KOOD Kolaborasi Untuk Desa. Swakantin dan Swalayan Vegan Friendly di Sanur Kauh, Denpasar, Bali

KOOD Kolaborasi Untuk Desa. Swakantin dan Swalayan Vegan Friendly di Sanur Kauh, Denpasar, Bali
menu serba mie, salad, juice buah naga dan rosella tea

Ke Bali Lagi

Saya baru 3 hari pulang dari opname karena operasi kelenjar getah bening, saat sebuah berita baik mampir di smartphone saya. Meski masih meringis-meringis saat jalan, info yang barusan sampai itu sudah meletupkan semangat saya. Kesenangan dan kebahagiaan tiada tara.

Setelah sekian minggu menunggu hasil kurasi, alhamdulillah jenama wire jewelry handmade saya, FIBI Jewelry, lolos seleksi dan diundang untuk menghadiri event khusus sekaligus mempresentasikan perhiasan handicrat saya kepada pihak pengundang.

Awalnya saya sudah berhari-hari bahkan berminggu-minggu tidak memikirkan hal ini sejak mengajukan proposal. Konsen kepada masalah kesehatan yang mendadak menyerang tubuh. Fokus pada proses physical healing. Tapi undangan ke Bali ini rasanya tidak dapat ditolak. Bukan hanya karena Bali sudah jadi rumah ke-2 bagi saya pribadi, namun lebih pada sebuah kesempatan yang pastinya tidak akan atau belum tentu berulang di masa mendatang.

Saya pun pasang kuda-kuda terbaik agar mendapatkan ijin dari komandan plus dokter bedah yang menangani operasi saya. Agar tak masalah dengan jahitan, dokter pun memasang perban dengan cover tahan air yang kuat, kokoh, mengikuti lekuk tubuh dan tidak mengganggu saat dibawa bergerak. Tapi tentu saja dengan pesan khusus agar tidak terlalu banyak beraktivitas fisik yang memakan tenaga.

“Kegiatannya kalem-kalem aja ya Bu,” begitu pesan sponsor dokter bedah.

Saya ngekek di dalam hati.

OK. It’s all wrap. Let’s go to Bali!!

Akhirnya Meet Up dengan Mina Megawati

Sehari setelah tiba di Denpasar Bali, saya mengatur rencana untuk bertemu dengan beberapa teman. Bersilaturahim sebelum keesokan harinya akan mengikuti presentasi dan pameran produk yang diadakan oleh The Sak di The Secret Garden yang berada di Bedugul.

Jadwal pertama adalah bertemu dengan Dian Isdiana (Dian). Saya sudah berjanji akan datang ke Seikat Florist miliknya yang berada di kawasan Imam Bonjol, Denpasar. Kemudian bersapa perdana dengan Mina Megawati (Mega), salah seorang blogger Bali, yang sudah berulangkali ngobrol dan saling colek di dunia maya. Lalu ditutup dengan makan di bebek betutu Bu Ulan yang lokasinya tak jauh dari rumah bersama Dwi Setijo Widodo (Dwi). Salah seorang teman baik di bidang penulisan, traveling dan craft.

Kalo ketemuan dengan Dian dan Dwi sudah ditentukan tempatnya, acara dengan Mega nih yang masih pe-er buat kami berdua. Beberapa pilihan tempat sempat kami diskusikan. Rada kebingungan juga karena saking banyaknya referensi yang saya dapatkan dari teman, media sosial, maupun dari Mega sendiri. Pengennya sih semua bisa dikunjungi tapi apa daya waktu yang ada sangat terbatas. Saya pun perlu istirahat yang cukup untuk besoknya pagi-pagi berangkat ke Bedugul. Dan gak mungkin juga kan meet up menclok kesana-kemari. Habis dong waktu untuk ngobrol barengnya.

Tak ingin terjebak pada kebingungan, akhirnya saya pasrah aja dengan opsi yang diberikan Mega. Kami akhirnya janjian ketemuan di KOOD Kolaborasi Untuk Desa yang berada di Jl. Kutat Lestari No. 2, Sanur Kauh, Denpasar.

Penasaran dengan namanya yang unik, saya tergerak untuk mengeksplorasi beberapa informasi tentang KOOD Kolaborasi Untuk Desa via Pakde Google. Ternyata menarik sangad. Mulai dari unsur bangunan dan konsep vegan friendly yang diusung hingga katanya, harganya ramah banget dengan kantong saking murahnya. Dan ini bakal jadi pengalaman pertama saya makan di swakantin dengan sajian plant based di Bali.

Baca Juga : Beranjangsana ke Padamu Negeri. Resto Rooftop Estetik di Dago Bandung

KOOD Kolaborasi Untuk Desa. Swakantin dan Swalayan Vegan Friendly di Sanur Kauh, Denpasar, Bali
saya dan mega di salah satu meja kecil di bagian ujung resto. di dekat meja kayu ini tersedia colokan listrik. asik banget untuk nongkrong sambil kerja

Mengulik Sedikit Tentang KOOD Kolaborasi Untuk Desa

KOOD Kolaborasi Untuk Desa. Unik sekali ya namanya. Bahkan logo dengan backdrop warna kuning nya pun eye catchy banget. Konseptual, menarik dan mengesankan.

Seperti layaknya plant based kantin, KOOD Kolaborasi Untuk Desa menyajikan makanan dan minuman tanpa kandungan hewani, minyak, gula putih, 100% organik dan tanpa MSG. Menu sehat yang tentunya baik untuk kesegaran tubuh. Surganya kaum vegetarian dan jelajah rasa baru bagi mereka yang berkenan mencoba resto dengan jenis sajian yang berbeda dari biasanya.

KOD Kolaborasi Untuk Desa menyediakan sebuah ruang bagi masyarakat untuk menikmati makanan sehat yang berkualitas. Bekerjasama dengan para petani yang berada di Bali, seperti di daerah Karangasem dan Gianyar, KOOD Kolaborasi Untuk Desa menjadi kantin yang berasal dari masyarakat dan diberikan untuk masyarakat dengan harga terjangkau. Sebuah visi dan misi yang tentu saja patut kita dukung. Karena dengan makan dan minum di sini, kita secara otomatis turut mensejahterakan para petani yang bekerjasama dengan KOOD Kolaborasi Untuk Desa.

Dari akun IG @kolaborasiuntukdesa, saya menemukan untaian filosofi KOOD Kolaborasi Untuk Desa yang diilhami dari Koperasi Unit Desa yaitu produk berasal dari desa, dibikin oleh orang desa, dengan tujuan memajukan perekonomian orang desa.

Sounds klise ya. Tapi that’s the fact. That’s true indeed. Membeli hasil panen petani setempat, KOOD Kolaborasi Untuk Desa sesungguhnya sudah bekerjasama secara konsisten dalam memajukan usaha pekerja lokal. Para petani punya tempat untuk menyalurkan produk mereka dengan tentu saja semangat untuk menawarkan hasil panen terbaik.

Dari hasil panen berkualitas inilah, KOOD Kolaborasi Untuk Desa, memberikan nilai tambah dari hasil bumi yang mereka ambil dari para petani di berbagai desa di Bali. Semua diolah menjadi santapan sehat sehingga bisa dengan layak dinikmati publik sebagai salah satu produk kuliner yang berbeda, baik dari segi rasa maupun visualnya.

KOOD Kolaborasi Untuk Desa berkonsep swakantin. Kenapa?

Selain pesanan kita tidak diantarkan ke meja oleh para petugasnya, kita juga diminta untuk membereskan sendiri peralatan makan yang kita gunakan.

Seperti biasa kita memesan langsung ke counter kasir dan melakukan transaksi pembayaran. Pilihan transaksi bisa dengan cash maupun lewat dompet digital. Setelah pesanan selesai diolah, petugas akan memanggil agar kita dapat menjemput sendiri makanan dan minuman yang kita sudah order.

Disamping kasir kita bisa mengambil peralatan makanan serta condiment seperti cabai potong, kerupuk, sambal botolan dan sebagainya. KOOD Kolaborasi Untuk Desa melengkapinya dengan kesempatan kita untuk bereksplorasi sendiri agar makanan kita teracik kembali sesuai selera. Yang pasti semua condiment juga mendukung konsep no oil, no daging hewani, no MSG atau bahan pengawet lainnya dan tentu saja tanpa gula putih.

Untuk kepentingan beberes sendiri, KOOD Kolaborasi Untuk Desa menyediakan berbagai wadah-wadah besar untuk kita menaruh piring, mangkok, cangkir dan peralatan makan yang kotor atau sudah kita gunakan di sudut terujung kantin. Yang terbiasa jadi anak mama dan dilayani ART, kudu berubah nih di sini.

Gak mungkin juga dong, nyuruh teman makan atau orang lain buat ngeberesin sisa-sisa makanan kita. Cus ah mindset nya harus dirubah. Sama seperti saat kita makan di kantinnya IKEA. Dan di beberapa tempat juga kebiasaan seperti ini sudah disosialisasikan atau dijalankan dengan baik. Bisa kok kita ternyata. Bahkan saya berharap agar manner seperti ini tuh berlaku juga di semua resto. Khususnya resto cepat saji.

Memperbaiki kebiasaan menjadi lebih baik? Kenapa tidak?

By the way, kita juga diperkenankan loh membawa wadah sendiri. Satu hal yang sangat dihargai oleh KOOD Kolaborasi Untuk Desa. Jika kita take-a-way menggunakan wadah dari mereka, kita akan dikenakan charge 2K/wadah. Kalau pesananannya banyak ya lumayan juga kan?

Baca Juga : Nostalgia Rasa di KFC Melawai Jakarta

Makanan Sehat yang Saya Nikmati

Saya datang ke KOOD Kolaborasi Untuk Desa 2 kali. Pertama dengan Mega. Kedua dengan Ridha. Saya bersengaja mengajak Ridha karena penasaran ingin mendengarkan review dari seseorang yang pandai masak dan hafal dengan bumbu-bumbu. Ridha adalah salah seorang diantaranya.

Sama seperti apa yang saya pesan sebelumnya, kali kedua itu saya juga memesan menu mie. Semangkok Mie Aiam Jamur, semangkok Mie Korea (mie asam pedas ala Korea), dan sepiring Veggie Salad (aneka sayuran rebus yang disajikan dengan kecap asin Jepang dan vegan mayo). Untuk minuman saya memesan juice buah naga dan es teh. Total semuanya sekitar IDR 55K saja.

Gimana? Murah banget kan?

Quantity nya juga lumayan banyak loh. Apalagi untuk lambung perempuan. Cukuplah. Kalau untuk saya yang lambungnya sudah kisut mengikuti usia, mie nya berbobot untuk memenuhi perut. Apalagi disana juga hadir aneka sayur mayur, tempe, tahu dan tambahan Kimchi untuk Korean Noodle nya. Karena perut sudah full storage, saya dan Ridha pun keroyokan menghabiskan saladnya. Itupun ternyata harus dengan effort yang tidak biasa.

Belum lagi Rosella Tea yang free flow. Boleh kita ambil sepuasnya tanpa biaya tambahan. Seger banget deh teh nya. Saya sampai bolak balik ngambil dengan cangkir jadoel. Dan untuk menambah kesegaran di Bali yang panas, KOOD Kolaborasi Untuk Desa menyediakan potongan-potongan es batu, yang juga bisa kita ambil sepuas hati.

Apalagi yang bisa disantap di KOOD Kolaborasi Untuk Desa?

Buanyak banget kawan. Ada aneka produk bakery yang pilihannya bejibun, ice cream gelato dengan berbagai rasa, sandwich, nuget, dan lain-lain. Kesemuanya disiapkan dengan healthy ingredients.

Kalau gak ingat-ingat perut yang kepenuhan, sebenarnya saya pengen banget nyoba Vegan Honey Oat Sourdough dan Banana Bread nya. Dioleskan dengan peanut butter pasti mantab itu ya. Terus ditutup dengan salah satu burger. Gak dihabisin sendiri sih karena sadar tidak akan mampu. Tapi kalau ada kawannya kan bisa saling berbagi.

Well. Buat kunjungan berikutnya aja kayaknya ya. Catet!!

Oia by the way, sebelum lupa, KOOD Kolaborasi untuk desa tidak menyediakan sendok garpu yak. Adanya sumpit doang. Khusus buat sajian serba mie. Kalau butuh sendok garpu ada charge tambahan dan itu hanya sekali pakai.

Baca Juga : Sensasi Mie Tarik ala Tiongkok di Golden Lamian Jababeka Cikarang

KOOD Kolaborasi Untuk Desa. Swakantin dan Swalayan Vegan Friendly di Sanur Kauh, Denpasar, Bali
pesanan saya dan ridha featuring tas rotan dari bali rotan

Koodapan

Melengkapi “makanan berat” yang disediakan di lantai dasar, KOOD Kolaborasi Untuk Desa juga menawarkan berbagai camilan sehat yang ada di sebuah mini market dengan nama KOODAPAN. Nama yang diambil dari kata KUDAPAN yang berarti makanan kecil (snack) yang biasa kita nikmati di sela-sela 3 kali makan utama.

Di swalayan Koodapan ini kita bisa menemukan banyak sekali pilihan camilan sehat. Sebagian besar berupa keripik dengan bahan-bahan alami seperti kacang-kacangan, sayuran dan semua produk nabati. Ada juga aneka permen, kopi, sereal yang terbuat dari sorgum.

Apa sih sorgum itu? Sorgum adalah sejenis sereal dari bahan gandum yang tumbuh subur di daerah tropis seperti Indonesia. Sorgum ini mengandung banyak serat dan protein yang lebih tinggi daripada beras putih.

Untuk melengkapi bahan makanan yang kaya serat, Koodapan juga menyediakan beras merah dan cookies yang vegan friendly.

Setiap jenis kudapan dihadirkan dengan banyak sekali pilihan. Dengan harga berkisar antara IDR 10K – 50K/kantong, Koodapan sudah memanjakan selera belanja saya. Asiknya lagi para petugas menyiapkan banyak tester agar kita bisa merasakan bahkan jadi lebih tertarik pada kudapan yang tersusun dan tertata rapi di lantai 2 gedung.

Mengandung bahan-bahan yang aman untuk kesehatan, meski tentunya tidak segurih kudapan yang biasa dijual di banyak mini market, snack di Koodapan memang tidak mengandung MSG serta diolah dengan cara sehat. Sama seperti menu masakan yang disajikan kepada publik di lantai dasar.

Di salah satu sudut dari sederetan rak kayu yang ada, Koodapan juga menawarkan produk handmade seperti tas belanja, topi serta perintilan lain yang bisa dipakai untuk kegiatan sehari-hari. Si Mbak pun meminta saya berfoto dengan beberapa produk Koodapan dan mensosialisasikannya di sosial media.

Siap!! Jangankan menghadirkan foto di IG atau FB, tempatnya juga saya tuliskan sekalian di blog saya ini.

Baca Juga : Nongkrong Asik di The Backyard Makassar

KOOD Kolaborasi Untuk Desa. Swakantin dan Swalayan Vegan Friendly di Sanur Kauh, Denpasar, Bali
saya dengan sebagian produk yang ditawarkan oleh koodapan

Tempat yang Nyaman

Tidak seperti kebanyakan rumah makan yang kritis dan picky soal lokasi, KOOD Kolaborasi Untuk Desa justru berada di padatnya perumahan dan beberapa private villa atau rumah-rumah yang berfungsi sebagai guest house. Jalan masuk nya pun cukup berliku dengan luas lajur yang pas-pasan untuk 2 mobil. Khas jalanan di Bali.

Dua kali saya memesan jasa pengantaran on-line, posisi KOOD Kolaborasi Untuk Desa memang harus dirunut pelan-pelan agar tidak nyasar. Jangan ngebut aja pokoknya ya. Karena kalau sudah terlewat, untuk memutar kendaraan tuh pe-er banget.

Saat sampai di KOOD Kolaborasi Untuk Desa pertama kalinya, saya melihat secara keseluruhan bangunannya tampak biasa aja. Bentuknya kotak sederhana dengan dominan bata expose dan terdiri dari 3 lantai. Persis berada di sebuah pertigaan yang cukup sempit, swakantin dan swalayan ini tampak dibuat sangat terbuka agar publik tidak segan untuk melangkah masuk.

Ada area parkir di salah satu sisi bangunan. Gak begitu luas. Bahkan batasan antara kendaraannya terlalu sempit. Jadi kalau ingin masuk atau keluar parkir mobil, nyetirnya harus pinter biar gak nyenggol mobil atau motor yang lain.

Di bagian terdepan tersedia bangku dan meja kayu tinggi, untuk nongkrong-nongkrong asyik. Yang saya perhatikan sih area ini digunakan oleh mereka yang menunggu pesanan take-away atau abang-abang ojol yang mendapatkan orderan via aplikasi.

Persis di depan lahan parkir tadi, ada beberapa meja berpayung dengan banyak bangku dan terlihat akomodatif untuk para perokok. Dua kali saya berkunjung, meja-meja di luar ini tak pernah sepi. Terlihat seru banget nongkrong barengnya. Rame.

Area makan utama ada di dalam bangunan yang non-smoking. Ruangannya dibuat tanpa pembatas. Plong aja gitu. Kecuali ya untuk open kitchen, kasir, dan rak-rak kayu berkaca untuk menampilkan produk bakery, pendingin ice cream dan pembatas untuk layanan minuman. Tapi pembatas itu hanya setinggi lutut orang dewasa. Jadi tidak membatasi penglihatan atau komunikasi antara petugas dan pengunjung.

Yang paling dominan terlihat adalah meja-meja dan kursi-kursi kayu yang cukup berat untuk digeser. Dindingnya sendiri menggunakan bata expose dengan sisi terluar menggunakan bata-bata berlubang, mirip seperti roster. Ruangan makan utama ini tidak berpendingin ruangan. Hanya dipasang beberapa kipas angin besar di berbagai titik. Tapi nyatanya tetap nyaman loh. Gak kepanasan. Karena ya itu. Bata bolong-bolong, ceiling jangkung dan jendela kaca lipat di bagian depan itu tuh yang membuat sirkulasi udara tidak terkepung di dalam ruangan.

Sungguh satu strategi efisiensi dan efektivitas listrik plus operational cost yang patut diacungi jempol. Save energy. Save cost in many ways.

Patut ditiru. Patut dicontoh.

Di bagian belakang gedung, ada beberapa rest rooms seperti container yang juga sangat nyaman. Setiap ruangan basuh dibuat lebar-lebar dengan kebersihan yang sangat terjaga. Begitupun dengan wastafel yang berada di depannya. Di sekelilingnya banyak tanaman dengan space setengah terbuka.

Gak mau melewatkan waktu sholat? Bisa banget. KOOD Kolaborasi Untuk Desa menyediakan musholla yang berdampingan dengan rest rooms.

KOOD Kolaborasi Untuk Desa. Swakantin dan Swalayan Vegan Friendly di Sanur Kauh, Denpasar, Bali
area kasir
KOOD Kolaborasi Untuk Desa. Swakantin dan Swalayan Vegan Friendly di Sanur Kauh, Denpasar, Bali
drink station yang berada persis di depan pintu masuk utama. free refills

Kesan Pribadi untuk KOOD Kolaborasi Untuk Desa

Pengalaman kuliner baru yang menyenangkan.

Sepertinya kalimat inilah yang mewakili perasaan saya. Kenapa?

Saya tuh jarang banget makan makan langsung di vegetarian resto. Kalau makan serba vegie sih lumayan sering. Di rumah, yang namanya sayur atau salad, selalu diusahakan tiap hari terhidang. Termasuk juice buah dan sayur-sayuran. Karena memang manusia seusia saya sangat dianjurkan untuk lebih banyak mengkonsumsi makanan berserat demi kesehatan. Metabolisme tubuh yang sudah jauh lebih lambat, tentunya sudah tak akomodatif untuk mencerna asupan serba lemak. Jadi saat datang ke KOOD Kolaborasi Untuk Desa saya seperti diingatkan akan hal ini.

Keep healthy for a better life.

Bagi yang punya pemikiran bahwa vegetarian friendly food itu gak sedap, sepertinya harus menarik balik ucapan itu. Nyatanya dalam 2 kali kunjungan ke KOOD Kolaborasi Untuk Desa, saya tetap nikmat aja makan sepuasnya. Meski hanya berasal dari sumber nabati, sajiannya tetap terlihat menarik secara visual pun untuk indera perasa.

Harganya juga melegakan. Setidaknya saat dompet mulai meringis mulai dari minggu ke-3 setiap bulan, kita malah bisa makan asupan sehat dan minum rosella tea yang menyegarkan maksimal dan free flow itu. Atau bisa aja kita niatkan mengkombinasi antara jajan bebas dengan vegetarian friendly food ini. Bisa dengan murni tujuan kesehatan atau bisa aja dengan maksud agar mampu mengatur budget konsumsi sebulan dengan cara sebijak mungkin.

Betul kan?

Untuk tempatnya, seperti yang sudah saya uraikan di atas, bener-bener bikin kita betah. Saya dan Mega malah hampir 3 jam ngobrol asik di sini. Selain kami memang satu frekuensi karena berlatar belakang hobi yang sama, tempatnya juga mendukung. Padahal loh saat itu adalah pertemuan perdana kami. Gak kebayang kalau nantinya balik kesini, ketemuan dengan Mega lagi, dan betah nangkring lebih dari 3 jam. Bisa diusir dengan tidak hormat kali yes.

Hanya satu yang cukup mengganggu untuk saya pribadi. Karena bokong tepos dan tulang belakang (khususnya tulang duduk) yang sudah bergeser, saya memang kurang nyaman duduk di atas kayu. Seperti yang dinasehati dokter, saya sangat dianjurkan duduk di sofa atau tempat duduk dengan bantalan empuk. Satu pertanda kuat, kalau nongkrong di sini lagi, saya kudu usung-usung bawa dudukan empuk biar lebih nyaman. Atau kali aja KOOD Kolaborasi Untuk Desa bisa menyediakan kursi dengan jok empuk yang permanen. Usulan loh ini hehehehe.

Pendapat Ridha tentang tempat ini pun sama. Meski hanya bermodalkan kipas angin, kesejukan ruangan sangat terjaga. Berjam-jam berada di area makan utama, saya tak sedikitpun keringatan. Padahal saya kan menggunakan gamis dengan jilbab yang tentu saja tertutup. Gimana dengan para bule dengan atasan backless, celana pendek, kekurangan bahan yak? Pasti lebih betah lagi.

Tak heran kalau pengunjungnya ramai. Bahkan berjam-jam saya duduk baik dengan Mega maupun Ridha, pengunjung tuh datang dan pergi, tak terputus.

Layanan yang cepat serta atmosphere yang nyaman, menurut saya, jadi salah satu kunci untuk publik jadi langganan di sini.

Salah satu bagian terseru dari tempat ini adalah kita secara tak sengaja jadi tahu nama-nama tamunya. Secara ya. Begitu pesanan siap, petugas akan memanggil si pemesan sesuai dengan nama yang teregistrasi. Saya jadi punya pemikiran iseng. Kapan-kapan, saat dine-in di KOOD Kolaborasi Untuk Desa lagi, saya akan mendaftar dengan nama-nama artis terkenal atau nama kucing-kucing kesayangan saya yang lucu-lucu. Biar seru dan bikin orang lain nengok, senyum-senyum atau bahkan tertawa. Seru yes!!

KOOD Kolaborasi Untuk Desa. Swakantin dan Swalayan Vegan Friendly di Sanur Kauh, Denpasar, Bali
bata bolong-bolong seperti roster yang bikin sirkulasi udara terjaga dengan baik. ruangan jadi tetap nyaman dan sejuk meski tanpa pendingin udara
KOOD Kolaborasi Untuk Desa. Swakantin dan Swalayan Vegan Friendly di Sanur Kauh, Denpasar, Bali
deretan roti yang siap dikonsumsi
KOOD Kolaborasi Untuk Desa. Swakantin dan Swalayan Vegan Friendly di Sanur Kauh, Denpasar, Bali
korean noodle, veggie salad, juice buah naga dan rosella tea
KOOD Kolaborasi Untuk Desa. Swakantin dan Swalayan Vegan Friendly di Sanur Kauh, Denpasar, Bali
tangga besi menuju swalayan koodapan yang ada di lantai 2
KOOD Kolaborasi Untuk Desa. Swakantin dan Swalayan Vegan Friendly di Sanur Kauh, Denpasar, Bali
sederet kudapan yang tersedia di swalayan koodapan
KOOD Kolaborasi Untuk Desa. Swakantin dan Swalayan Vegan Friendly di Sanur Kauh, Denpasar, Bali

Blogger, Author, Crafter and Photography Enthusiast

annie.nugraha@gmail.com | +62-811-108-582

52 thoughts on “KOOD Kolaborasi Untuk Desa. Swakantin dan Swalayan Vegan Friendly di Sanur Kauh, Denpasar, Bali”

  1. Gagal fokus sama tas rotannya Mba, keceh banget tuh.
    Btw makanannya terlihat menggugah selera nih.
    Kudapan yang dijual di Koodapan juga bikin ngiler, kesukaan saya tuh Ting Ting jahe, dan jadi pengen rosela teh deh jadinya

    Reply
    • Tas rotannya memang apik. Asli buatan UKM di Denpasar Bali. Namanya Bali Rottan. Banyak koleksi-koleksi lain milik mereka yang cakep banget buat diadopsi.

  2. Konsepnya keren banget mba. Belajar buat mandiri juga ya, jadi nggak ada pelayan antar dan bersihkan sisa makanan di meja makan. Kalau gini bisa nih diterapkan di daerah lain juga.

    Reply
    • Iya Mbak Ila Rizky. Semoga dengan cara begini bisa melatih pengunjung untuk mandiri dan ikut menjaga kebersihan demi kepentingan bersama. Pembiasan begini harusnya diterapkan di semua fastfood ya. Bagus visi dan misinya.

    • Yup bener banget. Kita jadi bisa ikutan denger nama orang lain. Kapan-kapan pengen saya isengin dengan menggunakan nama artis internasional biar seru hahahaha.

      Vegie salad = gado-gado atau pecel. Betul banget. Hanya “kuah” nya aja yang berbeda.

  3. jadi inget pernah meeting bareng Bandung Juara Bebas Sampah di Ecocamp, tempat kita belajar tentang keberlanjutan bumi
    untuk energi mereka pakai tenaga surya, untuk pangan mereka menanam sendiri
    Saat dihidangkan, gak ada daging secuil pun apalagi perasa pabrikan
    Tapi rasanya lezat banget
    jamur dimasak mirip ayam goreng KFC , demikian juga sayur-sayuran lain yang sepintas mirip masakan cepat saji di hokben dan Mc Donald

    Reply
    • Konseptual banget ya Mbak. Mencintai lingkungan sekaligus menjaga kesehatan. Apalagi ini sembari menggiatkan UKM dan kebijakan lokal. Full of energy rasanya

  4. Resto atau warung dgn konsep ciamik kyk gini memang lovable bgt yahhh
    Sayangnya di Sby tuh jaraaaanggggg aku nemu yg ginian.
    Kebanyakan yah kafe/resto yg aesthetic demi feed IG gt doang šŸ˜°šŸ˜†

    Reply
    • Sekarang lebih pada memenuhi kebutuhan kehidupan medsos ya Nur. Sedikit dan jarang banget yang punya konsep healthy food seperti KOOD ini. Awalnya aku kira sajian seperti di KOOD ini bakal dikit peminatnya. Tapi ternyata 2 kali bolak-balik kemari, pengunjungnya rame loh. Terus datang dan pergi. Banyak banget. Jadi sesungguhnya konsep vegan tuh kalau dirancang seapik mungkin, bisa kok jadi salah satu favorit publik.

  5. Nah! Ini! Aku juga suka kalau ada tempat yg bisa bantu petani lokal. Kalau gitu, next time pergi ke Bali, kalau pengen makan sehat ke sini aja ya. Duitnya jelas muter ke orang lokal.

    Reply
    • Memang cantik tas rotannya Mbak Myra. Nanti bisa dicek di akun IG milik Bali Rotan. Ada banyak koleksi lain yang juga cakep buat diadopsi.

  6. KOOD Kolaborasi Untuk Desa benar-benar menawarkan konsep yang sangat berbeda dari tempat-tempat lain yang serupa ya, Kka. Apalagi buat beberes sendiri, bener banget nih anak mama kudu berubah.

    Satu lagi yang disuka dari Bali, selalu memunculkan local wisdomnya

    Reply
  7. Kak Annie always bisa menuliskan dari sisi-sisi humanis, hehehe..
    Gak hanya menggambarkan lokasi di sini nyaman, enak dan makanannya banyak menu, tapi juga diselingi komentar pribadi yang membuat pembaca tersenyum. Seperti bokong tepos karena duduk di kursi kayu..
    Tapi memang gitu sih yaa, kak Annie..
    Kalau ke cafe dengan suasana hommie dan bergaya eco friendly gini, strereotype nya adalah anak muda yang dinamis, aktif dan penuh dengan ide.
    Sehingga interiornya pun tampak sangat back to nature.

    Reply
    • Makasih untuk complimentnya Lendy. Menulis dari hati dengan DNA pribadi selalu saya jaga sebisa mungkin.

      Salut untuk KOOD yang begitu konseptual dengan sajian yang sehat serta mengajak kita peduli akan lingkungan dan kearifan lokal. Seneng banget waktu mendapatkan info lebih jauh tentang mereka dari blogger setempat.

    • Aku juga seneng banget lihat tas bertuliskan KOOD nya kak Annie.
      Kesannya cantik dan memang hidup sustainable lifestyle masa kini dipenuhi dengan barang-barang yang cantik sehingga gak malu dan beneran bisa sebagai pelengkap fashion sehari-hari.

  8. Btw Bu Annie saya kepo, kalau vegan itu katanya ada bahan daging2 an tapi dari nabati itu rasanya kayak apa ya hehehe.. dan saya baru tau di Bali ada swalayan vegan friendly pastinya sangat membantu bagi yang mencari bahan baku vegan ya

    Reply
    • Semua dibuat dari bahan nabati kemudian dibentuk dalam bentuk sajian yang biasa kita makan. Butuh satu keahlian khusus menurut saya sih.

  9. Rekomended banget ya mbak. Terlihat nyaman, asri, dan ekonomis banget. Buat menu sebanyak yang mbak Annie pesan, itu udah ramah banget di kantong. Only 55 ribuan doank kan ya. Pastu seru nongki2 bareng besti nih. Ditambah bata yang bolong-bolong bikin sirkulasi udara lancar jadi makin adem dan menyejukkanšŸ˜Š

    Reply
    • Tempatnya memang se-asik itu Mbak Nengsi. Makanannya juga healthy karena berbahan dasar nabati. Bagus loh buat diet dan menurunkan atau menjaga kolesterol kita.

  10. Wuih, keren banget ini KOOD Kolaborasi untuk Desa ini. Produknya keren-keren juga. Yang begini sih optimis bisa maju ya. Tampilannya bagus, kualitasnya juga gak kalah. Mupeeeng deh kepengen belanja itu produk-produknya. Vegan friendly tapinya gak kelihatan ya.

    Reply
    • Kerennya lagi KOOD bekerjasama dengan petani lokal Mbak Nia. Jadi turut mensejaterahkan UKM Bali juga.

  11. saya pernah nih makan di resto yg nyediain menu vegan juga mba. saya nyoba makan nasi goreng vegan yg bahannya dari biji pah gt, lupa namanya. Pas makan rasanya beda banget sama yg biasa di makan. alhasil malah gak abis. Saya salut sama pecinta menu vegan, bisa menikmati makan dengan lezat

    Reply
    • Hahahaha memang sih, makanan vegan rasanya jauh beda dari makanan biasa. Jadi memang efek rasanya juga sangat berbeda. Saat pertama coba memang kaget lidah kita. Apalagi untuk mereka yang tidak pernah mencoba atau jarang sekali makan sayur. Rasa memang tak biasa tapi bagus untuk kesehatan.

  12. menu vegan nampak enak banget

    jadi pingin pindah vegan juga, karena bagus untuk tubuh

    menurut para pakar, pencernaan kita lebih mirip herbivora dibanding carnivora

    sehingga tepat banget memilih vegan

    Reply
    • Saya sudah mulai nih Mbak. Pelan-pelan mengurangi konsumsi hewani. Belum bisa benar-benar vegan. Tapi mudah-mudahan nantinya akan 90% atau bahkan 100% vegetarian. InshaAllah

  13. Sehat selalu Ibu… Bali memang pesonanya sangat kuat ya. Apalagi bagi jiwa pebisnis, itu kesempatan bagus emang.
    Jumpa teman dan sahabat juga jadi nilai lebih. Sekali jalan jadi bisa melakukan berbagai kegiatan bagus

    Reply
    • Aamiin YRA. Makasih doanya Teh Okti. Berteman dengan orang2 sefrekuensi dan meninggikan semangat kita pastinya sangat menyenangkan. Memperpanjang umur dengan mempererat silaturahim.

  14. Semoga terwujud kursinya bisa lebih empuk misal dengan bantalan busa, karena memang untuk kenyamanan pelanggan. Apalagi kalau ingin berlama-lama memang duduk itu asiknya ada bantalan biar gak kesemutan (haha, pengalaman pribadi). Siip asik juga rekomen menu makanannya.

    Reply
  15. Pagi kak Annie, apa kabar….
    Semakin sehat ya kak. Aku sudah puluhan tahun menjadi vegan. Dan kebetulan aku menikmati makanan vegan ala rumahan saja tidak pakai bumbu khusus. Sayuan, tempe tahu. Apalagi vegan di KOOD pasti lebih enak ya kak. Harganya juga terjangkau. Ah jadi ingin kesana.Rosella Tea pas banget ya untuk menutup makanan yang telah dinikmati. Kudapannya juga enak-enak ya

    Reply
    • Saya juga pelan-pelan mulai mengurangi konsumsi makanan hewani Kak Dennise. Mudah-mudahan nanti saya bisa mengikuti jejak Kak Dennise menjadi vegetarian. InshaAllah.

  16. Bagus nih konsepnya yang diusung KOOD Kolaborasi Untuk Desa, membeli hasil pertanian dari petani secara langsung, menyajikan tanpa bahan tambahan hewani dan bumbu bermicin, jadi citarasanya asli, tapi tetap enak disantap ya mbak. Urusan membereskan bekas makan sendiri juga patut di tiru resto lain nih

    Reply
  17. Recommended banget ya, terlihat nyaman, asri, dan ekonomis. Buat menu sebanyak yang di pesan, only 55 ribuan aja. Ini kalau buat nongkrong atau ngobrol-ngobrol asik sama bestie cocok nih

    Reply
  18. Konsep kayak IKEA tuh baik belanja maupun makan kalau diadopsi bisa hemat berapa aja buat pengelola, sehingga harga bisa lebih murah jadinya. Kalau untuk pembeli jadi terbiasa untuk melayani diri sendiri, mandiri dan bertanggung jawab dengan apa yang dibeli..
    Kayak KOOD ini. Keren KOOD, namanya unik. Dan suka dengan konsepnya, menu, layanan,…yang bikin sehat badan, pikiran dan kantong kita:)

    Reply
    • Wah iya bener banget Mbak Dian. Mendidik kita/publik untuk mandiri ya Mbak. Dan ternyata kita bisa kok tidak dilayani.

    • Hahahaha bener Nur. Buat yang awal-awal mencoba mungkin akan kaget ya. Tapi untuk aku yang sudah berulangkali mencoba jadi vegetarian, makan di KOOD tuh asik banget karena variasi hidangannya banyak.

  19. Seru banget jadi Mbak, jalan-jalan melulu, hihihiii, mau juga dong.
    Saya suka juga Bali sebagai tempat tujuan wisata, karena rasanya di Bali semua ada, mau gunung dan danau ada, pantai juga ada. Komplit dah. Buah-buahannya juga segar-segar di daerah dingin itu, apalagi strawberry dan markisanya, duh kangen.

    Reply
    • Makanya Bali itu dikenal sebagai salah satu surga dunia ya Mbak Annisa. Saya juga seneng banget ke Bali. Sudah seperti rumah ke-2. Dan inshaAllah pengen pensiun di Bali. Menyenangkan banget

  20. Denpasar memang surganya vegetarian. Sampai sampai ada loh Mba Annie rumah makan padang yang vegetarian. Asli. Wkwkwwkwk.

    Uniknya itu, makanan vegan kayak di Sanur dan sekitarnya itu, kok enakkkkkkkk. Mereka tuh berkreasi banget, khususnya dari bahan jamur, bisa jadi apa aja, kayak daging, kayak sate, kayak ikan. Bentuknya pun macem2. Jadi, makan vegetarian gak sehoror yang kita kira.

    Reply
    • Nah iya. Selama di Bali baru KOOD ini resto vegan yang saya kunjungi. Padahal di Denpasar banyak banget ya. Ah jadi penasaran dengan konsep jejamuran itu. Semoga pas balik lagi ke Bali, bisa mampir ah

Leave a Comment