The Evolution of Jakarta’s Street Food. Jelajah Jajanan Ibukota yang Menginspirasi

The Evolution of Jakarta's Street Food. Jelajah Jajanan Ibukota yang Menginspirasi

The Evolution of Jakarta’s Street Food. Jelajah Jajanan Ibukota yang Menginspirasi | Book Review & Featured | Agustus 2026

Kegemaran saya akan buku dan bertamu ke perpustakaan, membawa langkah kaki mengunjungi the Orient Hotel yang berada di Jl. Jend. Sudirman, Jakarta Selatan. Kunjungan tersebut menorehkan sebuah kenangan yang begitu membekas di benak hingga kini. Apalagi kalau bukan sebuah buku dengan tema yang sangat mengesankan dan terlalu sayang untuk tidak dibahas

The Evolution of Jakarta's Street Food. Jelajah Jajanan Ibukota yang Menginspirasi
Tengah foto: Chef Stefu, salah seorang penulis buku
The Evolution of Jakarta's Street Food. Jelajah Jajanan Ibukota yang Menginspirasi
Dari kiri ke kanan: lumpia goreng, siomay, dan mie ayam

Bermula dari Sebuah Unggahan di Sosial Media

Siapa di sini yang pernah atau bahkan sering terpengaruh oleh unggahan di sosial media?ย Unggahan yang berhasil memancing minat kita akan sesuatu atau membuat kita terjebak dalam rasa penasaran yang mendalam.

Saya. Ya, saya.

Selain tentang masakan, makanan, dan banyak tempat wisata, belakangan tahun perpustakaan menjadi bagian dari rangkaian rasa penasaran itu. Di antaranya adalah perpustakaan milik negara maupun pemerintah daerah, ruang baca indie (milik perorangan atau usaha pribadi) yang dilengkapi dengan sarana nongkrong (cafe library), dan beberapa ruang dengan tata letak yang nyaman untuk berlama-lama sembari membaca. Bahkan (sangat) estetik untuk merekamnya dalam video maupun foto.

Nyatanya saya tidak sendiri karena tidak sedikit para pecinta buku, mereka yang bergelut di dunia literasi, dan warga biasa, yang mendadak jatuh cinta pada sederetan tempat membaca ini.ย  Bukan hanya terkesan dengan fisik sang perpustakaan yang estetik dan bernilai seni tinggi, tapi juga karena mengunjungi perpustakaan menjadi sebuah kebiasaan baru yang menyenangkan.ย 

Mulai dari sebuah jenama besar yang mengubah konsep lama sebagai toko buku saja hingga menjadi perpustakaan kekinian.ย  Bahkan banyak yang membuat ruang baca dengan rancang dalam ruang modern dengan fasilitas paripurna.ย  Selain dilengkapi oleh furniture yang bikin tamu betah berlama-lama, mereka juga menambahkan ruang kerja yang pas untuk WFC (Work from Cafe) atau WFA (Work from Anywhere).

Sebagai seorang penggiat literasi dan pemilik sebuah indie publisher yang sedang berkembang dan masih harus banyak menggali ilmu, fenomena (baru) ini sungguh sangat menyenangkan. Perpustakaan tidak lagi hadir dengan gaya lama, tapi dibuat dengan tampilan serta visual dan dekorasi ruangan yang estetik. Meminjam istilah terbarukan yaitu istagenic dan instagrammable.

The Evolution of Jakarta's Street Food. Jelajah Jajanan Ibukota yang Menginspirasi
Salah satu hasil jepretan yang mengundang kekaguman

The Orient Hotel Jakarta Selatan

Lagi-lagi media sosial sudah menunjukkan kedigdayaan dan pengaruh nya.  Satu persatu perpustakaan dengan spesifikasi di atas, dihadirkan di banyak akun media sosial dengan uraian, narasi, dan cerita yang sangat menggoda siapa pun yang  hobi membaca serta para book worm untuk ikut hadir di sana.

Tibalah di satu waktu saya melihat seorang content creator  yang cukup ternama, mengunduh sebuah video yang apik dan langsung bikin saya penasaran.  Setiap menit saya runut dengan dugaan bahwa tempat sebagus itu pastilah berada di luar negeri.  Setidaknya di kawasan Eropa di mana interior design nya mewakili apa yang biasa saya lihat di Eropa sana.

Nyatanya saya keliru besar.ย Salah menduga.

Terpana oleh rangkaian keindahan yang tak terbantahkan dan kemewahan yang sophisticated, saya terkejut saat melihat rangkaian tulisan tentang tempat tersebut di slide terakhir.ย  Saya bahkan kemudian membaca ulang narasi yang dihadirkan di kolom caption. Beneran ini di Jakarta?

Tempat yang cantik itu ternyata adalah sebuah Library Lounge yang ada di lantai 5 The Orient Hotel yang berlokasi di kawasan Benhil Jakarta Selatan.ย  Sebuah tempat mengagumkan yang lahir dari tangan dingin seorang arsitek asal Amerika bernama Bill Bensley.ย  Seorang yang sudah terbiasa dan lihai merancang banyak resort ย mewah di beberapa negara, termasuk di Bali, dengan sentuhan unik eksotik yang menggabungkan berbagai seni serta budaya yang berasal dari banyak negara di Asia.

The Evolution of Jakarta's Street Food. Jelajah Jajanan Ibukota yang Menginspirasi
Dari kiri ke kanan: gerobak ketoprak, otak-otak, aneka bumbu masak

Saya kembali dibuat terpana saat di satu hari saya bisa bertamu langsung ke The Library Lounge yang berada di kawasan Benhil Jakarta Selatan.

Sambutan petugas di pintu masuk membuat saya nyaman untuk bertamu.  Dia mengarahkan saya untuk masuk dan mengambil tempat duduk senyaman mungkin.  Saya hanya mengangguk dan tersenyum karena perhatian sudah tersita oleh keindahan dalam ruang yang begitu merasuk ke dalam dada dan pikiran.

Yang tadinya hanya saya nikmati lewat medsos sekarang terhampar langsung di depan mata.

Seperti yang sudah ditampilkan di media sosial, saya semakin menyadari bahwa sentuhan arsitek untuk tempat berlangit-langit jangkung ini memang tidak biasa.ย  Setidaknya untuk saya pribadi.ย  Belum pernah saya lihat gaya rancangan seperti ini.ย  Semua ide bertumpuk tapi berkolaborasi dengan indahnya. Dan untuk sebuah perpustakaan, the Library Lounge ย sungguh sophisticated dengan kemewahan yang sangat berkelas.

Saya terduduk tanpa bisa berkata-kata.

Di banyak menit kemudian, saya hanya duduk di sofa tengah, sembari memandangi berbagai sisi perpustakaan. ย Terpaku dengan betapa pintar dan lihai nya Bill Bensley menata the Library Lounge. Tempat โ€”yang menurut sayaโ€” lebih cocok untuk difungsikan sebagai small function room for private party.ย  Atau ruang meeting ย untuk menjamu tamu VIP sembari menghidangkan haute cuisine ย atau fine dining ย dengan limited audiences.

Dan ini berlangsung dalam jangka waktu yang cukup lama. 

Kesempurnaan dalam ruang yang indah, cantik, lapang, dengan semua kelengkapan yang bernilai seni tinggi dan butuh tangan-tangan terampil untuk menyusun dan mengatur nya. Luar biasa.

Lamunan dan kekaguman ini terhenti sejenak saat seorang petugas menawarkan saya secangkir kopi hitam, french fries, dan fresh orang juice.

Bertemu dengan Buku yang Menginspirasi

Sembari mendegarkan hantaman halus titik hujan di dinding kaca the Orient Lounge Library, saya pelan menyusur setiap sudut ruang dalam langkah tanpa suara.  Sengaja saya lakukan karena di ruang hening ini ada beberapa tamu yang sedang terpekur membaca dan bekerja di hadapan laptop.

Tak ingin mereka terganggu, saya pun pelan memotret dan membuat video, agar apa yang sekarang melintas di netra saya bisa dibagikan ke publik lewat jaringan media sosial.

Usai memotret, saya memutuskan untuk menyusur beberapa rak buku satu persatu.  Juga dengan langkah pelan.  Sebagian besar buku ditaruh di sebuah meja island dengan beberapa ruang untuk menaruh buku di bagian bawah nya.  Sementara di bagian atas nya bertebaran banyak buku yang tersusun rapi dalam posisi tegak dan menengadah.

Sebagian besar buku yang disediakan adalah buku-buku import atau yang terbit dengan edisi khusus, eksklusif, dan punya pencapaian yang tidak main-main.ย  Genre nya juga beragam.ย  Mulai dari traveling, budaya, musik, culinary, novel, kisah tentang banyak negara di dunia, dan masih banyak lagi.ย  Satu persatu saya telusuri hingga akhirnya menemukan sebuah buku bersampul merah hard coverย  dengan ilustrasi semangkuk aneka asupan.

The Evolution of Jakarta's Street Food. Jelajah Jajanan Ibukota yang Menginspirasi

The Evolution of Jakarta’s Street Food

Belakangan tahun saya begitu tertarik dengan dunia kuliner.  Topik ini selalu menggoda hati.  Khusus nya untuk dirasakan, dipotret, dan dibuatkan video nya.  Tapi bukan untuk membuatnya karena memang sejak kecil pekerjaan memasak sama sekali tidak menarik minat saya.  Bahkan untuk sekedar membeli bahan-bahan masakan nya pun tak masuk dalam kegiatan rutin sehari-hari.

Tapi jika bicara soal jajan, berpetualang mencicipi banyak menu di berbagai warung, kedai, resto, hingga fine dining, saya selalu tertarik.  Apalagi jika diajak membahas banyak kisah dan cerita tentang sejarah kuliner.  Bagaimana menu tersebut diciptakan, mengalami proses akulturasi, hingga banyak di antara nya populer di kalangan publik.

Saya menemukan buku The Evolution of Jakartaโ€™s Street Food di perpustakaan ini.ย  Tergeletak rapi di atas meja island yang saya sebutkan di atas. Saya langsung jatuh cinta pada pandangan pertama apalagi saat usai menyusur satu persatu daftar isi serta siapa yang terlibat di dalam nya.

Tak selesai melahap sekitar 400 halaman di satu waktu itu, akhirnya saya memutuskan untuk membeli buku ini di sebuah toko buku on-line.ย  Meski harga nya cukup menguras dompet, nyatanya buku ini berhasil memompa semangat saya untuk mendalami dunia kuliner. Terutama di bagian informasi tentang bagaimana jajanan jalanan ibukota Jakarta berevolusi hingga kini.ย 

Bagaimana buku ini akhirnya melahirkan inspirasi buat saya pribadi?

Buku yang ditulis oleh Chef Stefu, Jureke, dan Anton Diaz ini, diterbitkan oleh Red & White Publishing yang berlokasi di Tanjung Priuk Jakarta.  Kelahiran buku ini melibatkan seorang peneliti, seorang professional photograher, seorang penerjemah, seorang editor bahasa Indonesia, seorang editor bahasa Inggris, dan seorang graphic idea & concepts.  Sebuah tim yang tentu nya membuat buku ini begitu berharga untuk diadopsi dan ditelusuri isi nya.

Di buat dalam bilingual (dua bahasa, Indonesia dan Inggris) saya bisa merasakan bagaimana karya tulis ini dipersiapkan untuk mudah diadaptasi oleh publik dari berbagai belahan dunia.ย  Belakangan kemudian saya tahu bahwa buku yang diterbitkan pada 2023 ini diikutsertakan pada Gourmand World Cookbook Awards 2025.ย  Buku ini menorehkan prestasi internasional dengan meraih posisi ke-2 pada acara tersebut.ย  Kemenangan ini diumumkan dalam acara bergensi Cascais World Food Summit di Portugal.

Satu yang membuat saya yakin buku ini pantas mendapatkan penghargaan tersebut adalah karena mengusung ide terkuat tentang bukan hanya memetakan perkembangan kuliner jajanan (street food) Jakarta tapi juga menghormati para pedagang kaki lima yang menjadi pahlawan kuliner sehari-hari.ย  Bagaimana mereka melayani dan menjadi pengobat rasa lapar dari banyak orang yang mencari asupan yang ramah di kantong.ย  Cepat, ringkas, murah, dan menghibur rasa.

Kehadiran buku ini tidak hanya mengulas tentang ingredients dari jajanan yang sedang dibahas, tapi juga mengulas tentang evolusi serta kisah di balik layar setiap masakan/makanan.  Dihadirkan juga tentang bagaimana jajanan ini diolah dengan rangkaian resep yang bisa kita coba sendiri.

Menu yang diulas pun bukan hanya jajanan khas Betawi atau Jakarta saja tapi juga dari daerah lain yang konsep nya diboyong ke ibu kota.  Barisan menu yang laris dan disukai oleh masyarakat Jakarta.  Saya sempat membaca tentang Pempek Tunu (pempek panggang) dari Palembangโ€”tanah kelahiran saya.  Kemudian Rawon dari Jawa Timur.  Dan masih banyak lagi.

The Evolution of Jakarta's Street Food. Jelajah Jajanan Ibukota yang Menginspirasi
Dari kiri ke kanan: berbagai lauk hidangan warung, kue putu, ayam goreng

Chef Giles Mark, seorang chef senior, menuliskan tentang pandangan beliau akan buku ini sebagai berikut:

Buku ini bukan menceritakan tentang makanan jalanan semata namun lebih pada perbendaharaan makanan jalanan Jakarta yang paling digemari dan terkenal. Tidak hanya menggambarkan rasa tetapi juga menjelaskan asal dan evolusi yang sudah terjadi selama bertahun-tahun.

Apa yang membuat buku ini unik, buku ini ditulis dengan sudut pandang dari seorang chef professional berpengalaman yang sudah mengembangkan karya dan pemahamannya tentang teknik memasak secara modern maupun tradisional Indonesia, Asia, dan Barat, yang menghabiskan waktu bertahun-tahun.

Penelitian dan penemuannya didasarkan pada fakta dengan pendekatan analitis berdasarkan pengetahuan dan eksperimen pribadi yang berkesinambungan dan berkelanjutan selama bertahun-tahun.

Selanjutnya beliau menyampaikan:

Buku ini merupakan potret hidangan daerah Indonesia yang tersedia untuk masyarakat di Jakarta pada saat ini dan akan terus berevolusi dari waktu ke waktu seperti yang dilakukan masyarakat Jakarta di masa lalu dan akan terus berlanjut selama bertahun-tahun yang akan datang.

Saya kembali ke beberapa bagian kalimat ini, saat lembar terakhir buku ini saya tuntaskan.ย  Saya sangat setuju dengan apa yang beliau sampaikan di atas.ย  Selain melewati proses โ€œpenerimaanโ€ dan โ€œtransmigrasiโ€ dari satu tempat/daerah ke ibu kota, beberapa masakan daerah sudah mengalami proses penyesuaian yang cocok dengan kondisi Jakarta yang super sibuk dan heterogen.

Berbagai jajanan seperti bakso, karedok, ketoprak, dll. yang bentuk fisik gerobak nya masih dipikul, berat, berukuran besar, dan butuh tenaga ekstra untuk mendorong, perlahan berubah menjadi lebih ringkas dan mudah untuk digerakkan, dipindahkan, dengan rangkaian fungsi yang semakin efisien dan efektif.

Para penulis juga menghadirkan narasi tentang kota Jakarta (dulu: Batavia) yang sempat menjadi sebuah kota dengan pelabuhan rempah.ย  Kemudian ajakan untuk pembaca agar mau memahami bagaimana jajanan yang sekarang ada sudah melewati rangkaian sejarah yang tidak sedikit.ย  Termasuk tentang rasa dan aroma, suara makanan jalanan baik secara oral/lewat mulut maupun menggunakan satu alat tertentu, bercita rasa tinggi, memiliki keunikan, dan tentu saja laku di Jakarta.

Begitu pun dengan sekian banyak foto estetik yang ikut โ€œberbicara.โ€ย  Sudut pengambilan gambar nya pas dengan sentuhan warna yang tentu nya menggambarkan apa yang sesungguhnya akan kita lihat.ย  Sebagai seorang pembelajar dunia photography khusus nya food photography, buku The Evolution of Jakartaโ€™s Street Food ini mengajak saya untuk lebih mendalami sudut pengambilan gambar yang lebih humanis.ย  Pun mengajak atau menantang saya untuk bergerak memotret rangkaian jajanan yang bersahaja, yang dijual di jalanan dengan kesederhanaannya.ย  Tidak melulu berkutat pada hidangan kekinian, restoran berkelas yang sedang ramai dibicarakan, yang sedang dikerubungi oleh orang banyak, atau tempat makan yang jadi favorit publik.

The Evolution of Jakarta's Street Food. Jelajah Jajanan Ibukota yang Menginspirasi
Dari kiri ke kanan: sate, gado-gado, dan cakwe

Menyimak dan Bertumbuh

Paket lengkap inilah yang kemudian membuat buku ini menjadi satu sajian komplit yang menjadi jantung dan urat nadi dari isi buku.  Selalu ada hal baru yang begitu berkesan di hati saat membuka halaman nya satu persatu.

Melewati masa membaca selama 6×3 jam (enam hari dengan masa waktu membaca tiga jam/harinya) saya menabung banyak sekali pengetahuan dan ilmu jika ingin serius mendalami profesi sebagai food blogger and food photographer.ย  Setidaknya paham bahwa menceritakan tentang makanan itu sejatinya melibatkan banyak hal. Seperti perencanaan, pola pikir, dan pilihan diksi yang mewakili apa yang sedang kita ulas.ย  Tak hanya berfokus tentang enak, tidak enak, asin, manis, pedas, dan sebagai nya.

Ada hal tentang sejarah, tekstur makanan, ingredients yang membantu melahirkan makanan tersebut, bagaimana sajian tersebut bisa “menghibur lidah,” dan indera penciuman serta perasa kita. Serta tentu saja tidak melupakan setiap pribadi yang terlibat di dalamnya. Saya juga memahami bagaimana mereka โ€”para penjaja/pedagangโ€” yang menggantungkan hidup dari berdagang di tempat terbuka. Area yang penuh kesibukan, padat oleh lalu lalang masyarakat serta kendaraan, dengan sekian banyak resiko kesehatan dan keselamatan.

Lewat buku ini betapa banyak hal yang bisa saya simak dan membuat saya bertumbuh. Sebuah pelajaran tentang konsistensi dan fokus pada apa yang menjadi keinginan dan impian kita. Tak lelah berusaha menjadi yang terbaik serta menjadi manfaat bagi banyak orang.

Jadi layak kiranya jika buku the Evolution of Jakarta’s Street Food ini saya kalungkan gelar sebagai buku tentang jelajah jajanan ibukota yang menginspirasi. Sebuah karya literasi mengagumkan yang mengajak kita memahami sejarah kuliner berikut dengan jejak evolusi dari tangga ke tangga, dari tahun ke tahun, serta dari rasa ke rasa, di ibukota Jakarta.

The Evolution of Jakarta's Street Food. Jelajah Jajanan Ibukota yang Menginspirasi
Dari kiri ke kanan: ketoprak, kerak telor, dan soto betawi

Sebagai penghormatan, atas keistimewaan buku ini di hati, ulasan tentang buku ini saya hadirkan sebagai bagian dari buku yang Menginspirasi. Buku antologi yang dibidani oleh komunitas penulis yang bergabung dalam Pondok Antologi Penulis Indonesia (PAPI) dan diterbitkan oleh Annie Nugraha Mediatama (ANM) di Agustus 2026.

Semoga kehadiran buku ini bisa menjadi inspirasi bagi siapapun yang membacanya. Baik dibaca langsung maupun lewat buku antologi yang saya sebutkan di atas.

The Evolution of Jakarta's Street Food. Jelajah Jajanan Ibukota yang Menginspirasi
Dari kiri ke kanan: starling, karedok, dan bubur ayam

The Evolution of Jakarta's Street Food. Jelajah Jajanan Ibukota yang Menginspirasi
Bubur ayam. Salah satu hidangan yang hadir dengan ragam yang begitu luas di tanah air.

The Evolution of Jakarta's Street Food. Jelajah Jajanan Ibukota yang Menginspirasi

IG @annie_nugraha | Email: annie.nugraha@gmail.com

The Evolution of Jakarta's Street Food. Jelajah Jajanan Ibukota yang Menginspirasi

Leave a Comment