Ketika mendapatkan undangan dari Suku Dinas Perindustrian dan Energi (SDPE) Jakarta Utara untuk bergabung dalam PROGRAM OK OCE 2018 yang digagas oleh PEMDA DKI JAKARTA, saya dan beberapa anggota keluarga FIBI JEWELRY (Mbak Yayuk, Dewi, Ratu, dan Shierley) langsung bergerak merancang program yang telah diamanahkan kepada kami.

Setelah di 2017 ditugaskan sebagai pengajar aneka craft berbahan baku kawat, payet, dan tali nylon untuk warga Rusunawa, Marunda, Cilincing pada November 2017, kali ini kami mendapatkan amanah untuk mengajarkan aneka kerajinan tangan berbahan dasar kain perca untuk 6 Kecamatan di Jakarta Utara. 6 Kecamatan yang dimaksud adalah: Kecamatan Cilincing, Kecamatan Kecamatan Tanjung Priuk, Kecamatan Koja, Kecamatan Kelapa Gading, Kecamatan Penjaringan, dan Kecamatan Pademangan dengan jumlah peserta 30 (tiga puluh) s/d 40 (empat puluh) orang untuk setiap Kecamatan.  Sebuah tantangan yang istimewa, karena notabene jumlah murid kali ini adalah yang terbanyak sepanjang sejarah mengajar craft  walaupun terbagi dalam 6 kelompok sesuai area tempat tinggal peserta.

Baca juga: Craft Workshop di Rusunawa Marunda Jakarta Utara | Membagi Ilmu, Menjejak Bumi, dan (selalu) Bersyukur

Permintaan materi ajar pun sangat bervariatif, tidak terpaku pada craft perhiasan atau asesories saja tapi juga home decor dan pernak pernik kerajinan perca lainnya seperti clutch dan dompet.  Kami pun diminta untuk membagi ilmu keahlian dengan hasil yang indah, menjual (baca: gampang terjual), tapi (tetap) dapat diproduksi dengan dana terbatas.  Persyaratan lainnya adalah bawah keahlian yang diajarkan dapat dikerjakan murni handmade tanpa bantuan alat berat seperti mesin jahit, alat potong massal, atau teknologi canggih lainnya.  Semua hal penting ini bertujuan agar mereka yang mengikuti pelatihan, sebagian besar adalah ibu-ibu rumah tangga dengan keterbatasan finansial, dapat berkembang menjadi para wirausahawan industri baru.

Pertemuan demi pertemuan serta koordinasi melekat berlangsung konsisten dalam 3 (tiga) bulan sebelum program efektif berlangsung pada awal Maret 2018.  Diskusi penuh rinci kami lakukan baik dengan Dinas Perindustrian dan Energi Pusat dan SDPE Jakarta Utara maupun antara kami berlima.  Penyusunan acuan kerja dan penggunaan dana pun cermat dilakukan agar tidak keluar dari jalur yang sudah ditetapkan.  Walaupun pada akhirnya, sembari program berjalan, adanya arus permintaan di luar rencana dan munculnya ide-ide baru, mengharuskan kami melakukan pembelian bahan baku di luar dana yang sudah disediakan.  Barisan tantangan yang sangat menguji emosi, keahlian koordinasi di dalam tim, bahkan ritme professionalisme FIBI yang memang selama 3 tahun terakhir lebih berfokus pada pengajaran ketimbang produksi.

Akhirnya, atas kesepakatan bersama dan menjamin kesiapan fisik yang mumpuni, pelatihan kerajinan tangan akan dijalankan dalam 3 bulan, Maret, April, dan Mei.  Setiap bulan diselenggarakan untuk 2 Kecamatan.  3 hari berturut-turut untuk praktek langsung/pengerjaan produk dan 1 hari untuk bimbingan tekhnis (seperti pembuatan laporan keuangan sederhana, permodalan, dll) yang dikoordinir oleh Perkumpulan Pergerakan OK OCE yang memang telah memiliki kantor khusus di setiap Kecamatan.

Seperti yang disampaikan oleh Dinas Perindustrian di awal meeting koordinasi, Pelatihan Craft yang akan kami bimbing adalah satu dari 4 pelatihan yang bersinergi dalam Program OK OCE.  3 lainnya adalah kuliner (sebagian besar adalah bakery), fashion (fokus kepada busana), dan service elektronik (termasuk di dalamnya service handphone).

Sementara dalam keseluruhan program, Pelatihan merupakan titik ke 2 dari 7 PAS (7 Langkah Pasti Sukses) yang dicanangkan oleh Pemda DKI Jakarta.  Ketujuh PAS yang dimaksud adalah: P1 (Pendaftaran), P2 (Pelatihan), P3 (Pendampingan), P4 (Perizinan), P5 (Pemasaran), P6 (Pelaporan Keuangan), dan P7 (Permodalan).

Jadi jika ingin menelaah lebih jauh, peranan kami (saya dan teman-teman) adalah hanya titik kecil dari sebuah rangkaian rencana besar yang sudah disusun oleh Pemda DKI JAKARTA di bawah pimpian Anies Baswedan dan Sandiaga Uno.  Tapi meskipun hanya seujung jari, saya dan para sahabat yang mendampingi saya, merasakan bangga yang tak terkira karena bisa terlibat secara langsung dalam sebuah kegiatan positif yang dibangun oleh pemimpin sebuah provinsi yang menjadi mercusuar tanah air tercinta.

 

Pelatihan Untuk Kecamatan Cilincing

Bertempat di Ruang Pola, lantai dasar Kantor Camat Cilincing, pelatihan untuk warga Kecamatan Cilincing, diikuti oleh ibu-ibu dan 1 orang bapak dari berbagi profesi dan rentang umur.  Beberapa dari mereka sudah berusia di atas 60 tahun, tapi ada juga yang masih berumur 20an tahun.  Ada yang sehari-harinya berjualan makanan, perias penganten, memiliki warung kelontong, bahkan ada yang sudah berjualan aneka kerajinan tangan walaupun dengan skala pemasaran yang belum begitu luas.

Dengan ketekunan dan kegigihan belajar yang luar biasa, sebagian besar peserta sangat mematuhi aturan belajar yang sudah ditetapkan, seperti datang tepat waktu, mengerjakan tugas, dan mendengarkan instruksi dengan seksama.  Sarana dan prasarana belajar pun sangat mendukung.  Ruangan luas, AC yang nyaman, dan sirkulasi udara serta cahaya yang memadai menjadi nilai plus untuk sebuah penyelenggaraan pelatihan.  Plus whiteboard bersih yang sangat memudahkan saya menyampaikan beberapa informasi tekhnis pengajaran.

Bahan ajar yang disampaikan adalah produk asesories (kalung, bros, jepit rambut) dengan berbagai teknik pembuatan dan materi, dompet kecil (pouch), dan magnet kulkas dengan pola perca bunga matahari.  Walaupun padat kegiatan dari pkl. 09:00 wib – pkl. 16:00 wib setiap harinya, nyatanya 95% peserta dapat menyelesaikan semua materi yang diberikan tepat waktu.

Berada di lantai dasar buktinya sangat membantu kami untuk berlalu lalang, sekedar mengganti pandangan mata yang terkadang lelah, dan jajan di 2 buah warung yang walaupun sangat bersahaja tapi tetap memanjakan lidah.  Sambil menulis ini, saya masih teringat sama tahu isi dan bakwan goreng yang mantab enaknya.  Belum lagi beberapa penjaja panganan tradisional yang selalu tampak berjejer sepanjang jalan di depan kantor Camat.  Jalan yang selalu penuh dengan pilihan jajanan tempo dulu, seperti onde-onde, pisang goreng, kue pukis, kue putu, dll di setiap waktu kami pulang.

 

Pelatihan Untuk Kecamatan Tanjung Priuk

Untuk warga Tanjung Priuk, pelatihan diadakan di Lantai 11 Kantor Walikota Jakarta Utara. Walaupun diadakan di tempat bekerjanya orang nomor 1 di Jakarta Utara, ruang belajar yang disediakan, menurut hemat saya, belum memenuhi standarisasi kenyamanan pelatihan craft.  Selain tak berpendingin udara, papan untuk menulis sudah tampak usang dan jarang digunakan.  Atau sering digunakan tapi jarang dibersihkan.

Satu hal yang istimewa untuk kelas kali ini adalah 2 peserta laki-laki yang tampak selalu antusias mengikuti pelatihan sampai selesai.  Buatannya pun cenderung rapih melebihi standard seorang pemula.  Pak Anwar, orang yang saya maksud, menurut info yang didapat dari rekan sekelasnya, saat saya menuliskan ini, sudah mendapatkan bantuan permodalan dan menerima beberapa pesanan untuk beberapa produk yang sudah beliau pelajari di kelas.  Alhamdulillah.

Secara keseluruhan Tim Tanjung Priuk memiliki kemampuan beradaptasi dan mencerna materi ajar dengan sangat baik.  Suasana belajar pun penuh rasa kekeluargaan seperti yang kami dapat ketika mengajar di Cilincing.  Akan tetapi skala keberhasilan pencapaian penyelesaian materi, Tim Tanjung Priuk harus mengakui keunggulan Tim Cilincing, karena ada beberapa peserta yang tidak menyelesaikan tugasnya dengan baik walaupun  materi craft yang dipelajari sebagian besar sama.

 

Pelatihan Untuk Kecamatan Koja

Gelanggang Remaja Kecamatan Koja menjadi venue pelatihan kali ini.  Gedung 2 lantai yang tampak megah di tengah-tengah perumahan penduduk ini terlihat bersih dan sangat terawat dengan fasilitas parkir yang sangat memadai.  Lantai atas gedung digunakan sebagai sarana olah raga, sementara di bawah terdapat sebuah aula besar yang bisa disewakan untuk publik (biasanya acara kawinan, bazaar, pameran, dll) dan beberapa ruangan berukuran sedang yang digunakan untuk pelatihan-pelatihan seperti kami saat itu.

Tingginya langit-langit ruangan dan 3 pendingin ruangan bertenaga besar, ternyata harus mengakui kekalahannya dengan sinar matahari menembus kaca-kaca besar yang pada saat pelatihan memang sedang garang-garangnya.  Panas dan peluh menempel di badan pun tidak terhindarkan.  Keuntungannya adalah, selama pelatihan kita tidak perlu menyalakan lampu.  Betul-betul hemat energi.  Kaca bening berjejer memenuhi dinding luar sudah lebih dari cukup mengakomodasi kebutuhan cahaya.

Pada pelatihan kali ini, peserta menerima bahan ajar berupa bantalan kursi berpita, kalung labu-labu kecil bertumpuk panjang (yang rancang visualnya saya bebaskan sesuai kreasi masing-masing, dan clutch 2 sisi.  Awalnya para peserta ditawarkan untuk mengerjakan ornamen bunga mawar yang diaplikasikan pada jilbab, tapi tawaran ini ternyata tidak mendapatkan sambutan sesuai harapan.  Saya sangat menyayangkan hal ini karena sepanjang sejarah dedikasi saya pada dunia pengajaran, tak pernah sekalipun murid menolak materi yang akan disampaikan.  But overall, 90% peserta pelatihan mampu mengerjakan tugas dengan baik.  Hasil pekerjaannya pun terlihat maksimal karena hasil akhir telah mengikuti arahan-arahan yang diberikan.

 

Pelatihan Untuk Kecamatan Kelapa Gading

Euforia dan semangat berlatih sangat kental terasa begitu saya mengajar untuk warga Kecamatan Kelapa Gading.  Beberapa kelompok ibu-ibu dari PKK tampak berdandan cantik, berseragam dan begitu menguasai tempat pelatihan.  Belakangan saya tahu bahwa ibu-ibu ini aktif dalam setiap kegiatan yang diadakan oleh Kecamatan.  Mereka tampak kompak dan hampir sebagian besar terlihat berada di golongan strata menengah ke atas, yang terdeteksi dari tampilan fisik dan obrolan-obrolan berkualitas.  Beberapa dari mereka malah memiliki peranan penting dalam kegiatan kewanitaan, guru-guru kerajinan tangan untuk sekolah-sekolah bergengsi, dan ada yang juga berprofesi sebagai pengusaha.

Hal yang istimewa dari pelatihan kali ini adalah kehadiran Bapak Manson Sinaga, Camat Kelapa Gading, mendampingi Walikota Jakarta Utara, Bapak Husein Murad, yang akan secara resmi membuka rangkaian pelatihan untuk warga kecamatan Kelapa Gading.  Didaulat untuk duduk di deretan bangku terdepan, saya mendapatkan kesempatan berkenalan dengan satu dari sekian banyak wanita hebat di Indonesia.  Adalah Ibu Suci Cyntia, Lurah Kelapa Gading Barat, lulusan APDN berusia (baru) 32tahun dan telah menjadi Lurah sejak 1.5tahun belakangan.  Awalnya saya mengira beliau adalah ajudan dari Bapak Walikota Jakarta Utara.  Tapi penjelasannya yang ramah dan singkat akan kedudukannya, malah membuat saya terkesima.  Beliau pun belakangan tau bahwa saya yang akan menjadi nara sumber pelatihan, dan tertawa lebar menyadari ketidaktahuannya setelah kami berfoto bersama.  Kami pun lantas berpelukan erat dan akrab seperti dua sahabat yang tidak bertemu bertahun-tahun lamanya.

Mempelajari pembuatan bantalan kursi berpita, ornamen bunga mawar untuk jilbab/kerudung, dan clutch dengan lidah/tutup plus hiasan bunga, saya menyaksikan geliat belajar yang cukup istimewa.  Setelah lebih dari 1/2 hari pertama digunakan untuk acara formal (pembukaan resmi dengan kehadiran Walikota), saya mengacungkan jempol untuk para pesertanya yang nyatanya sanggup dan mampu menyelesaikan materi pembelajaran tepat waktu.  Raut dan ekspresi kekecewaan sempat mereka sampaikan begitu mengetahui bahwa mereka tidak akan mempelajari teknik-teknik pembuatan kalung perca.  Menurut mereka segmen asesories untuk pasar di Kelapa Gading masih sangat luas bahkan memiliki scope pasar yang menjanjikan.  Next time ya ibu-ibu.  Semoga dilain waktu saya diberikan kesempatan untuk menularkan ilmu yang diinginkan di masa yang akan datang.

 

Pelatihan Untuk Kecamatan Penjaringan

Berangkat ke Kecamatan Penjaringan berarti saya kembali mengingat beberapa masa dalam hidup saya, tepatnya masa-masa dimana saya menyelesaikan pendidikan dasar di tahun 1981/1982, masa kuliah di Jakarta dan masa-masa awal hingga perawan ting-ting mencari nafkah di Jakarta.  Kala itu, daerah Pluit dan Muara Karang, masih terbilang sepi karena berada di sudut ujung utara Jakarta.  Belum ada mall, belum ada hotel-hotel megah, dan beberapa bagian tanah masih berupa daerah resapan dan taman-taman lebar, plus sebuah danau besar dengan pohon-pohon tinggi dan sebuah penangkaran buaya.

Area yang melipir ke laut ini menjadi sangat strategis karena merupakan salah satu akses terdekat ke Bandara Internasional Soekarno Hatta.  Dengan pembagian jalan yang sudah tersekat-sekat dan banyaknya bangunan baru, saya bahkan sempat tidak mengenali lingkungan yang hampir 10tahun mengelilingi hidup saya.  Kantor Camat tempat pelatihan berlangsung pun terlihat berbeda dari kantor-kantor camat lainnya, baik dari segi warna dan arsitektur bangunan yang menjadi ciri khas kantor kecamatan.  Pertanyaan kami pun langsung terjawab begitu mendengarkan penjelasan dari beberapa sumber yang menyampaikan bahwa bangunan 4 lantai ini akan dirubuhkan dan dibangun kembali mengikuti standarisasi kantor pemerintahan.  Dan kami adalah rombongan terakhir yang akan menggunakan seluruh fasilitas gedung sebelum semua dirontokkan dan rata dengan tanah.

Pelatihan kali ini membawa beberapa catatan-catatan penting tentang arti koordinasi yang wajib dijalankan jauh sebelum acara berlangsung.  Bagaimana membangun kerjasama dalam beberapa hirarki pemerintahan pun begitu terasa selama pelatihan diadakan.  Berbeda dari 4 acara yang sama di 4 kecamatan yang berbeda, tampaknya kesibukan bebenah dan ngungsi ke gedung sementara, melonggarkan sistem pelimpahan kerja antara mereka yang bergerak di pusat dengan mereka yang bertanggung jawab di sub daerah.

Saya dan anggota tim sempat merasakan hampa semangat, melihat jam demi jam terbuang tanpa arti, menunggu para peserta yang datang satu demi satu.  Perasaan sedih sempat berkecamuk di dada menyadari betapa sayangnya fasilitas yang diberikan pemerintah daerah tidak tersalurkan dengan baik kepada warganya.  Seharusnya peluh dan tenaga yang sudah saya siapkan bisa dimanfaatkan untuk mereka yang haus ilmu dan mau menabung pengetahuan khususnya keahlian mengelola perca, menjadi sesuatu yang bermanfaat, bahkan bisa menjadi sumber penghasilan baru.

Kekecewaan itupun akhirnya bisa terobati, setelah perlahan-lahan setiap kursi terisi, beberapa meja dibuka, dan saya pun harus menggunakan microphone agar suara dan instruksi dapat terdengar jelas oleh semua yang hadir.  Perjuangan setiap hari menaiki 3 set anak tanggapun mulai terobati di hari ke-2.  Meskipun terasa tertatih-tatih akhirnya pengajaran pembuatan tempat tissue, pouch berpita, kantong HP dan oramen bunga untuk baju, bisa terselesaikan dengan baik hingga hari terakhir.

 

Pelatihan Untuk Kecamatan Pademangan

5 kecamatan sudah terlewati, hingga akhirnya di minggu ke-2 Mei 2018, saya, Mbak Yayuk dan Dewi, menyelesaikan rangkaian tanggung jawab kami untuk Program OK OCE.  Dikelilingi oleh padatnya rumah penduduk yang dikepung oleh sungai sungai beraroma luar biasa yang mengelilingi Ancol, truk dan container sepanjang jalur pelabuhan, mengajar untuk warga Pademangan, menjadi penutup yang penuh kesan.  Bukan hanya terkesan dengan sambutan penuh persahabatan dari ibu-ibu yang tampak semangat berlatih, tapi juga oleh 4 set anak tangga yang sungguh menguji kekuatan dengkul dan kaki.

Walaupun di kecamatan ini kami merasakan adaptasi ilmu yang terseok-seok, nyatanya justru di tempat ini kami banyak belajar untuk menjadi guru yang jauh lebih sabar dari biasanya.  Pengarahan yang berulang-ulang akhirnya mampu mengajak seluruh peserta menyelesaikan 4 materi pengajaran yaitu tempat tissue, clutch lipat dengan duplex, kantong HP, dan gelang serut.  Lelah mengulang beberapa arahan nyatanya terobati dengan ekspresi riang ibu-ibu yang saling bercanda, bernyanyi, dan mengolok iseng satu dengan lainnya.  Cukuplah untuk membuat hati terhibur di tengah teriknya matahari yang menerobos ruang pelatihan tanpa ampun.  Terimakasih ibu-ibu sekalian.  Suasana penuh kekeluargaan seperti ini, menggerus ketegangan yang susul menyusul dengan target penyelesaian produk.

 

Penutup Yang Selalu Berisi

Berkaca dari pengalaman yang telah lewat, saya selalu menetapkan hati untuk menyempatkan diri memberikan pengarahan, nasehat, dan motivasi, di hari terakhir dari rangkaian belajar.  Memanfaatkan waktu 1 jam sebelum kelas berakhir, ada beberapa hal yang tak pernah saya lewatkan untuk disampaikan kepada murid-murid saya.

Pertama adalah mengajak mereka untuk tetap berpijak di atas tanah dan menyadari bahwa tidak ada satu pun di dunia ini yang murni kita buat tanpa bantuan orang lain.  Nothing’s new in the earth.  Menjadi lebih pintar dan sarat akan kebisaan bukanlah alasan untuk kita menepuk dada, menyombongkan diri, dan menafikan mereka/orang lain yang mungkin berada jauh di atas kita.  Manusia bisa hancur karena kesombongan.  Kegagalan bisa muncul juga karena kesombongan.

Kedua adalah menghargai diri sendiri (self respect) dan menghargai orang lain (to respect others).  Semua memiliki pengaruh timbal balik yang tidak dapat dihindarkan.  Angkatlah nilai diri sendiri dengan memupuk kualitas agar kita bisa dihargai orang lain.  Buatlah orang lain menghormati kita agar kita sadar akan betapa berharganya kemampuan yang kita miliki.

Ketiga adalah bagaimana menghitung harga jual yang pantas dan tidak mematikan pasaran untuk produk yang sama.  Hargailah waktu, tenaga, dan pikiran selama kita berkarya, dengan tentu saja menghitung dengan cermat modal bahan baku yang sudah dikeluarkan.

Keempat adalah never stop growing.  Tetaplah berinovasi.  Meningkatkan kualitas pengerjaan dan terus membuka mata atas perubahan-perubahan yang terjadi di dunia craft yang kita geluti.

Kelima adalah menyambung silaturahim dan bergaul dengan mereka yang memiliki minat sama plus membawa pengaruh positif bagi diri pribadi maupun bagi bisnis kita.  Pribadi kita akan terbentuk dengan baik jika kita bertumbuh kembang bersama orang-orang yang memberikan energi yang baik pula.

Keenam adalah tetap menjaga kesehatan fisik.  Bekerja dengan kondisi dan posisi yang sehat, seperti duduk di kursi yang nyaman dan bekerja menggunakan meja dengan ketinggian yang sejajar dengan lipatan tangan.  Minum sesuai anjuran yaitu 2-3 liter per hari.  Membiasakan diri bergerak dalam jangka waktu tertentu agar tulang belakang, kaki dan mata tidak “terkunci” pada posisi yang melelahkan dalam jangka waktu yang lama.

 

Menutup masa pelatihan, saya selalu menyempatkan memilih 3 peserta terbaik.  Hal ini saya lakukan sebagai bentuk penghargaan kepada mereka yang sudah dengan gigih belajar dan mengikuti arahan sebaik mungkin.  Hadiah yang diberikan tidak bernilai tinggi, tapi pemilihan ini adalah sebuah penghargaan atas segala upaya mereka yang pantas diapresiasi.  Poin pemilihan atau menjadi peserta terbaik, bukan hanya dari hasil akhir pengerjaan, tapi juga dari kedisiplinan waktu, kehadiran, dan tentu saja tekun mengikuti arahan-arahan yang diberikan selama pelatihan berlangsung.

Terimakasih saya haturkan untuk Dinas Perindustrian dan Energi DKI JAKARTA, Suku Dinas Perindustrian dan Energi Jakarta Utara (Bapak Zaeni, Ibu Linda, Bapak Chairil Anwar, Dini, dan Aji), dan Perkumpulan Pergerakan OK OCE yang digagas oleh PEMDA DKI JAKARTA.  Melalui pelatihan ini, saya diberikan kesempatan untuk mengajar dan belajar, serta mengabdi untuk negeri tercinta, sekaligus mengembangkan diri agar menjadi lebih baik di masa yang akan datang.

Peluk erat untuk tim yang berada di belakang saya dan memberikan dukungan tanpa henti, bahkan ketika di tengah-tengah proses mengajar saya harus terkepung sementara waktu karena kondisi fisik yang terjun bebas.  Mbak Rahayu Andayani dan Dewi Damayanthi.  Kalianlah saudara-saudara saya yang sesungguhnya, penyemangat, pendengar keluh kesah, dan samsak ketika emosi melayang di atas.  Semoga pengalaman kalian mengajar bersama saya menjadikan kalian juga guru yang handal, yang sudah teruji, dan kaya kualitas dari masa ke masa.

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here