Terpaku Pesona Masjid Agung Jawa Tengah di Kota Semarang

Photo of author

By Annie Nugraha

Terpaku Pesona Masjid Agung Jawa Tengah di Kota Semarang
Keindahan selasar depan Masjid Agung Jawa Tengah yang dilengkapi dengan 4 buah payung dan sebuah menara di bagian terdepan (Photo: Annie Nugraha)
Terpaku Pesona Masjid Agung Jawa Tengah di Kota Semarang
Salah satu sisi bagian dalam Masjid Agung Jawa Tengah di kota Semarang (Foto : Annie Nugraha/koleksi pribadi)

Kembali Bertamu ke Rumah-Nya

Ini kunjungan saya ke-3 ke kota Semarang. Yang terakhir ini bersama rombongan para ipar, sepupu, dan dua orang tante. Semua dari keluarga suami yang tinggal di Bandung. Karena berangkat subuh, akhirnya saya terpaksa “ngungsi” dulu semalam di Cimahi sehari sebelumnya supaya tidak lintang pukang berangkat dari Cikarang, menyusul mobil Hiace yang bakal membawa rombongan ke kota Semarang.

Perjalanan ke Semarang, ibu kota Jawa Tengah ini adalah kali pertama saya bergabung rombongan emak-emak Bandung. Saya mendadak jadi newbie yang wajib duduk di belakang merasakan serunya terpental-pental karena jalan tol yang aspalnya tidak rata.

Sebuah rangkaian pengalaman memorable yang tak akan pernah saya lupakan.

Tentang Semarang : Menjajal Kesegaran Soto Bangkong di Semarang, Berkeringat Tapi Enak

Setelah menyusur jalan bebas hambatan sekitar 5-6 jam dan beberapa menit setelahnya masuk ke kota Semarang, Teh Ida, pemimpin rombongan, langsung mengajak semua anggota keluarga untuk menuju Masjid Agung Jawa Tengah yang berada di kawasan Sambirejo, Gayamsari, kota Semarang. Waktu sudah menuju 15 menit lagi salat zuhur. Jadi kami semua bisa bersiap-siap di antara waktu tersebut agar bisa mengikuti salat berjamaah di masjid seluas 10 hektar ini.

Sungguh masa yang (sangat) tepat untuk bertamu ke rumah-Nya sekaligus menyapa-Nya lewat salah satu salat wajib di hari yang sangat cerah dan di sebuah masjid yang menjadi mercusuar banyak kegiatan yang memuliakan kehadiran-Nya.

Sesaat setelah turun dari mobil, saya langsung terpaku pada sebuah pesona bangunan yang mengadaptasi rancang design atau arsitektur tematik yang begitu memanjakan netra. Jika menilik informasi yang tersedia di tautan resminya, Masjid Agung Jawa Tengah ini mengadaptasi rancang bangun budaya Jawa dan ala Timur Tengah dengan beberapa sentuhan modern.

Dari sisi luar sih lebih cenderung ke modern dengan tambahan payung-payung tadi yang menghadirkan nuansa kekinian juga.

Dari pintu masuk tadi saya bisa melihat sebuah menara yang sungguh tinggi dan berdiri dengan kokohnya. Tak jauh dari menara ini ada beberapa payung jangkung yang diletakkan di beberapa titik sebuah lahan terbuka. Menara dan payung-payung inilah yang sering sekali saya lihat di beberapa status media sosial milik publik.

Saya mendadak dejavu dengan payung-payung tersebut. Teringat payung dengan fungsi yang sama saat berada di Masjid Nabawi Madinah. Meski design, keanggunan, dan warnanya berbeda, kenangan saat menyaksikan payung-payung tersebut “merekah” ketika fajar menyingsing aurora, langsung membangkitkan rindu akan tanah suci Madinah. Kota di mana Nabi Muhammad dimakamkan yang menjadi salah satu magnet ibadah kaum muslim seluruh dunia.

Baiklah. Kita lewatkan sejenak kenangan yang sangat memorable itu. Mari kita lanjutkan penelusuran.

Melipir ke arah kiri pintu masuk, sudah terlihat beberapa mobil yang terparkir rapi di sebuah area khusus. Di area ini terlihat banyak sekali pohon rindang dan kios dengan bangunan permanen, yang menawarkan makanan, minuman, oleh-oleh khas Semarang, dan kebutuhan sehari-hari. Termasuk diantaranya sandal jepit, payung, dan kantong belanjaan bergambar beberapa destinasi wisata Semarang, yang biasa dicari oleh para pejalan.

Saya tadinya pengen mampir dan minum teh botol dingin untuk sekedar melepas dahaga, tapi sang komandan mengingatkan saya agar jangan terpisah dari rombongan. Tampaknya kelakuan sering ngacir saya, yang sudah bawaan orok itu sudah dia catat dengan baik. Yowes, entar aja kalo begitu. Mari ikuti perintah ibu kepala pasukan.

Kami serombongan segera bergegas. Berjalan beriringan persis seperti anak-anak sekolahan yang sedang dalam field trip.

Meskipun sempat melewati “sisi berantakan” masjid dan salah menemukan pintu masuk, kami akhirnya bisa menggapai ruang wudhu dari arah/pintu belakang. Keputusan yang akhirnya membuat saya tertawa terkekeh-kekeh karena pintu utama masjid yang berhadapan dengan lapangan terbuka dimana payung-payung itu berada, posisinya hanya beberapa langkah dari parkiran mobil kami.

Ya salam. Capek dong muter-muter sampe ke belakang tadi.

Dan eh lucunya lagi, pulangnya kok lewat jalur salah yang sama tadi. Padahal sudah tahu ada jalan depan terbuka lebar dan memungkinkan saya melihat mobil hiace yang kami tumpangi di salah satu sudut parkiran.

Tapi tak apa, on a second thought, saya berasumsi bahwa “perjalanan” rombongan kami berkeliling ke bagian belakang itu, justru memberikan kesempatan kepada saya untuk menjejakkan kaki ke kawasan wudhu yang berada di lantai terbawah masjid tanpa harus melewati tangga berulang kali. Selainnya, mungkin, adalah sebuah rangkaian kepandiran tak berujung.

After all, setiap perkara selalu ada hikmahnya ya.

Setelah dipikir-pikir, ada alasan kuat mengapa kami kembali di bagian belakang masjid itu. Yak. Karena sandal-sandal kami dititipkan/ditaruh di sana.

Terpaku Pesona Masjid Agung Jawa Tengah di Kota Semarang
Suasana di dalam Masjid Agung Jawa Tengah. Kayu-kayu persegi panjang dengan tegakan rendah itu menjadi pembatas antara shaf lelaki dan perempuan (Foto: Annie Nugraha/koleksi pribadi)

Merabuk Jiwa

Saya memutuskan untuk melangkah super pelan setelah berwudhu karena butuh banyak langkah untuk menaiki beberapa anak tangga demi menggapai lantai dan ruang utama untuk mengikut salat. Untungnya di setiap sisi jalan, terpasang banyak pegangan kayu solid yang membantu saya untuk berjalan dengan keamanan maksimal, di atas kaki yang basah dan telanjang.

Untuk saya, sebagai penderita HNP, menjaga langkah adalah tugas dan kondisi maha penting dalam hidup. Pesan dokter ahli penyakit dalam, “Hati-hati dalam setiap langkah ya Bu. Jangan sampai jatuh. Bisa bahaya itu” selalu terngiang di telinga setiap saya melangkah dan atau berkegiatan di luar rumah.

Kami bersaudara, sekitar 12-an orang, saling berpegangan agar tidak terpeleset karena jujurly 90% dari kami sudah berusia di atas 50 tahun.

Saat akhirnya bersiap-siap menebar sajadah dan mengenakan mukena, tampak seorang muazin telah berdiri untuk mengumandangkan azan. Saya sempatkan salat tahiyatul masjid sebanyak dua rakaat sebelum azan dengan suara indah itu terdengar menggema.

Kami terdiam dengan hikmatnya sembari duduk rapi di shaf khusus perempuan yang berada di sisi kiri area salat. Tak lama datang puluhan muslimah lainnya yang menyempurnakan shaf yang sudah terbentuk. Dari tempat saya duduk, saya bisa melihat barisan dan gantungan mukenah yang siap dikenakan. Di beberapa rak kecil juga tersedia banyak Qur’an yang tampak terawat dalam setiap lembarnya.

Tak lama setelah itu qomat atau iqomah dilantunkan. Kami pun serentak berdiri dan dengan hikmat mengikuti gerakan serta bacaan sang Imam untuk menunaikan ibadah salat zuhur 4 rakaat.

MashaAllah. Nikmat mana lagi yang mau dan bisa saya bantahkan.

Entah mengapa di setiap waktu memiliki kesempatan salat berjamaah di sebuah masjid bersejarah atau yang menjadi ikon destinasi wisata religi di satu daerah, hati saya mendadak mengharu biru. Rasa syukur begitu menggunung, merasuk dan mendesak di dalam sanubari. Di setiap sujud terakhir, saya selalu teringat kedua orang tua yang sudah wafat, suami berhati lembut yang selalu menyayangi dan bertanggung jawab pada kehidupan saya dengan sepenuh hati, serta anak-anak yang sedang berjuang menjadi manusia dewasa yang salih dan salihah.

Ya Allah, semoga dari setiap sujud dan untaian doa yang saya haturkan di Masjid Agung Jawa Tengah di kota Semarang ini, diijabah oleh Allah Subhannahu Wata’ala. Aamiin Yaa Rabbalalaamiin.

Yang pasti, selain merabuk hati dan jiwa sembari menunaikan salat wajib, Masjid Agung Jawa Tengah di kota Semarang ini sudah melahirkan rasa adem dan nyaman yang begitu terasa di hati, di dalam jiwa, sekaligus netra saya. Satu lagi wishlist untuk lebih banyak mengunjungi masjid di 2025 kemudian menuliskannya tercapai sudah.

Tentang Masjid : Masjid Islamic Centre Syek Abdul Manan, Megah di antara Kehidupan Bersahaja Masyarakat Indramayu

Menyusur Keindahan

Sembari merapihkan kembali mukena yang saya kenakan, saya menyempatkan diri menatap setiap sudut masjid dengan lebih runut agar bisa menyusur di beberapa titik yang indah.

Berdiri di titik di mana saya tadi bersujud, saya menyempatkan diri memotret langit-langit masjid yang terlihat etnik dan tersanggah banyak kayu kuat yang diberi warna gelap. Susunannya mengerucut didampingi oleh plafon putih dan banyak roster yang menyempurnakan keindahan bagian tertinggi dari bangunan dalam masjid ini.

Ada beberapa lubang udara yang diselipkan di sana. Tentu saja dengan maksud agar cahaya alam itu bisa membantu penerangan di dalam, mengurangi biaya penggunaan listrik. Seperti biasa, di titik tengah lantai salat utama terpasang sebuah chandelier.

Saya sengaja mendekat ke lampu istimewa ini. Terlihat dua buah lingkaran berbahan metal berwarna rose gold yang gagah tergantung. Di lingkaran bagian atas terpasang banyak cangkang berbentuk seperti gelas dengan tutupnya. Saya menduga di dalamnya terdapat lampu-lampu kecil yang akan menyala saat malam tiba atau penerangan di dalam ruangan berkurang drastis.

Tentang Masjid : Masjid Jami Ar Rohman Cijulang Pangandaran Jawa Barat, dari Barak ke Mihrab

Terpaku Pesona Masjid Agung Jawa Tengah di Kota Semarang
Salah satu sudut apik di dalam Masjid Agung Jawa Tengah (Foto: Annie Nugraha/koleksi pribadi)

Di hampir semua dinding saya juga memperhatikan begitu banyak jendela dengan list besi sebagai penjaga keamanan masjid. Banyak tiang-tiang besar tinggi terpasang di beberapa sudut yang menandakan bahwa Masjid Agung Jawa Tengah ini tertopang dengan begitu kokohnya. Sebuah struktur arsitektur yang menjadi penyempurna nuansa klasik yang ingin dihadirkan di sini. Tiang-tiang besar ini dihubungkan oleh sebuah bangunan/struktur tiang melengkung dengan cat kotak-kotak yang kembali mengingatkan saya akan Masjid Nabawi di Madinah.

Tadi saat kaki saya pertama kali menyentuh lantai ruang salat utama, saya merasakan empuknya karpet yang ditebarkan. Ketebalannya juga cukup lumayan dengan dominasi warna hijau yang indah mampir di sela mata. Diantara tebaran tersebut ada garis-garis putih yang tujuannya pastilah agar shaf bisa tertata rapi. Iseng, saya mencoba merebahkan diri di atas karpet tebal. Ya ampun mendadak pengen nyari bantal guling saking nyamannya.

Panggilan kakak ipar tertua sayalah yang akhirnya mengajak saya bersegera beranjak.

“Kita foto-foto di halaman depan tadi yok.” Kalimat aktif yang artinya “tolong fotokan kami di halaman depan itu” OK. Baiklah. Photographer amatir ini langsung siap menjalankan tugas. Markiber. Mari kita bekerja.

Saat menuju sisi depan masjid, mata saya bersirobok dengan sebuah “cangkang kaca” yang cukup tebal. Ada apakah gerangan? Mata saya yang sempat kriyep-kriyep tadi mendadak membulat seketika.

Di dalam kotak kaca nan besar ini, terdapat sebuah Qur’an berukuran 145cm x 95cm. Dikerjakan selama 2 tahun 3 bulan oleh Drs. Hayat dari Universitas Sains Al Qur’an (Unsiq) Wonosobo Jawa Tengah. Fisiknya diterima oleh Masjid Agung Jawa Tengah pada 26 Oktober 2005. Mushaf Akbar ini ditaruh di atas sebuah rekal kayu yang terbuat dalam ukuran yang sangat proporsional. Di salah satu sudut plang informasi, disediakan barcode untuk kita bersedekah.

Saya sempat berusaha mencari salah seorang anggota rombongan untuk memotret saya di sini, tapi ternyata semua sudah melangkah ke luar masjid. Saya pun tergopoh-gopoh menyusul dan mendadak menghentikan langkah persis di depan pintu karena pantulan sinar matahari yang menghantam lantai teras depan masjid dan menerjang mata.

Tentang Masjid : Bertamu ke Masjid Raya Mujahidin Pontianak, Rumah Allah yang Indah di Garis Khatulistiwa

Terpaku Pesona Masjid Agung Jawa Tengah di Kota Semarang
Sebuah Mushaf Akbar berukuran 145cm x 95cm yang dilindungi oleh sebuah kotak kaca dan diletakkan di depan pintu utama Masjid Agung Jawa Tengah kota Semarang (Foto: Annie Nugraha/koleksi pribadi)

Saya refleks menutup mata karena efek silau yang teramat sangat. Entah apa teori keilmuannya ya. Teras keramik yang luas itu terlihat seperti lantai yang becek atau habis dipel. Terlihat genangan air yang seolah-olah menyerap panas dari sinar matahari dan memantulkan bayangan beberapa payung dengan begitu sempurnanya.

“Ya ampun. Panas banget lantainya,” teriak salah seorang sepupu sambil berjingkat-jingkat kepanasan lalu berlari balik ke selasar depan masjid.

Teriakannya ini membuat yang lain jadi penasaran termasuk saya. Saya pun mencoba membuktikan sendiri. Dan bener betul saudara-saudara. Keramiknya panas luar binasa. Telapak bawah terasa terbakar seakan-akan kita sedang dalam penyiksaan api neraka yang tersembunyi di bawah keramik. Semua yang mencoba pun langsung berteriak-teriak kencang dan berlarian. Batal deh pepotoan dengan pemandangan payung-payung yang megah itu.

Akhirnya semua saudara memutuskan untuk berfoto di fasad depan masjid dengan pemandangan kubah serta empat minaret yang ada. Posisi ini akhirnya terpaksa menempatkan saya sebagai korban satu-satunya yang menginjak lantai panas tadi. Jadilah saya memotret sembari berjingkatan, joget-joget gak jelas hanya demi mendapatkan foto ciamik di tangga depan Masjid Agung Jawa Tengah.

Sembari menunggu sang tante ke ruang basuh, saya menyempatkan diri berselancar ke akun Instagram @majt_jateng. Lewat tautan ini saya bisa melihat liputan berbagai kegiatan yang telah/sudah, sedang, dan akan dilakukan oleh Masjid Agung Jawa Tengah ini.

Tapi ada satu informasi yang menarik perhatian saya. Di status itu tertera 4 fakta menarik tentang Masjid Agung Jawa Tengah.

Pertama adalah sebuah kebun kurma yang terdiri dari 185 buah. Letaknya ada di halaman dan sekeliling bangunan utama masjid. Pohon ini ditanam sebagai proyek percontohan pengembangan buah kurma di Indonesia.

Kedua adalah tersedianya replika Kakbah dan area manasik. Fasilitas yang bisa digunakan oleh publik sebagai ajang latihan umrah maupun haji.

Ketiga adalah keberadaan Pesantren Tahfidz Al Qur’an. Pesantren ini menampung banyak santri dari berbagai penjuru Jawa Tengah.

Keempat adalah bahwa masjid ini ternyata memilik tempat menginap bernama Hotel Graha Agung MAJT. Sarana ini disediakan oleh pihak DKM Masjid bagi para jamaah luar kota atau yang hendak melangsungkan acara di masjid ini.

Wah sayang banget waktu yang tersedia sangat terbatas jadi saya tidak sempat/bisa menjelajah beberapa poin di atas.

Tentang Masjid : Menelusur Kemegahan Masjid Raya Baiturrahman Banda Aceh

Terpaku Pesona Masjid Agung Jawa Tengah di Kota Semarang
Teras depan Masjid Agung Jawa Tengah dengan beberapa payung yang tinggi menjualang. Lantai mengkilat itulah yang sangat panas saat diinjak di siang hari (kiri foto) | Saudara-saudara tercinta yang saya foto di tangga depan masjid (kanan foto) (Foto: Annie Nugraha/koleksi pribadi)
Terpaku Pesona Masjid Agung Jawa Tengah di Kota Semarang
Selasar samping Masjid Agung Jawa Tengah yang bersisian dengan area parkir (kiri foto) | Para saudara saya foto saat menyusur tangga menuju lantai bawah (kanan foto) (Foto : Annie Nugraha/koleksi pribadi)

Sebuah Warisan dan Jejak Sejarah

Melengkapi apa yang sudah saya alami langsung saat berkunjung ke Masjid Agung Jawa Tengah yang berada di kota Semarang ini, saya berhasil mengulik beberapa informasi lewat official website dan tulisan-tulisan pendukung lain yang tersedia secara daring.

Menilik dan membaca visi dan misinya, masjid ini memiliki harapan dan impian yang luar biasa. Selain untuk memenuhi kebutuhan ibadah umat Islam (khusus di area Jawa Tengah dan kota Semarang), masjid ini juga adalah manifestasi dari semangat kebangsaan dan girah keislaman yang kuat di provinsi Jawa Tengah. Sementara gagasan untuk membangun sebuah masjid raya atau masjid agung yang berperan sebagai pusat kegiatan keagamaan dan kebudayaan di wilayah provinsi Jawa Tengah ini muncul pada tahun 2000-an.

Hingga akhirnya pada 26 Desember 2001, Gubernur Jawa Tengah saat itu, Bapak Bibit Waluyo, secara resmi meluncurkan program pembangunan Masjid Agung Jawa Tengah dengan dukungan penuh dari masyarakat dan pemerintah setempat. Peletakan baru pertama dilaksanakan pada 6 September 2002 dan masjid pun resmi dibuka bagi masyarakat umum pada 14 November 2006.

Pembangunan masjid seluas 10 hektar dengan daya tampung hingga 15.000 jamaah ini, tidak hanya menelan biaya yang cukup besar (sekitar hampir 200an milyar rupiah), tapi juga melibatkan ribuan kesabaran dari setiap orang yang terlibat di dalamnya, para pekerja lapangan, dan masa yang terus berganti, hingga akhirnya masjid ini bisa berdiri kokoh dan menjadi kebanggaan provinsi Jawa Tengah pada umumnya dan masyarakat kota Semarang pada khususnya.

Tertitipkan sebuah asa dan harapan mulia bahwa Masjid Agung Jawa Tengah dengan segala keindahan visual bangunan seperti kubah besar, menara tinggi, dan ribuan ornamen indah, akan terus menjadi sebuah tempat ibadah yang menginspirasi, menjadi kekuatan spiritual, dan darah ke-Islam-an yang mengalir di bumi Jawa Tengah. Masjid yang juga akan menjadi sebuah warisan berharga yang ditinggalkan untuk generasi mendatang. Tetap menjadi sumber inspirasi dan kebanggaan masyarakat Jawa Tengah sekaligus kekuatan spiritual dan keislaman yang terukir di bumi/provinsi Jawa Tengah.

Sebagai seorang muslimah, masyarakat biasa, dan seorang pengagum keindahan masjid di seluruh nusantara, saya pun ingin menitipkan harapan. Semoga Masjid Agung Jawa Tengah yang berada di kota Semarang ini senantiasa terpelihara, terurus dengan baik dan semakin makmur dari waktu ke waktu.

Terima kasih Allah Subhannahu Wata’ala atas izinnya untuk saya agar bisa bertamu ke sini dan menyaksikan bagaimana manusia sudah diberikan akal, pikiran, tenaga, untuk memuliakan rumah-Mu.

Tentang Semarang : Menyesap Syahdunya Senja di Kusuma Kopi Pantai Marina Semarang

Terpaku Pesona Masjid Agung Jawa Tengah di Kota Semarang
Langit-langit yang tinggi dan hadir dengan sentuhan warna adem dan pencahayaan yang sangat memadai di Masjid Agung Jawa Tengah kota Semarang (Photo: Annie Nugraha)

Tentang Semarang : Bertamu ke D’Kambodja Heritage Dapur Ndeso Anne Avantie Semarang

Terpaku Pesona Masjid Agung Jawa Tengah di Kota Semarang
Salah satu sisi langit-langit yang diperindah dengan roster yang apik dan estetik di Masjid Agung Jawa Tengah kota Semarang (Photo: Annie Nugraha)

Tentang Semarang : Umbul Sidomukti, Wisata Alam di Lereng Gunung Ungaran, Semarang, Jawa Tengah

Terpaku Pesona Masjid Agung Jawa Tengah di Kota Semarang
Teras depan Masjid Agung Jawa Tengah dengan keindahan menara, payung besar, dan stuktur bangunan khusus yang menunjang nilai estetikanya (Foto: Annie Nugraha/koleksi pribadi)
Terpaku Pesona Masjid Agung Jawa Tengah di Kota Semarang
Teras dalam Masjid Agung Jawa Tengah di kota Semarang (Foto: Annie Nugraha/koleksi pribadi)
Terpaku Pesona Masjid Agung Jawa Tengah di Kota Semarang
Teras dalam Masjid Agung Jawa Tengah di kota Semarang (Foto: Annie Nugraha/koleksi pribadi)
Terpaku Pesona Masjid Agung Jawa Tengah di Kota Semarang
Lahan parkir dengan beberapa kedai makan, minum, dan tempat untuk beristirahat (kiri foto) | Sebuah menara mercusuar yang ada di sisi depan pintu masuk/keluar Masjid Agung Jawa Tengah di kota Semarang (kanan foto) (Foto: Annie Nugraha/koleksi pribadi)
Terpaku Pesona Masjid Agung Jawa Tengah di Kota Semarang
Salah satu ornamen keindahan bangunan Masjid Agung Jawa Tengah di kota Semarang yang bisa dilihat dari lahan parkir (Foto: Annie Nugraha/koleksi pribadi)
Terpaku Pesona Masjid Agung Jawa Tengah di Kota Semarang

IG @annie_nugraha | Email : annie.nugraha@gmail.com

33 thoughts on “Terpaku Pesona Masjid Agung Jawa Tengah di Kota Semarang”

    • Dan memang senyaman itu sih area salatnya. Karpetnya tebal, bersih dengan hawa yang adem di bagian dalam. Bikin betah.

  1. Walaupun singkat dan tidak sempat eksplor semua bagian Masjid Agung Semarang, saya tetap bisa menikmati foto-foto indahnya Mbak Annie..Cantiknyaaa
    Semoga masjidnya selalu terjaga agar bisa menjadi sebuah warisan dan jejak sejarah untuk generasi nanti.
    Terakhir saya nginap di Semarang waktu masjid ini belum diresmikan. Setelahnya setiap mudik selalu lewat saja – di pinggiran Semarang, apalagi setelah Tol Trans Jawa diresmikan…sudah lah bablas ke Madiun dan Kediri…..hiks sampai belum pernah ke sini

    Reply
    • Semenjak ada tol sampai JaTim, Semarang memang sering diskip ya Mbak. Kecuali jika memang terniat mampir dulu. Saya jadi ingat dulu sekali (saat baru lulus SMA) sempat nyetir Jakarta – Malang karena memindahkan barang-barang dari rumah kontrakan di Malang.

  2. Cantik sekali masjidnya ya Mbak

    Jadi pingin ke sini juga kalo pas waktu salat di Semarang

    selama ini kalo ke Semarang paling saya ke masjid yang di simpang 5 itu lho mbak

    karena ada es dawetnya yang terkenal, selesai salat minum es dawet :D

    Reply
    • Saya suka dengan nuansa adem di ruang salat utama itu. Karpetnya juga tebal dan empuk. Jadi nyaman betul buat berlama-lama.

      Saya gak ngeh ada masjid lain di Simpang 5 ini. Seingat saya cuma Masjid Agung Jawa Tengah ini yang ada di sana. Tapi gak yakin juga.

  3. Masya Allah.. Keren banget ceritanya, Mbak Annie! Bikin pengen langsung ke sana dan lihat sendiri megahnya Masjid Agung Jawa Tengah. Foto-fotonya juga ciamik banget. Bikin wish-list dulu ah…

    Reply
    • Makasih untuk complimentnya Mbak Alienda. Semoga suatu saat bisa bertamu ke sini ya Mbak.

  4. Masjid Agung Semarang ini semakin cantik ya
    Dua tahun lalu, saat berkunjung ke Semarang, saya juga menyempatkan diri mampir ke sini
    Adem, saat istirahat untuk shalat dhuhur, malah pengen tdr siang di masjid
    Hehe

    Reply
    • Seneng ya Mbak. Kedai-kedai yang ada di area khusus itu juga nyaman buat jadi tempat istirahat sembari mengisi lambung.

  5. Lebaran kemarin aku juag sempat mampir ke Masjid Agung Jawa Tengah kebetulan dekat sama rumah adik ipar. Dulu waktu anak-anak kecil aku suka malam takbiran di sini juga nih

    Reply
    • Alhamdulillah. Seneng ya Mbak. Aku masih penasaran ingin memotret masjid dari sisi depan atau dekat dengan payung-payung itu. Pasti semakin terlihat megahnya Masjid Agung Jawa Tengah ini. Mudah-mudahan bisa kembali bersama suami dan anak-anak.

  6. Sebagai eks warga Semarang , ngiri deh yuk Annie berhasil ke sana duluan, aku terpesona dari awal sampe akhir tulisan sambil menikmati foto-foto, sesekali giggle karena .. ya Allaaah kelakuan lo yuuuk! Ngacil adalah my soul, bilang gitu… qiqiqiqii

    yup. ibuku orang Semarang asli – dan dulu punya rumah di daerah Pleburan, sekarang diambil alih a.k.a dibeli oleh keponakannya untuk kos-kosan mahasiswi Undip, dan mbah punya rumah di daerah Simpang Lima. so aku akraaab sekale sama Semarang. I looove Semarang banget lah pokoke. Ya tapi gitu deh. sesudah pada berpulang aku ga pernah juga pulang lagi ke Semarang “((( ini ngapa gue yang jadi bikin cerita di mari yak!) FOKUSSSS neng Tantiii!

    Nah kalau dari sudut pembaca, aku membayangkannya tuh kamu sedang sambil nonton AR mesjid dan menjejak setiap sudutโ€”dari pelataran luas yang ramai peziarah, hingga ruang sunyi di museum.

    Emang keren dah yuk Annie, menulis tidak sekadar observasi, tetapi juga memberi getaran emosi: ketenangan saat menatap Mushaf raksasa, kagum menyaksikan panorama kota dari menara pandang, sampai refleksi tentang warisan budaya Islam di Jawa Tengah. Btw penasaran kenapa mereka gak survey dulu sih pas bikin keramik! Udah tauuuu Semarang itu puanaaasss…..

    Wes ah pamit, jangan ngacir ngacir lagi yaaak kalo lagi sama rombongan!

    Reply
    • MashaAllah. Pasti sudah akrab banget dengan Masjid Agung Jawa Tengah ini ya Tan. Aku senang bisa salat di sini. Menikmati karpetnya yang empuk dan adem serta nyaman. Salat berasa begitu menyenangkan.

      Pengen balik dan ketemu siapa pun yang bisa menjelaskan lebih jauh tentang struktur bangunan masjid megah ini. Supaya aku lebih paham akan arsitektur, konsep, dan pemahaman pendalam tentang rumah Sang Pencipta ini.

      Nah itu dia Tan, apa ya jenis keramik yang di halaman depan itu. Menyiksa kaki banget. Padahal pasti orang-orang pengen berfoto di sana. Sayangnya kami gak berani pakai alas kaki untuk berpose di sana saking sakitnya di telapak kaki.

  7. Duluuu banget pernah mampir di Masjid Agung Jawa Tengah, tapi belum pernah masuk ke dalam, apalagi shalat. Sayang banget kalau diinget. Kocak banget mbak Annie, keliling cari pintu, berujung puter-puter lagi, gara-gara sepatu/sandal.
    Konon payung luar itu dibuka kalau ada acara keagamaan aja. Jadi belum pernah juga lihat dalam keadaan terbuka.
    Harusnya pakai material apa ya supaya lantai marmer/keramik luar tuh engga panas membara? Konon Masjid Kubah Emas di Depok juga gitu, jamaah harus lepas alas kaki, tapi lantainya panas membara. Katanya sih kalau Masjidilharram di Makkah tuh, di bawah lantai ada sistem pendinginan, jadi kita engga kepanasan pas tawaf. Mau keliling Ka’bah atau di roof top tetap adem. Tapi saya belum nemu gambar konstruksinya sih.

    Reply
    • Nah saya sungguh penasaran soal keramik teras depan itu Mbak Hani. Panasnya itu berlebihan loh. Membara dan membakar telapak kaki banget.

      Ya Mbak. Waktu lantai teras Masjidil Haram dan Masjid Nabawi dipasang, saya pas sedang umrah puluhan tahun yang lalu. Saya melihat banyak pekerja memasang alat pendingin, mirip seperti AC. Makanya meskipun suhu sedang tinggi, telapak kaki kita tetap adem. Yang terakhir saat saya umrah di 2023, suhu mencapai 43′. Luar biasa panasnya. Tapi alhamdulillah nyaman banget menginjak keramik kedua masjid.

  8. Masjid Agung Semarang ini selalu jadi ampiran para traveler atau siapapun yang singgah menyusuri beberapa destinasi di kota Semarang. Mungkin jauh lebih bagus daripada dulu saya mampir disana. Nampak dari jepretan mbak Anie, aku merasa dimanjakan sama foto dari beberapa sudut masjid agung yang tak bisa ku injakkan kaki secara langsung untuk melihat updateannya. Makasih mbak annie, jadi ingat memory manis waktu disana. Aku senyum sendiri

    Reply
    • Ya Mbak Windi. Alhamdulillah jika tulisan dan foto-foto di sini bisa membangkitkan memori atau memunculkan memori kepada siapa pun yang membacanya. Sesungguhnya lah kita, manusia, diberikan akal dan kepintaran untuk membangun rumah-Nya yang megah dan memberikan kenyamanan bagi umat-Nya.

  9. Bagian yang paling kusukai dari Masjid Agung Semarang adalah teras depannya sih.
    Aku membayangkan ketika payung-payungnya terbuka. Meski, selama tinggal di sana, aku nggak pernah kebagian payung-payungnya kebuka. Hehe

    Reply
  10. Dari penampakan foto saja terlihat kemegahan Masjid Agung Jawa Tengah ini. Dari yang diceritakan Mbak Annie, tempat ibadah ini bisa dikatakan memiliki daya tarik yang luar biasa, terutama bagi penyuka wisata religi. Sebab, fungsinya tak hanya sebagai tempat ibadah semata. Apalagi tak cuma nyaman, fasilitas yang tersedia di sini juga bisa dikatakan lengkap untuk wisatawan, dengan adanya penginapan…wah, kalau ke Semarang memang wajib ke sini nih!

    Reply
    • Bener Mbak Dian. Jadi gak kaget saat banyak rombongan dengan bis-bis besar terparkir di sini. MashaAllah terharu saya melihatnya. Sungguh betapa indah rumah-Nya ini.

  11. hebat Mbak Annie, sudah ngalamin HNP masih jalan-jalan

    jadi pingin ngikutin jejaknya

    karena ketika divonis Osteoarthritis saya merasa hopeless, rencana traveling tipis-tipis saya terpaksa batal
    Padahal asalkan hati-hati, pasti bisa ya?

    Reply
    • Ya Mbak. Dokter saya justru menganjurkan untuk tetap bergerak aktif tapi dengan kegiatan yang terbatas. Setidaknya harus tahu bagaimana membatasi diri agar. HNP tidak terpancing. Jadi saya pun tidak memaksakan diri.

  12. Masjid yang menjadi destinasi luar biasa ini mba, aku ikut merasakan megahnya, membayangkan jika sujud di masjid memang beda rasanya, pasti langsung pengen nangis, berasa kecil soalnya. Sayangnya kenapa payung ala masjid Nabawi tidak dibentangkan ya, menguncup sehingga tidak bisa menahan terik matahari, ubinnya jadi panas.

    Reply
    • Iya Mbak Lia. Bersyukur banget bisa menjadi tamu-Nya di sini. MashaAllah benar-benar pengalaman yang gak akan saya lupakan. Mudah-mudahan dengan memotret dan menuliskannya di sini bisa jadi kenang-kenangan yang terpatri seumur hidup.

  13. Kalau datang ziarah masjid memang makin nikmat lagi adalah bisa solat di sana, entah tahiyatul masjid, solat fardhu maupun solat sunah lainnya, karena itu jadi jejak spiritual yang akan selalu membekas di hati.

    Reply
    • Setuju banget Fen. MashaAllah. Bahagianya bisa dapat kesempatan mampir dan salat fardhu di sini. Sebuah rangkaian kenangan yang tak akan terlupakan.

  14. Di saat Semarang yang panasnya mentereng, mashaAllaa.. ke Masjid Agung Jawa Tengah memang bikin betaah.. Suasananya tenang dan adeemm..
    Tapi aura masjid itu selalu begitu yaa.. adeemm.. dan meski ada anak-anak kecil bermain tuh rasanyaa hangaatt sekali.

    Sayangnya memang si payung-payung ala Madinah ini kondisinya tidak bisa dibentangkan yaa… eh, tapi ini pas aku ke sana tahun 2020. Apakabar Masjid Agung Jawa Tengah 2025?

    Rindu sekalii sholat di Masjid Agung Jawa Tengah seperti ka Ann.. bersama keluarga besar. Guyub dan kompak selaluuu..

    Reply
    • Pas aku datang sih kondisinya bersih, tenang, dan nyaman. Bikin betah berada dan salah di sana. Begitulah seharusnya rumah-Nya ya.

      Iya aku pun berharap bisa melihat payung-payung itu mengembang karena itu kan siang hari ya. Ih jadi penasaran pengen balik.

  15. Bu Annie, ditunggu wisata religi nya ke Masjid Al Akbar, Surabaya ya.. biar bisa ketemu lagi, hehehe. Masjid Agung Jawa Tengah ini hampir 20 tahun berdiri ya Bu, cukup lama juga. Saya dulu pernah tinggal di Semarang beberapa bulan cuma belum pernah ke masjid tersebut

    Reply
    • InshaAllah. Kebetulan dalam beberapa bulan ke depan ada keponakan yang akan menikah di Sidoardjo. Ntar tak sempatkan nginap di kota SBY dan mampir ke Masjid Al Akbar Surabaya.

Leave a Comment