Bertamu ke Pusat Oleh-Oleh Legendaris di Surabaya

Bertamu ke Pusat Oleh-Oleh Legendaris di Surabaya
salah satu produk legenda depot bu rudy. sambal bajak, sambal bawang dan sambal ijo. legenda lainnya adalah udang digoreng kering/crispy

Senin, 7 November 2022

Usai menunaikan tugas “ngamen” di event 25th Surabaya International Jewelry Fair 2022 di hotel Shangri-La, pagi itu, di hari Senin, saya meramu tubuh yang kretek-kretek pegel akibat berhari-hari (4 hari berturut-turut) dan berjam-jam nangkring di stand. Terasa banget ih capeknya. Maklum. Dah lama gak jadi SPG. Badan sepertinya juga rada berat “terkoneksi” lagi dengan suasana pameran. Ah, bilang aja karena faktor U.

Hari itu, saya sengaja bangun kesiangan biar dendam tidur di hari-hari sebelumnya terbayarkan. Tidur pun sengaja lebih awal hingga gak semangat makan malam. Mandi, membersihkan diri dan cus langsung terlelap tanpa harus menunggu lama. Capek fisik di usia saya nih memang dah gak boleh sok dilawan.

Melaparkan diri? Mungkin seperti itu. Bukan dengan alasan tirakat tertentu, tapi karena nanti, sekitar pkl. 09:00wib saya ada janji bertemu dengan Nurul Rahma, blogger hits Surabaya, untuk sarapan (telat) bareng di Soto Lamongan Cak Har yang berlokasi di Jl. Ir. Soekarno.

Usai temu kangen karena selama beberapa masehi hanya bisa bertegur sapa lewat dunia maya dan WA dengan Nurul Rahma, saya memutuskan untuk melanjutkan acara ke Pusat Oleh-Oleh Bu Rudy. Tujuannya cuma satu. Pengen beli oleh-oleh barang sedikit untuk suami dan anak-anak.

Kuy lah. Langsung pesan Gocar untuk berpindah dari Soto Lamongan Cak Har menuju Pusat Oleh-Oleh Legendaris Bu Rudy.

Dapat Kejutan

Kejutan!!

Saya sungguh tidak menduga bahwa akhirnya akan dapat kejutan saat tiba di Pusat Oleh-Oleh Bu Rudy yang berada di Jl. Dharmahusada.

Terakhir datang, sekitar akhir Februari 2020, tempat legendaris ini masih berupa rumah satu lantai. Luasnya mungkin sekitar 250m2-an. Penuh dengan barang jualan di rak-rak besi lalu ada meja-meja atau tempat makan dan dapur serta gudang di bagian belakang. Padat luar biasa. Apalagi kalau pas tamunya lagi banyak. Untuk bergerak aja harus memiringkan badan.

Jika sedang ada pesanan di area khusus dine-in, suara masak-memasak bakal riuh terdengar dan wangi bumbu masakannya tercium menggoda, menyebar ke hampir seluruh ruangan yang ada. Waktu itu saya datang bareng Evi Wijaya, salah seorang sahabat dan wire jewelry designer favorit saya. Selain membeli beberapa oleh-oleh buat keluarga di rumah, saya dan Evi sempat makan di sini sembari ngobrol tentang banyak hal. Apalagi saat itu kami sudah lama banget tidak bertemu langsung.

Tapi di kunjungan berikutnya ini, pusat oleh-oleh legendaris ini, memberikan saya kejutan yang sangat istimewa tepat beberapa detik setelah saya turun dari kendaraan.

Awalnya saya kira supir Gocar salah alamat. Tapi begitu melihat logo Sambal Bu Rudy, saya mendadak takjub dan tak henti memandangi bangunan 3 lantai berwarna abu-abu yang mentereng gagah berdiri dengan tiang-tiang baja yang kokoh. Saking takjubnya, saya sampai tergugu, larut dalam decak kagum sampai tak terpikirkan untuk memotret keseluruhan bangunan dari luar.

Terpesona judulnya.

MashaAllah. Ini benar-benar jadi sebuah kejutan buat saya. Alih-alih mengagumi apa yang terhidang di depan mata, rintik-rintik hujanlah yang akhirnya memaksa saya harus bersegera melangkah masuk.

Melewati sebuah tangga tinggi menjulang di sisi kanan gedung, saya menemukan sebuah prasasti dengan tulisan emas di atas marmer berwarna hitam elegan yang ditandatangani oleh Wakikota Surabaya, Bpk. Eri Cahyadi. Prasasti ini menjadi pertanda resmi dibukanya Pusat Oleh-Oleh Bu Rudy Surabaya sejak Desember 2021. Dan jika saya tidak salah asumsi, Pusat Oleh-Oleh Bu Rudy yang di Jl. Dharmahusada ini adalah mother store dari berbagai cabang yang ada di Surabaya.

Beberapa tanaman rambat tampak tumbuh di pinggiran tangga yang jika nantinya tumbuh subur akan meliputi dinding ini dengan konsep penghijauan yang sangat estetik dan cantik.

Di pijakan terakhir, kita akan bertemu satu spot foto yang apik. Tiang-tiang kayu dengan logo Sambal Bu Rudy dan beberapa produk andalan, bisa menjadi pertanda bahwa kita sudah tiba di pusat kegiatan mereka.

Bertamu ke Pusat Oleh-Oleh Legendaris di Surabaya
prasasti yang ditandatangi oleh walikota surabaya, bpk. eri cahyadi
Bertamu ke Pusat Oleh-Oleh Legendaris di Surabaya
saya di pinjakan terakhir dari tangga yang tinggi menjulang

Supermarket Oleh-Oleh yang Bervariatif

Sampai di lantai kedua ini, saya sambut dengan sebuah teras besar yang berisikan banyak gerobakan makanan khas Surabaya, Jawa Timur dan beberapa hidangan kekinian. Tersebar juga banyak meja dan tempat duduk besi. Kalau melihat sekitarnya sih, tempat ini memang diperuntukkan untuk leyeh-leyeh sehabis belanja atau ruang tunggu customer plus kesempatan asik buat para ahli hisab untuk ngobrol sembari minum dan ngemil-ngemil asik.

Saya sempat menelusuri setiap gerobak satu persatu. Duh seandainya tadi lambung tidak full tank, saya pasti sigap memesan bakwan surabaya dengan pentol goreng yang tampak sangat menyelerakan itu. Ya ampun. Menggoda sekali. Tapi biar gagal makan bakwan, saya langsung menyerah saat melihat ada penjual kembang tahu. Cus, langsung pesan. Semangkok untuk saya dan semangkok lagi untuk Dewi yang menemani saya saat itu. Secara ya, makanan yang satu ini tuh jarang banget bisa saya nikmati. Bahkan gak ada di Cikarang, area tempat tinggal saya.

Yok. Sekarang kita masuk ke supermarket tempat oleh-olehnya ya.

Lagi-lagi saya dapat kejutan nih. Alamak. Besar dan lengkap sekali.

Di setiap sudut berhamburan aneka jenis oleh-oleh mulai makanan dan minuman, makanan ringan, lauk pauk siap olah, gorengan, kue, permen dan manisan, sambal, penyelera masakan seperti bawang goreng dan sebagainya. Di salah satu sudut area pamer bahkan ada kaos, baju serta produk kerajinan tangan.

Jadi bikin bingung yak. Semuanya pengen dibeli. Setoko jika perlu diangkut semua.

Puas mengamati satu persatu, akhirnya saya memutuskan untuk membeli ikan bandeng goreng, kue mente yang dulu lumayan sering saya pesan on-line, bawang goreng dan tentu saja produk andalan pusat oleh-oleh legendaris ini yaitu 3 jenis sambal (bawang, ijo dan bajak) plus udang goreng kering yang crunchy.

Saya melihat banyak inovasi dalam jenis dan packaging beberapa produk yang dilakukan oleh pusat oleh-oleh legendaris Bu Rudy. Sambal 3 jenis yang populer itu, selain dalam bentuk botolan plastik sekarang sudah ditawarkan dalam bentuk sachet. Saya lebih suka ini karena praktis dan gampang dibawa-bawa. Apalagi buat yang sering ngukur jalan. Sambal bungkusan ini ditawarkan dengan harga 28K per renteng. Sementara yang botolan kecil ditawarkan seharga 25K-28K tergantung jenisnya.

Begitupun dengan udang goreng yang menjadi salah satu signature dish tempat ini. Pusat oleh-oleh legendaris Bu Rudy menawarkan udang goreng crispy dalam berbagai ukuran dan berat (kuantitas). Ada udang yang besar-besar, ada juga yang kecil-kecil. Dalam ukuran lebih berat maupun lebih ringan. Semuanya menyesuaikan kantong kita.

Produk yang lainnya juga begitu. Ada paket ekonomis, ada juga paket yang besar dengan harga yang lebih mahal. Untuk yang pernah merasakan produknya, pasti lebih memilih yang lebih besar karena memang selisih harganya tidak terlalu jauh. Tapi untuk mereka yang baru akan/ingin mencoba terlebih dahulu atau prefer membeli banyak/beragam, packaging ekonomis pasti jadi pilihan. Apalagi sudah diniatkan untuk membawa oleh-oleh untuk banyak orang atau banyak keluarga.

Saya sedang tidak ingin belanja banyak karena tak mau terbebani dengan gembolan yang banyak. Sementara dalam beberapa pekan sebelumnya, jadwal traveling saya ke beberapa daerah lumayan padat dan saat itu juga membawa rangkaian oleh-oleh yang masih banyak menumpuk di lemari makanan. Takut mubazir.

Bertamu ke Pusat Oleh-Oleh Legendaris di Surabaya
kue mente bu rudy yang jempolan enaknya. di daerah lain ada sih kue kacang mente ini. tapi menurut saya buatan bu rudy yang paling enak
Bertamu ke Pusat Oleh-Oleh Legendaris di Surabaya
almond crispy snack. meski bukan produk asli pusat oleh-oleh bu rudy, menurut seorang petugas, camilan ini laris manis dan jadi salah satu favorit banyak pengunjung

Menilik Sekilas Perjalanan Eksistensi Sambal Bu Rudy

Sejak SMA di Malang (era 80-an), tempat ini sebelumnya saya kenal (hanya) sebagai outlet dengan nama Sambal Bu Rudy.

Saya pernah sekali diajak teman untuk ke outlet kecil mereka yang di Pasar Atom. Teman yang asli Surabaya tapi sekolah di Malang juga sering membawa sambal bawang Bu Rudy ke sekolah sebagai buah tangan untuk anak kost seperti saya. Karena tidak kuat dengan level kepedasannya yang nauzubillah, sambal botolan kecil itu awet nangkring di meja makan di rumah kontrakan saya. Ngambilnya sedikit-sedikit aja. Seringnya jadi kawan makan malam sederhana yang berisikan asi putih, telur dadar, ikan asin. Tapi itu nikmatnya luar biasa. Meski tak mewah, kehadiran sambal Bu Rudy jadi pembangkit selera yang tak terbantahkan.

Setelah pindah/kembali ke Jakarta, saya tak lagi bersentuhan dengan sambal Bu Rudy karena memang di jaman itu perdagangan on-line atau e-commerce belum ada. Jangankan itu, internet dan handphone juga belum eksis kok. Nitip pun tak tahu harus melalui siapa karena teman-teman SMA sudah bertebaran kesana-sini.

Belasan tahun berlalu, sampai di satu saat saya punya kesempatan mengajar di Surabaya. Nah disanalah akhirnya saya mencari sambal ini lagi. Saya lupa waktu itu kemana. Tapi yang pasti, outlet nya masih kecil banget, jauh lebih kisut dibandingkan dengan gedung megah yang dimiliki sekarang. Bahkan saat Evi mengantarkan saya ke toko lama mereka di 2020, yang sekarang jaraknya hanya 100m dari gedung abu-abu ini, saya masih melihat sambal Bu Rudy masih dalam tahap terus menerus mengembangkan bisnis mereka.

Itu adalah sejarah yang saya rasakan. Lalu bagaimana kisah sejarah yang dialami oleh Bu Rudy?

Penasaran dengan kisah suksesnya, saya bersengaja berselancar ke official website mereka, www.depotburudy.com, depotburudy.co.id dan sebuah tautan yang dimiliki oleh sebuah media on-line Surabaya yang menghadiri grand opening Pusat Oleh-Oleh Bu Rudy yang terbaru ini.

Tak banyak info yang terurai, tapi saya menangkap sekilas perjuangan sang pemilik Pusat Oleh-Oleh Bu Rudy yang bernama asli Lanny Siswandi.

Ibu Lanny, istri Pak Rudy, aslinya berasal dari Madiun. Lahir pada 1953 dan memutuskan merantau ke Surabaya untuk mengadu nasib. Kota dimana akhirnya beliau berumah tangga. Di Surabaya sendiri awalnya Ibu Lanny berjualan atau usaha sepatu di pasar Turi hingga berhasil membuka puluhan toko di pasar tersebut. Tapi bisnis ini gagal. Bubar karena kebakaran berulangkali.

Hingga suatu hari Ibu Lanny memiliki ide untuk membuat udang kering crispy, hewan yang biasanya oleh sang suami dijadikan umpan untuk memancing sebagai menu makanan sehari-hari di rumah. Agar menikmati udang ini semakin sempurna, Ibu Lanny pun membuat sambal bawang.

Kepintarannya mengolah udang dan sambal ini kemudian disukai oleh teman-teman, rekan bisnis dan para kerabat. Mereka pun mengusulkan Ibu Lanny untuk secara professional mendagangkan 2 jeni kuliner yang lezat ini. Jadilah, berkat dukungan yang positif tersebut, Ibu Lanny kemudian menjual nasi pecel khas Madiun, udang goreng kering dan sambal bawang secara masif dengan menggunakan mobil bak untuk berkeliling.

Usaha ini pun maju pesat hingga akhirnya pada Minggu Pahing, 2 Juli 1995, berdirilah jenama Sambal Bu Rudy yang dikenal oleh masyarakat luas.

Kenapa menggunakan kata Sambal Bu Rudy bukan Sambal Bu Lanny? Nah ini nih yang belum saya temukan jawabannya. Tapi yang pasti, di jaman beliau muda dan saya masih kanak-kanak, memanggil seorang wanita yang sudah menikah seringkali menggunakan nama suami atau anak sebagai nama panggilan atau kata pengganti nama wanita yang bersangkutan. Misal suami saya bernama Hary, saya bisa dipanggil Ibu Hary. Nama anak saya Fauzi, bisa juga dipanggil Ibunya Fauzi. Begitulah kira-kira ya.

Apapun nama yang disematkan kepada Ibu Lanny, sepertinya jenama Bu Rudy, terdengar lebih menjual. Menurut saya loh ya. Dan karena mengikuti penyebutan ala orang Jawa, sambal pun ditulis sambel.

Visual Ibu Lanny sendiri mengingatkan saya akan masa-masa remaja dimana emak-emak di jaman itu sering berdandan dengan rambut disasak tinggi-tinggi. Menjulang dengan alis tebal dan pupur serta lipstik merah merekah. Dan itu saya lihat pada foto-foto Ibu Lanny termasuk digital profile yang melekat di logo jenama.

Saya mengurai kekaguman yang tak terhingga pada Ibu Lanny. Jika kita hitung mundur, beliau merasakan sukses berbisnis di dunia kuliner sejak berusia 27 tahun dan tetap eksis hingga saat ini menginjak usia 69 tahun. Seorang legenda (living legend) dengan hasil karya yang legendaris.

Bukan hanya eksis tapi juga membawa jenama Sambal Bu Rudy menjadi lebih besar seperti sekarang. Tidak hanya mengusung sambal sebagai jargon tapi telah berubah menjadi Pusat Oleh-Oleh Bu Rudy. Depot Bu Rudy pun lahir sebagai sarana untuk mengakomodir tamu yang ingin merasakan kuliner otentik Bu Rudy.

Coba deh mampir ke website mereka ya. Banyak foto-foto cantik masakan yang bisa kita nikmati saat makan di Depot Bu Rudy yang berada di lantai 3 gedung abu-abu ini. Mager keluar atau datang langsung ke restonya? Depot Bu Rudy bekerjasama dengan abang-abang ojol untuk melayani customer di seluruh penjuru kota Surabaya.

Gedung 3 lantai berwarna abu-abu ini adalah signature kesuksesan beliau setelah tentu saja melewati berbagai riak kehidupan dalam puluhan tahun yang penuh cerita dan perjuangan.

Dari jualan di mobil bak, punya outlet terbatas hingga akhirnya memiliki toko mentereng seluas 1.800m2 yang megah dan mewahnya tak terbantahkan. Restoran/Depot makannya juga keren banget. Selain cantik secara estetik, depot ini tampat begitu luas dan nyaman. Next visit saya mesti dine-in di sini ah. Mengulang jelajah rasa yang lezat seperti waktu-waktu dulu.

Dan eh, setelah menonton channel Youtube dari Hermanto Tanoko, salah seorang crazy rich Surabaya, saya mendapatkan berbagai insight tentang Ibu Lanny Siswandi. Bagaimana beliau, di umur 13 tahun, sudah harus merantau ke Surabaya karena kondisi ekonomi dan kehidupan di Madiun tidak menjanjikan. Sebagai anak sulung, Ibu Lanny Siswandi kerja dengan orang lain, jadi rewang, selama 10tahun dan melakukan apa saja yang bisa untuk mendapatkan uang. Hingga akhirnya, berkat kegigihan berusaha, tanpa hutang, merayap, menaiki tangga satu demi satu, menjadi salah seorang pengusaha yang sangat disegani.

Satu yang saya catat dan bisa dijadikan contoh bagi siapapun, Ibu Lanny Siswandi adalah anak sulung yang (sangat) bertanggungjawab akan kondisi dan kesejahteraan orang tua dan adik-adik. Seorang pekerja keras yang perjuangan hidupnya bisa dijadikan role model bagi siapapun yang ingin membuka usaha tanpa modal dan tekun bekerja. Pengabdian dan usaha tanpa henti ini lah yang menyebabkan ibu 4 anak ini diringankan rezeki nya. Saya percaya itu.

Luar biasa!!

Kata legendaris sepertinya memang layak disandingkan untuk Ibu Lanny Siswandi dan Pusat Oleh-Oleh Bu Rudy.

Ibu Lanny is now a living legend. Bahkan hingga saat ini pun masih bekerja keras meski sudah di usia lanjut. Contoh banget nih untuk saya agar tetap semangat berusaha, bekerja, mencari rezeki, meski sudah di usia yang melewati 50 tahun.

Banyak doa yang ingin saya kirimkan untuk Ibu Lanny Siswandi. Semoga selalu diberkahi rezeki kesehatan dan kebahagiaan sehingga selalu bisa hadir di tengah-tengah bisnis kuliner di Surabaya khususnya dan menjadi salah satu ikon per-sambal-an di Indonesia. Dengan menilik apa yang telah diraih sekarang, pemkot Surabaya tentunya ikut bangga dan bisa mereferensikan Pusat Oleh-Oleh Bu Rudy sebagai salah satu destinasi wisata kuliner.

BTW, jika melihat tempat nongkrong yang enak tadi, saya membayangkan punya waktu yang cukup dan menyenangkan jika bisa bertemu langsung dengan blogger perempuan yang memiliki kualitas seperti sahabat saya Alaika Abdullalh. Asik kali ya ngobrol berlama-lama di sini sembari membahas banyak hal tentang dunia literasi di Indonesia. Selain memang lihai dalam mengurai diksi, Alaika juga sering menjadi narasumber literasi digital untuk berbagai event kepenulisan dan kegiatan literasi berkualitas di Indonesia. Jangan lupa ya mampir ke blog beliau.

Area Photography

Bertamu ke Pusat Oleh-Oleh Legendaris di Surabaya
banyak produk ukm yang difasilitasi untuk dijual di sini
Bertamu ke Pusat Oleh-Oleh Legendaris di Surabaya
area yang luas dan lega. semoga penyusunan seperti ini tetap bertahan demi kenyamanan pengunjung
Bertamu ke Pusat Oleh-Oleh Legendaris di Surabaya
set up sebuah dapur. duh kalau punya dapur seperti ini bisa jadi semangat makan
Bertamu ke Pusat Oleh-Oleh Legendaris di Surabaya
beragam variasi produk dagangan yang ada di pusat oleh-oleh bu rudy
Bertamu ke Pusat Oleh-Oleh Legendaris di Surabaya
seneng deh lihat ada sofa buat duduk, menunggu atau istirahat sebentar di dalam toko.
Bertamu ke Pusat Oleh-Oleh Legendaris di Surabaya
depot atau tempat makan yang ada di lantai 3 pusat oleh-oleh bu rudy
Bertamu ke Pusat Oleh-Oleh Legendaris di Surabaya
lapang, luas dan rapi
Bertamu ke Pusat Oleh-Oleh Legendaris di Surabaya
teras gerobakan yang ada persis di teras depan supermarket pusat oleh-oleh bu rudy
Bertamu ke Pusat Oleh-Oleh Legendaris di Surabaya

Blogger, Author, Crafter and Photography Enthusiast

annie.nugraha@gmail.com | +62-811-108-582

11 thoughts on “Bertamu ke Pusat Oleh-Oleh Legendaris di Surabaya”

    • Itu juga yang diomongin Dewi hahahaha. Tapi ya aku juga gak nyangka kalau tempatnya sudah berubah, sebesar dan senyaman ini. Teras ngobrolnya juga asik buat nongkrong setelah makan. Next trip ya. Kita janjian di sini. Ramean dengan blogger-blogger Jatim yang lain.

  1. Melihat tempatnya yang nyaman gak mungkin cuma sekali nih mampir kemari. Kapan kapan sepertinya bakal balik lagi deh. Hehehe…
    Banyak banget yang bisa kita jadikan oleh oleh itu sebenarnya surga nya pelancong ya? Hehehe

    Reply
    • Ih bener banget Teh Okti. One stop experience tempat ini sih. Saya juga pengen balik lagi. Belum sempat makan di Depotnya karena sudah kekenyangan.

  2. Tempatnya kok bikin betah ya hehe. Asik sih ini ya apalagi oleh-olehnya itu variannya bikin nagih.
    Bisa aja Bu Annie ketemu tempat yang bisa jadi rekomendasi keren kalau nantinya daku jadi ke Surabaya

    Reply
    • Nah bener. Bisa buat tempat janjian nih. Makan bareng sekalian beli camilan khas Surabaya yang enak. Nyenengin banget tempatnya

  3. MahsaAllah Ternyata emang kayak disebut sebagai sambal legendaris ya.. sejarahnya sudah jauh kebelakang bahkan seusia saya sendiri.

    Saya pun mungkin bakal kebingungan mau beli oleh-oleh yang mana kalau ga ingat limit budget hehehehe

    Reply
  4. Bu Rudy ini terobosan keren ya?

    dari hanya produk sambal bisa mendunia, mungkin karena sambal disukai masyarakat Indonesia

    dan Bu Rudy memulai usahanya dengan fokus sambal

    baru kemudian banyak variannya

    Reply
  5. Seru banget belanja oleh-olehnya kalau tersedia di satu tempat gini. Jadi puas cuci mata, pilih-pilih mana yang mau dibeli. Saya tuh kalau ada keluarga yang lagi di Surabaya, ingatnya ya nitip Almond Crispy Cheese. Mahal sih emang, tapi enak. Huhuhu

    Reply
  6. Wah kalau tempatnya seperti ini mah bisa berlama-lama memilih oleh-olehnya soalnya cozy banget suasananya dan tata letak pun bikin kita asyik untuk pose-pose cantik😍😍

    Reply
  7. Sambel Bu Rudy ini emang enak mbak
    Terkenal di Surabaya, dan jadi oleh-oleh khas
    Kalau aku pernah yang di Kupang Indah
    Belum pernah yang di Dharmahusada
    Di Dharmahusada tempatnya lebih luas ya, nggak cuma buat beli oleh-oleh tapi juga bisa makan bareng

    Reply

Leave a Comment