Waktu sudah menunjukkan hampir pkl. 17:00 wita ketika saya dan Fuli tiba di Denpasar.  Sore itu kami bergegas kembali ke rumah dari La Plancha di Seminyak karena harus melanjutkan perjalanan ke Ubud untuk menginap 2 malam di Ubud Terrace Bungalow.    Disambung dengan persiapan ini dan itu untuk 2 anak SD dan 1 balita yang lagi sregep-sregepnya (baca: banyak gerak dan polah), kami akhirnya ready on the road kembali di atas jam 7 malam.

Beruntungnya, malam itu (Jumat malam Sabtu), lalu lintas menuju Ubud sangat bersahabat.  Hanya mengalami sedikit kemacetan di ring road, setelah itu semua tampak biasa-biasa saja.  Bahkan lumayan sepi diluar dugaan.  Saya pun memutuskan untuk nyetir pelan-pelan sambil menikmati waktu mengobrol dengan Fuli sepanjang perjalanan.  Plus lebih berhati-hati karena baru kali ini nyetir sendiri menuju Ubud di malam hari.

Tiba di bungalow hampir tengah malam, saya merasakan hening dan sepinya Ubud plus udara serta angin semilir yang menyapu wajah dan tubuh.  Hanya satu dua orang yang terlihat mondar-mandir.  Restoran/cafe dan toko-toko sudah tutup.  Selebihnya hanya suara jangkrik dan sahabat-sahabatnya yang bersahutan di sana-sini, terutama ketika kami melangkahkan kaki menuju kamar yang letaknya jauh di belakang.  Di bawah minimnya cahaya dan puluhan anak tangga yang dikelilingi oleh tanaman-tanaman jangkung dan berdaun lebat, saya, Fuli, dan anak-anak berjalan lumayan jauh menuju kamar masing-masing.  Lebih lagi buat saya.  Berada di rumah/gedung bagian paling belakang, ditemani oleh petugas, saya terseok-seok menyeret kaki melewati jembatan, hutan di kanan kiri, nanjak beberapa anak tangga yang cukup curam, saya baru tiba di kamar.  Untungnya kamar saya berada di lantai dasar.  Jadi gak ada bonus tangga 2x lipat menuju lantai 2, yang keesokan harinya baru saya sadari tampak tinggi menjulang.

 

Gedung belakang ini bersisian dengan hutan lebat yang merupakan bagian dari Monkey Forest.  Kebayang dong bagaimana sunyi senyap yang begitu menyelimuti ketika sampai di kamar saya.  Setelah sempat duduk sebentar di teras kecil depan kamar sambil menghubungi Ika yang akan menemani selama menginap di sini, saya menghabiskan waktu sebentar untuk memotret suasana kamar yang tertata apik sebelum mandi dan merebahkan diri.

Karena tidak disediakan TV di dalam kamar, kantuk pun menyerang tanpa bisa dihindarkan.  Saya baru terbangun 2 jam ke depan oleh suara nyaring Ika.  Sedikit berbincang-bincang melepas kangen karena hampir 2 tahun tidak ketemu, Ika pun mengikuti jejak saya untuk segera ngukur kasur dan bangun sesuka hati keesokan harinya.  Toh ga ada hal atau siapapun yang bikin kami terburu-buru, kecuali agenda kegiatan ngider-ngider seputaran bungalow.

 

Fasilitas Kamar

Kamar di atas adalah kamar yang saya inapi di malam pertama. Keesokan harinya, kami dipindahkan ke bangunan 2 lantai yang berada di tengah.  Menempati sebuah kamar di lantai 2, kamar ke-2 ini berhadap-hadapan dengan gedung belakang yang barusan saya tempati dan hutan dengan pohon-pohon yang luar biasa rimbunnya.

Walaupun dengan tipe yang sama, kamar ke-2 ini lebih sempit dibandingkan dengan kamar ke-1.  Ukuran tempat tidurnya lebih kecil, berkelambu, dengan beberapa ukiran kayu khas Bali berwarna emas.  Looks perfect.  Hanya satu yang mengganggu adalah soal ketinggian. Saking tingginya itu tempat tidur, saya dan Ika harus jinjit dan sedikit mendorong badan kalau ingin naik.  Kurang cocok untuk mereka yang tidurnya lasak atau anak kecil yang heboh main-main di atas ranjang.  Dijamin bakal jatuh tunggang langgang.

 

Karena memang digolongkan dalam tipe yang sama (superior), kami mendapatkan semua perlengkapan yang serupa ketika menempati kamar sebelumnya.  Lemari besar dan gantungan baju yang banyak, cerek penanak air panas, beberapa sachet teh – kopi – dilengkapi dengan gula, handuk untuk berdua, sampo, dan sabun.  Kulkas kecil juga melengkapi.  Yang tidak ada itu adalah TV, sikat gigi, odol, dan in-house phone.

Untuk fasilitas yang disebutkan terakhir ini sepertinya harus benar-benar dipertimbangkan oleh pihak manajemen bungalow.  Jarak antara kamar dengan pusat pelayanan dan atau front office yang lumayan jauh, bikin penginap perlu usaha ekstra untuk sekedar bertanya atau memesan makanan contohnya.  Jadi selama menginap di sini, sebelum kembali ke kamar dan memutuskan untuk tidak keluar lagi, bawalah berbagai ransum dan minuman secukupnya selama berada di dalam.

Bonus paling asyik dari kamar di lantai 2 ini adalah teras dengan sofa dan meja besar.  Di malam terakhir menginap, sepanjang malam saya dan Ika nongkrong di sini, sambil sesekali mendengarkan dentuman gong, lantunan doa dari seorang pemimpin agama yang menutup acara Ngaben yang diadakan di Monkey Forest siang harinya.  Sejenak kami sempat terdiam dan halu dengan suasana sembahyangan.  Tapi kemudian netral sendiri dengan nyanyian-nyanyian dangdut dari jaringan youtube di handphone Ika hahaha.  Lumayanlah daripada menghitung suara berbagai binatang hutan yang tak henti menggema dari berbagai sisi.

 

Berkeliling Bungalow

 

 

Lahan Terrace Ubud Bungalow memanjang dan mengantong di bagian tengah.  Ada 2 sisi yang dipisahkan oleh sungai kecil dan jembatan diantaranya.  Di bagian belakang, seperti yang saya sebutkan di atas, adalah sebuah rumah/bangunan besar 2 lantai dengan 4 kamar yang juga besar-besar.  Bangunan ini, karena berada di lahan yang tinggi, tampak mendominasi kemegahan tempat menginap ini secara keseluruhan, di samping hutan yang ada di bagian kanan dan kiri.  Sementara yang terluas adalah bagian tengah dengan puluhan kamar dan kolam renang ukuran menengah.  Sementara di depan sekali (pinggir jalan) hanya ada gedung/area kecil receptionist dan resto minimalis yang keduanya berada di belakang beberapa toko craft dan kain.

Dengan jumlah kamar sekitar 68 unit dalam berbagai tipe, Ubud Terrace Bungalow sudah beroperasi dari tahun 1988.  Sudah puluhan tahun bertahan ya temans.  Luar biasa hebat untuk bisnis yang beranjak dari tempat sepi di tahun itu, hingga menjadi satu tujuan wisata yang sering diserbu oleh ribuan orang dari dalam dan luar negeri.

Berjarak sekitar 200 meter dari Monkey Forest, kita bisa melatih otot dengkul dan betis jika ingin berwisata ke “perkampungan monyet” yang berada sebelum bungalow (jika datang dari arah Denpasar).  Sepanjang perjalanan ke dan dari destinasi wisata puluhan tahun ini, saya dan Ika sempat megap-megap mengatur nafas, walaupun mata terhibur oleh toko-toko kreatif yang berjejer sepanjang jalan.  Jadi antara mata dan kepala tidak sinkron dengan dengkul dan betis yang bergetar lunglai tanpa terkendali.  Halah lebay.

Satu fasilitas lagi yang menarik hati adalah sebuah kolam renang yang berada di bagian tengah kompleks bungalow.  Beberapa tamu bule seukuran kuda nil sempat saya lihat sangat menikmati waktu-waktu menyenangkan sambil nyemplung di kolam yang tampak sangat bersih ini.  Airnya padahal dingin banget loh ya.  Jadi salut buat mbak-mbak dan Mas-mas bule yang terlihat nikmat berendam tanpa masalah.

 

 

Menu Sarapan yang Sederhana

Karena berkegiatan fisik, terutama jalan kaki, yang cukup banyak selama menghabiskan weekend di Ubud, saya memutuskan untuk mengkonsumsi nasi sebagai sarapan.  Jadilah selama 2 hari berturut-turut, saya mantab memesan sepiring nasi goreng dengan telor ceplok, irisan tomat dan timun tanpa ragu.  Semua saya santap sampai tak satu biji nasipun tertinggal plus piring bersih tanpa jejak hahahaha.

Selain nasi goreng, ada juga sandwiches dan masakan lainnya.  Tapi apapun yang kita pilih, sang pelayan akan lebih dulu menghidangkan sepiring penuh buah-buahan dan satu pilihan minuman yang sudah kita tentukan (teh, kopi, segelas air putih).  Jadi sistemnya ala carte saja.  Dengan ukuran ruang makan yang terbatas, selain efisien dan efektif dalam hitungan keuangan, sistem buffet juga tidak akan pas digunakan untuk melayani para tetamu.

 

 

 

Beberapa hal yang perlu dicatat atau diperhatikan sebelum memutuskan untuk menginap di Ubud Terrace Bungalow :

Pertama.  Karena kontur tanah yang naik turun dan letak kamar dengan tangga yang menyesuaikan kontur ini, bungalow ini tidak cocok untuk mereka yang memiliki masalah dengan kemampuan mobilitas;

Kedua.  Pembayaran yang diterima adalah sistem tunai (cash).  Jika ingin membayar menggunakan kartu kredit, akan dikenakan biaya tambahan sebesar 3%.

Ketiga.  Bungalow tidak memiliki lahan parkir yang memadai (baca: luas).  Jadi jika ingin ke sini, lebih baik dengan sistem drop-off saja.  Tidak ada larangan bagi taxi on-line untuk mengantarkan tamu ke Ubud, tapi mereka tidak diperkenankan mengambil penumpang untuk keluar dari Ubud.  Jadi lebih baik berkendara dengan sistem sewa lepas.  Kembali dari Ubud menuju rumah di Denpasar, saya menyewa Avanza seharga 250ribu, sudah termasuk supir dan bensin.

 

 

 

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here