Tugu Khatulistiwa Pontianak, Penanda Titik NOL Derajat Garis Khatulistiwa
Oktober 2025 | Travel | Annie Nugraha

Saya dan suami baru saja selesai check-in dan merapihkan koper serta bawaan lainnya di kamar hotel, saat mendapatkan info bahwa mobil yang menjemput suami untuk ke kantor sudah tiba di parkiran. Suami bergegas turun meninggalkan saya yang masih berjuang menahan udara panas, meng-adem-kan tubuh, sekaligus mengeringkan pakaian yang sarat keringat.
Tadinya saya berniat untuk tetap di dalam kamar aja. Pesan makanan via room service sembari menikmati kenyataan bahwa Pontianak beneran berada di garis khatulistiwa. Tapi saat menyadari waktu masih menunjukkan tengah hari dan perut sudah meraung-raung minta diisi, saya akhirnya meminta izin suami untuk ngelencer di seputaran dalam kota sembari makan siang.
Saya pun membaca kembali daftar rencana kunjungan yang sudah saya buat, lalu memutuskan untuk beranjak, memesan taxi on-line, dan mengunjungi dua destinasi wisata terdekat dari hotel. Ke Tugu Khatulistiwa yang berada di Khatulistiwa Park dan Kampung Wisata Tenun (KANUN) Khatulistiwa. Keduanya berada di Batu Layang, Pontianak Utara, Kota Pontianak. Supaya jalannya gak sambil keroncongan, saya memutuskan untuk mengisi perut terlebih dahulu di RM Ayong 999 Pontianak yang berada di Sungai Bangkong. Rumah makan sederhana, di teras sebuah rumah lama, dengan sajian telur ceplok yang memang nge-hits sejak lama di Pontianak.
FYI, RM Ayong 999 yang di Sungai Bangkong ini dikelola anak dari pemilik RM 999 Ayong (Koh Ayong) yang sudah lama eksis di seputaran Jl. Gajah Muda. Sama-sama berada di dalam kota Pontianak. Jadi RM 999 Ayong tuh ada di dua tempat. Waktu bukanya bergantian. Yang di Sungai Bangkong buka pagi hingga sore, sementara yang di Gajah Mada buka mulai sore hingga malam hari. Pengaturan yang pas banget ya.

Membuka percakapan dengan pak supir sewaan saat dalam perjalanan ke Kampung Wisata Tenun (KANUN) Khatulistiwa, si bapak akhirnya menawarkan untuk rental saja. Selain di kawasan KANUN agak susah mencari taxi on-line, berkendara kedua tempat berikutnya tentunya akan lebih simpel dan mudah. Tanpa pikir panjang, usulan ini langsung saya iya-kan. Tawaran harganyapun reasonable. Cocok di kantong saya. Praktis dan bersahabat dengan dompet.
Usai menuntaskan percakapan panjang dengan Ibu Kurniati sang penggerak KANUN Khatulistiwa sembari merekam banyak foto di galerinya, saya langsung menuju Tugu Khatulistiwa yang hanya berjarak sekitar 15 menit berkendara. Sepanjang perjalanan udara panas begitu menyengat meski AC mobil sudah dipasang semaksimal mungkin. Keringat saya bercucuran dan memutuskan untuk membeli dua gelas besar teh dingin yang ditawarkan oleh penjual gerobak pinggir jalan. Minuman dingin yang tandas ke lambung hanya dalam hitungan lima menit saja.
Ya ampun. Kejamnya khatulistiwa ya. Panasnya memang luar binasa.
Belumlah usai menghapus keringat yang tak henti bercucuran, saya telah tiba di Tugu Khatulistiwa yang jika kita cari di Google Maps disebutkan sebagai Khatulistiwa Park atau Taman Khatulistiwa. Dua bis besar 45 seats yang berisikan rombongan pewisata juga sampai pada saat yang bersamaan.
Saya hampir saja terhitung sebagai anggota rombongan saat akan membeli tiket masuk tugu. Petugas tiket menduga bahwa saya ada di rombongan besar yang juga baru datang itu. Seandainya berani ngaku-ngaku, tiket masuk khusus WNI dewasa sebesar Rp10.000,00 tersebut bakal aman di dalam dompet. Tapi untungnya rombongan bis ini sebagian besar menggunakan kaus yang sama sebagai penanda. Sementara saya jelas memakai pakaian yang berbeda.
Petugas di pintu depan kemudian mengingatkan saya untuk menyimpan tiket masuk tersebut karena nanti dengan menunjukkan tiket ini, saya bisa meminta petugas di dalam untuk membuatkan dan mencetak Sertifikat Perlintasan Khatulistiwa. Fasilitas gratis yang disediakan oleh Taman Khatulistiwa. Isinya adalah menyatakan bahwa saya sudah pernah tiba dan menginjakkan kaki di titik nol (0) khatulistiwa tanah air tercinta.
Wah, mata saya langsung berbinar-binar. Sebagai pejalan yang datang dari pulau yang berbeda dan berjarak sekitar 962km dari Pontianak, sertifikat yang menyatakan bahwa saya sudah tegak di titik nol (0) khatulistiwa ini layaknya adalah kenangan istimewa selama saya menyusur nusantara, khususnya Pontianak, Kota Khatulistiwa dengan moto Bersinar (bersih, sehat, indah, aman, dan ramah).


Beberapa detik setelah keluar dari kendaraan tadi, saya langsung terpana dengan sebuah tugu tinggi menjulang dengan dua lingkaran besi pipih bersilangan satu sama lain dan sebuah panah panjang yang memang menjadi ikon dari tempat ini. Tugu yang di luar ini adalah duplikat dari tugu asli yang berada di dalam gedung/kubah yang berada di bawahnya. Dengan warna hitam legamnya tugu ini terlihat megah dari kejauhan. Gagah, mentereng, dan terlihat begitu mengagumkan.
Dari berbagai sumber referensi yang saya dapatkan tugu equator ini sudah dibangun sejak zaman Belanda. Tepatnya pada 1928. Namun saat itu bentuknya sederhana dan hanya berupa tonggak atau patok dengan tanda panah di atasnya.
Kemudian diadakan penyempurnaan pada 1930 dengan mengganti tanda-tanda dengan lingkaran hingga pada 1938 disempurnakan kembali oleh seorang opsiter/architect bernama Frederich Silaban. Beliau membuat tampilan tugu menjadi lebih rumit dan lebih gagah dengan menyempurnakan bentuk sisi atasnya. Dia membuat rangka tonggak 4 buah dengan kayu belian atau kayu ulin. Jenis kayu asal Kalimantan yang terkenal keras, sangat kuat, tahan lama, dan anti rayap. Kayu ulin juga dipercaya kokoh dan tidak mudah lapuk bahkan akan semakin kuat seiring dengan bertambahnya usia. Beberapa orang bahkan menjuluki kayu Ulin sebagai “kayu besi.” karena kekuatannya.
Saat masuk ke dalam rumah yang mirip dengan bentuk kubah yang menjadi sisi bawah dari tugu duplikat yang terlihat dari jauh tersebut, saya bertemu dengan tugu aslinya. Wujudnya persis sama. Bedanya adalah soal ukuran saja. Sang duplikat dibuat dengan perbandingan lima kali lebih besar dibanding yang asli. Saya yakin fisik tugu duplikat yang menjulang tinggi tersebut harusnya jauh lebih kuat dari yang di dalam karena dia bersentuhan langsung dengan situasi udara yang ada di luar. Khususnya tentang udara panas yang tak terwakilkan oleh diksi manapun.
Pembangunan kubah ini sendiri dilaksanakan pada 1990 oleh Pemkot setempat. Tentu saja dengan maksud agar tugu asli bisa lebih terlindungi dari cuaca dan lebih lestari. Sekaligus memberikan kesempatan kepada pemerintah kota mendirikan destinasi wisata yang terlihat lebih tertata.
Saya mendadak merasakan sebuah kenyamanan karena di dalam kubah ini terhidang banyak informasi mengenai Tugu Khatulistiwa. Selain tugu asli yang gagah berdiri di titik tengah, kita diajak untuk melihat empat titik mata angin dengan petunjuk berupa tulisan di dinding. Dipasang juga banyak foto bersejarah dan tampilan fisik Tugu Khatulistiwa sejak 1928 hingga perbaikan terakhir. Beberapa foto hitam putih yang menyimpan jejak kenangan yang patut terus kita jaga. Hanya sayangnya foto-foto itu terpasang terlalu tinggi. Bahkan karena terlalu mendangak saya tidak bisa melihat dengan jelas keterangan atau tulisan yang dicantumkan di bawah setiap foto.
Selain berhamburan dengan informasi tentang Tugu Khatulistiwa, di dalam kubah ini juga terdapat beragam produk kerajinan tangan dan kain tenun khas Pontianak dan Kalimantan Barat yang tadi saya lihat di KANUN Khatulistiwa. Ada juga beberapa contoh alat berburu yang biasa dikenakan oleh masyarakat dayak. Tidak begitu banyak karena sepertinya peralatan yang dibuat dari besi itu benar-benar hanya jadi pemanis ruangan saja.


Tapi yang begitu menyesap di dada saya adalah pemilihan warna serta corak kain yang menjadi hiasan dinding di dalam kubah ini. Perpaduan putih dan abu-abu di sekeliling sisi dalam gedung meninggalkan kesan adem di mata. Ruangan juga jadi terlihat lapang dan luas. Hal ini begitu saya rasakan saat berada di pintu masuk. Area dengan pijakan pertama dibuat lebih tinggi dari tugu asli yang berada di tengah. Jadi kita bisa melihat sang tugu dari sebuah ketinggian tertentu.
Dengan berdiri di titik itu hasil foto pun bisa maksimal. Bahkan dengan jarak lensa 0.5, titik foto terjauh yang terpasang di lensa kamera, tampilan tugu akan terlihat utuh dan sempurna baik dalam posisi portrait maupun landscape. Saya menyempatkan diri mengutak-atik sudut pengambilan foto dengan bereksplorasi pada banyak obyek yang ada di dalam kubah sebelum akhirnya menuju sebuah meja kerja yang sarat dengan kesibukan.
Di meja itu ada seorang petugas wanita berseragam ASN yang sangat sibuk mengatur pemesanan, pembuatan, dan pencetakan sertifikat yang disebutkan di awal. Dia menghadapi antrian yang cukup panjang karena rombongan dua bis tadi tampaknya antusias untuk memiliki sertifikat ini. Untungnya format sertifikatnya tidak ribet dan printer pencetaknya juga lancar jaya.

Usai sekali lagi melihat tugu asli dari jarak dekat dan mengarahkan pak supir agar mau dan bisa memotret saya, sederet kekaguman akan Tugu Khatulistiwa kembali menyeruak. Saya membayangkan bagaimana perjuangan sekian banyak tenaga ahli dalam membangun tugu segagah dan se-presisi ini agar bisa dijadikan acuan bagi publik. Dan itu tentu saja butuh waktu, tenaga, pikiran, dan dana yang tidak sedikit.
Saat melangkah keluar dengan mata yang memicing karena silaunya sinar matahari, saya melihat rombongan dua bis tadi mulai meninggalkan kawasan destinasi wisata pendidikan ini. Suasana tergantikan dengan beberapa truk yang membawa banyak tonggak besi dan semua perlengkapan untuk membangun tenda yang semua harus diselesaikan dari itu juga. Karena esoknya di tanah lapang depan kubah ini akan ada peringatan Hari Kulminasi Matahari. Hari di mana matahari tepat berada di atas khatulistiwa sehingga benda-benda tegak yang berada di sekitar Tugu Khatulistiwa tidak berbayang. Acara ini biasanya diadakan setiap tanggal 21 -23 Maret dan 3 September setiap tahunnya.
Duh sayang banget gak bisa hadir karena esok hari itu saya sudah mengatur jadwal untuk ke Singkawang. Dan agenda itu membutuhkan waktu sehari penuh. Berangkat pagi-pagi sekali (setelah sarapan) dan kembali ke kota Pontianak sekitar pukul 10 malam.
Tapi sebelum melangkah masuk ke dalam mobil, saya sempat melihat rombongan sirkus tadi berkumpul di sebuah taman kecil dengan sederetan payung berwarna-warni yang diletakkan berhimpitan satu sama lain. Di tengah tumpukan payung tersebut ada tulisan “Sundial Park” yang juga dicat dengan warna gonjreng. Semua tampak begitu menarik perhatian bahkan saat melihatnya dari kejauhan.
Saya kembali menebarkan pandangan ke sekeliling lahan semen yang nantinya akan ditutup terpal. Taman Khatulistiwa ini ternyata juga dilengkapi dengan satu kawasan khusus untuk para pedagang. Ada yang berjualan kaos dengan sablon beberapa destinasi wisata di kota Pontianak dan yang ada di Kalimantan Barat. Serangkaian jenis suvenir pun ada. Sayangnya saya tidak punya cukup waktu untuk lebih menjelajah karena membaca pesan suami yang sebentar lagi akan sampai di hotel.
Saat mobil yang saya tumpangi mulai meninggalkan kompleks Tugu Khatulistiwa, saya menyempatkan diri menengok ke belakang dan menatapi tugu replika dari kejauhan. Sebuah bangunan berangka kayu ulin hitam yang mulai terlihat kecil seiring dengan posisi saya yang semakin menjauh.
Semoga tempat ini bisa lebih tertata cantik, lebih mengagumkan, dengan nuansa turistik yang lebih baik lagi. Lingkungannya lebih terjaga kebersihan dan kenyamanannya. Agar lebih banyak publik tertarik untuk mampir ke sini.








Ampuuun An, udara khatulistiwa Indonesia – especially di Pontianak emang se-menyengat itu kah?
Berada tepat di garis khatulistiwa โ matahari โfull frontalโ tanpa banyak miring, jadi sinarnya langsung banget ke badan kita โ bikin kulit cepat rasa โhangat pas tengah hariโ. Tapi justru karena itu, kunjungan ke tugu ini punya makna yang besar: kamu nggak cuma berdiri di titik nol derajat garis khatulistiwa, tapi juga merasakan langsung kekuatan alam yang luar biasa
Eh .. sst…. gw jadi dua kali baca telor seplok si Ayong ini, Udah coba buat sendiri pun beda rasa yaa!
Anyway, seru banget baca tentang Tugu Khatulistiwa Pontianak โ detailnya keren, gambarnya menggugah, dan terasa banget effort yang dihabiskan supaya semua tersaji matang. Gw alwaaayssss salut banget sama cara lo merangkai narasi dan foto, benar-benar membuktikan kalau jadwal bukan cuma padat tapi juga penuh dengan planning yang thoughtful. Mantab!
Kapan ada rezeki, ngelencerlah kita ke Pontianak Tan. Kudu nggeret AC supaya betah keliling kota yang super duper manggangi badan. Kalau perlu bawa handuk Good Morning hahaha. Tapi justru jadi ngebakar lemak ya. Makan enak dimana-mana jadi gak merasa berdosa. Halaaahhh.
Ternyata ada sertifikat kalau sudah mencapai titik nol khatulistiwa, dan bisa diperoleh secara gratis. Bisa jadi salah satu kenangan pernah ke sana ya, selain dengan berfoto tentu saja.
Ada dua tugu, satu asli dengan ukuran lebih kecil dan berada di dalam ruangan. Sementara duplikatnya berukuran lebih besar dan langsung bisa terlihat dari kejauhan karena di luar ruangan ya. Jadi kalau cuma lewat, nggak masuk ke dalam kubah, dikira udah sampai tugu nol km, padahal itu replika saja
Ah good point Mbak Nanik. Saya tadinya juga mengira tugu yang tinggi banget di luar ruang dan terlihat dari jauh itulah yang asli. Tapi ternyata itu hanya replika. Beruntungnya saya akhirnya memutuskan masuk dan menemukan banyak cerita di dalam bangunan.
Panas mana sama Semarang, Bu (Gaya kali pake nanya, padahal baru sekali ke Semarang dan belum pernah ke Pontianak) hihiii ..
Seneng deh dapet sertifikat ya, Bu. Trus HTMnya murah kali lah itu…
Dalem tugunya bersiiiiiiih kali, lantainya tampak putih bersih padahal tempat umum ya.
Suka sama warnanya putih hitam (aku bangeet).
Smogaa diberi rezeki bisa ke Pontianak. Masa aku mainnnya ke Jawa mulu hihii
Jelas lebih panas Pontianak Ci. Secara kan kota ini ada di garis khatulistiwa. Badan keringetan terus. Baju dan celana basah terus. Ampun dah. Untung bawa baju lebih jadi gak perlu laundry.
Aamiin Yaa Rabbalalaamiin. Semoga suatu saat menginjak tanah Kalimantan ya Ci.
Spot mahal sih ini Bu…
Dan ternyata di sana pun memaklumi ya, dengan menghadirkan Sertifikat Perlintasan Khatulistiwa, sehingga siapapun yang berkunjung ke titik nol khatulistiwa ini punya rekam jejak sejarah. Bukan sekadar foto dengan monumen aja gitu.
Daku pikir di sekitaran titik nol, kondisi cuaca di sana bakalan gak terasa apa-apa. Alias ya gak dingin dan gak panas, ternyata malah panas ya?
Sertifikatnya benar-benar jadi kenangan Fen. Idenya bagus juga ya. Wisatawan jadi begitu terkesan. Panas banget di sini Fen. Yah keseluruhan kota Pontianak lah. Di sini aku jadi minum banyak air dingin. Ya ampun berasa banget leganya tenggorokan hahaha.
wah senangnya Mbak Annie, berhasil datang ke titik nol derajat khatulistiwa
inget banget, dulu muncul di soal ulangan dan ujian sekolah dasar, sampai hafal luar kepala
dan beruntung Mbak Annie bisa ke sana
saya ikut beruntung karena serasa ikut Mbak Annie selama baca tulisan ini ^^
Saya juga gak menyangka Mbak Maria. Dia dan semesta ternyata memberikan saya kesempatan untuk menjelajah Pontianak dengan segala keindahan dan kenangannya. Semoga bisa kembali lagi.
Om mpo ada di Pontianak.mpo pernah kesana juga dan lihat tugu khatulistiwa. Makanan Pontianak unik dan yang bikin kangen lempok durian . Ah mantap
Wah seru banget dapat sertifikat pernah melintas garis khatulistiwanya bumi. Andai beneran keliatan kelihatan garisnya keknya lebih seru lagi :D
Owh baru tahu ternyata tugunya punya duplikat juga dan duplikatnya justru dibikin lebih besar ya mbak
Yg asli udah diminta beristirahat aja supaya tidak rusak/ hilang sebagai benda bersejarah hehe.
Wah sebenarnya pas banget ya esoknya ada hari kulminasi sayang nggak bisa ikutan event-nya ya mbak.
Oh ornamen hitam putih itu ternyata kain ya mbak? Iya warnanya menenangkan karena dominan putihnya. Mungkin supaya pengunjung lebih fokus ke benda2 dan foto2 yang dipamerkan di sana , tetapi tetep biar ruangannya gak sepi2 amat dekorasinya ya? #sokteu hehe
.
Warna ruangannya juga memberikan efek luas ya Pril. Mata jadi gak “berasa berat” Tidak terlalu banyak ornamen juga memberikan efek yang menyenangkan. Para wisatawan jadi fokus pada tugu khatulistiwa asli yang ada di dalam ruangan.
Wuah, asyiknya bisa jalan-jalan menikmati jejak sejarah Indonesia. Apalagi ada corak batik yang menjadi simbol budaya setempat. Keren, bisalah nih kalau ke Pontianak destinasi wisatanya ke sana.
Semoga suatu saat bisa berkunjung ke sini ya Mbak.
Menarik ketika membaca nama Frederich Silaban. Ingatan saya langsung ke masjid Istiqlal. Ini sosok yang sama kan ya? Berarti peran beliau dalam dunia asitektur Indonesia tuh keren banget.
Ah betul banget Myra. Gak heran ya jika hasil akhir rancangannya begitu memukau.
Baca postingan Mbak Annie berasa di Pontianak langsung lho. Suka sama hasil jepretannya. Terlebih lagi cerita tugunya yang ternyata aslinya lebih sederhana. Nggak ngebayangin sih pas Mbak Annie dikira rombongan penumpang bus itu. Tapi, dengan ongkos 10 ribu terus dapat sertifikat, itu murah banget lho.
Makasih untuk complimentnya Mbak Ika. Berkelana dan memotret adalah dua kombinasi pekerjaan yang begitu saya sukai. Semoga dengan hadirnya foto-foto yang indah, setiap tulisan yang saya sajikan jadi begitu bermakna.
Kemairn pas temen ngeluh bumi sedang panas-panasnya, memang di titik nol juga terlihat yaa, ka Ann.. Jadi si Tugu Khatulistiwa Pontianak ini bukan sekedar landmark, tetapi juga ilmu yang membuat pengunjung melihat dan belajar langsung mengenai fenomena matahari sepanjang tahun.
Betul banget. Makna pendidikannya bernilai banget. Menghadirkan ilmu geografi dan astronomi yang layak untuk dipelajari oleh banyak orang. Semoga suatu saat Lendy bisa menginjakkan kaki di sini ya.