Baayun Maulid. Memahami Budaya Banjar di Museum Lambung Mangkurat, Banjarbaru

Baayun Maulid. Memahami Budaya Banjar di Museum Lambung Mangkurat, Banjarbaru
Saya di depan teras museum Lambung Mangkurat yang menjadi tuan rumah diadakannya Baayun Maulid 2022

Beberapa hari sebelum berangkat ke Banjarmasin, saya mendapatkan nama Utari dari rekan-rekan blogger sebagai referensi untuk menggali banyak informasi tentang budaya dan destinasi wisata di Kalimantan Selatan khususnya suku Banjar.

Pucuk dicinta ulam pun tiba.

Utari ternyata adalah seorang penggiat budaya asal Depok yang saat itu sedang bertugas di Banjarbaru. Orang yang tepat untuk melengkapi kunjungan saya dan mengisi beberapa ruang informasi agar artikel ini dapat saya tulis sebaik mungkin.

Lewat diskusi via WA, Utari menginformasikan bahwa persis di tanggal kedatangan saya, 20 Oktober 2022, akan diadakan acara Baayun Maulid di Museum Lambung Mangkurat. Satu-satunya museum yang dimiliki oleh Banjarbaru, ibukota Kalimantan Selatan. Museum Lambung Mangkurat ini berada di Jl. Ahmad Yani. Jalan protokol yang gampang dikenali dan dicari.

Saat mengetahui bahwa event Baayun hanya diadakan sekali dalam setahun, saya mendadak merasakan sebuah keberuntungan yang luar biasa. Suatu kebetulan istimewa yang jarang sekali terjadi sepanjang sejarah perjalanan saya sebagai seorang blogger sejak 2017.

Baca Juga : Rattan Inn Banjarmasin. Klasik dan Berkelas

Perjalanan ke Museum Lambung Mangkurat

Saya dan suami menginap di Banjarmasin, ibu kota lama dari Kalimantan Selatan. Dari Banjarmasin saya membutuhkan setidaknya satu jam perjalanan untuk mencapai Banjarbaru.

Karena ingin menyaksikan keseluruhan acara secara utuh, driver mobil sewaan mengusulkan agar saya bisa berangkat dari hotel setidaknya satu setengah jam sebelum acara dimulai. Ini dengan asumsi bahwa perjalanan bisa dilakukan sesantai mungkin, tidak terburu-buru tapi tetap bisa sampai di Museum Lambung Mangkurat tanpa terlambat.

Pian (kamu) kan musti menikmati pemandangan selama dalam perjalanan. Ulun (saya) setirnya santai aja.”

Saya meng-iya-kan usulan ini. Tentu saja dengan konsekuensi akan bangun lebih pagi karena satu jam perbedaan waktu antara Cikarang – Bekasi dan Banjarmasin – Kalimantan Selatan. Dengan asumsi saat dijemput saya sudah menyelesaikan sarapan dan kalau dihitung mundur, pembagian waktunya ternyata cukup ketat. Acara dimulai pkl. 09:00 wita (08:00 wib). Berangkat dari hotel pkl. 07:30 wita (06:30 wib). Sarapan pkl. 06:30 wita (05:30 wib). Mendadak teringat masa-masa sekolah. Jam biologisnya persis sama agar tidak telat masuk sekolah tepat pkl. 07:00 wib.

Yoweslah, demi bisa menyaksikan acara setahun sekali ini, apalah artinya nostalgia dengan jam biologis semasa kecil hingga remaja.

Pada praktiknya, akhirnya saya sakit perut, nabung dulu demi panggilan alam berkali-kali (mungkin perutnya kaget kali ya diajak makan terlalu pagi) dan si Mas driver datang terlambat hampir 30 menit.

Tapi tak apa, Perjalanan yang saya lakukan adalah dalam rangka liburan bukan pertemuan bisnis. Jadi saya tetap meminta si Mas untuk nyetir perlahan saja agar saya bisa menikmati sebagian kota Banjarmasin dan jalan yang menghubungkan kota ini dengan Banjarbaru.

Sepanjang perjalanan saya melihat kota Banjarmasin dalam beberapa titik mulai tampak sangat bersentuhan dengan air dan rawa yang lumayan tinggi. Bahkan sejajar dengan jalan aspal. Sebelum mencapai pusat kota Banjarbaru, saya melewati bandara internasional Syamsuddin Noor dari sebuah jalan utama yang hanya dibatasi oleh pagar besi. Saya melihat Banjarbaru mulai bersolek dengan masih ada beberapa lahan terbuka. Rute perjalanan yang nyaris sama saat kita berada di berbagai provinsi yang sedang dan masih berkembang.

Dari bandara menuju museum Lambung Mangkurat kita hanya perlu melalui jalan utama masuk ke tengah kota Banjarbaru. Jadi tidak perlu bantuan ekstra untuk meraih museum yang diresmikan pada 1979 ini.

Baca Juga : Belanja Seru di Pasar Terapung Lok Baintan

Baayun Maulid. Memahami Budaya Banjar di Museum Lambung Mangkurat, Banjarbaru
Sebuah alun-alun kecil yang berada persis di depan museum atau pintu masuk utama museum. Di tempat ini ada tulisan Museum Lambung Mangkurat yang tersanggah oleh besi

Baayun Maulid. Memahami Budaya Banjar di Museum Lambung Mangkurat, Banjarbaru
Megahnya Museum Lambung Mangkurat dengan bentuk khas Banjar, Rumah Bumbungan Tinggi

Tentang Museum Lambung Mangkurat

Dari beberapa referensi yang saya dapatkan, nama asal dari museum ini adalah Museum Borneo. Gedungnya berlokasi di Banjarmasin dan dibangun pada jaman penjajahan Belanda di 1907. Museum ini sempat ditutup saat pendudukan Jepang tapi kemudian buka kembali pada 1955. Saat itu museum ini berganti nama menjadi Museum Kalimantan. Isinya adalah koleksi barang pribadi dari Kiai Amir Hasan Bondan Kejawen.

Pada 1957 di Banjarmasin, tepatnya di Museum Kalimantan, diadakan konfrensi kebudayaan. Event inilah yang kemudian membangkitkan kembali aktivitas museum hingga akhirnya kembali berubah nama menjadi Museum Banjarmasin pada 1967. Setelah mengalami kekosongan yang cukup lama, museum ini dipindahkan ke Banjarbaru. Pembangunan di lokasi baru ini dimulai pada 1974 dan selesai pada 1979. Museum kemudian diresmikan oleh Mentri Pendidikan dan Kebudayaan pada masa itu yaitu Bapak Daoed Joesoef. Peristiwa yang terjadi pada 10 Januari 1979 ini melahirkan nama baru yaitu Museum Lambung Mangkurat. Nama yang terus digunakan hingga saat ini.

BTW, tanggal pendirian/peresmian (tanggal dan bulan) Museum Lambung Mangkurat persis sama dengan tanggal kelahiran saya. Wah, jadi bisa terus ingat ini sih.

Nama Lambung Mangkurat sendiri diambil dari nama Raja ke-2 atau pemangku kerajaan negara Dipa (cikal bakal dari Kesultanan Banjar). Fisik bangunannya sendiri adalah wujud dari rumah adat Banjar yaitu Rumah Bubungan Tinggi. Atapnya yang lonjong memanjang adalah cerminan budaya khas suku Banjar.

Berkeliling singkat dari sisi luar, saya melihat bahwa Museum Lambung Mangkurat ini memiliki satu bangunan utama dengan dua lantai yang berada di tengah lahan seluas 1.5 hektar. Disampingnya terdapat beberapa bangunan kecil termasuk diantaranya adalah sebuah kantin kecil yang berada di dekat pintu masuk bagian belakang. Saya, Utari dan Ruli (salah seorang blogger Banjar) sempat duduk berlama-lama di sini menunggu hujan reda di hari terakhir kunjungan saya di Banjarbaru.

Ruangan pamernya sendiri ada dua. Pertama adalah ruangan tertutup yang terdiri dari Rumah Bubungan Tinggi dan beberapa bangunan kecil di sampingnya. Kedua adalah ruang pamer terbuka yang berada di dekat pintu gerbang utama museum.

Ruang pamer terbuka ini diisi oleh tiga alat transportasi sungai masyarakat Banjar yaitu Jukung Sudur, Perahu Pandan Liris dan Jukung Tambangan. Alat transportasi tradisional yang terbuat dari kayu Ulin dan didominasi oleh cat hitam ini diletakkan di dalam sebuah rumah kayu tanpa dinding. Perahunya bisa langsung kita lihat dengan beberapa catatan penting yang dipasang di area yang sama.

Perahu atau Jukung Tambangan. Istilah “tambang” berarti “upah”. Perahu ini digunakan sebagai sarana angkutan sungai untuk membawa penumpang atau barang. Jadi Perahu/Jukung Tambangan adalah perahu angkutan umum (taksi) yang memungut upah (tambang) sebagai imbalan jasa pengangkutan.

Perahu Pandan Liris. Perahu ini ditemukan di dasar sungai di desa Sepala, kecamatan Danau Panggang, Kabupaten Hulu Sungai Utara. Daerah ini merupakan rawa yang sangat luas. Dilihat dari lokasi penemuannya, perahu ini merupakan alat transportasi air di danau.

Jukung Sudur. Ditemukan terpendam dalam tanah di tepi Sungai Tarasi di desa Kaludan Besar, kecamatan Hulu Sungai Utara, tahun 1944. Jukung Sudur ini diperkirakan dibuat pada abad ke-15. Bahan dasarnya diambil dari batang pohon tunggal yang digali cekung membujur. Panjangnya mencapai kurang lebih 17 meter, sedangkan ukuran biasanya adalah hanya sekitar 3 hingga 5 meter. Melihat ukurannya yang sedemikian besar diduga bahwa perahu ini dahulu digunakan sebagai sarana pengangkutan barang.

Baca Juga : Terjebak Kekaguman di Outlet Dekranasda Kota Banjarbaru Kalimantan Selatan

Baayun Maulid. Memahami Budaya Banjar di Museum Lambung Mangkurat, Banjarbaru
Beberapa perahu yang terdapat di dalam rumah kayu tanpa dinding yang ada di halaman museum Lambung Mangkurat

Baayun Maulid. Memahami Budaya Banjar di Museum Lambung Mangkurat, Banjarbaru
Rumah kayu tanpa dinding yang menampung tiga jenis alat transportasi sungai tradisional masyarakat suku Banjar

Museum Lambung Mangkurat sendiri, dalam catatannya, memiliki sekitar 11.965 koleksi yang mencakup berbagai klasifikasi. Diantaranya adalah Geologi/Geografi yang berfokus pada sisi geografis atau letak dimana barang tersebut ditemukan serta segala sesuatu yang ada di planet bumi beserta isinya yang pernah ada, Biologi dari unsur hayati yang beranjak dari organisme hidup dan tentang kehidupan itu sendiri. Atau dengan kata lain adalah tentang makhluk hidup.

Lalu ada kualifikasi Etnografi yaitu benda-benda yang dipakai dalam kehidupan sehari-hari tetapi juga digunakan oleh masyarakat jaman dahulu. Kualifikasi Arkeologi yaitu tentang kebudayaan manusia masa lalu yang kemudian menjadi kajian sistematis atas data bendawi yang ditinggalkan. Selanjutnya adalah kualifikasi Historika yang berhubungan dengan sejarah umat Islam dan alkitab Kristen.

Kualifikasi berikutnya yang menaungi isi dari Museum Lambung Mangkurat adalah kualifikasi Numismatika yaitu kegiatan yang berkaitan dengan mengumpulkan benda-benda terkait dengan uang (kertas, koin, token) dan benda-benda terkait lainnya yang pernah beredar dan digunakan oleh masyarakat. Kemudian ada kualifikasi Heraldika/Kebentaran yang menyangkut ilmu dan seni dalam menciptakan dan beserta kajian tentang makna, asal usul sejarah dan perkembangannya. Dilanjutkan kualifikasi Filologi yang mencakup ilmu pengetahuan yang mengkaji tentang sejarah, pranata dan kehidupan suatu bangsa yang terdapat dalam nakah-naskah lama. Dan yang terakhir adalah kualifikasi Keramologi. Salah satu kualifikasi yang merupakan salah satu ilmu bantu dari sejarah. Ilmu ini mempelajari tentang benda-benda bersejarah yang terbuat dari keramik khususnya tentang tahun pembuatan, bahan yang digunakan serta cara pembuatan dan keasliannya.

Dengan kualifikasi sebanyak ini, saya yakin koleksi bersejarah dari Museum Lambung Mangkurat memiliki unsur kelengkapan yang membawa para pengunjung menjelajah museum sembari menambah banyak pengetahuan. Tidak hanya pada cerita masa lampau, aneka seni rupa dan peninggalan teknologi pada masanya, tapi juga mengingatkan kita akan pentingnya melestarikan budaya lampau sebagai bagian dari masa kini.

Dan sesuai dengan letak dan keberadaannya secara geografis, Museum Lambung Mangkurat tentunya menyimpan jejak-jejak dan peninggalan penting dari Suku Banjar. Akar kehidupan dan muasal dari jutaan nyawa yang sekarang berada di Kalimantan Selatan. Termasuk diantaranya apa yang sempat tersimpan saat Kesultanan Banjar masih berkuasa seperti kursi emas, perisai, payung, tombak dan mahkota.

Baca Juga : Swiss-BelHotel Borneo Banjarmasin. Semalam menginap di Depan Sungai Martapura

Baayun Maulid untuk Rakyat Banjarbaru

Saya tiba di Museum Lambung Makurat saat acara sudah berlangsung. Ratusan orang sudah menyemut. Di halaman depan puluhan mobil dan motor sudah terparkir. Begitupun dengan para penjual jajanan, makanan dan minuman. Antusiasme masyarakat akan acara ini tampak terlihat. Hampir semua yang berpartisipasi menggunakan pakaian formal karena memang Gubernur Kalimantan Selatan hadir memberikan sambutan dan membuka event ini secara resmi.

Satu yang membuat saya kagum saat berada di acara ini adalah eksistensi kain Sasirangan. Dikenakan dengan begitu indahnya oleh panitia, bapak-bapak dari jajaran pemerintahan juga ibu-ibu cantik yang berasal dari berbagi organisasi dan protokoler pemerintah kota serta pemerintah daerah. Motifnya dan warnanya cantik juga beragam. Saya bahkan sampai tidak mampu mengedipkan mata saat beradu pandang dengan ibu-ibu yang memakai Sasirangan dengan model atau design baju yang sangat sophisticated.

Betapa sebuah wastra asli daerah telah memukau dan memesona indera penglihatan saya.

Keindahan Sasirangan ini bertebaran hampir di setiap sudut upacara sedang berlangsung. Dikenakan berupa pakaian (baju atasan, gamis dan juga bawahan), ada juga dalam bentuk tas dengan beberapa bentuk dan ukuran. Ada juga yang menggunakannya dalam bentuk kerudung dan ikat rambut. MashaAllah mengagumkan dan cantik-cantik semua.

Cus ah sebelum tambah ngences sama kain Sasirangan, saya pun bergegas mencari Utari.

Saya akhirnya bertemu dengan Utari di belakang panggung dan diajak untuk melihat serta memotret ratusan ayunan kain yang memang sudah dipersiapkan oleh peserta dan diatur panitia. Puluhan bambu-bambu besar nan kokoh ditautkan, diikatkan menggunakan tali hitam kokoh, dijalin satu persatu hingga menyerupai tiang-tiang tegak yang mampu menyanggah beban seberat apapun. Rangkaian ayunan ini diletakkan di tiga titik strategis yang berada di teras tengah museum.

Baayun Maulid. Memahami Budaya Banjar di Museum Lambung Mangkurat, Banjarbaru
Deretan peserta yang mengikuti upacara Baayun Maulid 2022. Jumlahnya ratusan dengan deretan yang sangat padat

Apa Itu Baayun Maulid?

Baayun Maulid pada dasarnya adalah akulturasi antara budaya dan kearifan lokal suku Banjar dengan agama Islam. Jadi bisa dikatakan bahwa acara tahunan ini adalah upacara keagamaan yang beriringan dengan tradisi lokal. Ada unsur-unsur dakwah yang diselipkan diantaranya yaitu perayaan kelahiran Nabi Muhammad SAW yang jatuh pada 12 Rabiul Awal. Kegiatan ini juga adalah bentuk rasa syukur atas kelahiran sang Nabi. Dengan harapan bahwa anak-anak Banjar, terutama yang mengikuti Baayun Maulid, jika sudah besar bisa mengikuti keteladanan Nabi serta berbakti kepada kedua orang tua.

Baayun Maulid selain memang diadakan untuk anak-anak yang baru dilahirkan, di usia balita maupun sedikit lebih tua, juga diperbolehkan untuk mereka yang sudah berada di usia dewasa yang dulu (mungkin) belum sempat mengikuti Baayun. Bisa juga karena alasan nazar. Satu keinginan khusus yang dikabulkan oleh Allah SWT. Biasanya permohonan tersebut diiringi dengan niat untuk melakukan sesuatu sebagai balasan atas terkabulnya apa yang diinginkan.

Ornamen apa saja yang melengkapi kegiatan Baayun Maulid?

Baayun sendiri diambil dari kata ayun atau mengayun anak (bayi) dalam sebuah ayunan yang dilengkapi dengan pernak-pernik dan ornamen yang mengikuti ketentuan-ketentuan khusus dari budaya itu sendiri. Saat penyelenggaraan Baayun Maulid di Museum Lambung Mangkurat, di atas ayunan dipasang nomor urut dan nama dari anak atau orang dewasa yang tercatat sebagai peserta upacara Baayun Maulid.

Saat saya datang, peserta Baayun Maulid berjumlah lebih dari seratusan orang. Ramenya bukan kepalang.

Ayunannya sendiri terbuat dari tiga helai kain tapih panjang atau kain panjang, kakamban atau selendang serta berbagai hiasan yang digantungkan pada ayunan. Kainnya sendiri, yang saya lihat, kebanyakan adalah kain batik Jawa. Sementara selendangnya adalah selendang berwarna polos dengan warna-warna cerah yang menarik hati.

Ayunan dari kain ini kemudian dilengkapi dengan beberapa hiasan berupa janur yang terbuat dari nipah dan dibentuk menyerupai hal-hal tertentu. Jumlahnya ada sebelas buah. Masing-masing janur dibuat oleh orang-orang tertentu yang memang memiliki pemahaman dan keahlian dalam membuat janur untuk perayaan Baayun Maulid. Kesebelas janur tersebut memiliki nama-nama khusus dengan makna yang khusus pula.

  1. Janur Tangga Pangeran. Janur ini adalah janur utama. Sesuai dengan namanya, janur ini dibentuk bersusun menyerupai tangga. Bentuknya berjenjang yang dibuat dari dua batang janur yang dianyam dan disatukan. Bagian atasnya dibuat menguncup. Disebut sebagai tangga pangeran karena berkaitan dengan cerita Putri Junjung Buih yang diiringi doa agar kehidupan sang anak kelak akan mulia;
  2. Janur Talakup Laki. Menggunakan janur dari sebatang daun. Daun janur akan disayat memanjang namun sebagian masih menyentuh lidinya. Setelah itu kedua helai akan disatukan menghadap ke bawah dan jumlahnya ganjil;
  3. Janur Talakup Bini. Janur ini pembuatannya serupa dengan Janur Talakup Laki. Hanya menghadapnya ke atas;
  4. Janur Keris. Janurnya berbentuk zig zag dan menyerupai keris;
  5. Janur Pecut. Janur ini bentuknya seperti pecut yang biasa digunakan untuk mengembala ternak. Proses pembuatannya seperti melapisi batang tengah daun nipah dengan helaian daun secara melingkar;
  6. Janur Kambang Sarai. Janur ini memiliki makna tentang semangat hidup. Jadi tujuannya adalah sebagai doa bagi si anak yang mengikuti Baayun agar tepat memiliki semangat dan tujuan hidup yang baik;
  7. Janur Gelang Gelang. Janur ini melambangkan kesatuan yang diambil dari lembaran daun nipah yang disatukan dengan cara digulung. Tujuannya adalah agar anak yang diayun memiliki tali persaudaran yang tak putus dengan para Tutus Banua Halat*;
  8. Janur Payung. Seperti makna sebuah payung, janur ini memiliki arti agar anak selalu mendapatkan perlindungan dalam menempuh kehidupan;
  9. Janur Halilipan. Janur ini disertai doa agar kelak anak yang bersangkutan menjadi seorang pemberani, teguh dalam menegakkan prinsip namun tetap rendah hati;
  10. Janur Ketupat. Sesuai dengan penamaannya, janur ini berbentuk persis seperti ketupat yang biasa kita jumpai saat Hari Raya Idul Fitri. Janur ini melambangkan permohonan atau doa agar kedepannya si anak bisa membekali dirinya dengan banyak kebaikan;
  11. Janur Walut. Walut/welut adalah nama lain dari belut. Analoginya adalah bahwa si anak dianggap bisa merefleksikan hewan belut yang licin.

Referensi tulisan dan informasi lebih lanjut tentang Janur tersebut di atas, bisa dibaca lebih lengkap di : 11 Janur yang Dipakai Pada Upacara Baayun Maulid

* Banua Halat artinya kampung perbatasan antara kampung suku Banjar yang sudah memeluk agama Islam dengan perkampungan suku Bukit yang masih beragama nenek moyang yaitu kepercayaan Balian yang biasanya disamakan dengan agama Kaharingan (agama asal kaum/suku Dayak)

Selain dilengkapi dengan ornamen janur, kain yang dibentuk seperti ayunan ini juga ditambah dengan kue cucur yang melambangkan kejujuran serta kue cincin yang menjadi perlambang kehidupan yang terus berputar. Kedua kue ini dibungkus dalam plastik dan digantung di bagian atas ayunan. Lalu juga ada pisang, uang dan bunga-bunga yang ditaruh di dalam Janur Tangga Pangeran.

Dari Utari saya mendapatkan tambahan informasi bahwa jika mengikuti budaya otentik Banjar jaman dahulu, gantungan atau ayunan yang digunakan seharusnya menggunakan Kain Paminta. Kain yang dibuat khusus untuk titisan atau keturunan Datuk dari Kesultanan Banjar. Kain yang terlihat seperti kain blacu ini biasanya dibuat dengan pewarna alami dan sentuhan lukisan (layaknya saat kita membuat kain bermotif). Jika digunakan sebagai pengobatan, kain ini biasanya diikat di area yang sakit lalu dibacakan doa. Satu prosesi personal yang dilakukan hanya pada waktu-waktu tertentu. Tentu saja dengan beberapa ketentuan bahwa proses pengobatan ini dilakukan secara tertutup.

Tapi seiring dengan perkembangan jaman terutama mempertimbangkan kepraktisan, penghematan biaya dan sudah langkanya Kain Paminta, upacara Baayun Maulid diadakan dengan sederhana tapi tetap dengan tidak meninggalkan semua persyaratan budaya dan kesakralan pelaksanaan dari Baayun Maulid itu sendiri.

Acara yang Meriah

Usai berkeliling melihat ayunan dengan peserta yang sedemikian banyak serta keriuhan yang terjadi dia area ayun, saya memutuskan untuk duduk di tenda depan sembari mendengarkan kata sambutan Bapak H. Sahbirin Noor, Gubernur Kalimantan Selatan, yang berkesempatan hadir di museum Lambung Mangkurat. Shalawat serta lantunan lagu puja puji kepada Nabi pun tak henti mengalun merdu sebelum dan sesudah beliau menyampaikan pidato kebanggaan.

Mengapa saya sebut sebagai pidato kebanggaan? Karena sebagai seorang pemimpin di daerah dimana acara ini berlangsung, beliau pasti merasakan satu kebanggaan tertentu karena tetap bisa menyaksikan upacara pelestarian budaya yang nyata dilakukan oleh masyarakat Banjarbaru. Masyarakat yang berada di bawah kepemimpinannya. Sebuah kegiatan rutin yang tetap dipertahankan agar semua rakyat Kalimantan Selatan umumnya dan warga Banjarbaru khususnya, bisa mengingat bagaimana satu kearifan lokal telah bertumbuh dengan baik meski jaman sudah berubah dan bergerak maju.

Tak mudah juga saat seni dan budaya tradisional bisa dipertahankan tanpa mereka yang mau (serius) terlibat di dalamnya.

Semua tercurahkan lewat sambutan resmi beliau yang mengajak warga Banjarbaru untuk selalu ingat akan budaya sendiri dan bagaimana budaya tersebut bisa berkolaborasi serta menyatu dengan keimanan Islam yang dipegang teguh sebagai landasan dan nafas kehidupan masyarakat.

Saya tertegun dengan rangkaian kalimat ini sekaligus menyampaikan sikap persetujuan dengan memberikan tepuk tangan meriah saat sang Gubernur mengakhiri berlembar-lembar naskah pidato yang ada di depannya.

Saya pun melantunkan doa di dalam hati agar pesta rakyat, pesta budaya seperti Baayun Maulid yang merupakan kekayaan seni tak benda yang dimiliki oleh Banjarbaru ini bisa terus lestari sepanjang masa. Begitupun untuk kelestarian Museum Lambung Mangkurat. Semoga tempat bersejarah ini terus eksis, terawat dengan baik dari generasi ke generasi dan terus memberikan manfaat bagi siapapun, terutama untuk publik Banjarbaru.

Baayun Maulid. Memahami Budaya Banjar di Museum Lambung Mangkurat, Banjarbaru
Salah satu sisi depan museum yang menampung peserta Baayun Maulid

Baayun Maulid. Memahami Budaya Banjar di Museum Lambung Mangkurat, Banjarbaru
Para undangan yang duduk di salah satu tenda yang disediakan panitia Baayun Maulid. Didekatnya ada sebuah prasasti peresmian museum

Baayun Maulid. Memahami Budaya Banjar di Museum Lambung Mangkurat, Banjarbaru
Para lelaki yang melantunkan shalawat dan rangkaian pujian serta doa sebagai rangkaian dari upacara Baayun Maulid

Baayun Maulid. Memahami Budaya Banjar di Museum Lambung Mangkurat, Banjarbaru
Museum Lambung Mangkurat yang terlihat bersih dan sangat tertata area luarnya

    Blogger, Author, Crafter and Photography Enthusiast

    annie.nugraha@gmail.com | +62-811-108-582

    56 thoughts on “Baayun Maulid. Memahami Budaya Banjar di Museum Lambung Mangkurat, Banjarbaru”

      • Semoga suatu saat Kang Sugi bisa ke museum Lambung Mangkurat dan menyaksikan Baayun Maulid secara langsung ya

    1. Sekarang museum ngga lagi menyeramkan atau membosankan seperti yang dulu-dulu ya, Bu. Udah lebih menyenangkan berada di dalam museum karena udah dibikin estetik dan lebih nyaman.
      Itu ada meriam mengingatkan saya pada Istana Maimun di Medan. Tapi sayang Istana Maimun lebih ke komersil, banyak memajang barang dagangan daripada barang peninggalan yang bernilai sejarah.

      Reply
      • Bener banget Suci. Harus begitu agar publik merasa nyaman saat berkunjung ke museum.

        Aaahh betul sekali. Saya juga belum lama ke Istana Maimun. Astaga. Benar-benar berubah. Tak ada lagi nuansa istana yang terasa di sana. Malah banyak penjaja baju untuk berfoto, menjual souvenir, dan lain-lain, Kesakralan dan makna istana tidak terlihat sama sekali. Sayang banget ya. Kekecewaan ini sudah saya tuliskan di blog juga. Sedih banget pokoknya.

      • Iyaa mba, apalagi untuk anak remaja bisa berfoto¬≤ ala Instagram gitu yaa kalau lagi berkunjung ke museum…
        Wkwkwk aku no coment mba kl yang istana Maimun Medan punya ūü§≠

    2. Selalu menarik sih ya kalau membahas mengenai budaya. Apalagi pas mengikuti acaranya. Kita jadi lebih mengenal dan ikut merasakan euforia acara Baayun Maulid juga.

      Reply
      • Betul banget. Apalagi Indonesia itu kaya akan budaya. Dan sangat beragam. Rasanya gak habis-habis untuk dibahas dan dinikmati.

    3. Baru tau ada budaya 11 janur yang punya filosofi dalam banget
      Jadi penasaran, karena dulu saya juga sering blusukan ke kampung adat khususnya ketika ada upacara
      Sayang gak merhatiin janurnya

      Reply
      • Ya Mbak. Dari Baayun Maulid saya juga jadi tahu tentang janur yang berguna untuk sebuah upacara budaya.

    4. Selalu tulisan nya bunda Annie itu ada cerita yang menarik sehingga betah untuk dibaca sampai habis dalam waktu singkat asking tak terasa. Semoga bisa berkunjung ke Banjarmasin dan melihat acara Baayun Maulid secara langsung, suatu saat nanti, aamiin

      Reply
      • MashaAllah. Terimakasih untuk complimentnya Litha. Semoga suatu saat Litha bisa berkunjung ke Banjarbaru untuk melihat upacara Baayun Maulid ya.

    5. Seru banget bisa menyaksikan acara yang digelar setahun sekali :D Saya sering tersentuh melihat gelaran budaya yg berkaitan dgn anak kecil. Soalnya, ada banyak sekali doa dan harapan yg dipanjatkan untuk si anak dengan berbagai macam perlambang. Saya mengagumi betapa budaya Indonesia itu cerdas dalam merumuskan doa dalam bentuk yang memiliki nilai seni.

      Reply
      • Well-written Mbak. Setuju banget. Doa-doa dan harapan yang dipanjatkan saat upacara Baayun Maulid tentunya sangat bermakna bagi semua peserta yang mengikuti acara ini.

    6. Wah, Mbak Annie beruntung sekali, ya. Sekali merengkuh dayung, 2-3 pulau terlampau. Sekali ke Banjar Baru bisa sekalian ke museum Lambung Mangkurat plus menyaksikan Baayun Maulid. Ini pas benar dengan hari keberadaan di sana ya, Mbak. Dari cerita Mbak Annie acaranya sangat menarik, apalagi bisa langsung menyaksikan ya, Mbak.

      Reply
      • Iya Mas. Alhamdulillah. Bisa berkunjung ke satu tempat sekaligus menikmati upacara budaya yang hanya dilakukan sekali dalam setahun.

    7. Museum Lambung Mangkurat dari luar terlihat kekinian, jauh dari kesan museum yang umumnya terkesan ‘dingin’.
      Semoga acara Baayun Maulid tahun depan lebih sukses lagi dan bisa mempromosikan budaya Banjar ke masyarakat luas.
      Melalui tulisan mba Annie jadi mengetahui filosofi 11 janur-nya.

      Reply
      • Aamiin YRA. Semoga Museum Lambung Mangkurat bisa terus melestarikan budaya lokal sesuai dengan misi yang telah mereka tetapkan.

    8. Seru banget mbak perjalanan ke Banjarmasinnya. Jadi ingat utari itu nama temen saya waktu masih kerja kantoran dulu. Wkwkwk. Ternyata utari ada yg penggiat budaya ya. Tertarik sama kain pamintanya nih. Namanya unik.

      Reply
      • Alhamdulillah. Dengan didampingi Utari, kunjungan saya jadi ada valuenya. Banyak hal atau informasi yang saya dapatkan lewat bantuan Utari.

    9. Perjalanan ke Kalimantan gini mengingatkan momen saya pernah main ke pulau Kalimantan juga. Seru sekali dengan acara yang meriah seperti ini, belajar banyak budaya baru juga ya, Mba. Mengenal hal baru gini membuat kita semakin bahwa memang kaya banget kebudayaan di Indonesia.

      Reply
    10. Senangnyaaaa, pas datang ke sana pas ada perhelatan setahun sekali. Bagus nih kalau museum-museum di kota lain juga dijadikan tempat acara masyarakat gini. Jadi bisa sekalian mendekatkan museum dengan masyarakat.

      Reply
      • Betul banget. Dan misi mendekatkan diri dengan masyarakat adalah salah satu misi dari Museum Lambung Mangkurat. Semoga kedepannya misi ini akan semakin berjalan dengan baik.

      • Setuju kak,
        Apalagi juga hasil kreativitas para peserta keren-keren ya. Semoga acara ini terus berkelanjutan ya

    11. Kalau ada pesta rakyat seperti ini jadi salah satu tujuan wisata nih buat para wisatawan, karena bisa sekalian mempelajari kebudayaan setempat. Jadinya travelingnya dapat, khasanah budaya pun juga, plus oleh²nya juga pastinya hehe

      Reply
    12. Wah noted mbak jadi tau soal acara ini, kyknya menarik kalau pas ke Bjb tgl2 pas ada event ini jadi lbh keliatan deh semarak kota dan budayanya hehe. Aku kalau ke rumah mertua biasanya cuma berapa hari aja gak pernah lama jd cuma mengunjungi sauadra gak sempet ke mana2. Moga ada rezeki bisa mudik ke sana, sekarang anak2 dah gede agak berat tiketnya haha, jd lbh seringnya malah mertua yg ke sini :D

      Reply
      • Semoga pas mudik nanti, banyak acara-acara lokal yang menarik untuk disimak ya Pril. Banjarbaru memang wisatanya terbatas ya. Tapi menurutku banyak banget hal yang bisa dikulik. Aku juga kepengen balik lagi. Belum sempat mengulik wisata kuliner dan alam karena diterjang hujan selama dua hari. Pergerakan jadi terbatas.

    13. Wah pasti perjalanan mbak Annie kali ini sangat berkesan ya
      Bisa mengunjungi museum sekaligus mengikuti acara kebudayaan seperti ini
      Perjalanan kebudayaan ya mbak

      Reply
      • Berkesan banget Mbak Dian. Mudah-mudah bisa balik lagi karena saya belum puas blusukan ke kuliner dan wisata alamnya.

    14. Terniattttttt Mbak Annie. Sampai cari pakar pegiat budaya. Ini mah more than a blogger. Udah kayak jurnalis parekraf. Keren.

      Jauh-jauh ke Banjarbaru eeeh ketemunya orang Depok lagi ya mba. Hahahaha. Menarik sekali kisah perjalanannya Mba Annie. Tradisi Baayun Maulidnya jujur, saya baru ini membaca dan mengetahuinya. Informatif.

      Reply
      • Hahahaha karena kalau acara budaya seperti Baayun Maulid ini harus mendapatkan cerita dari mereka yang mengerti. Supaya setidaknya kita paham akan visi dan misinya. Gak sekedar hadir secara fisik dan motret aja.

    15. Unik banget ya mbak bangunan museum lambung mangkurat. Kayaknya aku udah lama banget nggak melihat pesta rakyat macam ini. Seru sekali mbak!

      Reply
    16. Dapat informasi baru mengenai upacara Baayun Maulid dari Banjar.
      Karena sesungguhnya kekayaan budaya ini bisa kita lestarikan salah satunya dengan menuliskannya seperti ini. Jadi tetap lestari dan bagi wisatawan, baiknya berkunjung saat ada upacara adat seperti ini ya, kak Annie. Sehingga dapet momentnya.

      Reply
      • Setuju banget Len. Dengan menuliskannya berarti kita meninggalkan legacy untuk generasi berikutnya. Biar mereka mendapatkan informasi dan dokumentasi atas apa yang pernah terjadi untuk upacara Baayun Maulid dan Museum Lambung Mangkurat itu sendiri di 2022.

      • Kagum banget sama kedalaman pemahaman kak Annie terhadap sebuah budaya.
        Ini baru Banjarbaru, Kalimantan. Belum daerah lain.
        MashaAllah~
        Dan salut juga degan anak muda Banjar yang masih banyak yang hadir di acara Baayun Maulid ini.
        Sehingga anak muda sekarang bisa terus melanjutkannya di tahun tahun mendatang.

    17. Wow cantik-cantik karyanya
      Suku Banjar ini sama besarnya dengan suku Jawa (bukan dari jumlah lho ya)
      Gak heran warisan budayanya begitu kaya dan megah
      Tanggung jawab kita bersama untuk melestarikan

      Reply
      • Melestarikan dan mencatatkannya ya Mbak. Dari tulisan inshaAllah budaya ini juga akan dikenal publik, sekaligus sebagai jejak dan bukti bahwa Baayun Maulid selalu dijaga keberadaannya oleh publik Banjar Baru.

    18. Sebuah keberuntungan ya Mba, di kala berkunjung ke suatu wilayah bertepatan pula dengan kegiatan budaya setempat.
      Baayun Maulid ini pun begitu bermakna khususnya bagi masyarakat banjar
      Semoga tradisi yang sudah sejak dulu diselenggarakan bisa tetap terjaga dan terus dilestarikan masyarakat

      Reply
      • Betul banget Mbak Nur. Kesempatan langka yang bisa saya lihat dan tuliskan. Apalagi kan saya tinggalnya seberang pulau. Jauh dari Banjarbaru. Berasa sekali keberuntungannya

    19. Happy banget baca tulisannya Teh, jadi berasa ikut jalan-jalan ke Museum Lambung Mangkurat melihat garis besar gambaran isi dalam museum, syukur2 ikut mampir ke sana juga ya. Anakku pecinta museum, tiap ditanya mau kemana pasti nyebut salah satu nama museum.

      Reply
      • Semoga suatu saat Dessy dan keluarga bisa berwisata ke Banjarbaru. Pasti seneng deh anaknya menjelajah Museum Lambung Mangkurat

    20. Decak kagum rasanya baca tulisan kak Annie ini. Syarat penyampaian akan budaya banjar dan museum yg begitu mempesona. Keren sekali acara semacam ini bisa melestarikan warisan budaya leluhur.

      Reply
      • Bener Mas Wahid. Senang rasanya bisa mewariskan tulisan tentang satu acara yang menjejak sejarah. Semoga lewat tulisan ini Baayun Maulid terus dipertahankan dan akan selalu dikenang sepanjang masa.

    21. Wow luar biasa nih Kak Annie reportase perjalanan ke Banjar-Kalimantan Selatan. Terkagum aku kak melihat museum Lambung Mangkurat yang begitu luas. Nilai sejarahnya itu loh, ada perahu tradisional zaman dulu yang masih ada. Ini menunjukan betapa kayanya budaya Indonesia. Begitupula dengan upacara Baayun Maulid. Berbagai jenis ayunan tersaji lengkap dengan nama anak.
      Beruntung sekali Kak Annie bisa mengikuti acara sakral ini. Btw disana ada khas kulinernya kak? penasaran nih. Ditunggu cerita berikutnya di blognya Kak Annie.

      Reply
      • Iya Kak. Jarang-jarang ya ada liputan tentang budaya. Saya beruntung. Pas ke Banjarbaru, pas ada acara Baayun Maulid. Seneng rasanya bisa melihat acara ini.

        InshaAllah bulan ini akan kembali ke Banjarbaru dan sudah rencana untuk wisata kuliner tradisional. Semoga Allah SWT mengijinkan.

    22. Memang paling seru itu mempelajari sejarah melalui museum ya Mbak. Aku pun cukup tertarik untuk mengunjungi museum. Semoga kelak punya kesempatan untuk berkunjung ke sana juga.

      Reply
      • Setuju banget Mbak Annisa. Museum adalah salah satu sumber pengetahuan. Kewajiban kita nih untuk melestarikannya lewat tulisan. Semoga artikel yang kita buat tentang budaya suatu daerah, bisa menjadi jejak sejarah yang sangat bermanfaat bagi generasi berikutnya.

    23. Saya tertarik dengan acara Baayun Maulid ini, penasaran bagaimana visualisasi prosesnya (video prosesnya), semoga di YouTube ada liputan proses Baayun Maulid ini

      Reply
      • Sepertinya ada video nya Kang Ugi. Coba telusur di IG nya Museum Lambung Mangkurat.

    24. Kadang orang mendengar kata “museum” langsung males. Hahaha. Tapi, museum di Indonesia sekarang makin inetraktif dan imajinatif. Penataannya bagus. Museum Lambung Mangkurat dari arsitektur luarnya saja sudah unik dan megah. Berasa kayak masyk taman mini tapi versi satu provinsi ya Mbak Annie.

      Reply
      • Bener Mutia. Saat sampai di sini, kesan isimewanya terasa banget. InshaAllah di kunjungan berikutnya, aku ingin melihat isi dalam museum. Semoga mestakung.

    25. Baru dengar ada tradisi Baayun Maulid mba..Kayaknya mirip dengan Festival Tabut kalau di daerah kami Bengkulu nih. Tapi kalau Tabut, mengingat kematian cucu nabi Husen Husein ya.

      Reply
      • Oh beda kalo begitu Mbak Nengsi. Baayun Maulid lebih condong ke perayaan kelahiran dan kebetulan di 2022 diadakan bersamaan dengan Maulid Nabi Muhammad SAW.

    Leave a Comment