh kendaraan-kendaraan besar.

Saya mengangguk paham karena sering menghadapi kondisi demikian saat melakukan perjalanan darat antar kabupaten.  Sekaligus meyakinkan Axel bahwa hal tersebut tidak akan menjadi masalah bagi saya.

Karena memakan waktu perjalanan yang cukup panjang, saya menyiapkan camilan dan berbotol-botol air putih untuk saya dan Axel nikmati.  Ya meskipun di sepanjang perjalanan banyak mini market dari beberapa jenama nasional, dengan sudah siap membawa banyak ransum sebelum menjelajah, waktu perjalanan jadi tidak terganggu.

Akibat selisih waktu antara WITA dan WIB sebanyak 1 (satu) jam, saya sempat merasakan kantuk yang ingin dituntaskan.  Namun begitu melihat banyaknya desa-desa indah di sepanjang jalan, serta pemandangan yang jarang bisa saya saksikan, kantuk itu luruh dengan sendirinya.

Terhidang di depan mata banyak lahan hijau dengan rumah-rumah penduduk dalam beragam bentuk.  Ada yang masih mempertahankan rumah kayu dua lantai seperti layak rumah adat Minahasa, rumah-rumah berdinding semen, ada juga rumah kombinasi antara kayu dan semen, lalu sederetan gereja di setiap desa.

Jalanan yang kami lalui cukup bagus aspalnya.  Bahkan ketika memasuki kecamatan Likupang Timur, jalan aspal yang lebar-lebar dengan kualitas aspal premium, terlihat begitu mentereng.  Bukti keseriusan kabupaten Minahasa Utara dalam mengusung tugas sebagai salah satu destinasi wisata andalan tanah air.

“Sebentar lagi kita sampai di pantai Paal Bu,”  Axel meyakinkan saya yang tampak mulai celingak-celinguk mencari pertanda.

“Iya.  Mulai beberapa ratus meter barusan, banyak pohon kelapa saya lihat,”

Jawaban saya ini membuat Axel tersenyum.

“Pohon kelapa secara tidak langsung adalah pertanda bahwa kita mulai mendekati pantai.  Bahkan ada beberapa orang yang paham tentang posisi pantai saat melihat arah kemiringan pohon ini,” lanjut saya sembari mengingat seorang teman yang sebagian besar hidupnya diabadikan kepada kehidupan bahari.

Sembari melewati ratusan pohon kelapa yang tinggi-tinggi tersebut dan menjejak aspal yang masih terlihat sangat hitam di lajur kendaraan yang sangat lebar, Axel melambatkan kendaraan karena melihat saya membuka jendela mobil.

Panas terasa menampar wajah.  Tapi saya menikmati masa-masa itu.  Angin pantai menurut saya bikin kangen.  Apalagi untuk penyuka wisata air seperti saya yang tinggal di area industri.  Rangkaian kondisi yang tentu saja menjauhkan diri saya pada laut dan pantai pastinya.  Bahkan karena kondisi tempat tinggal tersebut, saya baru bisa mewujudkan kesukaan dan kecintaan akan pantai saat melanglang jauh dari rumah.

Menjadi Penyaksi Keindahan Destinasi Pariwisata Super Prioritas di Likupang Minahasa Utara
Sejauh mata memandang hanya keindahan jualah yang dipersembahkan oleh pantai Paal, desa Marinsow, Likupang

Pantai Paal di Desa Marinsow, Likupang

Tak lebih dari 15 (lima belas) menit kemudian, setelah melewati jalur menurun dan melewati bukit kecil, saya tiba di gerbang depan Pantai Paal yang berlokasi di desa Marinsow.  Saya membayar Rp40.000,00 sebagai biaya retribusi kendaraan roda empat.  Tidak ada biaya khusus untuk pengunjung.

Axel melambatkan laju kendaraan dan mencari tempat parkir.

Karena waktu sudah di jam makan siang, saya memutuskan untuk mampir terlebih dahulu di salah satu warung makan yang berada di pinggir pantai.  Awalnya Axel berniat mengajak saya makan di salah satu warung seafood yang paling populer di pantai Paal dan sempat dikunjungi oleh Nex Carlos.  Salah seorang food youtuber yang cukup dikenal publik.  Tapi sayang warungnya tutup.  Saya pun kemudian memutuskan untuk mencari warung yang buka saja. 

Pilihan pun kemudian jatuh pada Pondok Jo Jo.

Setelah Axel bernegosiasi dalam bahasa daerah, saya memesan 1 (satu) porsi besar ikan Goropa Merah yang dimasak Woku Blanga dan sepiring tumisan kangkung.  Sebenarnya pilihan menu di warung ini cukup banyak.  Tapi karena bukan di hari libur, persediaan bahan mentah pun tidak sebanyak saat akhir pekan.

Karena ikannya harus ditangkap dulu, saya pun harus ikhlas menunggu hingga 30 (tiga puluh) hingga 45 (empat puluh lima) menit untuk menikmati pesanan tersebut.  Tapi kegiatan menunggu ini jadi tidak begitu terasa ketika di saat yang sama saya bisa mengeksplorasi pantai Paal dan memotret pantai indah ini sebanyak mungkin.

Lewat penelusuran yang saya lakukan sembari berjalan kaki, saya memperkirakan pantai ini memiliki jalur panjang dengan pinggirannya yang cenderung cukup landai.  Meski di beberapa titik ada sekumpulan bebatuan yang cukup besar, publik masih bisa melangkah di atas taburan pasir putih yang terasa hangat di telapak kaki.

Suara ombak yang menyentuh bibir pantai pun terdengar sangat halus.  Tapi meskipun begitu, dengan minimnya pengunjung, suara deburannya terdengar begitu intense di indera pendengaran.  Saya kemudian bersengaja duduk di salah satu pondokan.  Memandang ke ujung terjauh, melamati warna biru laut yang begitu cantik berpadu dengan warna tosca yang menyentuh bibir pantai.

Ya.  Saya duduk di deretan pondokan kayu yang ternyata adalah milik mereka yang mempunyai warung makan di belakang atau seberang pondokan.  Jadi saat saya di titik terjauh lengkungan pantai, bibir pantai penuh dengan pemandangan pondokan ini.  Kita bisa duduk di pondokan dengan catatan bahwa kita adalah konsumen salah satu warung makan.

Jadi meskipun banyak pondokan yang kosong, Axel mengingatkan saya untuk tidak salah memilih tempat.  Karena setiap pondokan sudah ada pemiliknya.

Dalam satu waktu, setelah selesai makan, saya kembali ke bibir pantai.  Kembali memandangi deretan pondokan kayu tersebut.  Seandainya, jika pondokan ini tidak ada, tentunya jarak pandang publik ke arah pantai akan terasa lebih luas dan lega.

Masyarakat bisa gelar tikar di bawah banyak pepohonan dan lepas memandang ke arah laut tanpa terhalangi oleh bangunan pondokan tersebut.  Jika pun ingin melihat laut sembari makan, bisa nongkrong di pondokan dalam yang juga menjadi milik warung makan.

Eh iya saya belum cerita soal makanan yang saya pesan tadi ya.  Yang pasti enaknya luar biasa.  Kuah kuning masak Woku Blanga untuk ikan Goropa Merahnya sungguh menyelerakan.  Apalagi kan ikannya fresh, benar-benar baru hasil tangkapan.  Saya dan Axel makan dengan lahapnya.  Begitu sempurna terasa saat ditemani dua piring besar nasi dengan kematangan yang pas dan sayur kangkung yang masih krenyes-krenyes.

Sebagai pecinta masakan ikan,  Goropa Merah Woku Blanga langsung tercatat sebagai salah satu pengalaman baru dari sederetan cerita seru kuliner saya.

Pantai Pulisan di Desa Pulisan, Likupang

Menyudahi masa-masa berkesan di pantai Paal desa Marisouw dan mengingat waktu yang terbatas, Axel mengingatkan saya untuk bersegera ke pantai Pulisan yang berada di desa Pulisan.  Jaraknya cukup dekat dengan pantai Paal.  Hanya sekitar 10 (sepuluh) menit berkendara.

Dalam perjalanan ini, Axel menawarkan saya untuk berkeliling melihat beberapa guest house yang ada di sekitar perbukitan kecil yang ada di sekitar rumah-rumah penduduk di antara pantai Paal dan pantai Pulisan.  Dengan lingkungan yang sangat bersih dan tertata, saya menandai bahwa sebagian besar guest house dibangun dan ditata dengan outlook yang mirip satu sama lain.

Ada yang didirikan dengan bangunan sendiri tapi ada juga yang dibangun di atas rumah pemiliknya.  Tapi yang pasti setiap tempat menginap ini terbuat dari kayu yang sudah vernish sedemikian rupa sehingga warnanya mencolok dan terlihat dari jarak kejauhan sekalipun.

Usai memandangi konsep tempat menginap yang menjadi bagian penting dari sebuah destinasi wisata, Axel kemudian mengajak saya menyusur sebuah jalan menurun yang membawa saya ke pantai Pulisan.

Sama seperti pantai Paal, saya membayar retribusi sebesar Rp40.000,00 untuk kendaraan roda empat.

Saya yang diawal berpikir akan menemukan nuansa pantai yang sama dengan pantai Paal, ternyata dibuat terpana dengan atmosphere berbeda yang disajikan oleh pantai Pulisan.  Jika di pantai Paal pantai pasir putihnya memanjang, di pantai Pulisan bentuk pantainya nyaris seperti cekungan.

Di pinggir pantai ada juga sederetan pondokan.  Tapi di bibir pantai terlihat banyak perahu kayu yang terparkir rapi.  Perahu-perahu dicat warna-warni yang kabarnya bisa disewa untuk berkeliling sepanjang pantai.  Tadinya ingin mencoba naik tapi karena waktu yang terbatas, niat ini saya batalkan.

Secara ukuran, pantai Pulisan terlihat lebih pendek jika dibandingkan dengan pantai Paal.  Tapi saya menikmati nuansa keindahan yang berbeda.  Nuansa hijau di sini lebih terasa karena hanya beberapa langkah, di salah satu sudut pantai ada bukit kecil yang dipenuhi oleh pepohonan tinggi.  Pun saat tadi sebelum masuk area parkiran pantai.

Memenuhi keinginan pengunjung untuk memotret, di salah sudut ada sebuah dermaga dan menghadirkan signage bertuliskan pantai Pulisan dengan huruf-huruf yang dibuat berwarna-warni. 

Axel menawarkan saya untuk difoto di sudut itu.  Tapi karena panas yang luar biasa dan saya mulai merasakan dehidrasi, saya akhirnya memutuskan untuk mengambil beberapa shoot di sekitaran kapal-kapal kayu berwarna-warni tersebut saja.

Menjadi Penyaksi Keindahan Destinasi Pariwisata Super Prioritas di Likupang Minahasa Utara
Pantai dengan air laut yang tenang dan damai di pantai Pulisan, desa Pulisan, Likupang

Wisata Bahari di Likupang yang Merabuk Jiwa

Saya sangat mencintai pantai meski harus berjuang dengan panas dan dahaga yang sering muncul berlebihan.  Tapi ketenangan nuansa pantai dan suara deburan ombak yang teratur dengan desis yang khas, seringkali membangkitkan rasa damai di hati yang merabuk jiwa.  Apalagi saat bisa menikmati pantai dalam keadaan relatif sepi seperti saat saya berada di pantai Paal dan pantai Pulisan di Likupang ini.

Sejatinya saya ingin sekali berlama-lama, duduk santai di atas sebuah bangku panjang dengan bantalan kecil di bagian kepala.  Berleyeh-leyeh sembari membaca dan menikmati bergelas-gelas juice buah dingin.  Atau bercangkir-cangkir kopi dengan camilan gorengan yang membangkitkan selera.

Mengisi waktu dengan membaca serangkaian buku, bekerja di depan laptop membuat tulisan sembari mendengarkan musik, atau bisa jadi merajut kelopak mata, tidur sepuas mungkin. 

Apa pun itu, kapan pun itu, setidaknya bisa melakukan banyak hal yang mampu merabuk jiwa. Rangkaian rekreasi yang wajib kita lakukan untuk menjaga kewarasan dan sederetan jumput kebahagiaan jiwa.  Satu hal mahal yang tak mudah saya dapatkan saat terkungkung lingkungan industri yang harus dialami setiap harinya.

Rangkaian Foto untuk Pantai Pulisan, Desa Pulisan, Likupang

Menjadi Penyaksi Keindahan Destinasi Pariwisata Super Prioritas di Likupang Minahasa Utara
Pantai Pulisan di desa Pulisan, Likupang. Kombinasi pasir yang putih, pantai dan langit yang biru, dengan awan putih yang berarak. Pemandangan sempurna yang begitu merabuk jiwa.

Menjadi Penyaksi Keindahan Destinasi Pariwisata Super Prioritas di Likupang Minahasa Utara
Perahu berwarna-warni yang memperindah visual pantai Lipusan di desa Lipusan, Likupang

Menjadi Penyaksi Keindahan Destinasi Pariwisata Super Prioritas di Likupang Minahasa Utara

Sederet Foto di Pantai Paal, Desa Marinsow, Likupang

Menjadi Penyaksi Keindahan Destinasi Pariwisata Super Prioritas di Likupang Minahasa Utara
Landainya pantai Paal di desa Marinsow, Likupang

Menjadi Penyaksi Keindahan Destinasi Pariwisata Super Prioritas di Likupang Minahasa Utara
Sederetan warung makan seafood yang ada di pantai Paal desa Marinsow

Menjadi Penyaksi Keindahan Destinasi Pariwisata Super Prioritas di Likupang Minahasa Utara
Pepohonan hijau yang memberikan nuasana teduh di pantai Paal, desa Marinsow, Likupang

Menjadi Penyaksi Keindahan Destinasi Pariwisata Super Prioritas di Likupang Minahasa Utara
Duduk di pondokan di bibir pantai ini sudah membawa ketenangan yang hakiki

Menjadi Penyaksi Keindahan Destinasi Pariwisata Super Prioritas di Likupang Minahasa Utara

Menjadi Penyaksi Keindahan Destinasi Pariwisata Super Prioritas di Likupang Minahasa Utara
Ikan Goropa Merah dimasak Woku Blanga dan sepiring tumisan kangkung berhasil mengisi perut saya dengan suksesnya

Menjadi Penyaksi Keindahan Destinasi Pariwisata Super Prioritas di Likupang Minahasa Utara

Menjadi Penyaksi Keindahan Destinasi Pariwisata Super Prioritas di Likupang Minahasa Utara

Menjadi Penyaksi Keindahan Destinasi Pariwisata Super Prioritas di Likupang Minahasa Utara
Salah satu homestay yang ada di seputaran pantai Paal dan pantai Pulisan

Menjadi Penyaksi Keindahan Destinasi Pariwisata Super Prioritas di Likupang Minahasa Utara
Sumber : kemenparekraf.go.id

Blogger, Author, Crafter and Photography Enthusiast

annie.nugraha@gmail.com | +62-811-108-582

21 thoughts on “Menjadi Penyaksi Keindahan Destinasi Pariwisata Super Prioritas di Likupang Minahasa Utara”

  1. Masya Allah, cantik banget pantainya Mba Annie, pasirnya putih dan bagus pulak, pas banget juga fotonya siang hari dan Mba Annie pintar pose, makin cakep deh semuanya.
    Makanannya juga bikin ngiler, ya ampuunnn ikan woku belanga itu enak banget, apalagi berteman dengan tumis kangkung.
    Senangnyaaaa bisa jalan-jalan ke Minahasa ya

    Reply
    • Meski panas tapi justru dengan matahari terang benderang bikin fotonya clear and clean. Apalagi langit biru dan awan putihnya melengkapi birunya bersihnya laut. Saya beruntung sekali bisa menginjakkan kaki di Minahasa Utara.

  2. Cakepnyooooooo. Kayaknya aku bisa seharian selonjoran gak ngapa-ngapain di pinggir pantai.

    Aku sempet 8 bulan ada kerjaan di Manado, Mbak. Tapi gak ada yang membisikiku soal Likupang. Tapi memang dah lama, sih. 2009. Mungkin tahun itu belum dikembangkan wacananya. Atau bahkan belum dilirik pemerintah.

    Btw gak pengin ke IKN, Mbak? #eh

    Reply
    • Di 2009 sepertinya belum rame dibahas soal Likupang ini. Bahkan mungkin belum dikelola sementereng sekarang. Tapi yang pasti keaslian dan keasriannya pasti lebih terasa.

      IKN? Woaaahh not even in my dream Mbak. Menurut saya proyek ini dzolim pada rakyat. Karena dengan perencanaan dan keberadaannya telah menyebabkan timbulnya banyak hal-hal un-accepted buat keuangan negara dan efeknya kepada publik.

  3. Suci BW sambil kerja dan mata auto seger begitu lihat foto pertama yang jadi cover. Tak pandangi terus, Bu… and it works, mataku seger beneran liat pantai yang biru2 itu.
    Cantik sekali pantainya, bersih dan suka lihat perahu warna warni itu. Mirip paepira….
    pantas jadi salah satu destinasi super prioritas.
    Dan ikut banggaa ada Danau Toba juga jadi bagian dari begitu banyaknya destinasi indah di Indonesia.

    Reply
    • Pantai Paal dan Likupang memang seindah itu. Untuk penggemar pantai seperti saya, berada di sini tuh jadi berkah dan merabuk jiwa banget. Sayangnya saya traveling solo. Seandainya reramean dengan teman2 sefrekuensi, pasti jauh lebih seru. Termasuk kegiatan berfoto.

  4. Perjalanan sejauh 2-2,5 jam dan istirahat makan 30-45 menit pun terbayar lunas ya, kak. Ketika menemukan keindahan pantai yang landai dan laut nan biru. Apalagi jika berada di sana hingga 4 hari berturut-turut pasti puas tatkala kembali pulang ke rumah.

    Reply
    • Benar-benar terbayarkan. Impian saya untuk turut membuktikan terpilihnya Likupang sebagai destinasi prioritas pariwisata tanah air terlaksana. Dan benar Likupang memang pantas untuk mendapatkan kesempatan itu. Semoga Likupang akan terus terpelihara dengan baik. Bahkan jadi semakin berkembang menjadi lebih mumpuni kedepannya.

  5. Rasanya pengen ikutan menikmati kedamaian di pantai Paal, desa Marinsow, Likupang ini juga. MasyaAllah pemandangannya indah banget. mana pantainya bersih juga.

    Reply
    • Iya Mbak. Bisa berada di sini juga adalah suatu rezeki yang berlimpah buat saya. Alhamdulillah bisa diwujudkan suami.

  6. Waaa ngiri dua kali
    Sesudah baca tulisan Mbak Nanik tentang perbatasan Timor Leste yang bikin ngeces
    Berikutnya baca tulisan Mbak Annie tentang Likupang
    Saya dapat job nulis tentang Likupang dari Kompasiana dan langsung jatuh cinta
    Dan ternyata sebagus ini (apa yang saya baca tentang Likupang jadi hanya remahan rengginang)

    Kabita ikan Goropa Merah nya mbak
    Yang dimaksud Woku Blanga mungkin yang kita kenal sebagai woku-woku ya?

    Reply
    • Saya juga kagum banget dengan tulisan beberapa blogger tentang Likupang ini. Tiap tulisan saya baca hingga saya batinkan. Semoga Allah SWT berkenan mengizinkan saya menginjakkan kaki di Likupang. Alhamdulillah Allah ijabah lewat cara yang tak pernah saya duga. MashaAllah. Semoga suatu saat Mbak Maria juga bisa sampai sini ya.

      Nah kalau soal masak memasak saya kurang paham Mbak. Tapi mungkin memang sama ya antara woku blanga dan woku-woku.

  7. Bagus banget pantainya mbak, bersih pula lingkungannya.
    Wih ikannya harus ditangkap dulu, jadi beneran fresh banget dagingnya ya. Ikan fresh itu, dibakar tanpa bumbu aja udah enak, apalagi kalau di masak, kuah kuning, jadi makin lezat pastinya.

    Saya juga mau berharap ah, suatu saat ditugaskan ke Manado, mau mengusahakan mampir ke Likungan

    Reply
    • Bener Mbak Nanik. Ikan tuh kalau masih hidup saat akan dimasak, rasanya tuh beda ya. Dagingnya lebih manis dan lezat dimasak dengan bumbu apapun. Apalagi Woku Blanga ini kaya rempah dengan kadar santan yang pas. MashaAllah. Enaknya gak kira-kira. Ikan sebesar itu habis dilibas oleh saya dan sang tour guide. Nasinya juga berlimpah hahahaha.

      Aamiin Yaa Rabbalalaamiin. Semoga suatu saat Mbak Nanik ditugaskan ke Manado. Wajib datang ke Likupang Mbak sama ke Cagar Budaya Waruga (Taman Purbakala Waruga) yang saya tuliskan terpisah.

  8. Menarik yang tentang “10 Bali Baru”. Meskipun terkadang saya suka pengen kalau tempat-tempat seperti ini jangan sampai terlalu ramai. Apalagi kalau kemudian jadi terlalu komersil dan kemudian keasliannya mulai pudar. Karena ini pantainya cantik banget. Suka pula saya dengan suasananya yang sunyi. Memang bisa bikin betah berlama-lama di sini sambil menikmati juga kulinernya.

    Reply
    • Dilema ya Myr. Di satu titik saya setuju dengan pemikiran yang Myra sampaikan. Apalagi jika bicara tentang penjagaan lingkungan dan kelestarian alam yang murni di sana. Jauh dari sentuhan serba kekinian yang seringkali merubah tampilan natural dari tempat tersebut. Tapi di satu sisi dengan berkembangnya tempat wisata ini, perekonomian masyarakat setempat tentunya akan ikut terangkat.

  9. ditangkap dengan media kamera saja secantik itu pemandangannya
    apalagi jika dinikmati langsung dengan sejauh mata memandang keindahan alamnya Likupang
    pantai dengan pasir putihnya, nyiur melambai, sambil menikmati kulinernya akan sangat syahdu sekali

    Reply
    • Betul banget. Pulang dari sini, saya langsung cerita panjang lebar ke suami. Sayang, karena kesibukan pekerjaan, saya tidak bisa mengajak suami untuk ke Likupang. Semoga saya bisa balik lagi ke sini dan memiliki waktu berkunjung yang (jauh) lebih panjang.

  10. Pucuk di tiba ulam pun tiba ya, Bun. Akhirnya bisa kesampaian menikmati pemandangan pantai dan laut yang super cantik. Keren banget Bunda solo travelling, pengen juga tp pasti di buntutin si bocil.

    Reply
    • Akan tiba masanya Sen. Dulu juga kaki dan tangan saya terikat pada anak-anak. Gak bebas untuk bepergian. Tapi setelah anak-anak mulai dewasa, masa-masa itu pun terbalaskan.

  11. Sama banget mbak, Aku juga suka sama pantai. Tapi sayangnya pantai-pantai terdekat sini ga ada yang seindah pantai likupang Minahasa Utara. Di sana kaya bersih dan ga terlalu rame ya Mbak.

    Reply

Leave a Comment