
STONEHENGE Jogjakarta, Studio Fotografi Alam Bebatuan di Sleman yang Seru untuk Disambangi | Travel & Featured | April 2026
Mewujudkan janji untuk berwisata sekali setahun, saya dan rombongan ipar, bibi, serta sepupu dari keluarga suami, bersepakat untuk menjelajah Jogjakarta menjelang akhir tahun 2025
Setelah pergi bareng ke Semarang di 2024 selama dua hari satu malam, saya, dua orang ipar, dua orang bibi, dan para sepupu dari keluarga suami pun bersepakat menabung dana kembali untuk program ngelencer di 2025. Keputusannya adalah pergi ke Jogjakarta selama tiga hari dua malam, melalui jalan darat dengan menyewa Hiace empat belas seats. Sewaan mobil yang sudah jadi langganan keluarga besar kami dan yang kami gunakan untuk ke Semarang di 2024 dulu.
Menimbang semakin jauhnya jarak tempuh yang akan dijalani, saya akhirnya memilih naik kereta api dengan perhitungan waktu yang sejajar dengan ketibaan rombongan Hiace yang berangkat dari Bandung. Gentar saya naik Hiace sejauh itu. Beneran. Kebayang rontoknya boyok karena harus duduk sekian jam di mobil yang berjok tipis and stay put for hours. Ini bukan perkara manja tapi demi menjaga kesehatan diri sendiri. Memang setelah divonis menderita HNP dengan “kutukan” berbokong tipis, duduk terlalu lama sering membuat saya kram hingga susah bergerak setelahnya. Gak nyaman blas. Jadi demi menghindari timbulnya kejadian yang tidak mengenakkan, saya terpaksa dan tidak memaksakan diri untuk ikutan naik bis.
Saya juga mengajukan penambahan satu hari untuk solo traveling setelahnya dan itu disetujui oleh suami. Jadi setelah mengikuti agenda rombongan selama tiga hari dua malam itu, saya melanjutkan dan mengatur waktu sedemikian rupa agar bisa ke beberapa tempat yang sudah lama ingin saya hampiri. Bertemu dengan teman-teman lama yang tinggal di Jogjakarta untuk bernostalgia dan melepas kangen sekaligus membicarakan tentang buku.
Dari seorang kakak sepupu, yang juga adalah tukang ngukur jalan dan ikut dalam rombongan ini, salah satu agenda kegiatan yang cukup memakan waktu serta tenaga adalah Tour Merapi. Operator yang kami gunakan jasanya saat itu adalah 86 Merapi Jeep Tour Community IG @merapijeep_86mjtc yang memang sudah kami booking beberapa hari sebelumnya.
Kami memilih paket Medium Trip seharga Rp500.000,00/orang (termasuk asuransi kecelakaan) dengan masa tempuh wisata sekitar 120 menit. Tujuannya adalah ke beberapa titik wisata di seputaran kaki Gunung Merapi. Salah satunya adalah Stonehenge yang berada di dusun Petung, Cangkringan.


Serunya Naik Jeep & Bertemu Stonehenge
Terus terang saya (agak) takut ikutan Merapi Jeep Tour ini karena sudah membayangkan guncangan hebat yang bakal dihadapi selama dalam perjalanan. Perihal penting yang sangat dihindari oleh seorang penderita HNP seperti saya. Tapi kok ya penasaran pengen nyoba. Seru banget pun sepertinya. Apalagi saat melihat deretan foto seru dari para tamu yang pernah menggunakan jasa operator jeep tour yang satu ini. Pose-pose mereka menunjukkan keseruan dan kegembiraan yang tak terbantahkan.
Jiwa semangat menantang saya langsung membuncah. Walhasil, demi kebaikan, beberapa hari sebelum berangkat ke Jogjakarta, saya mengkonsultasikan perkara ini kepada dokter internist yang biasanya menangani dan tahu sejarah kondisi kesehatan saya. Dia tidak melarang sama sekali. Hanya mengusulkan agar selama menaiki mobil jeep, saya diusulkan berdiri, tidak membiarkan diri dekat dengan alat dan atau sesuatu yang sekiranya langsung menghantam dan atau membenturkan tubuh. Baiklah.
Nasihat ini pun saya ikuti secermat mungkin bahkan saya sampaikan kepada si pengendara yang jeep nya saya tumpangi. Alhamdulillah akhirnya saya bisa menikmati dan mengikuti jeep tour Merapi tanpa hambatan dan atau kejadian yang membahayakan. Jadi ketika berulangkali melewati jalur yang menantang, terbanting-banting, naik turun berulang kali, hingga melewati jalur bebatuan sembari menghantam air, saya tetap merasa aman. Sukses mengikuti serangkaian rintangan dengan tawa riang dari awal hingga akhir.
Mau dong berarti mengulanginya lagi? Wah sepertinya cukup sekali aja dah. Keliling Merapi oke tapi naik jeep nya? Entar-entar lagi. Butuh perjuangan buat saya soalnya.
Melewati banyak jalur menantang, beberapa jalur jalanan sempit, aspal yang rusak berlubang di sana-sini (mungkin sengaja dibiarkan begitu), melewati beberapa desa yang terlihat sepi, saya dan rombongan tiba di Dusun Petung. Sebelum sampai di desa ini dan selama memutari beberapa kampung untuk mencapai beragam obyek wisata, saya melihat banyak di antaranya telah sunyi dan senyap. Banyak sisi kehidupan yang sempat terdampak oleh meletusnya Gunung Merapi, terlihat cenderung sepi dengan lingkungan yang masih terbalut debu. Begitu pun dengan banyak tanaman yang bertahan untuk tetap hidup. Tumbuh liar disana-sini tanpa pengaturan yang lebih rapi.
Menurut cerita si Mas yang mengendarai mobil jeep yang saya tumpangi, beberapa dusun yang posisinya begitu dekat atau persis berada di ring satu Gunung Merapi terlihat kosong karena sebagian besar dari mereka terdampak langsung dan memutuskan untuk pindah, tidak bertahan di rumah yang lama. Apalagi setelah meletus, Gunung Merapi masih sering batuk-batuk. Jadi ingatan akan wedhus gembel dan lahar panas masih terpatri di ingatan masyarakat setempat. Rangkaian cerita itu begitu merasuk jiwa saat rombongan kami sempat melewati sebuah museum kecil yang menampilkan banyak perlengkapan, peralatan, dan pernak-pernik rumah yang tersisa dari peristiwa meletusnya Gunung Merapi di 2010.
Sudah lama juga ya sebenarnya. Tapi kenangan dan rangkaian jejak dari peristiwa ini masih tersisa jelas dan jadi cerita menarik tentang sang gunung, desa dan masyarakat yang sempat mengalami efek dari meletusnya Gunung Merapi secara langsung.

Sembari tetap berdiri dan mengamati sekitar, empat buah jeep yang membawa rombongan kami masuk ke sebuah area parkir yang cukup lega. Kawasan ini dikelilingi oleh tanaman hijau tinggi-tinggi dan terlihat adem dipandang mata. Di sinilah Stonehenge berlokasi.
Tadi, dalam perjalanan menuju Stonehenge, studio fotografi alam bebatuan ini, saya sempat ngobrol banyak dengan semua penumpang di jeep saya. Selain sang supir (lupa saya namanya), Bik Enung (bibi kandung suami dari pihak ibu), Teh Ida (sepupu dari garis pihak ibu suami dan juga adalah ketua rombongan), saya sempat mengenalkan Stonehenge asli yang ada di Wiltshire Inggris. Sebagai seorang pembaca dan penggemar buku-buku sejarah, saya termasuk sering nonton beberapa channel youtube yang juga menghadirkan rangkaian info ini secara digital. Termasuk tentang Stonehenge Inggris yang adalah susunan batu raksasa yang membentuk lingkaran dan mulai dibangun pada 3.000 SM pada periode Neolitikum.
Satu hal yang begitu saya kagumi tentang Stonehenge adalah tentang batu itu sendiri. Beberapa batu Arsen yang berat tersusun melingkar, tegak kokoh berdiri, dengan sebuah batu lebar pipih yang diletakkan dalam posisi berbaring antara satu batu dengan batu yang berada di sampingnya. Monumen pra sejarah ini berada di sebuah tanah luas dengan rumput hijau yang tumbuh subur dan terlihat sangat dirawat. Stonehenge ini pun sudah mendapatkan gelar sebagai Situs Warisan Dunia UNESCO yang berlaku sejak 1986. Tempat bersejarah ini dinyatakan sebagai milik Kerajaan Inggris, pengelolaannya diatur oleh English Heritage, dan tanah di sekitarnya adalah milik National Trust.
Melewati sebuah rumah kecil untuk membeli tiket masuk (Rp15.000,00/orang dewasa). Untuk kami sendiri sudah dibayar dalam paket yang sudah difasilitasi oleh 86 Merapi Jeep Tour Community. Tak jauh dari gedung loket ini ada sebuah tangga yang nyaris datar dengan pijakan yang melegakan. Atapnya diramaikan oleh tanaman rambat yang tumbuh ke segala arah. Siang ini menjadi cukup teduh karenanya.
Di ujung tangga inilah akhirnya saya bertemu dengan sebuah tanah lapang yang luas betul dengan rumput gajah yang terbentang subur. Di tengah tanah lapang inilah Stonehenge Jogjakarta berdiri. Di salah satu sisi lapangan ada tulisan tegak STONEHENGE berwarna merah yang titik fotografi nya ciamik.
Saya dan kesepuluh anggota rombongan pun cerita berfoto di setiap sudut. Meski matahari centang perentang, saya malah merasakan keseruan yang tak terhingga. Karena dengan langit yang biru terang, awan putih yang sempurna, warna keabu-abuan batu buatan menjadi begitu artistik. Copy paste nya tidaklah persis banget tapi setidaknya dalam sekilas lintas penglihatan, kesamaan konsep Stonehenge pun bisa kita dapatkan.
Satu tempat atau destinasi wisata alam yang rasanya lebih cocok jika diberi gelar sebagai studio fotografi alam bebatuan di Sleman yang seru untuk disambangi.
Bahkan jika memang terniat datang dengan tujuan tertentu, semisal foto pre-wedding atau foto keluarga, foto berbanyak dengan konsep tertentu, kita bisa membawa busana dan perlengkapan foto vintage, bernuansa jadul, yang touch of art nya begitu klop dengan Stonehenge. Ya gak sih?

Keseruan yang Akan Terus Dikenang
Saya bersama dua orang bibi/tante dan delapan orang sepupu pun berpuas-puas mengukir kenangan indah dan seru di sini. Semua tampak semangat meski sudah berada di usia lansia. Bayangkan, saya aja, yang tercatat paling muda dari semua anggota rombongan sudah melewati 55 tahun. Selebihnya sudah menginjak usia sekitar 60-an. Bahkan ada dua diantaranya sudah 70-an tahun. Sebagian besar sudah bercucu. Tapi semangat kami gak ada yang luruh selama perjalanan berlangsung.
Ah seandainya dari awal saya tahu tempat ini cocok untuk berfoto unik, saya pasti meminta semua untuk membawa baju-baju dengan tema petualangan sembari dilengkapi oleh peralatan mendaki gunung agar terlihat seperti sedang menjelajah ke tempat-tempat yang jauh dan berhenti di Stonehenge sebagai titik tujuan terakhir. Adventure concept gitu loh.
Tapi untungnya di hari itu, meski tidak seseru yang dibayangkan, saya dan semua anggota perjalanan sepakat untuk mengenakan baju kotak-kotak dengan bawahan/celana yang memiliki warna senada dengan bajunya. Jadi saat berfoto bareng, komposisi nya tetap apik untuk dilihat.
Sebuah rangkaian keseruan keluarga yang akan terus dikenang sepanjang masa.







IG @annie_nugraha | Email: annie.nugraha@gmail.com



Seru sekali Mba Annie, tiap tahun ada jadwal jalan-jalan sekalian mempererat silaturahmi dengan keluarga besar. Usia hanyalah angka. Meski fisik tak lagi muda, semangat jalan tetap menyala. Keren banget ini
Enggak perlu juga ngurus visa UK buat menikmati Stonehenge, cukup ke versi KW yang ada di Sleman sudah mirip sekaliiii
Btw, foto terakhir favorit saya, cakeeeep!
Alhamdulillah kompaknya terus terbangun dan terasa sampai sekarang. Selain program jalan-jalan setahun sekali, keluarga besar juga mengadakan pertemuan rutin setidaknya 3-4 kali dalam setahun. Pokoknya diadakan aja dengan barisan alasan agar semua mau bertatap muka.
Stonehenge asli yang ada di Inggris itu yang biasa jadi wallpaper komputer itu ya, kak. Wah, jadi pingin tour Merapi juga.
Seru kayaknya naik jeepnya. Kudu nyobain sih aku. Mau nabung dululah.
Naaahh bener banget Mbak Yuni. Sering banget dijadikan materi promosi wisata ke Inggris juga. Artistik memang visualnya ya.
Yuk, ibuku kena HNP tulang belakang di usia 35 tahun. Sampai kesulitan duduk. Pernah ada opsi operasi tapi beliau mempertimbangkan kemungkinan terburuk justru lumpuh total sementara adik saya waktu itu masih balita.
Alhamdulillah seiring waktu membaik dengan pengobatan medis, ditunjang herbal dan mengubah gaya hidup jadi lebih rileks. Sekarang usia beliau menjelang kepala 7 dan bisa dibilang jarang sekali bangkit nyeri / rasa tak nyamannya.
Akhirnya terjawab rasa penasaran kalau Stonehenge di YK itu dari batu buatan, saya kira memang bebatuan alam juga yang di potong lalu disusun menyerupai aslinya.
Wong yang keno HNP memang sebaiknya tidak dioperasi Nis karena ya itu kemungkinan/presentasi kemungkinan berhasil atau sembuhnya itu kecil banget. Aku juga pernah sih ditawari, tapi ah sudahlah. HNP memang proses. Selama kita gak jatuh (ini pantangan nian), bisa jaga diri dengan gerakan, berobat rutin, insyaAllah perlahan akan pulih. Meski tidak sesempurna dulu.
Berat badan juga jadi faktor penting. Jadi memang dianjurkan untuk “meringankan diri” biar tubuh lebih nyaman untuk diajak bergerak.
Ngiri banget dengan keguyuban Mbak Annie dengan keluarga suami
(karena saya jadi korban perundungan keluarga mantan suami/ayahnya anak-anak, lha jadi curhat :D)
kembali ke laptop, saya juga kayanya kena HNP Mbak, jadi nanti harus ke Jogja lagi untuk terapi karena jarak RSnya lebih dekat dibanding di Bandung-Cinanjung
Eniwei kawasan Sleman, lokasi Stonehenge ini rupanya dieksplorasi jadi destinasi wisata Jogja ya? Mungkin karena terletak di lereng selatan Gunung Merapi udaranya cukup sejuk
Selamat berobat Mbak. HNP memang proses penyembuhannya panjang dan banyak pantangan. Khususnya di porsi tubuh dan gerakan yang kita lakukan. Aku dah jalan sekitar tujuh tahunan ini. Alhamdulillah by the time sakitnya berkurang. Meski bukan dalam hitungan sembuh total.
Seru banget ih jalan-jalan bareng keluarga. Foto levitasinya keren euy, tadi sepintas kirain fotonya lagi duduk di atas batunya ckck. Hampir aja kaget. Panas terik gak mengurangi keseruan untuk ngumpul dan jalan-jalan bareng, Masya Allah. Semoga silaturahmi senantiasa terjaga.
Seru banget. Apalagi semua sudah lansia. Jalan-jalannya dinikmati sekuatnya aja hahahaha.