Ke Cirebon lagi.  Yeay!!

Setelah liburan lebaran belum lama ini (Juni 2018), ajangsana ke Cirebon seminggu yang lalu adalah dalam rangka menjalankan amanah.  Yup.  Amanah melalui sebuah kesempatan yang tidak terduga untuk brand perhiasan saya, FIBI Jewelry, dari sebuah perusahaan retail, untuk bergabung di outlet mereka bernama LUBNA yang berada di Cirebon Super Block Mall (CSBM Cirebon).

Walaupun masih merasakan remuk redam setelah seminggu ngelencer di Bali dan baru merasakan kasur rumah malam sebelumnya, siang hari itu saya memacu mobil menuju Cirebon ditemani Mbak Yayuk dengan semangat yang berkibar-kibar, mengalahkan merah putih di puncak Gunung Jayawijaya (lebay).  Ratusan perhiasan siap dibagasi berikut peralatan lenong serba kayu, mantab membawa kami bertemu Melia yang sudah duluan sampe di Cirebon dan menunggu di Hotel Santika.

Melaju santai di jalan yang lengang dan relatif tanpa hambatan, kami pun sampai di Cirebon hanya dalam waktu kurang lebih 2 jam berkendara.  Itupun sudah dengan diselingi mampir di Rest Area, sholat, dan ngobrol ngalor ngidul tentang semrawutnya politik dengan sepasang suami istri yang duduk bersebelahan dengan kami saat menikmati kopi.  Asyiknya kami berada di dalam frekwensi dan pola pikir yang sama.  Jadi tak sempat terjadi bertumpahan darah dan baku hantam layaknya Banser yang sedang menghadang emak-emak.

Meninggalkan obrolan yang tampaknya gak bakalan tuntas berjam-jam, kami pun beranjak dari rest area dan melanjutkan sisa perjalanan.  Karena memang bukan musim liburan, lalu lintas di dalam kota pun lancar jaya.  Bermodalkan GPS, gak sampai 15menit, kami sudah disambut senyum ramah Bapak Security hotel yang melengkapi sumringahnya Meli yang sudah menanti duduk manis di sofa lobby hotel.

Layaknya sebuah hotel lawas, nama Santika sebenarnya masih bertahan diantara deretan hotel-hotel sekelasnya yang terus menjamur di kota Cirebon.  Setelah beberapa kali menginap di beberapa jejaring hotel ini di kota-kota besar, satu yang selalu saya kangenin tentang Hotel Santika adalah sarapan paginya dan lingkungan hotel yang selalu dikepung oleh hijaunya tanaman dan jauh dari konsep techno.  Setidaknya itu yang menyapa mata saya ketika mulai melangkahkan kaki di bagian depan hotel.

 

Function Area dan Facilities yang Ramah Lingkungan

Atap tinggi menjulang, kayu yang kokoh, guci-guci besar serta tangga yang landai menyambut kami di bagian depan.  Beberapa sofa dan meja kayu tampak tersusun cantik siap menyambut tamu yang menunggu proses check in dan check out, sekedar bercengkrama, atau pengen ngobrol santai sambil menikmati semilir angin yang nyaman bersikulasi karena ruang yang bebas tanpa dinding penghambat.

Masih di bagian lobby, menuju ke arah lift, ada sebuah rumah kayu berukir (mungkin bisa dibilang gazebo) yang dikelilingi oleh beberapa koleksi lukisan.  Di salah satu sisi, ada sebuah cafe dan drug store yang sayangnya tak sempat saya foto.  Sebuah gerobak kayu bertuliskan “Sekoteng Mutiara” juga ditaruh di sini.  Gerobak ini, saat kami keluar mencari makan di sore hari, ternyata melayani hidangan kudapan dan minuman tradisional.  Pengen nongkrong di sana, tapi perut nagih nasi dan teman-temannya.  Jadi yaaah terpaksa dilewatkan dulu.

Nah, buat yang ingin sekedar duduk-duduk di bagian belakang lobby ini, pihak hotel juga menyediakan sofa dengan pemandangan taman yang luas, yang menghubungkan antara bagian depan bangunan ke sebuah kolam renang berukuran grande di bagian belakang, sebuah restoran berukuran sedang di sisi kanan, dan ruang olah raga (fitness centre) di sisi kiri.

Suhu yang tidak begitu menyengat dan langit yang sangat cerah, membuat kami sedikit berlama-lama di sini.  Walaupun masih dengan bangunan yang lawas, menggabungkan sekian banyak sisi luar puluhan kamar dengan kolam renang bersih terawat plus hijaunya tanaman yang mengelilingi kolam dalam satu frame foto, nyatanya menghadirkan keindahan khas Santika, jejaring hotel nasional, yang ramah lingkungan.

Sejenak kami melupakan lambung yang mulai menjerit-jerit minta diisi.  Hingga akhirnya bener-bener kelaparan dan ngangkot ke salah satu mall untuk makan soto sepaket dengan ngerumpi dari Sabang sampai Merauke hingga malam hari.  Menikmati angin malam di sebuah kota kecil seperti Cirebon, kami pun gak melewatkan sensasi naik becak bonus angin sepoi-sepoi dan dudukan yang mblesek ke belakang plus bikin perjuangan begitu mau turun eeeaaaa.  Berat boncengan ya buk.

Baca juga : Staycation di Luxton Cirebon | Hotel Strategis di Tengah Kota Wisata

Baca juga : Ajangsana ke Batik Trusmi | Outlet Batik dan Craft Terbesar di Cirebon

 

Sarapan yang Sederhana

 

 

Naahh ini waktu yang saya tunggu-tunggu.  Entah kenapa setiap nginep di hotel/hostel/penginapan sekelas apapun, yang namanya sarapan itu selalu jadi skala ukur gengsi dan nama baik tempat yang bersangkutan.  Menurut saya loh ya.  Jadi ketika pagi tiba, saya semangat 45 mandi dan bersegera memoles diri (halah) sambil menggotong kamera kecil mirrorless si sahabat sejati.

Berkeliling sebentar untuk memanjakan mata dan menggugah selera, Santika dengan bijak memisahkan ruangan dalam ber AC untuk non-smoking dan sebuah teras kecil dengan meja terbatas untuk para ahli hisab.  Ukuran masing-masing ruangan tidak begitu besar.  Nyaris terlalu kecil jika semua kamar fully booked dengan ritme keluar masuk pengunjung sarapan yang lambat.

Untuk penataan sendiri cukup cantik.  Sentral buffet diletakkan di tengah dengan meja 4 sisi.  Berbagai ornamen dan wadah-wadah tradisional diletakkan disana-sini.  Sementara jenis hidangan sebagian besar cenderung ke menu nasional (seperti nasi goreng, mie goreng, sayuran, dan lain-lain), tapi tidak saya lihat kuliner khas Cirebon seperti nasi jamblang, empal gentong, tahu gejrot, dan lain-lain yang sangat populer dan selalu dicari oleh para wisatawan.  Ada sih Nasi Lengko.  Tapi karena sedang tidak lengkap materinya dan cenderung kering, saya memilih untuk tidak mengambil.

Di salah satu sudut disediakan lapak khusus kue-kue tradisional.  Buat saya yang tumbuh besar di jaman belum ada junk food pabrikan, ngeliat sebarisan dadar gulung, kue serabi, kue lapis, langsung senangnya minta ampun.  Jajan pasar dengan bahan-bahan non-artificial seperti ini selalu jadi pilihan utama ketimbang aneka bakery kekinian. Apalagi yang terlihat sarat dengan kadar gula.  Duuhhh inget-inget umur dah hahahahaha.

Melangkah ke sisi luar, area khusus ahli hisab, ada sebuah gerobak yang menawarkan kue serabi berbahan dasar tepung beras, aneka gorengan (tahu, tempe, bakwan), dengan minuman-minuman penghangat seperti air teh, air jahe, kopi yang disimpan dalam sebuah teko lawas dan ditaruh di atas sebuah tungku.  Mendadak pengen punya teko seperti ini.

Kemudian seperti biasa ada meja khusus yang melayani pembuatan telor.  Lumayan enak olahannya.  Pengen nambah tapi takut entar bisulan karena kebanyakan makan telor hahahaha.  Lagian karena penginapnya tidak begitu banyak, kentara kali lah kalo makan bolak balik nambah (ngakak sampai Bontang).

Oia teras tempat parkir egg stall dan gerobak merah ini menyatu dengan sebuah taman kecil yang menghubungkan resto dengan kolam renang.  Jadi untuk yang membawa anak-anak, pas banget nih sambil sarapan terus nungguin anak-anak nyemplung heboh pagi-pagi.  Dijamin gak akan beranjak berjam-jam dari sini.

 

Kamar Yang Hangat dan Nyaman

Untuk sebuah hotel yang sudah puluhan tahun dibangun, kamar yang kami tempati, Executive King, lebih dari nyaman.  Dengan ukuran luas sekitar 30m2, ada sofa panjang dan empuk untuk dijadikan kasur ke-2.  Jadi kalau nginap ber-3 masih terasa nyaman.  Disediakan juga 2 sofa kayu dan meja bulat yang sepanjang menginap kami jadikan markas berbagai camilan dan pernak pernik kerajinan tangan.

Walaupun masih dilengkapi dengan furniture lama, semua masih terlihat bersih dan terawat dengan baik.  Parquet kayu warna adem melengkapi warna membumi yang saya rasakan selama berada di dalam.  Kamar mandi pun bersih tak mengecewakan.  Toiletries lengkap dengan shower air panas dan dingin.  Jendela besar sangat membantu penambahan cahaya yang cukup minim.  Jadi secara keseluruhan tidak ada yang masuk kategori mengecewakan.

 

Melengkapi kebutuhan informasi, pihak Santika memberikan selembar peta dengan beberapa destinasi wisata dan tempat-tempat penting yang bisa kita kunjungi.  Walaupun informasi-informasi seperti ini bisa kita cari di Mbah Google, City Map versi Santika ini layak banget diapresiasi.  Setidaknya memberi inspirasi menyusun agenda wara wiri selama berada di Cirebon.

Siang itu kami (saya, Mbak Yayuk, dan Meli) meninggalkan Hotel Santika yang berada di Jl. Dr. Wahidin menuju CSBM dengan suasana hati yang riang.  Melangkah ke arah parkiran saya surprise liat mobil yang tampak habis dibersihkan.  Bonus pelayanan yang mengesankan buat saya.

Terimakasih Melia Surghani yang sudah berkenan memberikan ijin pada saya dan Mbak Yayuk untuk nebeng nginep di sini.  Bantuan yang sangat berarti untuk FIBI dan untuk saya secara pribadi.  Jadi bisa nulis lagi dan lagi.

 

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here