Masjid Jami Ar Rohman Cijulang Pangandaran Jawa Barat, Dari Barak ke Mihrab

Photo of author

By Annie Nugraha

Masjid Jami Ar Rohman Cijulang Pangandaran Jawa Barat, Dari Barak ke Mihrab

Seringkali dalam sebuah perjalanan dan kita hendak mampir atau bertamu ke rumah-Nya, kita menemukan rumah ibadah dengan rancang bangun yang spesial dan tematik. Begitu pun saat saya dan keluarga pelesiran ke Pangandaran.

Bangunan Unik yang Menarik Perhatian

Saya masih terkantuk-kantuk di bangku belakang saat mobil yang disewa dan ditumpangi ini mulai berjalan lebih pelan. Usai melewati jalan bebas hambatan ratusan kilometer, mobil harus menyusur jalanan kecil menuju sebuah kota yang dulu, sekitar hampir 15 tahun lalu, pernah saya kunjungi.

Pangandaran.

Ya. Hari ini saya dan seluruh anggota keluarga suami menyusur jalanan untuk menuju Pangandaran. Berlibur dan menikmati long weekend selama 3 hari 2 malam.

Karena sudah terlalu lama tidak melewati jalanan yang sama, cukup banyak perubahan yang saya lihat. Atau mungkin sesungguhnya tidak sebanyak itu tapi karena sudah lama tidak melewati jalur ini, semua seakan hadir bagai hiburan visual yang baru buat saya.

Saya memutuskan untuk membuka mata selebar mungkin, mengikuti dan menyaksikan setiap jengkal jalur mudik Jawa Barat yang hampir setiap sudut dihiasi dengan rumah penduduk dan berbagai jenis usaha.

Sekitar satu hingga dua jam kemudian, memasuki desa Haurseah, indera penglihatan saya terpaku pada satu bangunan di antara rumah penduduk di pinggir jalan yang begitu unik dan indah. Berbaris dalam kemacetan dengan banyak mobil yang berada di jalan yang sama, detik demi detik, saya terjebak dalam banyak dugaan dengan tatapan yang tak lepas dari keindahan fisik yang terlihat saat itu.

Bangunan apa ya itu?

Rancang bangun dan fasadnya tidak pernah saya lihat sebelumnya. Melihat warnanya saya yakin bangunan ini masih baru. Hijau cemerlang dengan beberapa bahkan banyak sentuhan warna emas, membuat setiap orang yang lewat tak mampu untuk tidak memalingkan wajah.

Atapnya berbentuk topi/baret TNI berwana hijau dengan bintang empat lambang kepangkatan tertinggi dalam dunia angkatan sementara di sebelahnya ada sebuah ujung tongkat yang juga dikelilingi oleh deretan bintang yang sama. Tongkat ini diselimuti warna perak dan ruang pegang untuk telapak penggenggam. Dan jika saya tidak salah lihat, di bagian atasnya (paling atas) ada lafaz Sang Maha Pencipta.

Indahnya sungguh tak terkatakan. Gagah dan mentereng dengan warna hijau, silver, dan keemasan.

Karena sudah memasuki waktu salat, kami sekeluarga memutuskan untuk mampir dan menitipkan banyak doa sembari bertamu ke rumah-Nya yang ada di desa Cibeurah, Cijulang, Pangandaran.

Baca Juga : Masjid Islamic Centre Syekh Abdul Manan, Megah di Antara Kehidupan Bersahaja Masyarakat Indramayu

dari Barak ke Mihrab

Sejenak turun dari mobil, menapakkan kaki dan menyusur selasar dengan keramik yang mendinginkan telapak kaki, saya menemukan beberapa hal yang sangat menggugah hati.

Ada prasasti yang terukir di sebuah batu hitam legam dengan tulisan bertinta emas. Di prasasti batu dengan bentuk tak beraturan ini tertuliskan nama Masjid Jami Ar-Rohman dengan lambang dan kepangkatan Jenderal penuh bintang 4. Di bawahnya juga tertulis Panglima TNI Agus Subiyanto, S.E, M. Si (Jenderal TNI) serta tempat dan tanggal peresmian masjid, Cijulang, 1 Maret 2025. Sebuah bukti kuat bahwa Jend. TNI Agus Subiyanto telah meneguhkan niatnya mengajak masyarakat Cijulang agar selalu mendekatkan diri kepada Allah Subhannahu Wata’ala.

Saya akan selalu mengingat ini karena tanggal 1 Maret adalah tanggal ulang tahun suami saya.

Dari barak (seorang perwira tinggi TNI) ke mihrab (hakekat pribadi sebagai muslim sejati). Mungkin itu kata yang tepat untuk mewakili niat tersebut.

Masih di spot yang sama, selain melihat prasasti berupa batu hitam besar dan dicat hitam legam tersebut di atas, saya melihat dua prasasti lagi yang terbuat dari marmer hitam bertinta emas lalu ditempelkan di dinding atau pagar semen parkiran masjid.

Salah satunya berjudul BELIEVE (percaya) Story From Yasin to Haqqul Yaqin.

Tulisan indah berisikan dua paragraf yang isinya adalah sebagai berikut :

Sepenggal buku Yasin yang nyaris lusuh menjadi saksi perjalanan Agus kecil, sosok remaja yang tengah tumbuh secara spiritual salah satunya di Masjid Jami Ar-Rohman desa Cijulang, Ciamis, untuk menggapai cita menjadi abdi negara, Tentara Nasional Indonesia.

Sepenggal buku Yasin yang nyaris lusuh menjadi saksi perjalanan Agus kecil, sosok remaja yang tengah tumbuh secara spiritual salah satunya di Masjid Jami Ar-Rohman desa Cijulang, Ciamis untuk menggapai cita menjadi abdi negara, Tentara Nasional Indonesia. Segala tantangan dan lika-liku perjuangan ia hadapi dengan bekal iman yang padu, hingga menjadi sosok inspiratif pemegang komando tertinggi di lingkup Tentara Nasional Indonesia, Panglima TNI ke-23.

Kini, sosok Panglima religius itu kembali menginspirasi setiap anak desa agar yakin bercita-cita. Semangat itu ia tampilkan dalam wujud Masjid Jami Ar-Rohman, dengan tampilan baru yang sarat makna dan inspirasi. 1 Ramadan 1446 H menjadi saksi peresmian kembali Masjid Jami Ar-Rohman, sekaligus pembuktian dari satu keyakinan tertinggi, “BELIEVE”. “Kebaikanmu akan selalu menyertai perjalanan hidupmu.” (QS. 17 ayat 1)

Dari prasasti ini saya kemudian mahfum. Sang Panglima TNI ingin melahirkan sebuah legacy untuk daerah kelahiran orang tuanya. Meninggalkan rangkaian catatan penting bahwa beliau adalah bagian dari jejak spiritual di mana dia dulu sempat dibesarkan. Seorang anak keturunan daerah Cijulang yang sempat mengenyam pendidikan militer di Akmil hingga lulus pada 1991, mengikuti rangkaian jenjang karir yang beragam, hingga akhirnya ditunjuk sebagai Panglima TNI sejak 22 November 2023 (hingga saat artikel ini saya buat, beliau masih menjadi orang pertama dari angkatan).

Terukir juga pesan dan untaian semangat kepada anak muda untuk tidak ragu dengan cita-citanya meski sepertinya mimpi itu sangat tinggi untuk digapai. Mimpi itu butuh perjuangan yang tidak sedikit. Baik dari segi waktu maupun usahanya. Dari seorang anak pensiunan kopral kepala, belajar di Akmil, hingga akhirnya menjadi orang pertama dari kekuatan militer tanah air.

Baca Juga : Menelusur Kemegahan Masjid Raya Baiturrahman Banda Aceh

Masjid Jami Ar Rohman Cijulang Pangandaran Jawa Barat, Dari Barak ke Mihrab

Di samping prasasti hitam berjudul BELIEVE tadi, hadir juga sebuah prasasti berukuran sama yang berisikan lima filosofi dari Masjid Jami Ar-Rohman yang ditanda tangani oleh Ustadz Adi Hidayat. Ustadz genius dan panutan banyak publik dengan ribuan tausiah yang (sangat) menggetarkan hati siapa pun yang mendengarkannya.

Kelima filosofi yang terukir indah di prasasti tersebut adalah :

Pertama. Masjid yang berbentuk Baret Hijau Bintang 4 bermakna persembahan dari abdi Tuhan yang bertugas sebagai abdi bangsa dan negara.

Kedua. Bintang 4 bermakna puncak pengabdian sebagai hamba Allah dan abdi negara, juga perlambang komitmen menunaikan Empat Pokok ajaran Islam yaitu salat, zakat, puasa, dan haji.

Ketiga. Lambang Kostrad dalam baret bermakna komitmen menjadi Ksatria yang menjaga bangsa sekaligus manunggal bersama rakyat.

Keempat. Jumlah bintang dan lambang (mihrab) bermakna gabungan ikhtiar dan tawakkal selama mengabdi di TNI yang puncaknya ingin diridhai Allah, sekaligus keselarasan Pancasila dengan rukun Islam yang 5.

Kelima. Menara Masjid berbentuk Tongkat Komando yang puncaknya berlafadz Allah bermakna ketaatan dan kepatuhan PRIMA kepada Sang Pencipta sekalipun telah menjadi seorang Panglima.

Saya sempat termangu beberapa waktu saat berdiri di hadapan dua prasasti ini. Dua tulisan sarat makna yang berkolaborasi dengan begitu sempurna. Keduanya saling memaknai dan mengurai sederetan nilai penting yang patut kita pahami saat ingin meresapi visi dan misi dari pendirian Masjid Jami Ar-Rohman yang berada di Cijulang, Pangandaran, Jawa Barat ini.

Masjid Jami Ar Rohman Cijulang Pangandaran Jawa Barat, Dari Barak ke Mihrab

Baca Juga : Bertamu ke Masjid Raya Mujahidin Pontianak, Rumah Allah yang Indah di Garis Khatulistiwa

Masjid Jami Ar Rohman Cijulang Pangandaran Jawa Barat, Dari Barak ke Mihrab

Masjid Jami Ar Rohman Cijulang Pangandaran Jawa Barat, Dari Barak ke Mihrab

Adem di Bagian Dalam

Sebelum mengelilingi bagian dalam Masjid Jami Ar-Rohman ini, saya dan seluruh keluarga memutuskan untuk membuka kunjungan dengan salat zuhur terlebih dahulu.

Area wudhu lelaki dan perempuan dipisah dengan dinding depan yang cukup tinggi. Jadi tidak mudah terlihat dari sisi luar khususnya parkiran yang berada berdampingan. Area wudhu perempuannya nyaman banget meskipun ukurannya tidak begitu besar. Cukuplah untuk sekitar 20 orang berada di situ dalam waktu yang sama.

Selain banyak kran air nya pihak masjid juga menyediakan tempat khusus untuk merapikan diri dan meletakkan barang bawaan. Keramik yang digunakan juga tidak licin. Saya seneng banget dengan pengaturan begini. Kita jadi leluasa untuk melepas hijab, menggulung lengan baju dan celana panjang atau menarik gamis sepinggang. Semua tertata rapi dengan kondisi bersih.

Area salat wanita berada tak jauh dari tempat wudhu. Ada di sisi kiri keseluruhan bangunan terpisah dari ruang salat utama. Di sini juga disediakan banyak mukena dan Quran yang terlihat bersih dan terawat. Ada partisi moveable yang bisa menyesuaikan tempat dan kebutuhan.

Menuntaskan salat zuhur, saya menyempatkan diri mengintip terlebih dahulu dan memastikan bahwa ruang utama salat sedang dalam kondisi kosong. Segan kan jika menyusur dan memotret tapi di saat itu sedang ada orang yang salat.

Sekian detik kemudian netra saya langsung terpana oleh indahnya interior design milik Masjid Jami Ar-Rohman. MashaAllah. Di atas tanah 800an m2 dengan setengahnya digunakan untuk teras depan, area wudhu, dan parkiran, ruang ini tetap terlihat lega dengan langit-langit yang tinggi. Di sini saya melihat ukiran/roster kayu berukir berwarna emas yang menguasai hampir setiap sisi dinding masjid.

Keramik kualitas tinggi menemani setiap sisi. Begitu pun dengan pintu kayu dengan bulatan emas yang mengingatkan saya akan Masjid Nabawi di tanah suci Madinah. Chandelier dengan ukiran emas dan bohlam putih sangat manis berpadu. Dinding mihrabnya pun megah dan berkarakter. Paduan hitam eksklusif dengan rangkaian huruf hijayah yang tersusun laksana lukisan menemani sebuah mimbar kecil yang tak kalah cantiknya.

Sungguh Sang Pencipta sudah berkenan memberikan akal budi kepada manusia untuk melahirkan seni berkualitas tinggi di dalam rumah-Nya. Yang lebih menyenangkan lagi adalah keramik lantai yang digunakan. Warnanya adem dengan efek dingin saat diinjak. Kebersihannya pun begitu dijaga. Lantai terlihat mengkilat dengan sentuhan floor coating yang mampu memantulkan siluet tubuh kita.

Baca Juga : Beberapa Masjid Indah Bersejarah yang Bisa Kunjungi di Makassar

Usai mengamati dan memotret lantai bawah ini, saya melihat sebuah tangga tinggi menjulang dengan pegangan kayu berukir yang ukurannya berjejang rapi. Posisinya yang sedikit melengkung dengan bentuk mengerucut, menyempit di bagian atas, membuat tangga ini Masjid Jami Ar-Rohman ini memiliki keunikan tersendiri. Unik dan berkelas.

Saya tidak menyempatkan diri menyusur lantai dua tersebut. Satu hal yang sejujurnya saya sesalkan kemudian bahkan hingga kini. Tapi yang pasti saat melihat lantai dua ini dari sisi luar, tampak satu kemolekan yang bikin saya berdecak kagum.

Dinding lantai luar full terbuat dari kaca dengan list besi di antara potongan kaca. Di sisi dalamnya tampak roster kayu tipis berwarna emas dan disusun bergelombang. Indah tak terkira. Satu ide bernas yang membuat kaca putih yang ada hadir dengan keindahan yang tidak biasa.

Saya menyempatkan diri berpose sambil memegang satu sisi pintu kayu yang lebar dan kokoh. Serangkaian kekaguman yang tak pun surut dan hinggap di hati semenjak melihat fasad masjid ini dari kejauhan. Dengan atap yang menyerupai baret TNI, tak heran jika masyarakat setempat menamai masjid ini sebagai Masjid Baret Hijau.

Kenangan Tak Terlupakan

Tak henti rasa syukur dan ucap bahagia terlintas di hati dan mulut saya. Di saat saya berharap akan bertemu banyak rumah-Nya saat berkelana, Dia mempertemukan saya dengan Masjid Jami Ar-Rohman di Cjijulang Pangandaran ini.

Lewat beberapa tautan saya menemukan informasi bahwa saat diresmikan pada 1 Maret 2025, Masjid Jami Ar-Rohman menghadirkan Ustaz Adi Hidayat, LC. M.A, untuk menyampaikan tausiah bagi semua yang hadir. Sang Panglima TNI juga menghadirkan beberapa syekh dari Mesir untuk berbagi ilmu agama kepada masyarakat luas dalam jangka waktu tertentu sebagai kegiatan utama yang difasilitasi oleh masjid ini. Hal ini tentu saja dengan sengaja dilakukan agar keberadaannya memberikan maslahat bagi siapa pun yang berkenan memuliakan dan memakmurkan Masjid Baret Hijau ini.

Dihadiri oleh berbagai pejabat tinggi pemerintahan seperti Ibu Citra Pitriyami (Bupati Pangandaran), Letkol Inf. Indra Mardianto Subroto (Dandim 0625 Pangandaran), dan AKBP Mujianto (Kapolres Pangandaran), Masjid Jami Ar-Rohman memperkuat posisinya sebagai simbol kebersamaan, semangat kebangsaan, dan pengabdian kepada agama.

Saat membaca visi dan misi ini, sebuah rasa syukur membuncah dengan hebatnya di dalam hati. Ada rangkaian kenangan yang tentunya tak akan pernah saya lupakan. Bagaimana serbuan niat di hati untuk lebih banyak menuliskan berbagai rumah-Nya di sudut mana pun di dunia sepanjang 2025, satu persatu Dia kabulkan.

Terima kasih tak terhingga kepada semesta dan tentu saja kepada-Nya yang telah memberikan saya begitu banyak kesempatan agar bisa mewujudkan semua niat tersebut.

MashaAllah.

Masjid Jami Ar Rohman Cijulang Pangandaran Jawa Barat, Dari Barak ke Mihrab

Baca Juga : Terjebak Kekaguman di Masjid Raya Al Jabar Bandung

Masjid Jami Ar Rohman Cijulang Pangandaran Jawa Barat, Dari Barak ke Mihrab

Masjid Jami Ar Rohman Cijulang Pangandaran Jawa Barat, Dari Barak ke Mihrab

IG @annie_nugraha | Email : annie.nugraha@gmail.com

19 thoughts on “Masjid Jami Ar Rohman Cijulang Pangandaran Jawa Barat, Dari Barak ke Mihrab”

    • Betul banget. Ruang salat utamanya adem banget dengan keramik berkualitas tinggi yang bikin lantainya sejuk di kaki. Semoga masjid ini senantiasa makmur dan membawa manfaat bagi banyak orang ya.

    • Bener banget. Saya dari awal gak menyangka kalau ini adalah masjid. Baru yakin setelah membaca prasasti yang ada di teras depan. Identifikasi angkatannya sungguh terwujud lewat fasad bangunan itu sendiri.

  1. Masyaallah indah sekali

    semula saya gak terpikirkan ada masjid dengan lambang TNI seperti masjid ini

    walau kalo direnungkan sangat nyambung ya?

    Tugas TNI membela Tanah Air (dalam segala aspek) dengan tulus, seperti sudah seharusnya diperintahkan Al Quran agar umatNya bermanfaat bagi banyak orang

    Reply
    • Iya Mbak. Tematik banget. Dari visual bangunannya aja kita langsung ngeh jika ini dibangun oleh TNI.

  2. Gila sih. Unik banget desain masjidnya. Benar-benar definisi dari barak ke mihrab. Keren banget.

    Percaya sih. Bahwa nggak papa meski cita-cita itu terasa tinggi sekali. Kita tetap harus mengupayakannya..

    Reply
    • Betul banget Mbak Yuni. Kisah seorang anggota TNI yang sukses dalam karirnya. Pengabdiannya dan jejak karirnya seperti terwakilkan dengan kehadiran Masjid Jami Ar-Rohman ini. Semoga jadi legacy yang bermanfaat bagi publik setempat.

  3. Kalau di arsitektur, gaya bangunan seperti itu dinamakan gaya analog, jadi mirip banget dengan aslinya. Berbeda dengan gaya metafora, kita mikir dulu, karena berupa kiasan.
    Bahwa bentuk baret lalu jadi bentuk atap masjid, unik juga ya. Harfiah sih, tentara banget.
    Tapi aku kok jadi terharu loh, setelah membaca latarbelakang terwujudnya Masjid Jami Ar-Rohman ini. Ngena banget, masjid yang penuh rahmat Allah.
    Shalat di sana kebayang adem banget, apalagi Cijulang kan panas…

    Reply
    • Ah noted Mbak Hani. Saya catat perbendaharaan kata baru ini. Makasih sudah berbagi info dan ilmunya Mbak.

      Bener banget Mbak. Awalnya, waktu ngeliat dari jauh, saya pikir bangunan ini adalah salah satu bangunan fungsional dari TNI AD yang berlokasi di Cijulang. Gak menyangka jika ini masjid.

  4. Merinding baca tulisan bapak Panglima Jenderal TNI Agus Subiyanto.sendiri. Masya Allaah betapa BELIEVE yang kuat akan mengantarkan kita ke mana saja ya yuk.

    Filosofinya juga kuat ya, seperti kubah berbentuk baret TNI hijau dengan 4 bintang—sebagai simbol pengabdian sekaligus rasa cinta kepada negara—dirancang bukan asal, tapi ada filosofi mendalam tentang ikhtiar dan tawakal prajurit TNI yang jadi abdi umat

    Trus, menara “tongkat komando” yang kamu bahas bikin aku langsung terkagum—bukan sekadar simbol militer, tapi simbol ketaatan tertinggi kepada Sang Pencipta, bahkan ketika seseorang sudah berada di posisi tertinggi.. ck ck ck ..

    Kalau ada kesempatan mampir ke Cijulang, aku pasti daftar sebagai tamu jawara spiritual—siap ambil hikmah dari setiap sudut masjid ini

    Reply
    • benang merah antara pengabdian terhadap negara dan sang Maha Pencipta itu yang bikin nyes banget ya?

      Andaikan setiap warga Indonesia punya pemahaman yang sama, niscaya negara ini bahkan gemah ripah loh jinawi

      Tapi minimal , setiap ke masjid ini kita diingatkan akan pemahaman tersebut ya?

    • Sepertinya beliau juga ingin meninggalkan legacy tentang bagaimana seorang anak daerah asal Cijulang, anak kampung, hingga akhirnya sukses menjadi orang pertama di angkatan. Ada rasa haru saat membaca prasasti berjudul BELIEVE itu karena pesan-pesannya sangat mendalam.

  5. Siapa pun yang melewati tempat ini, termasuk saya. Pasti pandangannya akan tertuju pada masjid ini ya Mbak. Karena desain masjidnya memang unik dan beda karena memang bersumber inspirasi dari Pak Agus yang seorang angkatan.
    Masjidnya Megah dan banyak filosofi di sana. Adem rasanya saat beribadah di sana. Dan memang sayang Mbak Annie sudah sampai di sana tidak menjelajah lantai 2 ya Mbak. Insya Allah next akan ke sini lagi Mbak

    Reply
    • Ya Mas Bambang. Pas lewat juga tadinya saya kira salah satu markas TNI. Gak nyangka kalau itu masjid. Tapi melihat orang/masyarakat biasa keluar masuk barulah ngeh jika itu masjid. Langsung deh rombongan kami berhenti.

      Rezeki dapat salat di sini setelah belum lama diresmikan.

  6. Biasanya begitu ya Bu.. pada beberapa masjid itu ada filosofi pada sebuah benda seperti prasasti, atau kubah masjid. Lambang TNI di masjid Jami Ar Rohman mungkin tidak disadari para jamaah kalau tidak benar-benar melihat dari dekat ya Bu..

    Reply
    • Iya Sar. Kalau melihat dari baret/topi itu orang tidak akan menyangka bahwa ini masjid. Apalagi tulisan masjidnya hanya ada di batu prasasti hitam yang diletakkan di teras depan. Jadi gak kaget jika publik awam, yang bukan warga setempat, mengira tempat ini adalah markas TNI.

  7. Mba Annie, membaca siapa pendiri masjidnya, saya jadi teringat ada masjid di kabupaten Kediri, Jatim yang didirikan juga oleh seorang jendral, masjid jami Imam Baidhowi namanya. Sang Jendral mendirikan masjid megah di kampung halamannya di antaranya juga sebagai inspirasi dan motivasi generasi berikutnya untuk semangat meraih cita-cita.

    Btw, kagum akutuuu dengan penampakan Masjid Jami Ar-Rohman yang unik, desainnya istimewa, ada baret yang menjadi ciri khas TNI, dengan filosofi, misi dan visi mulia yang dimiliki. Sungguh megah dan indah..

    Reply
    • MashaAllah. Semoga semesta mengizinkan saya datang ke Kediri dan bertamu ke Masjid Jami Imam Baidhowi. Konsepnya sama dengan Masjid Jami Ar-Rohman ini ya Mbak. Sang pelopor ingin meninggalkan legacy yang sangat bermakna bagi kampung halamannya.

Leave a Comment