Beberapa waktu belakangan, mungkin sekitar 2 bulan ini, saya mengikuti jejak cinema listing nya Son Ye-jin 손예진 (Ye-jin). Seorang aktris Korea berwajah mellow, manis dan sudah puluhan kali memenangkan penghargaan dalam dunia seni peran. Film The Classic salah satunya. Dibuat dan beredar pada 2003, film drama percintaan ini diolah oleh Kwak Jae-yong, seorang sutradara yang cukup punya nama di Korea. What happened then? Surprisingly saya langsung jatuh cinta pada film ini mulai 5 menit penayangan. Something un-common yang terjadi dalam diri saya, si penggila film-film horror dan thriller.

Baca juga: THE LAST PRINCESS (Deok-hye Ongju). Mengungkap Kilas Sejarah Yi Deok-hye. Putri Bungsu dari Kaisar Terakhir Dinasti Joseon, Korea.
THE CLASSIC.  Takdir dan Warisan Cinta Ji-hye 지혜 dan Sang-min 노래 민
Jo-hee yang cantik dan berhasil merebut hati Joon-ha dari pandangan pertama

Tentang Para Pemeran Utama

Son Ye-jin 손예진 (Ye-jin)

Aktris Korea Selatan kelahiran 1982 ini, memainkan 2 tokoh sekaligus yaitu Ji-hye 진혜 (di masa sekarang) dan Jo-hee 조희 (Ibu Ji-hye di masa lampau). Kedua tokoh diperankan dengan begitu manis oleh Ye-jin. Tak ada perbedaan karakter antara Ji-hye dan Jo-hee. Jadi no wonder kalau Ye-jin pasti tidak menemukan kesulitan acting yang berarti.

Pembedaan antara ke-2 karakter di atas bisa kita lihat lewat pakaian dan dandanan rambutnya saja. Menilik kejadian lampau yang diambil di tahun 1960-an, Ye-jin sebagai Jo-hee tampil dengan rambut di kepang dua dengan outfit klasik berbahan katun dan cutting yang mengingatkan kita akan sekolah khatolik di masa lampau. Sementara di masa sekarang, Ye-jin sebagai Ji-hye berdandan lebih up-to-date, girly, dan totally cute.

Jo-hee dikisahkan sebagai anak seorang politikus yang terhormat di jamannya. Sementara Ji-hye adalah seorang gadis dewasa (sepertinya sudah yatim piatu) yang sedang kuliah di sebuah perguruan tinggi. Gadis menawan yang mencari jati diri sembari menelusuri kisah cinta almarhumah ibunya. Ji-hye jatuh cinta dengan teman kuliahnya Oh Sang-min 노래 민. Seorang mahasiswa seni teater berwajah rupawan dan menjadi idola begitu banyak wanita.

Cho Seung-woo 조승우 (Seung-woo)

Baru di film ini saya nonton actingnya Seung-woo. Aktor yang 2 tahun lebih tua dari Ye-jin ini sudah dari awal 2000-an menggeluti dunia seni peran. Kalau buka info tentang dirinya di Wikipedia, sudah bererot judul film dan drakor yang dia perankan. Cukup mengesankan.

Secara visual, menurut saya, Seung-woo tidak istimewa. Maklumlah standarisasi aktor Korea sekarang lebih cenderung ke tampilan fisik dahulu. Tapi saya suka dengan rautnya yang terlihat (sangat) ramah dan sumeh. Di The Classic, Seung-woo berperan sebagai Oh Joon-ha오 준하 (Joon-ha). Seorang lelaki dari kalangan biasa dengan kepribadian hangat, sikap yang tulus dan penuh kasih sayang. Loveable man.

Joon-ha dikisahkan jatuh cinta pada Jo-hee dari pandangan pertama. Saat dia sedang asik bermain di ladang dengan teman-temannya sementara Jo-hee lewat dengan sebuah gerobak sapi dan dia duduk di bagian belakang. Dari pertemuan itu, Joon-ha dan Jo-hee akhirnya merajut kisah cinta yang penuh lika-liku.

Jo In-sung 조인성 (In-sung)

Aktor kelahiran 1981 dengan body yang tinggi menjulang ini, sudah beberapa kali saya tonton film dan dramanya. Diantaranya adalah The Frozen Flower, The Great Battle, That Winter The Wind Blows, The King, dan masih banyak lagi. In-sung memiliki wajah yang lebih Jepang ketimbang Korea menurut saya. Ketampanannya memiliki ciri khas yang tidak dimiliki oleh aktor-aktor lain.

Di The Classic, In-sung berperan sebagai Oh Sang-min 노래 민 (Sang-min), teman kuliah Ji-hye. Tokoh Sang-min meskipun dalam skenarionya dianggap sebagai 2nd lead actor, penampilannya hanya 50% dari keseluruhan film ini. Sang-min adalah anak dari Joon-ha. Kenyataan yang baru terungkap dalam scene terakhir film yang keren ini.

Baca juga: The Hymn of Death. Tragedi Cinta Seorang Soprano dan Sastrawan Korea
THE CLASSIC.  Takdir dan Warisan Cinta Ji-hye 지혜 dan Sang-min 노래 민
Son Ye-jin (Jo-hee/Ji-hye) kiri foto dan Cho Sheung-woo (Joon-ha) kanan foto | Di salah satu adegan pelajaran dansa yang diadakan oleh sekolah mereka

Sinopsis

Rangkaian film dibuka oleh adegan Ji-hye menemukan tumpukan kotak yang berisi catatan pribadi almarhumah ibunya (Jo-hee) di rumah. Dari sini dia membaca berlembar-lembar curahan hati sang Ibu, terutama soal kisah cintanya selagi muda. Sebuah kisah yang menjadi tema utama dari The Classic.

Selama film berlangsung, penonton diajak menelusuri film ini melewati 2 masa. Adegan masa kini diikuti dan diselingi dengan kejadian di masa lampau. Dari catatan inilah, Ji-hye mengetahui bahwa dulu ibunya pernah memiliki kekasih bernama Joon-ha di saat masih di bangku SMA. Tapi sayangnya, kisah kasih mereka penuh cobaan karena Jo-hee sudah dijodohkan oleh orang tuanya dengan Tae-soo. Lelaki yang sesungguhnya adalah teman sekolah Jo-hee dan Joon-ha. Tae-soo dan Joon-ha bahkan adalah sahabat karib yang sangat dekat satu sama lain.

Kisah percintaan Jo-hee dan Joon-ha dimulai saat keduanya menelusuri sungai dengan perahu dan terjebak di sebuah tempat hingga Jo-hee mengalami cedera kaki. Di bawah hujan deras, chemistry mereka menyatu, bahkan semakin berarti karena Jo-hee memberikan sebuah kalung untuk Joon-ha sebagai pengikat kebersamaan mereka. Kisah awal sepasang kekasih ini luar biasa apik terbungkus cinematography yang indah tak tekira. Banyak shoot atau adegan-adegan yang menyentuh dan mewakili kebahagiaan yang mereka rasakan. Tapi karena kejadian ini nama Joon-ha diblack-list oleh orang tua Jo-hee.

Awalnya Joon-ha menyembunyikan rasa cinta dan hubungannya dengan Jo-hee di depan Tae-soo. Joon-ha begitu mengalah karena tampaknya Tae-soo sudah naksir berat dengan Jo-hee. Selalu memperbincangkan tentang Jo-hee dan melakukan hal-hal lucu untuk menarik perhatian Jo-hee. Tae-soo Bahkan sering meminta bantuan Joon-ha untuk membuat surat cinta bagi Jo-hee.

Tapi seiring dengan berjalannya waktu, rahasia Jo-hee dan Joon-ha diketahui oleh Tae-soo. Meskipun awalnya kecewa namun akhirnya Tae-soo justru mendukung hubungan kedua temannya itu. Tae-soo malah sempat gantung diri (tapi tidak berhasil) demi kedua temannya ini dapat bersatu. Tae-soo pun menemani Jo-hee mengantarkan Joon-ha memenuhi tugas militer dan pergi ke Vietnam untuk berperang. Satu sesi penuh makna yang akhirnya memisahkan Jo-hee dan Joon-ha. Dijamin. Penonton akan berurai airmata. Begitupun saya. Apalagi di adegan berikutnya penonton disuguhkan sebuah peristiwa tragis dimana Joon-ha menginjak ranjau karena ingin mengambil kembali kalung hadiah dari Jo-hee yang terlepas saat dia berlari menghindari tembakan musuh. Karena kejadian ini, Joon-ha terpaksa harus kehilangan penglihatannya.

Joon-ha akhirnya wafat karena sakit setelah sempat bertemu dengan Jo-hee di satu masa, saat dia sudah buta. Agar Jo-hee bisa menemukan kebahagiaannya, Joon-ha mengaku bahwa dia sudah menikah (padahal belum). Jo-hee pun akhirnya menikah dengan Tae-soo dan memiliki anak perempuan bernama Ji-hye. Joon-ha akhirnya bener menikah setelah itu dan juga memiliki anak.

Pararel dengan rentetan kisah Joon-ha, Jo-hee dan Tae-soo, Ji-hye pun mengalami rangkaian kisah percintaan yang menarik untuk disimak. Ji-hye jatuh cinta dengan Sang-min, sementara seorang temannya juga mengejar cinta lelaki rupawan itu. Tapi nyatanya hati Sang-min sudah terpaut pada Ji-hye. Untuk percintaan masa muda/masa kini ini, sutradara juga berhasil menciptakan gambar-gambar yang menyentuh hati lagi romantis. Seperti saat Ji-hye dan Sang-min berlari di tengah hujan mengenakan jaket Sang-min sebagai pelindung. Padahal saat itu Sang-min memiliki payung yang sengaja dia tinggalkan agar dapat berhujan-hujan dengan lebih intim bersama Ji-hye.

Singkat cerita Ji-hye dan Sang-min akhirnya menjadi sepasang kekasih. Di satu waktu, saat menghabiskan waktu bersama, Ji-hye bercerita kepada Sang-min tentang penemuannya atas kisah cinta ibunya lewat beberapa dokumen yang ditulis tangan. Runut Ji-hye bercerita kisah sedih tersebut. Mulai dari awal ibunya bertemu dengan Joon-ha sampai akhirnya harus terpisahkan oleh maut. Tak diduga, Sang-min tersedu sedan mendengarkan cerita Jin-hye. Dan tanpa diduga, Sang-min mengeluarkan sebuah kalung warisan dari almarhum Ayahnya. Kalung yang dipegang Sang-min ini nyatanya adalah kalung yang pernah diberikan oleh Jo-hee ibu Ji-hye kepada Joon-ha, ayah dari Sang-min.

Baca juga: ENCOUNTER 남자 친구. Romansa Cinta Mengharu Biru
THE CLASSIC.  Takdir dan Warisan Cinta Ji-hye 지혜 dan Sang-min 노래 민
Adegan romantis di tengah rintik hujan antara Sang-min (In-sung) dan Ji-hye (Ye-jin)

Review Pribadi

Sungguh. Film ini salah satu dari sekian banyak film apik yang dibintangi oleh Ye-jin. Meskipun kita dibawa mondar-mandir oleh 2 masa, plot twist dan flashback nya tak bikin kita bingung sama sekali. Semua mengalir dengan mulus, tidak dipaksakan dan tetap konsisten di satu benang merah yang sama.

Di tengah adegan-adegan serius dan melankolis antara Jo-hee dan Joon-ha serta Ji-hye dan Sang-min, banyak terselip adegan lucu yang bikin kita tersenyum bahkan tertawa terbahak-bahak. Apalagi saat melihat bagaimana usaha Tae-soo untuk menarik perhatian Jo-hee dan bagaimana Joon-ha serapih mungkin menyembunyikan kisah cinta backstreetnya di hadapan Tae-soo. Bisa kan dibayangkan seorang Joon-ha berkali-kali membantu Tae-soo mengarang dan menuliskan surat untuk Jo-hee. Nah di bagian tulis menulis surat inilah akhirnya menjadi keunikan hubungan percintaan Joon-ha dan Jo-hee. Secara ya. Di jaman jadoel begitu, hanya surat menyuratlah yang menjadi media penyambung hati. Tae-soo yang baik hati malah mengijinkan Joon-ha mencatut namanya, agar bisa tetap menulis kalimat-kalimat romantis untuk Jo-hee.

Chemistry antara Ye-jin dan Seung-woo tergarap dengan sangat manis. Kisah cinta tanpa restu yang selalu menjadi tema yang begitu menarik untuk dihadirkan dalam sebuah layar lebar. Saya sangat menikmati setiap adegan kebersamaan mereka yang dihadirkan tanpa kemesraan yang berlebihan. So very sweet and too awesome untuk mengusap air mata dengan berlembar-lembar tissue.

Endingnya pun sangat manis dan begitu berkesan di hati. Sangat tidak terduga. Saya banjir oleh air mata. Padahal film ini ditutup dengan happy ending. Apalagi saat melihat Sang-min mengeluarkan dan menyerahkan sebuah kalung ke hadapan Ji-hye sembari sesenggukkan. Tuhan ternyata punya rencana dan mengatur garis jodoh yang begitu indah untuk Joon-ha dan Jo-hee. Meskipun keduanya tidak bisa bersatu sebagai sepasang suami istri di masa lampau, tapi nyatanya doa mereka untuk hidup bersama diwariskan kepada anak-anak mereka, Ji-hye dan Sang-min, di masa sekarang.

Score saya untuk film ini adalah 9/10.

1 nilai yang kurang adalah pada acting In-sung. Gak tau ya. Di film ini kemampuan berlakon In-sung tidak begitu tergali. Sangat berbeda dengan actingnya di film-film atau drakor yang pernah dia bintangi. Ekspresinya cenderung flat. Bahkan tatapan romantis penuh cinta tidak terlihat saat dia dalam scene yang sama dengan Ye-ji. Dan ini juga saya baca di beberapa tautan yang membahas soal The Classic. Persis dengan pendapat saya begitu selesai menonton film ini.

Tapi overall, The Classic is a must seen loveable movie ever. Terutama untuk mereka yang mencintai melodrama dan percaya dengan adanya karma. Lewat film ini pula kita diajak untuk menelaah sebuah cinta sepasang manusia yang begitu kuat dari awal hingga akhir, dan bagaimana Tuhan telah mempunyai rencana yang sangat sempurna untuk semua makhluk ciptaan-Nya.

Baca juga: REPLY 1988 답장. Tetangga Rasa Keluarga dan Persahabatan Penuh Makna이웃 가족의 의미와 의미있는 우정
THE CLASSIC.  Takdir dan Warisan Cinta Ji-hye 지혜 dan Sang-min 노래 민
THE CLASSIC.  Takdir dan Warisan Cinta Ji-hye 지혜 dan Sang-min 노래 민

#TheClassic #KoreanMovie #FilmReview

18 COMMENTS

  1. Wahh, aku selalu cintaaa dgn akting Son Ye Jin (yg jadi Yon Se Ri di CLoY kan ini mba?)
    Dia tuh cantik, ramah, lucu, gemesin, apa yaaa… punya inner beauty yg strong bangeeettt

    Kayaknya mau aku tonton weekend ini dah. Gemessshh

    • Bener Mbak Nurul. Son Ye-jin nya Kapten Rie di CLoY.

      Actingnya emang jempolan. Sudah beberapa filmnya yang juga saya tuliskan di sini. Mengesankan banget lah. No wonder kalo dia sudah punya 50an penghargaan di bidang seni peran.

  2. Wah, ternyata Mbak Annie pencinta drakor juga ya hehehe :) Aku sih ga ngikutin. Btw film percintaan tanpa restu kayak gini bisa bikin termehek2, mewek terus jadinya. Habis berpa lembar tissue tuh mbak? Wkwkwkwkwk… Gemezzz deh kayaknya kalo aku nonton juga Enaknya sendirian ga ada orang. Kan malu sesenggukan diliatin hihihi :)

    • Hahahahaha. Nonton yang ini pasti melow banget deh Nur. Meski diselingin dengan adegan-adegan lucu dan bikin gemes hahahaha. Ayok nonton. Highly recommended nih

  3. Wah ngga jadi nonton deh waktu baca akting In Sung nggak maksimal

    karena banyak film korea yang bagus, yang pertama saya pilih biasanya yang diperankan aktris/aktor yang saya suka

    hihihi …. kecuali film/dramanya kenbagetan bagusnya.

    Dapet rating 2 digit dan banyak penghargaan dan ide kisahnya saya suka.

    • Nah itu dia Mbak Maria. Kemampuan acting In-sung di film ini kurang digali menurut saya. Beda banget dengan film-filmnya yang lain, yang sudah sempat saya tonton. Pas baca review dari berbagai portal juga banyak yang punya pendapat yang sama dengan saya.

      Sama tuh dengan saya. Nonton film ini karena Son Ye-jin nya hahahaha. Dari CLoY, saya mulai menelusuri film-film dia yang ternyata keren-keren juga. No wonder kalau Ye-jin ini sudah mendapatkan 50an penghargaan di bidang seni peran.

  4. Son Ye Jin masih muda sekali di sini ya yuk. Kemarin aku baru abis nonton film dia yang Be With You. Sedih abis nontonnya. Sama kayak The Classic ini, banyak flashback. Tapi justru menjelaskan alur cerita. Aku belum nonton The Classic ini, dan soal karma, kalau secara drama aku percaya, tapi dalam real life, tidak ada karma dalam Islam.

    • Bener Rien. Film 2003. Jadi Ye-jin ini masih di usia 21 tahun. Baru 3 tahun dari debut dia.

      Banyak Rien ternyata film-film dia yang bagus-bagus. Beberapa dah sempat aku tulis di sini. The Last Princess juga keren habis. Be With You, The Truth Beneath, A Moment to Remember, Something In The Rain (drakor), aaahh apa lagi ya hahahaha. Actingnya keren ini Ye-jin. No wonder kalo sudah dapat 50an penghargaan dari film dan drakor.

  5. ini berarti film ya, movie, tidak berseri-seri… aku jadi tertarik buat nontonnya. di netflix atau viu atau rakuten, aku selalu nonton drama… sekalinya nonton movie carinya india mulu…hehehe… jadi pingin cari movie korea juga.

    • Iya Mbak Ade. Ini movie. Aku sih waktu itu nonton via Telegram. Tapi keknya di Netflix atau Viu juga ada.

  6. Film Son Yejin yg gak terlupakan sama saya sampai sekarang adalah A Moment to Remember. Sampai sekarang masih jadi one of the best. Hehehe.

    The Classic benar-benar klasik ya ceritanya. Ternyata oh ternyata kejadian lagi di anaknya. Gak kebayang kalo ibu Jihye dan ayah Sangmin jadi nikah dulu, mungkin kedua anaknya di masa sekarnag gak bakal jadi sepasang kekasih. Mirip-mirip cerita Love Rain gak sih mba? Yg main Jang Geun Suk dan Yoona.

    • Saya juga sudah nonton The Moment to Remember. Bagus ceritanya.

      Son Ye-jin memang main di sinema yang bagus-bagus ya Mbak Mutia. The Last Princess, Be With You, The Truth Beneath, juga bagus-bagus. Termasuk drakor seperti Crash Landing On You dan Something In The Rain.

      Saya belum nonton yang Love Rain. Nanti tak tonton ah

  7. settingnya jadul yaa, aku agak kurang suka setting jadul hihi, tapi baca reviewnya ku jadi penasaran hahahha piye dong jadinya ini deh?

    • Film ini dibuat dalam 2 setting. Masa lalu (jadul) dan masa kini. Semua dihadirkan seimbang. Highly recommended untuk ditonton.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here