
Sering atau akan ke Yogyakarta dan sedang mencari referensi hotel yang walking distance dari dan ke kawasan Malioboro? Hotel KHAS Malioboro bisa jadi pilihan yang pas. Apa saja yang bisa kita nikmati di hotel ini? Yuk, baca terus sampai akhir ya
Semalam menginap di Hotel KHAS Malioboro, lokasi strategis yang ramah di kantong | Hotel Review and Travel | Maret 2026
Saya dan rombongan sedang dalam perjalanan dari Candi Prambanan saat hujan deras menghantam bumi. Udara panas yang menyerang tubuh sedari pagi mendadak berubah menjadi sumuk yang tak terduga saat hujan tersebut mendadak berhenti.
Ini adalah hari terakhir saya mengikuti acara rombongan sepupu dari Bandung dan memutuskan untuk menambah waktu kunjungan dalam dua hari satu malam ke depan. Sendirian. Solo travel. Kebetulan beberapa waktu sebelum saat itu, saya melewatkan beberapa agenda kunjungan ke beberapa tempat dan masa serta kesempatan ketemuan dengan beberapa teman yang sudah tertunda dalam beberapa waktu. Teman sesama penulis yang sudah tahunan tidak bertemu.

Bangunan Menjulang di Tengah Pemukiman Penduduk
Jauh sebelum berangkat ke Yogyakarta, suami memilihkan Hotel KHAS Malioboro untuk saya inapi dalam dua hari semalam. Jika menilik namanya sih jelas mengidentifikasikan lokasinya. Tapi saat melihat peta di gawai, saya mendadak menyadari bahwa posisi hotel ini cukup tricky untuk dicari. Apalagi bagi mereka yang tak mudah membaca peta.
Yup benar saja. Berada di kawasan yang padat rumah penduduk, Kang Arman yang mengantarkan saya saat itu, harus jeli mengikuti petunjuk jalan di GMaps yang dibuat one-way dari sana-sini. Jalurnya terlalu sempit untuk dilalui oleh kendaraan roda empat dalam dua arah. Bahkan jika pun berpapasan dengan motor atau becak, yang nyetir juga harus super hati-hati. Jadi opsi terbaik untuk pergi dan datang dari dan ke Hotel KHAS Malioboro adalah dengan berjalan kaki, naik becak, atau naik motor saja. Belakangan di Yogyakarta ada juga bajaj, meski masih dalam jumlah terbatas.
Setelah berkelok kesana-kemari melewati jalan dengan lebar pas-pasan, gedung tinggi milik Hotel KHAS Malioboro mulai terlihat di depan mata. Gedungnya berbentuk L dengan salah satu sisi lantainya berjenjang. Seorang petugas (bellboy) tampak bersiap di lantai bawah, persis di halaman depan area parkir. Terasa banget bantuan dari petugas ini karena untuk mencapai area resepsionis/penerimaan tamu, kita harus naik tangga yang lumayan tinggi dan curam. Apalagi pas bawa koper besar-besar. Beuh lumayan olga ngangkat yang berat-berat.
Melewati tangga ini dan berdiri sebentar membuang pandangan ke sekitar, saya melihat sebuah pintu besar yang mengarahkan kita untuk bertemu function rooms di sisi kiri dari tempat saya berdiri. Saat saya perhatikan, banyak orang sibuk mondar-mandir dari ruang besar itu karena memang sedang acara. Lalu di depannya ada area parkir yang cukup untuk menampung belasan mobil. Ada pagar tanaman yang membatasi halaman depan hotel dengan jalanan di depannya. Kelihatan beberapa rumah penduduk dan warung yang menawarkan minuman dingin, masakan instan, dan keperluan remeh-temeh lainnya.

Area Penerimaan Tamu yang Simpel dan Bersahaja
Saat masuk ke area penerimaan tamu, berbaris wajah ramah dengan senyuman menyambut. Tak butuh waktu lama untuk mendapatkan kunci kamar karena saat itu sudah melewati jam sibuk check in. Tapi sembari menunggu, saya menyempatkan diri duduk di sofa sebentar sembari melihat ke kanan dan ke kiri sekalian menjawab beberapa pesan di Whatsapp yang sudah berjam-jam tidak saya intip.
Persis di samping meja kerja tim penerimaan tamu, ada counter panjang pelayanan kopi lengkap dengan peralatannya. Saat saya duduk, seorang barista sedang mengerjakan manual brew. Trampil dan bersemangat. Wanginya kopi mendadak menyeruak, menerobos indra penciuman yang sedari pagi memang belum menyesap nikmatnya kopi. Tapi karena saya terserang kantuk yang tak tertahankan apalagi hujan belum berhenti juga, saya memutuskan untuk bersegera menuju kamar tipe deluxe yang saya pesan.
Pandangan saya akan lantai dasar ini kemudian dilanjutkan saat sarapan dan akan bepergian keesokan paginya. Di lantai ini ternyata lumayan ramai fasilitasnya. Persis di depan meja penerimaan tamu, berderet sofa untuk menunggu dengan dekorasi ruangan yang sederhana saja. Tak jauh dari situ juga ada convenient store yang diisi oleh jenama Krisna. Yang ditawarkan di dalam mini store ini cukup banyak. Selain aneka jajanan dan oleh-oleh, juga ada produk fashion, kriya, bahkan ada lukisan. Beberapa lukisan yang menempel di dinding lantai bawah ini juga ada beberapa yang dijual. Kita bisa berkomunikasi dengan receptionist atau petugas yang menjaga outlet Krisna.
Yok ah sarapan dulu sebelum pergi.

Sarapan Sederhana
Restoran yang melayani sarapan pagi juga ada di lantai dasar ini. Jalan masuknya terbuka dengan beberapa orang petugas yang berjaga sembari mengenakan seragam berornamen batik. Sepagian itu tamu resto sudah mulai penuh. Saya sempat berkeliling sebentar sebelum akhirnya memutuskan untuk mengambil meja di sudut ruangan, setelah sebelumnya mengambil bergelas-gelas minuman dingin.
Setelah antrian di sisi buffet agak lowong, saya mengitari berbagai pilihan asupan lalu memutuskan untuk mengambil sepiring nasi goreng dengan omelette, salad, sayur kacang merah, dan ayam gulai. Ada beberapa pilihan hidangan lain seperti gorengan, soto, bubur, dan barisan mini cakes serta buah sebagai dessert. Tapi saya memutuskan untuk tidak mengisi lambung terlalu banyak karena pasti nantinya ingin menikmati jajanan selama dalam perjalanan.
Kualitas masakannya sendiri menurut saya biasa aja. Tidak istimewa pun tidak mengecewakan. Standar hotel bintang tiga. Bahkan terus terang olahan menu buffet nya cenderung tasteless.
Yang menarik perhatian saya adalah penataan ruang makan nya. Meski ruang makannya dalam ukuran terbatas, meja, kursi, dan peletakan display serta peralatan makanan, tampak rapi dan bersih. Kursi-kursi warna-warni berpadu apik dengan meja yang putih bersih serta keramik berwarna yang jadi pijakan. Tempat layanan pilihan minumannya pun apik meski pilihannya tak banyak.
Jika apa yang saya makan pagi ini terasa biasa, ceritanya berbeda dengan gorengan platters yang saya pesan untuk makan malam, semalam sebelumnya, di restoran ini. Isinya ada pisang goreng, lumpia goreng, dan singkong goreng. Semua hadir dalam ukuran besar dengan topping serutan keju, sebuah strawberry asam manis, serta dua gelas kecil sambal pedas dan cocolan saus tomat. Semua pesanan saya ini ukurannya besar-besar dan enaknya jempolan betul. Ngos-ngosan ngabisin nya. Kedua tamu saya masing-masing memesan nasi goreng. Itu juga porsi nya sepertinya cocok buat dua kali makan. Tapi saking lezatnya, pelan-pelan dua piring nasi goreng pun tandas tanpa sisa.
Dan kami pun sukses terkapar kekenyangan. Kerap menguap meski mulut tak henting berbincang. Semakin malam semakin seru karena topik penulisan kreatif yang kami diskusikan membuat kami terlibat dalam obrolan yang seperti tiada habisnya. Kedua tamu saya juga terjebak di hotel karena hujan turun deras dengan bonus angin yang kencang tiada ampun. Mereka terpaksa bertahan karena berkendara menggunakan sepeda motor.
Hingga tengah malam pertemuan kami berakhir, titik hujan masih enggan berhenti total. Setelah kedua tamu pulang dan kembali ke kamar, saya pun tertidur begitu lelapnya.


Kamar yang Nyaman
Untuk hotel bintang tiga, saya meletakkan kualifikasi dan harapan yang tidak (terlalu) tinggi. Hotel di level ini yang terpenting adalah masalah kebersihan dan peralatan serta fasilitas di dalam kamar yang bisa berfungsi dengan baik. Bagi saya kamar deluxe yang saya tempati di Hotel KHAS Malioboro ini sudah memenuhi persyaratan itu. Apalagi dilengkapi dengan kasur dan bedsheet yang menghadirkan kenyamanan yang tak terbantahkan.
Satu hal yang membuat saya nyaman adalah tersedianya sebuah sajadah dan kitab suci Qur’an di salah satu nakas. Ada sebuah tulisan yang menginformasikan bahwa mukena juga tersedia atas pesanan. Kita tinggal menghubungi phone extension tertentu supaya mukena itu bisa langsung diantarkan ke kamar. MasyaAllah. Untuk pejalan seperti saya, kehadiran peralatan salat ini, membangkitkan makna yang tidak sedikit. Kita diajak untuk selalu dekat dan mengingat-Nya meski berada jauh dari rumah.
Kamar dengan kombinasi warna mencolok dan sebuah jendela kecil menghadap ke bangunan sebuah sekolah ini, berhasil mengajak saya menikmati rangkaian tidur berkualitas hingga bisa beraktivitas dengan baik di keesokan harinya.


Lokasi Strategis dan Harga yang Ramah di Kantong
Bagi para pelancong yang ingin menikmati Malioboro tanpa terjebak pada kesibukan dan kebisingan salah satu sentra jalan-jalan di Yogyakarta, Hotel KHAS Malioboro bisa jadi pilihan yang tepat. Lokasinya di Ngupasan, Gondomanan, memang tidak bersentuhan langsung dengan barisan kesibukan Malioboro, tapi hotel ini jaraknya hanya ratusan meter dari beberapa destinasi wisata yang jadi incaran para pejalan. Seperti Museum Benteng Verdeburg, Istana Kepresidenan Yogyakarta, Malioboro Mall, dan masih banyak lagi. Kalau enggan jalan kaki, persis di depan hotel, biasanya banyak becak yang siap melayani.
Dimiliki oleh PT. Wika Realty Yogyakarta dan mengintip akun IG @khasmalioborohotel milik mereka, saya menyaksikan banyak kegiatan promosi dan sosialisasi plus acara-acara tematik yang diadakan oleh dan di Hotel KHAS Yogyakarta ini. Seperti misalnya membatik, bazaar kecil, acara ulang tahun, meeting dan pelatihan yang diadakan oleh lembaga pemerintahan atau swasta, dan masih banyak lagi.
Jumlah kamarnya juga ternyata cukup banyak. 71 buah superior rooms, 66 deluxe rooms, dan 4 kamar tipe suites. Jika menginap dengan 3-4 orang dewasa atau membawa anak-anak, saya merekomendasikan kamar tipe suites untuk ditempati. Sementara kamar deluxe yang suami saya pilih hanya cocok untuk dua orang dewasa.
Kamar tipe deluxe yang saya tempati harga gross nya adalah sekitar Rp500.000,00 sebelum pajak. Ini adalah harga standard yang biasa diberikan oleh hotel bintang tiga, di sebagian besar kota di tanah air. Itu sudah termasuk sarapan untuk dua orang.
Saya bertamu di Hotel KHAS Malioboro ini kurang dari dua puluh empat jam karena pagi-pagi keesokan harinya (setelah sarapan), saya harus mengunjungi beberapa tempat untuk beranjangsana dan bersilaturahmi. Jadi saat mobil sewaan datang di seputaran pukul 10.00 WIB, saya memutuskan untuk langsung check out dan membawa sekaligus koper dan tambahan bagasi yang saya bawa. Agar tidak terburu-buru mengejar jadwal keberangkatan kereta api menuju Gambir Jakarta, yang jatuh pada pukul 15.00 WIB.
Meski tidak bisa punya waktu keluyuran di Malioboro karena hujan lebat yang enggan untuk usai, semalam di Hotel KHAS Malioboro sudah menghangatkan masa-masa menginap semalam saya. Kopi bergelas-gelas, aneka gorengan snacks yang umami, dan fresh soft drinks yang kemudian saya pesan untuk ngobrol bareng teman-teman, sudah meninggalkan memori yang akan selalu diingat.

IG @annie_nugraha | Email: annie.nugraha@gmail.com



Waaah gw juga kemaren sekeluarga besar (1 bus isi 48 orang plus 1 keluarga dari Purwokerto isi 5 orang) nginep sini loh .. hotelnya mudah dijangkau dari mana-mana, tapi gue nyasar dooong pas pulang! Iya katanya 5 menit dari Malioboro, tapi pas pulang gw jaln kaki ke arah yang berseberangan .. eh gimana ya ngomongnya, jalanannya ada DI BALIK jalan yang menuju pulang!
Jadilah nangis karena capeee .. akhirnya pesen go car dan beruntung karena dapat! Persis 2 menit setelah pesan, jalan ditutup karena arusnya padat!
Gw ngga pesan breakfast karena pada keluyuran ke Ngasem dan sop daging yang uenak itu loh…
Karena banyak jalur searah dengan jalan yang sempit, berkeliling di sekitar hotel ini memang tricky betul. Kalau gak pintar baca peta, ujung-ujungnya pasti nyasar hahahaha.
Nah kalau ada temannya memang enaknya sarapannya keluyuran aja. Karena di seputaran Malioboro juga banyak banget jajanan yang seru untuk dicoba ya. Tapi kalo sendirian rasanya kurang seru. Reramean jauh lebih enak.
Belum pernah ke hotel ini. Emang enggak bisa berekspektasi tinggi ya kalau di hotel bintang tiga. Asal nyaman aja buat istirahat semalam
Ternyata memang lokasi hotelnya strategis sekaligus agak tricky karena memang banyak jalan satu arah di area tersebut.
Aku suka deh suasana kamarnya. Beneran mendukung buat rehat biar keesokan harinya segar dan bisa lanjut aktivitas.
Pun dengan Snack yang disajikan bisa dibilang sangat menarik sekali. Secara fasilitas oke banget lho ada sajadah, Alquran, dan bisa pesan mukena juga. Serasa di hotel syariah ya.
Hotel KHAS Malioboro, mesti di catat. Jujur aku suka banget explore Malioboro. Pas ke Jogja tiga hari, dua hari ku habiskan jelajah area Malioboro saking nyamannya hehehe.
Kebersihannya juga patut dapat pujian loh La. Dengan kasur empuk dan AC yang berfungsi baik, tidur tuh jadi nyenyak banget. Mungkin juga karena badan juga sudah capek betul karena tiga hari sebelumnya, aku jalan-jalan bareng para sepupu keliling banyak destinasi wisata di Jogja.
Malioboro memang gak ngebosenin yak. Bahkan untuk sekedar duduk di selasar depan pertokoan sambil ngopi juga asyik banget.
Ini sih keren banget mbak. Saya kayaknya pernah mampir ke sini deh kalau ga salah. Kalau lagi masuk mode hemat dan backpacker, emang hotel-hotel dengan harga affordable jadi pilihan.
Yup. Ramah di kantong dengan lokasi yang tetap strategis.
Nggak bisa memungkiri. Melihat foto gorengan platternya emang menggoda banget, Kakak.
Eh, jarang-jarang lho ada hotel yang menyediakan sajadah beserta Al-Qur’an tuh. Kurang mukena aja lagi. Pasti mantep banget buat yang nggak bawa.
Tapi, kayaknya bisalah minjem ke resepsionis kalau nggak bawa mukena.
Yup. Seneng banget ngeliat hotel atau tempat penginapan menyediakan perlengkapan ibadah. Kita rasanya dihargai sekali. Dan memang bisa kok kita meminjam mukena ke resepsionis. Tinggal pencet extension tertentu dan nanti akan langsung diantarkan ke kamar.
auto buka GMaps karena seputaran Malioboro “rasanya tahu” hehehe
maklum rumah saya di dekat Malioboro, jadi selama di Jogja, jalan pagi saya keliling Malioboro, putar puter di situ-situ aja.
anehnya walau semakin banyak hotel dibangun, pas weekend selalu penuh tuh
Mungkin karena pelayananannya selalu oke, khas Jogja ya?
Malioboro tetap jadi magnet kegiatan wisata di Jogjakarta ya Mbak. Saya pun setiap ke Jogja selalu menyempatkan diri mampir ke Malioboro. Bahkan hanya untuk menyusur indahnya jalan setapak yang rapi dan bersih sepanjang depan sederetan ruko itu.
Kalau hanya ratusan meter, kayaknya saya lebih memilih berjalan kaki ke berbagai pusat keramaian dan tempat wisatanya. Biar sekalian menikmati suasana Jogja. Suka juga dengan lokasinya yang stretegis, tapi gak berhadapan langsng dengan keramaian.
Nah kalau beramai-ramai seperti memang asyik kelayapan cari sarapan. Tapi karena sendiri dan sudah memesan mobil jemputan di hotel, saya jadi bertahan di hotel. Sayang juga suami sudah mengatur reservasi kamar termasuk sarapannya.
Semoga tahun ini anakku ada jadwal ke Yogya nih, aku bisa ikut deh…Nah, hotel KHAS bisa nih jadi opsi, krn dekat Malioboro yah. Aku suka warna interiornya, kombinasi warnanya unik, cerah.
Lucu juga ya, kalau pesen ala carte di resto hotel, enak-enak. Tapi pas menu sarapan, B aja. Chef-nya beda gitu?
Hum…kenapa engga disiapkan ramp ya menuju ke lobby hotel, untuk memudahkan difabel.
Semoga terealisasikan ya Mbak. Meski gak persis di sisi depan Jl. Malioboro, hotel ini tetap strategis dan punya jalur langsung ke pusat kesibukan di titik itu. Bisa juga naik becak kalau segan jalan kaki.
Nah itu dia Mbak. Tampaknya, mungkin, para tamu lebih suka nyari sarapan pinggir jalan Maliobro ketimbang makan di resto. Sekelilingnya banyak tempat nongkrong yang buka pagi-pagi. Tapi kalau sendirian kek saya, segan lah pergi sendiri kan?
Ah, saya lupa cerita. Ada ram untuk disabilitas, meski jalannya harus memutar. Jalan ini terhubung dengan function rooms di sana.