
Kunjungan ke Gunung Erciyes yang berada di Kayseri ini ada di agenda hari ke-6 ketika saya bergabung dengan rombongan liburan “Winter in Turkey” yang difasilitasi oleh Wisata Halal Indonesia Tour & Travel Jakarta. Agenda panjang berlibur yang saya ikuti selama 9 hari di Turki (23-31 Januari 2025)
Erciyes menjadi tulisan pertama saya tentang rangkaian perjalanan ini. Kenapa? Karena dari keseluruhan program yang sudah dicanangkan oleh Wisata Halal Indonesia (WHI), Gunung Erciyes yang berada di Kayseri begitu berkesan di hati. Tidak cuma bicara tentang tempatnya tapi juga di sinilah saya akhirnya bisa menggenggam dinginnya salju. Bermain melempar-lempar salju, memotret, dipotret di perbagai sudut pun menjadi bagian dari kisah perjalanan yang tak akan terlupakan.
Hari itu, bis besar kami meninggalkan Cappadocia yang telah kami susuri selama dua hari semalam. Saya memeluk erat winter coat yang terpakai di badan karena rombongan kami akan berpindah dari kota yang diselimuti udara dingin menuju salah satu sumber udara dingin tersebut.
Sepanjang perjalanan mulut saya tak henti mengucap rasa syukur yang tak terwakilkan oleh diksi apapun.
Bahkan saat Felix, local guide yang mendampingi kami, mulai bercerita tentang Erciyes saat bis kami melaju dan memasuki luasnya kawasan pegunungan ini, mata saya langsung berkaca-kaca. Tak menyangka bahwa agenda yang saya tunggu-tunggu sejak datang dan mendarat di Istanbul Turki, sudah di depan mata. Saking terkagumnya, saya sampai gak sadar bahwa saya tak sempat menyentuh alat perekam video yang saat itu ada di genggaman. Padahal momentum itu sudah saya tunggu sekian lama.
“Bu Annie tidak bikin video tadi saat datang?” Sapaan Felix ini kemudian menyadarkan saya. Persis tak lama kami turun dari bis dan melangkah ke arah pintu masuk Erciyes.
Saya sempat bengong dan gelagapan sebentar. Astaga. Iya ya.
“Mari sini. Saya saja yang pegang video recorder nya,” lanjut Felix sembari menjulurkan tangannya. Lelaki asli Turki dan sangat fasih berbahasa Indonesia ini tersenyum ramah. Tawarannya pun langsung saya terima dengan senang hati.
Jadi saat semua peserta berpencar dan Felix berjalan ke arah yang berbeda, saya meyakinkan akan mendapatkan video apik yang dia rekam. Felix pun tak lupa menyampaikan pesan bahwa dalam satu jam ke depan semua harus berkumpul di H2650 Cafe & Restaurant yang berada di puncak gunung Erciyes untuk makan siang bersama.
Sebelum berpencar tadi, bahkan saat masih di bis, Felix juga sempat menyebarkan informasi bahwa anggota rombongan punya dua opsi kegiatan selama 2 jam berada di Erciyes. Pertama, langsung menuju puncak gunung dengan menggunakan cable car yang ada di dekat pintu masuk. Atau kedua, ikutan kegiatan snowboarding, skiing, atau naik motor (ATV) penjelajah tiga roda yang bisa ditumpangi oleh dua orang. Tentu saja pilihan ke-2 ini ada biaya tambahan yang ditanggung oleh masing-masing peserta karena memang tidak masuk dalam paket fasilitas yang disediakan oleh pihak travel.
Saya sempat galau mengambil keputusan. Naik motor itu sungguh pilihan menarik. Tapi biayanya cukup merogoh dompet. Kalau dikonversikan ke rupiah sekitar Rp2.500.000,00 (dua juta lima ratus ribu rupiah) untuk sekitar masa peminjaman selama 20 menit. Tapi belakangan pas sudah sampe rumah, saya langsung dirundung penyesalan. Padahal kapan lagi kan menguji nyali, ngebut naik motor pendek roda empat (All Terrain Vehicle), ngepot di atas jalan bersalju. Padahal saya suka sekali dengan kegiatan penuh tantangan dan membangkitkan adrenalin. Apalagi setelah melihat foto-foto seru selama balapan motor dengan cipratan salju serta teriakan-teriakan yang menggema. Nyeselnya ampun-ampunan. Alamak.


Memutuskan untuk melanjutkan eksplorasi menuju salah satu titik tertinggi gunung Erciyes dan mengikuti arahan yang sudah diberikan tour guide, saya bersegera melangkah ke stasiun cable car yang ada di sisi bawah gunung. Ukuran cabin box nya terlihat lumayan besar. Muat untuk sekitar 6-8 orang. Tapi karena gerak perpindahannya lumayan cepat dan tidak bisa direm, saya pun langsung meloncat masuk ke deretan cabin yang terlihat kosong saja.
Melewati masa perjalanan “mendaki” sekitar 30 menit, saya tak henti melepaskan pandangan ke luar lewat dinding kaca cabin box yang terpasang di setiap sisi, termasuk di lantainya. Semakin tinggi semakin banyak yang bisa saya lihat. Dan itu sungguh melahirkan kekaguman yang menyesap di hati. Saya kembali merapatkan jaket hitam saya
Beberapa menit pertama saat cabin melaju naik, saya bisa melihat jalur jalan masuk yang tadi dilewati oleh bis yang saya tumpangi. Parkiran yang begitu luas dan penuh dengan kendaraan yang pijakan tanahnya sudah bebas salju. Lalu terlihat juga beberapa bangunan di titik awal seperti sederetan cottage kecil, function hall tempat para tamu menyewa peralatan ski, sebuah restoran dan tangga yang lumayan tinggi di sebelahnya, serta masih banyak lagi.
Yang membuat saya terkesan juga adalah kumpulan para pengunjung di titik awal tadi. Perlahan mereka terlihat semakin kecil. Tampak ribuan orang menyebar di berbagai titik dengan kegiatan yang beragam. Ramainya pengunjung malah lebih terlihat saat saya menyaksikan mereka dari sebuah ketinggian. Semakin tinggi saya berada, titik-titik manusia itu tampak bagai bongkahan batu kecil yang berpindah karena tertiup angin.
Dalam beberapa waktu saya juga melihat banyak orang bermain ski dengan lincah. Pada kecepatan tertentu mereka berpapasan dengan cabin box yang saya naiki. Kelihaian menggerakkan kaki dan meliuk-liukkan badan terlihat seperti orang yang sedang menari riang. Selain menginjakkan kaki di papan ski yang saya lihat di bawah tadi, orang-orang ini tampak terbungkus ski wear yang begitu rapat di tubuh. Saya yakin butuh keahlian khusus untuk bisa menyeimbangkan gerakan kaki, tangan, dan tubuh, agar bisa mengendalikan permainan ski ini.
Kalau tinggal di Turki – Cappadocia lebih tepatnya – saya mungkin akan berusaha menguasai permainan ski ini. Karena hanya berjarak sekitar dua puluhan kilometer, saya tentunya akan rajin ke Erciyes untuk menghabiskan masa atau musim dingin sembari bergelut dengan salju.
Selain keindahan tebaran salju yang putih solid ini, pandangan saya teralihkan dengan banyak titik hijau dan warna tanah yang banyak bertebaran di beberapa sisi bukit. Saya kembali mengamati. Ah ternyata memang tidak seluruh sisi gunung tertutup salju. Ada beberapa bagian yang tetap hijau. Saat saya bertanya ke Felix tentang hal ini, dia menjawab bahwa hal ini mungkin terjadi karena masalah iklim global atau memang saat itu suhu udara dinginnya tidak maksimal.
Mencapai titik tertinggi cable car, saya kembali merapatkan winter jacket hitam saya, mengenakan sarung tangan, syal wol yang merapat ke leher, earmuff yang terpasang pas di kedua telinga, dan mengenakan kacamata hitam. Sesuai dugaan, di atas sini anginnya cukup kencang dengan sinar matahari yang bersinar cukup garang.
Beberapa langkah dari pintu keluar cable car kemudian mengikuti arahan petugas untuk segera bergerak menjauh dari titik tunggu, saya melihat lautan pengunjung yang beraktivitas di beberapa tempat menarik. Nuansa hiruk-pikuk pun sangat terasa.
Saya menebarkan padangan ke beberapa arah sejauh mata memandang. Beberapa menit kemudian saya memutuskan untuk melangkah ke H2650 Cafe & Restaurant. Menikmati secangkir kopi yang saya lewatkan saat sarapan di hotel. Rezeki – tanpa sengaja – saya menemukan pop-mie bertuliskan salah satu jenama nasional yang memang sudah mendunia.
Sempurna betul rasanya. Di tengah gempuran udara dingin, saya menikmati secangkir kopi hitam khas Turki, semangkuk pop-mie, dan menghangatkan diri sementara sebelum bermain salju.
Mari kumpulkan tenaga dulu.


Setelah cukup beristirahat, saya bergegas memompa semangat untuk menyusur setiap sudut bahu gunung Erciyes. Keinginan kuat untuk menggenggam dinginnya salju mendadak berloncatan di hati. Sesaat setelah keluar dari cafe yang mulai terlihat sibuk dengan membakar ikan, daging, dan sumber protein lainnya, saya melihat beberapa sudut foto yang sarat dengan antrian yang cukup panjang.
Satu diantaranya adalah tulisan panjang ERCIYES yang terbuat dari tumpukan dan/atau susunan potongan kayu yang dikerangkeng oleh besi solid. Sementara bagian bawahnya disanggah oleh bangunan semen dengan pinggiran kayu yang dibuat memanjang. Sulit untuk mendapatkan potret tanpa “bocor” sama sekali. Apalagi saat itu wisatawan banyak memenuhi area ini. Dan karena bentuknya yang memanjang – mungkin sekitar 5-6 meter – perlu tantangan khusus dan kesabaran luar biasa dalam mengambil sudut foto agar setiap hurufnya bisa terlihat utuh.
Tak ingin berlama-lama membuang waktu karena sadar akan antrian, akhirnya saya dan seorang photographer asal Norwegia bergantian memotret satu sama lain. Hasilnya sungguh memuaskan. Memegang handphone yang saya miliki dia memotret saya dari berbagai sudut dan dengan beragam ukuran. Mulai dari portrait hingga landscape. Saya beruntung banget bisa bertemu beliau yang ternyata juga mampu memberikan arahan gaya. Wah serasa benar-benar di studio hidup.
Begitu pun saat giliran saya melakukan hal yang sama. Mungkin karena terbiasa mengarahkan, dia pun begitu luwes dalam bergaya. Saya seperti sedang berhadapan dengan model lelaki ketimbang seorang tukang potret. Wajahnya sesungguhnya tidak terlalu istimewa tapi karena paham dengan sudut terbaik dari wajah dan struktur body sendiri, saya mendadak merasakan geliat photoshoot session yang (sangat) jarang terjadi dalam hidup saya.
Tak ayal sebuah obrolan hangat meski singkat dan ucapan saling terima kasih meluncur dengan manisnya setelah sesi pemotretan itu.
Tapi ternyata tugas memotret saya tidak segera berakhir. Barisan teman-teman dari rombongan Winter in Turkey ternyata memperhatikan kegiatan kami. Mereka pun akhirnya berbaris rapi minta difotokan, dengan hasil persis seperti apa yang sudah saya dapatkan.
“Duh, mau dong difoto seperti ini,” ujar mereka berlomba-lomba dan mendadak mengerubungi.
Canda tawa cerah ceria plus kehebohan berfoto pun kemudian berlanjut. Saya menanggapi dengan suka cita. Kapan lagi kan bisa berfoto di gunung Erciyes Kayseri Turki lewat jasa photographer gratis.
Kali ini di satu spot khusus yang mengarah ke pemandangan bukit yang berbeda. Jika tulisan panjang tadi mengarah ke puncak gunung, yang satu ini berlatar belakang suasana serta pemandangan yang berbeda meski keduanya sama-sama diliputi salju.
Di spot ini terdapat installment berbentuk hati dan tulisan ERCIYES di atasnya kemudian ada kayu bersusun berdampingan untuk area berpijak/berdiri ini, antrian pun lumayan mengular. Semua unsur bangunan sama persis seperti yang tadi. Hanya berbeda bentuk saja.
Saya mencoba mencari si bapak photographer tadi untuk bekerja sama. Sayangnya dalam 30 menit menunggu giliran, saya tidak menemukan beliau. Jadi ya sudahlah. Titik foto nya kebetulan tidak sesulit yang tadi. Jadi akhirnya saya harus melatih/mengajarkan arah dan posisi foto kepada rekan seperjalanan. Meskipun hasil akhirnya – untuk foto saya sendiri – tidak seperti yang diharapkan, hati saya tetap gembira. Lumayanlah. Paling enggak ada beberapa personal shoot yang terekam indah di spot hati yang satu ini.


Selesai urusan dengan potret memotret di dua spot foto tadi, saya mengajak kaki menyusur setiap area sembari merasakan tantangan menyusur langkah di atas tumpukan salju. Untungnya, saya mengenakan sneakers dengan bagian alas yang cukup cengkram. Jadi ketakutan akan terpeleset karena efek licin salju tidak terjadi. Tentu saja dengan tetap mengatur pijakan serta kecepatan mengatur langkah. Karena terkadang – tanpa kita duga – salju yang akan kita lalui berupa tumpukan, jadi jangan kaget jika dalam sewaktu-waktu langkah kita bisa jeblos cukup dalam tanpa diduga. Cukup atur keseimbangan dan tidak panik. Banyak hal ini sungguh saya perhatikan karena kondisi HNP di tubuh yang harus sangat saya pedulikan.
Lalu gimana kondisi udara dan suhu di saat itu?
Terus terang saya tidak kepikiran mengukur suhu saat itu. Tapi untuk saya yang terbiasa tidur dengan suhu AC sekitar 19-22’C, saya tidak merasakan tubuh menggigil. Apalagi sinar matahari sesiangan itu tak pernah redup barang sedikit pun. Yang membuat saya merapatkan jaket, syal, dan earmuff adalah angin yang berhembus kencang. Untuk urusan angin ini saya cukup menyerah.
Tak berapa lama saya mendengar nama saya menggema di udara.
Dydha, tour guide WHI yang menyertai kami dari Jakarta, berteriak kencang memanggil saya dari sebuah kejauhan sembari melambai-lambaikan kedua tangannya. Dia tampak semangat karena telah menemukan tumpukan salju lembut dengan sudut pengambilan gambar yang estetik. Diantaranya adalah warna langit biru dan lekukan pegunungan yang apik serta posisi matahari yang sangat pas untuk jadi background foto.
Di dalam bis dan dalam perjalanan menuju Erciyes, saya memang sempat berdiskusi dengan Dydha soal rencana berfoto sembari melempar butiran salju lembut ini. Konsep foto ini terbawa dan melintas dalam pikiran bahkan jauh sebelum berangkat. Idenya nyontek juga sih. Lewat sebuah tautan seorang pejalan populer yang kemudian dia bagikan lewat media sosial.
Tak sedikit shoot uji coba saya lakukan hingga bisa menghitung waktu jepret dan posisi foto yang sempurna. Foto pun harus diulang berkali-kali hingga kami menemukan satu kesepakatan hitungan. Baik untuk saya sebagai modelnya, khususnya saat melempar salju ke udara dan untuk Dydha yang bertugas sebagai photographer.
Akhirnya atas permintaan saya, foto yang saya inginkan tersebut bisa terwujud. Saya menengadah dengan tangan terkembang, kepala menghadap ke arah ujung tangan, lemparan salju berupa kumpulan bulatan berada di tengah, dan (sinar) matahari berada satu garis lurus dengan kedua tangan saya.
Saat jepretan itu berhasil, kami semua melonjak girang. Ya ampun. Sungguh momen yang patut untuk selalu diingat. Sebuah memori istimewa telah terukir dari menggenggam dinginnya salju di Erciyes Kayseri Turki.



Tak terasa waktu hampir dua jam sudah berlalu. Saya melihat rombongan teman-teman yang menaiki ATV (All Terrain Vehicle) sudah berkumpul di area atas. Kehebohan cerita mereka mengisi pertemuan kami saat kembali bertemu untuk menikmati makan siang di H2650 Cafe & Restaurant.
Cerita mereka kebut-kebutan memecah salju serta foto-foto yang seru pun mereka bagikan. Ya ampun. Lihat foto-foto apik yang ada di handphone mereka sungguh membuat saya terdiam. Beneran nyesel gak ikutan kepot-kepotan dengan ATV. Tapi jangan salah, mereka juga menyesal gak sempat berfoto di beberapa spot yang barusan saya rekam. Jejeritan saling iri pun bergema diiringi dengan tawa tergelak-gelak. Ampun. Jadi gak heran jika banyak tamu di H2650 Cafe & Restaurant bolak-balik melirik ke arah kami yang heboh berkelanjutan.
Yuk ah mari makan siang dulu. Seperti biasa, menunya adalah ikan bakar, nasi, dan salad ala Turki. Jujurly karena sudah berhari-hari merasakan menu yang hampir sama dengan bumbu seadanya, apa yang ada di piring saya telan aja. Tidak membiarkan perut kosong supaya punya energi untuk menjelajah kembali.
Dan ah mendadak kangen dengan beragam sajian soto nusantara. Nikmat kali ya makan menu berkuah seperti Soto Betawi, Soto Ayam, Soto Daging, di tempat sedingin Erciyes ini. Apalagi terus dilengkapi dengan berbagai sate (sate usus, sate jeroan, dan lain-lain). Alamakjang. Kemewahan kuliner yang pasti laris jika ditawarkan di sini.

Saya sesungguhnya masih ingin (banget) berlama-lama di Erciyes, Kayseri ini. Apalagi saat menaiki cable car untuk menyentuh titik di mana saya datang tadi. Angin berhembus tambah kencang saat saya usai ke toilet dan melihat area sewa peralatan ski semakin ramai, dipadati oleh pengunjung. Setidaknya situasinya jauh lebih sibuk dibandingkan dengan saat saya datang tadi.
Sebelum kembali ke bis, saya berdiri di satu tempat yang memungkinkan saya kembali membuang pandangan ke titik tertinggi yang saya kunjungi tadi. Gundukan putih tampak sangat menentramkan hati. Tapi saking tingginya, saya hanya mampu melihat H2650 Cafe & Restaurant yang begitu kecil di netra saya. Jalur cable car juga dan deretan cabin box yang terus bergerak pun menjadi pemandangan yang kini saya rindukan.
Ketika bis bergerak menjauh, saya terus memegang sekepal salju yang saya ambil beberapa menit yang lalu. Kepingan salju yang kemudian meleleh seiring dengan rasa yang tercipta untuk Erciyes.
Hati saya mendadak sendu tapi setidaknya misi saya untuk menggenggam dinginnya salju di Erciyes Kayseri Turki sudah terkabulkan. Sebuah perjalanan di awal 2025 yang begitu indah terukir di hati. Satu dari sekian deret travel wish list yang dikabulkan-Nya.
See you when I see you Erciyes. You’ll be well-crafted in my heart.




IG @annie_nugraha | Email : annie.nugraha@gmail.com



sama, saya juga sering nyesel gak beli sesuatu atau mencoba sesuatu hanya karena pertimbangan uang
Padahal kapan lagi ke sana? Jumlah uang jadi gak ada artinya dibanding pengalaman memorable yang gak bisa tergantikan
Eniwei sepanjang tulisan ini saya was-was, karena Mbak Annie kan punya riwayat HNP
Alhamdulilah lancar. Semoga selalu sehat ya Mbak
Hahahaha iya Mbak. Ada pepatah yang bilang “Lebih baik nyesal beli daripada nyesel gak beli”. Duh saya beneran nyesel gak ikutan naik ATV di atas salju itu. Padahal dah kebayang keseruannya. Apalagi setelah ngeliat foto-foto temen-temen yang ikutan. Semoga ada rezeki kembali ke Erciyes.
Ho oh. Saya jalan hati-hati banget sambil digandeng adik ipar. Alhamdulillah gak terpeleset sama sekali.
Aiihh mau banget mainan saljuuuu :D
Aku baru tahu Erciyes ini mbak. Ternyata gak jauh dari Cappadocia yaa. Jadi kalau Turki sebaiknya sempatkan ke sana juga :D
Ternyata masuh ada keliatan ijo2nya ya gak ketutup salju semua. Emang masalah iklim jadi problem buat semua negara ya, jadinya dinginnya gak kyk dulu.
Eh tapi di area sana sebenarnya kalau bukan musim salju apakah aslinya perbukitan hijau gitu mbak atau sepanjang tahun memang daerahnya bersalju?
Ternyata bisa naik ATV juga tapi sewanya mayan yaa, mana cuma 20 menit, kalau minimal 1 jam sih keknya masih mayan hehe.
Tapi gpp gk naik motor pun tetep bisa hepi2 main salju dan pepotoan yaa :D
Karena memang di dataran tinggi, Erciyes memang hampir selalu bersalju, kecuali dalam kondisi cuaca panas ekstrim. Tapi itu juga gak terduga. Waktu aku ke sana ada beberapa bagian gunung yang masih tak tertutup salju. Eh rombongan berikut malah kena badai salju. Beruntung banget akutu bisa datang dalam kondisi cuaca yang akomodatif.
Dulu cita-cita pengen main salju juga. Eh, cuaca dingin malahan ndak bisa tidur. Apalagi dinginnya karena demam. Aduhai banget rasanya tuh kaki meringkuk. Eh, katanya ada juga ya paket umroh sama sekalian travel ke Turki. Mana tahu kan nanti sekalian hehee…. semogalah bisa nyusul juga untuk mewujudkan tadabur alam di luar negeri.
Saya juga pernah ditawari paket umrah + Turki. Tapi ternyata di Turkinya hanya ke Istanbul aja. Sementara yang ini memang khusus mengunjungi banyak tempat wisata yang ada di berbagai daerah di Turki. Lebih menyenangkan.
Langit cerah dan salju di mana-mana, ini pemandangan mahal bagi warga negara kita mbak. Dan beruntung Mbak Annie bisa melihat dan merasakan secara langsung.
Penyesalam emang selalu datang terlambat ya. Tapi malah bisa dijadikan motivasi mbak, lain kali harus ke Erciyes lagi dan njajal naik ATV nya
Bener Mbak Nanik. Makanya saya menunggu-nunggu banget jadwal ke Erciyes ini dari sederetan program yang dibuat tour. Pas sampe langsung termangu-mangu. Gak percaya kalau bisa sampe ke pegunungan es seperti Erciyes ini.
Aamiin Yaa Rabbalalaamiin. Semoga bisa kembali ke Turki. Pengen explore sendiri. Gak ikut rombongan. Biar bisa bebas ngatur jadwal dan waktu sendiri.
Fotonya aesthetic semua, Mbak! Apalagi yang di spot tulisan ERCIYES, untung banget ketemu photographer dadakan dari Norwegia ya! ๐ Dan ide foto lempar salju di bawah sinar matahari itu epic banget! Pop mie go international juga ternyata. Semakin jadi ciri khas dong ya kalau naik gunung memang nikmat banget menyantap pop mie hehehe
Udara, cahaya, dan kondisi alamnya juga mendukung Myr. Foto-fotonya jadi punya banyak sudut estetik dan cantik untuk dipotret. Banyak sebenarnya foto yang ingin saya hadirkan. Milihnya sampe lama banget buat dihadirkan di blog hahahaha.
Aku asli takut sama dingin. Tapi, kalau baca artikelnya dan liat foto2nya, kayanya layak dicoba ya
Wah kebalikan sama saya yang pecinta udara dingin.
Wah Turki, kemaren Desember mau ke sana tapi gagal total. Huhuhu…. seru ya mbak, salju-saljuan di sana. Kalo ke sana lagi, titip Turkish Delight ya hehehe
Makanan/masakan Turki tuh penuh gula banget pokoknya. Manisnya gak ketulungan. Termasuk Turkish Delight itu. Baru nyobain 1 keknya mau pingsan hahaha. Mungkin karena kebetulan saya memang bukan penggemar makanan manis.
Sayang banget sih emang, Kak Annie. Harusnya kalau emang ada budgetnya, gas aja ngepot-ngepot naik ATV di atas salju. Seru banget pasti.
Iya. Seru banget itu padahal. Jarang-jarang kan naik ATV di lahan salju. Ah jadi pengen balik.
Ke Turki pas musim salju tuh jackpot banget ya kak. Karena di Indonesia gak ada yang begini, pasti jadi pengalaman tak terlupakan