Bertamu ke Buku Akik, Surganya Buku di Yogyakarta

Photo of author

By Annie Nugraha

Bertamu ke Buku Akik, Surganya Buku di Yogyakarta

Bertamu ke Buku Akik, Surganya Buku di Yogyakarta | Travel & Featured | Maret 2026

Bertamu ke Buku Akik sudah masuk agenda kunjungan saya sejak lama. Apalagi setelah kehadiran toko buku swasta ini malang melintang di media sosial dan mendapatkan tanggapan positif dari banyak orang. Rangkaian foto yang ditampilkan juga menggoda. Bener gak sih seseru itu?

Saya baru saja menyelesaikan serangkaian perjalanan dengan keluarga dari Bandung di Yogyakarta selama tiga hari dua malam. Sebelum berangkat, jauh-jauh hari saya sudah memutuskan untuk tinggal lebih lama karena beberapa hal, seperti bertamu ke Buku Akik, bersilaturahim dengan rekan penulis yang sudah lama tidak terwujud, dan mengunjungi beberapa tempat yang sempat terlewatkan beberapa kali. Tapi ternyata tak semua bisa terwujudkan karena di penambahan hari-hari tersebut, Yogyakarta diterjang hujan maha deras yang enggan berhenti sejak sore hingga keesokan harinya.

Syukurnya, agenda bertamu ke Buku Akik yang berlokasi di Ngaglik, Sleman, tak mengalami hambatan sama sekali karena surganya buku di Yogyakarta ini saya taruh di urutan pertama dari semua destinasi yang sudah saya tentukan. Meski di satu hari sebelumnya, derasnya hujan menyambut kedatangan saya di Hotel KHAS Malioboro Yogyakarta, pagi harinya langit cerah dan udara cenderung panas menyengat. Mobil yang saya pesan untuk menyusur sekian banyak agenda perjalanan di hari itu, datang tepat waktu dan langsung paham akan apa yang saya kehendaki.

Yuk, kita kemon meluncur ke Ngaglik dulu. Mumpung cuaca lagi “mendadak” cerah.

Bertamu ke Buku Akik, Surganya Buku di Yogyakarta

Menjadi Tamu Pertama

Jalanan menuju Ngaglik, Sleman, di mana Buku Akik cukup padat. Lewat GMaps saya mencatat bahwa antara hotel tempat saya menginap ke toko buku ini, dengan jarak sekitar 8-10 km, akan memakan waktu jelajah sekitar 30 menitan saja. Tapi nyatanya untuk mencapai tempat ini saya butuh sekitar hampir satu jam karena kemacetan di beberapa titik dan masa pencarian.

Posisi Buku Akik ternyata cukup tricky karena untuk mencapai sisi depan toko, mobil yang saya tumpangi harus kulonuwun melintasi sederetan rumah yang letaknya berhimpitan satu sama lain. Jalurnya pun pas-pasan. Jadi mobil harus dijalankan perlahan agar tidak mengganggu kenyamanan beberapa rumah yang kami lewati. Saya awalnya sempat ragu untuk melewati jalan ini, tapi sebuah signage Buku Akik yang terbuat dari kayu hitam kecil yang terpasang di ujung jalan dan setelah bertanya ke sekelompok bapak yang sedang memasang tenda menjawab pertanyaan saya, mobil pun melaju dengan sederetan keyakinan penuh.

Dari ujung jalan tadi hingga menggapai halaman depan Buku Akik hanya sekitar 200-an meter saja. Gak terlalu jauh. Kita juga tidak akan “terlempar” dalam kesesatan perjalanan karena persis di ujung jalan sempit ini, kita akan langsung disambut oleh sebuah kompleks bangunan yang terlihat berbeda dari semua yang ada di sekitarnya. Gerbang besi tinggi berwarna hitam, bangunan cukup besar layaknya rumah tinggal, dan gedung dua lantai yang terlihat dari kejauhan, membuat saya sempat celingak-celinguk.

“Udah sampai kita Buk,” Mas Adi yang mengantarkan saya menyela kegiatan saya yang masih asyik mencocokkan foto bangunan yang ada di GMaps. Saya bergegas mengangguk. Foto di GMaps persis sama dengan apa yang sedang saya lihat saat itu.

“Saya parkir di situ ya Buk,” ujarnya sembari menunjuk ke salah satu sisi jalan, segera setelah melihat saya melangkah turun. Saya pun langsung membuang pandangan ke seluruh arah. Wah ternyata di depan ini ada lahan parkir yang luas betul. Bisalah untuk menampung sekitar selusin mobil dan puluhan sepeda motor.

Bertamu ke Buku Akik, Surganya Buku di Yogyakarta

Suasana sekitar terlihat masih sepi betul meski saat saya sampai waktu sudah menunjukkan pukul 09.45 WIB. Cukup siang untuk sebuah kunjungan dan operasional sebuah usaha. Melihat pintu gerbang tersebut sudah satu sisi terbuka, saya tanpa ragu melangkah masuk.

Seperti dugaan saya di awal tadi. Sisi kiri diisi oleh sebuah rumah yang terlihat seperti sebuah rumah tinggal biasa sementara di sisi kanannya, persis setelah pintu gerbang, ada bangunan memanjang yang terlihat padat dengan kardus dan peralatan. Saya menduga bangunan ini adalah ruang keamanan sekaligus penerimaan barang. Cafe dengan kondisi setengah terbuka tampak persis berada sejajar dengan ruangan ini. Dan yang paling besar di antara semuanya adalah bangunan dua lantai yang ada di bagian paling ujung dari keseluruhan kompleks kecil yang ada di tempat ini.

Sebuah signage terbuat dari besi hitam berlekuk yang digantung dan bertuliskan “Buku Akik” meyakinkan saya bahwa lantai bawah bangunan dua lantai ini adalah tujuan utama saya.

“Baru buka jam sepuluh ya Bu,” Teriakan seorang petugas dari lantai atas cukup mengagetkan saya.

Saya membalas dengan anggukan sembari meminta ijin untuk memotret dan membuat video. Sang petugas, yang berada di lantai dua bangunan tinggi ini kemudian menjawab dengan dua jempol dan senyuman ramah. Persis seperti iklan pasta gigi.

Wah, sepertinya saya jadi tamu pertama nih.

Tampak beberapa orang sedang sibuk dengan tugas-tugas domestik di pagi hari. Ada seorang ibu yang sedang beberes rumah dan menjemur pakaian, seorang petugas yang sibuk un-boxing paket di bangunan panjang tadi, lalu ada petugas lain yang menyapu dan mengepel, serta seorang gadis yang membuka tirai di lantai bawah bangunan dua lantai tersebut. Saat dia membuka tirai dan menyalakan lampu dalam ruang inilah saya kemudian menyadari bahwa tempat yang sesungguhnya saya tuju ada di sana.

Gadis ini kemudian membuka pintu dan menyapa saya yang saat itu duduk di bangku yang ada di cafe. “Sepuluh menit lagi ya Bu,” ujarnya ramah. Lagi-lagi saya hanya mengangguk. Dan saat sapaan ke-3 – “Lima menit lagi ya Bu,” mampir ke telinga saya tepat lima menit setelahnya, mendadak saya kaget sendiri. Astaga. Saya tetiba merasakan seolah sedang berada di sebuah tempat, di mana saya sedang melaksanakan ujian tertulis. Orang-orang ini – yang giliran menyapa saya tadi – adalah mereka yang menjaga ujian serta rutin mengingatkan saya agar menyelesaikan soal tepat waktu lalu segera meninggalkan ruangan.

Saya langsung ngakak di dalam hati.

Padahal dalam lima belas menit menunggu itu, banyak aktivitas yang saya lakukan. Dan meskipun datang sendiri, saya tidak merasa kesepian. Apa yang hadir di dekat saya saat itu berhasil memukau netra. Khususnya setiap jengkal cafe yang ternyata sungguh padat dengan sentuhan seni. Setiap sisi rasanya begitu manis untuk dijadikan latar belakang foto. Berbagai hiasan, ornamen, dan benda seni, termasuk beberapa buku yang siap baca, membuat saya begitu terpaku. Kekaguman ini menjadi makin terpatri saat tak menemukan jawaban kenapa sebuah sepeda ontel besi yang berat dan besar itu bisa nemplok di dinding. Padahal itu kan tugas dan kewajibannya cicak bukan?

Serangkaian foto dan video di sisi ini, langsung saya bagikan ke suami dengan – tentu saja – sebuah pesan khusus. “Semoga public library milik saya di kota ini akan sebagus ini. Bahkan lebih cantik dari ini. Satu kompleks lengkap dengan tempat tinggal, fancy yet stunning public and cafe library, serta beberapa function area untuk beragam aktivitas.”

Lelaki yang saya kirimi foto dan video itu langsung menjawab dengan beberapa emoticon jempol yang gendut-gendut dan meng-amin-kan mimpi tersebut. Konon katanya, kalau mimpi itu kita ucapkan dan diaminkan terus-menerus, biasanya akan dapat catatan khusus dari Yang Maha Mendengar. Peringatan juga bagi kita agar tak pernah lelah untuk berharap. Toh berharap juga gak butuh biaya bukan?

Datang awal ternyata menyenangkan juga. Meski harus bersimbah keringat karena panas yang mendera, kunjungan saya ke Buku Akik sudah dibuka oleh serangkaian peristiwa mengesankan. Sayangnya cafe tempat saya numpang duduk ini tak pun buka hingga saya melangkah pulang. Padahal kalau sudah buka dan ada penjaganya, saya bisa menyantai sembari ngopi dan ngobrol. Ah, sayang banget.

Pintu kayu depan tadi mendadak terbuka kembali. Wajah manis sang gadis kemudian muncul. Tapi kali ini dia tak lagi bicara soal sisa waktu. Hanya ada sebuah anggukan dan kalimat yang mengingatkan saya untuk melepas alas kaki jika ingin masuk. Saya tersenyum kembali dan tetiba teringat bahwa hampir seminggu berada di Yogyakarta ini, saya belum sekalipun mampir ke masjid.

Bertamu ke Buku Akik, Surganya Buku di Yogyakarta
Bertamu ke Buku Akik, Surganya Buku di Yogyakarta

Koleksi Buku yang Berlimpah

Sebuah tempat dengan rak buku yang menjulang hingga ke langit-langit ruangan langsung terlihat memesona. Tak sanggup membayangkan berapa lama waktu yang dibutuhkan agar public library seperti Buku Akik bisa mencapai kepadatan seperti ini dengan koleksi buku yang pastinya berlimpah betul.

Dalam sekian menit, saya berdiri tak jauh dari pintu masuk tadi. Menebar pandangan ke segala arah dan menghempaskan rasa iri pada Bapak Tomi Wibisono, sang pemilik perpustakaan dan toko buku semenarik ini. Berapa lah ya modal yang dibutuhkan?

Yuk lah menyusur dulu.

Selain menghadirkan beberapa buku yang bisa kita baca di tempat, layaknya sebuah perpustakaan sekaligus toko buku, ada ratusan mungkin ribuan buku dari berbagai genre yang bisa kita adopsi. Semua dikelompokkan dengan rapi dan bersisian dengan berbagai merchandise menarik. Saya menyusur setiap sisi dengan sabar sembari memperhatikan banyak perlengkapan yang berhubungan dengan dunia buku dan literasi seperti totte bag, pembatas buku, kantong alat tulis, pensil dan pulpen penanda baca, dan masih banyak lagi. Pernak-pernik tergemas yang sayang untuk dilewatkan.

Duh menyenangkan banget dah.

Banyak buku dari beberapa penulis hebat dihadirkan di sini. You name it lah. Beberapa di antaranya adalah guru menulis saya. Tersedia juga banyak buku terjemahan dari penulis yang sudah punya nama di skala internasional, setidaknya di ASEAN dan Asia. Book cover nya juga atraktif, menarik hati, dan beberapa bikin kita gemes bukan kepalang. Saya jadi punya preview atas beberapa opsi cantik untuk membuat cover buku. Intinya gak musti berfokus pada gambar surealis tapi juga bisa hanya berupa permainan font atau kombinasi warna. Bahkan desain sederhana pun jadi sangat menarik asal kita mampu berimajinasi.

Inspiratif betul.

Apalagi untuk saya yang lagi merintis, merangkak, dan mencoba menyusun jejak karir dan usaha di bidang kepenulisan dan penerbitan. Berada di sebuah tempat yang jadi impian kita tuh sejatinya adalah menimba ilmu faktual meski tanpa kehadiran buku teks atau panduan belajar. Setidaknya, seperti apa yang sering disampaikan oleh banyak business trainer, jangan pernah lelah dan segan untuk memanfaatkan kesempatan ATM (Amati, Tiru, dan Modifikasi). Termasuk bagaimana menciptakan suasana yang menyenangkan dan akomodatif untuk sebuah public library and convenient book store.

Banyak ternyata yang harus dipelajari ya.

Beberapa kali memutari deretan rak yang ada di dalam Buku Akik, membeli beberapa buku dan merchandise lucu, langkah saya terhenti pada satu buku yang sudah bulanan saya cari kesana-kemari. Ada sih beberapa lini yang menawarkan buku ini secara on-line, tapi saya mengejar edisi eksklusif dengan tandatangan asli empat orang penulisnya. Jadi saat mata saya bersirobok dengan #ResetIndonesia Gagasan tentang Indonesia Baru lalu melongok ke Halaman Balik Judul nya, hati saya langsung menjerit gembira. Yup di lembaran inilah saya menemukan tanda tangan basah Farid Gaban, Dandhy Laksono, Yusuf Priambodo, dan Benaya Harobu. Para penulis hebat yang selama sekian banyak waktu melakukan perjalanan panjang, meneliti, melakukan wawancara, dan membuat rangkaian footage, hingga buku ini bisa hadir ke hadapan publik. Inilah buku tentang empat generasi jurnalis dari tiga ekspedisi keliling Indonesia.

“Mbak, ini bukunya dijual?” teriak saya ke arah si Mbak yang membukakan pintu buat saya tadi.

Wajahnya yang manis itu nongol dari balik ruang kasir. Dia pun lalu melangkah mendekati tempat saya berdiri kemudian kembali menghadirkan senyum cantik ala Monalisa.

“Ya Bu. Tapi dengan harga khusus karena ada tanda tangan asli para penulisnya,” ujarnya riang. “Tinggal satu loh itu,” lanjutnya sembari kembali ke ruang di mana dia berada tadi.

Beli? Ya iyalah. Buku sebagus ini, manalah berani saya lewatkan. Mending gak jajan berhari-hari ketimbang harus melewatkan buku impian dan tinggal satu-satunya.

Jika di bagian yang barusan saya kelilingi tadi penuh dengan banyak buku yang terbungkus rapi, kali ini saya berpindah ke satu tempat yang tertulis “Rumah Kata Library” Di area ini disediakan meja dan banyak tempat duduk untuk para tamu membaca. Semua buku yang ada di sisi ini memang diperuntukkan untuk dibaca bebas. Butuh kesabaran untuk menyusur setiap tumpukan satu persatu.

Ada selembar reminder yang tercetak di atas kertas putih dan ditaruh di dalam sebuah standing acrilic yang diletakkan di atas meja tadi. Isinya begini “Terima kasih sudah mengambil keputusan untuk tidak membawa makanan, kerjaan, tugas kuliah, kebencian, dan suara lantang ke meja tengah ini. Selamat membaca.”

Saya duduk di area itu dan termangu sembari menyesap rangkaian pesan yang secara harafiah dan atau yang tersembunyi di dalamnya. Sejatinya untuk sebuah “tempat membaca” adalah fardu hukumnya untuk mengingatkan siapa pun agar menjaga adab serta aturan supaya kegiatan membaca bisa dinikmati sebaik mungkin. Tapi terkadang, perpustakaan juga bisa menjadi jembatan atau fasilitas bagi seseorang untuk bekerja, mengerjakan tugas, atau pun tugas-tugas kuliah/sekolah. Jadi untuk “larangan” yang satu ini cukup membuat saya berpikir.

On a second thought, bisa jadi larangan ini bangkit karena fasilitas ruang untuk membaca di Buku Akik tidaklah seluas beberapa tempat sejenis lainnya yang juga beroperasi di Yogyakarta. Jika di tempat lain justru menawarkan aneka minuman dan camilan di dalam ruang, Toko Buku Akik membuatnya terpisah. Cafe library di mana tempat saya menunggu tadi. Ruang setengah terbuka tanpa pendingin ruangan dan jejeran meja yang tersusun rapi. Tempat nongkrong seperti ini tentu saja akan terasa asyik dan akomodatif jika dinikmati sembari ngopi, ngobrol berkepanjangan, dan bebas untuk para ahli hisab. Plus mendatanginya saat mentari sudah pulang ke peraduan.

Beda tempat. Beda juga konsep pelayanan dan ketersediaan serta pengaturannya.

Bertamu ke Buku Akik, Surganya Buku di Yogyakarta
Bertamu ke Buku Akik, Surganya Buku di Yogyakarta

Pulang dengan Setumpuk Buku dan Kenangan

Setiap menuntaskan waktu berkunjung ke library atau book store, apalagi yang memiliki fungsi keduanya, saya selalu pulang dengan membawa setumpuk buku dan rangkaian kenangan. Ada cerita yang terbangun di sana. Ada memori yang terus melekat dan tentu saja ada rangkaian pemaknaan yang terpatri indah dalam ingatan. Tentang penataannya, tentang interior design nya, tentang manajemen tempatnya, tentang pengaturan yang melegakan dan menyamankan, tentang kehadirannya yang membawa manfaat, dan juga tentang warisan, legacy, yang ingin saya tinggalkan bagi generasi penerus di bawah saya.

Seperti yang telah saya tuliskan di atas, saya belakangan menjatuhkan talak cinta pada tempat seperti Buku Akik ini. Bukan karena semata-mata ingin mendapatkan imajinasi untuk sebuah konsep tempat yang ingin saya bangun sendiri, tapi juga karena kecintaan saya pada dunia membaca, penerbitan buku cetak, dan pengabdian pada dunia literasi nusantara.

Untuk saya yang sudah berada di usia pensiun setelah belasan tahun menjadi budak korporat, ini adalah masa yang tepat untuk menjadikan diri tetap berkarya di ranah yang saya cintai sedari kecil dan yang sempat (terpaksa) saya tinggalkan karena kesibukan urusan kantor.

Terima kasih Buku Akik.

Keputusan saya untuk bertamu ke mari, surganya buku di Yogyakarta, nyatanya telah berhasil menyalakan api semangat di dalam diri, untuk segera mewujudkan mimpi itu. Di sini, di Yogyakarta. Kota di mana kegiatan membaca masih tinggi dan dikelilingi oleh usaha penunjang yang eksis dan kuat. Disanggah oleh kebersahajaan orang-orang dan biaya hidup yang relatif lebih murah, Yogyakarta nyatanya memang cocok untuk pensiunan seperti saya.

Semoga Dia berkenan mengabulkan.

Bertamu ke Buku Akik, Surganya Buku di Yogyakarta
Bertamu ke Buku Akik, Surganya Buku di Yogyakarta

Bertamu ke Buku Akik, Surganya Buku di Yogyakarta

Bertamu ke Buku Akik, Surganya Buku di Yogyakarta

IG @annie_nugraha | Email: annie.nugraha@gmail.com

18 thoughts on “Bertamu ke Buku Akik, Surganya Buku di Yogyakarta”

  1. OMG … cantiknyaaaaa…
    (sapa neng? Yuk Annie apa perpus-nya? dua duanyaaaa ,.eeaaaa)

    Seru banget baca “perjuangan” dikau, An, sampe dibelain harus menembus kemacetan dan jalan sempit demi jadi tamu pertama di Buku Akik!

    Jujurly, buat gue ini atmosfernya memang juara ya, apalagi bagian kafe yang penuh sentuhan seni dan koleksi buku yang menjulang sampai ke langit-langit… ck ck ck .. benar-benar definisi surga buat pecinta literasi. Senang juga melihat bagaimana kunjungan ini bisa memicu semangat dikau untuk terus berkarya dan mewujudkan mimpi memiliki public library sendiri di masa pensiun nanti, sukses selalu untuk rencananya di Yogyakarta!

    Gue mampir yaaa nantiiiii

    Reply
    • Sayangnya sampe gue pulang, cafe library nya tak juga buka. Padahal pengen banget nongkrong di sana sembari menggali beberapa info tambahan tentang Buku Akik. Petugas yang berjaga juga cuma si cewek manis itu. Gak bisa diajak ngobrol panjang karena melayani beberapa tamu yang lain.

      Aamiin Yaa Rabbalalaamiin. Semoga Allah berkenan mengabulkan. Impian banget punya toko buku sekaligus perpustakaan, berikut ruang membaca, dan area untuk mengadakan aktivitas literasi lainnya. Beneren pas untuk kegiatan pensiunan.

  2. Tempatnya cakep banget mba, resik, apik, nyaman tergambarkan di sana. Apalagi ada peringatan manis untuk tidak membawa tugas, makanan, bahkan kebencian ke dalamnya, hanya untuk membaca, rasanya seperti nasihat bijak tanpa kesan menghakimi. Aku juga suka kata-kata mba Annie, berharap itu tak butuh biaya, aku jadi merenung: udah gratis masihkah kita pelit pada diri sendiri untuk “sujud meminta kepadaNya?”, jleb!

    Reply
  3. Walau tempatnya nggak ditepi jalan raya, terkesan tersembunyi, ternyata lengkap sekali ya mbak Buku Akik ini. Beneran surga bagi pecinta buku.

    Di larang membawa kerjaan dan tugas kuliah, hehe… pengelolanya sudah memperkirakan kalau tempat yang tenang tersebut, bakal mengundang orang buat nyepi ngerjain tugas.

    Reply
    • Kalau saya punya tempat seperti ini, saya malah seneng jika ada anak-anak yang mau belajar atau mengerjakan tugas. Yang penting tetap menjaga keheningan, tidak mengganggu konsentrasi para pembaca, serta tidak membawa makanan dan minuman manis kecuali air putih.

  4. Mungkin dibuat terpisah untuk menghindari kerusakan pada buku dari makanan. Entah tumpah, ruangan jadi kotor dengan rempah makananan. Belum ada hewan kecil yg suka ikut nimbrung kalau ada makanan, seperti semut. Ini bisa merusak tatanan buku yang sudah tertata rapih.

    Reply
    • Sepertinya begitu. Karena sejatinya merawat itu jauh lebih besar tugasnya ketimbang mendirikan tempatnya.

  5. Waaaa….beruntung banget bisa dapat buku #ResetIndonesia dengan tanda tangan basah Farid Gaban, Dandhy Laksono, Yusuf Priambodo, dan Benaya Harobu.

    Sosok-sosok keren yang bikin kita optimis bahwa Indonesia masih punya peluang untuk menjadi lebih baik

    Semula saya pikir nama Batu Akik karena jualan batu akik. Di Bandung ada lho toko khusus jualan batu akik, dan pemiliknya dosen ITB! Sayang, saya selalu lupa untuk singgah

    Reply
  6. Bisa se-estetik gitu ya tempatnya. Bikin betah buat pengunjung dan jadi salah satu destinasi tujuan.

    Dari sini tuh, udah bisa dibilang ga ya Bu, bahwa sebenarnya minat baca kita itu tinggi, hanya aja harga bukunya yang kemahalan karena proses produksinya?

    Reply
    • Dan memang semenyenangkan itu tempatnya. Apalagi buat kita, para penulis, yang kudu banyak berinteraksi dengan kegiatan membaca. Dari sebuah laporan, minat baca di Yogyakarta memang angkanya paling tinggi di Indonesia. Mungkin karena banyaknya sekolah berkualitas dan komunitas menulis dan membaca yang terus berkembang di sana.

  7. Jadi pengen ikut “bertamu” ke Buku Akik, Mbak Annie. Pas Mbak Annie menemukan buku Reset Indonesia dengan tanda tangan para penulisnya juga ikut bikin deg-degan. Hahaha. Mungkin emang gitu ya kalau menemukan buku yang sudah lama dicari, apalagi edisi spesial. Kayak nemu harta karun kecil di antara rak-rak buku.

    Thank you udah bawa saya ikut “jalan-jalan” ke surganya buku di Yogyakarta, Mbak Annie.

    Reply
    • Beneran beruntung Ti. Berbulan-bulan saya cari edisi eksklusif ini sampe akhirnya menemukan satu pertinggal di sini. Duh gak terlukiskan bahagianya.

  8. Waaah nemu aja mbak toko buku menarik di Yogya. Kyknya banyak banget ya toko2 kek gitu, tapi seneng sih artinya warga sana terfasilitasi dengan baik kalau mau beli dan baca buku.
    Idem mbak aku juga masih suka baca buku cetak, walaupun mungkin udah ada yang online-nya.
    Jadi cafenya outdoor gitu yaa. Bagian ber-AC khusus library-nya? Biar konsen kali ya pas baca buku, gak disambi ngobrol dan makan haha.

    Reply
    • Yang pastinya tempatnya beneran nyenengin untuk kita yang suka baca. Banyak pilihan judul buku yang bisa kita adopsi. Wajib mampir kalau ada kesempatan berkunjung ke Yogya.

Leave a Comment