REFLEKSI DIRI. Proses Penyembuhan Diri Melalui Writing Therapy yang Sarat Inspirasi
“Let the heart feeling the way. Let the head leading your way” (Refleksi Diri)

Mendapatkan sebuah buku yang sarat dengan kisah inspiratif tentang self healing, selalu menggugah rasa untuk membaca, merenungi dan menuliskannya. Termasuk salah satunya adalah buku Refleksi Diri yang dibidani oleh Writerpreneur Club bimbingan Deka Amalia (Deka) berkolaborasi dengan Nuzulia Rahma Tritinarum (Lia), seorang woman and family mental health counselor.

Lembar demi lembar saya nikmati hingga akhirnya terpaku dengan beberapa kisah yang sangat inspiratif dan begitu menyentuh sanubari. Lewat berbagai kisah inilah para pembaca diajak untuk menyelami dan turut merasakan proses seseorang melewati sebuah ujian lalu berubah menjadi lebih baik. Kita mengikuti kalimat tiap kalimat, paragraf demi paragraf, hingga tercenung dengan beberapa kalimat bijak yang menyadarkan kita akan indahnya sebuah proses penyembuhan diri.

Cerita-cerita seperti inilah yang selalu saya cari dari sebuah buku yang menggali tema self healing. Cerita terdalam dari hati tanpa menggurui namun memberikan pelajaran penting dalam hidup. Menampilkan kejujuran personal bukan hanya berteori atau menghidangkan berbagai pengetahuan psikologi yang biasa dan bisa kita baca lewat buku-buku.

REFLEKSI DIRI. Proses Penyembuhan Diri Melalui Writing Therapy yang Sarat Inspirasi
Baca juga: Aku Tercipta Cantik. Sebuah Review Untuk Buku Single, Strong & Sparkling

Apa Itu Writing Therapy?

Mengutip dari apa yang disampaikan oleh Deka dan Lia, writing therapy adalah sebuah emotional release dengan menggunakan media menulis, sebuah proses healing dengan salah satu teknik psikoterapi.

Secara keilmuan, writing therapy terbagi atas 2 bagian yaitu basic dan advanced. Di tingkat basic, menulis adalah katarsis dan self healing sederhana melalui media diary (buku harian), status di media sosial, surat pribadi, menulis bebas (expressive writing) dalam rangka mencurahkan perasaan. Tulisan-tulisan ini dapat dikonsumsi sendiri, diberikan kepada seseorang atau dikonsumsi publik, bahkan dapat menjadi sebuah buku atau karya tulis. Sementara untuk di tingkat advanced, menulis menjadi sebuah terapi, healing, pemulihan dari suatu kondisi tertentu dan self development. Dalam tahap ini proses penulisan didampingi oleh expert seperti psikolog, terapis, atau counselor yang memahami psikoterapi. Hasilnya bersifat pribadi.

Lalu manfaat apa saja yang bisa didapatkan dari sebuah writing therapy? Diantaranya yang sangat bernilai adalah:

  • Menstrukturkan pikiran sehingga dapat melakukan problem solving yang efektif;
  • Menemukan “suara” terdalam pada jiwa dan mampu mengeskpresikannya dengan tepat;
  • Perjalanan ke dalam jiwa sehingga semakin mengenal, memahami dan mencintai diri;
  • Untuk mendapatkan Aha (menjadi diri sendiri) dan bertumbuh sebagai pribadi;
  • Untuk menemukan makna dalam hidup;
  • Dan menghasilkan tulisan penuh hikmah dan sarat makna

Kolaborasi antara Deka sebagai seorang penulis yang sudah menghasilkan ratusan buku, membimbing puluhan kelas menulis dan Lia sebagai seorang counselor yang sudah belasan tahun berkecimpung sebagai psikoterapis, berhasil memadukan teknik katarsis dan psikoterapi dalam teknik menulis. Dari kebersamaan membimbing 56 orang penulis inilah lahir buku Refleksi Diri yang diharapkan dapat memberikan manfaat dan berbagi hikmah.

Jadi writing therapy ini bisa dilakukan bukan hanya untuk orang yang sedang atau telah mengalami masalah saja, tetapi juga dapat dilakukan oleh kita yang ingin meningkatkan kualitas hidup.

Baca juga: SERENADE 2020. Mendalami 46 Kisah Inspiratif Dari Para Penulis Writerpreneur Club
REFLEKSI DIRI. Proses Penyembuhan Diri Melalui Writing Therapy yang Sarat Inspirasi

Berbagai Kisah Yang Menggugah Hati

Namaku Kemuning (Ferina Widodo)

Kemuning lahir dari sebuah orangtua yang bercerai. Besar dengan orangtua tunggal (seorang ibu), Kemuning yang merasa fisiknya tidak menarik, tumbuh menjadi seorang perempuan yang cenderung rendah diri dan pemurung. Menutupi kekurangan atau yang dirasakannya sebagai kekurangan, Kemuning fokus pada pendidikan, urusan sekolah dan sibuk pada dirinya sendiri. Membaca, menggambar atau membuat komik lah yang menjadi pelarian dari ketidakmampuannya membaur dengan teman-temannya.

Sibuk menyendiri, tertutup dan berada jauh dari keramaian, Kemuning bertemu dengan Kyra, si penggila novel, hingga menjadi sahabat baik. Kyra adalah orang kedua setelah ibunya yang mampu dan bisa menjadi sahabat bertukar cerita dan membangun komunikasi penuh keterbukaan. Berteman dengan Kyra, Kemuning yang tadinya hidup bagai katak dalam tempurung pun mengalami proses perubahan setahap demi setahap. Mulai dari keyakinan diri untuk memamerkan kemampuannya dalam menggambar dan membuat komik untuk majalah dinding sekolah, hingga akhirnya berdiri dengan penuh percaya diri, menerima diri apa adanya. Merubah diri dengan penampilan yang lebih bersih, lebih murah senyum, dan lebih ikhlas menerima keadaan dirinya yang tumbuh tanpa orangtua lengkap. Seperti yang diajarkan oleh ibunya, Kemuning tetap menjaga hubungan baik dengan Ayahnya dan tetap bertemu untuk menjaga silaturahim.

Kemuning menjadikan ibunya sebagai contoh seorang perempuan yang sabar, tegar dan ikhlas menerima takdir hidup. Bersama ibunya jugalah Kemuning melewati masa-masa susah dan indah, suka dan duka dalam hidupnya, berteman dengan banyak orang dan akhirnya bertemu dengan seorang pria yang tampak serius menjalin hubungan dengannya.

Baca juga: PULIH. Kisah Perjalanan Menyembuhkan Luka Hati Untuk Menjadi Lebih Baik
REFLEKSI DIRI. Proses Penyembuhan Diri Melalui Writing Therapy yang Sarat Inspirasi

Siapa Yang Menuntutmu Menjadi Sempurna? (Nur Azifah Cakra Dewi)

Saya membaca artikel yang ditulis oleh Cakra Dewi sampai 3 kali sebelum mengembalikan ingatan saya kepada salah seorang teman yang pernah mendapatkan masalah kejiwaan yang persis sama. Seorang teman yang harus menghabiskan waktu bertahun-tahun melewati terapi kejiwaan sebelum pada akhirnya dinyatakan sembuh meski masih harus dalam pengawasan.

Menjadi seseorang yang diinginkan atau mimpi orang lain. Inilah yang menimpa seorang perempuan yang diceritakan oleh Cakra Dewi. Ibu kandungnya lahir dari seorang nenek yang disiplin, perfeksionis dan sarat impian. Mendidik ibunya menjadi seseorang yang tak mudah diajak berdiskusi, bertukar pendapat, bahkan sekedar untuk berkomunikasi antar pribadi. Cara mendidik sama yang kemudian ditularkan kepadanya. Dia harus begini, begitu, sesuai dengan harapan dan impian sang ibu, terutama soal akademis atau pendidikan. Tapi keberhasilan ini sesungguhnya bukan lahir dari lubuk hatinya. Karena besar dengan penuh tekanan dan egoisme sang ibu sementara di satu pihak dia tak berani melawan ibunya pun tidak diberikan kesempatan untuk mengekspresikan diri sendiri. Semua beban kemudian berkecamuk di dalam dada, terhimpit dalam keinginan yang tak tersampaikan, diwujudkan dalam bentuk kemarahan karena emosi yang terus menerus tertahan.

Seperti yang diduga, diapun akhirnya membawa semua “warisan” karakter ini dalam kehidupan rumah tangganya. Dia menjalani hidupnya dengan tidak mudah bahkan tidak mampu membangun komunikasi yang berisi dengan suaminya sendiri. Rumah tangga yang dimilikinya diisi dengan deretan pertengkaran, ketidakpuasan, hingga akhirnya sang suami memberikan ultimatum atas dirinya. Disinilah momentum kesadaran untuk merubah diri itu lahir. Karena jika dia tidak berubah, bukan tidak mungkin dia akan membawa “wabah karakter” yang sudah turun temurun tersebut kepada anak-anaknya.

Rela dan tegakah dia membiarkan hal ini terjadi?

Dengan kesadaran penuh untuk tidak mewariskan watak yang bisa muncul di generasi ke-3 (dia pada saat ini), perempuan ini melakukan dan mengadaptasi beberapa hal berikut ini demi memulihkan trauma dan mengembangkan dirinya menjadi lebih baik:

  • Banyak berbicara dan bertukar pikiran dari hati ke hati dengan suami. Melakukan pillow talk atau sekedar menghabiskan waktu bersama dengan lebih banyak lagi;
  • Rajin menghadiri kajian agama;
  • Memahami konsep ikhlas;
  • Berdamai dengan diri sendiri;
  • Menerima ketidaksempurnaan dan kenyataan bahwa tidak semua hal berjalan sesuai dengan keinginan kita
REFLEKSI DIRI. Proses Penyembuhan Diri Melalui Writing Therapy yang Sarat Inspirasi

Arti Penantian (Siti Yuliana)

REFLEKSI DIRI. Proses Penyembuhan Diri Melalui Writing Therapy yang Sarat Inspirasi

Artikel yang ditulis oleh Siti ini menceritakan tentang Lesli. Sulung dari 3 bersaudara yang dalam takdirnya menjadi anak yatim piatu di usia muda. Kematian orangtuanya yang beruntun, menjadikan Lesli mendadak harus menerima tanggungjawab sebagai kakak sekaligus orangtua bagi kedua adiknya.

Sebelum Ibunya menyusul almarhum Ayahnya bersama menuju keabadian, sang Ibu pernah menyampaikan bahwa Ayahnya sempat menjodohkan Lesli dengan saudara jauh yang berada di Jawa. Tak lama setelah ibunya wafat, Lesli pun langsung diboyong pindah ke tanah Jawa bersama adik-adiknya. Suaminya ini ternyata adalah anak tunggal. Jadi kehadiran Lesli dan kedua adiknya menjadikan rumah ini semakin cerah dan berwarna.

Waktupun berlalu hingga 8 tahun. Disinilah satu perkara serius mulai menghentak kesadaran Lesli dan pelan-pelan meluruhkan kebersamaan yang sudah terbangun antara Lesli dan Akbar, suaminya. Belum hadirnya anak akhirnya jadi alasan kuat bagi mertuanya untuk meminta Akbar menikah kembali. Bahkan tanpa sungkan, si wanita, calon istri kedua, dihadirkan secara terbuka di rumah, di hadapan Lesli. Tak terkisahkan dan tak terwakilkan dengan kata-kata untuk melukiskan bagaimana hancurnya perasaan Lesli saat itu.

Tapi ternyata Lesli lahir dengan serangkaian kebijakan dan kelembutan hati untuk menghadapi keadaan yang mau tak mau harus dia terima. Alih-alih menangis, mengalah dengan keadaan dan menjauh, Lesli malah melawan kekerasan hati mertua dan Akbar dengan sikap yang diluar dugaan. Menjelang pernikahan kedua Akbar, Lesli justru kerap menyenangkan hati suaminya dan selalu tak lupa mengucapkan terimakasih atas semua kebaikan yang telah dilakukan Akbar dan keluarganya untuk Lesli dan adik-adiknya. Sudah memberikan mereka tempat berlindung, memberikan makan, menyekolahkan adik-adiknya tanpa pamrih. Lesli pun berbesar hati untuk meminta maaf atas segala kekurangan yang mungkin telah menyebabkan rangkaian kecewaan, yang mungkin tidak dia sadari selama ini.

Lesli tetap melaksanakan tugasnya sebagai istri dan menantu yang berbakti kepada mertua. Bahkan hingga Akbar harus diopname karena tertekan dengan pikirannya sendiri, Lesli tetap mengasihi dan melayani sang suami dengan sebaik-baiknya dan melakukan tugas sehari-harinya di rumah dengan sebaik-baiknya. Begitupun dengan adik-adiknya. Mereka tak lupa melakukan semua adab mulia yang dilakukan dan ditunjukkan oleh sang kakak.

Allah kemudian maha membolak-balik pikiran dan akal seseorang. Kerasnya batu pun akan erosi dan luruh jika disiram air dingin terus menerus.

Kesabaran, ketabahan dan keikhlasan Lesli ini jualah yang membuat sang suami membatalkan niatnya untuk berpoligami. Akbar malah menjadi lebih mengasihi Lesli dan bertekad tak akan melupakan janjinya kepada orang tua Lesli untuk terus menjaga dan mengasihi istrinya tersebut.

Baca juga: Kisah Perjalanan Yang Mengguncang Rasa Dari Buku Antologi THE TRAVELLERS’ NOTES

Menua Dengan Bahagia (Deka Amalia)

REFLEKSI DIRI. Proses Penyembuhan Diri Melalui Writing Therapy yang Sarat Inspirasi

Melengkapi puluhan kisah inspiratif yang tertuang di dalam buku ini, Deka menguraikan beberapa untaian kalimat untuk kita tanamkan di dalam hati. Kalimat-kalimat yang kaya akan makna yang bisa menemani langkah-langkah kita dalam “menikmati” pahit getirnya semua permasalahan hidup yang kita hadapi dengan (tetap) bahagia. Mulai dari sekarang, detik ini, hingga kita menua nanti.

Tak ingin melewatkan begitu banyak petuah bijak tersebut, ijinkan saya merangkum semuanya sebagai berikut:

  • Menjalani kehidupan dengan beragam bahagia dan masalah, suka duka, mengalahkan diri sendiri, menekan ego dan berdamai dengan kondisi yang ada;
  • Berharap dan memohon hanya kepada Allah semata;
  • Tidak membandingkan diri dengan orang lain karena setiap manusia memiliki takdir dan rezekinya masing-masing;
  • Perbanyak bersyukur;
  • Selalu mensyukuri rezeki dalam bentuk apapun. Termasuk diantaranya rezeki berbagi ilmu yang bermanfaat untuk orang lain;
  • Memiliki rasa damai di hati karena sejatinya ketenangan batin adalah sesuatu yang tidak bisa dibeli atau diukur dengan uang;
  • Bahagia karena bisa berbagi dengan kemampuan kita
REFLEKSI DIRI. Proses Penyembuhan Diri Melalui Writing Therapy yang Sarat Inspirasi

Pendapat Pribadi Tentang Buku Refleksi Diri

Saya menutup buku setebal 542 halaman ini dengan begitu banyak catatan, tabungan kalimat bijak yang tak henti saya highlight, serta puluhan penanda yang saya biarkan tertempel di sisi kanan kertas. Saya ingin membiarkan buku ini terlihat selalu ada dan siap saat ingin kembali membuka dan menyelami setiap kisah yang begitu membekas di hati.

Tak terhitung sudah berapa banyak kisah sarat perjalanan hidup yang ditulis dengan apik oleh teman-teman writer yang berada dalam komunitas Writerpreneur Club. Semua, tanpa kecuali, mengajarkan sesuatu bahkan banyak pelajaran untuk mengajak diri menjadi orang yang lebih baik lagi. Melihat dan menyelami setiap tulisan di dalam buku ini sejatinya adalah tambahan pemahaman kita akan pelangi permasalahan hidup di sekitar kita.

Lihatlah ke bawah bahwa disana ada orang yang dikelilingi oleh kedukaan yang mungkin lebih mengiris hati dibandingkan dengan apa yang kita alami. Lihatlah ke atas untuk tetap menyadari bahwa mendongakkan wajah karena kesombongan tak pun akan menjadikan kita lebih baik dari orang lain.

REFLEKSI DIRI. Proses Penyembuhan Diri Melalui Writing Therapy yang Sarat Inspirasi
REFLEKSI DIRI. Proses Penyembuhan Diri Melalui Writing Therapy yang Sarat Inspirasi
REFLEKSI DIRI. Proses Penyembuhan Diri Melalui Writing Therapy yang Sarat Inspirasi

#BukuRefleksiDiri #BukuAntologi #WriterpreneurClub #KomunitasMenulis #ReviewBuku #UlasanBuku #WritingTherapy

32 COMMENTS

  1. Apa aku coba cari pelatuhan writing therapy aja ya Mba?
    Pengin banget ih, memadukan teknik katarsis dan psikoterapi dalam teknik menulis.

    Apalagi, writing therapy ini bisa dilakukan bukan hanya untuk orang yang sedang atau telah mengalami masalah saja, tetapi juga dapat dilakukan oleh kita yang ingin meningkatkan kualitas hidup.

    Pengiiinn banget menghadirkan tulisan dgn lebih “bernyawa”

    • Nah, akupun punya pemikiran yang sama Nur. Bagus banget buat kita yang ingin mempertebal kemampuan literasi yang bersentuhan dengan psikologi. Kapan kalau ada yang menyelenggarakan lagi, saling berkabar ya Nur.

  2. Bagus banget baca-baca cerita inspiratif seperti ini. kemarin saya juga sempat ikutan buat buku antalogi tentang writing therapy. Alhamdulillah, memang setelah menulis, terasa ada sebuah kelegaan.

  3. Bukunya menarik banget kak.. ketebalannya juga lumayan tuh ya 500+ kebayang isinya daging semua… menulis memang jadi jalan indah untuk terapi..self healing.. Tak jarang yang akhirnya tulisannya malah laku dijual dan laris manis..

    • Bacanya harus berseri dan dalam kondisi perasaan yang plong. Jadi bisa menikmati setiap artikel dengan tenang dan tidak terburu-buru. Saya melewati periode 6 kali buka buku sampai bisa meresapi semua cerita yang ada di dalamnya

  4. Aku pernah belajar menulis ke mba DK tuh…Semangat dan kisah hidupnya menginspirasi, jadi aku semangat juga menulis.
    Buatku ngeblog pun menjadi writing therapy lho. Bertujuan semoga artikelnya bermanfaat bagi yg baca, bikin aku semangat untuk menulis sebaik-baiknya.

    • Betul banget Mbak Hani. Sejatinya ngeblog juga adalah writing therapy. Terutama untuk artikel-artikel yang berangkat dari pengalaman psikologis pribadi. Tentu saja dengan tujuan agar apa yang kita alami tersebut bisa jadi pengetahuan dan atau masukan yang berguna bagi orang lain, terutama yang membaca.

  5. ah iya mbak Anie, menulis itu bisa menjadi salah satu cara melakukan healing ya mbak
    aku sekarang juga mulai rutin menulis refleksi diri
    sekarang jadi lebih tenang

  6. Ferina Widodo ini dulu pemain Lenong Rumpi di televisi nasional ya?

    Bareng Harry De Fretes, Debby Sahertian dll

    Siapapun dia, tulisan nya seperti tulisan yang lain, sangat bagus

    kita emang harus berdamai dengan diri jika mau bahagia lahir dan batin

    • Betul Mbak. Mbak Ferina yang artis itu. Bagus banget tulisannya. Tidak berteori tapi menghadirkan sosok Kemuning yang bisa kita nikmati proses perubahannya.

  7. buku ini sarat pelajaran hidup pastinya ya Mbak.
    baca penggalannya ini saja sudah menginspirasi ya.
    sungguh menulis itu memang sebuah terapa inspiratif ya Mbak, tidak hanya bagi penulis sebagai healing tapi juga pembaca yang menerima manfaat dari tulisan itu :)

    • Setuju banget Mbak Dian. Menulis dan membaca itu self healing yang paling mudah menurut saya.

  8. Sejarah awal saya bikin blog juga untuk self healing mba. Soalnya waktu itu baru saja keguguran, melahirkan anak pertama saya, laki-laki yang meninggal 5 bulan waktu dalam kandungan. Suami bikinin saya blog yang saya pakai sekarang. Dokter juga sih yang kasih ide. Terbantu banget, lumayan. Gak nyangka writing therapy yang awalnya jadi tempat curhat malah sekarang bisa jadi sumber passive income.

    Asik-asik ya artikel-artikel yang ditulis di atas. Saya suka yang judulnya “Siapa yang Menuntutmu Menjadi Sempurna” karya Mba Nur Azifah Cakra Dewi.

    • MashaAllah. Sampai akhirnya Muti bisa menghadirkan tulisan-tulisan yang sangat berisi dan enak banget untuk dibaca. Luar biasa.

  9. Buku refleksi diri ini tebal sekali ya Mba Ani sampai 542 halamannya. Menulis sebagai terapi, saya pun mendapat manfaat dari menulis ini. Kadang hal terpendam bisa menjadi bom waktu ketika terpicu.

    Masalah mental health memang tidak bisa dianggap sepele karena berkaitan dengan kualitas hidup seseorang. Betapa saya mengetahui berita teman saya yang menabrakkan dirinya di atas jalanan rel kereta api karena depresi atas kehidupannnya, punya suami pemabuk, suka memukul istirnya, ditambah lagi masalah ekonomi yang mendera. Entah bagaimana nasib anaknya. Aku sedih kalau inget temanku ini.

    • Iya Mbak Lia. Saya mengalami proses 6 kali bolak balik sebelum akhirnya merampungkan buku ini dengan sempurna. Alhamdulillah bisa membuatkan reviewnya.

      Innalilahi. Semoga temannya Mbak Lia selalu dalam lindungan Allah SWT. Memiliki kesabaran dan ketabahan seluas samudra.

  10. Buku refleksi diri ini tebal sekali ya Mba Ani sampai 542 halamannya. Menulis sebagai terapi, saya pun mendapat manfaat dari menulis ini. Kadang hal terpendam bisa menjadi bom waktu ketika terpicu.

    Masalah mental health memang tidak bisa dianggap sepele karena berkaitan dengan kualitas hidup seseorang. Seseorang bisa bangkit dan menjalani kehidupannnya dengan bahagia setelah berdamai dengan diri dan keadaannya. Menulis memang membantu proses ini, sebagai terapi dan healing

  11. Tebal ya bukunya, sampai 500 an halaman. Saya juga seneng baca buku kayak gini, ditulis oleh banyak penulis, sehingga mendapatkan banyak cerita berbeda yang diambil pelajarannya.

    Baca kisah Lesli kok kayak baca kisah novel di platform online ya. Belum punya anak, terus mertua mencarikan istri kedua untuk suaminya, tapi yang ini kisah nyata

    • Tebal banget Mbak. 56 orang penulis + 2 tulisan Mbak Deka dan Mbak Lia. Saya butuh 6 kali come-back sampai akhirnya benar-benar bisa membaca dan memahami keseluruhan isi buku ini.

  12. Membaca apa yang ditulis kak Annie di atas, ya bisa saya bilang sebagai “resensi buku” bener gak nih kak? hehe..

    Tulisannya kak Annie uwiwwww, lengkap dan saya suka yang EYD banget…hehe,

    Yups betul sekali kak, menulis menurut saya bisa jadi self healing ya kak, bisa menyembuhkan macam2 penyakit dalam jiwa, dan juga bentuk kontekstual langsung terhadap apresiasi diri dan menyebarkan nilai informasi kepada publik atau orang di sekitarnya.

    Buku untuk refleksi diri ini bagus ya sepertinya, tapi blm baca nih sayanya…huhuhu…

    • Tulisan ini lebih kepada REVIEW ketimbang RESENSI. Karena kalau resensi ulasannya harus lebih lengkap lagi karena membahas kelebihan dan kekurangan isi dan format buku secara keseluruhan. Saya masih perlu banyak belajar untuk bisa menuliskan sebuah resensi yang layak untuk dibaca publik. Tapi inshaAllah diniatkan seiring dengan terus berlatih dan menulis, juga membaca resensi-resensi lain.

  13. Menurut daku writing therapy, membangkitkan semangat diri. Sebab bisa terciptanya tulisan karena ada kekuatan dari jiwa dan pikiran untuk mengungkapkannya. Sehingga memang bisa menjadi obat terapi baik yang sedang ada permasalahan maupun yang dalam keadaan baik jiwanya ya.

    Bukunya menginspirasi ini dengan adanya kisah penulisnya dan pengingat juga bahwa lewat tulisan bisa memberikan kesempatan pada diri untuk lebih tenang

    • Setuju banget Fenni. Menulis, dalam kondisi apapun, sejatinya adalah writing therapy buat kita. Ada rasa lega, senang, dan bahagia yang terselip diantara kegiatan ini.

  14. Bukunya bagus ya mbak, jadi tertarik untuk membacanya juga. Karena sebenarnya tanpa sadar setiap orang ada kelelahan mental, baik sadar atau tidak. Menulis menjadi salah satu terapinya hehe..

  15. Mba dimana bisa tau ttg pelatihan writting therapy, kayaknya aku pengen ikutan ni mba.. supaya dalam tulisan itu ada serasa ada jiwa nya

    • Mbak Nita coba browsing ke Fan Page Deka Amalia Writing Centre. Mbak Deka dalam beberapa waktu mengadakan writing therapy

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here