Pasar Kaget Kompleks Permata Cimahi, Tentang Cerita Lama dan Silaturahmi

Photo of author

By Annie Nugraha

Pasar Kaget Kompleks Permata Cimahi, Tentang Cerita Lama dan Silaturahmi

Pasar Kaget Kompleks Permata Cimahi, Tentang Cerita Lama dan Silaturahmi

Travel | November 2025

Subuh belum lama berkumandang dan sang mentari malu-malu mulai menampakkan diri, saat suami membangunkan saya. Selain mengingatkan untuk salat, dia juga – dengan suara riang – mengajak untuk olga jalan kaki sembari berbelanja di pasar kaget di kompleks perumahan Permata Cimahi, di mana rumah keluarga kami berada.

Saya menggeliat seperti bayi baru lepas bedong dan pelan mengusap mata sebelum akhirnya duduk dan menyambut kembalinya ruh ke dalam jiwa. Saya kemudian bergegas melaksanakan instruksi suami untuk salat dan melangkah ke teras atas lantai dua rumah lalu berdiri sekian menit untuk merasakan udara segar. Perihal yang sulit saya dapatkan dan rasakan saat berada di rumah di Cikarang yang sesak oleh kawasan industri.

Beberapa menit ke depan, saya masih (kembali) menimbang tawaran suami untuk olga dan berbelanja di pasar kaget di perumahan/kompleks Pertama Cimahi ini. Gentar membayangkan harus jalan di jalur yang naik turun karena kompleks ini memang dipenuhi oleh lahan dan jalan yang naik turun, rasa segan itu kembali hadir. Bukannya malas tapi saya selalu dan lebih memilih untuk membaca atau menulis sekian jam setelah subuh ketimbang keluyuran, meski itu alasannya adalah olah raga. Bahagia rasanya jika saat otak “masih dalam kondisi segar” dimanfaatkan untuk berkegiatan literasi.

Tapi nampaknya tak elok juga ya berulangkali menolak ajakan suami, si penghobi belanja ke pasar. Apalagi diliputi oleh rasa penasaran akan apa yang membuat suami begitu betah menjelajah pasar kaget yang adanya cuma di Minggu. Itu pun hanya sekian jam saja. Dari sekitar pkl. 06:00 wib hingga pkl. 10:00 wib.

“Yok siap-siap. Nanti kita sarapan di Kupat Tahu Permata dulu,” ujar suami sembari mengibas-gibaskan tangannya agar saya bergegas.

Pasar Kaget Kompleks Permata Cimahi, Tentang Cerita Lama dan Silaturahmi

Mendengar nama Kupat Tahu Permata, memori saya langsung kembali ke puluhan tahun yang lalu. Saat saya pertama kali diajak suami untuk ke rumahnya di Cimahi, dan berkenalan dengan calon mertua (saat itu)/Mama (almh) dan saudara-saudara perempuan suami. Seorang perempuan tangguh yang tinggal di rumah yang dibeli suami saat masih membujang dan berada di kawasan kompleks yang sama hanya berada di bagian/sisi lebih belakang. Rumah yang kini ditempati oleh kakak ipar ke-2.

Dengan hitungan puluhan tahun tersebut, kegiatan operasional Kupat Tahu Permata sudah dipegang oleh generasi ke-2. Tapi gerobak dan posisinya tetap sama, di teras depan sebuah toko roti. Bahkan apa yang mereka tawarkan juga tidak berubah. Tidak ditambahi dan tidak dikurangi. Tentu saja dengan kualitas yang tetap dipertahankan hingga bertahun-tahun.

Kupatnya berbentuk persegi panjang, berupa gelondongan kotak berukuran besar, dan terbungkus daun pisang. Isinya padat tapi tetap nyaman dikunyah dan mudah untuk dipotong. Mamah mertua jadi langganan tetap mereka. Setiap ada acara keluarga atau hari raya (Idul Fitri, Idul Adha) atau pas anak-anaknya semua berkumpul di rumah, beliau selalu memesan kupat semog ini. Setidaknya 2-3 buah saja karena memang tidak bisa terlalu lama disimpan.

Baiklah. Demi kembali ke memori masa lalu dan lezatnya Kupat Tahu Permata, saya pun bergegas menyusul suami yang sudah siap dan menunggu di teras depan rumah.

Sesuai kesepakatan. Saya dan suami nogkrong dulu di Kupat Tahu Permata ini yang jaraknya sekitar 200 meter dari rumah. Menikmati dua piring kupat tahu khas Padalarang dengan potongan kupat dan tahu yang besar-besar, kuah santan kuning yang asin manis, dilengkapi dengan siraman soun/sohun, sedikit potongan sayur labu, dan taburan bawang merah goreng. Bisa juga ditambah dengan telur rebus dan berlembar-lembar kerupuk putih berukuran kecil. Sajian selengkap itu bisa kami nikmati dengan harga Rp17.000,00/piring ditambah Rp5.000,00 untuk telur rebusnya dan Rp2.500,00 untuk sebungkus besar kerupuk kampung. Kalau tidak salah sebungkus isinya 10 buah.

Favorit saya sebenarnya adalah tahunya yang diantarkan langsung dari pembuatnya. Tahu susu asal Bandung yang lembut banget. Menggorengnya juga pas dengan selera saya. Sekilas saja. Tidak berlama-lama terendam minyak di wajan. Tidak sampai menimbulkan kulitnya jadi garing dan kering. Kerupuknya sendiri bisa sebungkus penuh saya habiskan. Apalagi jika dicocol kuah santan kuning itu. Ya salam. Makan jadi tambah rakus. Lupa daratan ingat lautan.

Yah ampun saya jadi mendadak ngiler deh.

Berjualan sejak 1994 di kompleks Bukit Permata, sepagian itu saya melihat mereka tak lepas dari kunjungan pelanggan. Selain menerima pesanan lewat aplikasi on-line, tak sedikit tamu yang membeli untuk dibawa pulang. Termasuk suami yang sudah terniat dan siap dengan beberapa kotak plastik. Satu khusus untuk tahu setengah matang, satu untuk kuah dan sayurnya, dan satu lagi untuk potongan kupatnya.

Semuanya kami titipkan dahulu karena harus menjelajah ke para penjual yang lain.

Pasar Kaget Kompleks Permata Cimahi, Tentang Cerita Lama dan Silaturahmi

Usai menikmati sarapan berat, netra saya dikejutkan dengan barisan para penjual di pinggir jalan yang sudah tampak penuh dan padat. Sejajar dengan gerobak kupat tahu ini, saya menemukan banyak sekali gerobakan yang sudah siap melayani tamu. Ada bubur, aneka gorengan, hidangan nasi kuning dan nasi uduk, keripik singkong, dan masih banyak lagi. Sementara persis di pinggir jalan, di lahan pejalan kaki, bertebaran para penjual sayur dan buah yang menaruh dagangannya di atas terpal. Semua berjejer sepanjang jalan. Tak ketinggalan tentu saja adalah penjual beragam kue : jajan pasar atau aneka bakery kekinian. Kemudian para penjual kerupuk yang dibawa menggunakan kantong plastik yang besar-besar.

Suami melangkah pelan berusaha menghindari tabrakan dengan orang lain yang semakin menyemut disana-sini. Belum lagi sekian banyak motor yang parkir tanpa aturan. Menyilang kesana-sini dan mengakibatkan ruang langkah ikut tidak karuan. Yah begitulah sejatinya pasar kaget ya. Semua tumplek bleg mengikuti keadaan yang ada.

Ayah dari anak-anak saya itu ternyata sudah punya langganan tetap. Tepatnya penjual sayur langganan yang posisi ada di paling ujung dengan posisi terjauh.

“Pilihannya paling banyak dan beragam, semua jualannya bersih dan segar. Bagus-bagus pilihannya. Langganan almarhumah Mama dari zaman dulu,” jawab suami saat saya bertanya kenapa harus ke penjual itu. “Neng dan Yati juga langganan sama si Mang ini,” tutupnya sembari menyebut dua nama kakak perempuannya.

Ah ternyata ada sejarah yang sekali lagi terukir ya.

Saat saya tiba di penjual ini, saya langsung paham. Selain keramahannya yang begitu otentik dan menyenangkan, si Mamang juga orang yang rapi, apik, dan teliti. Meski bekerja sendirian, semua dagangan begitu apik tersusun. Ditaruh dalam wadah plastik dan dijejerkan memanjang di atas trotoar jadi tidak menghalangi orang berjalan. Sayurannya segar-segar dan tampak bersih. Orangnya juga rajin betul. Setiap barang dia rapikan kembali saat sudah diobrak-abrik pelanggan.

Ngomongnya juga pakai bahasa Sunda halus. Begitu kata suami. Saya hanya mengangguk gak ngerti karena memang tak bisa berbahasa Sunda.

Sambil berbincang panjang lebar tentang keluarga dan banyak hal si Mamang tampaknya begitu menikmati waktu-waktu berharga berjualan sembari bertukar cerita dengan suami. Keakraban natural yang malah akhirnya membuat suami – tanpa sadar – belanja banyak sekali dengan potongan harga yang tak kira-kira.

Saya tak pun mengerti apa yang membuat percakapan mereka semakin seru karena pada akhirnya suami memaksa si Mamang untuk mengambil semua uang pembelian tanpa kembalian.

Hanya kata “Nuhun ya Cep. Seng senantiasa sehat dan bahagia,” yang terus diulang-ulang sama si Mamang. “Hatur nuhun ya Neng,” sambungnya lagi sembari tersenyum ke arah saya.

Hati saya langsung trenyuh. Apalagi saat mendengarkan doa dan kata “sehat” dipanjatkan seseorang atas kita. Karena dengan sehat lah apa pun bisa kita lakukan tanpa hambatan. Dengan sehatlah semua urusan bisa kita jalankan.

Pasar Kaget Kompleks Permata Cimahi, Tentang Cerita Lama dan Silaturahmi
Pasar Kaget Kompleks Permata Cimahi, Tentang Cerita Lama dan Silaturahmi

Menuju jalan pulang, dengan jalan terseok-seok karena bawaan yang mulai berat, suami tetap semangat mengajak saya mampir ke penjual strawberry. Seorang ibu setengah baya terlihat sibuk melayani para pelanggan yang tak putus datang, mampir, dan tawar-menawar. Beliau hanya menjual strawberry dengan dua ukuran dan harga. Berukuran kecil dan berukuran sedang. Semuanya di letakkan begitu saja di atas dua buah tampah terbuka. Jadi setiap pembeli bebas memilih. Kerumunan pun langsung terbentuk. Semua pembeli langsung khusyuk memilah dan memilih. Termasuk suami tercinta.

Saya? Sibuk memotret dan memvideokan. Seru juga ternyata melihat antusiasme banyak orang berjibaku memilih strawberry yang kecil-kecil itu.

Usai membeli dua bungkus dengan ukuran berbeda seharga Rp30.000,00 sekitar 1/2 kg, kami berdua pun menyusur para pedagang sayur lainnya yang dikerubung banyak ibu-ibu. Melewati mereka ini suami tampak hanya menyapa dari jauh dan bercerita kepada saya bahwa para penjual ini sebagian besar adalah mereka yang punya kebun sayur atau buah yang lokasinya berada di perbukitan yang ada di belakang kompleks perumahan. Beberapa juga didatangkan dari Lembang. Kawasan yang memang subur untuk berladang. Jaraknya sebenarnya tidak begitu jauh dari kompleks Permata Cimahi. Tentu saja dengan kondisi jalur naik turun yang dilewati tidak penuh kendaraan.

Gerobak yang kemudian saya hampiri adalah penjual keripik singkong dan combro. Dua camilan asyik yang juga adalah langganan lama suami. Garing singkongnya tidak membuat saya susah mengunyah. Renyah betul. Sementara isiannya padat, tebal, dengan sensasi pedas, manis, dan asin yang pas. Yang pasti sepuluh buah tuh bisa dihabiskan berdua saja. Dan itu biasanya kami habiskan sepanjang perjalanan pulang menuju rumah di Cikarang.

Penjual terakhir yang saya datangi adalah pedagang serabi. Kalau ini keseruannya beda lagi. Memasang alat pembakar dari kayu dengan wadah cetakan serabi berwarna hitam, saya menyaksikan betapa cekatannya sang penjual menumpahkan adonan satu demi satu. Sesudah adonan ditumpahkan sesuai takaran, sang penjual memecahkan telor (ceplok) di bagian atas. Kadang juga sejumput combro atau keju. Bahkan dia mencampurkan semuanya dalam beberapa wadah pembakaran. Tentu saja sesuai permintaan/pesanan konsumen. Serabi ini ditawarkan dengan harga Rp2.500,00/buah.

Saya jujurly tadinya sempat tergoda dengan serabi ini. Tapi mengingat berlimpahnya belanjaan matang yang sudah di tangan, niat itu saya batalkan.

Pasar Kaget Kompleks Permata Cimahi, Tentang Cerita Lama dan Silaturahmi

Tentang Cerita Lama dan Silaturahmi

Dalam perjalanan pulang ke Cikarang, banyak pertanyaan yang saya sampaikan ke suami. Dia pun dengan hati senang berbagi banyak cerita sembari menikmati waktu berkendara sekitar dua jam menuju Cikarang.

Sejatinya pasar kaget di kompleks Permata Cimahi ini sudah berlangsung tahunan lamanya. Sayangnya hanya diadakan di Minggu, satu dari dua hari di akhir pekan. Karena pada dasarnya doyan “masar” dan berbelanja di pasar tradisional, datang ke pasar dadakan ini jadi hiburan tersendiri buat suami. Serunya memilih dan menawar, menjadikan kegiatan mengisi ulang kulkas sudah menjadi rutinitas suami semenjak kami menikah. Apalagi menyadari bahwa istrinya ini tak begitu nyaman dengan suasana pasar tradisional. Plus sedari dulu – saat Mama almarhumah masih ada – suami lah yang sering mengawal beliau untuk berbelanja. Bahkan saking seringnya berinteraksi dengan pedagang, suami tuh hafal betul wajah para pedagang, harga-harga (hampir) semua sayur, buah, dan semua perangkatnya. Jadi berbelanja begini juga menaikkan kenangan suami atas almarhumah ibunda tercinta.

Mengingat bahwa hampir semua pedagang adalah mereka yang sudah tahunan bertemu, mampir ke setiap lapak, menyapa meski hanya bertanya kabar, telah menjadi media silaturahmi yang sangat berdampak. Apalagi toh belakangan tahun ini kami cukup jarang pulang ke Cimahi karena berbagai kesibukan yang mendera.

Kami pun tidak menemukan pasar dengan lapak bebas seperti di kompleks Permata Cimahi ini di Cikarang. Keseruannya tentu saja sangat berbeda dengan kios-kios sayur di ruko dalam kompleks perumahan kami. Yang pasti berderet di ruang terbuka tampaknya lebih nyaman ya. Gak terkepung oleh bau khas pasar yang selalu jadi momok dan alasan kuat bagi saya untuk tidak masuk pasar tradisional. Hidung yang terlalu sensitif ini tak mampu menahan rasa pusing, mual, dan mabok saat mencium sesuatu yang begitu menyengat. Duh, manjanya perempuan satu ini ya?

Pasar Kaget Kompleks Permata Cimahi, Tentang Cerita Lama dan Silaturahmi
Pasar Kaget Kompleks Permata Cimahi, Tentang Cerita Lama dan Silaturahmi
Pasar Kaget Kompleks Permata Cimahi, Tentang Cerita Lama dan Silaturahmi
Pasar Kaget Kompleks Permata Cimahi, Tentang Cerita Lama dan Silaturahmi

Pasar Kaget Kompleks Permata Cimahi, Tentang Cerita Lama dan Silaturahmi

20 thoughts on “Pasar Kaget Kompleks Permata Cimahi, Tentang Cerita Lama dan Silaturahmi”

  1. Saya paling senang kalau pergi ke pasar, apalagi sekelas pasar kaget pasti banyak jajanan ya Bu…
    Sayang banget di Surabaya ga ada kupat tahu. Btw saya ngiler lihat strawberry nya, seger banget.
    Belanja di pasar ini bisa sekalian membantu pedagang lokal ya Bu

    Reply
    • Betul banget Sar. Sering banget nemu yang seru-seru buat dicoba dan dinikmati di rumah. Kalau di Jababeka (kawasan yang berdampingan dengan tempat tinggalku di Cikarang) ada juga yang jualan binatang peliharaan, sewaan kuda buat anak-anak, karousel yang biasa ada di pasar malam, mainan pancingan ikan di kolam kecil. dan masih banyak lagi.

  2. Duh, baca tulisan ini rasanya kayak diajak jalan pagi bareng kalian berdua, sambil hirup udara segar Cimahi dan wangi kupat tahu yang menggoda dari kejauhan 😍.

    Ceritanya hangat banget, penuh kenangan dan rasa cinta yang sederhana tapi ngena. Aku bisa ngerasain suasana pasar kagetnya—ramai, akrab, dan penuh silaturahmi. Tulisan ini bikin kangen rumah dan momen-momen kecil yang ternyata berharga banget ..

    Pasar juga memang jadi salah satu cara “mendekat” aku ke pak su – yaaah namanya juga rumahtangga yaaa, sesekali ada aja dong cobaannya – walau ga orang ketiga tunggal – tapi naikturun… nah kami mendekat dengan.. : KE PASAR – belanja – mikirin menu apa hari ini – sambil jajan pukis atau risoles – bahkan akhirnya ada ritual khusus : makan nasi pecel atau soto SSB yang murah meriah itu

    ya ga usah nanya diet yaaaaa hahahhaa .. demi kerukunan dan keutuhan RT bolehlaaah

    Reply
    • Sering ya kegiatan kecil-kecil yang bisa dinikmati bareng suami jadi sesuatu atau momen yang berharga buat kita dan suami ya Tan. Bahkan dari sekedar belanja di pasar kaget seperti ini. Terasa banget punya momen-momen yang bisa ditelusuri saat pernikahan sudah puluhan tahun dan anak-anak mulai menata hidup mereka masing-masing. Laahh jadi curcol hahahaha.

  3. Baca soal kupat tahu di saat menjelang jam makan siang, duh kan lambung jadi memberontak.

    Sayuran hijau segar, beraneka jenis, dan bersih pula. Eh ada jengkol juga. Duh kalau saya ke sana, pasti deh juga bakal borong-borong mbak, segala sayur dan jajanan matang pengen di beli

    Reply
  4. wah strawberrynya, bikin ngeces

    kayanya di Bandung dan sekitarnya banyak pasar kaget di hari Minggu ini

    sewaktu masih tinggal di jalan Rajawali, Bandung, ada sepotong jalan yang tiba-tiba jadi buntu di hari Minggu karena dipenuhi orang berjualan
    Dari sayuran, makanan, pakaian sampai sepatu, semua ada

    Reply
    • Iya Mbak. Suami juga bilang gitu. Saya malah jadi penasaran banget pengen menyusur beberapa. Seperti di beberapa kompleks tempat tinggal saudara-saudara di Bandung.

  5. Baca soal kupat tahu yg tahunya pake tahu susu..
    Jadi kepikiran Menurutku.. gada kupat tahu yang lebih nikmat selain makannya di kota bandung
    Entah semirip apapun rasanya tetep beda dengan kupat tahunya orang bandung. Mungkin krna tahunya yaa

    Reply
    • Tahunya memang beda ya. Lembut banget. Aku suka kalau digoreng cukup sebentar aja atau direndam di air mendidih aja juga dah enak deh.

  6. Pasar Kaget Cimahi ini sangat penuh dengan kisah ya mba. Aku takjub saat melihat strawberry yang banyak dan berkilauan, rasanya pengen ngilo dan bawa pulang.

    Kupat tahu 🤩🤩🤩 apalagi pake tahu susu aduhai kebayang betapa lezatnya. Aku suka makan kupat tahu, tetapi memang jarang ku temui yang rasanya beneran jempolan. Kupat tahu di pasar kaget Cimahi ini pasti jempolan banget, udah dua generasi dengan konsistensi menjaga cita rasa hingga lokasinya. Salut pisan deh, sama yang punya usaha bisa panjang turun-temurun gini.

    Susunan aneka sayuran di pasar kaget ini tampak sangat rapi dan nyaman buat dipilih. Aku pun saat tinggal di Matraman Jakarta, ada dekat rumah pasar kaget modelan gini. Buka hanya Sabtu dan Minggu sampai sekitar pukul 10.00 WIB, lebih enjoy buat belanja sambil kulineran hehehe.

    Reply
    • Satu paket lengkap ya La. Saya yang awalnya enggan menyusur dan melangkah naik turun di dalam kompleks, akhirnya jatuh cinta dengan pasar kaget di dalam kompleks ini. Selalu hadir banyak hal yang berkesan di hati melihat satu demi satu pedagang dan produk yang ditawarkan. Apalagi semua adalah hasil dari kebun sendiri.

Leave a Comment