

Mengunjungi Masjid Eyup (Eyup Sultan Mosque) Istanbul Turki jadi agenda terakhir dari serangkaian kegiatan perjalanan “Winter in Turkey” bersama Wisata Halal Indonesia (WHI). Saya sangat menantikan momen sarat makna ini sebelum akhirnya berkendara ke Istanbul International Airport dan terbang kembali ke Jakarta
Saya baru saja selesai menyusur Taksim Square saat sebuah panggilan berkumpul di titik tertentu diumumkan tour leader lewat WAG. Sesuai arahan sebelum berpencar, waktu dua jam untuk menjelajah Taksim Square di tengah kota Istanbul, sudah berakhir. Kami semua diminta berkumpul lalu melanjutkan perjalanan dengan berjalan kaki menuju salah satu restoran yang berjarak sekitar 1 km dari tempat kami berdiri.
Naga peliharaan lambung saya menggeliat menemani setiap langkah saya menuju restoran. Kayaknya bakalan makan banyak ini sih. Ternyata jalur 1 km itu beneran bikin dengkul ekstra bekerja karena jalur langkahnya turun naik. Tapi tak apa. Untung udaranya dingin. Jadi – untuk saya – mau berjalan sepanjang apa pun asal tidak banjir keringat, biasanya saya kuat berjalan kaki.
Menuntaskan makan siang, rombongan kami pun kembali ke dalam bis. Kali ini tour leader lokal menyampaikan bahwa kami sudah menggapai tujuan terakhir dari seluruh program yang diselenggarakan oleh WHI. Dan tujuan itu adalah Masjid Eyup (Eyup Mosque) yang berada di distrik Eyup. Lokasinya berada di luar tembok kota Istanbul dan dekat dengan kawasan Tanduk Emas (Golden Horn). Masjid Eyup juga adalah salah satu tempat ibadah umat muslim yang punya sejarah istimewa untuk Turki dan sangat dianjurkan untuk diziarahi.
Golden Horn Istanbul memisahkan sisi Eropa Istanbul menjadi kota lama dan kota baru. Disebut Golden Horn karena cahaya keemasan matahari terpantul di air. Lokasinya dekat dengan Jembatan Galata dan Pasar Rempah, dua tempat wisata populer di kota Turki dan di mana kita bisa melihat barisan kapal feri yang bisa membawa kita ke sisi Asia Turki.

Sepanjang perjalanan yang dikepung oleh kemacetan, saya menikmati setiap detik saat bis besar yang kami tumpangi melewati berbagai tempat dengan nuansa bangunan ala Eropa. Yup di sisi ini, sisi Eropa-nya Turki, semua bangunan hadir dengan seni arsitektur yang mengagumkan. Tak henti rasanya decak kagum terlontarkan sepanjang perjalanan. Meski lebar jalannya tak seluas yang saya bayangkan, dan bolak-balik bis terpaksa berhenti karena kemacetan, setiap jejak yang saya lalui sungguh sangat memanjakan netra.
Saya berulangkali tertegun. Tak menyangka bahwa di awal tahun 2025, sisi Eropa kota Istanbul menjadi awal dari sekian banyak kisah perjalanan saya di tahun ini.
“Ibu Annie, apa yang dipikirkan?” Teguran Felix, sang local guide, memecah lamunan saya.
Saya membalasnya dengan senyum lebar dan termanis yang saya miliki.
“Kapan ya saya bisa balik lagi ke Turki?”
Gumaman pelan saya ini ternyata didengar oleh Felix yang memang duduknya tak jauh dari saya. Dia pun menjawab dengan kata Aamiin yang cukup keras. “InshaAllah, bisa kembali lagi Bu Annie,” lanjut Felix dengan nada yakin yang menguatkan doa saya.
Saya kembali tersenyum lebar dan melengkapinya dengan tawa kecil. Obrolan kami pun tersambung kembali. Setelah 9 hari menjelajah beberapa sisi/bagian dari Turki dengan beberapa obyek wisata yang mengesankan, kembali ke Istanbul sejatinya sudah saya tunggu-tunggu. Bahkan jika pun di masa mendatang ada rezeki untuk menginjakkan kaki di Turki, saya akan memilih untuk mengeksplorasi Istanbul lebih banyak, lebih dalam, dan lebih lama lagi.
Lamunan saya terhenti saat bis mulai memasuki gerbang dan area parkir Masjid Eyup. Felix dengan sigap mengingatkan kami untuk berkumpul dan kembali ke bis dalam jangka waktu 1.5 jam ke depan. Pesan ini langsung mengalihkan perhatian saya untuk mengecek waktu yang tertera di HP. Lumayan lama juga waktu yang disediakan.
Baiklah. Yuk mari menyusur dan menggali sekian banyak momen sarat makna saat ziarah ke Masjid Eyup Istanbul Turki.


Di beberapa menit awal saat turun dari bis dan mengikuti langkah-langkah Felix, di dekat pintu masuk depan rombongan kami bertemu dengan sebuah kandang domba yang cukup luas. Di dalamnya hidup puluhan domba yang terlihat sehat dan gemuk. Tak menemukan sambungan fakta antara kandang domba dengan masjid yang akan saya lihat, saya bergegas kembali mengikuti rombongan. Mabok juga dengan baunya yang menyengat.
Masuk ke bagian dalam kompleks masjid, tampak sebuah taman dengan pohon besar dan ranting yang daunnya terlihat meranggas. Kemungkinan besar rontok karena udara dingin. Taman kecil ini dibatasi oleh pagar besi tinggi yang tertanam dari serangkaian semen yang dibangun di bawahnya. Mata saya kemudian teralihkan pada sebuah pancuran air dengan wastafel marmer di bawahnya. Tak sekali dua saya melihat beberapa orang meminum air dari tempat ini. Tapi saya lupa menanyakan kepada Felix tentang kebenaran bahwa air ini aman untuk dikonsumsi langsung,
Felix kemudian mengajak kami untuk merapat dan melihat rangkaian keramik bermotif yang terpasang indah di dinding sebuah Mausoleum (Musolem). Ratusan lembar keramik ini tersusun dengan begitu indahnya. Gambar dan kombinasi warnanya pun sangat indah memanjakan netra dan rasa. Felix bercerita bahwa keramik yang adalah warisan dari zaman Kesultanan Utsmaniyah, memang sengaja dihadirkan untuk mengenang betapa hebatnya Turki saat berada di bawah kesultanan ini.
Kondisi yang juga menjelaskan tentang bagaimana sentuhan seni tingkat tinggi sudah hadir di abad ke-13. Masa dimana Masjid Eyup Istanbul Turki dibangun pertama kali di 1458 oleh Sultan Mehmed II. Masjid yang juga tercatat sebagai bangunan rumah ibadah pertama yang dibangun di Istanbul setelah penaklukan oleh Kesultanan Utsmaniyah atas pendudukan bangsa Romawi.
Saya mengajak kepala untuk mendangak, melihat keramik yang tersusun tinggi, dengan bendera nasional Turki yang ikut terpasang di sana. Bendera dengan kain warna merah dan bulat sabit serta bintang berwarna putih. Kekaguman itu menjadi semakin lengkap saat saya membayangkan bagaimana tingginya kecakapan para seniman di masa/abad itu dalam menciptakan mozaik yang terlukis indah di atas keramik itu. Rangkaian keahlian yang tentunya hanya dimiliki oleh orang-orang tertentu dan terpilih saja. Mereka yang bertalenta dan mampu meninggalkan legacy yang akan dilihat dan diingatkan oleh orang banyak sepanjang masa.
Felix kemudian menjelaskan bahwa susunan keramik ini adalah dinding luar dari sebuah mausoleum dan makam yang khusus dibangun untuk Abu Ayyub Al-Ansari. Seorang sahabat nabi yang menjamu beliau saat hijrah ke Madinah. Bahkan baginda Nabi Muhammad SAW sempat tinggal di rumah Abu Ayyub Al-Ansari selama tujuh bulan lamanya sampai masjid pertama di Madinah selesai dibangun.
Kami diarahkan untuk berziarah, masuk ke mausoleum ini, antri dengan tertib, dan melepas alas kaki. Saya pun mengikuti rangkaian arahan tersebut.
Di dalam makam, sembari hening mengantri, saya kembali terpaku dengan serangkaian keramik mozaik yang tersusun rapi di setiap sisi dinding makam. Ada sebuah kotak kaca yang menyimpan beberapa benda suci yang diyakini adalah warisan dari Nabi Muhammad SAW. Diantaranya adalah dua helai jenggot, bekas telapak kaki, dan tumbuhan yang langsung ditanam oleh Nabi. Beberapa pengunjung tampak mendekat dan menghabiskan sekian menit untuk melamati semua benda di dalam kotak ini dengan seksama. Tapi saya memutuskan untuk memotret kotak kaca ini dari kejauhan saja agar tidak terlepas dari barisan antrian. Konsentrasi saya malah sempat teralihkan saat melihat kokoh dan indahnya deretan kayu yang dipasang di langit-langit mausoleum yang dilengkapi oleh indahnya beberapa lampu kristal cantik dengan rangka berwarna tembaga.
Saya mendadak tergugu. Merasakan sebuah girah yang begitu kuat dari Mimar Sinan, sang arsitek yang membangun mausoleum ini. Sebuah tempat suci yang dilengkapi dengan kubah berdiameter 17.5 meter dan batu bata berwarna madu yang juga digunakan di hampir seluruh dinding Masjid Eyup Sultan.
Melangkah di atas karpet tebal yang tampak bersih dan nyaman, saya menyempatkan diri melantunkan Al-Fatihah kepada sahabat Nabi ini. Menyempatkan diri untuk menelisik, memperhatikan rincian, dan indahnya mozaik yang dipasang di bagian dalam, di mana makam itu ada. Saya hanya bisa mengintip dari jarak tertentu saja. Sekitar dua meter dari sebuah pintu masuk tinggi besar dengan pagar besi kecil yang terkunci rapat.
Semoga jutaan kemuliaan menjadi milik sang lelaki hebat yang bernama asli, Khalid bin Zaid ini. Seorang mujahid yang wafat dalam sebuah pertempuran di Konstatinopel (nama historis dari kota Istanbul) saat beliau berusia 80 tahun.


Mengikuti arahan selanjutnya, saya pun menyempatkan diri masuk ke dalam Masjid Eyup Sultan yang mulai dipenuhi oleh para peziarah dan berada berhadap-hadapan dengan mausoleum tadi. Di dalam masjid saya kembali melihat dominasi bata berwarna madu yang menempel dan membangun rumah ibadah ini. Arsitektur megah khas Ottoman yang dibangun kembali pada abad ke-19 setelah sempat runtuh oleh sebuah gempa bumi. Di beberapa sisinya masih ada yang dihubungkan oleh lembaran-lembaran kabel baja yang melintang di sana-sini.
Beberapa tiang kokoh berdiri gagah dengan banyak jendela yang juga dilengkapi oleh mozaik dan ukiran indah. Tebaran banyak jendela inilah yang menghantar sinar alami matahari untuk menerangi sisi dalam masjid.
Di bagian tengah terdapat rangka besi berbentuk lingkaran yang menghadirkan lampu-lampu gantung doff berwarna-warni. Ada juga beberapa jendela kayu yang begitu sempurna berpadu padan dengan bata berwarna madu itu. Dari sudut pandang orang awam, hanya satu yang terasa kurang pas adalah warna karpetnya. Warna yang membuat efek yang terlalu kontras dengan sekelilingnya.
Tadi, saat melangkah masuk, saya mencoba mencari tempat wudhu yang tertutup sehingga saya lapang untuk membuka hijab. Tapi ternyata tidak ada. Atau bisa jadi saya tidak menemukannya. Walhasil, saya memutuskan untuk bertayamum dengan merapatkan telapak tangan di sebuah tiang masjid yang tentu saja terlihat bersih. Salat dua rakaat tahiyatul masjid pun saya haturkan kepada-Nya. Mendoakan agar saya, suami dan kedua anak saya selalu diliputi oleh keberkahan, tubuh yang senantiasa sehat, serta rezeki halal yang berlimpah agar selalu bisa bersedekah dan menjadi manfaat bagi orang banyak.
Semoga Allah Subhannahu Wata’ala berkenan mengabulkannya. Aamiin Yaa Rabbalalaamiin.
Entah mengapa, saat kalimat doa itu menyentuh tentang anak-anak, mata saya sering berlinang-linang. Ada jutaan doa yang selalu khusus saya panjatkan kehadirat-Nya untuk mereka. Kadang terasa malu karena setiap menyentuh sajadah di sujud terakhir, doa untuk anak-anak ini terasa begitu panjang. Tapi rangkaian kalimat dari seorang ustadz mengingatkan saya untuk tak lelah memohon kepada-Nya. Meski terkadang hati kita berat karena tak semua harapan dikabulkan di saat itu juga. Bisa jadi sengaja ditunda-Nya atau bahkan digantikan dengan sesuatu atau banyak hal yang lebih baik. Sebuah rangkaian rahasia milik-Nya yang tak bisa kita paksakan.
Di Masjid Eyup Sultan Istanbul Turki saya sekali lagi menggaungkan doa untuk suami dan anak-anak.
Saat melangkah keluar saya mengingat pesan suami agar memasukkan lembaran uang dengan nilai terbesar yang ada di dalam dompet untuk sebuah kotak amal yang ada di depan pintu masuk utama masjid.


Saya dan teman-teman kemudian melangkah ke sisi luar Masjid Eyup Sultan. Dari teras luar ini rangkaian kekaguman itu tak pun berhenti. Dengan lantai keramik yang senada dengan bangunan sekitar, teras dan taman ini dilengkapi dengan dua buah tempat untuk berwudhu. Satu berada di tengah dengan bentuk melingkar dan beratap seperti gubuk kecil, sementara yang satu lagi berderet rapi di salah satu dinding.
Taman ini dikelilingi oleh pagar besi yang cukup tinggi. Sementara di beberapa sisi taman belakang ini terlihat banyak pohon besar jangkung dengan ranting tak berdaun seperti yang saya lihat di area dalam tadi. Ada juga beberapa makam yang terlindung di bawah sebuah bangunan kecil berdinding terbuka di taman dalam tapi ada juga pemakaman yang di luar pagar.
Dari beberapa referensi yang saya baca, pemakaman ini disebut sebagai Pemakaman Eyup. Dari sebuah artikel layanan tour wisata lokal, saya pahami bahwa mereka yang dimakamkan di tempat ini adalah orang-orang penting yang mendapatkan kehormatan besar untuk berkalang tanah di sini. Seperti para wazir agung (para penasihat atau menteri yang membantu raja/sultan), pejabat istana, anggota militer, penyair, dan intelektual seperti Adile Sultan, Ferhad Pasha, Sokollu Mehmed Pasha, dan Lala (Kara) Mustafa Pasha. Seorang jenderal di zaman kesultanan Utsmaniyah.
Semoga mereka semua dirahmati Allah Subhannahu Wata’ala.
Melewati sebuah gerbang kecil di sisi belakang, mata saya begitu terhibur dengan kehadiran sebuah kolam dengan taman yang sangat luas. Ada banyak air mancur yang terus bekerja di tengah kolam ini. Sementara di sampingnya, ada beberapa undakan marmer yang terlihat begitu nyaman untuk kita duduki sembari menghabiskan waktu dengan kegiatan piknik dan menyaksikan banyak burung merpati yang terbang rendah dan berlalu lalang. Beberapa di antaranya mendekati wisatawan yang tampak siap dengan remahan roti.
Pemandangan istimewa yang sungguh berkesan di hati.




Saya dan teman-teman seperjalanan menyempatkan diri mengukir memori di tanah lapang ini. Tepatnya hanya beberapa menit sebelum perhatian kami buyar oleh deretan toko oleh-oleh yang terlihat eye-catchy dari kejauhan. Aroma shopping pun langsung meronta-ronta.
Selain barisan toko makanan, jajanan, dan oleh-oleh ini, saya juga menyaksikan banyak gerobakan camilan yang sebelumnya saya lihat di banyak destinasi wisata yang ada di Istanbul, Turki. Saya sejatinya ingin duduk-duduk sementara waktu sembari menikmati kopi khas Turki dan burger atau sandwich yang ditawarkan oleh sebuah kedai. Tapi niat ini saya batalkan karena waktu kunjungan ke Masjid Eyup Sultan sudah mendekati tahap akhir.
Saya akhirnya bergegas membeli beberapa jenis kacang serta turkish delight untuk si bungsu yang memang suka dengan jajanan manis.
Dalam beberapa waktu saya memohon izin untuk memotret toko yang saya kunjungi ini. Dagangannya lengkap banget. Setiap materi pun ditaruh rapi dalam banyak wadah. Disusun berdasarkan jenis dan warna. Hasil foto pun berakhir dengan estetika yang cantik untuk dilihat. Selain snack manis dan asin, di toko ini juga menyediakan berbagai alat makan seperti mangkuk, piring, alat hisap sisha, termasuk beberapa rempah-rempah yang bisa kita olah sebagai minuman penyegar sehari-hari atau sebagai obat.
Duh kalau gak ingat bagasi yang terbatas, beneran ingin mborong banyak benda. Presentasi yang cantik, bersih, dan tertata baik tuh nyatanya mampu menggugah rasa, selera, dan keinginan belanja deh.
Jika di toko yang saya kunjungi didominasi oleh asupan, salah seorang teman malah berjibaku menawar banyak perlengkapan ibadah di toko sebelah. Dia tampak memborong sajadah dan berbagai jenis alat make-up khas Arab serta tasbih. Wuah menggiurkan betul. Sayang karena waktu yang terbatas, saya tak punya semenit pun untuk mampir ke toko ini.
Di beberapa menit terakhir batasan waktu, langkah-langkah cepat kami tampak berusaha mengimbangi tubuh yang terhuyung-huyung. Nafas ngos-ngosan pun mendadak begitu terasa saat sudah duduk di dalam bis kembali.
Meski butuh usaha keras mengembalikan nafas normal, hari itu, hati saya dipenuhi oleh rasa syukur yang luar biasa. Mengucap terima kasih tanpa henti karena Dia dan semesta telah mengizinkan saya menikmati momen sarat makna saat berziarah di Masjid Eyup Sultan yang ada di jantung kota Istanbul Turki.







IG @annie_nugraha | Email : annie.nugraha@gmail.com



kalo saya mungkin lebih kalap ke rempah , mangkuk dan piring, hehehe
karena sedang asyik mencoba minum rempah setiap hari untuk mendapatkan manfaatnya (diseduh air panas saja) dan menggantikan kecanduan saya akan kopi
Akhir-akhir dibanding membeli oleh-oleh (yang belum tentu cocok dengan penerima) mending saya beli untuk dirisendiri (termasuk mengoleksi mangkuk dan piring)
lha ngobrolin ziarah masjid kok malah kalap ke oleh-oleh? :D
Hahahaha itu SOP tujuan belanja emak-emak itu Mbak. Urusan belanja selalu jadi prioritas kalau pergi kemana-mana. Saya juga sering begitu. Tapi sayangnya pas ke sini tuh kuantitas/berat koper kudu dikira-kira. Jadi harus nahan keinginan belanja yang begitu meluap-luap.
Kayaknya aku bakalan kalap juga sekalian buka Open Jastip ( dadakan live kalo perlu wkwkwkwkwk) karena buanyak banget merchandise lucu lucu ya An.
Di awal baca sih mellow yellow stabilow yaaa rasanya ikut larut dalam haru dan kekhusyukan suasana Masjid Eyup Sultan.
Itu jenis naga d perut Lo jenis apaaaaannn?
Hungarian Horntail, Chinese Fireball, Welsh Green, Swedish Short-Snout, Ukranian Ironbelly apa cuman si Norbert piaraan Hagrid jenis Norwegian Ridgeback wkwkkwkwk dah kayak miara anak anjing ya si Hagrid .
eeeh kok malah kemenong menong komennya . inhale exhale. focus.
Komen serius :
Yup An… bikin aku juga pengen banget suatu saat bisa ke sana, nggak cuma jalan-jalan tapi juga napak tilas sejarah Islam. It’s my dream mas!
Hahahahaha. Aku juga pengen balik lagi ke Turki tapi khusus menjelajah Istanbul. Lebih lama dan lebih dalam lagi. Jadi fokus ke beberapa tempat yang bersejarah di Istanbul seperti ke Masjid Eyup Sultan ini. Semoga kita disehatkan dan dimudahkan rezekinya.
MasyaAllah, โฆ baca tulisan lo itu ga pernah bosaaaan
tulisan ini berasa banget hangatnya perjalanan spiritualnya ๐ Aku bisa kebayang suasana di Masjid Eyup Sultan yang penuh khidmat itu, apalagi pas bagian doa dan refleksinya โ benar-benar menyentuh hati. Foto-fotonya juga indah banget, berhasil nangkep aura damai dan sakralnya tempat itu. Jadi pengin ke sana juga, bukan cuma buat wisata, tapi buat ngerasain ketenangan dan kedamaiannya (AAMIIIN)
Megah sekali bangunan Masjid Eyup Sultan ini, dan luar biasanya lagi, masjid ini di bangun di abad ke 13.
Doa ibu adalah salah satu benteng terbaik bagi anak, ini yang saya yakini mbak, jadi di manapun mendoakan anak-anak pasti akan mendatangkan haru karena suasana yang syahdu.
Iya Mbak. Apalagi dengan rancang bangun kesultanan Ottoman yang punya jejak keindahan luar biasa. Tampak oldiest tapi keindahan dan kekuatan struktur bangunannya luar biasa.
Benar saja sarat makna. Bahkan kita bisa tahu kisah sahabat nabi yang menemani saat pembangunan masjid pertama di Madinah. Aku jadi semakin ingin traveling ke Turki
Semoga suatu saat bisa menginjakkan kaki di Turki ya Mbak.
Kalo bu Annie, Kapan ya saya bisa balik lagi ke Turki?
Kalo aku, Kapan bisa ke Turki
Keduanya di Aamiin kan yang kencenggg…
Tahun 2017an kalo ngga salah, TV swasta Indonesia diinvansi sama serial drama turki, sejak itu aku mulai seneng sama negara ini sampe detik ini.
Ah, Allah pasti ijabah, Aamiin lagi.
Paling seneng emang ngerasain solat di mesjid dimana kita berkunjung. Setelah itu yang paling seneng udah pasti bagian oleh2 dan sovenir.
BTW, suka deh sama outfit Bu Annie, cakep!
Aamiin….
Ikutan ah, berharap semoga kita juga bisa ke Turki ya mbak Suci, terus ziarah juga ke Masjid Eyup Sultan ini.
Mungkin masjidnya punya kandang domba yang bisa dimanfaatkan pas iduladha atau pas ada aqiqahan kali mbak? #sokteu haha
Ternyata ada makam juga ya dekat masjid tapi khusus tokoh2 penting aja?
Masjidnya bagus banget dari foto2nya. Ornamen2nya itu kyk emang kek mencolok tetapi masjidnya tetep bersahaja.
Wah iya mbak, kalau sholat emang udah bawaannya emak2 mendoakan anak2nya yaa.
Bisa kasi burung2 merpati makan juga ya di halaman masjidnya?
Tempat beli oleh2nya ditata dengan rapi dan cakep, menggoda buat dibeli semua nih hyaa, kalau gak inget koper haha.
Remarkable and memorable pastinya karena sudah terbangun dari abad ke-13 dan terus terpelihara hingga kini. Ada memori khusus tentang Abu Ayyub Al-Ansari, seorang sahabat nabi yang membantu beliau memberikan tumpangan tempat tinggal saat pertama kali nabi Muhammad tiba di Madinah. Benar-benar terharu saat diizinkan-Nya ziarah ke makam beliau.
masjid Eyup ini seperti punya daya magis ya?
Mengingatkan kita akan betapa kecilnya manusia di depanNya
jadi penasaran dengan domba-dombanya ya?
Kayanya di kampung Indonesia pun , jarang ada kandang domba dekat masjid
apakah dipersiapkan untuk Idul Adha?
Sepertinya begitu ya Mbak. Sengaja diternak untuk kurban.
Mbak Annie, beruntungnya dirimu bisa jalan-jalan ke beberapa bagian bumi ini. Kemudian menuliskannya dengan epik lengkap dengan foto yang ajib banget. Ini menjadi ide bagi ku untuk menuliskan perjalanan ke mana aku pergi meski memang tidak harus ke mana gitu yang jauh. Karena suatu hari kalau pas buka-buka blog lagi bisa notice, oh iya, aku pernah ke sini, dan tentunya dengan rasa syukur.
Semoga Allah dan semesta mengabulkan doanya Ika ya. Menjelajah dunia tanpa batas dengan hati yang membuncah bahagia. Jangan lupa mengukir foto-foto yang apik dan cantik, lalu menceritakannya di blog plus membagikannya kepada publik.
Turki sungguh-sungguh sebuah negeri 1000 masjid eh atau 1000 menara ya julukannya (agak lupa)soalnya punya bermacam Masjid dengan arsitektur indah dan mengagumkan
Selain Hagia sopia yang begitu tersohor, Masjid Eyub ini jangan terlewatkan kalau bertandang ke Turki
Karena merupakan salah satu masjid tertua dan bersejarah di Turki.
Bener banget Mbak. Masjid Eyup ini sejarahnya luar biasa. Lingkungannya juga apik dan remarkable. Sayang saya hanya punya waktu sekian jam untuk berada di sini. Ah. Semoga Dia mengizinkan saya kembali. Pengen menelusur Istanbul sepuas mungkin.
Wah emang Turki seindah itu ya. Saya langsung terfokus sama toko jajanannya. Wuih, surga camilan kayaknya ya, Mb Annie.
Aamiin allahumma amiin…
Doa yang terbaik saat safar in syaa Allah menjadi salah satu waktu ijabah terkabulnya doa yaa, ka Annie.
Ceritanya ini Girls Day out kah?
Hihihi.. soalnya ciwi-ciwi semua dan serruu..
Memang kalau bepergian gini, paling praktis pake tote yaa..
Semua barang tinggal cemplung.
Ikutan sholat di Masjid Eyup membuat hati lebih berkesan mendalam karena juga disertai belajar sejarah Islam di Turki.
Ini pergi bareng paket tour khusus keliling Turki yang saya ikuti di Januari 2025. Ketemu teman-teman ini karena ikut tim jalan-jalan ini. Langsung dekat satu sama lain. Jadi seru cerita perjalanannya. Apalagi pada gembira ria saat aku bantu memotret.
Masya Allah, Masjid Eyรผp Sultan dengan arsitektur abad ke-13 yang masih berdiri megah itu luar biasa. Bagian yang menceritakan tentang keramik mozaik warisan Kesultanan Utsmaniyah menunjukkan tingginya peradaban Islam di masa itu. Kayaknya gak akan berhenti berdecak kagum melihat semua keindahannya saat di sana.
Bener banget Myra. Kalau lihat hasil karya seni dalam beberapa lini tuh rasanya merinding banget. Membayangkan bagaimana di abad itu sudah ada orang-orang/seniman luar biasa yang bisa membangun tempat yang begitu mengesankan. MashaAllah.
Duh seneng banget deh bisa baca oleh2 mba Annie dari Istanbul. Jujur dengan baca tulisannya mba Annie berkunjung ke masjid Eyup sedikit banyak impian saya pengen jalan2 ke Turki terobati hihiy.
Saya jadi auto membayangkan suasana di sana.
Ditunggu lagi ah cerita selanjutnya seputar Istanbul.. Btw saya baru ngeh kalo Konstantinopel itu nama lain dari Istanbul.
Thx for share mba Annie.
Semoga suatu saat Mbak Gita bisa menginjakkan kaki di Turki ya. Khususnya di Istanbul yang sarat dengan jejak sejarah. Memorable place indeed.
Masyaallah, Mbak Annieeeee, makasih udah ajakin aku jalan-jalan lagi lewat foto-foto dan cerita keren ini di Masjid Eyup. Hehehe.
Semenggoda itukah rempah Turki mbak? Aku pernah makan di restoran Turki dua kali, apakah kurang lebih rasanya mirip jika makan di negaranya langsung?
Turki, ya.
Selain budaya nya yang indah untuk dikulik, perjalanan sejarah islam nya juga membuat aku pengen ke sana. Sayang nya belum ada waktu dan rejeki