
Akhirnya bisa kembali mengunjungi salah satu rumah-Nya yang indah dengan sejuta makna. Kali ini saya bersama keluarga mendapatkan kesempatan menunaikan salat dan menapakkan kaki di Masjid Al-Irsyad Satya yang berada di Kota Baru Parahyangan (KBP), Padalarang, Bandung. Salah satu masjid megah karya Ridwan Kamil yang berada berdampingan dengan Al-Irsyad Satya Islamic School. Sekolah yang berafiliasi dengan sekolah Islam international Madrasah Al-Irsyad Al-Islamiah of Singapore.
Perumahan elit Kota Baru Parahyangan (KBP) sejatinya berada tak jauh dari rumah keluarga suami di kawasan Cimahi. Dilengkapi dengan berbagai fasilitas umum yang sangat beragam, saya seringkali diajak suami untuk mampir ke KBP saat akan pulang ke rumah kami di Cikarang. Apalagi jika – kebetulan – ada banyak kebutuhan rumah atau dapur yang sudah habis, saya biasanya mampir ke satu supermarket yang ada di KBP untuk berbelanja. Jadi sambil berkendara pulang, kami relatif sering bersengaja mampir ke KBP untuk memenuhi berbagai kebutuhan atau sekedar menikmati aneka kuliner yang ada di dalam kompleks ini.
Tapi dari sekian kali bolak-balik ke KBP, saya baru tersadar sudah melewati satu tempat yang sesungguh sering saya lihat dan lamati. Apa itu? Sekolah Al-Irsyad Satya dan masjid indah yang berada persis di sampingnya.
Di kunjungan yang entah ke berapa kalinya, suami pun akhirnya mengajak saya untuk mampir. Bersengaja salat duha 2 rakaat sekaligus merekam semua sisi keindahan masjid Al-Irsyad Satya ini dari dekat.
Sebelum menjelajah lebih jauh dan masuk ke dalam masjid, saya menyempatkan diri mampir ke sebuah tulisan besar berwarna hitam yang menghadirkan nama masjid, lalu ke sebuah prasasti kecil dengan warna senada yang berada dekat pintu masuk utama. Dari prasasti ini saya membaca tanggal peresmian yang tertuliskan Jumat, 20 Agustus 2010 M, 17 Ramadan 1431 H yang bertepatan dengan Nuzulul Qur’an. Prasasti kecil ini ditandatangani oleh Ridwan Muhammad – Ketua Dewan Pengawas Yayasan Parahyangan Satya dan Leopard Lyman – Management PT. Belaputra Intiland, developer atau pengembang dari Kota Baru Parahyangan (KBP).

Masjid Indah dengan Sejuta Makna
Ada sebuah tanah lapang yang cukup luas di samping masjid untuk tempat parkir. Lahan parkir yang berbagi dengan para tamu lain yang berkunjung ke berbagai outlet/toko dan resto yang ada di barisan ruko yang sejajar dengan masjid.
Masjid Al-Irsyad Satya sendiri berada di sebuah gundukan tanah yang lebih tinggi dari jalan raya, jadi saya harus menaiki beberapa anak tangga dan taman bunga untuk bisa tiba di lahan seluas kira-kira 1 hektar yang menyanggah bangunan masjid dan lingkungan yang berada di sekitarnya.
Seperti yang saya baca di berbagai tautan dan kemudian saya simpulkan, keindahan dan keistimewaan masjid ini adalah pada fasadnya yang unik, interior design sejuta makna, dan proses pengerjaan yang (hanya) memakan waktu 1 tahun.
Masjid ini bentuknya seperti kubus yang terinspirasi dari bangunan Ka’bah di tanah suci Mekkah dan dikelilingi oleh lingkungan hijau yang berbentuk melingkar. Ukuran bangunannya sendiri tidaklah terlalu besar. Apalagi jika dibandingkan dengan 2 masjid megah yang juga dirancang oleh Ridwan Kamil yaitu Masjid 99 Kubah di Makassar dan Masjid Al-Jabbar di Bandung.
Berada di jalur utama yang menghubungkan beberapa tempat penting di Kota Baru Parahyangan (KBP), masjid ini dilingkupi oleh sederetan pepohonan tinggi yang dahannya melebar. Barisan tanaman yang menjalar di sisi luar terlihat menghijau dan terawat dengan baik, termasuk ribuan bunga yang saya lewati tadi.
Saat saya melangkah dari arah parkiran, hembusan angin terasa lembut menyentuh wajah. Suara dedaunan yang tertiup halus oleh angin terdengar bagai sebuah bisikan yang mengajak saya untuk bersegera bermunajat kepada-Nya.
MashaAllah betapa mulianya mereka yang menjadi bagian dari pendirian masjid ini. Termasuk banyak orang yang setia beribadah dan memakmuran masjid Al-irsyad Satya dari masa ke masa. Beruntunglah mereka yang bisa menabung pahala dengan menghadirkan sebuah rumah ibadah yang bisa diraih oleh banyak orang. Mereka yang membangun tempat untuk menegakkan salat sebagai salah satu tiang agama.

Dari setiap langkah yang saya jejaki di sisi luar, saya begitu terkesan dengan dinding masjid. yang begitu indah terbentuk. Apalagi saat melihat huruf ijayah yang tersusun dari bata-bata hitam dan mengelilingi semua dinding masjid. Belakangan saya baru tahu jika huruf-huruf yang terangkai ini adalah dua kalimat Syahadat. Sebuah legitimasi akan keimanan Islam yang terus menjadi acuan seorang muslim hingga akhir hayat. MashaAllah.
Di sisi depan tadi, berdampingan dengan prasasti, saya melihat sebuah pintu masuk berbentuk lorong dengan semen atau rangka bangun layaknya pilar yang berjejer rapi. Di antaranya ada sebuah celah kecil kemudian dilengkapi oleh keramik hitam dan abu-abu yang segaris lurus dengan rangka putih di atasnya. Perpaduan konsep dan sentuhan arsitektur yang begitu indah untuk dilamati.
Saya kemudian menyisir pinggir luar masjid dan mengikuti arahan/petunjuk menuju ruang wudhu wanita. Beberapa petugas kebersihan menyapa saya ramah sembari menawarkan air putih yang tersedia di sebuah galon besar. Fasilitas gratis yang diberikan untuk setiap pengunjung. Saya pun mengangguk dan membalas sapaan mereka seramah yang sudah mereka lakukan.
Masuk ke sebuah labirin kecil yang ada di dalam ruang wudhu wanita, saya melihat pancuran air dalam jumlah terbatas. Tempatnya bersih dengan lantai yang dialasi oleh pijakan-pijakan karet plastik agar kita tidak tergelincir karena licinnya lantai. Saya suka dengan pengaturan seperti ini karena untuk saya yang menderita HNP, menjaga tubuh agar tidak terpeleset atau terjatuh adalah sebuah keharusan. Apalagi untuk mereka yang sudah sepuh dan butuh bantuan pijakan langkah yang “menancap” di telapak kaki.
Dari pengaturan ruang wudhu yang ada, saya berharap ada 2 fasilitas lain yang juga disediakan. Pertama adalah gantungan atau area khusus untuk menaruh tas dan jilbab. Kedua adalah kaca dan sedikit wadah perlengkapan bagi jamaah perempuan untuk merapikan diri. Keduanya – menurut saya – cukup penting untuk disediakan. agar kenyamanan beribadah bisa dimulai dari saat kita menyucikan diri.
Meninggalkan area wudhu saya melihat serombongan petugas – yang tadi menegur saya – masih bergiat bebersih taman. Mereka terlihat riang sembari ngobrol dan bersenda gurau. Saya jadi ikutan gembira melihat suasana tersebut.
Yok sekarang kita masuk ke dalam masjid.

Sejenak setelah melewati lorong bertiang putih dengan keramik yang dipasang berjejer lurus itu, netra saya langsung terjerembab pada dinding bolong-bolong di setiap sudut masjid. Ternyata rangkaian batu-batu hitam yang saya saksikan dari sisi luar tersebut diselingi oleh bolongan-bolongan kecil di sekitarnya. Lafal syahadat pun jadi bisa terbaca dan jauh lebih terlihat dari sisi dalam masjid.
Saya mendadak terjebak dalam kekaguman yang tidak dapat disembunyikan. Sungguh dibuat kagum oleh setiap rinci rancangan yang tentunya butuh pemikiran yang tidak sedikit dan sebentar. Tak henti rasanya mulut mengucap syukur atas kebajikan-Nya melahirkan para arsitek yang memiliki kapabilitas dan berkenan mengurai keahlian untuk membangun dan mendirikan rumah-Nya.
Mata saya kemudian berpindah ke sebuah bola beton hitam yang ditanam di ujung mihrab. Batu hitam legam ini dilengkapi dengan lafaz Allah yang terukir dengan indahnya, terselimuti oleh air mengalir serta kolam kecil yang berisikan banyak ikan koi.
Batu berbentuk bola – bulat raksasa – ini membelakangi sebuah taman sisi belakang masjid yang segaris lurus dengan pegunungan serta rumah-rumah eksklusif serta mewah yang dimiliki oleh Kota Baru Parahyangan Bandung. Beberapa langkah di depannya, di ujung sisi kolam yang lain, ada sebuah mimbar dan area khusus untuk imam salat.
Air di kolam kecil tampak tenang dan hening. Hanya riak kecil-kecil dapat kita lihat saat ada ikan yang mencoba bergerak ke dasar air.
Saya menyempatkan diri duduk di salah satu ujung kolam. Suara air mengalir dan rombongan ikan yang mendekat ke arah saya, membuat hati mendadak sendu. Teringat pada kedua orang tua saya yang sudah tidak bersama lagi di dunia. Alfatihah untuk mereka berdua. Semoga Allah Subhannahu Wata’ala melimpahkan kebahagiaan sejati di surga sana.
Perhatian saya kemudian berpindah di barisan karpet empuk bersih yang dipasang di area salat. Dua shaf depan dihiasi oleh karpet panjang berwarna hijau. Beberapa jenis hijau yang saling terhubung dan menyatu satu sama lain. Sementara beberapa shaf di belakangnya menggunakan karpet berwarna abu-abu.
Seperti yang biasa kita temukan di banyak masjid, shaf perempuan diatur terpisah. Khusus untuk jamaah perempuan, masjid Al-Irsyad Satya memasang pembatas kaca dengan gradasi abu-abu agar tidak tembus pandang. Pembatas setinggi dagu saya dengan tiang stainless ini tampak kokoh dan tidak menimbulkan efek sempit sama sekali. Kita, kaum perempuan, tetap bisa merasakan rangkaian privacy tanpa merasakan terkungkung sama sekali.
Jangan ragu untuk salat jika kita lupa membawa mukenah karena di satu sudut tertentu, pihak masjid menyediakan alat salat ini di sebuah rak stainless yang cukup besar dengan bentuk memanjang. Belasan mukenah yang bersih dan tersusun rapi bisa kita gunakan. Di samping tumpukan mukenah, tersedia juga beberapa musaf Qur’an dan buku tentang agama Islam.
Saat selesai salat dan sambil berzikir, saya menengadahkan kepala ke langit-langit masjid. Terlihat banyak corong lampu yang menjuntai dengan tinggi/panjang yang berbeda-beda. Unik betul. Jumlahnya ada 99 buah. Kondisi yang tentu saja menghubungkan kita dengan Asmaul Husna. Nama-nama baik dan indah serta keagungan sifat dari Allah Subhannahu Wata’ala.
Lagi-lagi dari sebuah tautan media nasional on-line, ada serangkaian info yang disampaikan bahwa ketika langit beranjak malam atau saat malam hari ketika lampu-lampu ini menyala terang, bolongan-bolongan dinding akan menjadi perantara untuk menyinarkan cahaya dari dalam masjid.
Saya mendadak merinding. Bergetar membayangkan keindahan yang terpancar dari dinding yang sudah diperindah sedemikian rupa ini.


Memakmurkan Masjid
Ada sebuah pesan penuh makna yang selalu disampaikan oleh para pendakwah dalam setiap majelis ilmu. Pesan itu adalah bahwa dalam setiap diri kita, salah satu tugas yang teramat mulia, adalah berniat ikhlas dan tulus untuk ikut serta menjaga kemakmuran masjid. Di manapun masjid itu berada dan sesempat apapun yang bisa kita lakukan.
Saya pribadi mengimani pesan mulia ini dengan teriring sebuah rangkaian doa bahwa jika ini kita lakukan niscaya keimanan kita pun akan semakin beranjak. Kita akan selalu diingatkan untuk rutin bermunajat, menjalankan kewajiban salah satu rukun Islam, sebagai bagian penting dari nafas seorang muslim yang taat.
Di lain pihak saya melambungkan doa dan harapan bahwa setiap rumah ibadah ini juga selalu dipenuhi oleh para jamaah. Tak hanya di waktu-waktu salat tapi juga menjadi wadah dilaksanakannya kajian dan atau tempat ceramah, dan membuka diri untuk menyambut siapa pun yang ingin bermunajat kepada Sang Pencipta.
Melihat posisinya yang berdampingan dengan Sekolah Islam Al-Irsyad Satya, saya yakin masjid ini pasti dipenuhi oleh para murid lelaki di saat salat Jum’at, salat dzuhur setelah istirahat makan siang, dan kegiatan keagamaan apa pun yang diselenggarakan oleh sekolah.
Saya berharap apa pun yang membawa manfaat atas dan demi kemakmuran masjid senantiasa terjaga kini dan nanti.
Sebelum melangkah keluar, semua harapan ini saya sampaikan dalam sebuah sujud mendalam di beberapa menit yang penuh makna. Sujud yang disertai oleh ucapan terima kasih karena telah diberikan kesehatan, kesempatan, dan rezeki umur hingga bisa mengunjungi Masjid Al-Irsyad Satya Koba Baru Parahyangan (KBP) Bandung di tengah kondisi yang diliputi oleh limpahan kebahagiaan.
Semoga saya diperkenankan kembali dan mengulangi serangkaian sujud di masjid ini dari waktu ke waktu. InshaAllah.





IG @annie_nugraha | Email : annie.nugraha@gmail.com



harus diakui karya Ridwan Kamil menjadi master piece yang punya sejuta makna ya?
sayang, saya malah belum pernah menjelajahi satu pun karya beliau
termasuk Al Irsyad
waktu ke Kota Baru Parahyangan saya malah ke Puspa Iptek Sundial
jadi penasaran pingin eksplorasi destinasi di sana
Adem banget ya mbak, cocok dengan julukan Bandung sebagai kota maju yg masih sejuk. Nuansanya juga minimalis tp modern banget. Semoga ini bikin jemaah makin khusyuk.
Setuju Mas Adi
Bapak Ridwan Kamil emang terkenal banget sebagai perancan masjid-masjid yang indah. Aku jadi pingin tahu deh masjid yang terinspirasi dari Ka’bah ini. Pasti keren sekali.
Semoga semesta membawa langkah Mbak Yuni ke Masjid Al-Irsyad Satya yang ada di Kota Baru Parahyangan, Padalarang, Bandung ini ya.
MasyaAllah, datang dengan tujuan beribadah, keelokan bangunan dan keseluruhan kompleks mesjid ini sekaligus bisa bikin healing tipis-tipis ya..
Tak sekedar menarik tapi penuh filosofi juga seperti tojolan yang melambangkan 99 Asmaul Husna.
Sentuhan arsitektur yang luar biasa pastinya. Meninggalkan kesan untuk siapapun yang bermunajat di sini.
Damai banget di dalamnya ya mbak, rasanya betah beritikaf lama jika ke sini.
Lihat tempat wudhunya, MasyaAlloh bersih nian.
Semoga masjidnya selalu terjaga kebersihannya, agar beribadah pun semakin khusyuk di sana.
Betul Mbak Nanik. Kondisi bersih bikin kita nyaman beribadah. Apalagi masjidnya sendiri hadir dengan visual dan arsitektur yang indah. MashaAllah.