Merambah Ilmu Dari Jepretan Berpiring Makanan dan Bergelas Minuman
Produk donat dari jenama DONUTHING

Sekitar 3-4 tahun yang lalu saya sempat berdiskusi dengan seorang teman baik mengenai dunia photography. Waktu itu kami sedang mencari seorang photographer yang bisa mengajarkan banyak hal tentang memotret jewelry dagangan kami agar lebih kinclong tampilannya di media sosial. Ternyata gak gampang diwujudkan karena sebagian besar photographer fokus di food photography. Meskipun belum sebanyak sekarang.

Setelah beberapa kali ngobrol dengan beberapa tukang potret pun, kami tak menemukan yang bisa dan bersedia (catet: bersedia) mewujudkan impian kami. “Memotret perhiasan itu butuh keahlian khusus Mbak. Beda penguasaannya dengan memotret makanan atau minuman,” begitu alasan yang saya terima dari berbagai sumber. Giling gak seh. Jadilah akhirnya, berbekal skill yang pas-pasan saya motret seadanya aja. Yah setidaknya, menurut beberapa teman, hasil tangkapan layarnya representable enough untuk skala amatir (ngakak dari Sabang sampai Merauke).

Pandemi yang Merubah Segalanya

Tahun 2020 pun datang. Tanpa disangka dan diduga, info bahwa pandemi Corona yang berasal dari Cina mulai menyebar di tanahair, akhirnya datang juga di awal Maret 2020. Tepat di saat saya dan suami sedang traveling ke Surabaya. Pada saat check-in hotel saya diminta menandatangani sebuah surat pernyataan yang berisi bahwa saat itu saya tidak datang dari negara Cina. Waduh, feeling saya langsung gak enak. Jangan-jangan habis ini, gak lama lagi, Indonesia juga akan lock-down. Dan itu benar-benar terjadi seminggu setelah saya kembali ke rumah.

Media televisi, media sosial, dan berbagai jalur informasi pun mulai dipadati oleh berita merebaknya pandemi. Keputusan tentang pembatasan aktivitas pun dikeluarkan oleh pemerintah. Beberapa daerah bahkan dengan sangat ketat memberlakukan berbagai larangan agar rantai penyebaran virus dapat diputus. Semua dirumahkan termasuk orang kantoran, pekerja dan usaha sektor real, serta anak-anak sekolah (mulai dari tingkat dasar sampai universitas).

Semua mendadak berubah.

Merambah Ilmu Dari Jepretan Berpiring Makanan dan Bergelas Minuman
Sei Sapi dari SEI SAPI KANA CIKARANG

Dengan adanya pelarangan melakukan perjalanan pun akhirnya merubah seluruh nafas kegiatan saya. Dari yang ringan dan bebas keluyuran, harus jadi orang rumahan. Sebenarnya bukan masalah besar sih untuk saya karena pada dasarnya banyak kegiatan-kegiatan mandiri yang betah saya kerjakan di rumah. Seperti membaca, crafting, bahkan menulis.

Anak-anak? Semua sudah mandiri. Saya tidak perlu waktu khusus untuk mengajari mereka karena memang sudah di sekolah tingkat atas dan sudah pada tahap harus bisa bertanggungjawab atas diri sendiri. Palingan cukup mengontrol, menanyakan jadwal, ngecek hasil ujian on-line, dan membantu si bungsu membuat video tugas dari sekolah. Selain itu jadi waktu yang berlebih buat saya.

Karena pada dasarnya gak bisa diem, akhirnya saya ngoprek-ngoprek kerjaan lain. Seperti yang alm. Ayah saya katakan, “Annie itu baru diem di rumah kalau lagi sakit. Selebihnya ya musti di luar.” Temen yang paham atau kenal baik musti sepakat dengan ini. Emang bener sih. Tapi kalo lagi pandemi gini kan ya mana bisa ngukur jalan. Ijin dari kepala suku di rumah juga gak bakalan keluar.

Entah kapan tepatnya akhirnya kegabutan itu menemukan jalannya. Akhirnya saya menemukan waktu dan alasan yang tepat untuk BELAJAR LAGI. Yup. Belajar on-line tepatnya. Berbagai webinar saya ikuti. Ragamnya banyak mulai dari nganva (dari aplikasi Canva), sales and marketing, mengelola media sosial, virtual tour, tentang dunia tulis menulis, Hangeul (aksara Korea) dan food photography. Sudah nyoba nyari ilmu tentang motret perhiasan, tapi tetap gak nemu, jadi ya sutralah. Sementara nawaitu yang satu itu memang kudu dipupus dulu.

Dan eeehh, nonton film plus nge-drakor juga deh hahaha. Aktivitas yang terkubur dari tahun 2003 ini muncul lagi gegara ada temen yang ngasih referensi drakor yang bagus. Jadilah dalam sehari saya selalu menyempatkan diri menghabiskan waktu sekitar 3-4 jam untuk nonton. Pernah bisa lebih dari itu karena ternyata nonton drakor bisa disambi dengan ngecraft. Asik kan? Satu lagi kalau ketemu buku, film atau drakor yang begitu berkesan di hati, ujung-ujungnya jadi materi tulisan juga.

Baca juga: Berimajinasi Lewati Ilustrasi CANVA
Baca juga: REPLY 1988 답장. Tetangga Rasa Keluarga dan Persahabatan Penuh Makna이웃 가족의 의미와 의미있는 우정

Menemukan Passion di Food Photography

Merambah Ilmu Dari Jepretan Berpiring Makanan dan Bergelas Minuman
Strawberry Juice yang saya beli dari abang-abang penjual juice gerobak di dalam kompleks perumahan saya

Diantara semua kegiatan yang menghiasi masa-masa di rumah saja, food photography lah yang akhirnya saya seriusi. Mulai dari ngikut kursus on-line berkali-kali dengan berbagai guru, ngumpulin properti, lebih mengenal gear yang sudah saya miliki, membantu memotret produk teman-teman UKM, sampai akhirnya bisa menjadikan keahlian ini untuk nambahin uang jajan. Atau jika tidak mendapatkan tukar jasa berupa uang, setidaknya saya bisa merasakan berbagai produk makanan dari berbagai produsen dengan rasa dan jenis yang berbeda-beda.

Hingga detik ini, saat saya menuliskan artikel ini, saya masih dalam proses belajar, belajar lagi dan belajar terus. Dalam waktu-waktu tertentu dilengkapi dengan diskusi, tukar pendapat bersama mereka yang dengan senang hati membangun komunikasi serta berbagai ilmu. Untuk menyemangati diri, saya juga masih sering melakukan IG walking ke beberapa akun food photographer untuk melahirkan ide-ide baru. Setidaknya di saat kejenuhan melanda, melalui kegiatan-kegiatan ini, saya tetap semangat untuk menggali ilmu.

Beranjak dari niatan untuk berbagi, terutama pada mereka yang (mungkin) belum mengenal tapi ingin mencoba food photography, saya mencoba merekam semua pengalaman yang sudah saya lewati dalam sebuah tulisan dan atau rangkuman. Terutama untuk hal-hal yang perlu diperhatikan oleh seorang pemula.

Rinciannya pun masih bersifat general. Pengetahuan dasar dan umum. Tapi menjadi begitu penting saat kita benar-benar ingin terjun atau terlibat di dalam kegiatan potret memotret makanan dan minuman. Sama aja seperti analogi bisa membaca dan menulis. Semua harus dimulai dari sekolah TK baru setelah itu lanjut ke Sekolah Dasar.

Berikut adalah rangkaian proses, langkah-langkah awal dan tumpukan catatan dari pengalaman saya dalam dunia food photography.

Merambah Ilmu Dari Jepretan Berpiring Makanan dan Bergelas Minuman

1. Mengenali alat untuk memotret

Mau menggunakan apapun itu, baik kamera analog (DSLR atau mirrorless) atau handphone, mengenali dan memahami kemampuan alat yang kita gunakan untuk memotret adalah langkah awal dari sekian proses untuk memulai segalanya.

Saya memutuskan untuk menggunakan handphone sebagai tool untuk belajar food photography. Selain karena ke-3 alasan di atas, juga karena saya putus hubungan dengan DSLR karena pertimbangan kesehatan. Setiap ada waktu, puas rasanya ngotak-ngatik handphone sambil terus uji coba dengan berbagai obyek, meskipun dengan alat penunjang seadanya.

Tak terhitung berapa kali nonton di youtube atau baca via google soal handphone milik saya. Kalau sudah mentok biasanya saya menghubungi teman yang menggunakan jenama handphone yang sama meskipun beda seri. Bisa jadi dia sudah muntah saya tanyain terus-terusan. Tapi saya mah muka tembok hahahaha. Kadang satu topik bisa tak tanya berulangkali karena belum paham. Malu? enggak aaahh. Males? eehh jangan dong. Namanya juga belajar.

2. Berguru pada orang yang tepat

Selesai belajar mandiri, langkah berikutnya adalah menambah ilmu lewat guru yang tepat. Pilihannya ada 2. Bisa dari sebuah organisasi atau bisa juga dari usaha perorangan. Saya cari 2-3 alternatif sebagai pembanding, sebelum akhirnya memutuskan untuk belajar dari sebuah studio foto yang memang berbisnis dalam dunia photography.

Hubungi nomor yang disediakan lalu tanya seluruh info yang bisa digali untuk kelas yang kita inginkan. Kumpulkan semua informasi. Mulai dari rangkaian program (modul), media pengajaran (cara penyampaian materi), sampai rincian waktu belajar. Semua saya mintakan dalam bentuk tertulis agar dapat dibaca ulang dan dievaluasi.

Jangan terpaku dengan banyaknya prestasi pengajar atau ngetopnya dia di dunia maya. Bisa jadi skill yang tinggi dan orang yang pintar, belum tentu bisa/mampu menyampaikan ilmunya kepada orang lain. Jangan juga patah arang dengan biaya. Kalau kemahalan, ya cari lagi tempat/orang yang lain.

Untuk saya pribadi, apa yang menjadi pertimbangan awal untuk memilih adalah program yang jelas dan media pengajaran yang digunakan (lewat tulisan dan video yang bisa diakses kapan saja). Karena dengan modul yang tepat, seyogyanya akan memudahkan kita untuk beradaptasi. Apalagi semua materi akan disampaikan secara on-line. Jadi butuh kemandirian tingkat dewa. Kalau dari modul pembelajaran aja kita sudah gak nyambung dan kita tidak disiplin, berarti belajarnya sudah gak efektif dan efisien.

Puas dengan belajar yang serius di tingkat dasar, tambahlah pengetahuan dengan mengikuti berbagai webinar dengan topik-topik yang semakin mengerucut. Misal kelas khusus food styling atau mengatur komposisi obyek foto, tentang pencahayaan, dan lain-lain. Banyak kok penawarannya tersebar di media sosial.

Intinya, tak kenal letih untuk selalu belajar.

Baca juga: DANCING SNAIL. Bukannya Malas, Cuma Lagi Mager Aja. Kekayaan Literasi dan Ilustrasi Dalam Satu Wadah (book review)

3. Mengumpulkan energi dan niat untuk praktek

Merambah Ilmu Dari Jepretan Berpiring Makanan dan Bergelas Minuman

Ngoprek sudah, ngelmu sudah, selanjutnya? Ya praktek dong. Mosok dah capek-capek belajar terus gak dipraktekkan? Sayang kan waktu, tenaga dan biaya yang sudah dihabiskan.

Emang sih menyemangati diri sendiri itu gak gampang. Kudu ada niat yang kuat dari dalam diri sendiri. Strategi saya untuk yang satu ini adalah melibatkan orang lain. Suami, anak-anak, dan tentu saja teman-teman dekat yang berkenan jadi evaluator hasil karya saya.

Hal lain yang cukup krusial adalah mengikuti arahan-arahan yang sudah diberikan oleh semua guru. Termasuk diantaranya memiliki perlengkapan atau peralatan dasar yang wajib dimiliki oleh tukang potret pemula seperti saya. Modal lagi? Yah memang begitu. Coba deh kalau gak punya, pasti gak mulai-mulai. Setidaknya dengan adanya properti ini dan dana yang sudah dialokasikan, saya terdorong untuk memanfaatkan semua fasilitas dengan sebaik-baiknya.

Merambah Ilmu Dari Jepretan Berpiring Makanan dan Bergelas Minuman
Studio mini di dalam rumah saya | Properti semua saya kelompokkan sesuai dengan jenis dan fungsinya | Jadi meski banyak, semua tampak teratur dan mudah untuk dicari kembali
Merambah Ilmu Dari Jepretan Berpiring Makanan dan Bergelas Minuman
Sunpan | Jualan tetangga

Khatam dengan 3 poin di atas, yok sekarang lanjut dengan deretan ilmu teori yang saya dapatkan dari berbagai sumber. Referensi utama saya ambil dari IG @TMXPictures milik Mas Eddy Sukmana. Seorang photographer yang sudah kenyang malang melintang di dunia photography.

1. Properti foto yang wajib dimiliki

Untuk langkah awal, ada 3 jenis properti yang sebaiknya dimiliki. Pertama adalah properti dengan sentuhan natural. Dari kayu, gerabah, anyaman bambu atau dari beling transparan misalnya. Kedua adalah properti dengan sentuhan warna putih gading (bukan putih susu) dan ketiga adalah dengan warna hitam. Jenisnya adalah berbagai wadah seperti piring, mangkok, dan gelas.

Sementara properti tambahan/penunjang adalah kain berwarna polos (1 putih dan 1 berwarna agak gelap), sendok/garpu, tatakan/talenan, bunga/tanaman kering (stok yang artificial aja supaya lebih awet), dan yang terpenting adalah alas + background foto. Pilihlah warna atau jenis yang mendukung properti foto yang sudah dijelaskan di atas.

Khusus untuk alas dan background foto belilah yang ukurannya minimum 1x1m agar area memotret lebih luas dan memotretpun jadi lebih leluasa. Carilah yang bahannya tidak gampang kotor, tidak mengkilat dan tahan air. Kedua materi ini bisa jadi polos, bermotif, atau menggunakan beragam materi kayu. Saya belakangan lebih suka memotret dengan alas dan background kayu dan triplex. Sebagian besar adalah buatan suami. Warnanya beragam. Mulai dari putih, natural dan hitam. Ada juga yang memang serat-serat kayunya dibiarkan begitu saja karena sudah cantik darisananya.

Untuk peralatan makanan, menimbang ketersediaan dana, saya untuk sementara ini lebih banyak menabung/membeli perlengkapan yang terbuat dari melamin. Hampir 70% melamin. Selebihnya ya keramik atau kaca. Melamin juga bagus loh. Terutama yang berwarna hitam. Selain tidak gampang pecah, nyimpannya juga gak ribet.

Properti lain yang wajib dimiliki adalah lampu dalam ruang, diffuser (pengurang cahaya), reflector (pemantul cahaya), dan papan hitam yang bisa digunakan untuk menghilangkan/mengurangi cahaya di seputaran obyek foto. Papan ini bisa terbuat dari stereofoam, plastic board, atau terkadang kain hitam. Kenapa saya masukkan deretan properti ini sebagai hal wajib? Karena kita tidak selalu bisa mengandalkan cahaya matahari sebagai sumber cahaya. Meski misalnya memotret dalam ruang di pinggir jendela dengan cahaya matahari yang cukup, tetap saja peralatan-peralatan ini akan sangat membantu kita dalam proses pemotretan. Mau motret kapanpun dan di area manapun juga bisa. Dengan atau tanpa bantuan cahaya matahari tetap bisa motret. Mood motret kita pun jadi gak turun naik karena terganggu oleh ketidaktersediaan peralatan pendukung.

2. Memahami food styling

Ada banyak referensi yang bisa kita gunakan untuk belajar food styling. Banyak photographer yang berkenan berbagi ilmu lewat medsos, baik yang berbayar maupun yang gratis. Rajin aja googling. Pasti deh nemu. Hari gini loh dengan akses yang tumpah ruah, hampir semua informasi bisa kita dapatkan secara daring. Ye kan?

Berikut adalah beberapa food styling dasar yang wajib diketahui (sumber TMXPictures). Pakem ini setidaknya sudah saya praktekkan terlebih dahulu sebelum akhirnya melakukan eksplorasi pribadi. Konsep ATM (Amati, Tiru dan Modifikasi) juga saya praktekkan. Amati dengan baik, kemudian tiru semua kebaikannya lalu lakukan modifikasi dengan olahan rasa kita sendiri.

Merambah Ilmu Dari Jepretan Berpiring Makanan dan Bergelas Minuman
Merambah Ilmu Dari Jepretan Berpiring Makanan dan Bergelas Minuman
Merambah Ilmu Dari Jepretan Berpiring Makanan dan Bergelas Minuman
Merambah Ilmu Dari Jepretan Berpiring Makanan dan Bergelas Minuman

Satu hal penting yang harus diingat dalam food styling adalah menggunakan ornamen atau properti pendukung dengan tidak berlebihan dan sekonsep dengan hasil yang kita harapkan. Ornamen hanya bersifat pendukung atau tambahan. Tidak mengalahkan hero atau obyek foto utama yang kita tampilkan.

3. Gaya dan jenis memotret

Ada 3 jenis gaya atau jenis memotret yang sudah saya ketahui dan pelajari. Yaitu flatlay (memotret keseluruhan obyek dari atas), eye-level (obyek segaris lurus dengan lensa kamera atau tatapan mata), dan posisi 45 derajat (dimana sudut pemotretan berada pada lengkung 45 derajat).

Semua saya cobain. Pertama tanpa tambahan ornamen, baru kemudian mencoba dengan tambahan ornamen seperlunya. Setelah itu saya lakukan self-review semampu yang saya bisa. Biar lebih puas, saya biasanya minta pendapat orang-orang terdekat. Kalo yang satu ini biasanya dilakukan suami dan anak saya. Terkadang juga minta pendapat teman. Baik yang ngerti photography maupun mereka yang hanya sebagai peminat atau sekedar melihat. Terima masukan tanpa kecuali.

Setelah paham akan posisi motret, saya mulai menggali ilmu tentang 2 aliran foto yang banyak menjadi acuan memotret. Yaitu dark mood dan bright mood. Sesuai penamaannya dark mood merujuk pada hasil potret yang bernuansa gelap, sementara bright mood sebaliknya. Semuanya bermula dari properti yang dipakai untuk memotret. Kalau dark ya berarti properti hitam atau bernuansa gelap lah yang dipake. Bright untuk properti dengan warna terang atau transparan.

Tentu saja alas dan background foto disesuaikan dengan konsep yang akan dikerjakan. Sekali lagi. Tak cobain semua. Potret obyek dengan berbagai gaya dan tema. Saya tidak terpaku atas 1 aliran aja karena untuk foto-foto pesanan (baca: endorse) terkadang ada permintaan khusus dari si pemesan. Jadi yah kudu dijajal semuanya. Selain itu, dengan tidak malas mengambil beraneka ragam shoot, kita jadi punya pengalaman tentang karakter dan sisi tercantik obyek saat difoto.

Kenyataan-kenyataan inilah yang ingin sekali saya sampaikan kepada para pengguna jasa food photographer untuk lebih memahami bagaimana proses kerja tukang potret. Seringnya untuk memotret 1 object saja, photographer harus berjibaku dengan banyak hal, termasuk diantaranya adalah proses editing yang memakan waktu, konsentrasi, dan tenaga.

4. Menguasai aplikasi editing

Ada berbagai aplikasi editing yang sering saya pakai untuk memperindah hasil foto dan mencantumkan watermark. Seperti: Snapseed, Light Room, Canva, Phonto dan Add Watermark. Semua saya gunakan sesuai dengan kebutuhan dan tidak berlebihan.

Untuk komposisi cahaya, cropping, dan sedikit sentuhan warna pada foto, saya banyak menggunakan Snapseed dan Light Room. Sementara Canva, Phonto dan Add Watermark lebih kepada penambahan watermark saja. Itupun hanya sedikit saja karena di handphone saya sendiri sudah terpasang fasilitas editing yang sudah (sangat) memadai.

Tapi jika nyatanya belum cukup puas dengan hasilnya, barulah saya menggunakan aplikasi editing Snapseed untuk pencahayaan. Di Lightroom saya seringnya menggunakan editing auto (tombolnya ada di kiri bawah saat kita membuka aplikasinya).

Seperti yang disampaikan oleh semua guru memotret, aplikasi editing itu sifatnya hanya membantu. Mesin editing menjadikan foto yang sudah bagus menjadi lebih baik secara estetik. Jadi BUKAN MERUBAH hasil foto menjadi lebih cantik. Jadi intinya pada mindset kita.

Merambah Ilmu Dari Jepretan Berpiring Makanan dan Bergelas Minuman

Beberapa Info Tambahan yang Bermanfaat

Rajin Berlatih

Layaknya sebuah keahlian, ilmu yang sudah kita dapat bisa menjadi lebih baik dan membawa manfaat jika kita terus melatih atau menggunakan. Di sinilah berlaku The Law of Repeatation (hukum pengulangan). Semakin rajin kita berlatih maka akan semakin baik juga hasilnya. Dengan giat berlatih, sense of art kita juga menjadi lebih terasah. Terkadang di saat berlatih kita menemukan berbagai trik yang membuat kita semakin nyaman dalam berkarya. Pun mendorong kita untuk terus berubah menjadi lebih baik dan terdorong untuk rajin berinovasi.

Up Grade Gear

Tampaknya klise dan pemborosan ya. Tapi menurut saya sih tidak. Alat memotret yang kita gunakan nyatanya sangat krusial dalam membantu kita menghasilkan sebuah karya foto. Apalagi untuk mereka yang menjadikan food photography sebagai sumber nafkah.

Meskipun bukan seorang photographer professional (hingga saat ini), terus up-date akan perkembangan alat memotret wajib untuk dilakukan disamping tentu saja meningkatkan skill itu sendiri.

Satu yang pasti untuk diingat adalah bahwa harga yang sudah kita bayar akan menghasilkan sebuah karya yang setara dengan dana yang sudah digelontorkan. Jangan mengharapkan hasil foto senilai 15 juta dari sebuah alat yang seharga 2 juta. Harga sebuah teknologi bernilai tinggi tentunya mengiringi dan berisi semua kelebihan yang memang pantas untuk didapatkan. Seperti yang biasa orang katakan “Harga Berbicara”.

Penyimpanan dan Merawat Properti

Jadi orang rapih itu gak pernah ada ruginya. Semakin kita seriusi kegiatan ini (food photography), otomatis kita terdorong untuk menambah perangkat yang menunjang kegiatan memotret kita. Dan properti yang sudah kita beli itu adalah aset yang wajib kita pelihara dengan baik.

Selain disiplin membersihkan dan merawat properti, rapih dalam penyimpanan juga harus dilakukan. Pengelompokannya bisa berdasarkan atas jenisnya, warnanya, atau fungsinya.

Saya sendiri menggunakan pakem jenis dan fungsi. Barang-barang gampang pecah saya masukkan dalam box yang lebih kokoh atau berbungkus tebal. Melamin saya pisahkan dengan wadah berjenis natural. Ornamen dalam 1 kotak khusus. Talenan juga di kotak terpisah. Alas foto saya tumpuk jadi satu dengan background foto (kecuali yang berbahan kain dan bisa digulung) karena alas bisa difungsikan juga sebagai background, begitupun sebaliknya. Untuk yang dimasukkan dalam box, saya sediakan raknya. Sementara yang berukuran besar-besar, ditaruh dalam 1 tempat dengan area khusus juga.

Rajin merawat dan tertib mengelompokkan properti juga menghindari kita membeli barang yang sama. Menghindari pemborosan. Kalo mampu beli banyak ya gapapa sih tapi kan kalo beli barang yang persis sama kan gak banget tuh.

Ikuti Challenge

Saya juga gak rajin-rajin amat sih ngikuti challenge. Tapi suka ngikut jika kebetulan temanya menarik atau pas saya ada stok hero yang menjadi obyek utama foto. Di IG sekarang banyak loh akun-akun yang ngajak kita berseru-seru ria. Rame pengikutnya walaupun ada yang tidak memberikan hadiah. Fun dan serunya yang saya nantikan. Apalagi saat kita menelusuri setoran foto peserta melalui hashtag yang wajib dicantumkan. Wooaahh banjir ide setelah itu. Kalau ada foto yang pengen saya liat lagi ya saya save di IG saya.

Saya sendiri pernah menyelenggarakan challenge dengan hadiah-hadiah dari beberapa sponsor. Topiknya waktu itu adalah simple photography dengan maksimum 3 properti foto. Alhamdulillah yang setor foto banyak banget. Sampe ratusan. Dibantu oleh Mas Eddy Sukmana, Deddy Huang dan Katerina sebagai juri, event ini saya buat sebagai lahan menabung ilmu. Selain tentu saja menghadirkan satu kegiatan lomba dengan hadiah-hadiah yang menarik. Rencananya sih saya ingin mengadakan challenge ini secara berkala. InshaAllah setidaknya 3 kali dalam setahun. Satu rentang waktu yang cukup untuk selalu diingat oleh orang lain, khususnya para penggiat food photography.

Tambah Teman di Minat yang Sama

Teman ini biasanya saya dapatkan dari sebuah workshop atau pelatihan yang saya ikuti. Biasanya akan berkumpul di sebuah WAG yang sama. Beberapa dari mereka akhirnya menjadi teman baik dan teman berbagi cerita, khususnya di dunia food photography. Kami juga rutin nge-like postingan di IG masing-masing sebagai wujud dukungan dalam bersosial media.

Teman dengan minat yang sama biasanya memunculkan frekuensi yang sama juga. Obrolan pun jadi semakin menarik, berisi dan bermanfaat saat kita membicarakan tentang sesuatu hal yang sama-sama kita minati atau tekuni. Bertukar ilmu juga melengkapi pertemanan ini pada akhirnya. Well, good vibes indeed always come from a good person and better atmosphere. Saya percaya itu.

Terus Berinovasi dan Tak Letih Belajar

Layaknya pengetahuan dan ilmu, keahlian yang kita miliki pun harus bertumbuh seiring dengan perkembangan jaman. Kebutuhan pelanggan juga wajib kita lakukan. Tidak stagnan berhenti di satu titik. Buku aja ada edisi revisi. Sampe berulangkali malah. Satu tindakan yang dimaksudkan agar pembacanya mendapatkan ilmu terbaru dan sesuai dengan jamannya.

Memotret dengan Beragam Obyek

Satu tindakan jitu agar sense of art kita selalu terasah adalah memotret dengan beragam obyek. Hal ini sangat berhubungan dengan paragraf sebelumnya. Karena ragam obyek akhirnya akan melahirkan hasil foto yang beragam juga.

Motret makanan tentunya tidak sama dengan motret minuman. Oke deh gak usah sampe situ. Bahkan meskipun sama-sama makanan, saya merasakan feel yang berbeda saat memotret makanan berkuah dan makanan kering. Minuman pun juga begitu. Minuman hangat dan minuman dingin nyatanya butuh skill dan sudut pandang yang berbeda. Entah ya dengan teman-teman yang lain. Bagi saya semua obyek punya karakter masing-masing meskipun mereka hanyalah benda mati.

Baca juga: PHILIP LAKEMAN Ceramic. Surganya keramik Handmade dan Handpainted di Bali
Merambah Ilmu Dari Jepretan Berpiring Makanan dan Bergelas Minuman
Merambah Ilmu Dari Jepretan Berpiring Makanan dan Bergelas Minuman

Tidak ada hal yang tidak mungkin jika kita sungguh berniat untuk melakukannya. Tidak ada ilmu yang tidak bermanfaat kecuali kita menggunakannya demi kebaikan

Annie nugraha | 30 november 2020

Semua ulasan di atas ditulis berdasarkan pengalaman dan pendapat pribadi. Semua tidak terlepas dari kekurangan yang saya miliki. Jika ada masukan-masukan yang sekiranya berguna bagi orang lain/pembaca, silahkan tulis pendapat Anda di kolom komentar ya. I will be more than glad to have them read.

Merambah Ilmu Dari Jepretan Berpiring Makanan dan Bergelas Minuman

#FoodPhotography #BelajarMotret #MotretMakanan #MotretProduk #IlmuFotografi

18 COMMENTS

  1. Pencapaian yuk Annie di 2020: Jadi jago motret! haha
    Pandemi banyak hikmah, di tengah himbauan untuk di rumah saja, malah melahirkan kebisaan yang ternyata sesuai passion banget ya yuk.
    Terus dipraktekkan dan dikembangkan, pasti akan semakin baik. Jika dulu minta minta orang bantuin motret, sekarang bisa jadi orang-orang yang bakal minta ayuk bantuin motret.

    • MashaAllah. Bener nian yo Rien.

      Alhamdulillah dari sebuah keterbatasan akhirnya melahirkan sesuatu yang bermanfaat. Setidaknya untuk diri sendiri dulu. Tetap menjadikan diri bermanfaat.

    • Ah boljug usulannya. Mungkin akan saya bikin edisi ke-2 nya dengan pembahasan yang lebih tekhnis, seiring dengan bertambahnya pengetahuan saya pribadi.

  2. aku bukan belajar menekuni food photography mbak
    tapi self/person photography

    gimana caranya ngefotoin orang bisa bagus, layaknya model
    tapi juga ngajarin orang lain untuk motret aku biar bagus
    hahaha

    maklum masih mudaaa
    maunya eksis

    • Aaahh keren banget. Object nya lebih ke human ya Mbak. Saya juga pengen banget menguasai line photography yang satu ini. Bagus juga untuk support tulisan perjalanan kita.

  3. Wah ada studio mini di rumahnya mba. Keren. Berarti Mba Annie sekarang udah nerima job motret produk juga dong di rumah. Semakin produktif ya Mba Annie, walau gak jadi orang lapangan lagi. Jadi ikutan kepoin akun IG-nya Mba Annie ini. Hihihi

    • Iya Mbak Mutia. Alhamdulillah sudah ada beberapa jenama yang meminta saya untuk memotret produk mereka. Semoga bisa semakin berkembang ke depannya.

  4. Mbak Annie, saya salut dengan semangatnya..Masya Allah, nular..nular..biar saya mau juga belajar banyak hal baru
    Senang membaca sharing yang begitu lengkap begini. Mumpuni di satu bidang butuh perjuangan. Maka keahlian mesti dihargai. Terus belajar dan berlatih tiada henti makan hasil yang kita harapkan akan tercapai.
    Saya awam tentang fotografi dan banyak dapat insight dari sini. Nanti mesti buka lagi artikel ini kalau mau tahu..biar tampilan foto saya ga itu-itu melulu.
    Bagus banget Mbak ini..ga ngira kalau belajarnya baru-baru saja..udah kayak ahli aja..keren pokoknya!
    Saya mau kepoin terus sharingnya, ditunggu pencerahan lainnya ya Mbak…

    • Makasih Mbak Dian. Semoga semangat untuk tetap belajar dapat menginspirasi teman-teman lainnya, yang tentu saja jauh lebih muda. Mumpung sehat dan ada waktu, ada hikmah yang bisa didapatkan dari terkurung di rumah.

      Semangat Mbak Dian. Terimakasih sudah berkenan memberikan rangkaian kalimat yang bernilai untuk diri saya pribadi.

  5. MasyaAllah ini artikelnya informatif banget, Mbak. Detil dan lengkap. Kalau baca usaha Mbak Annie belajar dan praktik gini nggak heran hasilnya keren-keren banget. Memang hasil nggak menghianati usaha yaaa.

    • Setuju Mbak Alfa. Konsisten dan totalitas. Harus dipraktekkan. Bukan hanya untuk usaha tapi juga dalam hal belajar. InshaAllah apa yang kita usahakan dan pelajari akan bermakna kalau memang kita seriusi.

  6. Pandemi ini bener-bener merubah segalanya seakan membatasi ruang gerak, tapi saya salut mba Annie bisa terus mengeksplore keterampilan. Dan hasilnya potretnya ciamik, bagus-bagus banget dari komposisi juga hasil potret nya

    • Makasih untuk complimentnya Mbak Siti Nurjanah. InshaAllah tetap semangat menimba ilmu dan terus belajar.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here