
Keraton Kasepuhan Cirebon | Travel & Featured | 24 Desember 2025
Saya masih repot beberes pakaian dan merapikan koper, saat suami mengingatkan untuk mencari satu atau dua referensi tempat wisata di Cirebon sebelum kami melanjutkan perjalanan ke Indramayu. Karena hal ini harus dilakukan sambil duduk dan dalam kondisi tidak riweh, saya memutuskan untuk melakukan pencarian sembari sarapan di hotel
Saya sudah mendatangi Cirebon kurang lebih 3-4 kali dalam periode waktu yang saling berjauhan dan berbeda. Ada beberapa tempat yang sempat saya hampiri. Masih belum banyak sih. Sebagian besar adalah kedai/warung makan/resto, pasar, dan beberapa titik wisata lainnya, serta hotel tempat saya menginap. Dan kali ini saya ingin bertamu di satu tempat dengan sentuhan sejarah.
Pilihan pun kemudian jatuh pada Keraton Kasepuhan Cirebon yang berada di Kecamatan Lemahwungkuh. Keraton yang saat ini menjadi tempat tinggal dari Sultan yang berkuasa, P.R.A Luqman Zulkaein, S.H, M. Kn yang bergelar Sultan Sepuh XV, dan secara resmi dinobatkan sebagai penguasa Kesultanan Kasepuhan Cirebon pada 2020. Beliau menggantikan ayahnya, Sultan Sepuh XIV bernama P.R.A Arief Natadiningrat.
Ah baiklah. Saya dan suami membulatkan kesepakatan. Tampaknya bagus juga melakukan wisata sejarah karena waktu yang ada cukup lowong, tidak tergesa-gesa. Kami pun kemudian check out dari hotel Batiqa lebih awal dan menuju Keraton Kasepuhan Cirebon 60 menit setelah jam buka regular di hari itu.

Disambut Keriuhan Pagi
Sabtu pagi itu saya dan suami disambut dengan keriuhan di beberapa titik keramaian publik. Suami menjalankan mobil dengan perlahan agar tidak melewati petunjuk arah yang tampil di gawai saya. Terlihat banyak pejalan/publik yang sibuk menyusur langkah di sepanjang arah menuju keraton. Begitu pun dengan pedagang asongan, dorongan, gerobakan besar, dan sepedaan yang menjajakan beberapa jajanan, sarapan, serta minuman segar.
Mengikuti arahan petugas parkir, mobil kami titipkan persis di pinggir sebuah lapangan dan di seberang ticket box masuk keraton, dengan beberapa tempat duduk beratap yang terbuat dari kayu. Banyak pohon besar tersebar di setiap sudut jalan. Pohon yang lumayan membuat sinar matahari sepagian itu tertahankan kehadirannya dan tidak mendera panasnya di tubuh manusia.
Saya pun langsung berkeringat deras dengan rasa haus yang sungguh tak tertahankan. Melihat abang-abang dorongan yang menjajakan air kelapa muda dengan es batu, saya pun tak tahan untuk tidak membeli sebungkus besar minuman dingin ini (Rp10.000,00/bungkus plastik). Semua langsung saya tandaskan di tempat karena petugas tidak mengizinkan pengunjung untuk membawa makanan atau minuman ke dalam lingkungan keraton. Kecuali minuman yang dibawa menggunakan tumbler pribadi.
Saya setuju dengan keputusan ini. Mengingat kebiasaan “orang kita” yang susah betul diajak disiplin buang sampah serta mengingat keraton belum lama direvitalisasi, pihak pengelola keraton tentunya menginginkan agar tempat wisata ini tetap terlihat bersih dan rapi di setiap sudut.
Membeli tiket terusan seharga Rp25.000,00/orang yang meliputi kunjungan ke kawasan keraton dan sebuah museum (Museum Pusaka Kasepuhan Cirebon), saya dan suami memutuskan untuk juga menyewa jasa tour guide (pemandu wisata) yang sudah siap berjaga di depan ticket box. Seorang bapak, berusia sekitar 60-an dan berbaju Jawa lengkap, tampak ramah menyapa dan mengiringi langkah-langkah saya dan suami menyusur keraton yang pada abad ke-16 (XVI) didirikan oleh Sunan Gunung Jati (Syekh Syarif Hidayatullah). Lewat perkenalan singkatnya, beliau menyampaikan bahwa dia sudah menjadi pemandu wisata di keraton ini selama 15 tahun lamanya.

Lingkungan yang Asri dan Menyenangkan
Pak Rudi Muritno, pemandu yang menemani kami, mengajak ngobrol terlebih dahulu di Alun Alun Keraton. Area yang menyambut setiap tamu saat pertama memasuki lingkungan keraton. Alun-alun ini terdiri dari beberapa beberapa pendopo tanpa dinding dan area dudukan yang mulai terlihat tua. Atap gentengnya disanggah oleh beberapa tiang kayu jati yang terlihat masih kokoh dan area duduk yang terbuat dari tegel model lama. Di sekelilingnya terdapat beberapa pohon tua dan rumput gajah yang tumbuh di atas tanah gembur yang terlihat begitu kecoklatan.
Lewat penjelasan Pak Rudi saya memahami bahwa Cirebon sesungguhnya memiliki 4 keraton. Selain Keraton Kasepuhan – keraton yang dipimpin oleh Sultan Sepuh (yang tua) dan merupakan keturunan dari Sultan Syamsudin Martawijaya – yang saya kunjungi saat itu, juga ada Keraton Kanoman yang dipimpin oleh Sultan Anom (yang muda) dan merupakan keturunan dari Pangeran Badrudin Kartawijaya. Dua lagi adalah Keraton Kacirebonan yang adalah pecahan dari Keraton Kanoman dan Keraton Kaprabonan yang adalah kesultanan kecil yang berdiri sendiri.
Lingkungan Keraton Kasepuhan ini adalah pewarisan dari Syekh Syarif Hidayatullah (Sunan Gunung Jati) yang menikahi sepupunya Ratu Ayu Pakungwati. Seorang putri dari Pangeran Cakrabuwana pada 1430 (abad ke-15) yang pada awalnya mendirikan keraton ini. Dari sebuah catatan silsilah yang dituliskan dan ditampilkan kepada publik, garis pihak ayah diambil dari Sultan Gunung Jati yang dipercaya adalah keturunan dari Nabi Muhammad SAW. Catatan ini berdasarkan cerita Purwaka Caruban Nagari oleh Pangeran Arya Caruban pada 1720 Masehi. Sementara jika ditilik dari garis keturunan Ibu Sultan dari Keraton Kasepuhan Cirebon berasal dari Maharaja Galuh Pakwan/Maharaja Adi Mulya.
Jadi jika ditarik sejarah awal hingga akhir, keraton ini dipimpin mulai awal oleh Sunan Gunung Jati (Syarief Hidayatullah) pada 1479 Masehi dan kini tampuk pimpinan dipegang oleh P.R.A. Luqman Zulkaedin yang berkuasa mulai 2020 Masehi.
Kesultanan Cirebon ini kemudian terpecah menjadi dua (Kasepuhan dan Kanoman) karena perebutan kekuasaan yang terjadi pada 1678. Yang tua mendirikan Kasepuhan. Sementara yang muda membangun Kanoman. Kedua tetap eksis meski berada di lingkungan yang berbeda.
Keraton Kasepuhan Cirebon ini mengalami beberapa revitalisasi. Pada Februari 2022 kemudian dilanjutkan pada 2024 yang berfokus pada penerbitan kawasan agar lebih terlihat bersih dan teratur. Pemandangan inilah yang saya saksikan saat ini.
Selama menyusur setiap sisi keraton, saya menyadari bahwa setiap sudut kawasan didominasi oleh bangunan berwarna putih dengan ciri khas arsitektur ala keraton dan gabungan budaya Hindu, Islam, Cina dan Belanda.

Sembari berjalan pelan, Pak Rudi menjelaskan bahwa keraton ini memiliki luas sekitar 25 hektar atau lebih tepatnya sekitar 185.500m2. Tanah seluas ini menjadi lahan penyanggah dari 56 bangunan termasuk bangunan bersejarah seperti Siti Inggil dan Masjid Agung.
Ke-56 bangunan yang ada di dalam kompleks Keraton Kasepuhan tersebut adalah : Alun Alun Keraton, Masjid Agung Keraton, Panca Niti, Panca Ratna, Kali Sipadu, Jembatan Pangrawit, Lapangan Giyanti, Siti Inggil (Semar Tirandu, Malang Semirang, Mande Karesman, Pendawa Lima, Mande Pengiring), Manowati, Pengada, Regol/Pintu Pengada, Gapura Lonceng, Kalaman Kemandungan, Sumur Kemandungan, Langgar Agung, Regol/Pintu Gledegan, Bundaran Dewandatu, Museum Benda Kuno, Gedong Kereta Singa Barong, Siri Maganti, Lunjuk, Tugu Manunggal, Kulagara Wadasan, Kuncung, Jinem Pengrawit, Gajah Nguling, Bangsal Pringgandani, Bangsal Prabayaksa, Bangsal Agung, Pintu Buk Bacem, Langgar Alit, Jinem Arum, Keputraan, Pendaleman Kepuntren, Dalem Kaum/Kedaton, Pungkuran Buritan, Pamburatan, Keluarga Kapuntren, Paseban Kapuntren, Dapur Mulud, Perpustakaan, Gedung Naskah Kuno, Kolam Langensari, Bale Kambang, Gunung Indrakila, Pedati Gede, Watu Kilan, Petilasan Dalam Agung Pangkuwati, Bangsal Pagelaran, Sumur Agung, Paseban, Sumur Upas, Sumur Tujuh, Patilasan Cakrabuana dan Sunan Gunung Jati, Sumur Kejayan dan Lawang Sanga.
Semua bangunan ini cukup berjarak satu sama lain yang terhubung dengan jalan aspal atau konblok yang terlihat masih begitu tertata. Satu hal yang pastinya saya sukai adalah lingkungan sebuah keraton yang menjadi ruang sejarah yang asri di dalam kota Cirebon.
Keraton ini menghadap ke utara ini mengikuti tradisi keraton di Jawa. Salah satu arah angin yang menghadap magnet dunia dan melambangkan harapan sang Raja akan kekuatan. Menilik posisi yang ada sekarang, Pak Rudi juga menjelaskan bahwa batasan kompleks Keraton Kasepuhan adalah Jl. Kasepuhan (sisi utara), Jl. Mayor Sastraatmaja (sisi timur), Kali Kriyan (sisi selatan), dan pemukiman penduduk (sisi barat). Semua sisi keraton dibentengi oleh tembok bata merah yang disebut sebagai Kuta Kosod oleh masyarakat.
Saya sendiri menemukan tembok bata merah dan gapura dengan bahan yang sama saat berfoto di Gapura Lonceng yang berada di tengah-tengah area keraton.
Dalam setiap bangunan, pihak pengelola memasang tulisan dan penjelasan singkat di sebuah sisi strategis tempat yang bersangkutan. Beberapa yang sempat terekam kamera saya adalah tentang Jinem Arum yang adalah tempat warga menunggu sebelum menghadap Sultan, Taman Bunderan Dewandaru yaitu taman berbentuk bundar dan dikelilingi oleh pohon Dewandaru yang wangi. Bunderan artinya sepakat. Dewandaru artinya kumpulan makhluk bercahaya. Filosofi taman ini adalah kumpulan makhluk mulia yang menerangi sesama. Di taman ini ada dua meriam yaitu Ki Santoma dan Ki Santomi yang adalah peninggalan Prabu Kabunangka Pakuwan.
Kemudian saya juga memotret sebuah tulisan tentang Pintu Buk Bacem. Sebuah gerbang yang terbuat dari batu bata berbentuk lengkung atau buk. Dirancang dengan arsitektur Eropa dengan hiasan piring Cina. Pintunya terbuat dari kayu jati ukiran yang direndam atau dibacem. Bangunan ini juga adalah perantara untuk masuk ke Dalem Arum, tempat tinggal Sultan dan Kaputran tempat tinggal putra-putra Sultan dan Kaputren tempat tinggal putri-putri Sultan yang belum menikah.
Saya juga memotret sebuah tulisan yang menjelaskan tentang Jinem Pangrawit. Jinem = kejineman, pangrawit = dari halus atau bagus. Fungsinya untuk tempat tugas Pangeran Patih atau Wakil Sultan menerima tamu. Lalu ada Sri Manganti. Pendopo tempat para tamu menunggu petunjuk dan keputusan Sultan setelah terlebih dahulu unjukan di Pendopo Lunjuk. Sri artinya Sultan atau Raja, Manganti artinya menunggu. Bangunan ini dibangun pada abad XVI.
Pak Rudi menginformasikan bahwa tulisan-tulisan berisikan informasi singkat ini dipasang saat keraton direvitalisasi dan mendapatkan sponsor dari Pacific Paint. Semua plakat disanggah besi, berbahan dasar besi dan dicat dengan warna hijau berpadu putih. Pemilihan warna yang tepat dan mewakili lingkungan yang asri dan penuh dengan pepohonan.
Di dekat Taman Dewandaru itu, saya menemukan sebuah bangunan kecil dengan pintu depan yang berhadap-hadapan langsung dengan sebuah pohon besar. Pak Rudi menawarkan saya untuk masuk ke dalam gedung ini. Tempat ini ternyata melingkupi sebuah warung kecil dengan lemari pendingin yang berisikan aneka minuman dan ada sebuah meja yang menghadirkan berbagai suvenir.
Bangunan berbentuk rumah kecil berwarna putih ini menyediakan sebuah ruangan khusus – seperti studio mini – yang menghadirkan artificial intelligence generated movie yang menghadirkan perlawanan rakyat Cirebon melawan penjajah Belanda pada abad ke-17 yang dipimpin oleh Sultan Matangadji, yang geram saat rakyat Cirebon ditindas dengan pajak tinggi dan hukuman sewenang-wenang dari Belanda. Sultan Matangadji bersama para santri mengobarkan perlawanan untuk mempertahankan tanah air mereka.
Kehadiran studio mini ini dan film AI yang dihadirkan sesungguhnya punya tujuan yang sangat mulia. Didukung oleh Kementrian Pendidikan, generated movie ini mengajak publik untuk mengingat bahwa Cirebon pernah dengan gigihnya melawan penjajahan Belanda. Sultan yang berkuasa pada saat itu membangkitkan semangat rakyat untuk berjuang dengan apa adanya melawan Belanda yang hadir dengan peralatan tempur yang lebih mumpuni pada saat itu.


Melengkapi serangkaian kunjungan ini saya memasuki sebuah museum – Museum Pusaka Kasepuhan – yang berisikan banyak peninggalan perjuangan Prabu Siliwangi dan rakyat Cirebon dalam memerangi Belanda.
Tentang museum ini akan saya tuliskan terpisah karena rinciannya begitu banyak dan panjang
Saya sempat memasuki sebuah pendopo yang dicat putih dengan ornamen kayu yang didominasi oleh warna hijau. Di sini biasanya Sultan menerima tamu. Di dalamnya terdapat payung-payung dan panji-panji kesultanan yang biasa digunakan oleh Sultan untuk tampil di hadapan publik. Saya juga melihat foto Sultan P.R.A. Luqman Zulkaedin bersama sang istri. Pendopo dengan tegel edisi lama ini menghadirkan suasana teduh dan nyaman.

Tersaput Polemik
Pak Rudi mengantarkan saya kembali ke alun-alun depan yang dinaungi oleh sebuah pohon yang sangat besar. Pohon ini terlihat tua dengan dedaunan yang berguguran dan menyebar di atas tanah yang ada di bawahnya.
Saya kembali duduk melepas lelah karena sudah berkeliling kompleks keraton yang begitu luas. Bahkan sempat melewati beberapa kompleks kecil, deretan rumah yang kabarnya dihuni oleh keluarga sultan saat ini. Deretan rumah itu tampak sederhana saja. Tak ada sentuhan kemewahan yang kita bayangkan tentang kehidupan seorang sultan. Raja yang berkuasa atas kawasan tertentu.
Tadi, saat menyusur dan mendapatkan info singkat tentang Keraton Kasepuhan Cirebon, saya mendapati bahwa ada polemik yang cukup jadi perhatian. Sultan Sepuh XV yang diangkat di 2020 ini sesungguhnya mendapatkan pertentangan dari berbagai pihak dalam kerajaan.
Tahta yang dipegang sekarang mendapatkan penolakan dari R. Rahardjo Jali (Sultan Sepuh Aluda II). Beliau inilah yang mendapatkan dukungan dari Dewan Kelungguhan dan diakui oleh MAKN (Majelis Adat Keraton Nusantara). Beliau pun kemudian dinyatakan sebagai Sultan Kasepuhan Cirebon pada 2021. Kemudian ada juga penolakan dari Pangeran Heru Arianatareja atau Sultan Sepuh Jaenudin II.
Kedua belah pihak menyampaikan bahwa sesungguhnya P.R.A. Luqman Zulkaedin, lelaki kelahiran Bandung pada 20 Juni 1989 dan yang berprofesi sebagai notaris ini tidak memiliki trah langsung dari darah biru rangkaian sultan terdahulu. Atau dengan kata lain, beliau lahir dalam satu “trah terputus” yang tak berhak mewarisi tapuk kepemimpinan Keraton Kasepuhan Cirebon.
Saya terpaku dengan penjelasan dari Pak Rudi yang membenarkan beberapa berita tentang hal ini. Menurut beliau perlu ada penelitian lanjutan dan sangat rinci untuk membuka keabsahan garis keturunan agar Keraton Kasepuhan Cirebon benar-benar dipimpin oleh mereka yang berhak atas itu. Semua pihak harus duduk bersama dan memecahkan masalah ini agar anak keturunan yang bisa menjadi pemimpin mendapatkan hak mereka. Meski Sultan adalah “hanya sebuah lambang” bagi daerah tersebut, setidaknya sejarah tetap harus diluruskan. Tetap berdiri di atas rangkaian jejak yang benar dan sahih.
Saya meninggalkan Keraton Kasepuhan Cirebon dengan rasa penasaran ingin menggali asal muasal polemik ini. Tentunya dengan bertemu orang yang tepat agar bisa menjawab rasa penasaran tersebut. Saya pun meninggalkan keraton ini dengan sejuta tanya yang tak terjawab dan keringnya tenggorokan karena terlibat obrolan seru dengan Pak Rudi. Kalau tak ingat lambung yang sudah meronta memasuki jam makan siang, mungkin saya akan memboyong Pak Rudi untuk ke kedai kopi terdekat sembari melanjutkan obrolan tentang polemik yang terputus tadi.
Sebungkus besar air kelapa muda dingin yang tadi saya nikmati saat datang, kembali saya genggam. Kali ini airnya terasa (jauh) lebih refreshing karena saya meminta es batu dalam jumlah yang lebih banyak ketimbang tadi.






IG : @annie_nugraha | Email : annie.nugraha@gmail.com
Ingin membaca banyak info tentang Keraton Kasepuhan Cirebon? Teman-teman bisa berselancar ke IG @keratonkasepuhan atau ke tautan resmi www.keratonkasepuhan.com



Wah ngiriii….
Udah lama banget saya ingin ke keraton Cirebon
Malah saya ngikutin waktu ada keributan kepemimpinan
Mirip di dua keraton Solo dan mungkin nanti Jogja
Izin bookmarks tulisannya ya Mbak
Iya Mbak Maria. Di akhir penyusuran saya selama di sana, sayang banget harus mendengarkan tentang polemik kepemimpinan di tempat ini. Tapi pengen sih ikut menyusur jejak sejarahnya dari seorang yang berada di sisi netral. Biar lebih paham dan tidak memihak. Sayangnya saya belum menemukan orang yang dimaksud.
Saya suka ke keraton-keraton mana saja, terutama memerhatikan fungsi dan bentuk arsitekturnya. Kalau soal silsilah biasanya saya mumet. Hampir semua keraton di Indonesia berantakan gara-gara rebutan tahta, karena Rajanya istrinya banyak…hiks. Cirebon saja sampai ada 4. Ada andil Hindia Belanda juga sih waktu itu.
Sayangnya bangunan keraton biasanya kesulitan dalam perawatanannya.
Pengen banget belajar tentang dunia arsitektur bangunan dari Mbak Hani. Pasti banyak pengetahuan yang bisa saya dapatkan. Kapan-kapan kita ketemuan ya Mbak. Ngobrol sama ngopi2 keknya bakal asyik banget.
Inilah Mbak. Polemik tentang garis keturunan dan penguasaan sebuah tampuk pimpinan kesultanan/kerajaan tuh sering bikin hati perih.
Pernah ke Cirebon tapi udah lama banget waktu masih kuliah. Baca artikel ini jadi pengen balik lagi dan coba mengunjungi tempat-tempat bersejarah di sana. Udah ada rencana sih pengen one day trip pake kereta ke Cirebon.
Yuk Mbak. Berkunjung ke Keraton Kasepuhan Cirebon ini. Setelah revitalisasi kawasannya jadi lebih tertata dan bersih. Semoga bisa senantiasa lestari dan terawat dengan baik.
Wah dalam satu kompleks Keraton Kasepuhan banyak juga bangunan yang ada.
Kebayang untuk bisa singgah kesemuanya itu, lebih dari 3hari kali ya biar bisa lebih puas menyimak setiap jejak di sana.
Semoga bangunan yang ada tetap terjaga kelestarian nya, karena ini bisa mendatangkan wisatawan juga kan
Aamiin YRA. Semoga Keraton Kasepuhan Cirebon senantiasa lestari dan terawat dengan baik.
Udah sering denger nih mbak Keraton Kasepuhan Cirebon, dari dulu pengen ke sana. Ini jauh areanya dari banjir kan ya?
Owalah ternyata Kasepuhan Cirebon juga gonjang-ganjing, ada aja perebutan kekuasaan yaa.
Untungnya pariwisatanya tetap bisa jalan dengan baik ya mbak.
Mantul banget mbak abis keliling keraton, pepotoan, lalu lanjut minum es kelapa. Segeeerr :D
Tiketnya juga cukup murah, bisa lihat museum juga. Semoga beneran bisa ke sana. Kalau liburan gini kira2 rame gak ya?
Kurang tahu kalau soal banjir Pril. Tapi yang pasti keraton ini di depannya ada got besar yang cukup menampung air. Mudah-mudahan begitu ya. Sayang banget kalau sampai kebanjiran karena banyak jejak sejarah yang perlu dijaga.
Waktu aku datang di Sabtu, tamunya lumayan banyak. Sepertinya bakal seperti itu kalau pas liburan sekolah ya.
Aku belum pernah ke Cirebon. Cuma, membaca ceritanya aku tuh jadi ikut membayangkan semua polemik yang terjadi. Ikut menyusuri jejak masa lalu keraton Cirebon. Kalau ada waktu buat main ke sana, aku beneran ingin merasakan vibes itu.
Layaknya sebuah wisata keraton, selalu ada jejak sejarah yang bisa kita lihat dan pahami. Semoga suatu saat bisa menginjakkan kaki di Cirebon ya Mbak Yuni.
Pemandunya nggak nawarin buat silaturahmi ke rumah/wisma yang ditempati Sultan mbak?
Walaupun memang ada polemik, tapi Beliau sudah sah menduduki jabatan Sultan. menurut saya, kita sebagai orang luar, walau penasaran, nyimak aja lah hehe
Sempat melewati saat jalan pulang Mbak. Ada di sisi khusus dari kompleks keraton.
Hahahaha. Iya lah Mbak Nanik. Gak mungkin lah orang biasa seperti saya, bisa turut campur di masalah penting seperti kedudukan keraton. Tapi mendengar cerita panjang dari Pak Rudi, saya terus terang turut prihatin. Apalagi kemudian mendengar cerita tersebut dari dua sisi dan menyusur silsilah. Mudah-mudahan segera tercerahkan ya. Adem ayem dengan kondisi masing-masing. Yah sama seperti kasusnya keraton Solo.