
“Makan siang bukan sekedar jeda di tengah hari, melainkan ritual yang merekam jejak budaya, identitas, dan kebersamaan masyarakat Indonesia. Tradisi ini hadir dalam beragam bentuk – dari sajian rumahan penuh kehangatan, bekal anak sekolah, kuliner, hingga hidangan komunal dalam acara adat. Melalui 40 tulisan dari 17 provinsi di 8 pulau, buku ini menyajikan potret kaya ragam kuliner nusantara: dari Papeda di Papua, Soto Banjar di Kalimantan Selatan, hingga Rujak Cingur dari Jawa Timur. Resep turun temurun, teknik memasak yang khas, pilihan wadah penyajian, dan cara menyantap – semua membentuk narasi yang menghidupkan kembali makna makan siang dalam keseharian. Kisah-kisah ini tidak hanya membangkitkan nostalgia, tetapi juga menunjukkan bagaimana makan siang menjadi ruang pertemuan lintas generasi dan budaya. Kebersamaan dalam tradisi Liwetan, Makan Behidang, Botram, atau Mo Mulayadu, memperlihatkan bahwa hidangan bukan hanya soal rasa, tetapi juga rasa memiliki.”

Tradisi Makan Siang Indonesia | Book Review | Desember 2025
Sebuah pesan panjang tersampaikan lewat WAG Food Blogger ID Community. Komunitas para penjelajah kuliner yang tinggal dan menetap di Indonesia, di mana saya bergabung dan turut menjadi bagiannya. Isi pesan tersebut sungguh mengundang perhatian dan berisikan rangkaian informasi yang cukup menantang. Saya langsung duduk tegak dan mengubah konsentrasi. Berusaha membaca pelan setiap kata dan kalimat agar mendapatkan pemahaman yang sebaik-baiknya.
Lewat pesan ini saya memahami bahwa Omar Niode Foundation yang digawangi oleh Ibu Amanda Katili Niode dan Yayasan Nusa Gastronomi Indonesia, sekali lagi menghadirkan sebuah lomba menulis tentang kekayaan kuliner di tanah air dengan mengusung tema: Tradisi Makan Siang Indonesia, Khazanah Ragam dan Penyajiannya.
Mata saya langsung membulat dengan rasa penasaran yang mendadak membuncah. Sungguh tema/premis yang menarik untuk diteliti, diulas, dan dihadirkan. Segala persyaratan saya baca dengan teliti dan seksama hingga akhirnya memutuskan untuk mengikuti event ini.
Yang pasti, seperti halnya beberapa lomba yang saya ikuti, kemenarikan tema dan siapa yang mengadakan menjadi dua pertimbangan utama saya. Selain menantang dan menggugah kepedulian akan pelestarian kuliner di Indonesia, kehadiran tema yang spesifik tentang tradisi dan pelestarian tradisi itu sendiri sudah menarik minat saya sebagai seorang food blogger.
“Mengkonsumsi makanan lokal, seperti yang banyak diangkat dalam buku ini, merupakakan langkah ramah iklim. Tidak hanya mengurangi jejek karbon dari distribusi pangan, tetap juga mendukung petani kecil, nelayan tradisional, dan produsen lokal yang menjaga cita rasa serta keterbelanjutan ekosistem pangan.” (Amanda Katili Niode)

Setelah melalui proses pertimbangan dan pengalaman yang begitu berkesan saat menelusur sekian banyak kuliner dari perjalanan saya ke Kalimantan Barat – Pontianak dan Singkawang – saya akhirnya menjatuhkan pilihan pada kudapan Choi Pan yang saya nikmati saat berada di Singkawang. Sebuah kotamadya yang bisa ditempuh lewat jalur darat selama 4-5 jam dari Pontianak.
Choi Pan yang sudah menjadi kudapan tradisional yang menjadi favorit masyarakat Singkawang ini – menurut saya – punya satu keunikan tersendiri. Selain menjadi produk kuliner akulturasi dari Tiongkok, nyata Choi Pan sudah menjadi kudapan andalan bagi Singkawang. Beruntungnya saya, atas masukan dari beberapa orang – para sahabat yang tahu persis bahwa saya begitu menyukai ulasan kuliner – langkah kaki kemudian mengajak saya untuk bertamu ke Choi Pan Tjhia yang berada di Kawasan atau tempat tinggal Marga Tjhia. Salah satu marga terbesar di Singkawang dan memiliki seorang pemimpin (Walikota Singkawang) yang saat saya menulis ini masih menjabat sebagai warga nomor satu di daerah ini.
Ketertarikan itu menjadi semakin lengkap saat lewat beberapa akun Youtube, saya mendapatkan banyak informasi dan insight baru bahwa sang Choi Pan Tjhia telah bertahun-tahun menjadi destinasi wisata kuliner yang populer di Singkawang. Ditemani oleh Rizky – seorang blogger Pontianak – dan Kak Sari – teman di dunia crafting, saya pun meluncur ke Singkawang dan merasakan sendiri betapa istimewanya Choi Pan Thjia serta bagaimana kudapan ini berhasil menjadi sentra silaturahmi bagi begitu banyak keluarga di Singkawang.
Meskipun tulisan saya tentang Choi Pan Tjhia ini tidak berhasil menggondol kemenangan apa pun, saya dapat merasakan strong and delightful euphoria karena telah bergabung bersama 40 tulisan hebat dari 17 provinsi dan 8 pulau di Indonesia, yang berpartisipasi dalam event ini. Menjadi bagian dari tradisi makan siang yang ada di nusantara yang kemudian terhidang secara lengkap lewat buku Tradisi Makan Siang Indonesia: Khazanah Ragam dan Penyajiannya, yang kemudian diterbitkan oleh Diomedia Publisher.

Menyusur sekitar 482 halaman yang disajikan secara bilingual ini (bahasa Indonesia dan bahasa Inggris) saya kemudian terpaku dan mencatat begitu banyak ilmu pengetahuan penting tentang premis dan/atau topik yang dihadirkan.
Menelisik lebih jauh sambutan dari Rinna Syawal, S.P, M.P. – Direktur Penganekaragaman Konsumsi Pangan dari Badan Pangan Nasional, Silverius Oscar Unggul – Penasihat Utama Menteri Kehutanan Republik Indonesia, Amanda Katili Niode, Ph.D. – Pendiri/penggagas Omar Niode Foundation yang juga adalah Editor dari buku ini, dan Mei Batubara – Direktur Yayasan Nusa Gastronomi Indonesia yang juga mendokumentasikan “Pusaka Rasa Nusantara,” saya mencatat begitu banyak refreshing education khususnya tentang tradisi makan siang di Indonesia yang telah, sedang, dan akan dilestarikan oleh kita semua.
Yuk, mari kita bedah buku ini lewat rangkuman yang telah saya buat.
Buku Tradisi Makan Siang Indonesia menghadirkan puluhan tulisan yang berbasiskan budaya dan kearifan lokal. Selain menghadirkan cermin kekayaan rasa, buku ini juga mengangkat kekayaan nilai gizi, nilai sosial, potensi ekonomi lokal sekaligus menghidupkan kembali identitas daerah lewat banyak sajian dan teknik masak tradisional berikut penyajiannya.
Bagi saya pribadi, buku ini sangat memperluas wawasan, khususnya bagi travel and food blogger seperti saya yang selalu haus akan eksplorasi kuliner yang turut menginspirasi beragam pangan lokal sekaligus mendokumentasikan kekayaan kuliner nusantara. Jadi saat di setiap tulisan juga dihadirkan banyak foto dan resep, setiap lembar yang ada mengajak kita untuk menjejak lebih jauh setiap catatan dan pengalaman para penulis.
Makna “tradisi” itu sendiri kemudian ikut terangkat karena setiap artikel yang dihadirkan berfokus pada bagaimana kuliner yang dibahas telah berhasil mempererat relasi keluarga, komunitas pertemanan sekaligus media pewarisan nilai tentang atmosphere kekeluargaan.
Saya sendiri turut merasakan ambience ini saat bersantap di Choi Pan Tjhia. Saya melihat bagaimana banyak kelompok keluarga – dalam jumlah yang besar – yang mengadakan pertemuan di tempat ini. Saya pun datang ke Choi Pan Tjhia dalam rangka bernostalgia dengan Kak Sari. Teman yang sudah belasan tahun tidak berjumpa. Obrolan panjang kami menjadi sempurna sembari merasakan kelezatan Choi Pan Tjhia. Kebayangkan keseruannya. Ngobrolnya jadi tambah seru sambil mengunyah Choi Pan yang lezatnya luar biasa. Bahkan boleh saya katakan bahwa seumur hidup saya mencoba Choi Pan di berbagai sudut kota, Choi Pan Tjhia adalah yang terbaik yang pernah mampir di lidah saya.
Dua poin penting lagi yang patut dicatat dari buku ini adalah bahwa makanan dan cara penyajian yang diulas adalah bagian dari ekosistem yang harus kita jaga demi masa depan yang berkelanjutan. Menghadirkan keanekaragaman rasa dan teknik penyajian sesungguhnya menghadirkan aspek sejarah yang wajib kita jaga. Dua tugas penting yang sejatinya nangkring di pundak kita.
Saya beruntung bisa mencatatkan legacy itu lewat buku Tradisi Makan Siang Indonesia: Khazanah Ragam dan Penyajiannya ini.

Lahir dari sebuah kompetisi yang kemudian dibukukan, buku ini kemudian meraih penghargaan sebagai Best Book in the World untuk publikasi mengenai makanan dan minuman yang diadakan oleh Gourmand, World Cookbook Awards 2025. Penghargaan yang diumumkan di Saudi Feast Food Festival di Riyadh ini mendapatkan perhatian utama karena kedalaman riset dan makna kultural yang tertuang di dalamnya.
Gourmand sendiri adalah sebuah institusi yang didirikan pada 1995 dengan peserta lebih dari 200 negara. Institusi ini adalah satu-satunya lembaga yang mengadakan kompetisi internasional yang didedikasikan untuk banyak buku yang khusus memelihara/melestarikan budaya makanan dan minuman di seluruh dunia.
Buku Tradisi Makan Siang Indonesia – menurut saya – lebih dari pantas untuk mendapatkan gelar tersebut. Karena lembar demi lembar, diksi demi diksi, dan paragraf demi paragraf yang dihadirkan mampu mengurai bagaimana negeri tercinta ini, kaya akan khazanah ragam kuliner yang begitu mengesankan. Ada homogenisasi kuliner dari beberapa daerah yang kemudian menjadi kekayaan budaya tak benda yang berbicara banyak pada dunia.

“Terima kasih Amanda Niode, atas penghormatan luar biasa terhadap tradisi Indonesia ini, yang dengan indah memperlihatkan bagaimana berbagi hidangan mencerminkan jiwa dan warisan sebuah bangsa. Buku ini menjadi perayaan tulus atas kuatnya hubungan antara makanan, budaya, dan komunitas.” (Eduard Cointreau)




Selamat Bu…
Walau katakanlah tulisan Ibu tentang Choi Pan Tjhia tidak berhasil menggondol kemenangan, tapi Ibu bilang sendiri sudah merasakan strong and delightful euphoria karena telah bergabung bersama 40 tulisan hebat dari 17 provinsi dan 8 pulau di Indonesia, yang berpartisipasi dalam event ini. Itu justru kemenangan Ibu yang hakiki. Dibandingkan kami yang hanya membayangkan, tapi tidak melakukan aksi apapun…
Bener ya Teh Okti. Dari event lomba hingga jadi buku tuh rasanya telah melewati beberapa langkah penting dari profesi saya sebagai food blogger. Dan setidaknya dengan memegang, membaca, dan mengulas isi bukunya langsung, ada serangkaian punched experiences yang telah saya lewati dengan baik. Setidaknya tentang budaya kuliner dan tradisi makan siang yang ada di nusantara.
3-4 tahun lalu pertama kali nyobain choipan, aku langsung jatuh cinta sama makanan ini mba terutama yang isinya bengkuang. kalau di Jakarta ada yang jual terus reviewnya bagus langsung nyobain. Beberapa kali suami tugas ke Pontianak, salah satu oleh oleh yang diminta pasti choipan yang rasanya enak banget, rasanya pingin sungkem sama penemu choipan hi…hi….
Dan memang seenak itu Mbak Hanny. Setelah berkelana mencoba sekian banyak Choi Pan di banyak tempat, Choi Pan Tjhia ini yang the best deh. Seng ada lawan. Isinya banyak tapi kulitnya lembut dan lumer di lidah. Tapi gak mudah hancur. Duh, jadi pengen balik ke Singkawang deh hahaha. Melepas rindu dengan Choi Pan terlezat yang pernah saya rasakan.
Aku jadi penasaran pengen coba Choi Pan Tjhia karena telah membaca artikel ini. Menyantapnya langsung maupun memasaknya sendiri dengan sumber resep terpercaya, mungkin bisa berbeda rasanya? Hebat ya buku ini meraih penghargaan Gourmand. Keren selalu, selalu keren tulisan mbak Annie 👍😄
Kalau sudah nyobain pasti ketagihan deh. Pokoknya Choi Pan Tjhia is the best. Kulitnya lembut, lumer di lidah dengan isiannya yang enak dan penuh. Gede-gede banget ukurannya. Aaahh mendadak pengen balik ke Singkawang.
bagus banget bukunya ya?
Sebagai environmentalist, Ibu Amanda mengajak anggota masyarakat, khususnya pembaca untuk menjaga keaneka ragaman hayati melalui pangan lokal
dan hal itu dapat diterapkan melalui tradisi makan siang
Keseharian yang sering kita lupakan
Iya. Saya menikmati tahap demi tahap keseruannya. Mulai dari memilih topik yang menyesuaikan dengan info lomba. Meski tidak menang, seneng rasanya menjadi bagian dari event ini. Semoga jadi manfaat bagi orang banyak.
Mantap Bu Annie bahas Choi Pan dk buku keren ini.
Daku baru tahap mengenal namanya si Choi Pan dan melihat penampakannya di medsos, belum mencicipinya. Sepertinya perlu juga nih merasakan kenikmatan kudapan yang apik ini, apalagi pernah ada food blogger yang memperlihatkan betapa bikin selera makin meningkat.
Semoga kapan-kapan Fenni bisa menjejakkan kaki di Singkawang ya. Bisa menikmati langsung Choi Pan khas Marga Tjhia di sana. Enaknya seng ada lawan Fen. Belum lagi keseruan melihat banyak keluarga berkumpul di kedai mereka.
Masyaallah tabarakallah. Alhamdulillah, selamat ya mbak. Saya yakin sih tulisannya mbak Annie lolos kurasi atau seleksi karena setiap mereview tempat selalu detail dan seolah kita yang baca juga ikut menikmatinya.
Sebagai warga keturunan, saya salut dengan masyarakat Singkawang yang masih melestarikan budaya leluhur termasuk dibidang kuliner.
Alhamdulillah. Semoga jadi pertinggal sejarah kuliner nusantara yang bermanfaat bagi orang banyak.
Keren mbak, menjadi salah satu konributor dalam buku yang memperoleh Best Book in the World untuk publikasi mengenai makanan dan minuman yang diadakan oleh Gourmand, World Cookbook Awards 2025.
Walau tulisannya tidak keluar sebagai juara, menurut saya tetap patut berbangga tulisannya bisa masuk di buku tersebut. Apalagi bukunya versi Indonesia dan Inggris, tentu akan semakin banyak yang membaca, dan memahami berbagai tradisi makan siang yang ada di negara kita
Alhamdulillah. Semoga menjadi legacy dan melahirkan nilai manfaat bagi orang banyak. Khususnya dunia kuliner nusantara.
Bangga dan terharu banget karena terlibat menjadi bagian dari project buku keren yang ternyata meraih penghargaan GOURMAND Award 🤩🤩🤩🤩 makin kagum sama Ibu Amanda Katili Niode dengan kiprah dan kesungguhannya untuk terus mengharumkan nama negeri tercinta, kali ini lewat tradisi makan siang.
Membaca tulisan terkait Choi Pan Tjhia jujur bikin super super ngiler, andai banyak uang sudah pasti ku ingin segera terbang dan mampir buat cicip.
Semoga saja, melalui buku valuable ini semakin banyak orang yang ingin berkunjung menjelajah hingga kulineran di Indonesia. Istilahnya dari Sabang sampai Merauke Indonesia kaya akan tradisi yang tak kalah menarik untuk dirasakan dan dialami langsung. Setiap daerah punya unik yang bikin makin tertarik buat menyambanginya.
Membaca artikel ini, aku kagum dan merasa semakin mendapatkan pencerahan. Terima kasih , mba selalu menyala dengan karya 😊🙏
Alhamdulillah ya La, kita bisa bareng di buku yang sama. Buku yang menambah pengetahuan kita tentang uniknya kuliner nusantara. Banyak banget artikel yang ulasannya memang nambah insight kita dan kecintaan akan berbagai ulasan bagaimana masakan tersebut bisa jadi budaya yang patut kita lestarikan.
Keren banget bukunya ya ampun. Bisa menambah khazanah wawasan kuliner nusantara ya keren abis.
Ya Mas. Tulisan teman-teman juga bagus-bagus. Saya jadi banyak dapat insight baru. Seneng bisa mengenal budaya makan siang dan kuliner daerah lain.
Cakep nian tampilan bukunyo. Selamat ayuk atas buku ini. Langsung raih penghargaan internasional, kereeeen.
Iyo. Hard cover dengan lembaran arti paper yang tebal nian. Bahagia nian pacak bergabung jadi penulis di buku ini. Baco tulisan kawan-kawan yang lain jadi nambah pengetahuan. Khususnya tentang kuliner di daerah lain.