Capek Menyusur Langkah di Braga? Yuk Ngaso Dulu di Jabarano Coffee

Photo of author

By Annie Nugraha

Capek Menyusur Langkah di Braga? Yuk Ngaso Dulu di Jabarano Coffee

Yang biasa ngelencer ke Braga, pasti sudah notice dengan keberadaan Jabarano Coffee. Saya sendiri nemplok, ngaso, di coffee shop ini setelah pegel menyusur langkah di Braga. Kamu bakal gitu gak?

Kali ini saya ke Braga bareng si bungsu. Setelah sebelumnya berulangkali datang ke kawasan ini bersama suami.

Si bungsu penasaran dengan beberapa postingan saya di medsos. Khususnya ke beberapa destinasi kuliner yang berderet di sepanjang Braga. Kawasan segala ada yang jadi favorit publik dan selalu rame dengan berbagai kegiatan.

Cus lah. Sembari menunggu suami meeting di satu tempat, kami berdua berkelana ke Braga sembari menyusur banyak spot menarik di sana. Termasuk jelajah kuliner pastinya.

Tentang Bandung : Nongkrong Asyik di JABARANO Coffee Kuda Lumping, Laswi, Bandung

Ngaso Dulu di Jabarano Coffee Braga

Setelah menclok ke sana-sini dan berfoto di beberapa sudut keisbukan, kami berdua akhirnya ngaso di Jabarano Coffee. Letaknya persis berseberangan dengan Sarinah Bandung. Satu jenama sentral produk berkualitas yang sudah punya nama sejak masa awal-awal kemerdekaan. Tadinya saya pengen banget sowan ke Sarinah apalagi saya sendiri, produk perhiasan kawat saya (Annie Nugraha Handmade Jewelry), adalah bagian dari Sarinah yang sangat populer ini.

Tapi si bungsu sudah keburu kesetrom sama Jabarano Coffee yang terlihat dari kejauhan sesaat setelah kami berada perempatan lampu merah yang tampak sibuk dengan lalu lalang kendaraan. Butuh waktu yang cukup lama berjuang untuk nyebrang di tengah padatnya mobil, motor, becak, dan bis wisata yang lewat bahkan terparkir di salah sudut. Misi ini akhirnya berhasil dengan berlari lintang pukang dan atas bantuan seorang tukang parkir yang memberi jalan agar kami bersegera melangkah.

Capek Menyusur Langkah di Braga? Yuk Ngaso Dulu di Jabarano Coffee

Datang di jam-jam gak sibuk, sekitar pkl. 15:00 wib, Jabarano Coffee Braga terlihat agak lengang dari sisi depan dan tak ada petugas yang biasanya menahan tamu untuk masuk karena kondisi di dalam sedang penuh. Akhirnya. Setelah dua kali gagal masuk karena antrian yang mengular, saya bisa bertamu dan melihat langsung kondisi di dalam cafe.

Ternyata? Lah eh padat juga.

Hampir semua bangku ada penduduknya. Beberapa diantaranya sudah ditandai reserved dengan jumlah bangku yang tidak sedikit. Suasana obrolan di berbagai sudut pun mendengung seperti bisikan. Ada selipan canda dan tawa diantaranya. Terutama di meja yang isinya para perempuan. Sudah ketebak kan keseruannya?

Selain bersenda gurai, banyak juga diantara para tamu memanfaatkan momen dengan bekerja menggunakan laptop dengan sepasang earplug di telinga. Tanda bahwa orang tersebut tak mau diganggu dan perlu berada di sebuah situasi penuh konsentrasi. Mereka tampak anteng sembari menyeruput deretan minuman segala jenis plus camilan yang menggoda jiwa.

Tampak menyenangkan.

Saya langsung teringat, sudah lama sebenarnya ingin melakukan hal yang sama setelah dalam sekian abad selalu sibuk dengan kegiatan menulis, membaca banyak buku, mengerjakan wire jewelry, bahkan belajar, meeting, serta mengajar secara daring, di meja kerja rumah.

Mendadak terbayang. Asyik juga kali ya menulis di cafe dengan vibes yang sama seperti yang dihadirkan oleh Jabarano Coffee Braga.

Tapi kemungkingan besar saya akan memilih cafe yang lebih sepi dan hening supaya bisa lebih konsentrasi. Lalu memilih tempat duduk tunggal atau khusus hanya 2 orang agar tidak mengurangi jatah pengunjung.

Tentang Bandung : ARASSO, Halal AYCE Korean Barbeque Ter-Worth It di Bandung

Sembari menunggu meja untuk kami berdua, saya menebarkan pandangan ke beberapa sudut Jabarano Coffee Braga.

Seneng banget lihat tempatnya.

Berbeda dengan Jabarano Coffee Kuda Lumping di Laswi yang pernah saya datangi bersama suami yang menempati bekas sebuah rumah tinggal, yang di Braga ini gedungnya berwujud kotak. Keduanya sama-sama menempati bangunan lama warisan puluhan bahkan, mungkin, ratusan tahun lalu saat Belanda masih mendominasi tanah air.

Bedanya lagi adalah jika yang di Laswi interior design dan pembagian ruang makannya terkotak-kotak dengan dominasi meja layanan di dalam rumah, yang di Braga ini ruangannya plong dan terlihat lebih luas.

Gedung ala kolonial yang ditempati oleh Jabarano Coffee Braga ini memiliki ceiling tinggi, jendela yang besar, bentuk tiang yang khas, dan motif lantai keramik yang oldest menjadi beberapa ciri khas bangunan Eropa yang selalu terlihat estetik, menarik, dan kokoh. Pemandangan arsitektur indah yang bisa kita nikmati dan selalu melahirkan decak kagum saat berkunjung/berada di benua Eropa.

Klasik, kokoh, dan berkelas.

Saya melihat Jabarano Coffee Braga berhasil mempertahankan rangkaian keindahan itu dengan mengatur area dine in semaksimal mungkin. Terkesan lapang meski ada sederetan tiang-tiang besar di tengah ruangan.

Meja dan tempat duduknya merapat satu sama lain. Tapi masih cukuplah untuk bergerak ke sana kemari meski tidak terlalu luasa. Kudu sabar menahan gerak di antara banyak meja dan tempat duduk, apalagi saat ruangan ini penuh sesak.

Mendekat ke dinding di sisi kanan pintu masuk, area layanannya berbentuk memanjang. Meja kasir, box penghangat yang berisi sajian pastries, rak khusus penjualan souvenir seperti mug, coaster, t-shirt, dan lain-lain. Di tempat ini pula ada lahan khusus untuk para tamu duduk dan menghadap ke arah roasting corner. Konsepnya seperti bar dengan dudukan yang menghadap ke satu sisi atau ke si peracik minuman.

Saya sempat menunggu sekian waktu untuk mendengarkan roasting machine tersebut beroperasi. Suara desis, asap kecil yang membumbung, membuat saya rindu ingin mencium wanginya kopi menyebar ke seluruh ruangan. Tapi sayang belum beruntung.

Tentang Bandung : el Hotel Bandung, Megah dengan Lokasi Terbaik

Capek Menyusur Langkah di Braga? Yuk Ngaso Dulu di Jabarano Coffee

Camilan Mengenyangkan yang Umami

Karena barusan makan bakmie dengan segala kelengkapannya di Bakmi Tjo Kin yang hanya sekian langkah dari Jabarano Coffee Braga, saya dan si bungsu memutuskan untuk ngemil-ngemil aja.

Kami memesan french fries with parmesan dan italian parmesan chicken wing. Keduanya ditemani oleh segelas minuman dingin yang dinamai summer paradise. Tadinya ingin ngopi, setidaknya merasakan secangkir Americano panas. Tapi niat ini saya batalkan karena lambung masih terasa begah.

Tapi begitu mau melangkah pulang, saya mendadak sadar dan ingat. Lah kenapa tadi gak mesan healthy juice yang dulu sempat saya coba di Jabarano Coffee Kuda Lumping yang ada di Laswi ya? Padahal juice nya super duper enak tuh. Segar dan sehat.

Seperti tempat-tempat lain yang sudah canggih aplikasi pelayanannya, proses memesan makan dan minuman di Jabarano Coffee Braga tuh sudah ringkes betul. Gak perlu capek memanggil petugas, tamu bisa memesan lewat aplikasi yang bar code nya tersedia di meja. Tinggal scan aja. Pembayaran juga bisa cashless dengan berbagai instrumen dan cara lewat gawai kita. Si bungsu mencoba membayar lewat Gopay. Dan itu berhasil tanpa hambatan.

Kalo sudah selesai proses transaksinya, kita tinggal duduk manis menunggu. Dan eh jangan lupa masukkan nomor meja saat melakukan transaksi ya. Biar petugasnya tidak linglung mencari siapa yang memesan.

Ngomongin rasa? No problemo lah.

Chicken wings dan french fries tuh menurut saya pilihan camilan mengenyangkan yang tak pernah gagal rasa. Mau diolah pedas, manis, atau gabungan diantaranya keduanya, sayap ayam selalu memanjakan indera perasa saya. Di manapun kalau mati langkah dalam memilih menu, saya biasanya memesan nasi goreng kampung, french fries, dan chicken wing. Atau membeli roti asin untuk menemani segelas kopi hitam panas.

Aman di indera perasa, selera, dan memenuhi kesukaan.

Tapi chicken wing yang kami pesan kali ini sungguh berbeda. Gorengannya garing dengan bumbu dan tepung yang bikin nagih. Entah bumbu apa yang begitu kuat tercampur tapi efek kriuk-kriuk tuh jadi isu utama yang bikin kami tak berhenti ngunyah. 6 potong sayap ayam pun langsung tandas dalam sekian menit.

Semua jadi tambah klop dengan hadirnya bubuk-bubuk Italian parmesan yang ditebarkan merata di atasnya. Banyak pula jumlahnya. Jadi buat saya si penggemar hidangan asin dan gurih, semua bikin jleb dan langsung mingkem. Saya khusyuk ngunyah dan menandaskan 3 buah chicken wings di depan mata tanpa jeda.

Mantab nian.

Padahal belum lama menghabiskan sepiring besar mie ayam pangsit di Bakmi Tjokin. Akibatnya lambung pun terasa padat hingga naga-naga di perut mengibarkan bendera putih dan pingsan kekenyangan dengan suksesnya.

Sekarang ngomongin soal penyajiannya ya.

Sebagai seorang pembelajar food photography, plating kedua pesanan ini tampak menarik untuk dipotret. Wadahnya juga cantik dengan ukuran yang pas. Seimbang dengan kuantitasnya. Efek kertas makanannya juga apik. Setidaknya selain untuk mengurangi dan meresap minyak gorengnya, menambahkan kertas makan sebagai alas pastinya bikin si makanan gampang untuk diambil. Saat difoto pun, kertas makan ini bisa memunculkan efek dan/atau sentuhan estetik yang manis.

Tentang Bandung : Jejak-jejak Literasi di Pasar Buku Palasari Bandung

Capek Menyusur Langkah di Braga? Yuk Ngaso Dulu di Jabarano Coffee
French fries with parmesan (kiri) dan Italian parmesan chicken wing (kanan)

Kapan ke Bandung saya pengen balik lagi ah. Dengan catatan penting bahwa perginya bukan di akhir pekan dan tidak di jam-jam sibuk. Seneng rasanya datang dengan suasana yang tidak terlalu hiruk-pikuk atau penuh dengan manusia yang bersuara di sana-sini.

Bukan tidak suka keramaian tapi jika di satu tempat tertutup suara itu terlalu mengelilingi telinga, suasana tempatnya menurut saya tidak lagi asyik. Ngobrol juga jadi susah karena dikepung oleh suara dari berbagai sisi.

Satu lagi. Saya tuh masih dendam pengen ngerasain nasi goreng buntutnya yang katanya adalah salah satu menu berat yang banyak penggemarnya. Menu khas nusantara dengan rating tinggi di urusan rasa dan tampilannya.

Saya juga pengen beli Nastarano, nastar edisi Jabarano Coffee yang kabarnya mantab nian. Ini dapat bisikan dari teman, seorang baker, yang jagoan bikin kue kering. Bayangkan sekelas dia saja mengakui kelezatan Nastarano. Apalagi saya yang taunya (cuma) masak air.

By the way, soal nasi goreng tadi, inginnya sih bisa diwujudkan di Jabarano Coffee dan Cafe yang di Melbourne atau yang di Hongdae, Seoul, Korea Selatan dan ah yang di Gianyar, Bali juga belum saya sambangi.

Keren banget kali ya menikmati masakan andalan negara sendiri di tanah orang lain dan di sebuah tempat yang dimiliki oleh WNI.

Berancus? Yok diniatkan.

Tentang Bandung : Menikmati Warisan Kelezatan Chinese Food di Eartern Chinese Dining House Bandung

Capek Menyusur Langkah di Braga? Yuk Ngaso Dulu di Jabarano Coffee

22 thoughts on “Capek Menyusur Langkah di Braga? Yuk Ngaso Dulu di Jabarano Coffee”

    • Cozy dan comfortable. Kalau gak ngelirik antrian keknya betah berlama-lama. Apalagi kalau pergi bareng temen-temen yang juga hobi jalan dan nongkrong. Wooaahhh gak mau pulang deh hahaha.

  1. Mpo pengemar keju suka banget yang namanya susu dan produk olahan. Gak afdol makanan dan minuman tanpa susu dan keju. Cemilan kentang goreng dengan keju parmesan duh bikin ngiler dan pengen ke cafe jabarano

    Reply
    • Wah berarti cocok untuk kulineran di sini Mpok. Ayok kapan ke Bandung mampir ke sini ya.

  2. Saya belum pernah ke Jabarano Coffee. Padahal kalau lagi di Bandung, saya bisa setiap hari ke Braga di pagi/sore hari untuk olahraga. Memang rame terus di sana, ya. Mungkin kapan-kapan saya harus beneran niatin mau ke sana. Abis ya gitu deh kalau lagi di Bandung suka ditunda-tunda. Mungkin saking seringnya main ke Braga ya hihihi

    Reply
    • Aku pun begitu. Sering banget ke Braga tapi baru kali ini berhasil masuk tanpa harus ngantri. Akutu paling gak suka ngantri panjang-panjang. Apalagi sampai dapat angka puluhan. Duh mendingan nanti-nanti dah hahahaha.

      Eeehh dasar mungkin rezekinya anakku ya. Jalan sama dia, gambling, malah bisa langsung masuk. Ya itu. Mungkin karena weekdays dan datang bukan di jam-jam sibu.

    • Yang di Braga ini sepertinya memang favorit deh. Saya juga berkali-kali bolak-balik sampai akhirnya di sore itu berhasil masuk tanpa harus ngantri. Tapi pas masuk ternyata penuh juga hahaha. Untung masih ada meja kecil dengan 2 sofa duduk. Pas buat saya dan si bungsu.

  3. Jabarano Coffee ini pagi-pagi udah rame pengunjung

    Mungkin pada nyari tempat meeting pagi yang nyaman, atau sekadar breakfast ya?

    Jadi pingin telusur Braga juga dan menikmati keeksotisannya

    sekalian menikmati hidup ^^

    Reply
  4. Maaf kak Annie, ini pas memfoto produk pake hp biasa, iphone atau kamera khusus? terlihat detail banget hasil jepretannya….. btw, makan dan meminum kopi atau sejenisnya di cafe memang enak sembari merehatkan pikiran dan fisik. Lebih santai dan enjoy dengan alunan musik dan keramaian orang terkadang bikin kita lebih enjoy.

    Reply
    • Dulu saya motret dengan kamera DSLR Mas Wahid. Tapi sejak 5 tahun belakangan divonis HNP dan tidak boleh membawa atau mengangkat barang berat, saya kemudian beralih ke iphone seri promax yang resolusi akhirnya tinggi. Alhamdulilah sekarang jadi ringan kalau mau motret kemana-mana.

  5. Enak banget suasana kafenya, ih…
    Apakah ini kafe baru, Bu?
    4 tahunan lalu keknya belum ada kah?
    Suci beberapa kali ke Bandung dan beberapa kali itu juga ke Braga selalu di peak season dan selalu ngga kebagian kafe yang tenang gitu
    Jadinya lewat sepintas lalu saja.
    Pernah sih mampir ke Kafe Limarasa dan yaah kebagian tempat duduk di gang.
    Aaah rindunya…
    semoga bisa kembali lagi main ke Bandung, aamiin…

    Reply
    • Nah saya juga kurang tahu tahun persisnya Ci. Seharusnya sih, kalau dihitung-hitung adalah kali 2 tahunan. Tempatnya sendiri gak persis di tengah2 jalan yang biasa dilewati oleh pejalan. Dia ada di sisi yang berbeda meski masih satu jalur.

      Kapan ke Bandung lagi, kabarin aku ya. Siapa tahu kita bisa nongkrong asyik di JABARANO COFFEE BRAGA sambil ngobrol panjang kali lebar.

  6. Sebenarnya asyik kalau dipake buat kerja ya tempatnya. Sayang rame.

    Tapi, wajar sih kalau rame. Tempatnya cozy dan makanannya umami.

    Aku kalau ke Bandung juga pasti mau mampir ke Jabarano Cafe Braga ini, kak.

    Reply
    • Cocoknya memang jadi tempat ngumpul, reuni, ngobrol sepuasnya, sambil ketawa bareng. Kalau buat WFA keknya kurang pas karena gak bakalan menemukan suasana hening di sini.

      Yok Mbak Yuni. Kapan ke Bandung wajib banget ke kawasan Braga. Banyak hal asyik yang bisa ditemukan di area ini.

  7. Fotonya selalu cakep-cakep, menambah estetik dan bikin lapar liat foto makanannya Mba. Btw, French fries with parmesan keknya enak banget tuh, jadi pengen cicip deh, hahaha.
    Kafenya juga menyenangkan ya, keknya paket lengkap banget dengan makanan dan minumannya.
    Pas banget tuh buat tempat nongkrong bareng teman-teman :D

    Reply
    • Alhamdulillah terima kasih untuk complimentnya Mbak Rey. Memang cafe se-asyik itu. Tempatnya juga estetik dan menarik buat difoto.

  8. Aamiin..
    Cafenya Pak RK memang sangat RK sekali yaa.. Hihihi, konsepnya menjawab kebutuhan masyarakat urban yang inginnya santai, tapi tetao gak kehilangan momen serius melalui penyajian makanan dan minuman serta interior yang kekinian.

    Tapiii.. aku sejujurnya juga lebih nyaman di cafe yang sepi siiyh..
    Hihihi.. Jabarano Coffee Braga ini terlalu banyak orang berlalu lalang.

    Sukses banget Jabarano Coffee ini…
    Cabangnya mashaAllaa.. nambah teruuss di Bandung.

    Reply
    • Dan di luar negeri juga. Keknya merambah ke LN nya cukup cepet juga. Aahhh jadi pengen mampir ke sana. Selalu senang menemukan kopi dan tempat nongkrong yang khas tanah air.

  9. Di Bandung banyak coffee shop ya Bu.. jadi misal habis jalan-jalan kita bisa nyantai sejenak di Coffee shop. Uniknya karena nama kafenya Jabarano trus nama nastar yang diproduksi juga hampir mirip dengan kafenya yaitu Nastarano. Semoga saya bisa ke Bandung nih, pengen juga jalan-jalan ke Braga

    Reply
    • Banyak banget Sar. Berlimpah ruah. Di area Braga aja ada beberapa. Tinggal kita cobain satu-satu biar puas hahahaha. Saya masih ada 1 cafe yang belum tak hampiri nih. Nunggu gak antri dulu.

Leave a Comment